• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TEMUAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Karakter Ayah

2. Karakteristik Ayah Melalui Ekspresi Wajah

Ekspresi wajah aneh dan cengiran jahil dengan memasang tangan tanda tanduk di kepala sebagai ungkapan watak Ayah yang riang gembira dan sedikit jahil.

Ayah menyeringai di belakang punggung Ibu, memasang wajah aneh dan tanda tanduk di kepala dengan tangan. Aku hendak tertawa, tetapi tawaku menjadi batuk

kecil. Itu kode kami setiap kali Ibu meneriakiku.67

Ayah merupakan sosok yang tidak pernah menampakkan kekhawatirannya. Meskipun saat itu Dam baru saja bangun dari pingsannya, Ayah menyambut Dam seraya dengan senyuman dan candaan seolah-olah tidak ada peristiwa yang terjadi. Seringai senyuman serta tanda tanduk di kepala merupakan kode tanpa sepengetahuan ibu untuk menyuruh anaknya diam saat ibu sedang marah dan mengomel. Hal itu menandakan Ayah bukanlah pribadi yang kaku, dia merupakan pribadi dengan watak yang ceria dan sedikit jahil dengan kode rahasia yang dimilikinya bersama Dam tanpa sepengetahuan ibu.

Ekspresi wajah Ayah yang menahan amarah dan rasa ketakutan, mengungkapkan wataknya yang sedang mencoba untuk bersabar.

Ayah menatapku setengah tidak percaya. Aku tahu kalimatku telah menyinggung harga dirinya, membuat Ayah marah. Mungkin rasa sedih yang hanya membuat Ayah terdiam tanpa berkomentar apapun. Di seberang kaca

ruangan, dokter sudah bersiap memulai operasi.68

Dam marah dan berbicara kasar dengan mengatakan bahwa cerita Ayah tentang si Raja Tidur adalah omong kosong. Dari ekspresi Ayah

67

Ibid., h. 29 68Ibid.,

terlihat sekali bahwa dia amat tersinggung atas ucapan Dam, hal yang dulu juga pernah diucapkan Dam saat orang lain mempercayakan apapun ucapan Ayah, justru anaknya sendiri menganggap semua itu adalah kebohongan. Itu sangat melukai harga diri Ayah, namun Ayah tidak semarah dulu, Ayah terlihat sekali berusaha menahan emosi kemarahannya dengan diam, mengingat tubuh ibu yang tengah dioprasi. Ada ketakutan terselip di sana.

Watak tokoh Ayah yang melukiskan ekspresi wajah tidak bergairah, tatapan yang redup, menyimpan rasa kesepian dan penderitaan yang mendalam.

Aku mengemasi barang-barang, memutuskan pindah. Ayah hanya menatapku datar saat berpamitan. Sejak saat itu aku jarang bertemu dengan Ayah. Hanya sesekali saat rasa rindu pada ibu muncul, aku menyempatkan diri singgah. Itu pun

sebentar.69

Dam tidak ingin mendengarkan cerita Ayah setelah ibu meninggal. Kesedihan itu membuat Ayah tidak tahu harus berkata apa saat dengan tega Dam memutuskan untuk pindah dari rumah yang sudah di tempati bersama sejak dia kecil. Dam memilih menjalani kehidupan sendiri di bangku kuliah tanpa menemani hari tua Ayahnya. Kesedihan Ayah nampak jelas, jika Dam mau sejenak untuk menatap mata tua Ayahnya, mungkin di sana akan terlihat sebuah permohonan “jangan tinggalkan Ayah, Ayah semakin merasa sedih saat Ayah sendiri.” Tapi Dam sudah tidak lagi menghiraukan Ayah, dan memutuskan tekad untuk pergi, kepergian untuk menghindari kenangan bersama Ibunya. Sikap Dam merupakan tindakan seorang pengecut yang lari dari masalah.

Ayah tak dapat berbuat banyak, keinginan Dam seperti itu dia hanya bisa pasrah. Ayah tidak ingin melarang, mungkin dengan cara seperti itu anaknya bisa bahagia. Ayah tak menghiraukan bagaimana hari tuanya tanpa orang-orang yang dicintai tinggal di samping dan

69Ibid., h. 243

merawatnya. Sedih bagi Ayah saat melihat anaknya mengemasi barang-barang untuk pindah dan meninggalkannya, tapi dengan cara seperti itu Ayah dan Dam tidak akan pernah bertengkar lagi. Ayah kembali memendam kesedihannya seorang diri, kini benar-benar seorang diri di rumah kecil itu.

