• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Nilai Ekonomi Hutan Mangrove

Kawasan hutan mangrove Angke Kapuk merupakan kawasan hutan mangrove yang pengelolaannya berada dibawah Departemen Kehutanan dalam hal ini adalah Balai Konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta dan Dinas Kehutanan dan Pertanian DKI Jakarta. Areal Suaka Margasatwa Muara Angke dan Taman Wisata Alam Angke Kapuk berada dibawah pengelolaan Departemen Kehutanan, sedangkan yang masuk dalam pengelolaan Dinas Kehutanan DKI Jakarta adalah Kawasan Hutan Lindung, Areal Pembibitan, Kawasan Jalur Hijau dan Jalan Tol.

Hutan mangrove di kawasan Angke Kapuk telah banyak memberikan manfaat terhadap masyarakat sekitarnya. Masyarakat sudah turun temurun mendapatkan manfaat dari hutan mangrove Angke Kapuk jauh sebelum adanya penyerahaan sebagian kepada PT. Mandara Permai.

Undang – Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dijelaskan bahwa setiap sumberdaya alam harus dikelola berdasarkan wawasan lingkungan, sehingga akan tetap terpeliharanya sistem jaring-jaring ekosistem dan terpeliharanya keanekaragaman hayati. Diperlukan adanya penilaian sumberdaya hutan mangrove, tidak hanya nilai pasar dari barang yang dihasilkan, tetapi juga jasa (nilai bukan pakai) yang ditimbulkan oleh sumberdaya hutan mangrove.

Dalam penelitian ini, penilaian sumberdaya hutan mangrove di kawasan Hutan Angke Kapuk dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu direct use value

(nilai manfaat langsung), indirect use value (nilai manfaat tidak langsung),

existence value (nilai manfaat keberadaan), option value (nilai manfaat pilihan) dan

bequest value (nilai manfaat pewarisan).

5.2.1. Direct Use Value (Nilai Manfaat Langsung)

Nilai manfaat langsung dari ekosistem hutan mangrove dilapangan, diidentifikasi ada beberapa kegiatan yang dilakukan masyarakat secara langsung sebagai sumber mata pencahariannya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat merupakan kegiatan yang dapat memberikan nilai manfaat langsung bagi mereka, diantaranya masyarakat memanfaatkan hutan mangrove untuk budidaya tambak bandeng dan mujair, mengambil benih bandeng, mengambil cacing laut, rekreasi memancing. Perhitungan nilai manfaat langsung berdasarkan harga pasar yang berlaku. Pendekatan ini yaitu dengan menghitung jenis jumlah produk langsung yang dapat dinikmati masyarakat dikalikan dengan harga pasar. Nilai manfaat langsung di hutan Angke Kapuk disajikan pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Nilai Manfaat Langsung Hutan Mangrove Angke Kapuk

Nilai Manfaat No Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn)

(Rp/thn) Persentase (%) 1 Bandeng 7.450.382,- 488.000.000,- 57,06 2 Mujair 89.600,- 5.600.000,- 0,65 3 Benih Bandeng 2.978.776,- 133.330.000,- 15,59 4 Cacing Laut 1.957.105,- 87.600.000,- 10,24 5 Rekreasi pemancingan 97.051,- 4.344.000,- 0,51 6 Kayu sebagai kayu bakar 2.605.965,- 136.383.200,- 15,95

Total 15.178.879,- 855.257.200, - 100,00

Sumber : Data Primer Penelitian 2005

Pada Tabel 5 menyajikan hasil pengolahan data primer kegiatan selama penelitian yang menghasilkan nilai manfaat langsung di hutan Angke Kapuk sebesar Rp. 855.257.200,-. Persentase terbesar diberikan dari adanya pembukaan lahan pertambakan bandeng sebesar 57,06% atau mencapai

Rp. 488.000.000,- per tahun atau Rp. 7.450.382,- per ha per tahun (Lampiran 1). Perhitungan bandeng yang dihasilkan dari tambak yang ada di dalam kawasan hutan wisata Angke Kapuk.

Areal tambak dalam penelitian ini adalah yang berada di dalam kawasan Hutan Wisata Angke kapuk, yang saat ini berada dalam kondisi konflik antara

petambak dengan pemerintah. Jika dilihat dari hasil tambak yang cukup besar, mungkin itu merupakan salah satu alasan kenapa para petambak tersebut tidak mau meninggalkan lahan kawasan tersebut. Selain itu juga jika dilihat dari sejarahnya, memang pembukaan areal tambak tersebut sudah lama dilakukan oleh masyarakat tersebut.

