BAB V HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Informan
Dalam penelitian ini, seluruh informan berjumlah 10 orang yang terdiri dari 4 orang pasien sebagai informan kunci, 4 orang keluarga pasien sebagai informan pendukung, 1 orang perawat ruangan yang bertugas di Irna B Lt.4 Utara sebagai informan pendukung, dan 1 orang dokter spesialis bedah yang juga sebagai informan pendukung.
Tabel 5.1 Karakteristik Informan Kunci
No. Identitas Pasien Umur Jenis Kelamin
Pekerjaan Pendidikan Terakhir
1. Informan 1 49 tahun P IRT SD
2. Informan 2 20 tahun L Sopir SD
3. Informan 3 39 tahun L Pedagang SD
Tabel 5.2 Karakteristik Informan Pendukung (Petugas Kesehatan) No. Identitas Informan Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Terakhir 1. Ns. S 35 tahun L Perawat S1 Kep 2. dr. W 33 tahun P Dokter S2
Tabel 5.3 Karakteristik Informan Pendukung (Keluarga Pasien)
No. Identitas Informan Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Terakhir 1. Nn. S 25 tahun P - SMK 2. An. H 16 tahun L Pelajar SMA 3. Tn. I 22 tahun L Karyawan SPBU SMK 4. Tn. J 29 tahun L Satpam SMA
B. Gambaran Pengetahuan tentang Mobilisasi Dini
1. Pengetahuan tentang Pengertian Mobilisasi Dini
Dari hasil penelitian diketahui bahwa semua informan kunci mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui dan tidak mengerti mengenai pengertian mobilisasi dini karena belum pernah mendapatkan pengalaman operasi pada diri sendiri ataupun keluarga. Seperti ungkapan berikut :
Informan 1 :
“Saya nggak tahu tuh mba apa yang dimaksud dengan pergerakan setelah operasi soalnya belum dikasih tahu jadi saya nggak tahu.”
Informan 2 :
“apa ya...saya kurang tahu mba soalnya ini baru pertama kali, sebelumnya nggak pernah ada yang dioperasi jadi nggak ada yang tahu juga.”
Informan 3 :
“Sebelumnya saya nggak tahu dan nggak pernah denger tentang ngelakuin pergerakan setelah operasi orang kejadiannya mendadak gini, sebelumnya juga nggak ngerasain apa-apa orang waktu itu selesai dagang terus makan eh langsung perutnya mules jadi harus dilakukan tindakan operasi karena takutnya pecah di dalam nanti malah biayanya lebih mahal.”
Informan 4 :
“Kalo itu apa ya...saya nggak ngerti mba, namanya baru pertama kali jadi nggak tahu dan nggak pernah ada pengalaman sebelumnya, di keluarga juga nggak ada yang pernah operasi usus buntu.”
Begitu pula dengan keluarga masing-masing pasien saat ditanyakan mengenai pengertian mobilisasi dini. Hampir semua dari informan pendukung (keluarga pasien) juga mengatakan bahwa kurang mengetahui tentang pengertian mobilisasi dini. Berikut adalah ungkapan keluarga pasien :
Nn. S (25 tahun)
“Jujur ya mba karena ini pengalaman pertama nganter ibu ke rumah sakit... sekalinya nganter tau-tau ibu disuruh di operasi, jadi nggak tahu apa itu pergerakan setelah operasi karena ini pengalaman pertama banget.”
An. H (16 tahun)
“Nggak tahu mba,,,”
Tn. I (22 tahun)
“Kalo disuruh ngejelasin saya bingung mba, nggak tahu mau jelasin apa soalnya saya kurang tahu apa itu pergerakan setelah operasi...paling kalo ngelakuin pergerakan setelah operasi bisa bikin badan nggak pada kaku,,,itu kali ya mba.”
Tn. J (29 tahun)
“Duh...kurang tahu juga ya mba, soalnya nggak pernah denger sih tentang pergerakan setelah operasi.”
