• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN"

Copied!
225
0
0

Teks penuh

(1)

DI RSUP FATMAWATI TAHUN 2009

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Oleh :

RIZKA RISMALIA NIM : 105104003481

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

(2)
(3)

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

Nama : Rizka Rismalia

NIM : 105104003481

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Tahun Akademik : 2005

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan skripsi saya yang berjudul :

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN PASCA OPERASI APPENDECTOMY TENTANG MOBILISASI DINI DI RSUP FATMAWATI TAHUN 2009

Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan menerima sanksi yang telah ditetapkan.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta, 26 Januari 2010

(4)

Nama : Rizka Rismalia Tempat dan Tanggal Lahir : Jakarta, 3 Juli 1987

Agama : Islam

Alamat : Jl. Winong RT 002 RW 05 No. 17 Sudimara Timur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten 15151

Telepon : (021) 7338050

Riwayat Pendidikan : SDN Kreo 3 (1993-1994)

SDN Sudimara Timur (1994-1999) SLTP Negeri 219 Jakarta (1999-2002) SMA Negeri 90 Jakarta Selatan (2002-2005)

Program S1 Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2005-2009)  

 

 

 

 

 

 

 

(5)

Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita

inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan,

akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang

tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia

(Kahlil Gibran)

Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak

menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan

saat mereka menyerah

(Thomas Alfa Edison)

Dalam menjalani hidup, kadang kita harus tetap tertawa

walau sebenarnya ingin menangis,

tetap tersenyum walau sebenarnya sudah tidak sanggup lagi,

tetap semangat walau tertekan masalah,

yang terpenting tetap besabar

dan memandang semuanya baik-baik saja walaupun terluka

(6)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, 20 Desember 2009

Rizka Rismalia

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN PASCA OPERASI

APPENDECTOMY TENTANG MOBILISASI DINI DI RSUP FATMAWATI TAHUN 2009

xvii + 107 halaman, 5 tabel, 1 gambar, 9 lampiran

ABSTRAK

Mobilisasi dini merupakan salah satu program yang dibuat untuk mendukung penyembuhan kondisi pasien. Pelaksanaan mobilisasi dini dapat dilakukan segera setelah pasien sadar atau setelah dianjurkan oleh dokter atau perawat. Akan tetapi, kebanyakan pasien pasca operasi appendectomy lebih sering berbaring di tempat tidur. Hal tersebut dikarenakan pasien merasa takut jahitan pada luka operasi akan robek dan tidak sembuh. Selain itu, adanya pengaruh dari orang-orang sekitar seperti keluarga dan kerabat untuk tidak melakukan banyak pergerakan setelah operasi mengakibatkan pasien malas untuk mobilisasi dini, biasanya kepercayaan atau anggapan tersebut disebabkan karena kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga tentang manfaat melakukan mobilisasi dini setelah operasi. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki pasien pasca operasi appendectomy dapat berpengaruh pada perilaku untuk melakukan mobilisasi dini.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku pasien pasca operasi appendectomy tentang mobilisasi dini di RSUP Fatmawati Jakarta. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pengetahuan pasien mengenai pengertian, tujuan, tahap-tahap, dan manfaat mobilisasi dini serta mengetahui perilaku pasien dalam melaksanakan mobilisasi dini. Penelitian ini dilaksanakan di IRNA B Lt. 4 Bedah Utara RSUP Fatmawati dengan menggunakan metode kualitatif, dimana pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 4 orang informan kunci yaitu pasien yang telah menjalani operasi appendectomy, dan informan pendukung yang terdiri dari 4 orang keluarga pasien, 1 orang perawat, dan 1 orang dokter spesialis bedah.

(7)

dini. Dengan demikian disarankan untuk memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang mobilisasi dini sebelum pasien itu menjalani operasi agar setelah operasi pasien telah mengetahui manfaat mobilisasi dini dan mendapatkan gambaran tentang cara-cara mobilisasi dini sehingga pasien tidak merasa takut dan mau melakukan mobilisasi dini. Selain untuk memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi dini, hal ini juga dianjurkan untuk penyediaan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan mobilisasi dini yang dilakukan mulai dari kamar operasi sebelum tindakan sampai tindakan setelah operasi.

Daftar bacaan : 32 (1898-2009)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(8)

STATE ISLAMIC UNIVERSITY (UIN) OF SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Undergraduate Thesis, December 20th, 2009

Rizka Rismalia

DESCRIPTION OF KNOWLEDGE AND BEHAVIOUR POST OPERATIVE PATIENTS ON APPENDECTOMY ABOUT EARLY MOBILIZATION IN FATMAWATI

HOSPITAL, 2009

xvii + 107 pages, 5 tables, 1 picture, 9 appendixes

ABSTRACT

Early mobilization is one of the programs created to support the healing of the patient's condition. The implementation of early mobilization can be done immediately after the patient was conscious or when recommended by a doctor or nurse. However, most patients after appendectomy surgery more often lie in bed. That is because the patient was afraid the stitches on the wound will tear and not recovered. In addition, the influence of the people around like family and relatives usually instinct the patients doing much motion after surgery. These conditions affected the patients becoming hesitant to do early mobilization, generally beliefs or assumptions due to lack of knowledge of patients and families about the benefits of early mobilization after surgery. Lack of knowledge of post-operative patients with appendectomy could affect the patient’s behaviour in carrying out early mobilization.

The general objective of this study was to determine the description of knowledge and behaviour post-operative patients on appendectomy about early mobilization in Fatmawati Hospital Jakarta . The purpose of this study was to obtain in-depth information about the patient's knowledge about the meaning, purpose, stages, and the benefits of early mobilization and knowing the patient's behaviour in carrying out early mobilization. This research was carried out in IRNA B fl. 4 North Surgical Fatmawati Hospital by using qualitative methods, where data collection is done by using in-depth interviews and observation. Informants in this study consisted of 4 people as the key informants. They were the patients who had undergone appendectomy surgery, and 4 supporting informants consisted of 4 people of the patient’s family, 1 of nurse, and 1 surgeon.

(9)

surgery the patient has known the benefit of early mobilization and gain insight about the ways of early mobilization so that patients do not feel scared and want to mobilize early. In order to motivate patients for doing early mobilization, it is recommended to provide health education related to early mobilization being done started from surgical ward before surgery as well as post surgical intervention.

Reading list: 32 (1898-2009)  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(10)
(11)
(12)
(13)

هتاكربوﷲةمحرومكي ع اسلا

Bismillahirrahmanirrahiim...

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Pengetahuan dan Perilaku Pasien Pasca Operasi Appendectomy tentang Mobilisasi Dini di RSUP Fatmawati Tahun 2009”. Shalawat serta salam tak lupa kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Adapun penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep).

