• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

B. Dimensi Sosial Keagamaan 1.Dimensi Ritual 1.Dimensi Ritual

6. Faktor Pendidikan

Menurut para ahli pendidikan, Naquib al-Attas dalam Mudzakir (2006:69) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk Insan Kamil. Abd ar-Rahman Shaleh Abd Allah dalam Mudzakir (2006:78) menyatakan bahwa tujuan pendidikan

25

Islam adalah harus mencangkup tujuan pendidikan jasmani, tujuan pendidikan rahani, tujuan pendidikan akal, tujuan pendidikan sosial. Muhammad Athahiyah al-Abrasyi, dalam Mujib (2006:79) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, sewaktu hidupnya membentuk moral yang tinggi, karena pendidikan moral ruhnya pendidikan Islam.

Ahmad Fuad al Ahwani dalam Arifin (2011:56) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah pendidikan yang menyatu antara pendidikan jiwa, pendidikan ruh, mencerdaskan akal, dan menguatkan jasmani. Sumber pendidikan Islam semua yang digunakan untuk menjadi acuan atau rujukan dalam menentukan kurikulum. Sebuah sumber yang baik haruslah mempunyai kebenaran secara rasiao agar dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Seperti yang dinyatakan oleh Daradjat (2012:34) bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat.

Oleh karena itu bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. 1) Orang Tua

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak merekalah yang mendidik pertama-tama anaknya

26

dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat di keluarga. Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang sangat penting atas pendidikan anak-anaknya. Sejak lahir ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula. Cara ayah melakukan pekerjaanya sehari-hari berpengaruh pada cara berkerja Tidaklah diragukan lagi bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul kepada orang tua. Apakah tanggung jawab pendidikan itu diakuinya secara sadar atau tidak, diterima dengan sepenuh hatinya atau tidak, hal itu merupakan “fitrah” yang telah dikodratkan Allah SWT kepada setiap orang tua. Orang tua tidak bisa menghindari itu semua karena itu merupakan tanggung jawab dan amanah dari Allah SWT. Yang terdapat QS. Asy-syura (26): 214.









Artinya: “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” (QS. Asy-syura (26): 214).

Tanggung jawab pendidikan Islam yang dibebankan kepada orang tua, setidaknya harus dilaksanakan dalam rangka: mempelihara dan membesarkan anak, melindungi dan menjamin kesamaan, memberi pengajaran dan membahagiakan anak. Dilihat dari tujuannya pendidikan Islam yang berorientasi pada kebahagian

27

dunia dan akhirat, maka orang tua tidak akan sanggup memikulnya sendiri, oleh karena itu ada juga guru.

2) Guru

Guru adalah tenaga profesional, para orang tua menyerahkan anak-anaknya kepada seorang guru untuk mendidiknya. Dengan ini berarti pelimpahan tanggung jawab orang tua terhadap seorang guru dan secara otomatis tanggung jawab mendidik anak akan beralih pada guru.

3) Masyarakat

Masyarakat turut ikut memikul tanggung jawab pendidikan. Masyarakat besar pengaruhnya dalam memberi peranan dalam pendidikan anak, terutama para pemuka atau tokoh masyarakat. Dengan demikian dipundak mereka terdapat beban juga dalam ikut menanggung tanggung jawab terhadap terselenggaranya pendidikan Islam. Pada dasarnya tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab setiap orang dewasa baik secara perorangan maupun kelompok sosial.

Prof. Dr. Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mengemukakan dalam Daradjat (2012:45) bahwa di antara ulama-ulama mutakhir yang telah menyentuh persoalan tanggung jawab adalah Abbas Mahmud Al-Akkad yang menganggap rasa tanggung jawab sebagai salah satu ciri pokok bagi manusia pada pengertian

28

Al-Qur’an dan Islam, sehingga dapat ditafsirkan manusia sebagai: “manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab”.