2. Pengetahuan tentang Tujuan Mobilisasi Dini
Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian informan menyebutkan tujuan dari melakukan pergerakan adalah untuk mempercepat prosese penyembuhan, memperpendek masa sakit atau
perawatan, agar keadaan tubuh dapat kembali pada kondisi sebelum sakit sehingga dapat beraktivitas seperti biasa. Seperti ungkapan berikut :
“....ya tujuannya biar saya cepat sembuh, biar kondisi saya pulih kaya sebelum sakit, biar bisa kerja lagi...”
“....kalau menurut saya, kita melakukan sesuatu pasti ada tujuannya, dan pasti tujuannya baik untuk kita...kaya saya melakukan pergerakan biar badan saya enakan, terus biar cepat pulang, dan bisa kerja lagi...”
3. Pengetahuan tentang Tahap-Tahap Mobilisasi Dini
Hampir semua informan kunci mengatakan bahwa mobilisasi dini dilakukan jika sudah ada instruksi dari perawat atau dokter. Ada juga informan yang menjawab tidak mengetahui, bingung harus mengikuti informasi yang mana untuk memulai melakukan mobilisasi dini. Seperti yang diungkapkan berikut :
“...kalau saya tunggu dibolehin sama dokter atau perawatnya, kalau dokter atau perawatnya bilang boleh gerakin ya saya gerakin. Tadi dokternya datang katanya saya sudah boleh miring ke kiri miring ke kanan trus duduk kalo bisa jalan-jalan...”
“...saya kan tadi malam operasi sekitar jam 10, trus paginya pas dokter datang katanya jangan banyak gerak dulu jadi saya belum melakukan pergerakan paling cuma gerak-gerakin kaki aja, trus tadi pas jam 12 sama perawat katanya ‘silahkan boleh makan trus digerakin, miring kanan miring kiri biar bisa buang gas’ gitu katanya...saya nggak tahu kapan sebenernya harus gerak-gerakin badan, saya mah tunggu dibolehin sama dokternya aja baru saya berani gerak-gerak...”
Nn. S (25 tahun)
“tadi sih ada yang bilang coba miring ke kiri dan miring ke kanan trus duduk...tapi ada juga yang bilang jangan digerakin dulu katanya tunggu 24 jam dulu baru boleh duduk, jadi bingung mau ikutin saran yang mana.”
Menurut pendapat perawat, pasien pasca operasi appendectomy
diperbolehkan melakukan pergerakan 24 jam setelah operasi karena dikhawatirkan jika terlalu dini melakukan mobilisasi dapat terjadi kelumpuhan, mual, pusing. Hal tersebut terjadi karena pengaruh anestesi spinal dimana rata-rata pasien yang menjalani operasi
appendectomy menggunakan anestesi tersebut. Seperti ungkapan berikut ini :
“biasanya kalau di sini pasien yang telah menjalani operasi diperbolehkan untuk melakukan mobilisasi dini yaitu 24 jam setelah operasi itu untuk pasien yang dengan anestesi spinal baru boleh melakukan pergerakan, walaupun dalam teori disebutkan 6-8 jam pertama setelah operasi sudah boleh melakukan pergerakan...karena ditakutkan ya efek dari anestesinya itu, apalagi kalau pasien dengan anestesi spinal ditakutkan kalau terlalu dini mobilisasinya nanti terjadi kelumpuhan atau mungkin pasien itu merasa pusing, mual...tetapi kalau pasien yang dianestesi umum itu biasanya sih 12 jam setelah operasi sudah boleh melakukan pergerakan.”
Kebanyakan informan mengatakan tidak tahu mengenai gerakan pertama yang boleh dilakukan setelah pasien menjalani operasi. Mereka mengatakan bahwa diberi tahu oleh dokter sudah boleh miring kanan miring kiri dan duduk. Seperti ungkapan :
Informan 1 :
“saya nggak tahu...cuma tadi sih dokternya bilang katanya miring- miring ke kiri trus ke kanan, abis itu boleh duduk trus jalan...”
Informan 2 :
“saya nggak tahu pasti mba...tapi paling boleh gerak-gerakin kaki sama miring-miring aja...”
Informan 3 :
“ya...paling boleh miring ke kiri miring ke kanan trus boleh duduk, kata dokter tadi pas datang sih begitu mba...”
Informan 4 :
“kalau menurut saya sudah boleh gerak-gerakin kaki aja, trus miring-miring ke kanan ke kiri trus saya juga sudah mulai jalan ke kamar mandi...”
