• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Dasar Perhitungan Ganti Rugi

Dalam dokumen T1 312004029 BAB III (Halaman 32-38)

MEKANISME PEMBERIAN GANTI RUGI BERDASARKAN PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR3 TAHUN 2007

5. Karakteristik Dasar Perhitungan Ganti Rugi

4. Karakteristik Penerima Ganti Rugi

Berdasarkan Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975

hingga Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2007

siapa yang berhak menerima ganti rugi atau ganti kerugian mengalami

perubahan menjadi lebih luas. Pada awalnya hanya yang mempunyai hak

atas tanah (Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975) kemudian menjadi

pemegang hak atas tanah atau ahli waris yang sah dan nadzir bagi tanah

wakaf (Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993), pada Peraturan

Presiden Nomer 36 Tahun 2005 tidak ada perubahan yang begitu terlihat.

Begitu juga pada Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006. Tetapi pada

Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2007

penerima ganti rugi menjadi lebih luas. Ada penambahan dalam hak pakai

atau hak guna bangunan, diatas tanah hak milik atau diatas tanah hak

pengelolaan yang berhak adalah pemegang hak milik atau hak pengelolaan.

5. Karakteristik Dasar Perhitungan Ganti Rugi

Mengalami perubahan menjadi lebih luas. Pada semula menurut

60

dasar perhitungan ganti rugi hanya dilihat dari lokasi dan faktor strategis

tanah. kemudian pada Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 melihat

berdasarkan NJOPBB tanah yang terakhir. Pada Peraturan Presiden Nomer

36 Tahun 2005 dasar perhitungan berdasarkan NJOP Tahun berjalan. Begitu

juga pada Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006. Tetapi pada Peraturan

Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2007bukan hanya

berdasarkan NJOP saja, tetapi juga melihat dari lokasi letak tanah, status

tanah, kesesuaian pengunaan tanah dengan rencana tata ruang wilayah,

sarana dan prasarana yang tersedia dan yang mempengaruhi harga tanah.

Dasar perhitungan ganti rugi ini harus sesuai dengan asas

musyawarah dimana asas ini mengatakan bahwa dalam pengadaan tanah apa

saja dan bagaimana penyelesaian yang akan dilakukan. dalam hal ini ada

unsur yang paling mendasar yaitu satu pendapat antara pihak yang saling

membutuhkan. Musyawarah dilakukan berdasarkan perundingan. Asas yang

berikutnya adalah asas kesetaraan, dimana dalam asas ini kedua belah pihak

61

6. Karakteristik Mekanisme Pengadaan Tanah

Mekanisme pada pengadaan tanah mengalami perubahan. Perubahan

yang dimaksud ada pada aturan mengenai pengadaan tanah apabila pemilik

hak atas tanah setuju untuk melepaskan haknya. Bila pemilik hak atas tanah

setuju, mekanisme ganti rugi menjadi lebih panjang. Karena pada awalnya

menurut Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975 apabila

pemilik hak atas tanah setuju akan ganti rugi yang diberikan oleh PPT maka

instansi yang bersangkutan langsung membayar kepada pemilik hak atas

tanah dan kemudian memohon hak kepada pejabat yang berwenang.

Kemudian pada Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 jika

pemilik hak tanah setuju dengan ganti rugi yang diberikan maka PPT

mengeluarkan SK tentang bentuk dan besar ganti kerugian. Pada Peraturan

Presiden Nomer 36 Tahun 2005 dan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun

2006 tidak ada perubahan.

Pada Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun

2007 terdapat perubahan yaitu penambahan aturan dalam mekanisme

pemberian ganti rugi apabila pemilik tanah setuju untuk melepaskan

haknya. Perubahan tersebut adalah penambahan mekanisme instansi yang

62

membuat surat pernyataan pelepasan hak dan selanjutnya PPT membuat

berita acara pelepasan hak dan membayarkan ganti rugi.

Apabila pemilik hak atas tanah tidak setuju dengan ganti rugi, aturan

mengenai mekanisme pemberian ganti rugi pun mengalami perubahan. Pada

awalnya menurut Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975

mengatakan bahwa mekanisme ganti rugi apabila pemilik hak atas tanah

tidak setuju maka PPT bisa tetap pada keputusan semula atau langsung

berhubungan dengan Gubernur setempat. Kemudian Gubernur

mengukuhkan keputusan panitia atau mencari jalan tengah dengan

mengubah keputusan PPT.

Kemudian pada Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 jika

pemilik tanah tidak setuju melepaskan haknya maka PPT langsung

menghubungi Gubernur, kemudian Gubernur bisa mengubah keputusan PPT

atau mengukuhkan. Tetapi jika masih ditolak maka akan dilakukan

pencabutan. Sebelum melakukan pencabutan maka memberikan surat

kepada MENDAGRI kemudian ditembuskan kepada instansi yang

membutuhkan tanah dan MENHANKAM serta Presiden.

Pada Peraturan Presiden Nomer 36 Tahun 2005 jika pemilik tanah

63

Bupati/Walikota atau Gubernur khusus wilayah DKI Jakarta. Kemudian

Bupati/Walikota atau Gubernur bisa mengukuhkan keputusan PPT atau

mengubah keputusan PPT. Tetapi jika ditolak maka akan dilakukan

pencabutan. Dalam hal ini surat pencabutan ditujukan kepada Kepala

BADAN PERTANAHAN NASIONAL dengan tembusan kepada Presiden

dan instansi yang membutuhkan tanah serta MENHANKAM.

Perkembangan dari peraturan sebelumnya adalah pencabutan di rujuk

kepada MENDAGRI menjadi Kepala BADAN PERTANAHAN

NASIONAL.

Pada Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 mengatakan jika

pemilik hak atas tanah tidak setuju melepaskan haknya maka PPT

melaporkan kepada Bupati/ Walikota/ Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta,

dimana bisa mengukuhkan keputusan PPT dan mengubah keputusan PPT.

Jika tetap tidak disetujui maka akan dilakukan pencabutan. Surat

pencabutan diberikan kepada Kepala BADAN PERTANAHAN

NASIONAL dengan tembusan instansi yang membutuhkan serta

MENHANKAM dan kepada Presiden. Tetapi jika tetap tidak setuju maka

64

dari peraturan sebelumnya jika tidak setuju akan pencabutan maka bisa

banding kepengadilan tinggi.

Pada Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun

2007 jika pemilik hak tidak setuju maka PPT mengajukan kepada

Bupati/Walikota/Gubernur khusus wilayah DKI Jakarta untuk

mengukuhkan keputusan PPT dan mengubah keputusan PPT kemudian jika

ditolak maka akan dilakukan pencabutan.

Mekanisme ganti rugi ditetapkan berdasarkan asas kepastian hukum

dimana dalam asas ini mengatakan tiap pihak harus mengerti mengenai

kewajiban dan haknya. Serta membahas mengenai kapan pemberian ganti

rugi dan tanahnya dilepaskan. Dan berdasarkan asas kesepakatan dimana

dalam asas tersebut harus berdasarkan kesepakatan antara dua pihak

tersebut.

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa peraturan yang paling lengkap

adalah Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional 3 Tahun 2007. Peraturan ini

mencakup mengenai :

- Bentuk ganti rugi yang diberikan

65

- Dasar perhitungan ganti rugi

Tetapi peraturan ini belum sempurna, karena mekanisme peemberian ganti

rugi kurang menguntungkan masyarakat. Mekanisme pemberian ganti rugi lebih

Dalam dokumen T1 312004029 BAB III (Halaman 32-38)

Dokumen terkait