• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Karakteristik Informan

Dari hasil pengumpulan data primer terhadap 11 informan diperoleh karakteristik informan sebagai berikut:

Tabel 4.10. Karakteristik Informan No Informan Umur

Pendi-dikan Jenis Kelamin Lama Bekerja Status Pernikahan Keterangan

1 1 51 S2 Pria 26 Menikah Sekretaris

2 2 49 S2 Pria 25 Menikah Kabid Kesga

3 3 42 S2 Wanita 22 Menikah Kasie KIA

4 4 45 D3 Wanita 18 Menikah Kabis Yankes

5 5 45 Sp Pria 9 Menikah Dr. Obgyn

6 6 37 S1 Wanita 10 Menikah Ka.

Puskesmas

7 7 50 S1 Pria 28 Menikah Ka.

Puskesmas

8 8 38 S1 Wanita 17 Menikah Ka.

Puskesmas

9 9 35 D3 Wanita 13 Menikah Bidan

Kordinator

10 10 43 D3 Wanita 21 Menikah Bidan

Kordinator

11 11 30 D3 Wanita 8 Menikah Bidan

Kordinator Tabel diatas memperlihatkan bahwa informan berjumlah 11 (sebelas) orang. Terdiri dari 1 informan sekretaris dinas kesehatan, 1 informan koordinator tim manajemen (Kepala Bidang Kesehatan Keluarga), informan Kepala seksi Kesehatan Ibu dan Anak, 1 informan tim pengkaji (dr.spesialis kandungan), 1 informan Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Tanjung Pura, 3 informan Kepala puskesmas, 3 informan Bidan Puskesmas.

Wawancara keseluruhan dilakukan di tempat kerja. Dari pengamatan gaya bicara dan raut wajah yang dilakukan dalam proses wawancara, umumnya informan bersikap terbuka dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

4.2.2 Pendekatan Sistem dalam Evaluasi Kegiatan AMP 4.2.3. Variabel Input

1. Pengetahuan Petugas

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan mengenai pengertian Audit Maternal Perinatal (AMP), hal ini dituangkan dalam matriks berikut:

Tabel 4.11. Pengetahuan Petugas Mengenai Pengertian AMP Informan Jawaban

9 AMP adalah suatu kegiatan.... mencari sebab kematian atau kesakitan ibu, bayi dan neonatal untuk mencegah kesakiatan dan kematian terjadi lagi dimasa yang akan datang.

10 AMP adalah serangakaian kegiatan untuk....mencari sebab kesakitan dan kematian ibu, perinatal dan neonatal yang berguna,,,,eh untuk mencegah kesakitan dan kematian serupa dimasa yang akan datang jadi ini menjadi pembelajaran bu...biar tak lagi ada kasus- kasus serupa kedepannya khan/??

11 AMP ad alah Audit Maternal Perinatal,,,,ehm,,,,ya itu singkatanya maksudnya penelusuran kegiatan penyebab kematian dan kesakitan...ibu dan bayi ehmmmm...ini supaya mencegah kesakitan dan kematian ibu dan bayi tersebut jangan terulang lagi dimasa yang akan datang...biar AKI dan AKB kita tidak meningkat ....gitu,,,,paling tidak turun,,,,,,,

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa 3 informan rata- rata menjawab bahwa AMP tersebut merupakan kegiatan mencari penyebab kematian dan kesakitan ibu, perinatal dan neonatal guna mencegah kesakitan dan kematian serupa dimasa yang akan datang, dan ada 1 informan mengatakan agar AKI dan AKB tidak meningkat atau untuk menurunkan AKI.

Tabel 4.12. Pengetahuan Petugas Mengenai Pernah Mengikuti Pelatihan Pengisian Format OVM Dan OVP

Informan Jawaban

9 sudah...pernah mendapat pelatihan tentang cara pengisian format....otopsi verbal ibu maupun he....perinatal tetapi sudah lama kira-kira ....hem ....tahun mmm 2009 atau 2010 an gitu jadi kalau perlu mohon lah kami dilatih lagi biar lebih segar

Tentang kasus kematian ibu maupun bayi,,,,selalu dilaporkan kedinas kesehatan dengan menyertakan format OVM maupun OVP itu,,,,dilaporkan secepatnya ,,,,biasanya lewat pemberitahuan telpon baru nyusul laporan tertulisnya.

