DI RSUP FATMAWATI TAHUN 2009
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Oleh :
RIZKA RISMALIA NIM : 105104003481
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :
Nama : Rizka Rismalia
NIM : 105104003481
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Tahun Akademik : 2005
Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan skripsi saya yang berjudul :
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN PASCA OPERASI APPENDECTOMY TENTANG MOBILISASI DINI DI RSUP FATMAWATI TAHUN 2009
Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan menerima sanksi yang telah ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Jakarta, 26 Januari 2010
Nama : Rizka Rismalia Tempat dan Tanggal Lahir : Jakarta, 3 Juli 1987
Agama : Islam
Alamat : Jl. Winong RT 002 RW 05 No. 17 Sudimara Timur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten 15151
Telepon : (021) 7338050
Riwayat Pendidikan : SDN Kreo 3 (1993-1994)
SDN Sudimara Timur (1994-1999) SLTP Negeri 219 Jakarta (1999-2002) SMA Negeri 90 Jakarta Selatan (2002-2005)
Program S1 Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2005-2009)
Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita
inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan,
akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang
tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia
(Kahlil Gibran)
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak
menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan
saat mereka menyerah
(Thomas Alfa Edison)
Dalam menjalani hidup, kadang kita harus tetap tertawa
walau sebenarnya ingin menangis,
tetap tersenyum walau sebenarnya sudah tidak sanggup lagi,
tetap semangat walau tertekan masalah,
yang terpenting tetap besabar
dan memandang semuanya baik-baik saja walaupun terluka
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, 20 Desember 2009
Rizka Rismalia
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN PASCA OPERASI
APPENDECTOMY TENTANG MOBILISASI DINI DI RSUP FATMAWATI TAHUN 2009
xvii + 107 halaman, 5 tabel, 1 gambar, 9 lampiran
ABSTRAK
Mobilisasi dini merupakan salah satu program yang dibuat untuk mendukung penyembuhan kondisi pasien. Pelaksanaan mobilisasi dini dapat dilakukan segera setelah pasien sadar atau setelah dianjurkan oleh dokter atau perawat. Akan tetapi, kebanyakan pasien pasca operasi appendectomy lebih sering berbaring di tempat tidur. Hal tersebut dikarenakan pasien merasa takut jahitan pada luka operasi akan robek dan tidak sembuh. Selain itu, adanya pengaruh dari orang-orang sekitar seperti keluarga dan kerabat untuk tidak melakukan banyak pergerakan setelah operasi mengakibatkan pasien malas untuk mobilisasi dini, biasanya kepercayaan atau anggapan tersebut disebabkan karena kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga tentang manfaat melakukan mobilisasi dini setelah operasi. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki pasien pasca operasi appendectomy dapat berpengaruh pada perilaku untuk melakukan mobilisasi dini.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku pasien pasca operasi appendectomy tentang mobilisasi dini di RSUP Fatmawati Jakarta. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pengetahuan pasien mengenai pengertian, tujuan, tahap-tahap, dan manfaat mobilisasi dini serta mengetahui perilaku pasien dalam melaksanakan mobilisasi dini. Penelitian ini dilaksanakan di IRNA B Lt. 4 Bedah Utara RSUP Fatmawati dengan menggunakan metode kualitatif, dimana pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 4 orang informan kunci yaitu pasien yang telah menjalani operasi appendectomy, dan informan pendukung yang terdiri dari 4 orang keluarga pasien, 1 orang perawat, dan 1 orang dokter spesialis bedah.
dini. Dengan demikian disarankan untuk memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang mobilisasi dini sebelum pasien itu menjalani operasi agar setelah operasi pasien telah mengetahui manfaat mobilisasi dini dan mendapatkan gambaran tentang cara-cara mobilisasi dini sehingga pasien tidak merasa takut dan mau melakukan mobilisasi dini. Selain untuk memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi dini, hal ini juga dianjurkan untuk penyediaan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan mobilisasi dini yang dilakukan mulai dari kamar operasi sebelum tindakan sampai tindakan setelah operasi.
Daftar bacaan : 32 (1898-2009)
STATE ISLAMIC UNIVERSITY (UIN) OF SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Undergraduate Thesis, December 20th, 2009
Rizka Rismalia
DESCRIPTION OF KNOWLEDGE AND BEHAVIOUR POST OPERATIVE PATIENTS ON APPENDECTOMY ABOUT EARLY MOBILIZATION IN FATMAWATI
HOSPITAL, 2009
xvii + 107 pages, 5 tables, 1 picture, 9 appendixes
ABSTRACT
Early mobilization is one of the programs created to support the healing of the patient's condition. The implementation of early mobilization can be done immediately after the patient was conscious or when recommended by a doctor or nurse. However, most patients after appendectomy surgery more often lie in bed. That is because the patient was afraid the stitches on the wound will tear and not recovered. In addition, the influence of the people around like family and relatives usually instinct the patients doing much motion after surgery. These conditions affected the patients becoming hesitant to do early mobilization, generally beliefs or assumptions due to lack of knowledge of patients and families about the benefits of early mobilization after surgery. Lack of knowledge of post-operative patients with appendectomy could affect the patient’s behaviour in carrying out early mobilization.
The general objective of this study was to determine the description of knowledge and behaviour post-operative patients on appendectomy about early mobilization in Fatmawati Hospital Jakarta . The purpose of this study was to obtain in-depth information about the patient's knowledge about the meaning, purpose, stages, and the benefits of early mobilization and knowing the patient's behaviour in carrying out early mobilization. This research was carried out in IRNA B fl. 4 North Surgical Fatmawati Hospital by using qualitative methods, where data collection is done by using in-depth interviews and observation. Informants in this study consisted of 4 people as the key informants. They were the patients who had undergone appendectomy surgery, and 4 supporting informants consisted of 4 people of the patient’s family, 1 of nurse, and 1 surgeon.
surgery the patient has known the benefit of early mobilization and gain insight about the ways of early mobilization so that patients do not feel scared and want to mobilize early. In order to motivate patients for doing early mobilization, it is recommended to provide health education related to early mobilization being done started from surgical ward before surgery as well as post surgical intervention.
Reading list: 32 (1898-2009)
هتاكربوﷲةمحرومكي ع اسلا
Bismillahirrahmanirrahiim...
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Pengetahuan dan Perilaku Pasien Pasca Operasi Appendectomy tentang Mobilisasi Dini di RSUP Fatmawati Tahun 2009”. Shalawat serta salam tak lupa kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Adapun penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep).
