V. HASIL PEMBAHASAN
5.3 Karakteristik Internal Responden
Karakteristik internal responden masyarakat bantaran Sungai Ciliwung
adalah gambaran dari karakteristik masing-masing responden atau secara
keseluruhan. Data yang ditampilkan berupa data secara umum dari masing-masing pengklasifikasian berdasarkan karakteristik responden. Karakteristik internal responden dibagi menjadi jenis kelamin, umur dengan satuan tahun, lama pendidikan dengan satuan tahun, pendapatan dengan satuan Rp./ Bulan, lama bermukim dengan satuan tahun dan jarak rumah dari sungai dengan satuan meter, status pekerjaan, frekuensi membuang sampah dengan satuan berapa kali dalam sehari, jumlah dan jenis sampah yang dibuang, dan cara membuang sampah. Pada penelitian ini yang akan diukur sebagai faktor internal yang mempengaruhi persepsi responden tentang kegiatan ”Pengadaan Sarana dan Prasarana
Pencegahan Pencemaran Lingkungan” yaitu umur, pendidikan, pendapatan, lama bermukim dan jarak rumah dari sungai. Pada karakteristik yang menjadi faktor internal dalam penelitian, digolongkan menjadi tiga kelas. Responden pada penelitian ini adalah terdiri dari 27 perempuan dan 23 laki-laki. Untuk lebih lengkapnya dapat dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Sebaran Responden Berdasarkan Karakteristik Internal Tahun 2008 Karakteristik Responden Jumlah (Jiwa) Persentase (%) Rata-rata Usia (tahun) 18 sampai 32 13 32.5 39 33 sampai 47 14 35 ≥ 48 13 32.5 Total 40 100 Pendidikan (tahun) 0 3 sampai 7 17 42.5 8 8 sampai 12 21 52.5 ≥ 13 2 5 Total 40 100 Pendapatan (bulan) 0 Rp.120.000 - Rp.779.999 19 47.5 Rp. 777.800 Rp.780.000 - Rp.1.439.999 14 35 ≥ Rp.1440.000 7 17.5 Total 40 100 Jarak (meter) 0 2 sampai 10 13 32.5 18 11 sampai 19 13 32.5 ≥ 20 14 35 Total 40 100
Lama Bermukim (tahun) 0
1 sampai 13 29 72.5
9
14 sampai 27 2 5
≥ 28 9 22.5
Total 40 100
Sumber : Diolah dari Data Primer, 2008 5.3.1 Umur
Menurut tingkatan umur responden, presentase terbesar berada pada kisaran umur 33 - 47 tahun, namun kisaran umur responden tidak menunjukkan perbedaan yang jelas. Menurut Hurlock (1980) diacu dalam, bahwa tahap perkembangan manusia terdiri dari tahap anak-anak periode awal (2 - 6 tahun), anak-anak periode akhir (6 - matang secara seksual), remaja awal (13 - 16 tahun), remaja akhir (16 - 18 tahun), dewasa dini (18 - 40 tahun), dewasa madya (40 - 60 tahun) dan dewasa lanjut (>60 tahun). jadi kisaran umur responden berada pada tahap dewasa dini dengan dewasa madya. Rata-rata umur responden 39 tahun,
berada pada tingkatan dewasa madya (Hurlock 1980). Sebaran responden bardasarkan umur dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Sebaran Responden Berdasarkan Umur
5.3.2 Pendidikan
Pada sebaran responden berdasarkan jenjang pendidikan yang dapat dilihat pada Gambar 5, menunjukkan 8 – 12 tahun mempunyai presentase yang besar, yaitu 53%. Hal ini dapat dijelaskan bahwa responden mempunyai pendidikan yang berada pada kisaran 8 – 12 tahun atau pada tingkat tamat SD sampai SMA. Ini sesuai dengan monografi Kelurahan Babakan Pasar, jumlah penduduk
Kelurahan Babakan Pasar berdasarkan pendidikan pada Tabel 4, bahwa presentase penduduk yang sekolah hingga tamat SMA sebesar 87,59% dari jumlah penduduk berdasarkan pendidikan sebanyak 3.892 jiwa. Rata-rata jenjang pendidikan
responden yaitu 8 tahun, yang menunjukkan tingkat pendidikan responden masih rendah karena belum mencapai program wajib belajar sembilan tahun.