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran yang diberikan dari semua pihak akan sangat membantu untuk menyempurnakan skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. DR. dr (hc). MK Tadjudin, Sp. And selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

2. Drs. H. Achmad Gholib selaku Pembantu dekan II dan Dra. Farida Hamid, M.Pd selaku Pembantu Dekan III Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

3. Ibu Tien Gartinah, MN selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan dan juga sebagai Pembimbing I yang selalu meluangkan waktunya dan membimbing saya dengan sangat baik

(14)

6. Terima kasihku kepada ibu Rita Herawaty, S.Kp, M.Kep selaku Kepala IRNA B Lt. 4 Bedah RSUP Fatmawati dan juga selaku Pembimbing Lapangan yang telah menyediakan waktu dan memberikan masukan untuk skripsi ini

7. Terima kasih kepada ibu Iip Samikem selaku kepala ruangan IRNA B Lt. 4 Bedah Utara 8. Terima kasih kepada Ns. Sariaman selaku wakil kepala ruangan IRNA B Lt. 4 Bedah

Utara yang telah menyediakan waktunya untuk memberikan informasi mengenai mobilisasi dini

9. Terima kasih kepada dr. Wita, Sp. B yang telah meluangkan waktunya dan banyak memberikan informasi tentang mobilisasi dini

10.Terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua saya yang tiada henti mendoakan saya

11.Terima kasihku untuk para informan kunci Ny. I, Tn. R, Tn. T, dan Ny. W dan juga informan pendukung Nn. S, An. H, Tn. I, dan Tn. J yang memberikan waktunya dan bersedia untuk diwawancara demi kelangsungan skripsi ini

12.Kedua adik dan kakak saya, Restu Maulunida, Riyadul Asri, dan Riki Hardiansyah 13.Teman-teman angkatan 2005 yang memberikan semangat dan mewarnai hidup

Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya khususnya bagi penulis sendiri.

Peneliti

(15)

Daftar Riwayat Hidup ... ii

Lembar Persembahan ……… iii

Abstrak ... iv

Abstract ... vi

Kata Pengantar ... viii

Daftar Isi ... x

Daftar Tabel ... xv

Daftar Gambar ... xvi

Daftar Singkatan ... xvii

Daftar Lampiran ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Masalah Penelitian ... 5

C. Pertanyaan Penelitian ... 6

D. Tujuan Penelitian ... 7

E. Manfaat Penelitian ... 8

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. Konsep Pengetahuan ... ... 10

1. Pengertian Pengetahuan ... 10

(16)

2. Alasan Seseorang Berperilaku ... 18

C. Anatomi dan Fisiologi Apendiks ... 20

1. Anatomi Apendiks ... 20

2. Fisiologi Apendiks ... 21

D. Appendicitis ... 22

1. Definisi ... ... 22

2. Etiologi ... ... 22

3. Patofisiologi ... 24

4. Manifestasi Klinis ... 25

5.Komplikasi ... 26

6. Prognosis ... 27

7. Appendectomy ... 27

E. Konsep Operasi/Pembedahan ... 28

1. Pengertian Operasi/Pembedahan ... 28

2. Fase Operasi/Pembedahan ... 28

3. Anestesi Spinal ... 30

F. Konsep Mobilisasi Dini ... 30

1. Pengertian Mobilisasi Dini ... 30

2. Prinsip dan Tujuan Mobilisasi ... 31

3. Tahap Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Operasi ………….. 32

4. Manfaat Mobilisasi ... 33

5. Rentang Gerak Mobilisasi ... 35

(17)

8. Intervensi Keperawatan ... 47

G. Penelitian Terkait ... 48

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI ISTILAH ………… 50

A. Kerangka Konsep ... 50

B. Definisi Istilah ... 51

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 55

A. Desain Penelitian ... 55

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 56

C. Instrumen Penelitian ... 56

D. Populasi ... 57

E. Sampel ... 57

F. Teknik Pengumpulan Data ... 61

G. Validasi Data ... 63

H. Teknik Analisis Data ... 64

I. Sarana Penelitian ... 65

J. Etika Penelitian ... 65

BAB V HASIL PENELITIAN ... 67

A. Karakteristik Informan ... 67

B. Gambaran Pengetahuan tentang Mobilisasi Dini ... 69

(18)

4. Pengetahuan tentang Manfaat Mobilisasi Dini ... 75

C. Gambaran Perilaku Pasien Mengenai Mobilisasi Dini ... 80

1. Perilaku Informan Hari Pertama Setelah Operasi ... 80

2. Perilaku Informan Hari Kedua Setelah Operasi ... 80

3. Perilaku Informan Hari Ketiga Setelah Operasi ... 81

4. Persepsi akan rasa takut untuk melakukan mobilisasi dini ... 82

5. Persepsi akan rasa nyeri saat melakukan mobilisasi dini ... 83

6. Instruksi dari dokter atau perawat untuk Melakukan mobilisasi ... 84

7. Dukungan dari keluarga untuk melakukan Mobilisasi dini ... 84

8. Kondisi atau Keadaan Informan ... 85

9. Keyakinan/Sosio Budaya Informan untuk melakukan Mobilisasi dini ... 86

10. Motivasi Informan untuk melakukan mobilisasi dini ... 88

D. Hasil Observasi terhadap Informan ... 88

BAB VI PEMBAHASAN ... 93

A. Keterbatasan Penelitian ... 93

B. Gambaran Pengetahuan tentang Mobilisasi Dini ... 93

C. Gambaran Perilaku Pasien Mengenai Mobilisasi Dini ... 95

(19)

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 103

A. Kesimpulan ... 103

B. Saran ... 104

(20)

Nomor Tabel Halaman 4.1 Pengumpulan data untuk Uji Validitas di

RSUD Tangerang ... 59

4.2 Pengumpulan Data Penelitian di RSUP Fatmawati Jakarta Selatan ... 60

5.1 Karakteristik Informan Kunci ... 67

5.2 Karakteristik Informan Pendukung (Petugas Kesehatan) ... 68

(21)
(22)

ANA : American Nurses Association

BAK : Buang Air Kecil

BAB : Buang Air Besar

Depkes : Departemen Kesehatan

GALT : Gut Associated Lymphoid Tissue

IRNA : Instalasi Rawat Inap

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah

RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat

 

 

 

 

 

 

 

(23)

Nomor Lampiran

1. Lembar check list (observasi)

2. Pedoman wawancara mendalam informan kunci (pasien)

3. Pedoman wawancara mendalam informan pendukung (keluarga)

4. Pedoman wawancara mendalam informan pendukung (perawat)

5. Pedoman wawancara mendalam informan pendukung (dokter)

6. Lembar persetujuan responden

7. Hasil uji validitas

8. Matriks mengenai pengetahuan informan

9. Matriks mengenai perilaku informan

 

 

 

 

 

 

 

(24)
(25)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan merupakan suatu seni dan ilmu yang mencakup berbagai

aktivitas, konsep, dan keterampilan yang berhubungan dengan ilmu sosial dan

fisik dasar, etika dan isu-isu yang beredar serta bidang lain (Potter, 2005).

Definisi keperawatan telah berkembang sepanjang waktu. Sejak zaman

Florence Nightingale, yang telah menulis pada tahun 1858 bahwa tujuan

sebenarnya dari keperawatan adalah “menempatkan pasien pada kondisi yang

paling baik agar asuhan dapat berlangsung sebaik-baiknya”, sedangkan

Asosiasi Perawat Amerika (American Nurses Association-ANA), dalam

Pernyataan Kebijakan Sosialnya (Social Policy) pada tahun 1995

mendefinisikan keperawatan sebagai “diagnosis dan tindakan terhadap

respons manusia pada keadaan sehat maupun sakit” (Smeltzer, 2002).