D. Karakteristik Kehidupan Masyarakat Karyawan Pabrik

Di era yang kian maju ini, setiap orang di dunia dapat berhubungan satu dengan yang lainnya secara mudah, dengan pesawatpun dalam satu hari seseorang dapat berpindah dari benua satu dan benua yang lain. Demikian pula dengan semakin majunya teknologi membuat informasi turut berkembang cepat, dengan internet setiap orang dapat mengakses berita dari belahan dunia lain, berbagai hal seperti itulah yang terpikirkan jika mendengar kata globalisasi. Kemajuan membuat setiap orang dapat menjangkau batasan-batasan yang ada, sehingga setiap orang di dunia dapat dipandang sebagai masyarakat dunia yang tak lagi menghiraukan adanya asal negara. Globalisasi sendiri didefinisikan sebagai suatu proses hubungan sosial secara relatif yang menemukan tidak adanya batasan jarak dan menghilangnya batasan-batasan secara nyata, jadi ruang lingkup kehidupan manusia makin bertambah dengan memainkan peranan yang lebih luas didalam dunia sebagai kesatuan tunggal (Rudy, 2003:5).

Globalisasi dikatakan memiliki aspek-aspek seperti internasionalisasi, yang menandai meningkatnya ketergantungan antar negara di dunia, liberalisasi yang menandai pergerakan setiap negara yang membuka diri dan bersatu dalam dunia perekonomian,

29

universalisasi sebagai menyebarnya berbagai objek dan pemikiran di dunia, westernisasi terutama dari Amerika dan yang terakhir ialah deteritorialisasi yang menghapuskan pengaruh batas-batas jarak (Scholte, 2001:14).

Menurut A. W. Pratikya, (2005 : 84) beberapa kecenderungan perkembangan masyarakat pada era global adalah sebagai berikut:

a. masyarakat fungsional, yaitu masyarakat yang masing-masing warganya dalam berhubungan sosial hanya terjadi karena adanya kegunaan atau fungsi tertentu. Ini berarti, hubungan antar manusia akan lebih diwarnai oleh motif-motif kepentingan (fungsional), yang biasanya berkonotasi ‘fisik materil’. Hal-hal yang berada diluar itu, dengan sendirinya kurang mendapatkan perhatian yang sewajarnya.

b. masyarakat teknologis, yaitu masyarakat yang semua urusan dan kegiataanya harus dikerjakan menurut tekniknya masing-masing, yang cenderung sudah baku. Pola kehidupan yang teknologis membawa konsekuensi nilai, yaitu makin dominannya pertimbangan efesiensi, produktivitas dan sejenisnya yang pada umumnya menggambarkan ciri-ciri materialistik.

c. masyarakat saintifik, yaitu masyarakat yang dalam menghargai manusia lebih diwarnai oleh seberapa jauh hal itu bernilai rasional objektif, provable (dapat dibuktikan secara empirik dan kaidahkaidah ilmiah yang lain). Dalam masyarakat semacam ini

30

ilmu pengetahuan dan teknologi semakin lama akan menunjukkan peran yang semakin penting.

d. masyarakat terbuka, yaitu suatu masyarakat yang sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem. Dinamika kehidupan diatur oleh sistem, bukan diatur oleh orang. Dan sistem ini tidak saja bersifat lokal, nasional, atau regional, tetapi bersifat global.

e. transendentalisasi agama, yaitu masyarakat yang meletakkan agama semata-mata sebagai masalah individu (personal/pribadi). Tuhan tidak lagi diberi otoritas untuk mengatur dinamika alam dan kehidupan. Agama seolah disisihkan dari dinamika sosial masyarakat.

f. masyarakat serba nilai, yaitu berkembangnya nilai-nilai budaya masyarakat yang timbul akibat modernisasi itu sendiri. Beberapa kecenderungan tersebut antara lain: sekulerisme, materialisme, individualisme, hedonisme, dan sebagainya.

