• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik dan Persepsi Masyarakat

5.1.1. Karakteristik dan Persepsi Responden Pantai Indah Kapuk Terhadap Lingkungan Hutan Angke Kapuk

Jumlah responden untuk studi CVM Pantai Indah Kapuk berjumlah 210 responden. Karakteristik responden dalam penelitian adalah pekerjaan, usia, pendidikan, pendapatan, tingkat pengeluaran dan jumlah tanggungan. Dari karakteristik tersebut, diharapkan dapat menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Pantai Indah Kapuk yang bermukim berdekatan dengan hutan mangrove Angke Kapuk. Berikut penjelasan karakteristik responden Pantai Indah Kapuk.

1) Pendapatan

Pendapatan responden Pantai Indah Kapuk per bulan tergolong sangat besar, untuk tingkat pendapatan kisaran Rp. 3.000.000,- – Rp. 6.000.000,- mencapai 9,52%. Sedangkan untuk tingkat pendapatan kisaran Rp. 6.000.000,- - Rp. 10.000.000,- mencapai 52,85% dan yang tingkat pendapatannya di atas Rp. 10.000.000,- per bulan mencapai 37,63%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 10. Tingkat responden menunjukkan bahwa responden merupakan penduduk dengan pendapatan yang tergolong tinggi, hal ini disebabkan sumber utama mata pencaharian atau pekerjaan mereka adalah sebagian besar sebagai wiraswasta (pengusaha) dan karyawan swasta.

w i r asw ast a, 8 0 . 4 8 % k a r y a w a n sw a st a , 19.52% SL T A , 2 . 3 8 % Ak ad em i , 2 7 . 1 4 % Sar j an a, 7 0 . 4 8 % 2) Pekerjaan

Pekerjaan responden Pantai Indah Kapuk pada umumnya adalah sebagai wiraswasta dan karyawan swasta. Responden Pantai Indah Kapuk yang bekerja sebagai wiraswasta sebesar 80,48% dan yang bekerja sebagai karyawan swasta mencapai 19,52%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 11 beriku t ini.

Gambar 11. Pekerjaan Responden Pantai Indah Kapuk

3) Pendidikan

Tingkat pendidikan yang dimiliki responden Pantai Indah Kapuk tergolong tinggi, rata-rata responden Pantai Indah Kapuk berpendidikan sarjana dan akademi. Responden yang berpendidikan SLTA mencapai 2,38%, yang berpendidikan akademi mencapai 27,14% dan yang berpendidikan sarjana ke atas mencapai 70,48%. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 12. Jika dilihat dari tingkat pendidikan, nampak bahwa pendidikan responden Pantai Indah Kapuk tergolong tinggi, keadaan ini disebabkan karena responden Pantai Indah Kapuk mampu menjangkau pendidikan tinggi didukung dengan tingkat pendapatan mereka yang juga tergolong tinggi.

dua or ang, 15. 71% t i g a o r an g , 3 7 . 1 4 % e m p a t o r a n g , 3 5 . 2 4 % > lim a or an g , 1 0 . 9 6 % sa t u o r a n g , 0 . 9 5 % 30 - 40 tahun, 41.90% 40 - 50 tahun, 49.05% > 50 tahun, 6.67% 20 - 30 tahun, 2.38% 4) Usia

Kelompok usia dibagi menjadi lima golongan, yaitu golongan usia dibawah 20 tahun, golongan usia 20 – 30 tahun, golongan usia 30 – 40 tahun, golongan usia 40 – 50 tahun dan golongan usia diatas 50 tahun. Responden yang berumur 20 – 30 tahun mencapai 2,38%, responden berumur 30 – 40 tahun sebesar 41,90%, responden berumur 40 – 50 tahun mencapai 49,05% dan yang berumur di atas 50 tahun sebesar 6,67%. Untuk yang dibawah 20 tahun tidak ada responden, keadaan ini dikarenakan responden yang dipilh adalah yang mempunyai pendapatan dan sebagai kepala keluarga. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 13 berikut ini.