Selain tambak bandeng juga terdapat tambak mujair, pada Tabel 6terlihat persentase nilai tambak mujair untuk nilai manfaat langsung sangat kecil jika dibandingkan dengan tambak bandeng. Dari hasil wawancara dilapangan, nampak bahwa tambak mujair sifatnya hanya sampingan saja. Dari hasil pengamatan, tambak bandeng dan mujair dalam budidayanya digabung dalam satu tambak. Karena sifatnya sampingan, benih-benih ikan mujair tersebut benihnya berasal dari alam atau sengaja tidak disebar.

Nilai manfaat langsung berikutnya dari hutan Angke Kapuk adalah pengambilan benih bandeng oleh masyarakat sekitar. Nilai manfaat pengambilan benih bandeng cukup besar jika dilihat dari persentasenya, yaitu sebesar 15,59% dari total manfaat langsung di hutan Angke Kapuk. Nilai manfaat langsung dari pengambilan benih bandeng sebesar Rp. 133.330.000,-per tahun atau Rp. 2.978.776,- per ha per tahun (Lampiran 1). Pengambilan benih bandeng umumnya dilakukan oleh para petambak dan penjaga tambak, selain itu juga dilakukan oleh masyarakat yang memang bermatapencaharian mencari benih bandeng. Satu ekor benih bandeng dihargai Rp. 500,- dengan ukuran benih bandeng kira-kira panjang 9 – 12 cm. Rata-rata masyarakat bisa mendapatkan benih bandeng sekitar 50 – 100 ekor per hari, tangkapan akan lebih besar lagi disaat air laut sedang pasang. Pengambilan benih bandeng dilakukan didekat Hutan Wisata Angke Kapuk. yaitu disekitar sungai/kanal yang langsung terhubung dengan muara laut.

Manfaat berikutnya dari hutan hutan Angke Kapuk adalah pengambilan cacing laut (Polychaeta). Pada Tabel 5memperlihatkan nilai manfaat langsung dari pengambilan cacing laut adalah sebesar 10,24% dari total nilai manfaat langsung di hutan Angke Kapuk yaitu sebesar Rp. 87.600.000, per tahun atau sekiktar Rp. 1.957.105,- per ha per tahun (Lampiran 1). Pengambilan cacing laut dilakukan disekitar hutan lindung. Cacing laut digunakan sebagai umpan pada saat memancing ikan disekitar hutan Angke Kapuk. Harga cacing laut adalah Rp. 2.000,- per cup. Ukuran cup adalah kira-kira 300 ml atau berisi sekitar 15 ekor cacing. Pengambilan cacing laut hampir dilakukan setiap hari, tapi pada umumnya

dilakukan pada hari kamis dan jum’at, hal ini dilakukan untuk dijual pada hari sabtu dan minggu, karena pada hari-hari libur banyak pemancing yang memancing ikan disekitar hutan. Untuk nilai manfaat pemancingan, jika dilihat dari persentasenya tergolong kecil yaitu 0,51% atau hanya Rp. 4.344.000,- per tahun atau Rp. 97.051,- per ha per tahun. Untuk perhitungan nilai pemancingan, responden didapatkan yang sedang melakukan rekreasi pemancingan disekitar hutan lindung, sehingga untuk mengestimasi nilai rekreasi pemancingan untuk per hektarnya berdasrkan luasan dari hutan lindung tersebut.

Manfaat berikutnya dari hutan Angke Kapuk adalah nilai kayu yang dihasilkan. Estimasi nilai kayu di hutan Angke Kapuk dalam penelitian ini, berdasarkan dari potensi tegakan kayu mangrove yang digunakan sebagai sebagai kayu bakar, dan nilai kayu yang dihitung yang berada dalam hutan lindung dan Suaka Margasatwa Muara Angke, karena kedua kawasan tersebut relatif mempunyai vegetasi mangrove yang masih baik. Nilai kayu sebagai kayu bakar yang dihasilkan dalam penelitian ini sebesar Rp. 136.383.200,- per tahun atau sekitar 15,95% dari total nilai manfaat langsung di hutan Angke Kapuk , jika dikonversikan dalam per hektar sekitar Rp. 2.605.965,- per ha per tahun (Lampiran 1).

