• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 PROFIL GUGUS PULAU GURAICI

4.2 Karakteristik Geofisik Gugus Pulau Guraici

Pulau Talimau adalah salah satu pulau dalam gugus pulau Guraici yang terbesar dengan luas mencapai 215,6 ha. Pada bagian selatan pulau ini relatif terlindung dari aksi gelombang karena dihalangi oleh pulau-pulau kecil lain disekitarnya. Ekosistem pesisir yang terdapat pada pulau ini terdiri dari terumbu karang, mangrove serta lamun. Ekosistem terumbu karang ditemukan cukup luas di bagian utara pulau yang terbuka dan tidak terhalang oleh pulau lain. Sedangkan ekosistem mangrove umumnya ditemukan pada bagian selatan dan sejumlah kecil pada bagian utara dengan ketebalan rata-rata 29 meter. Luas mangrove di pulau ini mencapai 15,4 ha atau sekitar 7,14 %. Sedangkan ekosistem padang lamun, ditemukan dalam hamparan yang relatif luas di bagian tenggara, namun pada bagian utara tidak ditemukan ekosistem tersebut. Sebagai salah satu pulau berpenduduk, luas wilayah yang dijadikan sebagai pemukiman di pulau Talimau adalah seluas 10,7 ha atau sekitar 4,96 %, sedangkan luas lahan pertanian mencapai 185,7 ha atau sekitar 86,13 % dari total luas pulau tersebut, (Gambar 14).

Tipe pantai yang terdapat di pulau Talimau diklasifikasikan atas pantai bervegetasi, pantai berpasir, pantai pasir berkarang serta pantai berlumpur yang tersebar mengelilingi pulau dengan panjang sekitar 11.801,34 m, meliputi 5.885,59 m atau 49,87 % adalah pantai dengan vegetasi, 1.305,94 m atau 11,07 % terdiri dari pantai berbatu, 2.814,66 m atau 23,85 % adalah pantai berpasir dan 1.795,15 m atau 15,21 % adalah pantai berlumpur. Pada tipe pantai berlumpur umumnya ditemukan mangrove yang terdapat disepanjang pantai selatan dan sebagian kecil tumbuh pada pantai berkarang di pulau Talimau, bagian ini cukup terlindung dari aktivitas gelombang. Sedangkan di bagian utara pulau tersebut, mangrove hanya ditemukan dalam jumlah kecil tumbuh pada pantai pasir berkarang.

Wilayah daratan pulau Talimau umumnya ditanami dengan tanaman pertanian lahan kerang dengan luas mencapai sekitar 185,7 ha, sedangkan daratan yang ditumbuhi mangrove sekitar 15,4 ha, pasir pantai mencapai luas sekitar 3,8 ha, sisanya seluas 10,7 ha merupakan pemukiman penduduk.

Bentuk topografi pulau Talimau dikategorikan kedalam tiga kelas yaitu datar, memiliki kemiringan 0-3 % dengan ketinggian <5 m dpl, seluas 68,6 ha atau sekitar 31,82 %, berombak memiliki kemiringan antara 3-8 % berketinggian

5-15 m dpl, mencakup wilayah seluas 107,2 ha atau sekitar 49,72 % serta kategori berbukit agak bergelombang, kemiringannya antara 8-15 %, mencakup wilayah seluas 39,8 ha atau sekitar 18,46 % dengan ketinggian antara 50-70 m diatas permukaan laut (dpl), (Gambar 15). Kedalaman perairan disekitar pulau Talimau bagian utara berkisar antara 0-100 m, sedangkan pada bagian selatan pulau memiliki kedalaman yang bervariasi antara 0-9 m, (Gambar 16).

4.2.2 Pulau Lelei

Pulau Lelei memiliki luas sekitar 61,8 Ha dan merupakan pulau terbesar kedua setelah pulau Talimau. Pulau ini relatif terbuka terhadap aksi gelombang terutama pada bagian barat laut, barat daya, utara, timur, timur laut, tenggara dan selatan. Pemecah ombak telah dibangun pada sebagian pulau ini untuk mengurangi aberasi yang terjadi terutama pada bagian-bagian yang terbuka terhadap aksi arus dan gelombang tersebut. Ekosistem terumbu karang ditemukan tersebar pada sekeliling pulau ini dengan lebar hamparan yang bervariasi. Ekosistem mangrove tidak ditemukan di pulau ini, yang menyebabkan aksi gelombang dan arus memberikan dampak yang cukup besar terhadap pulau Lelei. Ekosistem padang lamun ditemukan dalam jumlah sedikit pada bagian barat laut pulau tersebut.

