• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik habitat berbiak Polypedates leucomystax

5.3. Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Habitat Berbiak 1. Pengaruh faktor abiotik

5.4.1. Karakteristik habitat berbiak Polypedates leucomystax

Penelitian yang berkaitan dengan aktivitas berbiak P. leucomystax telah cukup banyak dilakukan (lihat Roy et al. 2004; Brown & Alcala 1983; Yorke 1983; Berry 1964; Alcala 1962; Alcala & Brown 1956), namun belum ditemukan pembahasan yang lebih spesifik mengenai karakteristik habitat berbiak jenis ini. P. leucomystax memiliki cakupan sebaran populasi yang luas dengan kondisi habitat yang beragam, mulai dari habitat berhutan hingga daerah pemukiman. Akan tetapi, jenis ini lebih sering ditemukan di hutan sekunder ataupun di dekat hunian manusia (Inger 2005; Diesmos et al. 2004; Mistar 2003; Iskandar 1998; Inger & Stuebing 1997; Lim & Lim 1992).

P. leucomystax diketahui menyimpan telurnya dalam sarang busa yang dihasilkan oleh katak jantan dan betina selama proses perkawinan berlangsung ketika telah menemukan tempat yang tepat untuk meletakan sarangnya, seperti yang terjadi pada R. reinwardti di kampus (lihat Yazid 2006). Namun belum diketahui secara jelas informasi lebih lanjut mengenai lokasi yang dipilih untuk meletakan sarang, selain ditemukan menempel pada pinggiran genangan air atau di antara tetumbuhan di atas genangan air.

Aktivitas amfibi sangat bergantung pada kondisi lingkungannya, termasuk dalam hal berbiak. Di daerah tropika basah, umumnya anura memiliki pola reproduksi yang terus menerus sepanjang tahun (Duellman & Trueb 1994). Faktor yang berkaitan dengan pola aktivitas berbiak amfibi salah satunya adalah curah hujan, termasuk intensitas dan lamanya periode curah hujan (Aichinger 1997; Berry 1964).

Kondisi iklim di Kampus IPB Darmaga memungkinkan aktivitas berbiak terjadi sepanjang tahun. Data klimatologi tahun 1997–2007 menunjukkan bahwa periode bulan basah rata-rata di wilayah Darmaga berlangsung selama 10 bulan setiap tahunnya sedangkan 2 bulan lainnya termasuk dalam kategori bulan lembab dan kering. Curah hujan rata-rata pada tahun 2007 mencapai 310 mm/bulan dan dengan adanya kolam-kolam buatan dan saluran air, air hujan yang turun tertampung dengan baik, sehingga hal tersebut dimanfaatkan oleh amfibi sebagai lokasi berbiak, salah satunya oleh P. leucomystax.

46

Gambar 25. Curah hujan rata-rata bulanan dalam 3 tahun terakhir (2005–2007) (Stasiun I Klimatologi Darmaga 2007)

Kondisi suhu udara dan kelembaban nisbi pada masing-masing lokasi pengambilan sampel menunjukkan kisaran 22o–30oC dengan kelembaban nisbi udara rata-rata 76–92%. Kondisi ini cukup ideal untuk habitat P. leucomystax meskipun tingkat toleransi suhu untuk setiap jenis anura berbeda-beda. Umumnya jenis anura dapat hidup pada kisaran 3o–41oC (Goin et al. 1978). Hal ini berlaku juga pada tahap berudu. Umumnya berudu mengalami penurunan aktivitas pada kisaran suhu 38o–40oC (Duelman & Trueb 1986), namun berudu P. leucomystax dapat hidup pada kisaran suhu tersebut pada lokasi genangan air yang terbuka (Inger & Tan 1996 dalam Leong & Chou 1999) bahkan berudu Fejervarya cancrivora dapat bertahan hidup hingga suhu 41oC (Dunson 1977). Suhu air berperan dalam proses tumbuh-kembang berudu untuk bermetamorfosis menjadi katak dewasa (Duellman & Trueb 1986) dan hasil pengukuran suhu air pada semua lokasi pengambilan sampel menunjukkan kisaran yang ideal untuk menjamin pertumbuhan berudu, yakni 24o–29oC. Hasil pengukuran suhu udara pada semua lokasi pengambilan sampel menunjukkan bahwa suhu udara tertinggi berada pada periode siang sedangkan suhu air relatif lebih hangat pada malam hari (lihat Gambar 12 dan 13).