Dalam perhitungan nilai manfaat langsung, nilai budidaya tambak tetap dimasukan, walaupun usaha budidaya tambak yang dibuka oleh masyarakat ini sifatnya illegal. Nilai yang besar ini, cukup beralasan bagi masyarakat memanfaatkannya sebagai areal tambak, seperti yang terjadi pada saat ini. Areal tambak yang dihitung dalam penelitian ini, areal yang berada dalam kawasan Hutan Wisata Angke Kapuk.

Berdasarkan pengamatan dilapangan, nampak jelas dengan luas kira-kira 99,82 ha, sekitar 95% berubah menjadi areal tambak. Konflik-konflik masalah tersebut, memang sudah lama terjadi, dan sekarang masih dalam tahap-tahap penyelesaian dari pihak-pihak terkait. Konflik terjadi karena adanya pembukaan areal tambak yang sifatnya illegal di dalam kawasan hutan wisata.

5.2.2. Indirect Use Value (Nilai Manfaat Tidak Langsung)

Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove adalah berupa manfaat fisik, manfaat biologis dan manfaat ekologis. Untuk manfaat fisik, dapat diestimasi atau dinilai dari adanya pembuatan bangunan air, yaitu pemecah gelombang ombak

dan asuhan dan penyediaan bahan organik bagi udang. Seba gai manfaat tidak langsung ekologis, dapat diestimasi dari adanya serapan karbon.

Nilai pemecah gelombang sama dengan estimasi dari biaya pembuatan pemecah gelombang (break water). Break water dengan ukuran 1 m x 11 m x 2,5 m dengan daya tahan 10 tahun sebesar Rp. 4.153.880,- (Aprilwati 2001). Untuk perhitungan nilai pemecah gelombang atau sebagai penahan abrasi pantai diestimasi dari lokasi hutan lindung. Hutan lindung kawasan Angke Kapuk mempunyai panjang 5000 m yang berbatasan langsung dengan laut. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat pemecah gelombang sepanjang 5000 m adalah Rp. 22.778.872.940,- dengan daya tahan 10 tahun, atau per tahunnya adalah Rp. 2.277.887.294,-. Nilai manfaat tidak langsung berupa manfaat fisik hutan mangrove Angke Kapuk adalah sebesar Rp. 2.277.887.294, - per tahun. Untuk mendapatkan nilai per hektarnya, didapatkan dari luasan hutan lindung yang ada sekarang, atau sekitar Rp. 50.891.137,- per ha per tahun (Lampiran 2).

Nilai manfaat ekologis tak langsung dari hutan mangrove Angke Kapuk adalah sebagai penyerap karbon. Potensi karbon untuk Rhizophora mucronata

adalah 3258,34 kg/ha – 3957,44 kg/ha (Hilmi 2003). Untuk estimasi dalam penelitian ini, diambil nilai rata-ratanya yaitu 3607,89 kg/ha. Untuk perhitungan nilai serapan karbon dalam penelitian ini, hanya untuk kawasan hutan lindung dan Suaka Margasatwa Muara Angke dengan luas keduanya mencapai 69,68 ha,karena kedua kawasan tersebut vegetasinya relatif lebih rapat dan baik. Didapatkan nilai serapan karbon di hutan Angke Kapuk adalah Rp. 103.722.011,- per tahun atau Rp. 1.486.415,- per ha per tahun (Lampiran 2).

Untuk manfaat tidak langsung biologis, sebagai penjaga kestabilan siklus makanan pada ekosistem hutan mangrove didekati dengan nilai unsur hara yang dihasilkan serasah mangrove. Mengutip penelitian Sukardjo (1995), di hutan mangrove Angke Kapuk setiap hektar hutan mangrovenya menghasilkan gugur serasah sebanyak 13,08 ton/tahun, atau sekitar 4,85 ton berat kering. Berdasarkan hasil analisis, serasah tersebut mengandung unsur hara Nitrogen 10,5 kg/ha atau setara dengan 23,33 kg pupuk Urea, dan Pospor 4,72 kg/ha atau setara dengan 13,11 kg pupuk SP-36. Jika harga pupuk Urea dan SP-36 masing- masing adalah Rp. 1.100,- dan Rp. 1.500,-, maka manfaat tidak langsung biologis penjaga kestabilan siklus makanan pada ekosistem hutan mangrove adalah Rp. 45.328,- per ha per tahun, dengan luas hutan mangrove sebesar 180,11 ha maka manfaat tidak langsungnya sebesar Rp. 8.164.026,- per tahun (Lampiran 2).