Pelayanan keperawatan sebagai pelayanan profesional ditujukan pada

berbagai respons individu dan keluarga terhadap masalah kesehatan yang

dihadapinya termasuk respons pasien yang menjalani pembedahan seperti

pada pasien dengan appendectomy.

Appendectomy atau operasi pengangkatan usus buntu merupakan

kedaruratan bedah abdomen yang sering dilakukan di berbagai negara di

seluruh dunia. Di Amerika Serikat, lebih dari 250.000 appendectomy

(26)

stabil di Amerika Serikat selama 30 tahun terakhir, sedangkan insiden

appendicitis lebih rendah di negara berkembang dan negara terbelakang,

terutama negara-negara Afrika, dan lebih jarang pada kelompok sosio

ekonomi rendah. Di Indonesia insiden appendicitis cukup tinggi, terlihat

dengan adanya peningkatan jumlah pasien dari tahun ke tahun. Berdasarkan

data yang diperoleh dari Depkes (2008), kasus appendicitis pada tahun 2005

sebanyak 65.755 orang dan pada tahun 2007 jumlah pasien appendicitis

sebanyak 75.601 orang.

Mobilisasi dini yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca

pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan

pernafasan, latihan batuk efektif dan menggerakkan tungkai) sampai dengan

pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan berjalan ke

luar kamar (Smeltzer, 2001 ). Mobilisasi dini pada pasien pasca bedah dapat

mempertahankan keadaan homeostasis dan komplikasi yang timbul akibat

immobilisasi dapat ditekan seminimal mungkin (Kozier, 1991).

Pasien dengan pasca operasi appendectomy biasanya lebih sering

berbaring di tempat tidur karena pasien masih mempunyai rasa takut untuk

bergerak. Di samping itu, kurangnya pemahaman pasien dan keluarga

mengenai mobilisasi juga menyebabkan pasien enggan untuk melakukan

pergerakan pasca operasi. Pada pasien pasca operasi seperti operasi usus

buntu (appendectomy), sangat penting untuk melakukan pergerakan atau

mobilisasi. Banyak masalah yang akan timbul jika pasien pasca operasi tidak

(27)

(retensi urin), perut menjadi kaku (distensi abdomen), terjadi kekakuan otot,

dan sirkulasi darah tidak lancar (Smeltzer, 2001).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Riswanto pada tahun 2004,

didapatkan data bahwa dari 11 orang pasien pasca operasi yang melakukan

ambulasi dini ditemukan ada 2 orang pasien (18,2%) yang mengalami retensi

urin dan 9 orang (81,8%) lainnya dapat berkemih secara spontan, sedangkan

pada 5 orang pasien yang tidak melakukan ambulasi dini pasca operasi, 4

orang (80%) diantaranya mengalami retensi urin dan 1 orang (20%) dapat

berkemih secara spontan. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang

perawat yang bertugas di Irna RSUP Fatmawati, tidak jarang ditemukan

pasien pasca operasi appendectomy mengalami infeksi sehingga biasanya

rata-rata hari rawat hanya 3 hari menjadi 5-7 hari.

Anggapan bahwa pasien tidak boleh melakukan pergerakan setelah

operasi membuat pasien khawatir untuk melakukannya. Kekhawatiran

tersebut dikarenakan kurangya pengetahuan pasien dan keluarga tentang

manfaat dari mobilisasi dini. Menurut Notoatmodjo (2007) bahwa

pengetahuan merupakan domain kognitif yang sangat penting untuk

mengubah sikap seseorang. Pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai

mobilisasi dan cara-cara mobilisasi dapat mencegah timbulnya komplikasi

yang terjadi.

Rumah Sakit Fatmawati merupakan salah satu rumah sakit pemerintah

(28)

penyakit, salah satunya appendicitis atau yang biasa orang awam

menyebutnya dengan penyakit usus buntu. Penyakit appendicitis dapat diobati

dengan dilakukan operasi pengangkatan appendiks atau appendectomy. Pasien

yang akan menjalani operasi, sebelumnya dirawat terlebih dahulu di IRNA

Lt.4 untuk mendapatkan perawatan baik sebelum operasi maupun sesudah

operasi, kecuali pasien appendectomy dengan operasi cito.

Berdasarkan hasil wawancara pada salah satu perawat yang berdinas di

IRNA B Teratai Lt.4 Bedah Selatan, jumlah pasien pasca operasi

appendectomy tidak kurang dari 20 pasien setiap bulannya, sedangkan

berdasarkan data yang didapat selama periode 2 tahun (Januari 2007-April

2009) terdapat 475 pasien yang menjalani appendectomy dengan lama hari

rawat rata-rata 3 hari. Salah satu program perawatan yang penting untuk

mendukung kesembuhan pasien adalah dengan membantu pasien melakukan

mobilisasi dini setelah operasi.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di IRNA B Teratai Lt.4 Bedah

RSUP Fatmawati dengan melakukan observasi dan wawancara pada dua

orang pasien pasca operasi appendectomy diperoleh data bahwa pasien hanya

terlentang di tempat tidur, terkadang mengubah posisi miring kanan dan kiri

dengan wajah tampak meringis dan takut untuk melakukan pergerakan. Salah

seorang keluarga pasien mengetahui bahwa pergerakan pasca operasi sangat

penting untuk mempercepat proses penyembuhan sehingga tidak

memperpanjang lamanya hari rawat, akan tetapi karena pasien merasa

(29)

enggan untuk melakukan mobilisasi meskipun keluarga pasien telah

membantu untuk mobilisasi, tetapi pada akhirnya pasien menyadari dan mau

untuk melakukan mobilisasi pada hari keempat pasca operasi dengan

berjalan-jalan ke luar kamar.

Salah seorang pasien yang lain mengatakan bahwa ia tidak berani

untuk melakukan pergerakan karena takut luka jahitannya terlepas. Selain itu

kurangnya informasi dari petugas kesehatan mengenai mobilisasi dini juga

membuat pasien tersebut tidak melakukan mobilisasi.

Berdasarkan observasi di lapangan dan uraian di atas menunjukkan

bahwa pasien pasca operasi appendectomy kurang mengetahui tentang

mobilisasi dini pasca operasi sehingga pasien masih enggan dan khawatir

untuk melakukan pergerakan. Maka peneliti tertarik untuk mendapatkan

gambaran tentang pengetahuan dan perilaku pasien pasca operasi

appendectomy tentang mobilisasi dini.

B. Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diketahui bahwa pasien pasca

operasi appendectomy masih merasa takut untuk melakukan pergerakan.

Hal itu disebabkan oleh kekhawatiran pasien akan terlepasnya jahitan luka

operasi yang belum sembuh benar. Kekhawatiran pasien dikarenakan

pasien kurang mengetahui manfaat dari mobilisasi pasca operasi. Adapun

rumusan masalah yang dapat diambil yaitu Bagaimanakah pengetahuan

(30)

RSUP Fatmawati Jakarta Selatan sehingga dapat mengurangi

permasalahan yang timbul akibat tidak mobilisasi?

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan masalah penelitian di atas, maka yang menjadi pertanyaan

penelitian adalah :

1. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy

tentang pengertian mobilisasi dini?

2. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy

tentang tujuan mobilisasi dini?

3. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy

tentang tahap-tahap mobilisasi dini?

4. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy

tentang manfaat mobilisasi dini?

5. Bagaimana perilaku mobilisasi dini pasien pasca operasi

appendectomy?

6. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku mobilisasi dini

(31)

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan umum dan tujuan khusus sebagai

berikut :

1. Tujuan Umum :

Mendapat gambaran mengenai pengetahuan dan perilaku

pasien pasca operasi appendectomy tentang mobilisasi dini di

RSUP Fatmawati Jakarta tahun 2009.

2. Tujuan Khusus :

a. Mengidentifikasi pengetahuan pasien pasca operasi

appendectomy mengenai :

1) Pengertian mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di

RSUP Fatmawati Jakarta

2) Tujuan mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di

RSUP Fatmawati Jakarta

3) Tahap-tahap mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di

RSUP Fatmawati Jakarta

4) Manfaat mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di

(32)

b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

mobilisasi dini pasien pasca operasi appendectomy yang

dirawat di RSUP Fatmawati

E. Manfaat Penelitian

a. Bagi Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini dapat menjadi suatu masukan untuk perkembangan

ilmu keperawatan khususnya bagi mata ajar Keperawatan Medikal

Bedah.

b. Bagi Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan

Penelitian ini dapat menjadi masukan dalam meningkatkan mutu dan

kualitas pelayanan dan asuhan keperawatan pada pasien pasca

operasi appendectomy.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi atau bahan

rujukan untuk penelitian selanjutnya

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang tujuannya

untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang pengetahuan dan

(33)

Pengumpulan data dilakukan dengan telaah dokumen, wawancara mendalam

dengan menggunakan pedoman wawancara dan observasi.

Informan dalam penelitian ini adalah pasien yang telah menjalani operasi

appendectomy, sedangkan yang menjadi informan pendukung adalah keluarga

pasien, perawat dan dokter spesialis bedah. Penelitian ini dilakukan pada

(34)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dibahas mengenai penelaahan kepustakaan, hal ini

dimaksudkan untuk memberikan sedikit gambaran secara singkat mengenai

konsep-konsep yang terkait dengan gambaran pengetahuan dan perilaku

pasien pasca operasi appendectomy tentang mobilisasi dini.

A. Konsep Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan

terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang (overt behaviour). Pengetahuan merupakan unsur yang sangat

penting terbentuknya suatu tindakan perilaku (practice) yang

menguntungkan suatu kegiatan. Pengetahuan yang kurang akan

mengakibatkan kurang dapat menerapkan suatu keterampilan

(35)

Menurut Mandey (2002) pengetahuan mencakup segala apa yang kita

ketahui tentang suatu objek. Tujuan akhir dari pengetahuan adalah suatu

pemahaman dengan memadukan intuisi dan konsep. Dari pengertian di

atas tentang pengetahuan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

pengetahuan adalah segala sesuatu tentang suatu objek melalui

penginderaan yang tergantung dari proses belajar.

Bloom (1956) dikutip dari Hoozer, V, et al (1987) mengatakan dalam

proses belajar diperlukan tiga unsur ranah, yaitu :

a. Kognitif, yakni dipelajari melalui fakta, membuat keputusan,

membuat kesimpulan atau berpendapat.

b. Afektif yang dikaitkan dengan emosi atau perasaan. Pembelajaran

afektif mengubah kepercayaan, perilaku atau nilai-nilai

sensitivitas dan suasana emosional mempengaruhi semua tipe

pembelajaran tetapi yang paling penting berpengaruh pada domain

afektif.

c. Psikomotor, berkaitan dengan pergerakan otot yang dihasilkan

dari beberapa pengetahuan yang menjadi dasar diperolehnya

keterampilan baru. Domain psikomotor mudah diukur karena

(36)

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan mempunyai 6 tingkatan

yang tercakup dalam domain kognitif, yaitu :

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari

keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan

yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu

tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,

mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek

yang dipelajari.

c. Menerapkan (application)

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang

(37)

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya

dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu

struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.

Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja

seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,

mengelompokkan, dan sebagainya.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah kemampuan

untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat

menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, menyesuaikan,

dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah

ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi.

Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri

(38)

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari

subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin

kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan

tingkatan-tingkatan di atas.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi

oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang

lain.

b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang.

Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi

sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya

pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap

seseorang terhadap nilai-nilai yang diperkenalkan (Kuncoroningrat,

1997).

c. Keyakinan

Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa

adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa

(39)

positif maupun negatif.

d. Fasilitas

Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi,

majalah, koran, dan buku.

e. Penghasilan

Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan

seseorang. Namun, bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka

dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas

sumber informasi.

f. Sosial Budaya

Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat

mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap

sesuatu.

B. Konsep Perilaku

1. Pengertian Perilaku

Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang

dapat diamati langsung, maupun yang tidak diamati oleh pihak luar

(Notoatmodjo, 2007). Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah

faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok

(40)

Menurut Skiner (1938) perilaku merupakan respons atau reaksi

seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar (Notoatmodjo,

2007). Berdasarkan pengertian tersebut Skiner membedakan adanya dua

respons, yaitu :

a. Respondent respons atau reflexive, yakni respons yang

ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu.

Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation karena

menimbulkan respons-respons yang relatif tetap. Respondent

respons ini juga mencakup perilaku emosional.

b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang

timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau

perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing

stimulation atau reinforcer, karena memperkuat respons.

Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme)

terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit,

sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan.

Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu :

a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance)

Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara

atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk

penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu, perilaku

(41)

1) Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit

bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilaman telah sembuh

dari penyakit

2) Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam

keadaan sehat. Kesehatan itu sangat dinamis dan relatif,

maka dari itu orang yang sehat pun perlu diupayakan supaya

mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin

3) Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan

minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan

seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat

menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan

dapat mendatangkan penyakit

b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan

kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan

(health seeking behavior)

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang

pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau

perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai

mencari pengobatan ke luar negeri

c. Perilaku kesehatan lingkungan

Bagaimana seseorang merespons lingkungannya, baik lingkungan

fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan

(42)

2. Alasan Seseorang Berperilaku

Terdapat beberapa model penelitian yang mengungkapkan tentang

analisis faktor-faktor yang memberi kontribusi terhadap perilaku

kesehatan, salah satunya yaitu teori menurut tim kerja WHO. Menurut

tim kerja WHO (1980), ada empat alasan pokok yang menyebabkan

seseorang berperilaku atau tidak berperilaku, yaitu :

a. Pemikiran dan perasaan (thoughts dan feeling)

Pemikiran dan perasaan terhadap objek atau stimulus merupakan

modal awal untuk bertindak atau berperilaku. Pemikiran dan

perasaan dalam bentuk pengetahuan, persepsi,

kepercayaan-kepercayaan, dan penilaian seseorang terhadap objek.