Beberapa informan mengatakan pada hari kedua mereka mungkin sudah diperbolehkan untuk berjalan, akan tetapi sebagian informan juga mengatakan bahwa pada hari pertama setelah operasi sudah boleh berjalan. Seperti ungkapan :
Informan 1 :
“kata dokternya sih kalau ntar sudah nggak pusing atau mual ntar siang (hari pertama setelah operasi) juga boleh jalan-jalan...”
Informan 2 :
“paling besok (hari kedua setelah operasi) sudah boleh jalan...sebenernya sekarang juga sudah boleh jalan tapi saya nggak berani, nggak kuat soalnya kepalanya sakit”
Informan 3 :
“mungkin besok (hari kedua setelah operasi) sudah boleh jalan, kaya jalan ke kamar mandi atau di ruangan ini paling sudah boleh..”
Informan 4 :
“hari ini (hari pertama setelah operasi) sudah bisa jalan...”
Menurut beberapa informan, gerakan pertama yang boleh dilakukan pada hari kedua adalah duduk dan berjalan. Seperti ungkapan :
Informan 1 :
“mungkin duduk sama jalan, tapi kalau jalan saya kayanya belum berani soalnya nggak berani turun dari tempat tidur, soalnya tempat tidurnya tinggi banget jadi takut kalau jahitannya robek...tapi kata dokter saya besok sudah boleh pulang.”
Informan 2 :
“paling besok sudah boleh makan, soalnya sekarang belum boleh makan trus sama boleh duduk...itu aja kali mba...”
Informan 3 :
“ya...paling sudah boleh jalan,,,”
Informan 4 :
“ehm....besok ya, mungkin dah dijinin jalan sama dokternya, tapi hari ini saya kan juga sudah jalan, trus boleh apa lagi ya...ehm, nggak tahu lagi mba boleh ngapain...”
Gerakan pada hari ketiga yang boleh dilakukan menurut beberapa informan adalah duduk, makan, dan berajalan atau sama dengan gerakan pada hari kedua. Akan tetapi ada seorang informan yang
mengatakan tidak mengetahui gerakan apa yang boleh dilakukan di hari ketiga setelah operasi. Seperti ungkapan :
Informan 1 :
“ya...nggak tahu juga sih mba kan saya belum dikasih tahu lagi sama dokter sama perawatnya boleh ngapain aja...orang besok aja saya katanya sudah boleh pulang jadi nggak sampe 3 hari saya dirawat di sini...”
Informan 2 :
“apa ya mba...ya mungkin sama aja boleh duduk, jalan, boleh makan itu aja sih mba.”
Informan 3 :
“ya...paling sama boleh jalan-jalan, itu aja”
Informan 4 :
“ya...paling boleh jalan-jalan aja mba, jalan-jalannya juga paling di sekitar kamar aja, trus jalan ke kamar mandi...pingin juga jalan keluar tapi kayanya nggak deh soalnya repot juga kalau sendiri kan nggak ada yang pegangin infusannya nanti.”
4. Pengetahuan tentang Manfaat Mobilisasi Dini
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan didapatkan hasil bahwa ada seorang informan yang mengatakan tidak mengetahui manfaat melakukan pergerakan setelah operasi. Hal tersebut diakui informan karena belum dikasih tahu oleh perawat yang bertugas. Sedangkan sebagian informan mengatakan bahwa manfaat dari melakukan mobilisasi setelah operasi adalah agar aliran darah dalam tubuh jadi lancar sehingga badan tidak terasa pegal, untuk pemulihan kondisi tubuh misalnya angin yang ada dalam perut dapat keluar dan
bisa memperlancar buang air kecil, kemudian agar kaki tidak terasa kaku sehingga dapat cepat pulang dan tidak terlalu lama dirawat di rumah sakit. Seperti ungkapan berikut ini :
Informan 1 :
“saya nggak tahu...kan belum dikasih tahu sama dokter sama perawatnya juga belum dikasih tahu kalau gerak-gerakin badan itu untuk apa,,,jadi ya saya nggak tahu untuk apa...”
Informan 2 :
“nggak tahu juga sih mba...tapi mungkin biar kaki nggak pada kaku, biar cepat sembuh, trus biar bisa cepat pulang...”