Gambar 13. Usia Responden Pantai Indah Kapuk

5) Jumlah Tanggungan

Tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggung jawab seorang kepala keluarga yang terdiri dari anak-anak dan isteri. Responden yang memiliki jumlah tanggungan satu orang sebesar 0,95%, jumlah tanggungan dua orang mencapai 15,71%, jumlah tanggungan tiga orang sebesar 37,14%, jumlah tanggungan empat orang mencapai 35,24% dan responden yang memiliki tanggungan lima orang lebih sebesar 10,96% (Gambar 14).

Rp . 3 . 0 0 0 . 0 0 0 , - s/ d Rp . 6 . 0 0 0 . 0 0 0 , - , 2 3 . 3 3 % Rp . 6 . 0 0 0 . 0 0 0 , - s/ d Rp . 10. 000. 000, - , 6 8 . 0 9 % > Rp. 10. 000. 000, - , 8.11% Rp . 5 0 0 . 0 0 0 , - s / d Rp . 3 . 0 0 0 . 0 0 0 , - , 0 . 4 7 % 6) Tingkat Pengeluaran

Tingkat pengeluaran atau biaya kebutuhan per bulan responden Pantai Indah Kapuk tergolong tinggi, hal ini diasumsikan juga dengan tingkat pendapatan yang tinggi maka pengeluaran juga cenderung tinggi. Tingkat pengeluaran kisaran Rp. 500.000,- s/d Rp. 3.000.000,- sebesar 0,47%, pengeluaran Rp. 3.000.000,- s/d Rp. 6.000.000,- sebesar 23,33%, sedangkan tingkat pengeluaran yang lebih besar lagi yaitu Rp. 6.000.000,- s/d Rp. 10.000.000,- sebesar 68,09% dan pengeluaran yang diatas Rp. 10.000.000,- sebesar 8,11% (Gambar 15).

Gambar 15. Tingkat Pengeluaran Responden Pantai Indah Kapuk

7) Persepsi Responden Pantai Indah Kapuk Terhadap Kualitas Lingkungan Hutan Angke Kapuk

Persepsi responden Pantai Indah Kapuk terhadap kualitas lingkungan hutan mangrove Angke Kapuk dibagi menjadi tiga golongan persepsi, yaitu persepsi buruk, persepsi sedang dan persepsi baik. Data mengenai persepsi responden Pantai Indah Kapuk diberi peringkat dengan menggunakan Skala Likert, setiap responden diminta menilai terhadap pernyataan yang diajukan dengan kemungkinan jawaban : 1) sangat setuju, 2) setuju, 3) ragu-ragu, 4) tidak setuju, 5) sangat tidak setuju. Masing-masing jawaban tersebut diberi skornya 5, 4, 3, 2, dan 1 (Singarimbun 1995). Seluruh jawaban responden skornya dirata-rata sehingga diperoleh rata-rata persepsi responden Pantai Indah Kapuk. Rata-rata jawaban responden selanjutnya dikategorikan ke dalam tiga kategori Skala Likert yaitu kategori persepsi baik/tinggi (Skala Likert 4,00 – 5,00), persepsi sedang (Skala Likert 3,00 – 3,99), dan kategori rendah/buruk (Skala Likert 1,00 – 2,99). Berdasarkan hasil olahan data penelitian, persepsi buruk responden Pantai Indah Kapuk sebesar 36,61% persepsi sedang sebesar 33,33% dan persepsi baik sebesar 30,06%.

buruk , 36.61% sedang , 30.06% tinggi, 33.33% setuju, 95.24% tidak setuju, 4.76%

Gambar 16. Persepsi Responden PIK Terhadap Kualitas Lingkungan

8) Persepsi Responden Pantai Indah Kapuk Terhadap Perlunya Perbaikan Lingkungan Hutan Angke Kapuk

Hasil penelitian menunjukkan, secara umum responden Pantai Indah Kapuk setuju adanya perbaikan lingkungan hutan mangrove (Gambar 17). Keadaan ini dikarenakan responden melihat kondisi hutan mangrove semakin lama semakin mengalami degradasi lingkungan. Menurut responden, jika kualitas lingkungan terus mengalami penurunan, akan menimbulkan bahaya dan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Gambar 17. Persepsi Responden PIK terhadap Perlunya Perbaikan lingkungan