Rawa hutan sagu ditemukan dengan luas sekitar 13,1 ha atau sekitar 21,20 % dari total luas pulau Lelei. Keberadaan rawa hutan sagu memberikan peranan yang besar terhadap ketersedian air tawar dalam jumlah cukup melimpah di pulau tersebut. Sekitar 12,78 % luas daratan pulau ini adalah kawasan pemukiman, sedangkan lahan pertanian seluas 35,3 ha atau sekitar 57,12 % dan 5,5 ha atau sekitar 12,90 % adalah pasir pantai (Gambar 14). Pulau Lelei memiliki panjang pantai sekitar 3.149,32 m dengan tipe pantai berpasir.

Pulau Lelei memiliki bentuk topografi dengan kategori kemiringan datar (0-3 %), berketinggian 0-5 m dpl seluas 37,4 ha atau sekitar 60,52 %, tersebar pada bagian selatan, barat daya, tenggara dan timur pulau. Sedangkan daratan dengan kategori berombak (3-8 %) memiliki ketinggian antara 5-15 m dpl, seluas 12,1 ha atau sekitar 19,58 %, terbentang pada bagian utara hingga barat daya. Selain itu daratan dengan kategori berbukit agak bergelombang (8-15%), memiliki ketinggian 50-70 m dpl, mencakup laus 12,3 ha, atau sekitar 19,90 %, berada pada bagian utara sampai barat daya dari pulau ini, (Gambar 15). Kedalaman perairan di sekitar pulau Lelei berkisar antara 0-20 m, sedangkan pada bagian terluar berkisar antara 20-100 m, (Gambar 16).

4.2.3 Pulau Temo

Pulau Temo adalah salah satu pulau terbesar yang letaknya diantara pulau Talimau dan pulau Rajawali serta pulau-pulau kecil lainnya dibagian timur laut, timur dan tenggara yang menyebabkan pulau ini relatif terlindung terhadap aksi gelombang. Posisi pulau Temo memanjang dari arah barat laut ke tenggara, dengan luas sekitar 50 ha. Pada sekitar pulau ini terdapat ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem lamun. Ekosistem terumbu karang hanya ditemukan melimpah pada bagian barat daya yang relatif terbuka. Namun ekosistem mangrove ditemukan tumbuh mengelilingi pulau disepanjang pantai. sedangkan ekosistem padang lamun hanya ditemukan pada bagian barat daya dan sebagian kecil di temukan pada bagian tenggara pulau tersebut. Terumbu karang, mangrove serta lamun adalah ekosistem penting diwilayah pesisir terutama di pulau-pulau kecil, keberadan ekosistem tersebut secara umum akan berperan sebagai pelindung pantai dan daratan suatu pulau.

Pulau Temo memiliki garis pantai yang seluruhnya ditumbuhi mangrove, dengan panjang sekitar 4.888,48 m atau 100 % tertutup oleh mangrove dengan tipe pantai pasir berlumpur pada bagian barat daya, sedangkan lumpur berpasir pada bagian timur. Keberadaan pantai berlumpur maupun pantai berpasir, menyebabkan mangrove ditemukan tumbuh dan tersebar pada sebagain besar wilayah pulau ini.

Sebagai salah satu pulau terbesar dalam gugus pulau Guraici, pulau Temo adalah pulau kosong tanpa penduduk yang hanya ditumbuhi mengarove dan tumbuhan pertanian lahan kering. Luas mangrove di pulau ini adalah sekitar 10,9 ha atau sekitar 21,80 %, sisanya seluas 39,1 ha atau sekitar 78,20 % adalah tumbuhan pertanian lahan kering (Gambar 18).