0 100 200 300 400 500 600 700

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Cur ah Huja n ( m m /bul an ) Bulan rata‐rata 2005/2006 2007

47

Genangan air yang ada di kawasan kampus IPB Darmaga terdiri dari kolam-kolam buatan, saluran air yang menggenang, atap bangunan yang dapat menampung air, dan cerukan pada permukaan tanah. Luas permukaan genangan, kedalaman air, dan penutupan genangan adalah faktor yang berperan dalam proses terbentuknya kondisi iklim mikro (suhu dan kelembaban) pada lokasi pengambilan sampel. Uji regresi menunjukkan bahwa hanya faktor penutupan genangan yang memberikan nilai korelasi yang cukup sebesar 0,784 terhadap kondisi suhu air pada siang hari, sedangkan faktor lainnya menunjukkan nilai korelasi yang sangat lemah (Gambar 25).

Luas genangan dan kedalaman air berperan dalam penyediaan sumberdaya bagi kehidupan berudu, selain tipe genangan air. Genangan air yang luas memungkinkan untuk menampung jumlah individu berudu dalam jumlah yang besar begitu juga dengan kedalaman air. Ruang yang luas untuk bergerak, mencari makan dan berinteraksi dengan leluasa dapat meminimalkan terjadinya persaingan intraspesifik dan fenomena ‘kanibalisme’ dalam pemanfaatan sumberdaya (Heinen & Abdella 2004; Mokany & Shine 2002; Dickman & Durtche 2000; Griffiths & Foster 1998).

Namun genangan air yang luas tidak menjamin ketersediaan air dalam waktu yang lama terutama terjadi pada tipe genangan air temporer. Dalam kasus ini, genangan air yang luas dengan kedalaman air yang minimal, dapat menyebabkan laju penguapan air lebih cepat dibanding lokasi yang lebih dalam. Akibatnya genangan akan kering sebelum berudu bermetamorfosis menjadi katak dewasa. Beberapa penelitian pada jenis anura yang bertelur pada tipe genangan air temperor memiliki adaptasi yang unik, yakni mempersingkat masa metamorfosis (Loman 1999) dengan meningkatkan aktivitas makan (Dickman & Durtche 2000) dan mereduksi jumlah berudu yang bermetamorfosis (Loman & Claesson 2003), pada saat proses pengeluaran telur oleh katak betina ataupun melalui mekanisme kanibalisme antar sesama berudu yang terdapat pada genangan air yang sama.

48

Gambar 26. Keeratan hubungan antara persentase tutupan genangan dan suhu air pada siang hari

Genangan air yang tidak ternaungi memiliki suhu air yang lebih tinggi daripada genangan air yang ternaungi pada siang hari. Sinar matahari yang langsung mengenai permukaan air dapat mengakibatkan suhu di permukaan air meningkat sehingga suhu air juga menjadi cenderung meningkat pula. Mekanisme ini juga didukung oleh permukaan genangan yang luas, kedalaman air yang dangkal dan nilai daya hantar listrik yang besar. Semakin tinggi kenaikan suhu air maka oksigen yang dapat terlarut dalam air semakin sedikit (Wardhana 1995).

Kadar oksigen terlarut (DO) pada lokasi pengambilan sampel di kolam Taman Rektortat (Pp.1, Pp.2 dan Pp.3) adalah yang paling baik, yakni di atas 5 mg/l. Akan tetapi pada 6 genangan air lainnya menunjukkan kadar DO dibawah 5 mg/l bahkan lebih kecil dari 1 mg/l. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi ikan (lihat Tabel 12). Oleh karena itu, pada genangan air yang kadar oksigennya rendah, kebutuhan oksigen diperoleh dari udara di atas permukaan air, yang pada berudu dikenal dengan perilaku gulping air. Kadar oksigen terlarut yang minim meningkatkan intensitas perilaku gulping (Duellman & Trueb 1994) sekaligus meningkatkan resiko pemangsaan oleh predator alami berudu (McDairmid &Altig 1999 dalam Dickman & Durtche 2000).

y = 0,000x2‐ 0,071x + 29,00 R² = 0,614 25,50 26,00 26,50 27,00 27,50 28,00 28,50 29,00 29,50 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 Su hu air ra ta -rata sian g h ari 0C Tutupan genangan (%)

49

Konsumsi rata-rata oksigen terlarut akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan berudu (Duellman & Trueb 1994) meskipun pada kasus larva X. laevis justru terjadi sebaliknya. Hal ini disebabkan terjadi penurunan aktivitas fisik, seperti aktivitas berenang, mencari makan, dan menghindari predator, pada beberapa individu larva yang memasuki tahap terakhir perkembangan (Feder 1981 dalam Duellman & Trueb 1994). Dugan (1972) menyebutkan bahwa oksigen yang larut dengan cepat dikonsumsi oleh organisme dalam suatu perairan untuk melakukan proses metabolisme dan penguraian bahan organik sehingga kondisi perairan dalam status anaerob.

