BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.2 Karakteristik Data
Sampel yang digunakan adalah sampel data mengenai hal yang mempengaruhi permintaan dan penawaran cabai merah selama tahun 2004-2013. Untuk analisis permintaan, data yang digunakan adalah permintaan cabai merah (2004-2013), harga konsumen cabai merah (2004-2013), jumlah penduduk (2004-2013) dan pendapatan per kapita (2004-2013). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7. Karakteristik Data untuk Analisis Permintaan Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004-2013
No Uraian Satuan 2004 2013
1. 2. 3. 4.
Permintaan Cabai Merah Harga Konsumen Cabai Merah Jumlah Penduduk
Pendapatan Per Kapita
Ton Rp/Kg Jiwa Rupiah 44.040 13.064 12.123.360 6.873.420 83.257 30.679,44 13.326.307 10.488.190
Untuk analisis penawaran, data yang digunakan adalah penawaran cabai merah (2004-2013), harga produsen cabai merah (2004-2013), harga pupuk (Urea, ZA, SP-36) dan luas panen cabai merah (2004-2013), Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 8. Karakteristik Data untuk Analisis Penawaran Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2003-2012
No Uraian Satuan 2004 2013 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Penawaran Cabai Merah Harga Produsen Cabai Merah Harga Pupuk Urea
Harga Pupuk ZA Harga Pupuk SP-36 Luas Panen Cabai Merah
Ton Rp/kg Rp/Kg Rp/Kg Rp/Kg Ha 126.711 11.626,74 1.150 950 1.400 15.258 161.939 26.161,32 1.800 1.400 2.000 17.166
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Variabel-variabel Yang Mempengaruhi Permintaan Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara
Permintaan suatu komoditi pertanian adalah banyaknya komoditi pertanian yang dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen pada berbagai kemungkinan harga dalam periode tertentu. Secara periode permintaan dari seorang individu atau masyarakat terhadap suatu barang ditentukan oleh antara lain harga barang yang dimaksud, tingkat pendapatan, jumlah penduduk, harga barang lain atau substitusi, dan lain-lain (Sarnowo dan Sunyoto, 2013).
Komoditas cabai merah merupakan salah satu komoditas yang dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan serta mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Cabai merah merupakan salah satu bahan baku yang dibutuhkan secara berkesinambungan baik oleh masyarakat maupun industri pangan. Cabai merah merupakan bahan bumbu yang dikonsumsi setiap saat dan tidak dapat disubstitusi, maka cabai merah akan terus dibutuhkan dengan volume yang semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perekonomian.
Untuk penelitian ini variabel terikat dalam menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara adalah permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara, dan variabel bebasnya adalah harga cabai merah tahun sekarang, jumlah penduduk tahun sekarang, dan pendapatan tahun sekarang. Dengan periode dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2013. Perkembangan jumlah cabai merah yang diminta, harga rata-rata cabai
merah tingkat konsumen, jumlah penduduk, dan pendapatan per kapita di Provinsi Sumatera Utara tahun 2004-2013 diuraikan pada Tabel 9. sebagai berikut.
Tabel 9. Jumlah Cabai Merah Yang Diminta, Harga Rata-Rata Cabai Merah Tingkat Konsumen, Jumlah Penduduk dan Pendapatan Per Kapita Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004-2013
Sumber : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara dan Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara dapat diketahui bahwa selama periode tahun 2004 hingga tahun 2013, permintaan cabai merah setiap tahunnya cenderung mengalami kenaikan. Permintaan tertinggi komoditi cabai merah terjadi pada tahun 2013 dengan total permintaan sebesar 83.256 ton. Sedangkan permintaan cabai terendah terjadi di tahun 2004 dengan total permintaan hanya 44.040 ton. Kenaikan permintaan cabai merah drastis terjadi pada tahun 2011 yaitu 78.932 ton bila dibandingkan permintaan cabai merah tahun 2010 sebesar 53.480 ton. Kenaikan ini disebabkan oleh beberapa variabel yang mempengaruhi permintaan cabai merah yaitu harga cabai merah, jumlah penduduk, dan pendapatan yang diuraikan pada Tabel 9.