Topogafi pulau Temo terdiri dari tiga kelompok yaitu datar, berombak dan bergelombang. Bagian yang dikategorikan datar, ditemukan tersebar mengengelilingi pulau dengan luas mencapai 10,9 ha atau sekitar 21,8 %. Bagian pulau dengan kategori berombak tersebar pada bagian Tenggara hingga barat laut yang luasnya mencapai 27,6 ha atau sekitar 55,2 % dan merupkan bagian terluas dari daratan pulau Temo. Sedangkan daratan dengan kategori berombak terdapat pada bagian utara, dengan luas mencapai 11,5 ha atau sekitar 23 %, (Gambar 19). Perairan disekitar pulau Temo memiliki kedalaman antara 0-28 m dengan bagian yang terdalam mencapai lebih dari 40 m pada bagian barat daya, (Gambar 20).

4.2.4 Pulau Rajawali

Rajawali adalah salah satu pulau dalam gugus pulau Guraici yang terletak paling luar. Pulau ini berada pada bagian selatan pulau Talimau dan bagian barat daya pulau Temo. Luas daratan pulau Rajawali sekitar 47,7 ha. Posisi pulau ini memanjang dari barat daya ke tenggara dan langsung menghadap ke laut terbuka. Ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan ekosistem lamun ditemukan di pulau ini. Ekosistem terumbu karang tersebar sepanjang pesisir barat laut hingga tenggara, dan wilyah ini adalah bagian terluar dari pulau Rajawali. Ekosistem mangrove ditemukan tumbuh disekeliling pulau dengan ketebalan yang rendah. Ekosistem lamun ditemukan tumbuh cukup luas pada bagian timur laut hingga ke tenggara. Keberadaan ketiga ekosistem pesisir tersebut berperan penting dalam meredam aksi gelombang dan arus yang menyusuri sepanjang garis pantai pulau tersebut.

Panjang garis pantai pulau Rajawali mencapai sekitar 5.296,49 m dengan kategori pantai bervegetasi sepanjang 4.541,7 m atau sekitar 85,75 %. Pantai berpasir sepanjang 101,04 atau sekitar 1,91 % dan kategori pantai berlumpur sepanjang 653,66 m atau sekitar 12,34 %. Pulau Rajawali juga merupakan salah satu pulau terbesar dalam gugusan pulau Guraici, namun demikian pulau ini tidak berpenduduk, daratannya ditumbuhi mangrove serta tumbuhan pertanian lahan kering. Mangrove di pulau Rajawali tumbuh pada dataran seluas 20 ha atau sekitar 41,93 %, sedangkan sisanya seluas 27,7 ha atau sekitar 58,07 % adalah tanaman pertanian lahan kering (Gambar 14).

Topografi daratan pulau Rajawali dikategorikan kedalam dua kelas yaitu datar dengan ketinggian antara 0-5 m dpl, serta kategori berombak dengan ketinggian 5-15 m dpl. Daratan yang tergolong kategori datar yaitu seluas 40,1 ha atau sekitar 84,07 % dan merupakan bagian terluas dari pulau Rajawali. Sedangkan luas daratan dengan kategori berombak sekitar 7,6 ha atau 15,93 %

(Gambar 15). Kedalaman perairan di sekitar pulau Rajawali berkisar antra 0-47 m, sedangkan pada bagian terluar berkedalaman antara 20-100 meter

(Gambar 26).

4.2.5 Pulau Tapaya

Tapaya adalah salah satu pulau yang terletak pada bagian tenggara pulau Salo serta barat laut pulau Joranga, luas pulau ini adalah sekitar 14,9 ha. Pada bagian timur hingga ke barat dari pulau Tapaya, relatif terlindung oleh pulau-

pulau lain disekitarnya. Pada bagian timur dan barat memiliki kedalaman perairan sekitar 20 m sehingga dijadikan sebagai alur pelayaran bagi perahu motor kecil, sedangkan pada bagian selatan relatif terbuka. Di pulau ini juga ditemukan ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove dan ekosistem lamun. Ekosistem terumbu karang cukup luas ditemukan tersebar pada bagian selatan pulau tersebut. Ekosistem mangrove ditemukan tumbuh disekeliling pulau dan menutupi sebagian besar daratan pulau Tapaya. Sedangkan ekosistem padang lamun ditemukan dalam luasan yang kecil dengan didominasi satu jenis di bagian tenggara pulau.

Panjang garis pantai pulau Tapaya yaitu sekitar 1.583,36 m yang seluruhnya ditutupi oleh vegetasi mangrove, sehingga dapat dikategorikan sebagai pantai bervegetasi. Pulau Tapaya adalah pulau kosong yang tidak berpenduduk, daratannya ditumbuhi oleh mangrove dengan luas 13 ha atau sekitar 87,25 % dan sisanya seluas 1,9 ha atau sekitar 12,75 % ditumbuhi oleh

tumbuhan yang dikategorikan sebagai tanaman pertanian lahan kering (Gambar 14).

Tingkat kelerengan atau topografi daratan pulau Tapaya, hanya dikategorikan datar (0-3 %) dengan ketinggian antara 0-5 m dpl, (Gambar 15). Sedangkan kedalaman perairan sekitar pulau Tapaya berkisar antara 0-23 m, namun pada bagian terluar berkedalaman antara 20-100 meter, (Gambar 16).

4.2.6 Pulau Kelo

Pulau Kelo adalah pulau terluar pada bagian selatan dari gugusan pulau Guraici dengan luas sekitar 11,1 ha. Pada bagian utara dari pulau ini terdapat pulau Temo, Igo, Ubo-Ubo Besar, Ubo-Ubo Kecil dan pulau lainnya yang berperan sebagai penghalang terhadap pulau ini dari aksi gelombang maupun arus yang terjadi disekitarnya. Ekosistem pesisir utama di pulau ini adalah ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove dan ekosistem lamun. Ekosistem terumbu karang ditemukan tersebar laus pada bagian timur laut dan barat daya, sedangkan pada sisi timur dan barat ditemukan dalam penyebaran yang sempit. Ekosistem mengrove ditemukan disekeliling pulau, kecuali pada sebagian kecil di sebelah selatan pulau yang tidak ditumbuhi oleh mengrove karena relatif terbuka dan berbatu yang merupakan batuan vulkanik, sehingga tidak terbentuk substrat sebagai tempat tumbuh mangrove, selain itu bagian ini relatif terbuka dan lebih banyak terpapar oleh aksi arus serta gelombang yang

menghanyutkan sedimen dasar perairan. Sedangkan ekosistem lamun hanya ditemukan dalam hamparan yang sempit pada sisi timur pulau dengan jenis tunggal.

Pantai disekeliling pulau Kelo terdiri dari pantai berbatu dengan panjang mencapai 407,47 m atau sekitar 29,48 %, sedangkan sisanya sekitar 974,67 m atau sekitar 70,52 % adalah pantai bervegetasi, dengan vegetasi utamanya adalah mangrove. Pulau Temo juga merupakan salah satu pulau tidak berpenduduk dalam gugus pulau Guraici yang sebagian besar daratannya ditumbuhi oleh tanaman pertanian lahan kering dengan luas sekitar 8,2 ha atau sekitar 73,87 %, sedangkan mangrove menempati wilayah seluas 2,9 ha atau sekitar 26,13 % (Gambar 14).

Pulau Kelo dikategorikan sebagai pulau yang memiliki kemiringan datar (0-3 %) hingga berombak (3-8 %). Daratan dengan kategori datar mencakup luasan 8,2 ha atau sekitar 73,87 %, yang tersebar dari bagian utara hingga ke barat laut. Sedangkan daratan dengan kategori berombak memiliki luasan 2,9 ha atau sekitar 26,13 %, tersebar pada bagian selatan pulau ini, (Gambar 15). Kedalaman perairan pulau kelo berkisar antara 0-10 m pada bagian sisi sebelah dalam, sedangkan pada sisi sebelah luar berkisar antara 0-20 m, (Gambar 16).