Pemulihan kadar oksigen terlarut dalam air dapat diperoleh dari hasil proses fotosintesis oleh fitoplankton atau tanaman air lainnya atau melalui proses difusi atau persinggungan langsung dengan udara melalui mekanisme pergerakan air (Lesmana & Dermawan 2001). Kondisi kadar oksigen terlarut pada seluruh sampel air yang berasal dari kolam di Taman Rektorat lebih disebabkan oleh proses pergerakan air. Setiap hari pada jam kerja, pompa air mancur yang berada di tengah- tengah kolam dinyalakan sehingga menyebabkan terjadinya pergerakan air yang berdampak pada tingginya kadar DO dalam air.

Tabel 12. Pengaruh kadar DO dalam air terhadap tumbuh-kembang ikan (Swingle 1969 dalam Boyd 1982)

Nilai DO Dampak terhadap tumbuh-kembang ikan < 1 mg/l Menyebabkan kematian dalam beberapa jam

1-5 mg/l Ikan dapat hidup namun menyebabkan pertumbuhan terhambat dan menggangu reproduksi

> 5 mg/l Ikan dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik

Parameter kualitas air lainnya adalah BOD (Biochemical Oxygen Demand). Nilai BOD5 menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik (termasuk proses respirasi pada keadaan aerob) dalam waktu lima hari pada suhu 20oC (Boyd 1982). Nilai BOD seringkali digunakan untuk menginvestigasi pencemaran air karena nilai BOD menggambarkan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mencapai kondisi stabil atau self-purification (Bennet 1970). Nilai BOD5 sampel air dari lokasi saluran air Audit Toyyib (Tp.3) menunjukkan nilai diatas kriteria baku mutu kualitas air yang telah ditetapkan, yakni sebesar 8,27 mg/l. Hal ini

50

dapat disebabkan oleh faktor bahan organik, jumlah mikroorganisme ataupun kombinasi keduanya. Kondisi ini berpeluang untuk terjadinya pencemaran organik yang disebabkan volume bahan organik lebih besar dibanding volume air yang tersedia, yang berdampak miskinnya kadar DO dalam air dan meningkatnya kadar BOD (Bennett 1970).

Nilai daya hantar listrik (conductivity) suatu perairan menggambarkan konsentrasi ion dalam air. Nilai DHL dapat dipengaruhi oleh senyawa-senyawa kimia yang bereaksi menghasilkan molekul ionik, salah satunya adalah amonia (NH4+). Kadar amonia yang tinggi dalam air dapat menyebabkan keracunan pada ikan (Lesmana & Dermawan 2001), begitu pula pada berudu. Senyawa Amonia dalam air dapat berasal dari hasil metabolisme yang dikeluarkan melalui urine dan feces berudu atau pembusukan bahan organik di dalam air (Dugan 1972). Selain itu, setiap kenaikan nilai DHL memberikan pengaruh terhadap kenaikan suhu air (Effendi 2003) yang berdampak pada penurunan jumlah oksigen terlarut di dalam air (Wardhana 1995).

Kekeruhan terutama dipengaruhi oleh bahan-bahan tersuspensi seperti: lumpur, pasir, bahan organik dan anorganik, plankton serta organisme mikroskopik lainnya. Kekeruhan yang disebabkan oleh plankton dan organisme mikroskopik lainnya tidak secara langsung berbahaya pada ikan, tetapi dapat menyebabkan kondisi air menjadi asam, pemiskinan nutrien, dan mengurangi penetrasi cahaya untuk proses fotosintesis (Boyd 1982). Kekeruhan yang disebabkan oleh partikel tanah, pasir, lumpur dan bahan lainnya dapat membahayakan populasi ikan dalam jangka panjang (Boyd 1982). Namun hal tersebut tidak bersifat mematikan pada ikan, hanya akan berdampak pada produktivitas lingkungan perairan (Bennet 1970). Nilai kekeruhan air di lokasi pengambilan sampel termasuk dalam kategori sedang, yakni kurang dari 25 mg/l (Buck 1956 dalam Boyd 1982). Kondisi ini memungkinkan berudu P. leucomystax untuk hidup dan berkembang dengan baik karena berudu jenis ini diketahui dapat hidup pada kondisi air yang jernih ataupun keruh (Leong & Chou 1999).