Ekspresi wajah Ayah yang redup menjelaskan bagaimana kondisinya selama ini, hanya saja wataknya yang selalu memendam perasaannya membuatnya semakin terlihat begitu sedih.

Umur Ayah enam puluh saat aku membawa calon istriku ke rumah. Rambut Ayah separuh beruban. dan separuhnya lagi rontok. Sejak ibu pergi empat tahun lalu, kondisi fisik Ayah berubah drastis. Tubuhnya lebih kurus. Raut mukanya lebih redup. Itu benar, terkadang bagi pasangan yang saling mencintai, kepergian salah satunya bisa berarti kehilangan separuh jiwa, termasuk kehilangan

separuh kesegaran fisik.70

Meski tidak diutarakan bagaimana kesedihan dan kesepian yang dirasakan Ayah selama ini, keadaan fisik dan ekspresi wajahnya sudah menceritakan semuanya. Rambut Ayah separuh beruban dan separuhnya lagi rontok, tubuhnya lebih kurus serta raut mukanya lebih redup, merupakan efek dari rasa kehilangan yang begitu mendalam. Usia Ayah memang sudah tua, wajar memang jika rambut sudah mulai memutih karena uban dan mulai rontok, namun tubuh yang kurus dan raut muka yang redup berbeda penyebab. Tubuh kurus menjawab tidak adanya yang memberikan perhatian untuk sekadar mengingatkan makan. Sedangkan, raut muka yang redup menandakan sudah tidak lagi yang memberinya alasan untuk hidup dan bekerja, karena sepeninggal ibu, Dam juga memilih untuk hidup mandiri. Sepertihalnya saat penulis mewawancarai seorang Ayah bernama Rokib, dia menjawab bahwa dia bekerja untuk anaknya, untuk istri, dan untuk keluarganya. Mereka alasan seorang Ayah semangat dalam bekerja, mereka alasan seorang Ayah mengumpulkan rupiah demi

70Ibid., h. 254

rupiah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebagai bentuk ibadah untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.

Sepeninggal ibu, raut muka Ayah tidak lagi terlihat bersemangat dan ceria seperti dulu, kesedihan membuatnya selalu terlihat murung. Karena kesedihan merupakan bagian dari emosi yang ada dalam diri manusia. Kesedihan ditinggal orang yang dicintai memang tidak bisa dihindari, apalagi jika orang tersebut sangat berpengaruh dalam hidupnya. Kesedihan jenis ini bisa berlarut-larut jika tidak langsung dibatasi oleh usaha pribadi dalam menahannya.

Kesedihan ditinggal oleh orang yang dicintai bukanlah sesuatu yang mudah dilalui, dibutuhkan usaha dan kesadaran keras bahwa masih ada orang yang membutuhkan kesehatan akalnya daripada hanya berlarut-larut pada kesedihan. Kesedihan hati biasanya disampaikan dengan airmata yang keluar, kadang juga dibubuhi kemarahan, tapi ada juga kesedihan yang bahkan airmata pun tak mampu untuk menyampaikan betapa seseorang itu amat merasa sedih.

Kesedihan saat ditinggal istri tercinta meninggal dunia, separuh jiwa Ayah ikut hilang terbawa oleh mata yang sudah tertutup itu. Istri

yang sudah menemani separuh hidupnya, yang menerima

kesederhanaan hidup bersamanya.

Kutipan berikut merupakan ekspresi dari getar suaranya yang memberitahu watak Ayah sedang berusaha untuk mempertahankan pendapatnya dan mencoba untuk meyakinkan anaknya.

“Cerita itu tidak bohong, Dam,” Ayah berkata dengan

suara bergetar.71

Suara Ayah bergetar berusaha mengendalikan emosinya dan mencoba meyakinkan Dam yang terus saja menuduh cerita petualangannya adalah kebohongan. Getaran suara terjadi karena Ayah berusaha meyakinkan dengan sungguh-sungguh bahwa apa yang diucapkannya adalah benar, di dalam getaran itu ada sebuah

71Ibid., h. 238

keyakinan sekaligus keputus asaan. Karena apa yang coba diyakinkannya tetap saja Dam tidak percaya.