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran yang diberikan dari semua pihak akan sangat membantu untuk menyempurnakan skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. DR. dr (hc). MK Tadjudin, Sp. And selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
2. Drs. H. Achmad Gholib selaku Pembantu dekan II dan Dra. Farida Hamid, M.Pd selaku Pembantu Dekan III Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
3. Ibu Tien Gartinah, MN selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan dan juga sebagai Pembimbing I yang selalu meluangkan waktunya dan membimbing saya dengan sangat baik
6. Terima kasihku kepada ibu Rita Herawaty, S.Kp, M.Kep selaku Kepala IRNA B Lt. 4 Bedah RSUP Fatmawati dan juga selaku Pembimbing Lapangan yang telah menyediakan waktu dan memberikan masukan untuk skripsi ini
7. Terima kasih kepada ibu Iip Samikem selaku kepala ruangan IRNA B Lt. 4 Bedah Utara 8. Terima kasih kepada Ns. Sariaman selaku wakil kepala ruangan IRNA B Lt. 4 Bedah
Utara yang telah menyediakan waktunya untuk memberikan informasi mengenai mobilisasi dini
9. Terima kasih kepada dr. Wita, Sp. B yang telah meluangkan waktunya dan banyak memberikan informasi tentang mobilisasi dini
10.Terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua saya yang tiada henti mendoakan saya
11.Terima kasihku untuk para informan kunci Ny. I, Tn. R, Tn. T, dan Ny. W dan juga informan pendukung Nn. S, An. H, Tn. I, dan Tn. J yang memberikan waktunya dan bersedia untuk diwawancara demi kelangsungan skripsi ini
12.Kedua adik dan kakak saya, Restu Maulunida, Riyadul Asri, dan Riki Hardiansyah 13.Teman-teman angkatan 2005 yang memberikan semangat dan mewarnai hidup
Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya khususnya bagi penulis sendiri.
Peneliti
Daftar Riwayat Hidup ... ii
Lembar Persembahan ……… iii
Abstrak ... iv
Abstract ... vi
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi ... x
Daftar Tabel ... xv
Daftar Gambar ... xvi
Daftar Singkatan ... xvii
Daftar Lampiran ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Masalah Penelitian ... 5
C. Pertanyaan Penelitian ... 6
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Manfaat Penelitian ... 8
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
A. Konsep Pengetahuan ... ... 10
1. Pengertian Pengetahuan ... 10
2. Alasan Seseorang Berperilaku ... 18
C. Anatomi dan Fisiologi Apendiks ... 20
1. Anatomi Apendiks ... 20
2. Fisiologi Apendiks ... 21
D. Appendicitis ... 22
1. Definisi ... ... 22
2. Etiologi ... ... 22
3. Patofisiologi ... 24
4. Manifestasi Klinis ... 25
5.Komplikasi ... 26
6. Prognosis ... 27
7. Appendectomy ... 27
E. Konsep Operasi/Pembedahan ... 28
1. Pengertian Operasi/Pembedahan ... 28
2. Fase Operasi/Pembedahan ... 28
3. Anestesi Spinal ... 30
F. Konsep Mobilisasi Dini ... 30
1. Pengertian Mobilisasi Dini ... 30
2. Prinsip dan Tujuan Mobilisasi ... 31
3. Tahap Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Operasi ………….. 32
4. Manfaat Mobilisasi ... 33
5. Rentang Gerak Mobilisasi ... 35
8. Intervensi Keperawatan ... 47
G. Penelitian Terkait ... 48
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI ISTILAH ………… 50
A. Kerangka Konsep ... 50
B. Definisi Istilah ... 51
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 55
A. Desain Penelitian ... 55
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 56
C. Instrumen Penelitian ... 56
D. Populasi ... 57
E. Sampel ... 57
F. Teknik Pengumpulan Data ... 61
G. Validasi Data ... 63
H. Teknik Analisis Data ... 64
I. Sarana Penelitian ... 65
J. Etika Penelitian ... 65
BAB V HASIL PENELITIAN ... 67
A. Karakteristik Informan ... 67
B. Gambaran Pengetahuan tentang Mobilisasi Dini ... 69
4. Pengetahuan tentang Manfaat Mobilisasi Dini ... 75
C. Gambaran Perilaku Pasien Mengenai Mobilisasi Dini ... 80
1. Perilaku Informan Hari Pertama Setelah Operasi ... 80
2. Perilaku Informan Hari Kedua Setelah Operasi ... 80
3. Perilaku Informan Hari Ketiga Setelah Operasi ... 81
4. Persepsi akan rasa takut untuk melakukan mobilisasi dini ... 82
5. Persepsi akan rasa nyeri saat melakukan mobilisasi dini ... 83
6. Instruksi dari dokter atau perawat untuk Melakukan mobilisasi ... 84
7. Dukungan dari keluarga untuk melakukan Mobilisasi dini ... 84
8. Kondisi atau Keadaan Informan ... 85
9. Keyakinan/Sosio Budaya Informan untuk melakukan Mobilisasi dini ... 86
10. Motivasi Informan untuk melakukan mobilisasi dini ... 88
D. Hasil Observasi terhadap Informan ... 88
BAB VI PEMBAHASAN ... 93
A. Keterbatasan Penelitian ... 93
B. Gambaran Pengetahuan tentang Mobilisasi Dini ... 93
C. Gambaran Perilaku Pasien Mengenai Mobilisasi Dini ... 95
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 103
A. Kesimpulan ... 103
B. Saran ... 104
Nomor Tabel Halaman 4.1 Pengumpulan data untuk Uji Validitas di
RSUD Tangerang ... 59
4.2 Pengumpulan Data Penelitian di RSUP Fatmawati Jakarta Selatan ... 60
5.1 Karakteristik Informan Kunci ... 67
5.2 Karakteristik Informan Pendukung (Petugas Kesehatan) ... 68
ANA : American Nurses Association
BAK : Buang Air Kecil
BAB : Buang Air Besar
Depkes : Departemen Kesehatan
GALT : Gut Associated Lymphoid Tissue
IRNA : Instalasi Rawat Inap
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat
Nomor Lampiran
1. Lembar check list (observasi)
2. Pedoman wawancara mendalam informan kunci (pasien)
3. Pedoman wawancara mendalam informan pendukung (keluarga)
4. Pedoman wawancara mendalam informan pendukung (perawat)
5. Pedoman wawancara mendalam informan pendukung (dokter)
6. Lembar persetujuan responden
7. Hasil uji validitas
8. Matriks mengenai pengetahuan informan
9. Matriks mengenai perilaku informan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan merupakan suatu seni dan ilmu yang mencakup berbagai
aktivitas, konsep, dan keterampilan yang berhubungan dengan ilmu sosial dan
fisik dasar, etika dan isu-isu yang beredar serta bidang lain (Potter, 2005).
Definisi keperawatan telah berkembang sepanjang waktu. Sejak zaman
Florence Nightingale, yang telah menulis pada tahun 1858 bahwa tujuan
sebenarnya dari keperawatan adalah “menempatkan pasien pada kondisi yang
paling baik agar asuhan dapat berlangsung sebaik-baiknya”, sedangkan
Asosiasi Perawat Amerika (American Nurses Association-ANA), dalam
Pernyataan Kebijakan Sosialnya (Social Policy) pada tahun 1995
mendefinisikan keperawatan sebagai “diagnosis dan tindakan terhadap
respons manusia pada keadaan sehat maupun sakit” (Smeltzer, 2002).