1) Pengetahuan

Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau

pengalaman orang lain. Pengetahuan tidak hanya didapatkan

dari pengalaman tetapi tingkat pendidikan seseorang juga akan

mempengaruhi pengetahuan orang tersebut. Pengetahuan juga

tidak selalu dapat menyebabkan perilaku, untuk

mengimplementasikan suatu pengetahuan ke dalam bentuk

perilaku yang nyata perlu motivasi yang kuat dalam diri orang

(43)

2) Kepercayaan

Kepercayaan sering diperoleh dari orang tua, kakek, atau

nenek. Seseorang memperoleh kepercayaan itu dari keyakinan

dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

b. Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang

dipercayai (personal reference)

Perubahan perilaku seseorang dipengaruhi oleh orang-orang yang

dianggap penting. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka

apa yang dikatakan atau diperbuat cenderung untuk dicontoh.

Misalnya seseorang yang dianggap penting dalam penelitian ini

yaitu dokter atau perawat. Perkataan dokter atau perawat dianggap

patut untuk diikuti oleh pasien (informan), misalnya jika dokter

atau perawat menganjurkan untuk melakukan pergerakan setelah

operasi, maka pasien cenderung untuk mengikutinya.

c. Sumber daya yang tersedia (resources)

Sumber daya merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku

masyarakat. Sumber daya di sini mencakup fasilitas-fasilitas,

uang, waktu, tenaga dan sebagainya yang berhubungan dengan

perilaku positif maupun negatif seseorang atau kelompok. Sumber

daya dalam penelitian ini mencakup fasilitas (sarana informasi

yang tersedia dan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada

pasien dan keluarga) dan tenaga atau energi yang dimiliki oleh

(44)

d. Sosio budaya setempat (culture)

Faktor sosio budaya merupakan faktor eksternal terbentuknya

perilaku seseorang. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai, dan

penggunaan sumber-sumber di dalam masyarakat disebut

kebudayaan. Perilaku normal merupakan salah satu aspek

kebudayaan dan kebudayaan ini mempunyai pengaruh yang dalam

terhadap perilaku. Dalam penelitian ini kebudayaan terlihat pada

keyakinan informan (pasien) yang diperoleh dari keluarga atau

kerabatnya. Keyakinan tersebut berupa informasi bahwa jika

seseorang yang baru menjalani operasi jangan terlalu banyak

melakukan pergerakan. Hal ini dikarenakan takut jahitan pada

luka operasi robek atau lepas dan juga karena kondisi pasien

belum pulih.

C. Anatomi dan Fisiologi Apendiks 1. Anatomi Apendiks

Menurut Smeltzer (2001) apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil

panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah

katup ileosekal. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara

teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif, dan

lumennya kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama

(45)

Bedah dan Perawatannya menyatakan bahwa apendiks terletak di daerah

sekum di ujung tenia (pita otot). Panjang pendeknya usus buntu itu tidak

berpengaruh terhadap terjadinya peradangan. Ujung usus buntu dapat

terletak pada semua arah caecum misalnya dapat sampai ke panggul, ke

sakrum atau melilit ke usus halus. Letak yang paling banyak ditemui

adalah retrosekal (di belakang sekum).

2. Fisiologi

Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari. Lendir itu secara

normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.

Hambatan aliran lendir dimuara appendiks tampaknya berperan pada

patogenesis appendicitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh

Gut Associated Lymfoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang

saluran cerna termasuk appendiks. Immunoglobulin itu sangat efektif

sebagai pelindung terhadap infeksi, namun demikian pengangkatan

appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan

limfe disini kecil sekali jika dibandingkan jumlah jaringan limfe di

(46)

D. Appendicitis 1. Definisi

Appendicitis adalah peradangan/inflamasi pada apendiks. Appendicitis,

penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari

rongga abdomen, untuk bedah abdomen darurat. (Mubarak, 2009)

a. Appendicitis Akut

Appendicitis akut adalah appendicitis dengan onset gejala akut yang

memerlukan intervensi bedah dan biasanya ditandai dengan nyeri di

kuadran abdomen kanan bawah dan dengan nyeri tekan lokal dan alih,

spasme otot yang ada diatasnya. Appendicitis merupakan infeksi

bakteria.

b. Appendicitis Kronik

Diagnosis appendicitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi

semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu,

radang kronik apendiks, dan keluhan menghilang setelah

appendectomy.

2. Etiologi

Appendicitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor

pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum

dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi)

(47)

keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, adanya benda

asing dalam tubuh.

Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan

dan kuat dugaannya sebagai penyebab adalah faktor penyumbatan oleh

tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau

pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang

biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin

sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia coli, inilah yang

sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus

buntu (Infopenyakit, 2009).

Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering

kali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap ke saluran appendiks sebagai

benda asing. Begitu pula terjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi)

dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk ke

saluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri

bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan

peradangan usus buntu tersebut.

Menurut penelitian epidemiologis menunjukkan kebiasaan

makan-makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat

menimbulkan appendicitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra

sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan

(48)

3. Patofisiologi

Appendicitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks

oleh hyperplasia folikel limfosit, fekalit, benda asing, striktur karena

akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut

menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.

Makin lama, mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding

appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan

intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran

limfe yang menyebabkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa/

pada saat inilah terjadi appendicitis akut fokal yang menyebabkan nyeri

epigastrium.

Bila sekresi terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal

tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri

akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai

peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di kuadran kanan

bawah. Keadaan ini disebut appendicitis supuratif akut. Bila kemudian

aliran arteri terganggu, akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti

dengan ganggren. Stadium ini disebut dengan appendicitis ganggrenosa.

Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang

berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga terjadi suatu massa

lokal yang disebut infiltrat appendikularis. Peradangan appendiks tersebut

dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum

(49)

Keadaan ini ditambah daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan

untuk terjadinya perforasi.

4. Manifestasi Klinis

a. Nyeri kuadran kanan bawah biasanya disertai dengan demam derajat

rendah, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan.

b. Pada titik McBurney (terletak di pertengahan antara umbilicus dan

spina anterior dari ileum) nyeri tekan setempat karena tekanan dan

sedikit kaku dari bagian bawah otot rectum kanan.

c. Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah

nyeri tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare tidak tergantung

pada beratnya infeksi dan lokasi appendiks.

d. Tanda rovsing dapat timbul dengan mempalpasi kuadran bawah kiri,

yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran

kanan bawah.

Selain tanda dan gejala di atas, gejala appendicitis juga bervariasi

tergantung dari stadiumnya, yaitu :

a. Penyakit appendicitis akut (mendadak)

Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi,

mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, nyeri saat berjalan sehingga

agak terbongkok, namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala

(50)

b. Penyakit appendicitis kronik

Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag

dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan

terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa

mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke

perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis

akut yaitu nyeri pada titik Mc Burney (istilah kesehatannya).

Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak

appendiks itu sendiri terhadap usus besar. Apabila ujung appendiks

menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan

sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan

berkemih. Bila posisi appendiks ke belakang, rasa nyeri muncul pada

pemeriksaan colok dubur atau colok vagina. Pada posisi appendiks

yang lain, rasa nyeri mungkin tidak begitu spesifik.