10 sudah....sudah ya pernah dilatih tentang cara pengisian format otopsi verbal ibu maupun perinatal cumannya...sudah lama sekali ...empat tahun yang lalu ....atau lebih,,,,jadi dah lamalah kalau bisa mohon dilakukan penyegaran lagi ,,,,dan kalau ada kasus kematian ibu maupun bayi kami,,,selalu melaporkannya secepatnya kedinas kesehatan pertama,,,diberitahu lewat telepon kemudian setiap,,,,awal bulan mengantarkan laporan bulanan beserta isian formulir OVM ataupun OVP ,,,,,tersebut

11 sudah pernah,,,,,mendapatkan pelatihan,,,bagaimana mengisi formulir otopsi verbal ibu maupun perinatal, tetapi kayaknya,,,,sudah lamalah hem,,,kira kira tahun 2009 an atau,,,,diatasnya sampai lupa saya,,,,mohonlah bikin lagi acara seperti itu biar lebih siip,,,kalau ada kasus kematian ibu dan bayi kami ,,,,melaporkannya secepat mungkin ke dinas kesehatan. Dan setiap kali melaporkan adanya,,,,kasus kematian selalu disertakan dengan memakai formulir otopsi verbal maternal,,,maupun perinatal

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa semua informan sudah pernah mengikuti pelatihan tentang cara pengisian formulir otopsi verbal maternal dan perinatal (OVM dan OVP) walaupun sudah lama dirasakan, dan setiap kasus kematian yang terjadi pada ibu maupun bayi selalu dilaporkan ke dinas kesehatan kabupaten dengan menyertakan formulir OVM maupun OVP

2. Struktur Organisasi

Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informa mengenai struktur organisasi , hal ini dituangkan dalam matriks berikut:

Tabel 4.13. Struktur Organisasi AMP

Informan Jawaban

2 Selama ini kegiatan AMP sudah berjalan secara rutin...setiap tahun dilaksanakan ada 2 kali , tentang SK AMP ...masih mengacu pada SK kepala Dinas Kesehatan Kabupaten ,,,,,yang lama ,sekarang ada dibuat SK berdasarkan keputusan dari Bupati no 440.05-41/K/2014 . Untuk SK lama yang dikeluarkan kepala dinas kesehatan sekarang inipun sudah tak ada lagi pertinggalnya serta anggotanya juga,,, sudah tidak utuh lagi ada yang pensiun,,,, atau yang pindah tugas,,, semogalah SK AMP yang baru bisa jadi membuat keterikatan hubungan yang kuat,,,antara tim yang tergabung dalam AMP sehingga pelaksanaan AMP dapat berjalan sebagaimana mestinya sesuai petunjuk pedoman dari Kemenkes tahun 2010.

Tabel diatas menunjukkkan bahwa informan 2 yang diwawancarai menjawab SK AMP sudah ada selama ini yang dikeluarkan oleh Kepala dinas Kesehatan tetapi keberadaanya sudah tidak tau lagi serta tim /petugas AMP juga sudah tidak lengkap lagi dan sekarang SK AMP sudah direvisi kembali yang dikeluarkan langsung oleh Bupati Kabupaten Langkat. Yang terdiri dari :