Pelayanan keperawatan sebagai pelayanan profesional ditujukan pada
berbagai respons individu dan keluarga terhadap masalah kesehatan yang
dihadapinya termasuk respons pasien yang menjalani pembedahan seperti
pada pasien dengan appendectomy.
Appendectomy atau operasi pengangkatan usus buntu merupakan
kedaruratan bedah abdomen yang sering dilakukan di berbagai negara di
seluruh dunia. Di Amerika Serikat, lebih dari 250.000 appendectomy
stabil di Amerika Serikat selama 30 tahun terakhir, sedangkan insiden
appendicitis lebih rendah di negara berkembang dan negara terbelakang,
terutama negara-negara Afrika, dan lebih jarang pada kelompok sosio
ekonomi rendah. Di Indonesia insiden appendicitis cukup tinggi, terlihat
dengan adanya peningkatan jumlah pasien dari tahun ke tahun. Berdasarkan
data yang diperoleh dari Depkes (2008), kasus appendicitis pada tahun 2005
sebanyak 65.755 orang dan pada tahun 2007 jumlah pasien appendicitis
sebanyak 75.601 orang.
Mobilisasi dini yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca
pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan
pernafasan, latihan batuk efektif dan menggerakkan tungkai) sampai dengan
pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan berjalan ke
luar kamar (Smeltzer, 2001 ). Mobilisasi dini pada pasien pasca bedah dapat
mempertahankan keadaan homeostasis dan komplikasi yang timbul akibat
immobilisasi dapat ditekan seminimal mungkin (Kozier, 1991).
Pasien dengan pasca operasi appendectomy biasanya lebih sering
berbaring di tempat tidur karena pasien masih mempunyai rasa takut untuk
bergerak. Di samping itu, kurangnya pemahaman pasien dan keluarga
mengenai mobilisasi juga menyebabkan pasien enggan untuk melakukan
pergerakan pasca operasi. Pada pasien pasca operasi seperti operasi usus
buntu (appendectomy), sangat penting untuk melakukan pergerakan atau
mobilisasi. Banyak masalah yang akan timbul jika pasien pasca operasi tidak
(retensi urin), perut menjadi kaku (distensi abdomen), terjadi kekakuan otot,
dan sirkulasi darah tidak lancar (Smeltzer, 2001).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Riswanto pada tahun 2004,
didapatkan data bahwa dari 11 orang pasien pasca operasi yang melakukan
ambulasi dini ditemukan ada 2 orang pasien (18,2%) yang mengalami retensi
urin dan 9 orang (81,8%) lainnya dapat berkemih secara spontan, sedangkan
pada 5 orang pasien yang tidak melakukan ambulasi dini pasca operasi, 4
orang (80%) diantaranya mengalami retensi urin dan 1 orang (20%) dapat
berkemih secara spontan. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang
perawat yang bertugas di Irna RSUP Fatmawati, tidak jarang ditemukan
pasien pasca operasi appendectomy mengalami infeksi sehingga biasanya
rata-rata hari rawat hanya 3 hari menjadi 5-7 hari.
Anggapan bahwa pasien tidak boleh melakukan pergerakan setelah
operasi membuat pasien khawatir untuk melakukannya. Kekhawatiran
tersebut dikarenakan kurangya pengetahuan pasien dan keluarga tentang
manfaat dari mobilisasi dini. Menurut Notoatmodjo (2007) bahwa
pengetahuan merupakan domain kognitif yang sangat penting untuk
mengubah sikap seseorang. Pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai
mobilisasi dan cara-cara mobilisasi dapat mencegah timbulnya komplikasi
yang terjadi.
Rumah Sakit Fatmawati merupakan salah satu rumah sakit pemerintah
penyakit, salah satunya appendicitis atau yang biasa orang awam
menyebutnya dengan penyakit usus buntu. Penyakit appendicitis dapat diobati
dengan dilakukan operasi pengangkatan appendiks atau appendectomy. Pasien
yang akan menjalani operasi, sebelumnya dirawat terlebih dahulu di IRNA
Lt.4 untuk mendapatkan perawatan baik sebelum operasi maupun sesudah
operasi, kecuali pasien appendectomy dengan operasi cito.
Berdasarkan hasil wawancara pada salah satu perawat yang berdinas di
IRNA B Teratai Lt.4 Bedah Selatan, jumlah pasien pasca operasi
appendectomy tidak kurang dari 20 pasien setiap bulannya, sedangkan
berdasarkan data yang didapat selama periode 2 tahun (Januari 2007-April
2009) terdapat 475 pasien yang menjalani appendectomy dengan lama hari
rawat rata-rata 3 hari. Salah satu program perawatan yang penting untuk
mendukung kesembuhan pasien adalah dengan membantu pasien melakukan
mobilisasi dini setelah operasi.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di IRNA B Teratai Lt.4 Bedah
RSUP Fatmawati dengan melakukan observasi dan wawancara pada dua
orang pasien pasca operasi appendectomy diperoleh data bahwa pasien hanya
terlentang di tempat tidur, terkadang mengubah posisi miring kanan dan kiri
dengan wajah tampak meringis dan takut untuk melakukan pergerakan. Salah
seorang keluarga pasien mengetahui bahwa pergerakan pasca operasi sangat
penting untuk mempercepat proses penyembuhan sehingga tidak
memperpanjang lamanya hari rawat, akan tetapi karena pasien merasa
enggan untuk melakukan mobilisasi meskipun keluarga pasien telah
membantu untuk mobilisasi, tetapi pada akhirnya pasien menyadari dan mau
untuk melakukan mobilisasi pada hari keempat pasca operasi dengan
berjalan-jalan ke luar kamar.
Salah seorang pasien yang lain mengatakan bahwa ia tidak berani
untuk melakukan pergerakan karena takut luka jahitannya terlepas. Selain itu
kurangnya informasi dari petugas kesehatan mengenai mobilisasi dini juga
membuat pasien tersebut tidak melakukan mobilisasi.
Berdasarkan observasi di lapangan dan uraian di atas menunjukkan
bahwa pasien pasca operasi appendectomy kurang mengetahui tentang
mobilisasi dini pasca operasi sehingga pasien masih enggan dan khawatir
untuk melakukan pergerakan. Maka peneliti tertarik untuk mendapatkan
gambaran tentang pengetahuan dan perilaku pasien pasca operasi
appendectomy tentang mobilisasi dini.
B. Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diketahui bahwa pasien pasca
operasi appendectomy masih merasa takut untuk melakukan pergerakan.