Informan 3 :
“ya...ada manfaatnya juga sih, jadi biar darah ngalirnya lancar jadi kalau kurang gerak juga nggak bagus, badan kayanya terasa pegal semua...”
Informan 4 :
“ya...kalau saya pikir mah buat pemulihan kondisi saya berarti kalau sudah bisa bergerak mungkin saya sudah pulih, saya mah saya ikutin aja kan katanya begini-begini, saya juga kalau diam aja kan nggak betah jadi saya lebih enak bergerak...kadang-kadang saya miringin jadi bisa keluar kentutnya gitu kan kaya pipis juga ya biar bisa keluar jadi ya cari enaknya aja gitu...menurut saya ya ada pengaruhnya juga...”
Sebagian besar informan dari pihak keluarga juga mengatakan bahwa manfaat dari melakukan pergerakan setelah operasi adalah agar darahnya tidak beku, melancarkan aliran darah, dan agar badan tidak kaku. Seperti ungkapan berikut ini :
Nn. S (25 tahun)
“ya...itu seperti yang saya baca di mading depan manfaatnya untuk ya biar darah nggak beku, melancarkan peredaran darah, untuk
apa lagi ya mba saya lupa tapi yang saya ingat dari baca di mading ya untuk itu...ya tahunya juga waktu itu dari teman juga pas lagi jenguk ibu katanya kalau nanti sudah enakan miring kiri miring kanan, saya tanya tahunya dari mana katanya itu ada di mading depan.”
An. H (16 tahun)
“biar nggak kaku aja...ehm,,,itu kali mba tapi saya nggak tahu lagi”
Tn. I (22 tahun)
“ya...mungkin biar badannya ga kaku aja kali.”
Tn. J (29 tahun)
“ya...menurut saya sih ada manfaatnya juga, untuk apa ya...supaya dia nggak kaku aja badannya...apa lagi sih ya saya bingung juga.”
Dari hasil wawancara diketahui bahwa masih ada informan yang tidak tahu mengenai mobilisasi dini. Hal tersebut dikarenakan informan belum pernah mendapatkan informasi sebelumnya mengenai mobilisasi dini sebelum informan (pasien) menjalani operasi atau memang informan belum pernah mendengar mengenai pergerakan setelah operasi. Hal itu disebabkan beberapa pasien menjalani operasi secara mendadak atau tiba-tiba (cyto) tanpa ada perencanaan atau harus menginap terlebih dahulu di ruang rawat inap. Informan juga mengaku tidak mendapat informasi dari perawat sebelum operasi hanya setelah operasi perawat menganjurkan untuk mulai melakukan pergerakan. Seperti ungkapan berikut ini :
Informan 1 :
“saya sebelumnya nggak pernah dapat informasi tentang pergerakan setelah operasi, paling baru dapat informasinya pas sudah operasi pagi-paginya dikasih tahu dokter buat gerak-gerak terus sama perawatnya juga disuruh gerak-gerak,,itu aja...”
Informan 2 :
“nggak, saya nggak pernah dapat informasi sebelum saya dioperasi, sama perawat atau dokternya juga nggak dikasih tahu...tapi baru tadi saya dikasih tahu buat gerak-gerakin badan terus miring-miring.”
Informan 3 :
“nggak sih mba, saya baru tahu informasi setelah saya operasi,,paginya dokter datang terus ngasih tahu buat gerak- gerakin badan kalau sudah enakan, terus perawatnya juga datang dan nyuruh saya buat gerak-gerak.”
Informan 4 :
“saya nggak pernah dapat informasi, jadi saya nggak begitu ngerti...saya baru tahu pas sudah selesai operasi dan sudah ada di ruangan, perawatnya baru kasih tahu kalau saya boleh gerak- gerak...”