51 5.4.2. Preferensi habitat berbiak P. leucomystax

P. leucomystax dewasa sering ditemukan di tetumbuhan sekitar genangan air daripada di pepohonan yang tinggi, bahkan seringkali ditemukan di permukaan tanah atau di dalam saluran air (Sholihat 2007). Katak jantan umumnya ditemukan sedang menempel di dinding kolam atau bersembunyi di dalam saluran air. Keberadaan katak jantan cukup mudah diketahui karena katak jantan bersuara untuk menarik perhatian katak betina. Banyaknya suara yang dikeluarkan oleh katak jantan pada awalnya dipengaruhi oleh ada atau tidaknya hujan sebelum atau sesudahnya. Kemudian kehadiran betina yang produktif untuk kawin akan menentukan katak jantan yang akan dipilih berdasarkan intensitas suara yang dihasilkan (Yazid 2006). Sebaliknya, katak betina sangat jarang bersuara dan hanya mendatangi genangan air ketika individu tersebut siap untuk kawin, seperti yang dinyatakan Sholihat (2007) bahwa pola pergerakan katak jantan cenderung berada di sekitar genangan air sedangkan pada katak betina memiliki pola pergerakan yang lebih luas. Selanjutnya, katak betina yang menentukan jantan yang sesuai untuk melakukan perkawinan (amplexus). Umumnya ukuran P. leucomystax jantan lebih kecil daripada katak betina. Proses perkawinan ini dapat berlangsung selama 1–2 jam. Durasi waktu tersebut berhubungan dengan waktu yang diperlukan katak betina untuk menemukan lokasi peletakan telur yang sesuai (Duellman & Trueb 1994).

Beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi peletakan sarang/telur adalah mudah atau tidaknya lokasi tersebut diketahui oleh predator, kondisi genangan air, suhu dan keberadaan berudu jenis anura lain (Stebbins & Cohen 1997). Pengamatan pada 12 lokasi genangan air membuktikan bahwa tidak semua lokasi genangan disukai untuk meletakan telur (lihat Gambar 19 dan 20), khususnya di lokasi Arboretum Fahutan (Tp.1) dan saluran air di sebelah barat lapangan voli Fateta (Tp.6). Keberadaan predator dari jenis ikan guppy lokal dan berudu R. chalconota ditemukan di saluran air sebelah barat lapangan voli Fateta, sedangkan berudu dari jenis katak pohon lainnya, R. reinwardti, ditemukan di parit sebelah selatan Arboretum Fahutan. Namun pada lokasi lainnya juga ditemukan berudu dari jenis anura lain, seperti Bufo melanostictus dan Rana chalconota (lihat Tabel 9).

52

Lokasi yang disukai sebagai lokasi berbiak adalah kolam utama di Taman Rektorat (Pp.1), kolam di IPAL Fateta (Pp.4, Pp.5 dan Pp.6), genanga air di atap Perpuskaan Departemen Budidaya Hutan (Tp.2) dan saluran air di sebelah timur GWW (Tp.5), yang masing-masing merupakan perwakilan tipe genangan permanen dan temporer (lihat Gambar 20). Kondisi air pada kolam air permenan lebih terjamin ketersediaannya dibandingkan kondisi air yang berada di saluran air maupun tempat-tempat yang bisa menampung air hujan yang cenderung fluktuatif. Kolam-kolam permanen umumnya melibatkan campur tangan manusia, terutama kolam utama di Taman Rektorat (Pp.1).

Adanya campur tangan manusia memberikan pengaruh terhadap kondisi kualitas air genangan air dan keberadaan sarang, seperti yang ditampilkan pada Tabel 13. Kondisi air pada kolam utama di Taman Rektorat lebih terjaga kebersihan. Nilai DO pada lokasi tersebut lebih tinggi daripada lokasi genangan air permanen lainnya sedangkan parameter kualitas air lainnya memiliki nilai yang lebih rendah, terkecuali pH. Kondisi ini memberikan pengaruh yang positif dalam menunjang perkembangan berudu. Namun aktivitas pembersihan kolam setiap sebulan sekali oleh petugas taman menyebabkan kerusakan pada sarang dan kematian pada berudu. Kondisi tersebut dapat dilihat dari perbandingan jumlah sarang dan individu berudu yang diteramati (lihat Gambar 26). Jumlah sarang yang ditemukan di lokasi kolam utama di Taman Rektorat sebanyak 13 buah sarang namun hanya 57 ekor berudu yang teramati, begitu juga pada lokasi kolam lainnya yang ada di Taman Rektorat (Pp.2 dan Pp.3). Jumlah sarang yang ditemukan di kedua lokasi tersebut hanya 2 buah sarang namun tidak ditemukan satu ekor pun berudu pada kolam sebelah selatan jalan (Pp.2) sedangkan dilokasi kolam sebelah utara jalan (Pp.3) ditemukan 87 ekor berudu.

Kondisi suhu air rata-rata dan pH air pada keenam lokasi yang disukai untuk berbiak tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Selain itu, ditemukan jenis anura lainnya yang menempati habitat yang sama, sedangkan ikan, semut, dan larva lalat tidak ditemukan pada kelima lokasi tersebut. Larva Odonata ditemukan pada 3 kolam permanen (Pp.1, Pp.3 dan Pp.4) dan lokasi genangan air di atap bangunan Perpustakaan Silvikultur Fahutan (Tp.2).

53

Larva dari beberapa lalat dari keluarga Calliphoridae, Chironomidae, Drosophilidae, Ephydridae, Phoridae, dan Psychodidae diketahui sebagai parasit bagi telur amfibi (Menin & Giaretta 2003; Duellman & Trueb 1994; Villa & Townsend 1983; Yorke 1983) dengan tingkat kerusakan 40–100% (Leong & Chou 1999). Beberapa jenis serangga lainnya, dari jenis tawon, juga diketahui sebagai predator bagi telur anura, misalnya Polybia rejecta dan Angiopolybia pallens (Warkentin 2000).. Embrio anura merupakan sumber makanan utama bagi koloni tawon yang hidup di sekitar genangan air (Warkentin 2000)

Telur amfibi merupakan sumber makanan berprotein tinggi sebagai sumber energi bagi organisme lainnya (Villa & Townsend 1983), diantaranya ikan dan invetebrata akuatik (Duellman & Trueb 1994). Di lokasi genangan permanen dan sungai kecil, kedua predator tersebut merupakan predator utama, sedangkan pada genangan temporer, invetebrata aquatik merupakan satu-satunya predator bagi telur dan larva amfibi (Duellman & Trueb 1994). Larva odonata diketahui sebagai predator utama larva amfibi (Heyer et al. 1975). Ada juga jenis serangga akuatik lainnya, seperti kumbang air (Lethocerus spp ), Belastoma, Nepa dan Ranatra (Pinnaro 2006; Wager 1965 dalam Duellman & Trueb 1994). Keberadaan ikan pada suatu perairan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan reproduksi katak pohon Litoria aurea dan L. dentata, seperti dilaporkan oleh Morgan & Buttermer (1996). Berudu P. leucomystax diketahui tidak pernah ditemukan pada genangan air yang terdapat ikan di dalamnya (Taylor 1962 dalam Leong & Chou 1999).

Penelitian ini belum mampu menjawab pengaruh anura jenis lainnya terhadap pemilihan habitat berbiak oleh P. leucomystax secara pasti. Akan tetapi, ada kemungkinan terdapat pengaruh anura lainnya, terutama oleh katak pohon lainnya, seperti yang terjadi pada lokasi parit sebelaha selatan Arboretum Fahutan (Tp.1) dan Lab. Lapang Konservasi Tumbuhan Fahutan (Tp.2) yang merupakan habitat utama Rhacophorus reindwarti (Yazid 2006). Duellman & Trueb (1994) menyatakan bahwa larva jenis anura lainnya dapat menjadi predator bagi larva anura yang lain, terutama dapat terjadi pada tipe genangan temporer. Hal ini berkaitan dengan keterbatasan persediaan makanan dan ruang yang menyebabkan terjadinya mekanisme kanibalisme (Duelman & Trueb 1994).

54

Tabel 13. Karakteristik lokasi pengamatan yang disukai sebagai lokasi berbiak oleh P. leucomystax

Parameter yang diukur Lokasi pengamatan yang disukai

Kondisi fisik Pp.1 Pp.4 Pp.5 Pp.6 Tp.2 Tp.5

1. Luas permukaan (m2) 12,56 3,40 1,00 2,22 10,85 5,80 2. Kedalaman air (m) 0,51 0,80 0,99 3,06 0,05 0,10 3. Kelas tutupan genangana < 1 < 1 1 4 1 4

Kualitas air 1. DO (mg/l) 7,38 1,44 1,64 0,62 na na 2. BOD (mg/l) 4,20 5,17 3,32 3,20 na na 3. COD (mg/l) 15,80 20,59 17,40 23,16 na na 4. Turbid (NTU) 1,80 3,80 1,80 1,55 na na 5. Suhu air b (oC) 28,3±1,0 27,5±0,8 26,9±0,4 26,7±0,1 26,5±1,6 26,8±0,7 6. TDS (mg/l) 0,04 0,11 0,13 0,15 na na 7. DHL (µs) 0,08 0,22 0,26 0,29 na na 8. pH 6,01 6,50 5,82 6,58 na na Spesies lainc 1. Odonata + + + - + -2. Ikan - - - - - -3. Semut - - - - - -4. Larva lalat - - - - - -5. Anura + + + + + + Aktivitas manusiad +++ ++ ++ ++ - -a

Kelas tutupan genangan – 1 = 20–40% ; 2 = 41–60% ; 3 = 61–80% ; 4 = 81–100% ; b Suhu air adalah rata-rata suhu pada tiga periode pengukuran (mean ± SD); c Keberadaan spesies lain – (+) = ditemukan; (-) = tidak ditemukan; d Aktivitas manusia – (+++) = tinggi; (++) = jarang; (-) = tidak ada; na (data not available) pada saat pengukuran kondisi air tidak memenuhi kriteria untuk pengambilan sampel.

Kondisi penutupan genangan pada keenam lokasi berbiak memperlihatkan kondisi yang bervariasi, mulai yang terbuka(< 40%) hingga yang hampir tertutup seluruhnya (> 80%). Kondisi mengindikasikan bahwa P. leucomystax memiliki strategi reproduksi yang mampu beradaptasi pada habitat yang bervegetasi maupun bervegetasi jarang. Hal inilah yang membedakan P. leucomystax dengan jenis katak pohon lainnya yang ada di kampus, R. reinwardti. Yazid (2006) melaporkan bahwa R. reinwardti sangat bergantung pada keberadaan vegetasi, khususnya jenis pohon burahol (Stelechocarpus burahol), Matoa (Pometia pinata), angsana (Pterocarpus indicus), baik pada saat katak jantan melakukan panggilan, amplexus, hingga meletakan sarang. Sehingga P. leucomystax dapat ditemukan dengan mudah dan memiliki populasi yang relatif melimpah di kawasan kampus dibanding R. reinwardti.

55

Strategi reproduksi pada amfibi dipandang sebagai perpaduan dari kondisi fisiologi, morfologi dan perilaku dari masing-masing jenis untuk menghasilkan produktivitas yang optimal, disamping faktor lingkungan (Duellman & Trueb 1994). Karakteristik fisik genangan air, kualitas air, faktor iklim mikro pada seluruh lokasi pengambilan sampel, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata untuk setiap variabel yang diukur. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya perbedaan yang nyata pada faktor ketinggian lokasi, intensitas curah hujan, fluktuatif temperatur dan kelembaban yang rendah.

Gambar 27. Perbandingan jumlah sarang dan berudu yang teramati pada genangan air dengan nilai Pi untuk lokasi peletakan sarang paling tinggi

Lokasi kolam kecil di IPAL Fateta (Pp.5) merupakan lokasi yang jumlah berudu yang teramati paling tinggi namun jumlah sarang yang teramati hanya satu sarang. Kondisi tersebut menggambarkan lokasi tersebut kurang disukai sebagai lokasi peletakan sarang, namun menunjukkan tingkat keberhasilan reproduksi yang optimal. Hal ini diduga sebagai salah satu bentuk strategi reproduksi untuk menjaga optimalitas proses regenerasi, seperti yang diamati oleh Marsh & Borreall (2001) pada jenis Physalaemus pustulosus, yang menghindari lokasi genangan yang telah terdapat sarang atau larva dari jenis yang sama.

13 1 7 57 210 125 0 50 100 150 200 250 Pp.1 Pp.5 Tp.5 Jumlah  sa ra ng  &  berud u   Lokasi pengamatan Sarang Berudu

Dokumen terkait