Hal itu disebabkan oleh kekhawatiran pasien akan terlepasnya jahitan luka
operasi yang belum sembuh benar. Kekhawatiran pasien dikarenakan
pasien kurang mengetahui manfaat dari mobilisasi pasca operasi. Adapun
rumusan masalah yang dapat diambil yaitu Bagaimanakah pengetahuan
RSUP Fatmawati Jakarta Selatan sehingga dapat mengurangi
permasalahan yang timbul akibat tidak mobilisasi?
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan masalah penelitian di atas, maka yang menjadi pertanyaan
penelitian adalah :
1. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy
tentang pengertian mobilisasi dini?
2. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy
tentang tujuan mobilisasi dini?
3. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy
tentang tahap-tahap mobilisasi dini?
4. Bagaimana pengetahuan pasien pasca operasi appendectomy
tentang manfaat mobilisasi dini?
5. Bagaimana perilaku mobilisasi dini pasien pasca operasi
appendectomy?
6. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku mobilisasi dini
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan umum dan tujuan khusus sebagai
berikut :
1. Tujuan Umum :
Mendapat gambaran mengenai pengetahuan dan perilaku
pasien pasca operasi appendectomy tentang mobilisasi dini di
RSUP Fatmawati Jakarta tahun 2009.
2. Tujuan Khusus :
a. Mengidentifikasi pengetahuan pasien pasca operasi
appendectomy mengenai :
1) Pengertian mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di
RSUP Fatmawati Jakarta
2) Tujuan mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di
RSUP Fatmawati Jakarta
3) Tahap-tahap mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di
RSUP Fatmawati Jakarta
4) Manfaat mobilisasi dini pada pasien yang dirawat di
b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
mobilisasi dini pasien pasca operasi appendectomy yang
dirawat di RSUP Fatmawati
E. Manfaat Penelitian
a. Bagi Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini dapat menjadi suatu masukan untuk perkembangan
ilmu keperawatan khususnya bagi mata ajar Keperawatan Medikal
Bedah.
b. Bagi Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan
Penelitian ini dapat menjadi masukan dalam meningkatkan mutu dan
kualitas pelayanan dan asuhan keperawatan pada pasien pasca
operasi appendectomy.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi atau bahan
rujukan untuk penelitian selanjutnya
F. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang tujuannya
untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang pengetahuan dan
Pengumpulan data dilakukan dengan telaah dokumen, wawancara mendalam
dengan menggunakan pedoman wawancara dan observasi.
Informan dalam penelitian ini adalah pasien yang telah menjalani operasi
appendectomy, sedangkan yang menjadi informan pendukung adalah keluarga
pasien, perawat dan dokter spesialis bedah. Penelitian ini dilakukan pada
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan dibahas mengenai penelaahan kepustakaan, hal ini
dimaksudkan untuk memberikan sedikit gambaran secara singkat mengenai
konsep-konsep yang terkait dengan gambaran pengetahuan dan perilaku
pasien pasca operasi appendectomy tentang mobilisasi dini.
A. Konsep Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (overt behaviour). Pengetahuan merupakan unsur yang sangat
penting terbentuknya suatu tindakan perilaku (practice) yang
menguntungkan suatu kegiatan. Pengetahuan yang kurang akan
mengakibatkan kurang dapat menerapkan suatu keterampilan
Menurut Mandey (2002) pengetahuan mencakup segala apa yang kita
ketahui tentang suatu objek. Tujuan akhir dari pengetahuan adalah suatu
pemahaman dengan memadukan intuisi dan konsep. Dari pengertian di
atas tentang pengetahuan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengetahuan adalah segala sesuatu tentang suatu objek melalui
penginderaan yang tergantung dari proses belajar.
Bloom (1956) dikutip dari Hoozer, V, et al (1987) mengatakan dalam
proses belajar diperlukan tiga unsur ranah, yaitu :
a. Kognitif, yakni dipelajari melalui fakta, membuat keputusan,
membuat kesimpulan atau berpendapat.
b. Afektif yang dikaitkan dengan emosi atau perasaan. Pembelajaran
afektif mengubah kepercayaan, perilaku atau nilai-nilai
sensitivitas dan suasana emosional mempengaruhi semua tipe
pembelajaran tetapi yang paling penting berpengaruh pada domain
afektif.
c. Psikomotor, berkaitan dengan pergerakan otot yang dihasilkan
dari beberapa pengetahuan yang menjadi dasar diperolehnya
keterampilan baru. Domain psikomotor mudah diukur karena
2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan mempunyai 6 tingkatan
yang tercakup dalam domain kognitif, yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari
keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan
yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu
tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek
yang dipelajari.
c. Menerapkan (application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu
struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja
seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah kemampuan
untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat
menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, menyesuaikan,
dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah
ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi.
Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin
kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan
tingkatan-tingkatan di atas.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang
lain.
b. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang.
Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi
sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya
pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang diperkenalkan (Kuncoroningrat,
1997).
c. Keyakinan
Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa
adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa
positif maupun negatif.
d. Fasilitas
Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi,
majalah, koran, dan buku.
e. Penghasilan
Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan
seseorang. Namun, bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka
dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas
sumber informasi.
f. Sosial Budaya
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat
mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap
sesuatu.
B. Konsep Perilaku
1. Pengertian Perilaku
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang
dapat diamati langsung, maupun yang tidak diamati oleh pihak luar
(Notoatmodjo, 2007). Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah
faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok
Menurut Skiner (1938) perilaku merupakan respons atau reaksi
seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar (Notoatmodjo,
2007). Berdasarkan pengertian tersebut Skiner membedakan adanya dua
respons, yaitu :
a. Respondent respons atau reflexive, yakni respons yang
ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu.
Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation karena
menimbulkan respons-respons yang relatif tetap. Respondent
respons ini juga mencakup perilaku emosional.
b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang
timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau
perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing
stimulation atau reinforcer, karena memperkuat respons.
Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme)
terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit,
sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan.
Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu :
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance)
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara
atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk
penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu, perilaku
1) Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit
bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilaman telah sembuh
dari penyakit
2) Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam
keadaan sehat. Kesehatan itu sangat dinamis dan relatif,
maka dari itu orang yang sehat pun perlu diupayakan supaya
mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin
3) Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan
minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan
seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat
menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan
dapat mendatangkan penyakit
b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan
kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan
(health seeking behavior)
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang
pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau
perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai
mencari pengobatan ke luar negeri
c. Perilaku kesehatan lingkungan
Bagaimana seseorang merespons lingkungannya, baik lingkungan
fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan
2. Alasan Seseorang Berperilaku
Terdapat beberapa model penelitian yang mengungkapkan tentang
analisis faktor-faktor yang memberi kontribusi terhadap perilaku
kesehatan, salah satunya yaitu teori menurut tim kerja WHO. Menurut
tim kerja WHO (1980), ada empat alasan pokok yang menyebabkan
seseorang berperilaku atau tidak berperilaku, yaitu :
a. Pemikiran dan perasaan (thoughts dan feeling)
Pemikiran dan perasaan terhadap objek atau stimulus merupakan
modal awal untuk bertindak atau berperilaku. Pemikiran dan
perasaan dalam bentuk pengetahuan, persepsi,
kepercayaan-kepercayaan, dan penilaian seseorang terhadap objek.
1) Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau
pengalaman orang lain. Pengetahuan tidak hanya didapatkan
dari pengalaman tetapi tingkat pendidikan seseorang juga akan
mempengaruhi pengetahuan orang tersebut. Pengetahuan juga
tidak selalu dapat menyebabkan perilaku, untuk
mengimplementasikan suatu pengetahuan ke dalam bentuk
perilaku yang nyata perlu motivasi yang kuat dalam diri orang
2) Kepercayaan
Kepercayaan sering diperoleh dari orang tua, kakek, atau
nenek. Seseorang memperoleh kepercayaan itu dari keyakinan
dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.
b. Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang
dipercayai (personal reference)
Perubahan perilaku seseorang dipengaruhi oleh orang-orang yang
dianggap penting. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka
apa yang dikatakan atau diperbuat cenderung untuk dicontoh.
Misalnya seseorang yang dianggap penting dalam penelitian ini
yaitu dokter atau perawat. Perkataan dokter atau perawat dianggap
patut untuk diikuti oleh pasien (informan), misalnya jika dokter
atau perawat menganjurkan untuk melakukan pergerakan setelah
operasi, maka pasien cenderung untuk mengikutinya.
c. Sumber daya yang tersedia (resources)
Sumber daya merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku
masyarakat. Sumber daya di sini mencakup fasilitas-fasilitas,
uang, waktu, tenaga dan sebagainya yang berhubungan dengan
perilaku positif maupun negatif seseorang atau kelompok. Sumber
daya dalam penelitian ini mencakup fasilitas (sarana informasi
yang tersedia dan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada
pasien dan keluarga) dan tenaga atau energi yang dimiliki oleh
d. Sosio budaya setempat (culture)
Faktor sosio budaya merupakan faktor eksternal terbentuknya
perilaku seseorang. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai, dan
penggunaan sumber-sumber di dalam masyarakat disebut
kebudayaan. Perilaku normal merupakan salah satu aspek
kebudayaan dan kebudayaan ini mempunyai pengaruh yang dalam
terhadap perilaku. Dalam penelitian ini kebudayaan terlihat pada
keyakinan informan (pasien) yang diperoleh dari keluarga atau
kerabatnya. Keyakinan tersebut berupa informasi bahwa jika
seseorang yang baru menjalani operasi jangan terlalu banyak
melakukan pergerakan. Hal ini dikarenakan takut jahitan pada
luka operasi robek atau lepas dan juga karena kondisi pasien
belum pulih.
C. Anatomi dan Fisiologi Apendiks 1. Anatomi Apendiks
Menurut Smeltzer (2001) apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil
panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah
katup ileosekal. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara
teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif, dan
lumennya kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama
Bedah dan Perawatannya menyatakan bahwa apendiks terletak di daerah
sekum di ujung tenia (pita otot). Panjang pendeknya usus buntu itu tidak
berpengaruh terhadap terjadinya peradangan. Ujung usus buntu dapat
terletak pada semua arah caecum misalnya dapat sampai ke panggul, ke
sakrum atau melilit ke usus halus. Letak yang paling banyak ditemui
adalah retrosekal (di belakang sekum).
2. Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari. Lendir itu secara
normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.
Hambatan aliran lendir dimuara appendiks tampaknya berperan pada
patogenesis appendicitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh
Gut Associated Lymfoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang
saluran cerna termasuk appendiks. Immunoglobulin itu sangat efektif
sebagai pelindung terhadap infeksi, namun demikian pengangkatan
appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan
limfe disini kecil sekali jika dibandingkan jumlah jaringan limfe di
D. Appendicitis 1. Definisi
Appendicitis adalah peradangan/inflamasi pada apendiks. Appendicitis,
penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari
rongga abdomen, untuk bedah abdomen darurat. (Mubarak, 2009)
a. Appendicitis Akut
Appendicitis akut adalah appendicitis dengan onset gejala akut yang
memerlukan intervensi bedah dan biasanya ditandai dengan nyeri di
kuadran abdomen kanan bawah dan dengan nyeri tekan lokal dan alih,
spasme otot yang ada diatasnya. Appendicitis merupakan infeksi
bakteria.
b. Appendicitis Kronik
Diagnosis appendicitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi
semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu,
radang kronik apendiks, dan keluhan menghilang setelah
appendectomy.
2. Etiologi
Appendicitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor
pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum
dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi)
keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, adanya benda
asing dalam tubuh.
Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan
dan kuat dugaannya sebagai penyebab adalah faktor penyumbatan oleh
tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau
pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang
biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin
sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia coli, inilah yang
sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus
buntu (Infopenyakit, 2009).
Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering
kali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap ke saluran appendiks sebagai
benda asing. Begitu pula terjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi)
dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk ke
saluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri
bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan
peradangan usus buntu tersebut.
Menurut penelitian epidemiologis menunjukkan kebiasaan
makan-makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat
menimbulkan appendicitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra
sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan
3. Patofisiologi
Appendicitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks
oleh hyperplasia folikel limfosit, fekalit, benda asing, striktur karena
akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.
Makin lama, mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding
appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran
limfe yang menyebabkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa/
pada saat inilah terjadi appendicitis akut fokal yang menyebabkan nyeri
epigastrium.
Bila sekresi terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal
tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri
akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di kuadran kanan
bawah. Keadaan ini disebut appendicitis supuratif akut. Bila kemudian
aliran arteri terganggu, akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti
dengan ganggren. Stadium ini disebut dengan appendicitis ganggrenosa.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga terjadi suatu massa
lokal yang disebut infiltrat appendikularis. Peradangan appendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum
Keadaan ini ditambah daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan
untuk terjadinya perforasi.
4. Manifestasi Klinis
a. Nyeri kuadran kanan bawah biasanya disertai dengan demam derajat
rendah, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan.
b. Pada titik McBurney (terletak di pertengahan antara umbilicus dan
spina anterior dari ileum) nyeri tekan setempat karena tekanan dan
sedikit kaku dari bagian bawah otot rectum kanan.
c. Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah
nyeri tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare tidak tergantung
pada beratnya infeksi dan lokasi appendiks.
d. Tanda rovsing dapat timbul dengan mempalpasi kuadran bawah kiri,
yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran
kanan bawah.
Selain tanda dan gejala di atas, gejala appendicitis juga bervariasi
tergantung dari stadiumnya, yaitu :
a. Penyakit appendicitis akut (mendadak)
Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi,
mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, nyeri saat berjalan sehingga
agak terbongkok, namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala
b. Penyakit appendicitis kronik
Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag
dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan
terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa
mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke
perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis
akut yaitu nyeri pada titik Mc Burney (istilah kesehatannya).
Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak
appendiks itu sendiri terhadap usus besar. Apabila ujung appendiks
menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan
sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan
berkemih. Bila posisi appendiks ke belakang, rasa nyeri muncul pada
pemeriksaan colok dubur atau colok vagina. Pada posisi appendiks
yang lain, rasa nyeri mungkin tidak begitu spesifik.
5. Komplikasi
Infeksi luka terjadi pada 10% atau lebih penderita apendicitis yang
mengalami perforasi kalau insisi pada kulit ditutup. Abses abdomen,
khususnya di daerah pelvis dan subfrenik diakibatkan karena perforasi
6. Prognosis
Angka kematian 0-0.3 persen pada apendicitis sederhana dan 2% atau
lebih pada kasus yang sudah mengalami perforasi. Pada anak kecil dan
orangtua perforasi dapat menyebabkan kematian pada sekitar 10%-15%
penderita. Perforasi dan kematian diakibatkan karena pasien terlambat
memeriksakan diri, atau karena keterlambatan dokter atau ahli bedah
yang bersangkutan (Theodore, 1995).
7. Appendectomy
Appendectomy adalah pembedahan untuk mengangkat appendiks yang
telah meradang (Smeltzer, 2001). Appendectomy merupakan pengobatan
yang paling baik bagi penderita appendicitis. Teknik tindakan
appendectomy ada 2 macam, yaitu open appendectomy dan laparoscopy
appendectomy. Open appendectomy yaitu dengan cara mengiris kulit
daerah McBurney sampai menembus peritoneum, sedangkan laparoscopy
appendectomy adalah tindakan yang dilakukan dengan menggunakan alat
laparoscop yang dimasukkan lewat lobang kecil di dinding perut.
Keuntungan laparoscopy appendectomy adalah luka dinding perut lebih
kecil, lama hari rawat lebih cepat, proses pemulihan lebih cepat, dan
E. Konsep Operasi/Pembedahan
1. Pengertian Operasi/Pembedahan
Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh
(Hannock, 1999). Operasi (elektif atau kedaruratan) pada umumnya
merupakan peristiwa kompleks yang menegangkan (Smeltzer, 2001).
Perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase
pengalaman pembedahan — praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif.
Operasi (perioperatif) merupakan tindakan pembedahan pada suatu
bagian tubuh yang mencakup fase praoperatif, intraoperatif dan
pascaoperatif (postoperatif) yang pada umumnya merupakan suatu
peristiwa kompleks yang menegangkan bagi individu yang bersangkutan.
2. Fase Operasi/Pembedahan
Seperti yang telah disebutkan di atas, menurut Long (1989) terdapat
tiga fase pembedahan yaitu :
a. Fase Praoperatif
Fase praoperatif dimulai saat keputusan untuk tindakan pembedahan
dibuat dan berakhir dengan mengirim pasien ke kamar operasi.
Lingkup kegiatan keperawatan dari pengkajian dasar pasien melalui
wawancara praoperatif di klinik, ruang dokter, atau melalui telepon,
dan dilanjutkan dengan pengkajian di tempat atau ruang operasi.
Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien yang akan menjalani
Misalnya, memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya
melakukan mobilisasi dini setelah operasi pada pasien yang akan
menjalani appendectomy. Di samping itu, mengajarkan pasien
bagaimana tahap-tahap melakukan mobilisasi dini juga merupakan hal
yang penting disampaikan oleh perawat.
b. Fase Intraoperatif
Fase intraoperatif dimulai saat pasien dikirim ke ruang operasi dan
berakhir saat pasien dipndahkan ke suatu ruang untuk pemulihan dari
anestesi. Pada fase ini, lingkup tindakan keperawatan dari
mengkomunikasikan asuhan perencanaan pasien, mengidentifikasi
kegiatan keperawatan yang dianjurkan untuk hasil yang diharapkan,
dan menetapkan prioritas tindakan keperawatan. Tindakan
keperawatan disusun dalam pemikiran yang logis.
c. Fase Pascaoperatif
Fase pascaoperatif dimulai dengan mengirim pasien ke ruang
pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut di klinik atau di
rumah. Lingkup keperawatn pada fase ini mencakup rentang aktivitas
yang luas. Pada fase pascaoperatif langsung, fokus termasuk mengkaji
efek dari agens anestesia, dan memantau fungsi vital serta mencegah
komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada
peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. Salah
satu peran perawat yang mendukung proses kesembuhan pasien yaitu
mobilisasi setelah operasi. Hal tersebut penting dilakukan karena
selain mempercepat proses kesembuhan juga dapat mencegah
komplikasi yang mungkin muncul.
3. Anestesi Spinal
Anestesi spinal merupakan tipe blok konduksi saraf yang luas dengan
memasukkan anestesia lokal ke dalam ruang subarakhnoid di tingkat
lumbal (biasanya L4 dan L5). Cara ini mengakibatkan paralisis pada
ekstremitas bawah, perineum, dan abdomen bawah. (Smeltzer, 2001).
Sakit kepala terjadi sebagai komplikasi pascaoperatif. Beberapa
faktor terlibat dalam insiden sakit kepala, seperti ukuran jarum spinal
yang digunakan, kebocoran cairan dari spasium subarakhnoid melalui
letak pungsi, dan status hidrasi pasien. Tindakan yang meningkatkan
tekanan serebrospinal sangat membantu menghilangkan sakit kepala.
Tindakan ini mencakup menjaga agar pasien tetap berbaring datar,
tenang, dan terhidrasi dengan baik. (Smeltzer, 2001).
F. Konsep Mobilisasi Dini
1. Pengertian Mobilisasi Dini
Mobilisasi adalah kemampuan untuk bergerak secara bebas selama
di lingkungan, yaitu suatu dasar untuk fungsi keseharian yang normal
(Craven, 2000). Menurut Kozier (1983) mobilisasi adalah kemampuan
energi dan sebagai kebutuhan manusia. Mobilisasi adalah suatu usaha
menggerakkan bagian tubuh secara aktif maupun pasif untuk
mempertahankan sirkulasi dan memelihara tonus-tonus otot ekstremitas
(Lee, 1988). Mobilisasi dini yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca
pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan
pernafasan, latihan batuk efektif dan menggerakkan tungkai) sampai
dengan pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan
berjalan ke luar kamar (Smeltzer, 2001 ).
2. Prinsip dan Tujuan Mobilisasi
Menurut Dombovy ML dikutip oleh Yahya (1995), mengemukakan
bahwa beberapa prinsip dalam melakukan mobilisasi yaitu mencegah dan
mengurangi komplikasi sekunder seminimal mungkin, menggantikan
hilangnya fungsi motorik, memberikan rangsangan lingkungan, memberi
dorongan bersosialisasi, memberi kesempatan untuk dapat berfungsi dan
melakukan aktivitas sehari-hari serta memungkinkan melakukan
pekerjaan seperti sebelumnya.