Perawat juga mengatakan bahwa pemberian informasi mengenai mobilisasi dini itu jarang diberikan sebelum operasi tetapi biasanya diberikan setelah operasi. Informasi tersebut disampaikan kepada keluarga dan pasien menyangkut hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh pasien mengenai mobilisasi dini. Seperti ungkapan berikut : Tn. S (perawat)
“biasanya informasi itu diberikan sebelum operasi itu jarang dilakukan, yang biasanya dilakukan adalah setelah operasi, kalau setelah operasi itu pasien keluar dari kamar operasi kita jemput baru keluarga dan pasien diberikan informasi hal-hal apa yang
harus dilakukan mengenai mobilisasi dini pada pasien. Misalnya setelah 24 jam pertama pasien kita anjurkan untuk pertama miring kiri miring kanan kemudian pada hari berikutnya pasien sudah bisa duduk abis itu kalau tidak ada keluhan apa-apa baru pasien boleh berdiri di samping tempat tidur baru sorenya sudah bisa jalan, sudah bisa aktif...”
Selain kurangnya informasi yang tidak didapatkan informan sebelumnya, sebagian informan mengatakan bahwa tidak ada pengalaman sebelumnya menjadi alasan informan tersebut tidak mengetahui mengenai mobilisasi dini. Hal tersebut diungkapkan seperti :
“apa ya...saya kurang tahu mba soalnya ini baru pertama kali...” “jujur ya mba karena ini pengalaman pertama...jadi nggak tahu apa itu pergerakan setelah operasi karena ini pengalaman pertama banget.”
Di samping itu, adanya keyakinan dalam diri informan yang didapat dari teman bahwa jika melakukan banyak pergerakan itu dapat mempengaruhi kondisi tubuh sehingga tubuh menjadi lemah. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut :
“...kata teman saya yang sama dengan saya dioperasi usus buntu katanya jangan banyak bergerak dulu sedangkan saya sudah banyak gerak malah sudah jalan, saya kan awam baru ngerasain kaya gini dioperasi kalau teman saya itu kan diam aja mungkin karena dia pernah ngerasain operasi cesar jadinya tahu mungkin makanya kondisinya makin hari makin tambah enak, nah kalau saya malah kaya orang payah begini malah jadi lemah....”
C. Gambaran Perilaku Informann Mengenai Mobilisasi Dini 1. Perilaku Informan Hari Pertama Setelah Operasi
Pada umumnya, semua informan mengatakan bahwa mereka baru berani untuk melakukan mobilisasi dini kurang lebih 10-12 jam setelah operasi dan jika sudah diperbolehkan oleh dokter atau perawat untuk melakukan pergerakan. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada beberapa kutipan berikut :
“tadi sekitar jam 9an atau ½ 10an saya sudah bisa gerak-gerakin kaki sama miring ke kiri miring ke kanan, soalnya tadi perawatnya bilang suruh miring-miring...jadi ya kalau dihitung-hitung sekitar 10 jam abis operasi saya baru bisa gerak-gerakin kaki.”
“tadi seh sekitar jam 8an saya mulai gerak-gerakin kaki padahal saya operasi jam ½ 9 malam tapi saya baru bisa gerak-gerakin tadi pagi jam 8, saya disuruh juga miring kiri dan miring kanan terus saya ikutin juga jadi saya sudah berani miring kiri miring kanan...”
Seperti ungkapan di atas, pergerakan yang sering dilakukan informan pada hari pertama adalah miring kanan miring kiri, mengangkat tangan, dan mengangkat kaki. Seperti ungkapan berikut :
“nggak begitu sering seh mba, baru 2 kali saya miring ke kiri dan miring ke kanan..”
“ya sekitar jam 10an saya sudah mulai angkat kaki atau saya gerak- gerakin...”
2. Perilaku Informan Hari Kedua Setelah Operasi
Berdasarkan pernyataan dari beberapa informan bahwa pada hari kedua setelah operasi, mereka sudah mulai berani untuk duduk dan
berjalan. Akan tetapi, ada juga seorang informan yang belum berani untuk jalan karena takut untuk turun dari tempat tidur yang agak tinggi menurutnya. Seperti ungkapan berikut ini :
“hari ini saya sudah bisa duduk, tadi juga sudah duduk pas makan, hanya saja saya belum berani ke kamar mandi karena saya belum berani turun soalnya tempat tidurnya tinggi....”
“...tadi sudah jalan-jalan ini juga sudah duduk soalnya dokternya bilang jangan tiduran mulu jalan aja sambil jalan-jalan sedikit...”