Ekspresi wajah Ayah jelas sekali menahan emosi kemarahan dan tersinggung atas tuduhan yang tidak beralasan itu, tokoh Ayah mengungkapkan kata-kata seperti di bawah ini:

Wajah tua Ayah memerah, tersinggung. “Aku tidak akan pernah melakukannya, Dam. Kau tanya saja pada Zas dan Qon, apa aku melakukannya?”72

Ekspresi wajah yang memerah menandakan tokoh Ayah yang sedang menahan kemarahan, lagi-lagi atas ucapan Dami. Tersinggung atas tuduhan Dam yang mengira cerita Ayah ditambah-tambahkan, Ayah yang merasa tuduhan itu tidak benar tentu saja merasa tersinggung. Ayah meminta Dam untuk menanyakan langsung pada Zas dan Qon tentang perihal ceritanya, namun tetap saja Dam tidak percaya atas apa yang dikatakan Ayah.

Berikut ini watak tokoh melalui gambaran ekspresi wajah tatapan yang redup serta helaan nafas yang panjang.

“Papa tidak suka bercerita,” Zas pelan menambahkan

Ayah menghela napas panjang, tidak didengar oleh dua cucu menggemaskannya, tapi aku yang sedang berdiri sepuluh langkah dari sofa tempat mereka duduk bisa merasakan embusan napas itu. Termasuk tatapan redup

Ayah.73

Helaan napas yang panjang seperti berbicara “Dam, masih saja

menuduh cerita-cerita saya adalah kebohongan” helaan napas itu

kembali membawa alam pikir Ayah ke masa lalu dua puluh tahun silam, kembali mengingat kematian istrinya dan kemarahan Dam akan cerita si Raja Tidur. Ayah sadar sejak saat itu hubungannya dengan Dam mulai kaku dan renggang. Kenangan masa-masa itu jelas sekali nampak pada perubahan di ekspresi muka Ayah, tatapan yang redup menandakan alam pikirnya sudah tidak lagi di tempat, wajah yang

72

Ibid., h. 278 73Ibid.,

selalu nampak ceria saat bercerita tantang petualangan pada ke dua

cucunya tiba-tiba menjadi redup saat cucunya mengatakan “Ayah

tidak suka bercerita.” Helaan napas itu juga seolah mengatakan

“Kakek tahu penyebab Ayah kalian tidak suka bercerita.”

Kutipan di bawah ini menggambakan gesture Ayah saat sedang

mengendalikan emosi kemarahannya.

Ayah tersengal, tubuh tuanya bergetar. Taani mencengkram lenganku, menyuruh berhenti berbicara. Tidak, aku tidak akan berhenti sebelum Ayah paham, sebelum Ayah berjanji benar-benar memutus apa saja cerita dari mulutnya.

“Kau sepertinya tidak suka melihat Ayah tinggal di sini, Dam.” Setelah terdiam sejenak, berusaha mati-matian

mengendalikan diri, Ayah menatapku lamat-lamat.74

Ayah sangat marah malam itu, Dam terus saja menuduhnya yang bukan-bukan. Dam juga mengingatkan lagi tentang kondisi ibu sebelum meninggal, membuka kembali luka hati Ayah. Ayah tersengal berusaha untuk menahan kalimat yang akan keluar dari mulutnya yang mungkin akan sangat kasar dan makin memperkeruh keadaan. Tubuh Ayah bergetar, Ayah juga berusaha menahan tubuhnya untuk tidak melakukan tindakan yang mungkin akan melukai Dam. Ayah sadar ucapan Dam yang terus saja menuduh itu sangat tidak berperasaan, namun Ayah tidak ingin melakukan hal yang sama seperti saat Dam masih kecil, memarahi dengan mengacungkan telunjuk pada Dam atas pertanyaan kasar yang menyinggung hati Ayah. Ayah sadar, anaknya kini sudah dewasa, dia tidak mungkin memperlakukan Dam sama seperti saat Dam masih kecil yang bisa Ayah marahi, Dam akan berhenti dan masalah selesai. Ayah sangat paham, maka Ayah berusaha keras menahan emosinya, sampai akhirnya Ayah hanya menyimpulkan tentang keberadaan dirinya di rumah Dam yang membuat Dam tidak nyaman.

74Ibid.,

Dokumen terkait