Secara lebih rinci nilai manfaat langsung di hutan Angke Kapuk disajikan pada Tabel 6 berikut ini.

Tabel 6. Nilai Manfaat Tidak Langsung Hutan Mangrove Angke Kapuk

Nilai Manfaat No Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn)

(Rp/thn) Persentase (%)

1 Penahan abrasi pantai 50.891.137,- 2.277.887.294,- 95,32 2 Penyerap karbon 1.486.415,- 103.722.011,- 4,34 3 Penjaga kestabilan siklus makanan 45.328,- 8.164.026,- 0,34

Total 52.422.880,- 2.389.773.331,- 100,00

Sumber : Data Primer Penelitian 2005

Pada Tabel 6menyajikan bahwa total nilai manfaat tidak langsung di hutan Angke Kapuk mencapai Rp. 2.389.773.331,- per tahun atau Rp. 52.422.880,- per ha per tahun. Persentase manfaat tidak langsung terbesar adalah manfaat tidak langsung fisik yaitu manfaat penahan abrasi pantai sebesar 95,32% dari nilai total manfaat tidak langsung, yaitu sebesar Rp.2.277.887.294,- per tahun.

Tabel 7. Nilai Manfaat Langsung dan Nilai Manfaat Tidak Langsung Hutan Mangrove Angke Kapuk

Nilai Manfaat No Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn)

(Rp/thn) Persentase (%)

1 Manfaat langsung 15.178.879,- 855.257.200,- 26,36 2 Manfaat tidak langsung 52.422.880,- 2.389.773.331,- 73,64

Total 67.601.759,- 3.245.030.531,- 100,00

Sumber : Data Primer Penelitian 2005

Pada Tabel 7 terlihat perbandingan nilai manfaat tidak langsung dengan nilai manfaat langsung. Persentase nilai manfaat tidak langsung sebesar 73,64% lebih besar jika dibandingkan dengan persentase nilai manfaat langsung dengan nilai 26,36%. Hal menggambarkan bahwa, keberadaan suatu ekosistem hutan mangrove dengan manfaat tidak langsung berupa penahan abrasi pantai, penyerap karbon, dan penjaga kestabilan siklus makanan, memberikan manfaat jauh lebih besar dibandingkan pemanfaatan langsung dari ekosistem hutan mangrove. Terkadang adanya pemanfaatan secara langsung dari hutan mangrove justru merusak ekosistem mangrove tersebut.

26.36%

73.64%

Gambar 27. Distribusi Nilai Manfaat Langsung dan Nilai Manfaat Tidak Langsung Hutan Mangrove Angke Kapuk

5.2.3. Manfaat Pilihan

Manfaat pilihan hutan mangrove Angke Kapuk didekati menggunakan nilai manfaat keanekeragaman hayati (biodiversity). Manfaat pilihan ini adalah nilai dari keanekaragaman hayati (biodiversity) yang dapat ditangkap dari keberadaan hutan mangrove. Menurut Ruitenbeek (1992) dalam Handayani (2004), nilai manfaat pilihan keanekaragaman hayati adalah US $ 15/ha/tahun.

Nilai tukar rupiah terhadap US $ pada saat penelitian sebesar Rp 9.300,-. Untuk perhitungan nilai pilihan, areal penelitian mencakup hutan lindung, Suaka Margasatwa Muara Angke, hutan wisata, dan kebun pembibitan kehutanan, yang luasnya 180,11 ha, maka nilai manfaat pilihan hutan mangrove Angke Kapuk adalah Rp.115.744.089,- per tahun atau Rp. 642.630,- per ha per tahun (Lampiran 3).

5.2.4. Manfaat Pewarisan

Nilai pewarisan adalah nilai yang didasarkan pada suatu keinginan individu atau masyarakat untuk mewariskan kawasan konservasi kepada generasi yang akan datang. Bagi kawasan hutan Angke Kapuk nilai warisan adalah korbanan yang diberikan masyarakat yang hidup sekarang untuk menjaga kelestarian kawasan hutan Angke Kapuk agar tetap utuh untuk diberikan kepada generasi yang akan datang. Nilai pewarisan dari suatu kawasan hutan, dapat diestimasi dari jumlah bibit bakau yang dihasilkan.

Berdasarkan data dan wawancara dengan pegawai dinas kehutanan diketahui bahwa, pembibitan tidak dilakukan lagi di areal kebun pembibitan, tetapi dilakukan didekat hutan lindung. Jumlah bibit yang dihasilkan dari hutan lindung seluas 44,76 ha per tahun tersebut sebanyak 10.000 bibit. Harga bibit bakau dengan ketinggian kira-kira 50 cm adalah Rp. 3.500,-. Nilai pewarisan yang dihasilkan adalah Rp. 35.000.000,- per tahun atau Rp. 780.500,- per ha per tahun (Lampiran 3).

5.2.5. Manfaat Keberadaan.

Nilai keberadaan adalah nilai yang bukan dihasilkan dari institusi pasar dan tidak ada kaitannya dengan fungsi perlindungan asset prosduktif atau proses produksi secara langsung maupun tidak langsung. Nilai keberadaan kawasan hutan Angke Kapuk adalah nilai yang diberikan masyarakat,baik itu penduduk setempat maupun pengunjung terhadap kawasan tersebut atas manfaat spiritual, estetika, dan kultural.

Nilai manfaat keberadaan hutan mangrove didapatkan dengan wawancara langsung kepada responden, baik itu kepada masyarakat sekitar maupun pengunjung yang mendatangi kawasan Angke Kapuk dalam hal ini adalah kawasan hutan lindung, Suaka Margasatwa Muara Angke dan Taman Wisata Angke Kapuk. Pemilihan responden berdasarkan lokasi tempat tinggal, pekerjaan dan tingkat pendidikan. Jumlah responden yang diambil sebanyak 55 orang, yang terdiri dari 15 orang warga Kelurahan Kapuk Muara, 15 orang warga Kelurahan Kamal Muara dan 25 orang warga Pluit. Berdasarkan tingkat pendidikan, responden umumnya terdiri dari pendidikan SD 14 orang, SLTP 12 orang, SLTA 20 orang dan Perguruan Tinggi 9 orang. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Rata-rata Nilai Keberadaan Hutan Angke Kapuk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Responden Rata-rata Nilai Keberadaan Tingkat Pendidikan Kelurahan

(orang) (Rp)

Pekerjaan

Kapuk Muara 1 petambak, buruh, Kamal Muara 6 dan nelayan SD

Pluit 7

Jumlah 14 180,000

Rata-rata 13,846

Kapuk Muara 6 wiraswasta, Kamal Muara 2 staff kelurahan, Pluit 4 pedagang, buruh bangunan, SMP karyawan pabrik, Jumlah 12 288,000 Rata-rata 24,000

Kapuk Muara 5 wiraswasta, Kamal Muara 5 staff kelurahan, Pluit 10 pedagang, buruh bangunan, karyawan pabrik, SMA karyawan Jumlah 20 942,000 Rata-rata 47,100

Kapuk Muara 3 staff kelurahan, Kamal Muara 3 Wiraswasta, Perguruan Tinggi

Pluit 3 karyawan

Jumlah 9 552,000

Rata-rata 61,333

Sumber : Data Primer Penelitian 2005

Berdasarkan tingkat pendidikan, nampak bah wa nilai keberadaan yang diberikan oleh masyarakat berbeda. Pada tingkat pendidikan SD, dari 20 responden rata-rata memberikan nilai keberadaan Rp.13.333,- per ha per tahun. Pekerjaaan responden yang berpendidikan SD umumnya sebagai petambak, nelayan dan buruh. Kisaran nilai yang mereka berikan untuk menilai keberadaan hutan mangrove Angke Kapuk yaitu Rp. 12.000, sampai Rp. 18.000,-.

Pada kelompok responden yang berpendidikan SLTP, umumnya menilai keberadaan hutan mangrove Angke Kapuk rata-rata Rp. 24.000,- per ha per tahun, dengan kisaran antara Rp. 12.000,- sampai Rp. 36.000,- per ha per tahun.

Umumnya mereka bekerja sebagai staff kelurahan, pedagang, buruh, wiraswasta dan karyawan pabrik.

Untuk tingkat pendidikan SLTA dan Perguruan tinggi, masing-masing memberikan rata-rata nilai keberadaan hutan mangrove Angke Kapuk sebesar Rp. 47.100,- per ha per tahun dan Rp. 61.333,- per ha per tahun. Berdasarkan luas wilayah penelitian yaitu hutan lindung, Suaka Margasatwa Muara Angke, hutan wisata dan kebun pe mbibitan kehutanan yang luasnya 180,11 ha, dan jumlah populasi (Kepala Keluarga) di tiga kelurahan tersebut, didapatkan nilai keberadaan hutan Angke Kapuk rata-rata sebesar Rp. 4.393.489,- per ha per tahun atau sebesar Rp. 791.311.418,20,- per tahun (Lampiran 4).

5.2.6. Estimasi Nilai Manfaat Total Hutan Mangrove Angke Kapuk

Nilai manfaat total hutan mangrove Angke Kapuk adalah merupakan penjumlahan dari nilai manfaat langsung, nilai manfaat tidak langsung, nilai pilihan, nilai pewarisan dan nilai keberadaan. Perhitungan jumlah nilai manfaat total didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut :

• Antara nilai-nilai tersebut tidak terdapat saling tumpah tindih (duplikasi penilaian),

• Masing-masing nilai bersifat non rivalry terhadap nilai yang lain sehingga penilaian terhadap suatu nilai tidak mempengaruhi (menambah atau mengurangi) nilai yang lain,

• Terhadap sebagian kawasan atau seluruh kawasan tersebut tidak dilakukan konversi yang menyebabkan perubahan lahan secara signifikan.

Tabel 9. Ringkasan Perhitungan Nilai Manfaat Total Hutan Angke Kapuk

Nilai Manfaat No Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn)

(Rp/thn) Persentase (%)

1 Manfaat langsung 15.178.879,- 855.257.200,- 20,43 2 Manfaat tidak langsung 52.422.880,- 2.389.773.331,- 57,07 3 Manfaat pilihan 642.630,- 115.744.089,- 2,76 4 Manfaat pewarisan 780.500,- 35.000.000,- 0,84 5 Manfaat keberadaan 4.393.489,- 791.311.418,- 18,90

Total 73.418.378,- 4.187.086.038,- 100,00

Manfaat Langsung, 20.43% Manfaat Tidak Langsung, 57.07% Manfaat Pilihan, 2.76% Manfaat Pewarisan, 0.84% Manfaat Keberadaan, 18.90%

Berdasarkan Tabel 9 di atas, nilai manfaat total hutan mangrove Angke Kapuk sebesar Rp. 4.187.086.038,- per tahun. Dari nilai total tersebut, nilai manfaat tidak langsung memberikan sumbangan terbesar yaitu Rp. 2.389.773.331,- dari nilai manfaat total.

Nilai-nilai manfaat tidak langsung yang dihitung dalam penelitian ini adalah nilai manfaat tidak langsung sebagai penahan abrasi, penyerap karbon, dan penjaga kestabilan siklus makanan. Penilaian sebagai penahan abrasi memberikan kontribusi terbesar sebagai nilai manfaat tidak langsung. Nilai manfaat kedua terbesar setelah nilai manfaat tidak langsung adalah nilai manfaat langsung yang memberikan nilai sebesar Rp. 855.257.200,- per tahun, kemudian diikuti oleh nilai manfaat keberadaan sebesar Rp. 791.311.418,-.

Berdasarkan distribusi persentasenya, nilai manfaat tidak langsung memberikan persentase terbesar yaitu 57,07%, kemudian nilai manfaat langsung sebesar 20,43% dan nilai manfaat keberadaan sebesar 18,90%. Lebih jelasnya pada Gambar 28 berikut ini.

Gambar 28. Distribusi Nilai Manfaat Total Hutan Mangrove Angke Kapuk

Nilai ekonomi total hutan mangrove Angke Kapuk yang meliputi hutan lindung, Suaka Margasatwa Muara Angke, hutan wisata dan kebun pembibitan adalah sebesar Rp. 4.187.086.038,- per tahun atau Rp. 73.418.378,- per ha per tahun. Kawasan hutan Angke Kapuk yang dikelola pemerintah seluas 327,70 ha, dan yang dikelola oleh PT. Mandara Permai seluas 827,18 ha yang dikonversi menjadi pemukiman Pantai Indah Kapuk dengan sarana dan prasarananya. Apabila dihitung nilai ekonomi total sebelum terjadi konversi yang dilakukan PT. Mandara Permai, maka nilai total ekonomi hutan Angke Kapuk seluas 1154,88 ha sebesar Rp. 84.789.416.385,- per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum

terjadi konversi, hutan mangrove memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan setelah terjadi konversi menjadi areal pemukiman maupun areal fungsi lahan lainnya.

Mengingat fungsi dan nilai hutan mangrove yang sangat strategis, perlu dilakukan upaya aktif bagi perlindungan dan pelestarian bagi kawasan hutan Angke Kapuk yang tersisa. Beberapa aspek yang menunjang dan perlu lebih diperhatikan adalah : (1) Aspek sumber daya manusia berupa pendidikan, pelatihan dan penyuluhan bagi aparatur pemerintah dan masyarakat, (2) Aspek kelembagaan, berupa rancangan peraturan perundangan antar lembaga pemerintah tentang bentuk-bentuk pengelolaan dan pelestarian mangrove. (3) Aspek tata ruang, berupa penataan yang sesuai fungsi, peruntukan dan pemanfaatannya, sehingga ada pembagian tugas dan kewenangan yang jelas bagi masing-masing instansi di pusat dan daerah dalam merencanakan, memanfaatkan dan mengendalikan penggunaan ruang yang berfungsi sebagai kawasan konservasi.

5.3. Analisis WTP Pantai Indah Kapuk 5.3.1. Keragaan WTP Pantai Indah Kapuk

Kegiatan perbaikan lingkungan di hutan mangrove Angke Kapuk dilakukan melalui program rehabilitasi lahan mangrove yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini adalah departemen kehutanan dan pemerintah daerah setempat.

Upaya perbaikan lingkungan tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah tetapi sangat diperlukan adanya partisipasi dan swadaya dari masyarakat, sehingga perlu adanya informasi mengenai kesediaan membayar

(Willingness to Pay) dari masyarakat. Untuk mengetahui berapa kesanggupan

masyarakat untuk menyumbang terhadap upaya perbaikan lingkungan tersebut, maka dalam penelitian ini dirancang skenario sebagai berikut :

Penelitian ini menggunakan kuisioner pilihan dikotomis (Dichotomous

Choice) untuk mengukur WTP setiap responden dalam survei CVM. Responden

diberikan pertanyaan yang jawabannya menerima atau menolak untuk terlibat dalam skenario tersebut. Dengan kata lain jawaban yang diperlukan dari setiap responden adalah “ya” atau “tidak” dengan penawaran yang diberikan. Mudah bagi responden untuk membuat keputusan dalam pertanyaan Dichotomous Choice

karena mereka dapat mengenali dengan pilihan diskrit (tidak kontinyu) dalam transaksi pasar.

Jumlah responden Pantai Indah Kapuk yang bersedia membayar untuk perbaikan lingkungan lebih besar jika dibandingkan dengan responden yang tidak bersedia membayar terhadap perbaikan lingkungan.

Tabel 10. Jumlah Responden Pantai Indak Kapuk Yang Bersedia/Tidak Bersedia Membayar.

Kesediaan Membayar Untuk Respon Responden Pantai Indah Ka puk

Perbaikan Lingkungan Frekuensi Persentase

(n) (%)

Bersedia membayar 162 77,14 Tidak bersedia 48 22,86

Jumlah 210 100,00

Sumber : Diolah dari data penelitian 2005

Jumlah responden yang bersedia membayar untuk perbaikan lingkungan cukup besar, yaitu sekitar 77,14% dari total jumlah responden. Sedangkan jumlah responden yang tidak bersedia membayar untuk perbaikan lingkungan sebesar 22,86% dari total jumlah responden. Berbagai macam alasan terkemuka, mengapa mereka tidak mau membayar untuk perbaikan lingkungan (Tabel 11).

Kawasan hutan mangrove Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di DKI Jakarta. Hutan mangrove Angke Kapuk dalam dekade terakhir ini mengalami tekanan degradsi yang cukup kritis. Adanya degradasi lingkungan tersebut lambat laun mengikis luas hutan mangrove yang semakin berkurang. Kekhawatiran yang timbul adalah semakin meningkatnya degradasi yang

Dokumen terkait