Kottke (1898) menyebutkan tujuan untuk mobilisasi yaitu untuk
mencegah terjadinya bronkopneumonia, kekakuan sendi, mencegah
tromboplebitis, atropi otot, penumpukan sekret, memperlancar sirkulasi
darah, mencegah kontraktur, dekubitus serta memelihara faal kandung
kemih agar tetap berfungsi secara baik dan pasien dapat beraktivitas.
mempertahankan fungsi tubuh, memperlancar peredaran darah,
membantu pernapasan menjadi lebih baik, mempertahankan tonus otot,
memperlancar eliminasi bab dan bak, mengembalikan aktivitas tertentu
sehingga pasien dapat kembali normal memenuhi kebutuhan gerak harian,
dan memberi kesempatan perawat dan pasien untuk berinteraksi dan
berkomunikasi.
3. Tahap-Tahap Mobilisasi pada Pasien Pasca Operasi
Mobilisasi pasca operasi yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca
pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan
pernapasan, latihan batuk efektif, dan menggerakkan tungkai) sampai
dengan pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan
berjalan keluar kamar (Smeltzer, 2001).
Tahap-tahap mobilisasi pada pasien pasca operasi meliputi (Cetrione,
2009) :
a. Pada saat awal (6 sampai 8 jam setelah operasi), pergerakan fisik
bisa dilakukan di atas tempat tidur dengan menggerakkan tangan
dan kaki yang bisa ditekuk dan diluruskan, mengkontraksikan
otot-otot termasuk juga menggerakkan badan lainnya, miring ke kiri atau
ke kanan.
b. Pada 12 sampai 24 jam berikutnya atau bahkan lebih awal lagi
dan fase selanjutnya duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang
dijatuhkan atau ditempatkan di lantai sambil digerak-gerakkan.
c. Pada hari kedua pasca operasi, rata-rata untuk pasien yang dirawat
di kamar atau bangsal dan tidak ada hambatan fisik untuk berjalan,
semestinya memang sudah bisa berdiri dan berjalan di sekitar kamar
atau keluar kamar, misalnya ke toilet atau kamar mandi sendiri.
Pasien harus diusahakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera
mungkin, hal ini perlu dilakukan sedini mungkin pada pasien pasca
operasi untuk mengembalikan fungsi pasien kembali normal.
4. Manfaat Mobilisasi
Menurut Kozier, et.al. (2004) dalam buku Fundamentals of Nursing,
keuntungan yang dapat diperoleh dari mobilisasi bagi sistem tubuh adalah
sebagai berikut :
a.Sistem Muskuloskeletal
Ukuran, bentuk, tonus, dan kekuatan rangka dan otot jantung dapat
dipertahankan dengan melakukan latihan yang ringan dan dapat
ditingkatkan dengan melakukan latihan yang berat. Dengan melakukan
latihan, tonus otot dan kemampuan kontraksi otot meningkat. Dengan
melakukan latihan atau mobilisasi dapat meningkatkan fleksibilitas
b.Sistem Kardiovaskular
Dengan melakukan latihan atau mobilisasi yang adekuat dapat
meningkatkan denyut jantung (heart rate), menguatkan kontraksi otot
jantung, dan menyuplai darah ke jantung dan otot. Jumlah darah yang
dipompa oleh jantung (cardiac output) meningkat karena aliran balik
dari aliran darah. Jumlah darah yang dipompa oleh jantung (cardiac
outpu) normal adalah 5 liter/menit, dengan mobilisasi dapat
meningkatkan cardiac output sampai 30 liter/ menit.
c.Sistem Respirasi
Jumlah udara yang dihirup dan dikeluarkan oleh paru (ventilasi)
meningkat. Ventilasi normal sekitar 5-6 liter/menit. Pada mobilisasi
yang berat, kebutuhan oksigen meningkat hingga mencapai 20x dari
kebutuhan normal. Aktivitas yang adekuat juga dapat mencegah
penumpukan sekret pada bronkus dan bronkiolus, menurunkan usaha
pernapasan.
d. Sistem Gastrointestinal
Dengan beraktivitas dapat memperbaiki nafsu makan dan
meningkatkan tonus saluran pencernaan, memperbaiki pencernaan dan
eliminasi seperti kembalinya mempercepat pemulihan peristaltik usus
dan mencegah terjadinya konstipasi serta menghilangkan distensi
e. Sistem Metabolik
Dengan latihan dapat meningkatkan kecepatan metabolisme, dengan
demikian peningkatan produksi dari panas tubuh dan hasil
pembuangan. Selama melakukan aktivitas berat, kecepatan
metabolisme dapat meningkat sampai 20x dari kecepatan normal.
Berbaring di tempat tidur dan makan diit dapat mengeluarkan 1.850
kalori per hari. Dengan beraktivitas juga dapat meningkatkan
penggunaan trigliserid dan asam lemak, sehingga dapat mengurangi
tingkat trigliserid serum dan kolesterol dalam tubuh.
f. Sistem Urinary
Karena aktivitas yang adekuat dapat menaikkan aliran darah, tubuh
dapat memisahkan sampah dengan lebih efektif, dengan demikian
dapat mencegah terjadinya statis urinary. Kejadian retensi urin juga
dapat dicegah dengan melakukan aktivitas.
5. Rentang Gerak dalam Mobilisasi
Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi ada tiga rentang gerak,
yaitu :
a. Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan
otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot-otot orang lain secara
pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki
b. Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi
dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya
pasien berbaring sambil menggerakkan kakinya.
c. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan
aktivitas yang diperlukan.
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor Lauro (1985)
mengemukakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mobilisasi dini
adalah sebagai berikut :
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu ilmu tentang suatu bidang yang
disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat
digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang
pengetahuan itu (Kurnia, 2002 yang dikutip oleh Purwanto tahun
2007).
Pengetahuan individu terhadap sesuatu dan yakin akan manfaat
menyebabkan seseorang untuk mencoba menerapkan dalam bentuk
perilaku. Pengetahuan tersebut dapat didapatkan dari informasi,
membaca, dan melalui pendidikan formal. Tingkat pendidikan
Pengetahuan mengenai mobilisasi dini pasca operasi bisa
didapatkan dari informasi atau pendidikan kesehatan yang diberikan
oleh seorang perawat kepada pasien yang akan menjalani tindakan
operasi seperti appendectomy. Pendidikan kesehatan tersebut dapat
diberikan sebelum tindakan operasi dilakukan yaitu pada fase
praoperatif. Sehingga setelah tindakan operasi selesai dilaksanakan,
pasien telah mengetahui manfaat dari mobilisasi dan hal itu dapat
mempengaruhi pasien tersebut untuk melakukan mobilisasi dini tanpa
rasa takut.
b. Emosi
Menurut Goleman, 2000 yang dikutip oleh Hanum (2006) emosi
merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu
keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan
untuk bertindak. Emosi adalah suatu kesatuan reaksi fisiologis dalam
diri manusia untuk menghadapi rangsangan atau stimulus yang ada.