4.2.7 Pulau Salo

Pulau Salo merupakan salah satu pulau yang berada diantara pulau-pulau kecil lain, posisinya memanjang dari timur laut ke barat daya. Luas pulau ini mencapai 18,3 ha. Pulau Salo relatif terlindung oleh aksi gelombang karena letaknya berada diantara pulau lain. Ekosistem utama di pulau ini adalah terumbu karang, mangrove dan lamun. Ekosistem terumbu karang ditemukan tersebar cukup luas pada bagian utara, timur laut, timur serta sebagian kecil ditemukan pada bagian selatan. Ekosistem mangrove dijumpai tumbuh lebat pada sekeliling pulau. Sedangkan padang lamun ditemukan tersebar luas pada bagian timur laut, utara sampai ke sisi barat. Keberadaan hamparan lamun yang cukup luas ditunjang oleh perairan yang relatif dangkal dan landai serta substrat dasar perairan yang teridiri dari pasir berlumpur sampai lumpur berpasir. Ketiga ekosistem tersebut memberikan kotribusi yang besar terhadap perlindungan pesisir maupun daratan pulau Salo.

Pulau ini memiliki tipe pantai pasir berlumpur hingga lumpur berpasir sepanjang 2.588,7 m, dengan vegetasi mangrove sebagai komponen utama

penutup lahan pantai. Pulau Salo adalah salah satu pulau yang tidak berpenduduk, daratannya hanya ditumbuhi oleh mangrove serta tanaman pertanian lahan kering. Daratan pulau yang ditumbuhi mangrove mencapai luas 11,4 ha atau sekitar 62,30 %, sedangkan daratan yang ditumbuhi oleh tanaman pertanian lahan kering yaitu 6,9 ha atau sekitar 30,70 % (Gambar 14).

Pulau Salo dikategorikan sebagai pulau datar (0-3 %) hingga berombak (3-8 %). Bagian daratan pulau dengan kategori datar mencakup luasan 14,2 ha atau sekitar 77,60 % yang umumnya tersebar pada bagian barat daya, (Gambar 15). Sedangkan luas daratan dengan kategori berombak yaitu seluas 4,1 ha atau sekitar 22,40 %, berada pada sisi bagian timur laut. Perairan sekitar pulau Salo berkedalaman antara 0-20 m, (Gambar 16).

4.2.8 Pulau Joronga

Joronga adalah salah satu pulau yang terletak diantara pulau Tapaya, Popaco dan Sapang, posisinya memanjang dari arah utara ke selatan dengan luas daratan mencapai 10,4 ha. Pada sisi bagian timur dari pulau ini terlindung oleh pulau Popaco sehingga aksi gelombang relatif teredam. Ekosistem terumbu karang, mangrove dan lamun juga ditemukan di sekitarnya. Terumbu karang di pulau Joronga ditemukan tersebar pada bagian utara dan selatan pulau. Sedangkan ekosistem mangrove ditemukan tumbuh cukup lebat dan tersebar pada sebagian besar dari daratan pulau. Namun ekosistem lamun hanya ditemukan tersebar pada sisi timur laut hingga ke tenggara dengan hamparan yang cukup luas. Hamparan lamun di pulau Joronga ini menyatu dengan hamparan lamun di pulau Popaco, sedangkan pada sisi barat dari pulau ini tidak ditemukan komunitas lamun, hal ini disebabkan karena pada bagian ini relatif dalam dan tidak terjadi penumpukan sedimen sebagai substrat tumbuh lamun, walaupun demikin pada sisi barat inilah ditemukan ekosistem terumbu karang.

Pulau Joronga memiliki tipe pantai pasir berlumpur pada bagian timur dan pada bagian barat bercampur antara pasir dan pecahan karang. Panjang garis pantai pulau Joronga sekitar 1.683,79 m, seluruhnya ditutupi oleh vegetasi mangrove. Pulau Joranga juga merupakan pulau tidak berpenduduk yang sebagian besar lahan daratannya ditumbuhi oleh mangrove dengan luasan mencapai 9,4 ha atau sekitar 90,38 %, sedangkan sebagian lagi ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang dikategorikan sebagai tanaman pertanian lahan kering seluas 1 ha atau sekitar 9,62 % (Gambar 14).

Seluruh daratan pulau Joronga dikategorikan sebagai pulau datar dengan kemiringan (0-3 %) atau ketinggian pulau ini hanya berkisar antara 0-5 m diatas

permukaan laut atau 100 % wilayah daratannya adalah datar (Gambar 15). Sedangkan kedalaman perairan disekitar pulau Joronga pada bagian timur berkisar antara 0-5 m dan pada bagian barat berkedalaman sekitar 10-18 meter, (Gambar 16).

4.2.9 Pulau Ubo-Ubo Besar

Pulau Ubo-Ubo Besar berada diantara pulau-pulau lainnya seperti pulau Temo di bagian barat, pulau Kelo pada bagian selatan serta pulau Ubo-Ubu Kecil di sebelah utara, sehingga pulau ini relatif terlindung dari aksi gelombang. Pulau ini memanjang dari utara ke selatan dengan luas sekitar 10,3 ha. Ekosistem mangrove dan lamun ditemukan dipulau ini, sedangkan terumbu karang tidak ditemukan. Mangrove dijumpai tumbuh dan tersebar disekeliling pulau. Ekosistem padang lamun juga ditemukan tumbuh disekeliling pulau ini.

Tipe pantai di pulau Ubo-Ubo Besar adalah pasir berlumpur hingga lumpur berpasir yang tesebar disekeliling pulau, hal ini dimungkinkan terjadi karena pulau ini relatif terlindung dari aksi gelombang maupun arus oleh pulau-pulau lain

disekitarnya. Panjang garis pantai pulau Ubo-Ubo Besar yakni sekitar 2.414,48 m, vegetasi utama yang ditemukan sepanjang garis pantai yaitu

mangrove. Pulau ini juga merupakan pulau tidak berpenduduk yang daratannya ditumbuhi oleh mangrove seluas 4,6 ha atau sekitar 44,66 %, sedangkan sisanya seluas 5,7 ha atau sekitar 55,34 %, ditumbuhi oleh tanaman-tanaman dengan kategori tanaman pertanian lahan kering (Gambar 14).

Seluruh daratan pulau Ubo-Ubo Besar dikategorikan sebagai pulau datar, dengan kemiringan antara (0-3 %) yang mencakup daratan seluas 10,3 ha atau 100 %, (Gambar 15). Perairan disekitar pulau ini berkedalaman berkisar antara 0-5 meter, (Gambar 16).

4.2.10 Pulau Ubo-Ubo Kecil

Pulau Ubo-Ubo Kecil adalah salah satu pulau kecil yang letaknya berada diantara pulau Obo-Ubo Besar pada bagian barat daya serta pulau Sohomao pada bagian timur laut, disekitar pulau ini terdapat pulau-pulau kecil lainnya, sehingga pulau ini relatif terlindung oleh aksi gelombang. Luas daratan pulau Ubo-Ubo Kecil yaitu sekitar 1,3 ha. Ekosistem mangrove serta lamun ditemukan juga di pulau ini. Sedangkan ekosistem terumbu karang tidak ditemukan, hal ini disebabkan karena perairan disekitar pulau ini relatif keruh, sehingga tidak

memungkinkan karang untuk tumbuh dengan baik. Namun demikian keberadaan mangrove dan lamun di pulau ini turut berperan penting dalam meredam aksi arus maupun gelombang yang menyusuri garis pantai sekitar pulau ini.

Panjang garis pantai pulau Ubo-Ubo Kecil yaitu sekitar 527,61 m, dengan kategori pantai bervegetasi, karena seluruh garis pantainya ditutupi oleh vegetasi mangrove. Sebagai pulau dengan ukuran yang relatif kecil, pulau ini juga tidak berpenduduk, daratannya ditumbuhi mangrove serta tanaman pertanian lahan kering. Mangrove di pulau ini ditemukan seluas 0,7 ha atau sekitar 53,85 %, dan sebagian lagi seluas 0,6 ha atau sekitar 45,15 % ditumbuhi oleh tanaman pertanian lahan kering (Gambar 14).

Pulau Ubo-Ubo Kecil memiliki topografi dengan kategori datar berkemiringan (0-3 %) atau ketinggian daratannya hanya berkisar antara 0-5 m dpl, (Gambar 15). Perairan disekitar pulau Ubo-Ubo Kecil memiliki kedalaman berkisar antara 0-5 meter, (Gambar 16).