3. Perilaku Informan Hari Ketiga Setelah Operasi
Pada hari ketiga setelah operasi, informan melakukan pergerakan yang sama seperti dengan pergerakan pada hari kedua, yaitu duduk, berjalan di ruangan atau ke kamar mandi. Hanya saja untuk ke kamar mandi informan harus ditemani keluarga, akan tetapi ada informan yang sudah berani berjalan ke kamar mandi sendiri. Seperti ungkapan :
“hari ini saya tadi udah jalan ke kamar mandi tapi kalau sendiri belum berani kan nggak ada yang pegangin infus, tadi ditemani sama keponakan saya, jadi saya masih ditemani...”
“...kalau ke kamar mandi kalau nggak ditemani saya nggak berani soalnya masih ngerasa pusing jadi takut jatuh...kalau jalan aja masih belum tegak masih agak bungkuk karena kan masih sakit”
“...saya sekarang udah ngerasa enakan aja mba, udah duduk sebenernya dari kemarin juga udah bisa duduk, ya sama aja laha pergerakannnya kaya kemarin, duduk, jalan-jalan, kalau sekarang saya ke kamar mandi sendiri aja, saya bolak-balik aja sendiri ke kamar mandi...”
Keluarga informan juga mengatakan bahwa jika ke kamar mandi keluarga membantu informan, karena khawatir takut jatuh saat ke kamar mandi. Seperti ungkapan berikut :
“...kalau ke kamar mandi juga saya bantuin soalnya kalau sendiri takut jatuh aja kan di kamar mandi licin...”
4. Persepsi akan rasa takut untuk melakukan mobilisasi dini
Persepsi informan akan perasaan takut saat melakukan mobilisasi dini dapat mempengaruhi perilaku informan untuk melakukan mobilisasi atau tidak. Mereka mengatakan bahwa jika banyak bergerak takut jahitan pada luka operasinya lepas/robek sehingga lukanya tidak sembuh. Pernyataan tersebut seperti yang diungkapkan :
“iya mba, ada rasa takut waktu saya coba buat gerak-gerak...ya yang saya takutin ya itu takut luka operasinya nggak sembuh, kan baru banget dioperasi jadi takut jahitannya lepas...”
“ya, ada...agak takut-takut juga, karena kalau banyak gerak takut ininya (sambil menunjuk ke luka operasi) jahitannya berubah, jadi takut jahitannya robek...”
Perawat juga mengatakan bahwa biasanya pasien tidak melakukan mobilisasi dini dikarenakan pasien takut dan tidak paham. Hal ini diungkapkan seperti berikut :
“biasanya pasien tidak melakukan mobilisasi dini itu karena pasien itu takut dan tidak paham, kebanyakan kan pasien dan keluarganya masih awam tentang mobilisasi dini...”
5. Persepsi akan rasa nyeri saat melakukan mobilisasi dini
Selain rasa takut, rasa nyeri yang dialami juga menyebabkan informan yang awalnya melakukan mobilisasi dini menjadi terhambat sehingga informan tersebut menghentikan pergerakan dan menunggu rasa nyeri itu hilang baru melakukan pergerakan kembali. Seperti ungkapan berikut :
“...kalau lagi duduk atau gerak-gerakin badan ada terasa nyeri ya saya nggak lanjutin paling saya iduran atau istirahat dulu sampai nyerinya hilang..”
“kalau nyeri atau ngerasa sakit kepala paling saya tiduran doang...kan sakit kepalanya atau nyerinya kalau abis ngelakuin gerakan kaya berdiri, abis jalan, lama kelamaan jadi sakit...terus kalau pusing gitu paling saya duduk tapi tempat tidurnya agak ditinggiin...”
“kalau nyeri saya nggak berani buat jalan mba, paling ya buru-buru duduk aja, duduk juga kalau kelamaan masih ada rasa ngilu ya kaya ada rasa bengkak atau memar aja gitu mba, kalau nggak duduk ya saya tiduran aja di tempat tidur...”
“ya kaya tadi aja mba, saya kalau nyeri pegangan buat bergerak ya miring kanan miring kiri sambil nahan sakit (menunjukkan wajah meringis) kalau sakit ya pokoknya saya cari posisi enak aja deh,,,biar