5. Komplikasi

Infeksi luka terjadi pada 10% atau lebih penderita apendicitis yang

mengalami perforasi kalau insisi pada kulit ditutup. Abses abdomen,

khususnya di daerah pelvis dan subfrenik diakibatkan karena perforasi

(51)

6. Prognosis

Angka kematian 0-0.3 persen pada apendicitis sederhana dan 2% atau

lebih pada kasus yang sudah mengalami perforasi. Pada anak kecil dan

orangtua perforasi dapat menyebabkan kematian pada sekitar 10%-15%

penderita. Perforasi dan kematian diakibatkan karena pasien terlambat

memeriksakan diri, atau karena keterlambatan dokter atau ahli bedah

yang bersangkutan (Theodore, 1995).

7. Appendectomy

Appendectomy adalah pembedahan untuk mengangkat appendiks yang

telah meradang (Smeltzer, 2001). Appendectomy merupakan pengobatan

yang paling baik bagi penderita appendicitis. Teknik tindakan

appendectomy ada 2 macam, yaitu open appendectomy dan laparoscopy

appendectomy. Open appendectomy yaitu dengan cara mengiris kulit

daerah McBurney sampai menembus peritoneum, sedangkan laparoscopy

appendectomy adalah tindakan yang dilakukan dengan menggunakan alat

laparoscop yang dimasukkan lewat lobang kecil di dinding perut.

Keuntungan laparoscopy appendectomy adalah luka dinding perut lebih

kecil, lama hari rawat lebih cepat, proses pemulihan lebih cepat, dan

(52)

E. Konsep Operasi/Pembedahan

1. Pengertian Operasi/Pembedahan

Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh

(Hannock, 1999). Operasi (elektif atau kedaruratan) pada umumnya

merupakan peristiwa kompleks yang menegangkan (Smeltzer, 2001).

Perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase

pengalaman pembedahan — praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif.

Operasi (perioperatif) merupakan tindakan pembedahan pada suatu

bagian tubuh yang mencakup fase praoperatif, intraoperatif dan

pascaoperatif (postoperatif) yang pada umumnya merupakan suatu

peristiwa kompleks yang menegangkan bagi individu yang bersangkutan.

2. Fase Operasi/Pembedahan

Seperti yang telah disebutkan di atas, menurut Long (1989) terdapat

tiga fase pembedahan yaitu :

a. Fase Praoperatif

Fase praoperatif dimulai saat keputusan untuk tindakan pembedahan

dibuat dan berakhir dengan mengirim pasien ke kamar operasi.

Lingkup kegiatan keperawatan dari pengkajian dasar pasien melalui

wawancara praoperatif di klinik, ruang dokter, atau melalui telepon,

dan dilanjutkan dengan pengkajian di tempat atau ruang operasi.

Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien yang akan menjalani

(53)

Misalnya, memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya

melakukan mobilisasi dini setelah operasi pada pasien yang akan

menjalani appendectomy. Di samping itu, mengajarkan pasien

bagaimana tahap-tahap melakukan mobilisasi dini juga merupakan hal

yang penting disampaikan oleh perawat.

b. Fase Intraoperatif

Fase intraoperatif dimulai saat pasien dikirim ke ruang operasi dan

berakhir saat pasien dipndahkan ke suatu ruang untuk pemulihan dari

anestesi. Pada fase ini, lingkup tindakan keperawatan dari

mengkomunikasikan asuhan perencanaan pasien, mengidentifikasi

kegiatan keperawatan yang dianjurkan untuk hasil yang diharapkan,

dan menetapkan prioritas tindakan keperawatan. Tindakan

keperawatan disusun dalam pemikiran yang logis.

c. Fase Pascaoperatif

Fase pascaoperatif dimulai dengan mengirim pasien ke ruang

pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut di klinik atau di

rumah. Lingkup keperawatn pada fase ini mencakup rentang aktivitas

yang luas. Pada fase pascaoperatif langsung, fokus termasuk mengkaji

efek dari agens anestesia, dan memantau fungsi vital serta mencegah

komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada

peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Salah

satu peran perawat yang mendukung proses kesembuhan pasien yaitu

(54)

mobilisasi setelah operasi. Hal tersebut penting dilakukan karena

selain mempercepat proses kesembuhan juga dapat mencegah

komplikasi yang mungkin muncul.

3. Anestesi Spinal

Anestesi spinal merupakan tipe blok konduksi saraf yang luas dengan

memasukkan anestesia lokal ke dalam ruang subarakhnoid di tingkat

lumbal (biasanya L4 dan L5). Cara ini mengakibatkan paralisis pada

ekstremitas bawah, perineum, dan abdomen bawah. (Smeltzer, 2001).

Sakit kepala terjadi sebagai komplikasi pascaoperatif. Beberapa

faktor terlibat dalam insiden sakit kepala, seperti ukuran jarum spinal

yang digunakan, kebocoran cairan dari spasium subarakhnoid melalui

letak pungsi, dan status hidrasi pasien. Tindakan yang meningkatkan

tekanan serebrospinal sangat membantu menghilangkan sakit kepala.

Tindakan ini mencakup menjaga agar pasien tetap berbaring datar,

tenang, dan terhidrasi dengan baik. (Smeltzer, 2001).

F. Konsep Mobilisasi Dini

1. Pengertian Mobilisasi Dini

Mobilisasi adalah kemampuan untuk bergerak secara bebas selama

di lingkungan, yaitu suatu dasar untuk fungsi keseharian yang normal

(Craven, 2000). Menurut Kozier (1983) mobilisasi adalah kemampuan

(55)

energi dan sebagai kebutuhan manusia. Mobilisasi adalah suatu usaha

menggerakkan bagian tubuh secara aktif maupun pasif untuk

mempertahankan sirkulasi dan memelihara tonus-tonus otot ekstremitas

(Lee, 1988). Mobilisasi dini yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca

pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan

pernafasan, latihan batuk efektif dan menggerakkan tungkai) sampai

dengan pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan

berjalan ke luar kamar (Smeltzer, 2001 ).

2. Prinsip dan Tujuan Mobilisasi

Menurut Dombovy ML dikutip oleh Yahya (1995), mengemukakan

bahwa beberapa prinsip dalam melakukan mobilisasi yaitu mencegah dan

mengurangi komplikasi sekunder seminimal mungkin, menggantikan

hilangnya fungsi motorik, memberikan rangsangan lingkungan, memberi

dorongan bersosialisasi, memberi kesempatan untuk dapat berfungsi dan

melakukan aktivitas sehari-hari serta memungkinkan melakukan

pekerjaan seperti sebelumnya.

Kottke (1898) menyebutkan tujuan untuk mobilisasi yaitu untuk

mencegah terjadinya bronkopneumonia, kekakuan sendi, mencegah

tromboplebitis, atropi otot, penumpukan sekret, memperlancar sirkulasi

darah, mencegah kontraktur, dekubitus serta memelihara faal kandung

kemih agar tetap berfungsi secara baik dan pasien dapat beraktivitas.

(56)

mempertahankan fungsi tubuh, memperlancar peredaran darah,

membantu pernapasan menjadi lebih baik, mempertahankan tonus otot,

memperlancar eliminasi bab dan bak, mengembalikan aktivitas tertentu

sehingga pasien dapat kembali normal memenuhi kebutuhan gerak harian,

dan memberi kesempatan perawat dan pasien untuk berinteraksi dan

berkomunikasi.