A . Tim Manajemen

I. Penanggung jawab : Kepala Dinas kabupaten langkat II. Koordinator Tim manajemen :

1. Kepala Bidang kesehatan Keluarga Dinas Kabupaten Langkat 2. Kepala Bidang Pelayanan kesehatan Dinas kabupaten Langkat

III. Sekretariat B. Tim Pengkaji

I. Tim Pengkaji Internal : II. Tim Pengkaji Eksternal : C. Komunitas Pelayanan

I. Kelompok Pembuat Kebijakan

1. Ka. Komisi Bidang Kesehatan DPRD Kab. Langkat 2. Ka. Bappeda Kabupaten Langkat

3. Ka. BPJS Kabupaten Langkat

II. Kelompok Pimpinan Fasilitas Pelayanan

a). Dir. RSUD dan RS Swasta Se- Kabupaten Langkat b) Ka. Puskesmas Se- Kabupaten Langkat

III. Kelompok Petugas Kesehatan

a) Dokter dan Bidan Rumah Bersalin se-Kabupaten Langkat b) Bidan Praktek Mandiri se- Kabupaten Langkat

c) Bidan Desa se- Kabupaten Langkat IV. Kelompok Masyarakat

a) Ka. Forum Komunitas Kesehatan Kabupaten Langkat 3. Sarana

Berdasarkan hasil wawancara mendaalam informan menyatakan bahwa sarana untuk kegiatan AMP sudah cukup tidak ada kendala yang berarti

Tabel 4.14.Sarana

Informan Jawaban

1 “sudah baik, dengan tersedianya ruang pertemuan, media pembelajaran seperti lCD, layar dan laptop dan semua yang dipelukan sudah disiapkan,,,,dan kalau ruangan di sini lagi sedang dipakai oleh kegiatan yang lain alternatif nya kita,,,bisa sewa gedung agar kegiatan AMP dapat berjalan.”

4. Anggaran

Berdasarkan hasil wawancara mendalam informan 1 menyatakan sudah menyediakan dana untuk kegiatan AMP tersebut seperti terungkap sebagai berikut ;

Tabel 4.15. Anggaran

Informan Jawaban

1. Biaya untuk penyelenggaraan AMP selalu dianggarkan setiap tahun...anggaran disediakan dari APBD ini juga merupakan wujud dukungan Pemerintah daerah terhadap program AMP yang tujuannya untuk masyarakat kita,,,,,terutama ibu,,,,dan bayi sesuai tujuan dari MDG 4 dan MDG 5”

Dari tabel diatas bahwa anggaran untuk pertemuan AMP di Kabupaten Langkat selalu dianggarkan setiap tahun yang dananya berasal dari APBD. Dari telaah dokumen mengenai anggaran untuk pertemuan AMP di Kabupaten sebanyak 2 kali dalam setahun begitu juga dengan anggaran untuk puskesmas seluruh puskesmas yang ada di kabupaten Langkat ada 30 puskesmas semuanya mendapatkan dana yang berasal dari APBD untuk menyelenggarakan kegiatan AMP di Puskesmas masing- masing sebanyak 2 kali juga dalam setahun.

Hal ini dimulai dari pelaksanaan AMP di tingkat puskesmas yang dikuti oleh semua tenaga kesehatan yang melayani ibu dan anak seperti bidan desa, bidan puskesmas dan bidan koordinator, dokter umum dan kepala Puskesmas, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan AMP ditingkat Kabupaten dalam hal ini jumlah peserta dibatasi masing- masing puskesmas dihadiri 1 sampai 2 peserta. Ini tentu berhubungan dengan dana yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah (APBD).

4.2.3 Pendekatan Sistem Dalam Evaluasi Kegiatan AMP 4.2.3.1.Proses

1. Koordinasi Antar Petugas

Dari hasil wawancara mendalam informan menyampaikan bahwa koordinasi antar petugas sudah cukup baik sedangkan untnuk koordinasi dengan rumah sakit menyatakan kurang baik seperti diungkapkan sebagai berikut:

