HASIL PENELITIAN
D. Indikator outcome
5.3.2. Tindak Lanjut
Tindak lanjut AMP merupakan suatu langkah nyata dalam upaya melaksanakan rekomendasi yang dihasilkan dalam setiap pertemuan AMP, kegiatan ini merupakan hal yang sangat penting dalam kesinambungan kegiatan AMP untuk meningkatkan mutu pelayanan dan perluasan jangkauan pelayanan KIA.
Sebagai tindak lanjut dari rekomendasi yang dihasilkan dari kegiatan AMP, akandilakukan pembelajaran dan pembinaan yang ditujukan untuk memperbaiki mutu pelayanan kesehatan maternal dan perinatal/ neonatal.
Dibandingkan dengan pelaksanaan AMP di Bantul (2013) tentang tindak lanjut sebagai hasil dari rekomendasi yaitu peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kehamilan dan persalinan sehat termasuk KB, Refreshing tatalaksana kegawat daruratan obstetri bagi petugas, pengembangan respon cepat ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas resiko tinggi, optimalisasi puskesmas PONED dan Rumah Sakit PONEK, jejaring rujukan KIA dan intervensi gizi.
Sama halnya juga dengan pelaksanaan AMP di Gunung Kidul (2013) tindak lanjut juga merupakan sebagai hasil rekomendasi yang dihasilkan seperti, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam penanganan kegawat daruratan pada ibu dan bayi, pemberdayaan masyarakat melalui desa siaga, memperbaiki sistem rujukan karena Gunung Kidul geografisnya sulit sehingga deteksi dini saat ANC lebih dioptimalkan dan diupayakan rujukan secara dini dan terencana.
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa, banyak tindak lanjut yang dilaksanakan dan sudah banyak manfaatnya selalu dilakukan baik ditingkat
puskesmas maupun tingkat kabupaten terhadap peningkatan mutu dan perluasan kegiatan AMP, akan tetapi diketahui pula adanya rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terutama yang berkaitan dengan langkah- langkah yang memerlukan dana besar dan sarana yang mahal serta yang berkaitan dengan prilaku petugas dan masyarakat. Hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah bentuk tindak lanjut dari rekomendasi yang dilakukan di Kabupaten Langkat tidak ada tertulis secaara rinci atau tidak ada pendokumentasiannya . Secara keseluruhan tindak lanjut dilakukan berdasarkan rekomendasi yang diajukan tim pengkaji kemudian peserta AMP memberikan data kepada tim AMP kabupaten tentang rencana tindak lanjut yang akan dilakukan di puskesmas. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dan upaya – upaya perbaikan sehingga langkah-langkah tindak lanjutpun lebih sederhana dan tidak sulit untuk dilaksanakan serta perlu adanya pembinaan kepada petugas dan masyarakat dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai manfaat kegiatan AMP.
BAB 6
KESIMPULANDANSARAN
6.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan penelitian “Evaluasi kegiatan Audit Maternal Perinatal (AMP ) Dalam Penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi Di Kabupaten Langkat Tahun 2014” dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengetahuan dan pemahaman Bidan Koordinator (petugas kesehatan ) sudah cukup baik, ini disebabkan karena pada umumnya Bidan Koordinator sudah pernah mendapat pelatihan tentang AMP dan sudah sering mengikuti pertemuan AMP.
2. Struktur organisasi AMP selama ini belum tertata dengan baik karena SK AMP yang lama dari Kepala Dinas Kesehatan sudah tidak ada tetapi dengan adanya surat keputusan Bupati No 440.05- 41/K/ 2014 Langkat tentang tim AMP Kabupaten Langkat maka diharapkan dapat tertata dengan baik.
3. Sarana yang diperlukan untuk menunjang kegiatan AMP sudah memadai pada kegiatan AMP belangsung, tetapi belum lengkap terutama sarana administrasi dalam hal penggandaan formulir Otopsi Verbal Maternal (OVM) maupun Otopsi Verbal Perinatal (OVP) terutama di tingkat puskesmas.
4. Anggaran yang tersedia untuk kegiatanAMP perlu ditingkatkan untuk menunjang pelaksanaan AMP yang lebih baik dan frekuensi pertemuan AMP
pelaksanaannya masih 2 kali dalam setahun masih belum sesuai dengan pedoman AMP tahun 2010.
5. Koordinasi antar petugas dalam pelaksanaan kegiatan AMP masih kurang baik, karena kurangnya kerjasama yang baik dengan rumah sakit dalam hal pelaporan kasus kematian yang terjadi di rumah sakit tidak pernah dilaporkan ke dinas kesehatan sedangkan untuk kasus kematian yang terjadi diluar rumah sakit selalu dilaporkan oleh pihak puskesmas ke dinas kesehatan.
6. Metoda yang dipakai dalam pelaksanaan kegiatan AMP sebahagian sudah baik tetapi sebahagian lagi masih belum mengacu pada pedoman AMP 2010
7. Bimbingan teknis dan supervisi yang dilkukan oleh tim AMP kabupaten ke puskesmas belum optimal.
8. Rekomendasi yang dihasilkan pada kegiatan AMP sudah cukup baik, tetapi masih terbatas pada kasus- kasus tertentu.
9. Tindak lanjut kegiatan AMP oleh tim AMP Kabupaten sudah dilakukan, tetapi masih belum tertulis secara rinci, begitu juga pada tingkat puskesmas masih belum ada tindak lanjut secara tertulis.
6.2 Saran
1. Tim AMP Kabupaten perlu mengadakan pelatihan lagi tentang pengisian formulir Otopsi Verbal Maternal dan Otopsi Verbal Perinatal bagi setiap petugas kesehatan baik bidan maupun dokter puskesmas yang baru dan pelatihan penyegaran bagi bidan dan dokter yang lama.
2. Sosialisasikan program AMP berdasarkan Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten Langkat.
3. Kepala puskesmas selaku penanggung jawab kegiatan AMP didaerahnya perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dengan sering melakukan konsultasi ke tim AMP Kabupaten sehingga dapat melakukan pembinaan teknis di tingkat puskesmas.
4. Dinas Kesehatan, agar merencanakan anggaran untuk kegitan AMP sesuai dengan frekuensi pelaksanaan minimal 3 bulan sekali dalam setahun yang sesuai dengan pedoman AMP begitu juga kepada kepala dinas kesehatan agar memberikan dukungan terhadap anggaran yang telah disusun untuk mencapai pelaksanaan AMP yang lebih baik
5. Tim AMP kabupaten agar meningkatkan frekuensi pembinaan teknis dan supervisi ke puskesmas yang ada di kabupaten Langkat serta mempunyai format tertentu yang sudah disepakati oleh tim dalam melakukan supervisi dan pembinaan teknis.
6. Penanggung jawab AMP adalah Kepala Dinas Kesehatan untuk itu ada tembusan kegiatan RS ke Dinas Kesehatan maka Direktur rumah sakit/ pimpinan rumah sakit agar mempunyai komitmen melaporkan kasus yang terjadi di rumah sakit ke Dinas kesehatan.
7. Tim AMP kabupaten agar melaksanakan kegiatan AMP Kabupaten sesuai dengan pedoman AMP tahun 2010 secara keseluruhan.