Harga merupakan salah satu faktor utama yang sangat diperhatikan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian suatu barang. Harga cabai merah dalam
Tahun Jumlah Cabai Merah Yang Diminta (Ton) Harga Cabai Merah Tingkat Konsumen (Rp/Kg) Jumlah Penduduk (Jiwa) Pendapatan Per Kapita (Rp) 2004 44.040 13.064,00 12.123.360 6.873.420 2005 48.600 16.987,08 12.326.678 7.130.696 2006 49.800 12.772,00 12.643.494 7.383.039 2007 49.800 16.000,00 12.834.371 7.775.393 2008 52.320 18.564,00 13.042.317 8.344.283 2009 54.936 20.487,78 13.248.386 8.675.863 2010 53.480 22.556,25 12.982.204 9.138.734 2011 78.932 22.280,42 13.103.596 9.660.525 2012 78.932 20.372,18 13.215.401 10.174.791 2013 83.256 30.679,44 13.326.307 10.488.190
penelitian ini adalah harga cabai merah di Provinsi Sumatera Utara pada tingkat konsumen yang dinyatakan dalam satuan Rp/kg. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara yang diuraikan pada Tabel 9. menunjukkan bahwa harga cabai merah tingkat konsumen di Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun relatif berfluktuatif. Harga cabai merah tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan total harga sebesar Rp 30.679,44/Kg. Sedangkan harga cabai terendah terjadi di tahun 2006 dengan total harga hanya Rp 12.772/Kg. Kenaikan harga cabai merah drastis terjadi pada tahun 2013 sebesar Rp 30.679,44/Kg bila dibandingkan harga cabai merah tahun 2012 sebesar Rp 20.372,18/Kg. Kenaikan ini disebabkan karena pasokan cabai dari daerah sentra produksi menurun sehingga menyebabkan harga semakin melonjak naik.
Kenaikan permintaan cabai merah yang drastis terjadi pada tahun 2011 sebesar 78.932 ton bila dibandingkan permintaan cabai merah tahun 2010 sebesar 53.480 ton salah satunya disebabkan oleh penurunan harga cabai merah tingkat konsumen di Provinsi Sumatera Utara yang diuraikan pada Tabel 9. menunjukkan bahwa harga cabai merah mengalami penurunan pada tahun 2011 sebesar Rp 22.280,42/Kg bila dibandingkan harga cabai merah tahun 2010 yaitu Rp 22.556,25/Kg. Sesuai dengan hukum permintaan hubungan antara harga barang dan jumlah barang yang diminta adalah negatif. Bila harga naik maka permintaan turun dan sebaliknya bila harga turun permintaan akan naik dengan asumsi ceteris paribus. Dengan demikian perubahan harga terhadap permintaan mempunyai arah yang berkebalikan (Pracoyo dan Pracoyo, 2006).
Jumlah penduduk menggambarkan potensi banyaknya konsumen yang akan membeli suatu barang, sehingga ada kecenderungan apabila jumlah penduduk semakin banyak maka kebutuhan akan pangan semakin meningkat. Jumlah penduduk yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah penduduk yang menetap di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara yang diuraian pada Tabel 9. menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Utara cenderung mengalami peningkatan. Jumlah penduduk tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan jumlah penduduk sebanyak 13.326.307 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk terendah terjadi di tahun 2004 dengan jumlah penduduk 12.123.360 jiwa. Pada tahun 2010 terjadi penurunan jumlah penduduk yaitu 12.982.204 jiwa bila dibandingkan jumlah penduduk pada tahun 2009 sebanyak 13.248.386 jiwa. Penurunan ini disebabkan karena persentasi angka kematian lebih besar daripada angka kelahiran tahun 2010. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, persentasi angka kematian 25,7% perseribu penduduk dan angka kelahiran 20,9% perseribu penduduk. Selain itu, penyebab lainnya adalah adanya kesalahan dalam pencatatan seperti pada saat registrasi banyak penduduk yang tidak tercatat atau melaporkan kejadian demografi yang dialaminya seperti kematian, kelahiran maupun kepindahan.
Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pertambahan penduduk biasanya diikuti dengan perkembangan akan permintaan suatu komoditi karena dalam kondisi tersebut akan lebih banyak orang yang membutuhkan komoditi tersebut (Sugiarto, dkk., 2000). Kenaikan permintaan cabai merah yang drastis terjadi pada tahun 2011 yaitu 78.932 ton bila dibandingkan permintaan cabai merah tahun
2010 sebesar 53.480 ton salah satunya disebabkan oleh kenaikan jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Utara yang diuraikan pada Tabel 9. menunjukkan bahwa jumlah penduduk tahun 2011 mengalami peningkatan dengan jumlah penduduk sebanyak 13.103.596 jiwa bila dibandingkan jumlah penduduk tahun 2010 yaitu 12.982.204 jiwa.
Pendapatan merupakan faktor yang penting dalam menentukan variasi permintaan terhadap berbagai jenis barang, karena besar kecilnya pendapatan dapat menggambarkan daya beli konsumen. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara yang diuraikan pada Tabel 9. menunjukkan bahwa pendapatan per kapita di Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pendapatan tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan total pendapatan sebesar Rp 10.488.190. Sedangkan pendapatan terendah terjadi di tahun 2004 dengan total pendapatan sebesar Rp 6.873.420.
Kenaikan permintaan cabai merah drastis terjadi pada tahun 2011 sebesar 78.932 ton bila dibandingkan permintaan cabai merah tahun 2010 sebesar 53.480 ton. Hal ini disebabkan karena adanya kenaikan pendapatan yang diuraikan pada Tabel 9. menunjukkan bahwa pendapatan pada tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar Rp 9.660.525 bila dibandingkan pendapatan tahun 2010 sebesar Rp 9.138.734. Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hubungan antara pendapatan dengan jumlah barang yang diminta adalah positif. Bila pendapatan seseorang/masyarakat meningkat maka akan meningkatkan permintaan terhadap suatu barang (Pracoyo, 2006).
Perkembangan permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara tahun 2004-2013 dapat dilihat pada grafik berikut.
Gambar 9. Grafik Perkembangan Permintaan Cabai Merah Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004-2013
Berdasarkan Gambar 9. menunjukkan bahwa permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara cenderung mengalami peningkatan. Permintaan tertinggi komoditi cabai merah terjadi pada tahun 2013 dengan total permintaan sebesar 83.256 ton. Sedangkan permintaan cabai terendah terjadi di tahun 2004 dengan total permintaan hanya 44.040 ton. Setelah mengalami penurunan permintaan cabai merah di tahun 2010, permintaan cabai merah mengalami kenaikan kembali secara drastis yang terjadi pada tahun 2011 yaitu 78.932 ton bila dibandingkan permintaan cabai merah tahun 2010 sebesar 53.480 ton. Hal itu disebabkan selain dari adanya penurunan harga cabai merah serta kenaikan variabel jumlah penduduk dan pendapatan yang diuraikan pada Tabel 9. karena adanya kenaikan jumlah usaha restauran/rumah makan berskala menengah dan besar di Provinsi Sumatera Utara tahun 2011 sebanyak 168 buah bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 167 buah. Sehingga diasumsikan adanya kenaikan jumlah usaha restaurant/rumah makan dapat meningkatkan permintaan terhadap komoditi cabai
0 20000 40000 60000 80000 100000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014
Permintaan Cabai Merah (Ton)
Permintaan Cabai Merah (Ton)
merah. Jumlah usaha restaurant/rumah makan di Provinsi Sumatera Utara merupakan terbanyak ketiga setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat (Parekraf, 2012).
Selain usaha restauran/rumah makan, konsumen cabai merah lainnya adalah industri pengolahan cabai merah itu sendiri. Konsumsi olahan cabai merah adalah untuk bahan baku industri saus, untuk bahan baku industri bubuk cabai, untuk cabai giling, dan lain sebagainya. Adapun industri pelumatan buah-buahan dan sayuran di Provinsi Sumatera Utara dalam skala sedang dan besar tahun 2011 adalah CN SAOS CAPTAIN (skala sedang) dan PT DUTA AYUMAS PERSADA (skala besar) yang terdapat di Kabupaten Deli Serdang.
Cabai yang dikonsumsi oleh masyarakat di Provinsi Sumatera Utara terdiri atas cabai besar, cabai hijau, dan cabai rawit. Diantara ketiga jenis cabai tersebut, cabai besar yang didalamnya termasuk cabai merah, merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Untuk jenis cabai merah, sebagian besar jenis cabai ini dikonsumsi oleh rumah tangga dengan pangsa penggunaannya yang mencapai 61% dari total konsumsi cabai (Ningsih, 2011). Jika dilihat dari permintaan cabai merah perkapita perhari saja sudah meningkat maka permintaan cabai merah pertahun di Provinsi Sumatera Utara pun meningkat. Kenaikan permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara drastis terjadi pada tahun 2011. Hal ini bisa terjadi karena permintaan cabai merah perkapita pun meningkat yaitu pada tahun 2011 sebesar 16,50 g/hari/kapita bila dibandingkan permintaan cabai merah tahun 2010 sebesar 11.29 g/hari/kapita. Sesuai dengan teori yang ada bahwa selera merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan suatu barang. Selera konsumen sifatnya sangat subjektif. Semakin tinggi
konsumen yang memanjakan selera atau ingin memenuhi setiap selera yang diinginkan maka akan meningkatkan permintaan suatu produk (Rasul, dkk., 2013).
Hasil analisis regresi variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara diuraikan pada Tabel 10. sebagai berikut.
Tabel 10. Analisis Regresi Variabel-variabel Yang Mempengaruhi Permintaan Cabai Merah Di Provinsi Sumatera Utara
Penduga Sig t Sig F Tolerance VIF
Konstanta
Harga Cabai Merah Tahun Sekarang
Jumlah Penduduk Tahun Sekarang
Pendapatan Per Kapita Tahun Sekarang
R2
Asymp. Sig (2-tailed)
0,879 0,516 0,341 0,684 0,226 0,014 0,004 0,234 0,229 0,125 4,278 4,360 8,027
Sumber : diolah dari hasil analisis regresi pada lampiran 14
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. maka dapat disimpulkan uji kesesuaian dan uji asumsi klasik sebagai berikut.
Uji Kesesuaian
1. Analisis koefesien determinasi (R-Square)
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. nilai R-Square (R2) sebesar 0,879 menunjukkan bahwa variabel bebas (harga cabai merah tahun sekarang, jumlah penduduk tahun sekarang, dan pendapatan tahun sekarang) mampu menjelaskan variabel terikat (permintaan cabai merah tahun sekarang) sebesar 87,9% sementara 12,1% lagi dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.
2. Secara serempak (uji statistik F)
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. nilai signifikan F sebesar 0,004 lebih kecil dibandingkan dengan α sebesar 0,05 (5%). Dengan demikian H0
ditolak, H1diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas secara serempak berpengaruh nyata terhadap permintaan cabai merah di daerah penelitian.
3. Uji parsial (uji t)
• Harga Cabai Merah Tahun Sekarang
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. nilai signifikan t harga cabai merah tahun sekarang sebesar 0,684 lebih besar dibandingkan dengan α sebesar 0,05 (5%). Dengan demikian H0 diterima, H1 ditolak. Ini menunjukkan bahwa harga cabai merah tahun sekarang tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan cabai merah tahun sekarang. Hal ini disebabkan selama rentang waktu 10 tahun ada beberapa tahun yang menunjukkan ketika harga cabai merah naik, jumlah cabai merah yang diminta naik. Itu terlihat pada tahun 2013 jumlah cabai merah yang diminta naik sebesar 83.256 ton bila dibandingkan tahun 2012 sebesar 78.932 ton. Sedangkan harga cabai merah tahun 2013 naik sebesar Rp30.679,44/Kg bila dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp 20.372,18/Kg. Sesuai dengan teori yang menyatakan apabila harga cabai merah naik maka jumlah cabai merah yang diminta turun. Namun sebaliknya hasil menunjukkan ketika harga cabai merah naik, jumlah cabai merah yang diminta naik. Oleh karena itu, harga cabai merah tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah cabai merah yang diminta.
• Jumlah Penduduk Tahun Sekarang
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. nilai signifikan t jumlah penduduk tahun sekarang sebesar 0,226 yaitu lebih besar dibandingkan dengan α
sebesar 0,05 (5%). Dengan demikian H0 diterima, H1 ditolak. Ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk tahun sekarang tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan cabai merah tahun sekarang. Hal ini disebabkan karena tidak ada kenaikan yang signifikan pada jumlah penduduk selama rentang waktu 10 tahun. Sehingga jumlah penduduk tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah cabai merah yang diminta.
• Pendapatan Per Kapita Tahun Sekarang
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. nilai signifikan t pendapatan per kapita tahun sekarang sebesar 0,014 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan α
sebesar 0,05 (5%). Dengan demikian H0 ditolak, H1 diterima. Ini menunjukkan bahwa pendapatan tahun sekarang berpengaruh nyata terhadap permintaan cabai merah tahun sekarang.
Uji Asumsi Klasik 1. Uji Multikolinearitas
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. menunjukkan bahwa masing-masing variabel bebas memiliki nilai toleransinya (tolerance) lebih besar dari 0,10 dan VIF lebih kecil dari 10. Hal ini menunjukkan tidak terjadi multikoloniearitas. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara terbebas dari masalah multikoloniearitas.
2. Uji Normalitas
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. menunjukkan bahwa nilai Asymp.Sig. (2-tailed) adalah 0,516 lebih besar dari nilai signifikan (0,05). Dengan kata lain variabel residual berdistribusi normal.
Berdasarkan kedua uji asumsi klasik tersebut dapat disimpulkan bahwa model regresi analisis variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara layak digunakan untuk mengambil suatu keputusan.
5.2 Variabel-variabel Yang Mempengaruhi Penawaran Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara
Dalam ilmu ekonomi, penawaran adalah jumlah barang dan atau jasa yang ingin dan dapat ditawarkan produsen di pasar pada berbagai tingkat harga. Penawaran mencerminkan hubungan langsung antara harga dan kuantitas output. Apabila keadaan lainnya tetap (ceteris paribus), maka jika harga suatu barang naik, jumlah barang yang ditawarkan akan bertambah karena produsen berusaha menggunakan kesempatan untuk memperbesar keuntungannya. Sebaliknya, jika harga barang itu turun, jumlah barang yang ditawarkan akan berkurang karena produsen berusaha mengurangi kerugiannya (Antriayndarti, 2012). Sesuai dengan hukum penawaran yang menyatakan makin tinggi harga suatu barang, makin banyak jumlah barang yang ditawarkan oleh pedagang. Sebaliknya, makin rendah harga barang, makin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan oleh pedagang/produsen, dengan anggapan faktor-faktor lain tidak berubah (Daniel, 2002).
Untuk penelitian ini variabel terikat dalam menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi penawaran cabai merah di Provinsi Sumatera Utara adalah penawaran cabai merah di Provinsi Sumatera Utara tahun sekarang, dan variabel bebasnya adalah harga cabai merah tahun sebelum, harga pupuk (Urea, ZA, SP-36) bersubsidi tahun sebelum dan luas panen cabai merah tahun sebelum. Dengan periode dari tahun 2004 sampai dengan 2013. Pada Tabel 10. berikut
menunjukkan perkembangan penawaran cabai merah, harga cabai merah dan luas panen cabai merah di Provinsi Sumatera Utara tahun 2004-2013.
Tabel 11. Jumlah Cabai Merah Yang Ditawarkan, Harga Rata-Rata Cabai Merah Tingkat Produsen, Harga Rata-Rata Pupuk (Urea, ZA, SP-36) Bersubsidi, dan Luas Panen Cabai Merah Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004-2013
Tahun Jumlah Cabai Merah Yang Ditawarkan (Ton) Harga Rata-Rata Cabai Merah Tingkat Produsen (Rp/Kg) Harga Rata-Rata Pupuk Urea Bersubsidi (Rp/Kg) Harga Rata-Rata Pupuk Za Bersubsidi (Rp/Kg) Harga Rata-Rata Pupuk SP-36 Bersubsidi (Rp/Kg) Luas Panen Cabai Merah (Ha) 2004 126.711 11.626,74 1.150 950 1.400 15.258 2005 106.984 13.879,92 1.150 950 1.400 12.380 2006 107.673 11.011,52 1.200 1.050 1.550 13.126 2007 112.843 14.842,63 1.200 1.050 1.550 13.229 2008 116.976 17.804,79 1.600 1.050 1.550 13.384 2009 124.422 17.249,75 1.600 1.400 1.550 14.588 2010 154.694 20.093,89 1.600 1.400 1.550 16.768 2011 197.810 18.711,38 1.600 1.400 1.550 18.345 2012 197.409 19.365,18 1.800 1.400 2000 17.651 2013 161.939 26.161,32 1.800 1.400 2000 17.166
Sumber : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara dan Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara dapat diketahui bahwa selama periode tahun 2004 hingga tahun 2013, penawaran cabai merah dari tahun ke tahun relatif berfluktuatif. Penawaran tertinggi komoditi cabai merah terjadi pada tahun 2011 dengan total penawaran sebesar 197.810 ton. Sedangkan penawaran cabai terendah terjadi di tahun 2005 dengan total penawaran sebesar 106.984 ton. Kenaikan penawaran cabai merah drastis terjadi pada tahun 2011 yaitu 197.810 ton bila dibandingkan penawaran cabai merah tahun 2010 sebesar 154.694 ton. Kenaikan ini disebabkan oleh beberapa variabel yang mempengaruhi penawaran cabai merah yaitu harga cabai merah tingkat
produsen, harga pupuk (Urea, ZA, SP-36) bersubsidi dan luas panen cabai merah yang diuraikan pada Tabel 11.