Ketika bangsa Indonesia sedang berkembang menuju cita-cita suatu masyarakat yang adil dan makmur, modernisasi dan industrialisasi menjadi suatu yang tidak dapat dielakkan, dengan menempatkan sains dan teknologi sebagai tulang punggungnya. Perkembangan ini, di samping membawa banyak manfaat, ternyata juga menyertakan akses mudharatnya bagi umat manusia.

Kemajuan sains dan teknologi memang telah mampu membuka semakin lebar rahasia alam semesta. Komunikasi

31

semakin mendekatkan pemahaman dan saling pengertian antar berbagai kebudayaan, tata nilai dan norma. Akan tetapi, gerak kemajuan dan modernisasi rupanya juga membawa limbah peradaban yang dapat mencemari akhlak mulia. Kemajuan itu ternyata juga sarat beban pergeseran tata nilai yang dapat menjerumuskan manusia.

Menumbuhkan kesadaran kembali tentang tujuan hidup menurut islam. Baik manusia sebagai hamba Allah, maupun kholifah Allah. Seperti yang dijelaskan pada QS. Al-Baqarah : 30 yang berbunyi :



























































Artinya: ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah 2: 30).

Marslow dan Gidson (1996:181) Industrialisasi membawa berbagai perubahan pada banyak aspek kehidupan manusia. Perubahan cara kerja, gaya hidup, tata ekonomi, dan kebijakan politik, pada akhirnya membawa pula dampak sosial yang sulit

32

diperkirakan, di antara berbagai kecenderungan sosial pada era ini, yang menonjol adalah berkembangnya orientasi yang berlebihan terhadap materi (fasilitas) berikut konsumerismenya. Bila tidak terkendali, kecenderungan ini dapat mengguncang keseimbangan antara orientasi keduniaan (inner worldly) dan keakhiratan (other worldly). keseimbangan antara orientasi keduniaan (innerworldly) dan keakhiratan (other worldly). Banyak anggota masyarakat yang terperangkap ke dalam arus materialisme, hedonistik atau, sebaliknya, sufisme yang terlalu jauh.

Pada masyarakat yang di satu tingkat persaingan untuk dapat hidup layak sedemikian ketat, dan pembagian pendapatan tidak merata, di sana sikap ananiyah berkembang sedemikian pesat. Ironinya, dalam sebuah masyarakat di mana komunikasi mudah dilakukan, justru di sana hubungan antar manusia menjadi semakin merenggang relasi umumnya baru terjadi manakala terdapat kepentingan materi tertentu Karena itu, dapatlah dipahami jika Eisenberg dan Stayer (2001:13) menyebutkan bahwa salah satu permasalahan serius dunia modern sekarang ini adalah kurangnya komunikasi dan pemahaman antar individu dan antar kelompok, rendahnya kepedulian sosial serta seringnya terjadi berbagai perilaku yang tidak manusiawi.

Kompleksitas masyarakat dunia modern seperti itu, bagi banyak orang, membawa konsekuensi meningkatnya kesulitan

33

dalam adaptasi. Sehingga, fenomena kebingungan, ketegangan, kecemasan, dan konflik-konflik berkembang begitu rupa, yang pada akhirnya menyebabkan orang mengembangkan pola-pola perilaku yang menyimpang dari norma-norma umum, berbuat semaunya sendiri dan mengganggu orang lain.

Fenomena demikian, tambah lagi dengan berbagai kenyataan sosial yang terjadi belakangan ini, semakin menambah kekhawatiran orang tua berkenaan dengan masa depan anak cucu mereka. Meningkatnya angka kriminalitas yang disertai tindak kekerasan, pemerkosaan dan penyelewengan seksual, pembunuhan sadis, semakin meningkatnya hubungan seks pra-nikah, perkelahian pelajar, narkotika, minuman keras dan lain sebagainya yang sudah menjadi berita harian di media cetak dan elektronik, semakin mendorong banyak keluarga untuk berfikir ulang mengenai efektifitas pendidikan formal dalam mengembangkan kepribadian anak di dalam masyarakat yang beraneka ragam serta di tengah-tengah era globalisasi.

BAB III

Dokumen terkait