5.3.3 Pendapatan
Presentase terbesar pendapatan responden yaitu pendapatan dari Rp. 120.000 – Rp. 779.999 dan presentase terkecil yaitu sebesar 18% pada kisaran lebih dari sama dengan Rp.1.440.000. Hal ini menjelaskan bahwa pendapatan responden baik, bila dibandingkan pendapatan UMR per bulan Kota Bogor adalah Rp. 715.000 per bulan menunjukkan bahwa responden banyak yang memiliki pendapatan yang rendah, bahkan ada responden yang mempunyai penghasilan sangat rendah sampai Rp.120.000 per bulan, karena responden bekerja sebagai buruh cuci, ataupun bekerja sambilan dengan penghasilan tidak tetap. Sebaran responden berdasarkan pendapatan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Sebaran Responden Berdasarkan Pendapatan 5.3.4 Jarak Rumah dari Sungai
Pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa sebaran responden berdasarkan jarak rumah dari sungai mempunyai presentase yang tidak berbeda jauh. Karena
memang responden yang diambil merupakan masyarakat yang berada di bantaran sungai. Dalam penelitian ini yang dimaksud masyarakat bantaran sungai adalah masyarakat yang tinggal atau bermukim dengan jarak rumah ≤ 100 meter dari sungai. Kondisi pemukiman pada tempat penelitian, dengan kondisi rumah yang berada dipinggiran sungai dan posisi rumah yang membelakangi sungai.
Gambar 7. Sebaran Responden Berdasarkan Jarak Rumah dari Sungai
5.3.5 Lama Bermukim
Lama bermukim adalah jumlah tahun responden bermukim dari lahir sampai dilakukannya penelitian ini. Pada Gambar 8 dapat dilihat bahwa
presentase terbesar yaitu sebaran responden pada lama bermukim yaitu sebesar 72% pada 1 – 13 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tinggal di wilayah bantaran sungai ini relatif belum lama. Banyak pendatang yang datang ke wilayah ini mulai tahun 1995-an.
Gambar 8. Sebaran Responden Berdasarkan Lama Bermukim 5.3.6 Jenis Pekerjaan
Pekerjaan merupakan kegiatan dan jenis pekerjaan dari responden yang dikerjakan pada waktu penelitian ini dilaksanakan. Dari hasil wawancara,
pekerjaan responden terbagi menjadi lima status pekerjaan yaitu, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai swasta, wiraswasta, buruh dan ibu rumah tangga. Mayoritas pekerjaan dari responden yaitu sebagai ibu rumah tangga, yang menunjukkan bahwa dalam satu keluarga dominan suami yang bekerja, jadi pada saat penelitian
dilakukan sebagian besar kepala rumah tangga dari responden sedang bekerja. Selain ibu rumah tangga, pekerjaan yang dominan dikerjakan oleh responden adalah wiraswasta dan buruh. Kondisi di lapangan memang banyak sekali warung-warung di sepanjang jalan, yang berupa warung sembilan bahan pokok atau pun warung-warung nasi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, maka mereka memilih untuk berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun dengan persaingan yang ketat karena banyak sekali masyarakat yang memilih untuk berjualan. Begitu pula dengan masyarakat yang bekerja sebagai buruh, yang merupakan pekerjaan yang tidak pasti. Kondisi di lapangan, responden banyak yang menjadi buruh cuci dan buruh bangunan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. Pegawai Negeri 1 2.50
2. Pegawai Swasta 3 7.50
3. Wiraswasta 11 27.50
4. Buruh 10 25.00
5. Ibu Rumah Tangga 15 37.50
Total 40 100.00
5.3.7 Cara Membuang Sampah
Cara membuang sampah adalah perlakuan responden dalam membuang sampah. Terdapat beberapa cara membuang sampah yang dilakukan oleh
masyarakat bantaran Sungai Ciliwung antara lain ; (1) dibuang sendiri ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS); (2) dibakar; (3) dibuang ke tempat sampah rumah tangga; (4) ditimbun; (5) dibuang ke sungai. Secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 8.