4.2.11 Pulau Igo

Pulau Igo merupakan salah satu pulau yang letaknya berada diantara pulau Temo di bagian barat laut serta pulau Kelo di bagian tenggara. Pulau ini memiliki luas sekitar 7,6 ha. Ekosistem pesisir yang terdapat pada pulau ini terdiri dari mangrove, lamun dan terumbu karang. Ekosistem terumbu karang ditemukan dengan hamparan yang cukup luas terutama pada bagian barat daya. Ekosistem mangrove ditemukan tumbuh disekeliling pulau, sedangkan ekosistem lamun tumbuh pada bagian utara pulau dengan luasan relatif sempit dan tidak ditemukan pada bagian lain dari pulau tersebut, disebabkan oleh tidak adanya subustrat lunak yang terbentuk sebagai tempat tumbuh lamun, karena bagian ini relatif terbuka terhadap aksi gelombang maupun arus yang kemudian menghanyutkan sediman dasar perairan.

Pulau Igo memiliki panjang garis pantai sekitar 1.164,97 m dengan tipe pantai bervegetasi yang seluruh permukaannya ditutupi oleh vegetasi mangrove. Pulau Igo merupakan pulau tidak berpenduduk, sebagian besar lahan daratannya ditumbuhi oleh tumbuhan kategori pertanian lahan kering dengan luas mencapai 5 ha atau sekitar 65,79%, sedangkan daratan yang tumbuhi mangrove yaitu 2,6 ha atau sekitar 34,21% (Gambar 14).

Topografi daratan pulau igo dikategorikan kedalam tiga kelas yaitu datar memiliki kemiringan antara 0-3 % dengan luas mencapai 2,3 ha atau sekitar

30,26 %, kategori berombak memiliki kemiringan antara 3-8 %, seluas 2,8 ha atau sekitar 36,84 %. Sedangkan daratan dengan kategori bergelombang kemiringannya antara 8-15 %, luasnya mencapai 2,5 ha, atau sekitar 32,89 % (Gambar 15). Kedalaman perairan di sekitar pulau Igo yakni sekitar 0-10 m sedangkan pada bagian terluar berkisar antara 10-20 meter, (Gambar 16).

4.2.12 Pulau Sapang

Terletak di sebelah utara dari pulau Tapaya, pulau Sapang adalah salah satu pulau yang berada paling luar, memanjang dari timur laut ke berat daya, berada diantara dua alur pelayaran perahu motor kecil pada sisi timur dan barat. Luas daratan pulai ini sekitar 3,9 ha. Ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove dan ekosistem lamun juga ditemukan di pulau ini. Ekosistem terumbu karang ditemukan tersebar cukup luas di bagian timur laut. Sedangkan ekosistem mangrove ditemukan tumbuh cukup lebat dan tersebar pada sebagian besar dari daratan pulau, kecuali pada sebagian kecil di selatan yang tidak ditumbuhi oleh mangrove. Sebaliknya ekosistem lamun hanya ditemukan pada luasan yang sempit di bagian selatan dari pulau ini.

Tipe pantai di pulau Sapang terdiri dari pantai pasir berlumpur serta berpasir, dengan panjang garis pantai sekitar 887,87 m, terdiri dari pantai yang ditutupi vegetasi mangrove sepanjang 773,47 m atau sekitar 87,12 %, serta pantai berpasir tanpa vegetasi sepanjang 114,4 m atau sekitar 12,88 %. Pulau Sapang sesungguhnya adalah pulau kosong tanpa penduduk, namun oleh nelayan dari luar gugus pulau Guraici yang menangkap ikan di perairan sekitar gugus pulau Guraici, menjadikan pulau ini sebagai tempat tinggal sementara dan mengolah hasil tangkapan mereka. Sebagian besar lahan daratan pulau Sapang ditumbuhi oleh mangrove yang mencapai luas 3,6 ha atau sekitar 92,31 %. Sedangkan lahan seluas 0,3 ha atau sekitar 7,69 %, merupakan lahan berpasir yang ditumbuhi oleh tanaman yang tergolong tanaman pertanian lahan kering