3. Tahap-Tahap Mobilisasi pada Pasien Pasca Operasi

Mobilisasi pasca operasi yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca

pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan

pernapasan, latihan batuk efektif, dan menggerakkan tungkai) sampai

dengan pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan

berjalan keluar kamar (Smeltzer, 2001).

Tahap-tahap mobilisasi pada pasien pasca operasi meliputi (Cetrione,

2009) :

a. Pada saat awal (6 sampai 8 jam setelah operasi), pergerakan fisik

bisa dilakukan di atas tempat tidur dengan menggerakkan tangan

dan kaki yang bisa ditekuk dan diluruskan, mengkontraksikan

otot-otot termasuk juga menggerakkan badan lainnya, miring ke kiri atau

ke kanan.

b. Pada 12 sampai 24 jam berikutnya atau bahkan lebih awal lagi

(57)

dan fase selanjutnya duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang

dijatuhkan atau ditempatkan di lantai sambil digerak-gerakkan.

c. Pada hari kedua pasca operasi, rata-rata untuk pasien yang dirawat

di kamar atau bangsal dan tidak ada hambatan fisik untuk berjalan,

semestinya memang sudah bisa berdiri dan berjalan di sekitar kamar

atau keluar kamar, misalnya ke toilet atau kamar mandi sendiri.

Pasien harus diusahakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera

mungkin, hal ini perlu dilakukan sedini mungkin pada pasien pasca

operasi untuk mengembalikan fungsi pasien kembali normal.

4. Manfaat Mobilisasi

Menurut Kozier, et.al. (2004) dalam buku Fundamentals of Nursing,

keuntungan yang dapat diperoleh dari mobilisasi bagi sistem tubuh adalah

sebagai berikut :

a.Sistem Muskuloskeletal

Ukuran, bentuk, tonus, dan kekuatan rangka dan otot jantung dapat

dipertahankan dengan melakukan latihan yang ringan dan dapat

ditingkatkan dengan melakukan latihan yang berat. Dengan melakukan

latihan, tonus otot dan kemampuan kontraksi otot meningkat. Dengan

melakukan latihan atau mobilisasi dapat meningkatkan fleksibilitas

(58)

b.Sistem Kardiovaskular

Dengan melakukan latihan atau mobilisasi yang adekuat dapat

meningkatkan denyut jantung (heart rate), menguatkan kontraksi otot

jantung, dan menyuplai darah ke jantung dan otot. Jumlah darah yang

dipompa oleh jantung (cardiac output) meningkat karena aliran balik

dari aliran darah. Jumlah darah yang dipompa oleh jantung (cardiac

outpu) normal adalah 5 liter/menit, dengan mobilisasi dapat

meningkatkan cardiac output sampai 30 liter/ menit.

c.Sistem Respirasi

Jumlah udara yang dihirup dan dikeluarkan oleh paru (ventilasi)

meningkat. Ventilasi normal sekitar 5-6 liter/menit. Pada mobilisasi

yang berat, kebutuhan oksigen meningkat hingga mencapai 20x dari

kebutuhan normal. Aktivitas yang adekuat juga dapat mencegah

penumpukan sekret pada bronkus dan bronkiolus, menurunkan usaha

pernapasan.

d. Sistem Gastrointestinal

Dengan beraktivitas dapat memperbaiki nafsu makan dan

meningkatkan tonus saluran pencernaan, memperbaiki pencernaan dan

eliminasi seperti kembalinya mempercepat pemulihan peristaltik usus

dan mencegah terjadinya konstipasi serta menghilangkan distensi

(59)

e. Sistem Metabolik

Dengan latihan dapat meningkatkan kecepatan metabolisme, dengan

demikian peningkatan produksi dari panas tubuh dan hasil

pembuangan. Selama melakukan aktivitas berat, kecepatan

metabolisme dapat meningkat sampai 20x dari kecepatan normal.

Berbaring di tempat tidur dan makan diit dapat mengeluarkan 1.850

kalori per hari. Dengan beraktivitas juga dapat meningkatkan

penggunaan trigliserid dan asam lemak, sehingga dapat mengurangi

tingkat trigliserid serum dan kolesterol dalam tubuh.

f. Sistem Urinary

Karena aktivitas yang adekuat dapat menaikkan aliran darah, tubuh

dapat memisahkan sampah dengan lebih efektif, dengan demikian

dapat mencegah terjadinya statis urinary. Kejadian retensi urin juga

dapat dicegah dengan melakukan aktivitas.

5. Rentang Gerak dalam Mobilisasi

Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi ada tiga rentang gerak,

yaitu :

a. Rentang gerak pasif

Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan

otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot-otot orang lain secara

pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki

(60)

b. Rentang gerak aktif

Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi

dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya

pasien berbaring sambil menggerakkan kakinya.

c. Rentang gerak fungsional

Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan

aktivitas yang diperlukan.

6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini

Mobilisasi dini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor Lauro (1985)

mengemukakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mobilisasi dini

adalah sebagai berikut :

a. Pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu ilmu tentang suatu bidang yang

disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat

digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang

pengetahuan itu (Kurnia, 2002 yang dikutip oleh Purwanto tahun

2007).

Pengetahuan individu terhadap sesuatu dan yakin akan manfaat

menyebabkan seseorang untuk mencoba menerapkan dalam bentuk

perilaku. Pengetahuan tersebut dapat didapatkan dari informasi,

membaca, dan melalui pendidikan formal. Tingkat pendidikan

(61)

Pengetahuan mengenai mobilisasi dini pasca operasi bisa

didapatkan dari informasi atau pendidikan kesehatan yang diberikan

oleh seorang perawat kepada pasien yang akan menjalani tindakan

operasi seperti appendectomy. Pendidikan kesehatan tersebut dapat

diberikan sebelum tindakan operasi dilakukan yaitu pada fase

praoperatif. Sehingga setelah tindakan operasi selesai dilaksanakan,

pasien telah mengetahui manfaat dari mobilisasi dan hal itu dapat

mempengaruhi pasien tersebut untuk melakukan mobilisasi dini tanpa

rasa takut.

b. Emosi

Menurut Goleman, 2000 yang dikutip oleh Hanum (2006) emosi

merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu

keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan

untuk bertindak. Emosi adalah suatu kesatuan reaksi fisiologis dalam

diri manusia untuk menghadapi rangsangan atau stimulus yang ada.

Terbentuknya emosi dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman

selama masa perkembangan individu. Seseorang dengan emosi yang

stabil adalah yang dapat mengendalikan perasaan-perasaannya

meskipun dihadapkan pada suatu kondisi yang memungkinkan

mengganggu kestabilan emosinya, yang juga dapat mengekspresikan

emosinya tersebut pada waktu dan tempat yang tepat, sehingga dapat

(62)

Emosi adalah perasaan dalam diri seseorang yang timbul karena

ada suatu stimulus dan memperlihatkan reaksi kognisi, reaksi

fisiologis, reaksi biologis, dan bahkan reaksi behavioral tertentu.

