HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Demografi Responden
Usia responden yang mengikuti edukasi kesehatan dengan metode CBIA
yaitu 15 sampai 18 tahun. Semua responden dalam penelitian ini berjenis kelamin
laki-laki. Jumlah responden yang mengkuti edukasi CBIA sebanyak 35 responden
(gambar 2). Diketahui bahwa responden terbanyak ada pada kelompok usia 15 dan 16
tahun masing-masing kelompok usia berjumlah 15 orang (42.80%) dengan tingkat
pendidikan responden kelas 1 dan kelas 2 SMA, pada kelompok usia 17 tahun
responden yang mengikuti edukasi sebanyak 2 orang (5,71%), dan kelompok usia 18
tahun sebanyak 3 orang (8,57%) dengan tingkat pendidikan kelas 3 SMA.
42.80% 42.80% 5.71% 8.57% Usia 15 tahun Usia 16 tahun Usia 17 tahun Usia 18 tahun
Gambar 2. Jumlah Responden Berdasarkan Kelompok Usia yang Mengikuti CBIA
B. Pengaruh Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Sebelum dilakukan Intervansi Dengan Metode CBIA.
Agar dapat melihat ada tidaknya perbedaan antara tingkat pengetahuan,
sikap dan tindakan sebelum edukasi kesehatan dengan metode CBIA maka nilai
pretest pada kategori pengetahuan, sikap, dan tindakan dikelompokan menjadi 3 yaitu baik, sedang dan buruk. Hasil penelitian pre-CBIA dapat dicermati pada gambar 3.
51.50% (n=18) 25.70% (n=9) 20.00% (n=7) 45.70% (n=16) 74.30% (n=26) 17.20% (n=6) 2.80% (n=1) 0% (n=0) 62.80% (n=22) 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00%
Pengetahuan Sikap Tindakan
Ju m la h R e s p o n d e n
Baik Sedang Buruk
Gambar 3. Distribusi Jumlah Responden Dengan Kategori Baik, Sedang, Buruk Pada Pre-CBIA
Pada pre-CBIA pengetahuan banyaknya jumlah responden yang masuk
kedalam kategori baik sebelum dilakukan intervensi berupa CBIA kemungkinan
dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu responden mendapatkan informasi
mengenai Diabetes Melitus melalui internet, media cetak, media massa, media
elektronik. Hal ini dapat menjadi variabel pengacau tak terkendali.
Pada pre-CBIA aspek sikap rendahnya jumlah responden yang masuk
42
kepribadian individu dan rendahnya informasi yang diterima individu mengenai
pencengah Diabetes Melitus (Achmadi 2013). Peningkatan sikap responden dapat
dilakukan dengan cara memberikan edukasi kesehatan yang dapat meningkatkan
pengetahuan seseorang yang akan berdampak pada sikap dan nantinya akan
mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu. Pemberian edukasi kesehatan
dapat dilakukan dengan metode CBIA (Kristina, 2010).
Pada aspek tindakan dibagi menjadi 4 kategori yaitu pemeriksaan, gaya
hidup, pengobatan dan perawatan kaki. Pada aspek pengobatan dan perawatan kaki
tidak dapat diukur karena seluruh responden tidak mengalami penyakit Diabetes
Melitus.
Hasil pre-CBIA tindakan menunjukan rendahnya jumlah responden yang
masuk ke dalam kategori baik sebelum diberi intervensi menunjukkan rendahnya
tindakan responden terhadap pencegahan suatu penyakit. Buruknya tingkat tindakan
responden dalam mencegah Diabetes Melitus dapat disebabkan rendahnya kesadaran
responden terhadap pencegahan penyakit. Maka dari itu untuk meningkatkan tingkat
tindakan responden dapat dilakukan dengan cara memberi edukasi kesehatan
mengenai cara pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit dan cara
mencapai hidup sehat (Achmadi 2013).
C.Pengaruh Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Setelah Dilakukan Edukasi Dengan Metode CBIA.
Pada sub bab ini fokus pembahasan terdapat pada kategori baik hal ini
dan tindakan responden pada kategori baik.
Hasil post 1-CBIA menunjukkan jumlah responden dengan kategori baik 18
orang (51.5%), sedang 17 orang (48,5%), dan tidak satupun responden masuk
kedalam kategori buruk. Hasil perbandingan pre-CBIA dengan post 1-CBIA
menunjukkan tidak ada peningkatan jumlah responden dengan kategori pengetahuan
baik yaitu 51,5% (gambar 4). Pada kategori sedang mengalami peningkatan jumlah
responden dari 45,7% menjadi 48,5% sedangkan pada kategori buruk dari 2,8%
menjadi 0%. Dapat dikatakan terjadi penurunan jumlah responden dengan kategori
buruk, peningkatan terjadi pada kategori sedang dimana peningkatan tersebut tidak
signifikan dan dapat dikatakan pengetahuan responden sudah cukup baik setelah
diberi edukasi dengan metode CBIA. Pernyataan ini dapat didukung dengan uji
statistika yang diperoleh yaitu dengan nilai (p= 0,18).
Peningkatan yang tidak signifikan pada aspek pengetahuan post 1-CBIA
dapat disebabkan oleh kurangnya fasilitas waktu yang diberkan oleh pihak SMK.
Pihak SMK hanya memberikan waktu selama 2 jam untuk melaksanaan metode
CBIA. Dimana 2 jam sudah termasuk pengkondisian siswa selama 10 menit,
pengisian kusioner pre selama 10 menit, dinamika kelompok 60 menit, diskusi
dengan narasumber 30 menit dan pengisian kuesioner post 10 menit. Kurangnya
waktu dinamika dapat sebagai penyababnya peningkatan pengetahuan yang tidak
signifikan karena pada dasarnya waktu dinamika kelompok dalam pelaksanaan CBIA
44
Dapat dikatakan waktu pelaksanaan CBIA pada penelitian ini belum sesuai
dengan waktu pelaksanaan CBIA yang dilakukan oleh Suryawati. Selain itu
banyaknya pertanyaan responden yang belum terjawab oleh narasumber karena
kurangnya waktu yang diberikan saat diskusi. Belum terjawabnya pertanyaan
responden ini dapat menyebabkan pengetahuan yang diterima oleh responden tidak
maksimal.
Pada post 2-CBIA pengetahuan menunjukkan sebanyak 21 orang (60%)
terdapat pada kategori baik, 15 orang (42,8%) sedang dan tidak satupun yang masuk
kedalam kategori buruk. Pre-CBIA dan post 2-CBIA dibandingkan untuk
menunjukkan apakah terdapat peningkatan setelah 1 bulan edukasi. Hasil
perbandingan menunjukkan pada kategori baik mengalami peningkatan jumlah
responden dari 51,5% menjadi 60% (gambar 4), kategori sedang mengalami
penurunan jumlah responden sedang dari 45,7% menjadi 42,8%, sedangkan pada
kategori buruk tidak mengalami peningkatan jumlah responden yaitu 0%.
Peningkatan pengetahuan pada post 2-CBIA kategori baik peningkatan tersebut tidak
signifikan dapat didukung dengan uji statistika yang diperoleh yaitu (p=0,06).
Peningkatan yang terjadi dapat disebabkan responden masih mengingat
edukasi yang diberikan saat CBIA, selain itu peningkatan pengetahuan kemungkinan
dapat disebabkan oleh variabel pengacau tak terkendali. Pada dasarnya metode CBIA
terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan seseorang sesuai yang dikatakan
Post 3-CBIA pengetahuan menunjukkan jumlah responden dengan kategori baik sebanyak 18 orang (51,5%), sedang 14 orang (40%) dan buruk 3 orang (8,5%).
Perbandingan pre-CBIA dengan post 3-CBIA menunjukkan tidak ada peningkatan
jumlah responden pada kategori pengetahuan baik yaitu 18 orang (51.5%) (gambar
4). Pada kategori sedang mengalami penurunan jumlah responden dari 45,7%
menjadi 40%, dan buruk mengalami jumlah peningkatan dari 0% responden menjadi
8,5%. Dari hasil perbandingan maka tidak terjadi peningkatan jumlah responden pada
aspek pengetahuan baik. Dapat didukung pada hasil statistika yang diperoleh yaitu
p>0,05 (p=0,91). Tidak terjadinya peningkatan jumlah responden pada post 3-CBIA
menandakan perlu adanya pengulangan edukasi serta pengembangan kegiatan
edukasi untuk mempertahankan serta meningkatkan pengetahuan responden (Hartayu
et al., 2012).
Hasil kategori sikap post 1-CBIA terdapat 32 orang (91,4%) yang terdapat
pada kategori baik, 3 orang (8,6%) sedang dan tidak terdapat satupun responden yang
masuk kedalam kategori buruk. Maka perbandingan pre-CBIA dengan post 1-CBIA
kategori baik terdapat peningkatan jumlah responden dari 25,7% menjadi 91,4%
(gambar 4), pada kategori sedang terdapat penurunan jumlah responden yaitu dari
74,3% menjadi 8,6% dan pada kategori buruk tidak terjadi perubahan jumlah
responden (0%). Maka dapat dikatakan pada post 1-CBIA terjadi peningkatan sikap
yang signifikan didukung dengan hasil uji statistik yang diperoleh yaitu (p=0,00).
Sesuai yang dikatakan Achmadi (2013) pembentukan sikap dapat dipengaruhi
46
selama ini diterima individu. Peningkatan sikap dalam penilitian ini dapat terjadi
karena adanya informasi yang diterima oleh responden melaui edukasi kesehatan
dengan metode CBIA.
Post 2-CBIA sikap menunjukkan jumlah responden pada kategori baik sebanyak 19 orang (54,3%), sedang 16 responden (45,7%) dan tidak satupun
responden yang masuk kedalam kategori buruk. Perbandingan antara pre-CBIA
dengan post 2-CBIA menunjukkan terjadi peningkatan jumlah responden pada
kategori baik yaitu dari 25,7% menjadi 54,3% (gambar 4). Pada kategori sedang
mengalami penurunan jumlah responden dari 74,3% menjadi 45,7%. Namun pada
kategori buruk tidak terjadi perubahan jumlah responden (0%). Dapat dikatakan pada
post 2-CBIA terjadi peningkatan sikap yang signifikan sesuai dengan uji statistik yang didapat yaitu (p=0,00).
Menurut Rinto, Sunarto dan Fidianingsih (2008) dalam penelitiannya
mengatakan bahwa peningkatan sikap seseorang dapat terbentuk oleh suatu informasi
yang dianggapnya benar berdasarkan kepercayaanya. Dapat dikatakan informasi yang
diterima responden dengan metode CBIA berupa informasi positif dapat
meningkatkan kepercayaan responden yang berdampak terhadap sikap responden
mengenai Diabetes Melitus.
Hasil post 3-CBIA sikap responden yang berada dalam kategori baik
sejumlah 20 orang (71,2%), sedang 15 orang (42,8%) dan tidak ada satupun
responden yang berada dalam kategori buruk. Pada hasil perbandingan pre-CBIA
dari 25,7% menjadi 71,2% (gambar 4), dan pada kategori sedang terjadi penurunan
jumlah responden dari 74,3% menjadi 42,8% dan pada kategori buruk tidak terjadi
perubahan jumlah responden (0%). Sama halnya dengan post 1-CBIA dan post
2-CBIA. Peningkatan sikap post 3-CBIA dipengaruhi oleh informasi yang diterima
individu selama intervensi saat CBIA yang distimulir oleh pola pikir individu.
Terjadinya peningkatan sikap post 1-CBIA, post 2-CBIA dan post 3-CBIA
membuktikan bahwa CBIA terbukti efektif dalam meningkatkan sikap.
Hasil post 2-CBIA tindakan menunjukkan 9 orang (25.7%) terdapat dalam
kategori baik, 6 orang (17,2%) yang terdapat dalam kategori sedang dan 22 orang
(68,2%) berada dalam kategori buruk. Jika dibandingkan antra pre-CBIA dengan post
2-CBIA maka terjadi peningkatan jumlah responden pada kategori baik dari 20%
menjadi 25,7% (gambar 4), pada kategori sedang tidak terjadi peningkatan jumlah
responden yaitu 17,20%, sedangkan pada kategori buruk terjadi penurunan jumlah
responden dari 68,2% menjadi 57,1%. Dapat dikatakan setelah intervensi berupa
CBIA terjadinya peningkatan tindakan yang masuk kedalam kategori baik.
Terjadinya peningkatan tindakan dipengaruhi oleh faktor pre disposisi yang
menyangkut pengetahuan, sikap setelah CBIA (Notoatmojo 2012). Selain itu
peningkatan tindakan terjadi karena adanya faktor motivasi setelah dilakukannya
CBIA (Hartayu et al., 2012).
Pada post 3-CBIA tindakan menunjukkan jumlah responden yang berada
dalam kategori baik sebanyak 10 orang (28,6%), sedang 5 orang (14,3%), buruk 20
48
jumlah responden pada kategori baik mengalami peningkatan dari 20% menjadi
28,6% (gambar 4), pada kategori sedang mengalami penurunan dari 17,2 % menjadi
14,3 % dan pada kategori buruk mengalami penurunan jumlah responden dari 68,2 %
menjadi 57,1 % Maka hasil perbandinga pre-CBIA dengan post 3-CBIA terjadi
peningkatan tindakan. Dapat dikatakan metode CBIA terbukti efektif dan mampu
memberi motivasi dalam mengubah gaya hidup yang berdampak pada peningkatan
tindakan. 51.50% (n=18) 25.70% (n=9) 20.00% (n=7) 91.40% (n=32) 60% (n=21) 54.30% (n=19) 25.70% (n=9) 51.50% (n=18) 71.20% (n=20) 28.60% (n=10) 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%
Pengetahuan Sikap Tindakan
Ju m la h R e