Responden yang membuang sampah langsung ke TPS yaitu dengan cara setelah sampah dikumpulkan di tempat sampah yang ada di rumah, setelah penuh baru mereka membuang sampah ke TPS yang berada di tepi jalan besar Kelurahan Babakan Pasar. Persentase responden yang melakukan cara ini sebesar (22,50%), umumnya responden sambil berangkat bekerja mereka sekalian membawa sampah yang sudah penuh di tempat sampah rumah responden yang kemudian di buang di
TPS. Responden yang lain Dibakar dan ditimbun menjadi alternatif responden untuk cara membuang sampah, namun hanya 5,00% dan 2,50% yang
menunjukkan bahwa sedikit responden yang membuang sampah dengan cara dibakar dan ditimbun karena keterbatasan lahan. Penimbunan dan pembakaran sampah umumnya dilakukan di belakang rumah yang berada di tepi sungai.
Responden yang lain, membuang sampah dengan membuang sampah ke sungai dengan persentase sebesar 7,50%. Mereka beranggapan bahwa dengan membuang sampah ke sungai tidak masalah karena akan terbawa arus, apalagi pada waktu air sungai sedang pasang Anggapan lain bahwa sampah yang
mempunyai aroma yang busuk, misalnya sampah ikan, udang dan lain-lain tidak masalah jika dibuang ke sungai.
Sebagian besar responden yang membuang sampah pada tempat sampah milik sendiri. Jenis tempat sampah milik rumah tangga yang terbuat dari kaleng cat yang besar ataupun dari ember yang mereka simpan di dalam rumah maupun diluar rumah. Dan ada juga responden yang membuat tempat sampah secara permanen dengan cara membuat bak seman permanen dengan ukuran kurang lebih 1 meter x 1 meter, di depan rumah responden. untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Sebaran Responden Berdasarkan Cara Membuang Sampah Cara Membuang Sampah Jumlah
(Jiwa) Persentase (%)
1. Dibuang langsung ke TPS 9 22.50
2. Dibakar 2 5.00
3. Dibuang pada tempat sampah milik masing-masing
rumah tangga 25 62.50
4. Ditimbun 1 2.50
5. Dibuang ke sungai 3 7.50
Total 40 100.00
5.3.8 Frekuensi Membuang Sampah
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi membuang sampah responden berkisar antara satu sampai dua kali sehari hingga tiga hari sekali. Persentase frekuensi dalam membuang sampah paling besar yaitu sehari sekali sebesar 55,00% dan yang terkecil yaitu tiga hari sekali sebesar 5,00%. Frekuensi
membuang sampah ini terkait dengan usaha yang digeluti responden. mereka yang memiliki usaha warung atau sebagai pedagang sayuran yang memiliki jumlah sampah yang banyak akan lebih sering membuang sampah, sedangkan responden dengan pekerjaan tidak terkait dengan usaha tersebut cenderung membuang sampah sehari sekali atau dua hari sekali, secara lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Sebaran Responden Berdasarkan Frekuensi Membuang Sampah
Frekuensi Membuang Sampah Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. Sehari 2 kali 6 15.00
2. Sehari 1 kali 22 55.00
3. 2 hari sekali 10 25.00
4. 3 hari sekali 2 5.00
Total 40 100.00
5.3.9 Jumlah dan Jenis Sampah
Jumlah sampah adalah banyaknya sampah responden dalam sekali buang. Kisaran jumlah sampah yang dibuang, yaitu antara dua sampai tiga kilogram dalam sekali buang. Biasanya responden membuang sampah dengan ukuran kantong plastik yang besar. Namun ada pula responden yang membuang sampah seberat 15 kg sekali buang, dengan menggunakan wadah palstik atau karung beras yang ukuran kecil (sekitar 25 kg). Umumnya responden ini mempunyai pekerjaan sebagai penjual sayuran yang limbah barang dagangnya cukup banyak.
Jenis sampah adalah macam-macam sampah yang dibuang oleh
responden, yang digolongkan menjadi sampah organik yang terdiri dari sampah sayuran, sisa-sisa makanan, dan sampah anorganik yang terdiri dari sampah plastik, kaleng, botol dan sampah yang sulit terurai lainnya. Dari hasil
pengamatan, jenis sampah yang dominan pada rumah tangga responden yaitu sampah organik. Hal ini dikarenakan sampah rumah tangga responden lebih banyak sisa makanan, sampah sayuran. Sedangkan sampah anorganik tidak terlalu banyak, karena sebagian besar responden cenderung menggunakan kemasan isi ulang, seperti botol shampo, botol minyak dan lain-lain.