MEKANISME PEMBERIAN GANTI RUGI BERDASARKAN PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR3 TAHUN 2007
5. Karakteristik Dasar Perhitungan Ganti Rugi
4. Karakteristik Penerima Ganti Rugi
Berdasarkan Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975
hingga Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2007
siapa yang berhak menerima ganti rugi atau ganti kerugian mengalami
perubahan menjadi lebih luas. Pada awalnya hanya yang mempunyai hak
atas tanah (Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975) kemudian menjadi
pemegang hak atas tanah atau ahli waris yang sah dan nadzir bagi tanah
wakaf (Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993), pada Peraturan
Presiden Nomer 36 Tahun 2005 tidak ada perubahan yang begitu terlihat.
Begitu juga pada Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006. Tetapi pada
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2007
penerima ganti rugi menjadi lebih luas. Ada penambahan dalam hak pakai
atau hak guna bangunan, diatas tanah hak milik atau diatas tanah hak
pengelolaan yang berhak adalah pemegang hak milik atau hak pengelolaan.
5. Karakteristik Dasar Perhitungan Ganti Rugi
Mengalami perubahan menjadi lebih luas. Pada semula menurut
60
dasar perhitungan ganti rugi hanya dilihat dari lokasi dan faktor strategis
tanah. kemudian pada Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 melihat
berdasarkan NJOPBB tanah yang terakhir. Pada Peraturan Presiden Nomer
36 Tahun 2005 dasar perhitungan berdasarkan NJOP Tahun berjalan. Begitu
juga pada Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006. Tetapi pada Peraturan
Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2007bukan hanya
berdasarkan NJOP saja, tetapi juga melihat dari lokasi letak tanah, status
tanah, kesesuaian pengunaan tanah dengan rencana tata ruang wilayah,
sarana dan prasarana yang tersedia dan yang mempengaruhi harga tanah.
Dasar perhitungan ganti rugi ini harus sesuai dengan asas
musyawarah dimana asas ini mengatakan bahwa dalam pengadaan tanah apa
saja dan bagaimana penyelesaian yang akan dilakukan. dalam hal ini ada
unsur yang paling mendasar yaitu satu pendapat antara pihak yang saling
membutuhkan. Musyawarah dilakukan berdasarkan perundingan. Asas yang
berikutnya adalah asas kesetaraan, dimana dalam asas ini kedua belah pihak
61
6. Karakteristik Mekanisme Pengadaan Tanah
Mekanisme pada pengadaan tanah mengalami perubahan. Perubahan
yang dimaksud ada pada aturan mengenai pengadaan tanah apabila pemilik
hak atas tanah setuju untuk melepaskan haknya. Bila pemilik hak atas tanah
setuju, mekanisme ganti rugi menjadi lebih panjang. Karena pada awalnya
menurut Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975 apabila
pemilik hak atas tanah setuju akan ganti rugi yang diberikan oleh PPT maka
instansi yang bersangkutan langsung membayar kepada pemilik hak atas
tanah dan kemudian memohon hak kepada pejabat yang berwenang.
Kemudian pada Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 jika
pemilik hak tanah setuju dengan ganti rugi yang diberikan maka PPT
mengeluarkan SK tentang bentuk dan besar ganti kerugian. Pada Peraturan
Presiden Nomer 36 Tahun 2005 dan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun
2006 tidak ada perubahan.
Pada Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun
2007 terdapat perubahan yaitu penambahan aturan dalam mekanisme
pemberian ganti rugi apabila pemilik tanah setuju untuk melepaskan
haknya. Perubahan tersebut adalah penambahan mekanisme instansi yang
62
membuat surat pernyataan pelepasan hak dan selanjutnya PPT membuat
berita acara pelepasan hak dan membayarkan ganti rugi.
Apabila pemilik hak atas tanah tidak setuju dengan ganti rugi, aturan
mengenai mekanisme pemberian ganti rugi pun mengalami perubahan. Pada
awalnya menurut Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 15 Tahun 1975
mengatakan bahwa mekanisme ganti rugi apabila pemilik hak atas tanah
tidak setuju maka PPT bisa tetap pada keputusan semula atau langsung
berhubungan dengan Gubernur setempat. Kemudian Gubernur
mengukuhkan keputusan panitia atau mencari jalan tengah dengan
mengubah keputusan PPT.
Kemudian pada Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 jika
pemilik tanah tidak setuju melepaskan haknya maka PPT langsung
menghubungi Gubernur, kemudian Gubernur bisa mengubah keputusan PPT
atau mengukuhkan. Tetapi jika masih ditolak maka akan dilakukan
pencabutan. Sebelum melakukan pencabutan maka memberikan surat
kepada MENDAGRI kemudian ditembuskan kepada instansi yang
membutuhkan tanah dan MENHANKAM serta Presiden.
Pada Peraturan Presiden Nomer 36 Tahun 2005 jika pemilik tanah
63
Bupati/Walikota atau Gubernur khusus wilayah DKI Jakarta. Kemudian
Bupati/Walikota atau Gubernur bisa mengukuhkan keputusan PPT atau
mengubah keputusan PPT. Tetapi jika ditolak maka akan dilakukan
pencabutan. Dalam hal ini surat pencabutan ditujukan kepada Kepala
BADAN PERTANAHAN NASIONAL dengan tembusan kepada Presiden
dan instansi yang membutuhkan tanah serta MENHANKAM.
Perkembangan dari peraturan sebelumnya adalah pencabutan di rujuk
kepada MENDAGRI menjadi Kepala BADAN PERTANAHAN
NASIONAL.
Pada Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 mengatakan jika
pemilik hak atas tanah tidak setuju melepaskan haknya maka PPT
melaporkan kepada Bupati/ Walikota/ Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta,
dimana bisa mengukuhkan keputusan PPT dan mengubah keputusan PPT.
Jika tetap tidak disetujui maka akan dilakukan pencabutan. Surat
pencabutan diberikan kepada Kepala BADAN PERTANAHAN
NASIONAL dengan tembusan instansi yang membutuhkan serta
MENHANKAM dan kepada Presiden. Tetapi jika tetap tidak setuju maka
64
dari peraturan sebelumnya jika tidak setuju akan pencabutan maka bisa
banding kepengadilan tinggi.
Pada Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun
2007 jika pemilik hak tidak setuju maka PPT mengajukan kepada
Bupati/Walikota/Gubernur khusus wilayah DKI Jakarta untuk
mengukuhkan keputusan PPT dan mengubah keputusan PPT kemudian jika
ditolak maka akan dilakukan pencabutan.
Mekanisme ganti rugi ditetapkan berdasarkan asas kepastian hukum
dimana dalam asas ini mengatakan tiap pihak harus mengerti mengenai
kewajiban dan haknya. Serta membahas mengenai kapan pemberian ganti
rugi dan tanahnya dilepaskan. Dan berdasarkan asas kesepakatan dimana
dalam asas tersebut harus berdasarkan kesepakatan antara dua pihak
tersebut.
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa peraturan yang paling lengkap
adalah Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional 3 Tahun 2007. Peraturan ini
mencakup mengenai :
- Bentuk ganti rugi yang diberikan
65
- Dasar perhitungan ganti rugi
Tetapi peraturan ini belum sempurna, karena mekanisme peemberian ganti
rugi kurang menguntungkan masyarakat. Mekanisme pemberian ganti rugi lebih