Jika harga suatu barang naik, maka produsen cenderung akan menambah jumlah barang yang dihasilkan. Hal ini membawa kita ke hukum penawaran, yang menjelaskan sifat hubungan antara harga suatu barang dengan jumlah barang tersebut yang ditawarkan penjual bahwa perubahan harga terhadap penawaran mempunyai arah yang sama (Rahardja dan Manurung, 2004). Harga cabai merah dalam penelitian ini adalah harga cabai merah di Provinsi Sumatera Utara pada tingkat produsen yang dinyatakan dalam satuan Rp/kg. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara yang diraikan pada Tabel 11. menunjukkan bahwa harga cabai merah tingkat produsen di Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun relatif berfluktuatif. Harga cabai merah tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan total harga sebesar Rp 26.161,32/Kg. Sedangkan harga cabai terendah terjadi di tahun 2006 dengan total harga hanya Rp 11.011,52/Kg. Kenaikan harga cabai merah drastis terjadi pada tahun 2013 sebesar Rp 26.161,32/Kg bila dibandingkan harga cabai merah tahun 2012 sebesar Rp 19.365,18/Kg. Kenaikan ini disebabkan karena pasokan cabai dari daerah sentra produksi menurun sedangkan permintaan cabai merah naik sehingga menyebabkan harga cabai merah tingkat produsen semakin melonjak naik.
Kenaikan penawaran cabai merah yang drastis terjadi pada tahun 2011 sebesar 197.810 ton bila dibandingkan penawaran cabai merah tahun 2010 sebesar 154.694 ton salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga cabai merah tingkat produsen di Provinsi Sumatera Utara yang diuraikan pada Tabel 11. menunjukkan
bahwa harga cabai merah mengalami kenaikan pada tahun 2010 sebesar Rp 20.093,89/Kg bila dibandingkan harga cabai merah tahun 2009 yaitu Rp 17.249,75/Kg. Sesuai dengan teori yang diuraikan sebelumnya menyatakan jika harga suatu barang naik, maka produsen cenderung akan menambah jumlah barang yang dihasilkan.
Input adalah semua barang dan jasa yang dipakai perusahaan untuk menghasilkan output. Input tersebut ialah bahan-bahan, tenaga kerja, mesin-mesin, dan lain sebagainya (Bangun, 2007). Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara yang diuraikan pada Tabel 11. menunjukkan bahwa harga pupuk (Urea, ZA, SP-36) bersubsidi di Provinsi Sumatera Utara relatif meningkat. Harga pupuk urea, pupuk ZA, dan pupuk SP-36 bersubsidi tertinggi terjadi pada tahun 2013 sebesar Rp 1800/Kg, Rp 1.400/Kg, dan Rp 2.000/Kg. Sedangkan harga pupuk urea, pupuk ZA, dan pupuk SP-36 terendah terjadi di tahun 2004 dengan harga sebesar Rp 1.150/Kg, Rp 950/Kg, dan Rp 1.400/Kg. Harga pupuk yang cenderung meningkat disebabkan karena adanya peraturan Menteri Pertanian. Alasan Menteri Pertanian menaikkan harga pupuk bersubsidi karena untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan menghemat devisa negara dalam pengadaan bahan baku fosfor dan kalium yang diimpor. Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 10. harga pupuk (Urea, ZA, SP-36) bersubsidi pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 relatif stabil. Hal ini merupakan salah satu yang menyebabkan jumlah cabai merah yang ditawarkan meningkat yaitu pada tahun 2011 sebesar 197.810 ton bila dibandingkan jumlah cabai merah yang ditawarkan tahun 2010 sebesar 154.694 ton.
Luas panen merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat penawaran atau tingkat produksi suatu barang. Apabila luas suatu areal panen tidak dapat memenuhi produksi suatu barang, maka barang yang diproduksi pun tidak dapat memenuhi jumlah permintaan yang diminta oleh masyarakat. Maka luas panen merupakan salah satu faktor utama dalam memenuhi produksi suatu barang yang ditawarkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara yang diuraikan pada Tabel 11. menunjukkan bahwa luas panen cabai merah di Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun relatif berfluktuatif. Luas Panen cabai merah tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 18.345 Ha. Sedangkan luas panen cabai terendah terjadi di tahun 2005 dengan luas panen hanya 12.380 Ha.