Terbentuknya emosi dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman
selama masa perkembangan individu. Seseorang dengan emosi yang
stabil adalah yang dapat mengendalikan perasaan-perasaannya
meskipun dihadapkan pada suatu kondisi yang memungkinkan
mengganggu kestabilan emosinya, yang juga dapat mengekspresikan
emosinya tersebut pada waktu dan tempat yang tepat, sehingga dapat
Emosi adalah perasaan dalam diri seseorang yang timbul karena
ada suatu stimulus dan memperlihatkan reaksi kognisi, reaksi
fisiologis, reaksi biologis, dan bahkan reaksi behavioral tertentu.
Sedangkan Sarwono dalam Yusuf (2008) berpendapat bahwa emosi
merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna
afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang
luas (dalam). Berdasarkan pengertian tersebut dikemukakan bahwa
emosi itu merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan
atau perilaku individu. Maksud warna afektif di sini adalah
perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi suatu situasi
tertentu, seperti gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak
senang), dan sebagainya. Berikut ini adalah beberapa contoh tentang
pengaruh emosi terhadap perilaku individu, yaitu :
1)Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas
atas hasil yang didapat.
2)Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena
kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini adalah
timbulnya rasa putus asa (frustasi).
3)Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila
sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga
menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam
4)Terganggu dalam penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa
cemburu dan iri hati.
5)Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa
kecil akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik
terhadap dirinya maupun orang lain.
Cedera merupakan stressor bagi seseorang yang dirawat di
rumah sakit. Perasaan yang dialami pasien pasca operasi
appendectomy terhadap luka operasi yang belum sembuh akan
menimbulkan rasa takut untuk melakukan mobilisasi, sehingga rasa
takut tersebut dapat menjadi penghambat bagi mereka untuk
melakukan mobilisasi.
c. Sosial
Sosial adalah hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat dan
kebersamaan, kekuatan masyarakat tersebut berada di sekitar individu
tersebut dalam berinteraksi (Yusuf, 2008). Adanya interaksi antara
individu yang satu dengan individu yang lain dapat memberikan
kekuatan pada individu tersebut. Dimana definisi interaksi sosial
menurut Nurdin (2006) adalah adanya hubungan dua orang atau lebih
yang perilaku atau tindakannya direspon oleh orang lain.
Interaksi yang dilakukan pasien dengan keluarga dan
orang-orang di sekitar akan mempengaruhi pasien tersebut untuk melakukan
mobilisasi pasca operasi, sehingga dengan mobilisasi tersebut akan
d. Fisik
Fisik adalah postur tubuh, kesehatan (sehat atau sakit), keutuhan
tubuh, keberfungsian organ tubuh seseorang (Yusuf, 2008). Keadaan
fisik seseorang yang lemah secara langsung akan berpengaruh
terhadap mobilisasi yang dilakukan. Keadaan tersebut akan
membatasi dari pergerakan karena kurangnya energi di dalam tubuh.
Pada pasien yang baru saja menjalani operasi seperti operasi
appendectomy, keadaan fisik pasien tersebut belum kembali pulih
pada keadaan sebelumnya. Hal tersebut dapat membuat pasien merasa
enggan untuk melakukan mobilisasi, selain itu rasa nyeri yang
dirasakan juga membuat pasien merasa lemah dan hanya ingin
berbaring di tempat tidur.
e. Stimulus Lingkungan
Stimulus lingkungan adalah rangsangan dari luar yang
mempengaruhi dan menggerakkan individu untuk berbuat (Handoko,
1997). Stimulus lingkungan tersebut dapat berupa dukungan perawat
atau keluarga. Adanya dukungan dan dorongan dari perawat serta
keluarga dapat menimbulkan motivasi pada pasien yang dirawat untuk
melakukan aktivitas, seperti pasien yang baru saja menjalani operasi.
Aktivitas yang dapat dilakukan yaitu berupa mobilisasi sehingga
dengan melakukan mobilisasi dapat mempercepat penyembuhan
Sarana atau fasilitas ruang rawat, peran serta perawat, peran serta
keluarga yang mendukung dan tidak mendukung agar pasien
berinisiatif dan mau melakukan mobilisasi. Suasana lingkungan yang
nyaman juga dapat mendukung terhadap aktivitas seseorang yang
dilakukan.
Sedangkan menurut Kozier (1995), faktor-faktor yang
mempengaruhi mobilisasi adalah :
f. Gaya Hidup
Istilah gaya hidup merupakan prinsip yang dapat dicapai sebagai
landasan untuk memahami perilaku seseorang yang melatarbelakangi
sifat khas seseorang, terlihat dari beberapa pengertian yang
diungkapkan di bawah ini.
Menurut Adler dalam Hall (1993) mendefinisikan gaya hidup
sebagai sistem utama yang memungkinkan berfungsinya kepribadian
individu sebagai keseluruhan yang menggerakkan bagian-bagiannya.
Semua perilaku manusia bersumber dari gaya hidup yang dimilikinya,
dimana ia mempersepsi, mempelajari, dan menyimpan atau
mempertahankan hal-hal yang sesuai dengan gaya hidupnya serta
menyisihkan hal-hal yang tidak sesuai dengan gaya hidupnya.
Gaya hidup merupakan pola tingkah laku sehari-hari segolongan
manusia didalam masyarakat. Kebiasaan seseorang pada masa
hidupnya, termasuk kebiasaan dalam memperhatikan kesempurnaan
dalam Wiroreno (1994), gaya hidup lebih kepada pola hidup
seseorang di dalam dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat,
dan pendapat orang tersebut. Gaya hidup adalah cara hidup yang
dikenali dari bagaimana orang menggunakan waktu dan aktivitas
mereka, dari minat mereka yaitu apa yang mereka anggap penting di
dalam kehidupan mereka, dan dari pendapat mereka tentang diri
mereka sendiri serta dunia sekitar mereka.
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat
pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan
diikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya.
Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tentang mobilitas
seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang
sehat.
g. Proses Penyakit dan Injury
Proses penyakit adalah keadaan dimana seseorang sedang
menderita suatu penyakit tertentu. Keadaan tersebut mengakibatkan
keadaan kesehatan seseorang menjadi terganggu sehingga sulit
melakukan aktivitas seperti biasa. Adanya penyakit tertentu yang
diderita seseorang akan mempengaruhinya mobilitasnya, misalnya
seseorang yang baru saja menjalani operasi akan kesulitan untuk
mobilisasi secara bebas karena adanya rasa sakit/nyeri yang menjadi
alasan mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya