• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI RESPONDEN

Dalam penelitian ini usia responden termuda adalah 15 tahun, dan usia responden tertua adalah 54 tahun. Pembagian kategori usia dilakukan secara rasional dengan memberi rentang sepuluh tahun, sehingga didapatkan empat kategori usia. Persentase terbesar usia responden dalam penelitian ini adalah pada rentang usia 35 – 44 tahun yaitu 32.32%. Hal ini berkaitan dengan jumlah penderita kista endometrium terbanyak, dimana menurut data dari Dinas Kesehatan pada tahun 2010 mengenai penderita kista endometrium yang dirawat inap di rumah sakit, pasien terbanyak adalah pasien dengan rentang usia 25-44 tahun. Sedangkan persentase terkecil usia responden dalam penelitian ini adalah pada rentang usia 45 – 54 tahun (16,16 %) dari total responden sebanyak 99. Hal ini dikarenakan kebanyakan wanita yang berusia diatas 45 tahun telah mengalami

menopause, sehingga banyak yang tidak masuk dalam kriteria inklusi. Data mengenai frekuensi usia wanita produktif dirangkum pada tabel VI.

Tabel VI. Distribusi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Usia

Usia Responden (Tahun) Frekuensi Persentase (%)

15 – 24 24 24,24 25 – 34 27 27,27 35 – 44 32 32,32 45 – 54 16 16,16 Jumlah 99 100 2. Status pernikahan

Dalam penelitian ini, responden yang berstatus sudah menikah berjumlah 75 dari 99 responden (76%), dan sisanya yaitu 24 orang (24%) berstatus belum menikah. Hal ini dikarenakan pengambilan data pada pertemuan hanya dilakukan pada pertemuan ibu-ibu PKK sehingga responden yang didapat kebanyakan adalah responden yang sudah menikah. Sudah sangat jarang terdapat pertemuan pemudi di padukuhan-padukuhan sehingga jumlah responden yang berstatus belum menikah lebih sedikit. Adapun pengambilan data responden yang belum menikah didapatkan secara door to door, namun cara ini juga tidak banyak membantu, karena kebanyakan wanita yang belum menikah sangat jarang ada dirumah dikarenakan kesibukan lain seperti sekolah ataupun bekerja. Data mengenai status responden dirangkum pada Gambar I.

Gambar I. Distribusi Jumlah Responden (%) Berdasarkan Status Pernikahan

3. Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan responden memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan sikap responden mengenai kista-endometrium. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan, diharapkan daya tangkap responden menjadi lebih mudah sehingga wawasannya lebih luas. Tingkat pendidikan pada penelitian ini dikelompokkan dalam 4 kategori yaitu lulusan SD / sederajat, lulusan SMP / sederajat, lulusan SMA / sederajat dan lulusan perguruan tinggi.

Responden terbanyak dalam penelitian ini adalah responden yang memiliki pendidikan terakhir SMA / sederajat yaitu 48%, diikuti dengan responden yang berpendidikan terakhir SMP / sederajat sebanyak 24 %, lalu responden yang berpendidikan terakhir perguruan tinggi sebanyak 19 % responden yang paling sedikit adalah responden yang berpendidikan terakhir SD /

Gambar I. Distribusi Jumlah Responden (%) Berdasarkan Status Pernikahan

3. Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan responden memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan sikap responden mengenai kista-endometrium. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan, diharapkan daya tangkap responden menjadi lebih mudah sehingga wawasannya lebih luas. Tingkat pendidikan pada penelitian ini dikelompokkan dalam 4 kategori yaitu lulusan SD / sederajat, lulusan SMP / sederajat, lulusan SMA / sederajat dan lulusan perguruan tinggi.

Responden terbanyak dalam penelitian ini adalah responden yang memiliki pendidikan terakhir SMA / sederajat yaitu 48%, diikuti dengan responden yang berpendidikan terakhir SMP / sederajat sebanyak 24 %, lalu responden yang berpendidikan terakhir perguruan tinggi sebanyak 19 % responden yang paling sedikit adalah responden yang berpendidikan terakhir SD /

76% 24%

menikah belum menikah

Gambar I. Distribusi Jumlah Responden (%) Berdasarkan Status Pernikahan

3. Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan responden memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan sikap responden mengenai kista-endometrium. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan, diharapkan daya tangkap responden menjadi lebih mudah sehingga wawasannya lebih luas. Tingkat pendidikan pada penelitian ini dikelompokkan dalam 4 kategori yaitu lulusan SD / sederajat, lulusan SMP / sederajat, lulusan SMA / sederajat dan lulusan perguruan tinggi.

Responden terbanyak dalam penelitian ini adalah responden yang memiliki pendidikan terakhir SMA / sederajat yaitu 48%, diikuti dengan responden yang berpendidikan terakhir SMP / sederajat sebanyak 24 %, lalu responden yang berpendidikan terakhir perguruan tinggi sebanyak 19 % responden yang paling sedikit adalah responden yang berpendidikan terakhir SD /

menikah belum menikah

sederajat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden sudah terbilang baik, karena lebih dari setengah jumlah responden yaitu sebanyak 67% responden memiliki tingkat pendidikan tinggi (lulus SMA / sederajat dan perguruan tinggi). Rangkuman hasil penelitian disajikan pada gambar II.

Gambar II. Distribusi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

4. Pekerjaan

Menurut undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, seseorang dinyatakan bekerja jika orang tersebut bekerja dengan menerima upah atau imbalan. Distribusi karakteristik pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu responden yang bekerja dan responden yag tidak bekerja. Dari pengelompokan sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, didapatkan responden dengan status bekerja sebanyak 24 orang (24,24%), dan responden yang tidak bekerja sebanyak 75 orang (75,76 %). Data mengenai jumlah responden yang bekerja dan tidak bekerja dirangkum pada tabel VII. sederajat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden sudah terbilang baik, karena lebih dari setengah jumlah responden yaitu sebanyak 67% responden memiliki tingkat pendidikan tinggi (lulus SMA / sederajat dan perguruan tinggi). Rangkuman hasil penelitian disajikan pada gambar II.

Gambar II. Distribusi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

4. Pekerjaan

Menurut undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, seseorang dinyatakan bekerja jika orang tersebut bekerja dengan menerima upah atau imbalan. Distribusi karakteristik pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu responden yang bekerja dan responden yag tidak bekerja. Dari pengelompokan sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, didapatkan responden dengan status bekerja sebanyak 24 orang (24,24%), dan responden yang tidak bekerja sebanyak 75 orang (75,76 %). Data mengenai jumlah responden yang bekerja dan tidak bekerja dirangkum pada tabel VII.

SD 9% SMP 24% SMA 48% perguruan tinggi 19%

sederajat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden sudah terbilang baik, karena lebih dari setengah jumlah responden yaitu sebanyak 67% responden memiliki tingkat pendidikan tinggi (lulus SMA / sederajat dan perguruan tinggi). Rangkuman hasil penelitian disajikan pada gambar II.

Gambar II. Distribusi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

4. Pekerjaan

Menurut undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, seseorang dinyatakan bekerja jika orang tersebut bekerja dengan menerima upah atau imbalan. Distribusi karakteristik pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu responden yang bekerja dan responden yag tidak bekerja. Dari pengelompokan sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, didapatkan responden dengan status bekerja sebanyak 24 orang (24,24%), dan responden yang tidak bekerja sebanyak 75 orang (75,76 %). Data mengenai jumlah responden yang bekerja dan tidak bekerja dirangkum pada tabel VII.

Tabel VII. Distribusi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan

Status Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

Bekerja 24 24,24

Tidak Bekerja 75 75,76

Total 99 100

Dari data yang terdapat pada tabel VII, diketahui bahwa responden yang sudah bekerja adalah responden yang berstatus pekerjaan sebagai karyawan, pegawai negeri sipil, guru, dan wiraswasta. Sedangkan responden yang tidak bekerja adalah pelajar / mahasiswa dan ibu rumah tangga. Berikut data mengenai jenis pekerjaan responden.

Tabel VIII. Distribusi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

Pelajar / Mahasiswa 23 23,23

Karyawan 11 11,11

PNS 5 5,05

Guru 5 5,05

Wiraswasta 3 3,03

Ibu Rumah Tangga 52 52,53

Total 99 100

5. Sumber Informasi yang pernah didapat

Informasi mengenai penyakit kista-endometrium dapat diperoleh di media cetak, media elektronik, penyuluhan dari tenaga kesehatan, ataupun dari masyarakat sekitar yang memiliki pengetahuan lebih tentang penyakit ini. Dari data yang berhasil didapatkan, diketahui bahwa sebanyak 73% responden belum pernah mendapat informasi terkait kista endometrium, sedangkan 27% lainnya sudah pernah mendapat informasi terkait penyakit ini. Hal ini berarti masyarakat belum mengenal dengan baik apa itu kista endometrium karena

informasi-informasi mengenai kista endometrium masih kurang. Rangkuman hasil penelitian disajikan pada gambar III.

Gambar III. Distribusi responden yang sudah dan belum pernah mendapat informasi

6. Desa Asal

Faktor tempat tinggal juga memungkinkan terjadinya perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap suatu penyakit. Tidak semua desa memiliki letak geografis yang strategis dan dekat dengan keramaian. Beberapa desa di Indonesia letaknya terpencil dan jauh dari keramaian, sehingga akses dari tenaga kesehatan dan ketersediaan informasi juga terbatas. Hal inilah yang dapat menyebabkan perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap dalam menangani suatu penyakit.

Kecamatan Depok terbagi menjadi tiga Desa yaitu Desa Maguwoharjo, Desa Condongcatur dan Desa Caturtunggal. Responden dari Desa Maguwoharjo merupakan responden terbanyak, yaitu sebanyak 46 responden (46,46%). Sedangkan desa dengan responden paling sedikit adalah desa Condong Catur,

27%

informasi mengenai kista endometrium masih kurang. Rangkuman hasil penelitian disajikan pada gambar III.

Gambar III. Distribusi responden yang sudah dan belum pernah mendapat informasi

6. Desa Asal

Faktor tempat tinggal juga memungkinkan terjadinya perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap suatu penyakit. Tidak semua desa memiliki letak geografis yang strategis dan dekat dengan keramaian. Beberapa desa di Indonesia letaknya terpencil dan jauh dari keramaian, sehingga akses dari tenaga kesehatan dan ketersediaan informasi juga terbatas. Hal inilah yang dapat menyebabkan perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap dalam menangani suatu penyakit.

Kecamatan Depok terbagi menjadi tiga Desa yaitu Desa Maguwoharjo, Desa Condongcatur dan Desa Caturtunggal. Responden dari Desa Maguwoharjo merupakan responden terbanyak, yaitu sebanyak 46 responden (46,46%). Sedangkan desa dengan responden paling sedikit adalah desa Condong Catur,

73% 27%

belum pernah mendapat informasi

sudah pernah mendapat informasi

informasi mengenai kista endometrium masih kurang. Rangkuman hasil penelitian disajikan pada gambar III.

Gambar III. Distribusi responden yang sudah dan belum pernah mendapat informasi

6. Desa Asal

Faktor tempat tinggal juga memungkinkan terjadinya perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap suatu penyakit. Tidak semua desa memiliki letak geografis yang strategis dan dekat dengan keramaian. Beberapa desa di Indonesia letaknya terpencil dan jauh dari keramaian, sehingga akses dari tenaga kesehatan dan ketersediaan informasi juga terbatas. Hal inilah yang dapat menyebabkan perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap dalam menangani suatu penyakit.

Kecamatan Depok terbagi menjadi tiga Desa yaitu Desa Maguwoharjo, Desa Condongcatur dan Desa Caturtunggal. Responden dari Desa Maguwoharjo merupakan responden terbanyak, yaitu sebanyak 46 responden (46,46%). Sedangkan desa dengan responden paling sedikit adalah desa Condong Catur,

belum pernah mendapat informasi

sudah pernah mendapat informasi

dengan responden sebanyak 25 orang (25,25 %). Hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan proporsi jumlah sampel minimal untuk tiap desa. Seperti yang dijelaskan sebelumnya pada bab 3, jumlah sampel minimal untuk Desa Caturtunggal adalah 36 responden, tetapi sampel yang didapat hanya 28 responden. Untuk Desa Maguwoharjo, sampel minimal yang diperlukan adalah sebanyak 28 responden, tetapi jumlah responden yang didapat sebanyak 46 responden. Dan untuk Desa Condongcatur, sampel minimal yg dibutuhkan adalah sebanyak 32 responden, tetapi jumlah responden yang didapat sebanyak 25 responden. Jumlah sampel pada Desa Caturtunggal dan Desa Condongcatur kurang dari jumlah sampel minimal dikarenakan sulitnya mendapat responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dalam hal kesediaan responden mengisi kuisioner. Maka dari itu untuk menutupi kekurangannya, diambil responden dari Desa Maguwoharjo. Rangkuman hasil penelitian disajikan pada tabel IX.

Tabel IX. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Desa Asal

Desa Asal Frekuensi Persentase (%)

Maguwoharjo 46 46,46

Condongcatur 25 25,25

Caturtunggal 28 28,29

Total 99 100

Dokumen terkait