Tabel 4.16. Koordinasi Antar Petugas

Informan Jawaban

5. “ jika ada kasus kematian ibu dan bayi yang terjadi didesa maupun di puskesmas selalu dilaporkan ,,,, dan otopsi verbalnya juga dibuat,,,,,tetapi jika kematian itu terjadi di rumah sakit ,,,,kita hanya mendapatkan kabarnya dari bidan yang mempunyai kasus dan kebijakan dari dinkes segera meminta tenaga kesehatan yang bersangkutan,,,,untuk meminta RMM (rekam medik maternal) maupun RMP (Rekam Medik Perinatal) kepada pihak Rumah Sakit ehm,,,,ya,,,,,. Apalagi Ini terjadi di Rumah Sakit di luar Kabupaten Langkat petugas sedikit kesulitan untuk mendapatkan RMP dan RMM ‘’’’’’ padahal pada kasus yang sering terjadi,,,,,itu petugas kesehatan sering melakukan rujukan ke rumah sakit swasta diluar kabupaten,,,,klo RSUD Tanjung Pura pelayanan dr spesialis hanya ada pada jam kerja biasa...dan hari kerja,,,,,hemmm diluar itu tidak ada...jadi kalo ada kejadian tentu harus keluar,,,,,

Tabel 4.16 (Lanjutan)

7. tentang kasus kematian yang terjadi,,,pada ibu dan bayi selalu dilaporkan ke dinas kesehatan jadi tak ada satu pun kasus kematian ibu dan anak yang tak terlaporkan dan semua itulah dilaporkan dan kalau kematian terjadi dirumah sakit bidan yang merujuk lah mencari tau penyebab kematian dan semuanya yang berhubungan dengan kasus yang ada dan melaporkan dengan memakai format yang ada yaitu OVM dan OVP kalau bisa saran dari kami format itu diperbanyak dari Dinas kesehatan kan selama ini pihak puskesmas yang melakukannya sendiri .

8. untuk kasus- kasus kematian yang terjadi diwialayah kerja kami,,,selalu dilaporkan yaitu kedinas kesehatan kabupaten. Seringnya laporan itu sekalian disertakan dengan formulir otopsi verbalnya OVM untuk ibu dan OVP untuk bayi .kalaupun kematian terjadi dirumah sakit bidan yang merujuk mencari informasi tentang kasus yang ada Laporan itu kami antar kedinas kesehatan sekalian bersamaan membawa laporan bulanan lainnya ke dinas kesehatan. 3. kalau pelaporan dari rumah sakit tentang kasus kematian pada ibu

dan bayi yang terjadi di rumah sakit tidak pernah dilaporkan tetapi biasanya kami memberikan semua kebutuhan data tentang kasus- kasus yang terjadi bila dibutuhkan dan selalu kami membantu bidan atau petugas kesehatan untuk memberikan informasi tersebut dan biasanya petugas kesehatan yang merujuk pasien itu selalu meminta informasi kepada rumah sakit dan selalu kami berikan informasi tentanng kasus pasien tersebut.

Dalam hasil telaah dokumen diketahui bahwa semua puskesmas telah mengirimkan otopsi verbal kematian ibu dan bayi namun ketika kematian terjadi di Rumah Sakit tidak ada menyertakan RMM /RMP (Rekam Medis Maternal / Rekam Medis Perinatal) tetapi pihak RS selalu memberikan informasi tentang kasus kematian yang terjadi kepada petugas dan kalau ada kasus kematian bidan yang merujuk yang bertanggung jawab untuk membuat laporannya.

2. Metoda

Dari hasil wawancara mendalam terhadap informan tentang metode yang dilaksanakan dalam kegiatan AMP ini adalalah sebagai berikut:

Tabel 4.17. Metoda

Informan Jawaban

5 “untuk ,,,,metoda AMP yang selama ini dilakukan ya,,,,kalauu bisa,,,, kasus jangan terjadi lagi tapi nggak apa—apa kalau untuk pendalaman materi pembelajaran saya rasa frekuensi perlu ditingkatkan dilakukan maunya,,,, 3 bulan sekali diakukan, kalau bisa metode dua arah ,,, jangan datang dengar,,,,dari audiens lebih banyak bertanya ,,,saya rasa waktu pelaksanaan masih kuranglah,,,,,,baiknya 3 bulan sekali lah” “ ada dilakukan pengkajian kasus,,,,bulan september itu,,,,yang diACC itu,,,,ya,ya ada 2 kasus dan satu lagi,,,,dibulan ,,,februari atau maret yaaa,,,,ada dilakukan pengkajian kasus itu,,,,didinaskan,,,,ya,,,ya ada 3 atau 4 kasus itu banyak....yang preklamsi itu,,,,sampai dirujuk ke RS Adam Malik,,,,,,,,,

“ setiap pengkajian kasus,,,,,adalah rekomendasi yang diberikan tentang kasus yang dibahas ehm,,,biasanya apa-apa yang dibahas pada hari itu,,,pada audiens untuk pengembangan pedoman praktek,,,,,saya rasa,,,,ada,,,ada diberikan seperti tentang rujukan pasien dengan perdarahan,,,,,bagaimana seharusnya

Tentang pengelolaan data hasil kajian kasus ,,,dilakukan oleh petugas penanggung jawab program kesehatan ibu dan anak (KIA) dan secara keseluruhan mempersiapkan menyelenggarakan pertemuan AMP ini,dan hasil dari pertemuan kegiatan AMP ini dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran seperti petugas kesehatan yaitu bidan didesa, bidan koordinator.

Untuk hasil kajian kasus setiap selesai AMP selalu dimasukkan sebagai pelaporan kepada kepala dinas untuk perencanaan AMP yang akan datang terutama yang berkaitan nantinya untuk pengusulan dana anggaran tahun depan nya.

Dari tabel diatas tentang metoda yang selama ini dilakukan sudah baik tetapi frekuensi pelaksanaannya masih kurang selama ini dilakukan pertemuan AMP 2 kali dalam setahun yang seharusnya dilakukan 3 bulan sekali dalam setahun. Dan tentang

pengelolaan hasil kajian sudah dimanfaatkan sebagai pembelajaran bagi petugas kesehatan ( bidan didesa dan bidan koordinator)

Dari telaah dokumen didapatkan bahwa pelaksanaan AMP berdasarkan adanya kasus baik kematian ibu maupun bayi, dilaksanakan dengan penyajian kasus yang identitas nya sudah dihilangkan (no name) setiap pertemuan dan disajikan oleh bidan koordinator yang mempunyai kasus kematian tersebut.

Pada tahun 2013 jumlah kematian Ibu ada 9 kasus dan kematian neonatal 26 tetapi yang dibahas hanya 6 kasus kematian Ibu dan 2 kasus kematian neonatal yang terdiri dari kasus pre eklamsi dan perdarahan untuk ibu dan kasus aspiksia pada neonatal. ini berkaitan dengan dana yang terbatas dan waktu penyelenggaraan proses kegiatan AMP yang masih terbatas yaitu 2 kali dalam setahun. Kasus kematian Ibu dan kematian neonatal dibahas dan diberikan rekomendasi untuk ditindak lanjuti oleh dr.spesialis kandungan (Obgyn).

Tetapi semua kasus sudah dibahas pada masing- masing puskesmas yang mempunyai kasus kematian ini ada pada dokumen hasil AMP puskesmas yang dilaporkan puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten.

3. Bimbingan Teknis dan Supervisi

Mengenai bimbingan teknis dan supervisi ke lapangan, informan sebagian besar menyatakan sudah dilakukan seperti terungkap dalam wawancara sebagai berikut ini:

Tabel 4.18. Bimbingan Teknis dan Supervisi

Informan Jawaban

3 “ mengenai bimbingan teknis dan supervisi ,,,,dari dinas sudah dilakukan ,,,,,,, walaupun dirasa kurang maksimal, karena keterbatasan dana dan waktu,,,,,,,,

6. “ eh,,,untuk supervisi dan bimbingan teknis dari dinas kesehatan sudah ada dilakukan ,,,hem,,,,2 kali pada tahun 2013 tetapi saya rasa masih kurang maunya lebih sering lagi paling tidak 3 bulan sekali lah,,,,

7 “ untuk,,,,bimbingan teknis dan supervisi ada dilakukan ,,,,seingat saya,,,2 kali itu tetapi semua masalah dibahas tentang kesehatan ibu dan anak,,,,,,,,

8 “ bimbingan teknis dan supervisi dari dinas ke puskesmas kami,,,,,, seingat saya hanya sekali,,,,, tetapi ada juga bimbingan via telepon yaitu kami diberitahu melalui telepon karena dari dinas katanya sudah kesorean menuju tempat kami karena hari itu bukan hannya kami yang dikunjungi,,,,,,

Dari telaah dokumen pada dinas kesehatan kabupaten dapat memperlihatkan dokumen mengenai kegiatan bimbingan teknis dan supervisi ke masing – masing puskesmas berupa SPT (Surat Perintah Tugas )

5.2.4. Pendekatan Sistem dalam Evaluasi Kegiatan AMP 4.2.4.1. Output

1. Rekomendasi

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada informan mengenai rekomendasi yang diterima didapatkan informasi sebagai berikut:

Tabel 4.19. Rekomendasi

Informan Jawaban

Informan 1 : rekomendasi yang dikeluarkan sehubungan dengan kasus AMP biasanya langsung dari tim pengkaji,,,,kalau dari dinas kesehatan tidak ada secara khusus dalam pemberian rekomendasi mungkin hanya berupa pesan – pesan ketika pengarahan pada waktu pembukaan kegiatan AMP,,,,”

Informan 4 rekomendasi yang ada diterima,,,,dari tim pengkaji pada waktu pembahasan kasus kematian itu,,,,,dan itu sudah kami sosialisasikan di ruang VK dan petugas yang bertugas disitu yaitu,,,,,bidan, perawat dan dokter

Informan 6 Rekomendasi selalu ada,,,,,diberikan oleh tim pengkaji,,,,dan sudah baik karena merupakan tindakan alternatif untuk pemecahan masalah – masalah yang timbul agar kasus yang serupa tidak terulang kembali,,,,

Informan 7 tentang rekomendasi setiap pertemuan AMP selalu ada diberikan tim pengkaji dalam hal pemecahan masalah pada kasus – kasus yang terjadi agar kasus serupa jangan timbul lagi dimasa yang akan dating.

Informan 8 untuk rekomendasi yang diberikan tim pengkaji pada waktu AMP di dinas kesehatan kabupaten sudah ada dan baik hasilnya agar kasus-kasus kematian yang sama jangan terulang lagi dimasa yang akan datang.

Pada tabel diatas untuk rekomendasi selalu diberikan secara langsung oleh tim pengkaji pada waktu kegiatan AMP yang hasil rekomendasi mengacu pada kasus yang dibahas. Pada telaah dokumen AMP yang dilakukan di kabupaten ada dokumen tentang rekomendasi yang diberikan oleh tim pengkaji..

2. Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil wawancara kepada informan mengenai Tindak Lanjut sebagai berikut:

Tabel 4.20. Tindak Lanjut

Informan Jawaban

4 Rencana tindak lanjut dari hasil rekomendasi yang dihasilkan

selalu dilakukan baik dari kabupaten maupun tindak lanjut dari puskesmas. Kami selalu meminta kepada peserta masing-masing

dari puskesmas untuk membuat rencana tindak lanjut pada akhir pertemuan.

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa tindak lanjut hasil rekomendasi selalu dilakukan baik tingkat kabupaten maupun tingkat puskesmas dan hasil telaah dokumen pada tim AMP kabupaten terdapat dokumen tentang rencana tindak lanjut berupa notulen hasil pertemuan begitu juga dengan rencana tindak lanjut yang berasal dari puskesmas.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1 Input

5.1.1. Pengetahuan

Bedasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa petugas kesehatan ( bidan koordinator) sudah memahami kegiatan AMP tersebut , karena menyatakan pendapat tentang pengertian AMP sesuai dengan pengertian tertulis dalam buku pedoman AMP tahun 2010 bahwa AMP merupakan serangkaian kegiatan penelusuran sebab kematian atau kesakitan ibu, perinatal dan neonatal guna mencegah kesakitan atau kematian serupa dimasa yang akan datang . Analisis pemberian pelayanan atas suatu kejadian kesakitan atau kematian tersebut dilakukan secara sistematik dan anonim oleh para pengkaji yang berasal dari dalam maupun luar wilayah kabupaten / kota setempat.

Pembelajaran tersebut dikelola oleh suatu Tim Manajemen AMP Kabupaten/ Kota . Dengan demikian, kegiatan audit ini berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan dengan pendekatan pemecahan masalah. Dalam kaitannya dengan pembelajaran dan pembinaan, ruang lingkup wilayah dibatasi pada kabupaten /kota sebagai unit efektif yang mempunyai kemampuan pelayanan obstetrik- perinatal / neonatal dan didukung oleh pelayanan KIA .

Hal lain yang menambah pemahaman tentang AMP yaitu umumnya bidan koordinator puskesmas pada penelitian ini telah mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan formulir Otopsi Verbal Maternal (OVM) dan FormulirOtopsi Verbal Perinatal (OVP) Formulir ini diisi untuk setiap kematian maternal dan

perinatal oleh bidan koordinator . Hal ini sesuai tertulis dalam buku pedoman AMP tahun 2010 bahwa kematian maternal/ perinatal didapatkan dari pemberitahuan kematian yang dapat berasal dari masyarakat atau fasilitas pelayanan kesehatan. Formulir Otopsi Verbal Maternal/Perinatal, formulir ini diisi untuk setiap kematian maternal yang terlaporkan ditingkat kabupaten. Pengisian dilakukan oleh bidan koordinator/ bidan yang ditunjuk dari puskesmas kecamatan tempat domisili kasus yang meninggal. Formulir ini digunakan untuk kepentingan verbal otopsi bagi kematian maternal/ perinatal yang terjadi di komunitas. Selain itu, formulir ini juga digunakan untuk mendapatkan informasi non- medis di seputar kematian maternal/ perinatal dimasyarakat maupun di fasilitas kesehatan. Walaupun pada umumnya bidan koordinator telah mendapatkan pelatihan tentang pengisian formulir OVM dan OVP tetapi sudah berlangsung lama sebaiknya ini perlu dilakukan penyegaran lagi dengan mengadakan pelatihan kembali karena bisa saja bidan koordinator pindah, atau ada pergantian dan sebagainya sehingga diharapkan siapapun pengganti bidan koordinator di puskesmas tetap mampu mengisi OVM dan OVP.

Pada penelitian ini, jika dikaitkan dengan pendapat Notoatmodjo (2012) yang mengatakan pengetahuan seseorang dapat bertambah oleh karena adanya penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang dalam hal ini para informan mendapatkan informasi dari indera pendengarnya. Pengalaman juga dapat mempengaruhi pengetahuan karena pengalaman merupakan guru yang paling baik. Dalam hal ini informasi yang dimaksud merupakan penjelasan atau keterangan dari tim AMP kabupaten maupun pelatihan – pelatihan yang berkaitan dengan AMP kepada bidan koordinator puskesmas.

Berdasarkan penelitian Adiwidjaya (2000) di Kabupaten Serang menyatakan bahwa pengetahuan bidan puskesmas dan dokter puskesmas tentang AMP sudah baik, mereka sudah memahami kegiatan AMP dan hanya sebahagian kecil ditemukan masih ada bidan dan dokter puskesmas yang belum memahami AMP secara baik hal ini disebabkan karena dokter dan bidan tersebut masih baru dan belum mendapatkan pelatihan mengenai AMP atau bidan puskesmas tersebut jarang mengikuti kegiatan AMP. Hal ini perlu diperbaiki dengan melakukan pembinaan khusus berupa pelatihan dan bimbingan oleh tim AMP kabupaten.

Dokumen terkait