5.1.2. Karakteristik Dan Persepsi Petambak Terhadap Lingkungan Hutan Angke Kapuk

1) Pendapatan

Pendapatan responden petambak per bulan tergolong rendah dan sedang, untuk tingkat pendapatan dibawah Rp. 500.000,- sebesar 21,88%. Sedangkan untuk tingkat pendapatan kisaran Rp. 500.000,- s/d Rp.3000.000,- mencapai 68,75% dan yang tingkat pendapatannya kisaran Rp. 3.000.000,- s/d Rp. 6.000.000,- mencapai 9,37%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 18.

< Rp . 5 0 0 . 0 0 0 , - , 21. 88% Rp . 5 0 0 . 0 0 0 , - s/ d r p . 3. 000. 000, - , 68. 75% Rp . 3 . 0 0 0 . 0 0 0 , - s/ d Rp . 6 . 0 0 0 . 0 0 0 , - , 9 . 3 7 % T a m a t SD , 3 4 . 3 7 % T a m a t SL T P, 4 0 . 6 2 % T a m a t SL T A , 2 5 . 0 1 % T a m a t SD , 3 4 . 3 7 % T a m a t SL T P, 4 0 . 6 2 % T a m a t SLT A, 2 5 . 0 1 %

Gambar 18. Tingkat Pendapatan Responden Petambak

2) Pendidikan

Tingkat pendidikan yang dimiliki responden petambak tergolong rendah sampai sedang, untuk pendidikan yang tamat SD, tamat SLTP dan SLTA persentasenya tidak terlalu jauh (Gambar 17). Responden yang berpendidikan tamat SD mencapai 34,37%, yang berpendidikan tamat SLTP mencapai 40,62% dan yang berpendidikan tamat sarjana sebesar 25,01%. Jika dilihat dari tingkat pendidikan, nampak bahwa pendidikan responden petambak tergolong rendah sampai sedang. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pikir responden tentang informasi dan inovasi. Jika tingkat pendidikan rendah akan menghambat dalam menerima informasi dan inovasi.

Gambar 19. Ting kat Pendidikan Responden Petambak

3) Usia

Kelompok usia dibagi menjadi lima golongan, yaitu golongan usia dibawah 20 tahun, golongan usia 20 – 30 tahun, golongan usia 30 – 40 tahun, golongan usia 40 – 50 tahun dan golongan usia diatas 50 tahun. Responden berumur 30 – 40 tahun sebesar 34,37%, responden berumur 40 – 50 tahun mencapai 46,88% dan yang berumur di atas 50 tahun sebesar 18,75%. Untuk yang dibawah 20 tahun dan golongan usia 20 – 30 tahun tidak ada responden.

3 0 4 0 t a h u n , 3 4 . 3 7 % 4 0 - 5 0 t a h u n , 4 6 . 8 8 % > 5 0 t ah u n , 1 8 . 7 5 % d u a o r a n g , 6 . 2 5 % t i g a o r an g , 2 8 . 1 2 % e m p a t o r a n g , 3 4 . 3 8 % > l i m a o r an g , 3 1 . 2 5 %

Gambar 20. Tingkat Usia Res ponden Petambak

4) Jumlah Tanggungan

Responden yang memiliki jumlah tanggungan dua orang sebesar 6,25%, responden dengan jumlah tanggungan tiga orang mencapai 28,12%, sedangkan responden dengan jumlah tanggungan empat orang mencapai 34,88% serta responden yang memiliki tanggungan minimal lima orang lebih sebesar 31,25% (Gambar 21).

Gambar 21. Jumlah Tanggungan Responden Petambak

5) Tingkat Pengeluaran

Untuk responden petambak, tingkat pengeluaran atau biaya per bulan terbagi menjadi tiga kategori, yaitu pengeluaran dibawah Rp. 500.000,-, pengeluaran kisaran Rp. 500.000,- s/d Rp. 3.000.000,-, dan pengeluaran kisaran Rp. 3.000.000,- Rp. 6.000.000,-.

Tingkat pengeluaran dibawah Rp. 500.000,- mencapai 15,62%, pengeluaran Rp. 500.000,- s/d Rp. 3.000.000,- sebesar 75,00% dan tingkat pengeluaran Rp. 3.000.000,- s/d Rp. 6.000.000,- sebesar 9,38 (Gambar 22).

< Rp . 5 0 0 . 0 0 0 , - , 15. 62% Rp . 5 0 0 . 0 0 0 , - s / d Rp . 3. 000. 000, - , 75. 00% Rp . 3 . 0 0 0 . 0 0 0 , - s/ d Rp . 6 . 0 0 0 . 0 0 0 , - , 9 . 3 8 % buruk , 33.37% sedang , 34.35% tinggi, 32.28%

Gambar 22. Tingkat Pengeluaran Responden Petambak

6) Persepsi Petambak Terhadap Kualitas Lingkungan Hutan Angke Kapuk

Persepsi Pe tambak terhadap kualitas lingkungan hutan mangrove Angke Kapuk dibagi menjadi tiga golongan persepsi, yaitu persepsi buruk, persepsi sedang dan persepsi baik. Data mengenai persepsi responden petambak diberi peringkat dengan menggunakan Skala Likert, set iap responden diminta menilai terhadap pernyataan yang diajukan dengan kemungkinan jawaban : 1) sangat setuju, 2) setuju, 3) ragu-ragu, 4) tidak setuju, 5) sangat tidak setuju. Masing- masing jawaban tersebut diberi skornya 5, 4, 3, 2, dan 1 (Singarimbun 1995). Seluruh jawaban responden skornya dirata-rata sehingga diperoleh rata-rata persepsi responden petambak. Rata-rata jawaban responden selanjutnya dikategorikan ke dalam tiga kategori Skala Likert yaitu kategori persepsi baik/tinggi (Skala Likert 4,00 – 5,00), persepsi sedang (Skala Likert 3,00 – 3,99), dan kategori rendah/buruk (Skala Likert 1,00 – 2,99).Berdasarkan hasil olahan data penelitian, persepsi buruk sebesar 33,37% persepsi sedang sebesar 34,35% dan persepsi baik sebesar 32,28%.

setuju, 90.62% tidak setuju,

9.38%

7) Persepsi Petambak Terhadap Perlunya Perbaikan Lingkungan Hutan Angke Kapuk

Hasil penelitian menunjukkan, secara umum petambak setuju adanya perbaikan lingkungan hutan mangrove (Gambar 24). Keadaan ini dikarenakan responden melihat kondisi hutan mangrove semakin lama semakin mengalami degradasi lingkungan. Menurut responden, jika kualitas lingkungan terus mengalami penurunan, akan menimbulkan bahaya dan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Gambar 24. Persepsi Petambak Terhadap Perlunya Perbaikan Lingkungan

5.1.3. Perbandingan Persepsi Responden Pantai Indah Kapuk dan Petambak 5.1.3.1. Persepsi Responden Terhadap Kualitas Lingkungan Hutan Angke

Kapuk

Persepsi responden Pantai Indah Kapuk terhadap kualitas lingkungan hutan mangrove Angke Kapuk dibagi menjadi tiga golongan persepsi, yaitu persepsi buruk, persepsi sedang dan persepsi baik. Berdasarkan hasil olahan data penelitian, persepsi buruk responden Pantai Indah Kapuk sebesar 36,61% persepsi sedang sebesar 33,33% dan persepsi baik sebesar 30,06%.

Persepsi responden petambak terhadap kualitas lingkungan hutan mangrove Angke Kapuk dibagi menjadi tiga golongan persepsi, yaitu persepsi buruk, persepsi sedang dan persepsi baik. Berdasarkan hasil olahan data penelitian, persepsi buruk responden petambak sebesar 33,37%, persepsi sedang sebesar 34,35% dan persepsi baik sebesar 32,28% (Gambar 25).

36.61% 33.37% 30.06% 34.35% 33.33% 32.28% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00%

buruk sedang tinggi P e r s e p s i T e r h a d a p K u a l i t a s L i n g k u n g a n H u t a n M a n g r o v e

Pa n t a i I n d a h Ka p u k Pe t a m b a k

Gambar 25. Komposisi Persepsi Responden Terhadap Kualitas Lingkungan

Berdasarkan kedua responden tersebut, cenderung memberikan persepsi yang buruk terhadap kualitas lingkungan hutan mangrove Angke Kapuk saat ini. Persentase persepsi terhadap kualitas lingkungan yang cenderung buruk ini menunjukkan bahwa responden mema ndang kondisi lingkungan hutan mangrove Angke Kapuk memang cenderung buruk dan mengalami kerusakan lingkungan. Responden memberikan penilaian bahwa kerusakan lingkungan lingkungan hutan mangrove terlihat dari semakin sedikitnya vegetasi hutan mangrove, kondisi pencemaran air yang semakin buruk, semakin menumpuknya sampah-sampah disekitar hutan mangrove, dan semakin berkurangnya fungsi atau manfaat dari hutan mangrove. Sehingga jelaslah untuk itu diperlukan upaya-upaya berupa perbaikan lingkungan hutan mangrove berupa program rehabilitasi hutan mangrove di Angke Kapuk.

5.1.3.2. Persepsi Responden Terhadap Perlunya Perbaikan Lingkungan Hutan Angke Kapuk

Terhadap program rehabilitasi hutan mangrove Angke Kapuk untuk perbaikan lingkungan, secara umum responden setuju adanya perbaikan lingkungan hutan mangrove (Gambar 26). Keadaan ini dikarenakan responden melihat kondisi hutan mangrove semakin lama semakin mengalami degradasi lingkungan. Menurut responden, jika kualitas lingkungan terus mengalami penurunan, akan menimbulkan bahaya dan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Kedua responden umumnya setuju bentuk perbaikan lingkungan di hutan Angke Kapuk adalah dengan tetap melakukan program penanaman kembali tanaman mangrove di areal hutan Angke Kapuk. Responden Pantai Indah Kapuk juga melihat bahwa bentuk perbaikan lingkungan lainnya adalah dengan membersihkan kawasan hutan tersebut dari adanya sampah-sampah plastik dan sampah rumah tangga. Mereka berpendapat, kawasan hutan Angke Kapuk sudah sangat kotor dengan limbah sampah plastik dan sampah rumah tangga khususnya di sekitar Suaka Margasatwa Muara Angke.

Responden Pantai Indah Kapuk juga berpendapat perlunya ada tanggul- tanggul penahan abrasi pantai disekitar pesisir hutan lindung, hal ini dikarenakan memang me reka menyadari tinggal berdekatan dan berdampingan dengan kawasan hutan lindung, mereka sadar dengan kualitas hutan lindung yang semakin baik maka tingkat abrasi dan intrusi air laut bisa dikurangi.

Para responden petambak juga berpendapat, bahwa bentuk perbaikan lingkungan di hutan Angke Kapuk adalah dengan menanggulangi pencemaran air di kawasan hutan Angke Kapuk tersebut. Hal ini dapat dimaklumi, jika dilihat dari pengalaman mereka sebagai petambak, dimana banyak ternak ikan-ikan yang mengalami keracunan/mati. Indikator lainnya dapat dilihat dari tambak udang, responden petambak berpendapat, bahwa dulu sewaktu tingkat pencemaran air di kawasan tersebut masih sangat kecil, mereka masih dapat bertambak udang, tetapi sekarang udang adalah sangat sensitif terhadap pencemaran air, sehingga tidak dapat hidup lagi dikawasan tambak mereka.

95.24% 90.62% 4.76%9.38% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%

setuju tidak setuju P e r s e p s i T e r h a d a p P e r b a i k a n L i n g k u n g a n H u t a n

M a n g r o v e

Pa n t a i I n d a h Ka p u k Pe t a m b a k

Gambar 26. Komposisi Persepsi Responden Terhadap Perbaikan Lingkungan

Dokumen terkait