Sedangkan Sarwono dalam Yusuf (2008) berpendapat bahwa emosi

merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna

afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang

luas (dalam). Berdasarkan pengertian tersebut dikemukakan bahwa

emosi itu merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan

atau perilaku individu. Maksud warna afektif di sini adalah

perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi suatu situasi

tertentu, seperti gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak

senang), dan sebagainya. Berikut ini adalah beberapa contoh tentang

pengaruh emosi terhadap perilaku individu, yaitu :

1)Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas

atas hasil yang didapat.

2)Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena

kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini adalah

timbulnya rasa putus asa (frustasi).

3)Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila

sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga

menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam

(63)

4)Terganggu dalam penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa

cemburu dan iri hati.

5)Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa

kecil akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik

terhadap dirinya maupun orang lain.

Cedera merupakan stressor bagi seseorang yang dirawat di

rumah sakit. Perasaan yang dialami pasien pasca operasi

appendectomy terhadap luka operasi yang belum sembuh akan

menimbulkan rasa takut untuk melakukan mobilisasi, sehingga rasa

takut tersebut dapat menjadi penghambat bagi mereka untuk

melakukan mobilisasi.

c. Sosial

Sosial adalah hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat dan

kebersamaan, kekuatan masyarakat tersebut berada di sekitar individu

tersebut dalam berinteraksi (Yusuf, 2008). Adanya interaksi antara

individu yang satu dengan individu yang lain dapat memberikan

kekuatan pada individu tersebut. Dimana definisi interaksi sosial

menurut Nurdin (2006) adalah adanya hubungan dua orang atau lebih

yang perilaku atau tindakannya direspon oleh orang lain.

Interaksi yang dilakukan pasien dengan keluarga dan

orang-orang di sekitar akan mempengaruhi pasien tersebut untuk melakukan

mobilisasi pasca operasi, sehingga dengan mobilisasi tersebut akan

(64)

d. Fisik

Fisik adalah postur tubuh, kesehatan (sehat atau sakit), keutuhan

tubuh, keberfungsian organ tubuh seseorang (Yusuf, 2008). Keadaan

fisik seseorang yang lemah secara langsung akan berpengaruh

terhadap mobilisasi yang dilakukan. Keadaan tersebut akan

membatasi dari pergerakan karena kurangnya energi di dalam tubuh.

Pada pasien yang baru saja menjalani operasi seperti operasi

appendectomy, keadaan fisik pasien tersebut belum kembali pulih

pada keadaan sebelumnya. Hal tersebut dapat membuat pasien merasa

enggan untuk melakukan mobilisasi, selain itu rasa nyeri yang

dirasakan juga membuat pasien merasa lemah dan hanya ingin

berbaring di tempat tidur.

e. Stimulus Lingkungan

Stimulus lingkungan adalah rangsangan dari luar yang

mempengaruhi dan menggerakkan individu untuk berbuat (Handoko,

1997). Stimulus lingkungan tersebut dapat berupa dukungan perawat

atau keluarga. Adanya dukungan dan dorongan dari perawat serta

keluarga dapat menimbulkan motivasi pada pasien yang dirawat untuk

melakukan aktivitas, seperti pasien yang baru saja menjalani operasi.

Aktivitas yang dapat dilakukan yaitu berupa mobilisasi sehingga

dengan melakukan mobilisasi dapat mempercepat penyembuhan

(65)

Sarana atau fasilitas ruang rawat, peran serta perawat, peran serta

keluarga yang mendukung dan tidak mendukung agar pasien

berinisiatif dan mau melakukan mobilisasi. Suasana lingkungan yang

nyaman juga dapat mendukung terhadap aktivitas seseorang yang

dilakukan.

Sedangkan menurut Kozier (1995), faktor-faktor yang

mempengaruhi mobilisasi adalah :

f. Gaya Hidup

Istilah gaya hidup merupakan prinsip yang dapat dicapai sebagai

landasan untuk memahami perilaku seseorang yang melatarbelakangi

sifat khas seseorang, terlihat dari beberapa pengertian yang

diungkapkan di bawah ini.

Menurut Adler dalam Hall (1993) mendefinisikan gaya hidup

sebagai sistem utama yang memungkinkan berfungsinya kepribadian

individu sebagai keseluruhan yang menggerakkan bagian-bagiannya.

Semua perilaku manusia bersumber dari gaya hidup yang dimilikinya,

dimana ia mempersepsi, mempelajari, dan menyimpan atau

mempertahankan hal-hal yang sesuai dengan gaya hidupnya serta

menyisihkan hal-hal yang tidak sesuai dengan gaya hidupnya.

Gaya hidup merupakan pola tingkah laku sehari-hari segolongan

manusia didalam masyarakat. Kebiasaan seseorang pada masa

hidupnya, termasuk kebiasaan dalam memperhatikan kesempurnaan

(66)

dalam Wiroreno (1994), gaya hidup lebih kepada pola hidup

seseorang di dalam dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat,

dan pendapat orang tersebut. Gaya hidup adalah cara hidup yang

dikenali dari bagaimana orang menggunakan waktu dan aktivitas

mereka, dari minat mereka yaitu apa yang mereka anggap penting di

dalam kehidupan mereka, dan dari pendapat mereka tentang diri

mereka sendiri serta dunia sekitar mereka.

Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat

pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan

diikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya.

Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tentang mobilitas

seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang

sehat.

g. Proses Penyakit dan Injury

Proses penyakit adalah keadaan dimana seseorang sedang

menderita suatu penyakit tertentu. Keadaan tersebut mengakibatkan

keadaan kesehatan seseorang menjadi terganggu sehingga sulit

melakukan aktivitas seperti biasa. Adanya penyakit tertentu yang

diderita seseorang akan mempengaruhinya mobilitasnya, misalnya

seseorang yang baru saja menjalani operasi akan kesulitan untuk

mobilisasi secara bebas karena adanya rasa sakit/nyeri yang menjadi

alasan mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya

Gambar

Tabel 4.1  Pengumpulan Data untuk Uji Validitas
Tabel 5.1 Karakteristik Informan Kunci
Tabel 5.2 Karakteristik Informan Pendukung (Petugas Kesehatan)

Referensi

Dokumen terkait

Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses pemyembuhan, untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi informed

mobilisasi dini oleh perawat pada pasien post appendiktomy telah dilakukan perawat sebanyak 19 responden dengan hasil yang baik dengan prosentase 62,96% (17

Mobilisasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien  pasca operasi dimulai dari bangun duduk, dan duduk sampai pasien turun dari

Setelah dilakukan penelitian mengenai Pengaruh Mobilisasi Dini terhadap Keberhasilan Penyembuhan Luka pada Pasien Pasca Operasi di Bangsal Arofah dan Marwah RS PKU

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Peristaltik usus pada pasien post operasi yang tidak dilakukan mobilisasi dini (kelompok kontrol) tidak ada yang mengalami

aktivitas sehari-hari serta kualitas hidup pasien..Merujuk pada tingginya prevalensi pasien gagal ginjal yang harus menjalani hemodialisis serta pentingnya perawatan

Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan penyembuhan luka dan fungsi pernafasan pasien post operasi abdomen antara kelompok yang tidak melakukan mobilisasi dini sesuai

Bagan 3.1 Kerangka kerja hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi dini dengan pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi laparatomi dengan general anastesi