• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

1. Keadaan Geografis Wilayah

34

Berdasarkan data yang diperoleh dari UPT Rusunawa Cabean Salatiga mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

Batas sebelah Utara Wilayah RT/RW 04/14 Batas sebelah Selatan Wilayah RT/RW 03/14 Batas sebelah Barat Wilayah RT/RW 03,04/14 Batas sebelah Timur Wilayah RT/RW 03/14

2. Keadaan Monografi UPT Rusunawa

a. Struktur Organisasi

Kepala UPT Rusunawa : Drs. Irwan Yunianto Sekretaris : Sinta Pujianti

Dian Rita

Bendahara Penerimaan Pembantu : Warsiti Indrayani, SE Bendahara Pengeluaran Pembantu : Imam Burhanudin, A.Md Teknisi Listrik : Sudiyantomo

Seksi penghunian : Rizal Muhammad Seksi Kebersihan : 1. Heri Maryono

2. Agus Sumardi 3. Andi Heri Ananta 4. Singgih Wiyono 5. Syarif Basrowi 6. Angga Khusuma 7. Subadi

35

Seksi Keamanan : 1. Ananta Windu Suhendra 2. Yudi

3. Ernanda Rio Pradana 4. Galih Pranantiyo 5. Eko Purwanto 6. Joko Susilo b. Pengelola dan Penghuni

1). Sarana Prasarana

Berikut adalah data sarana dan prasarana yang ada di Rusunawa Kota Salatiga.

No Jenis Barang Jumalah Keterangan

1. Gedung Rusunawa 2 Gedung Baik

2. Kamar Rusunawa 192 kamar Baik

3. Kantor UPTD 1 kantor Baik

4. Kantor Kepala UPTD 1 kantor Baik

5. Kantor Cleaning Servis 2 kantor Baik

6. Toilet umum 2 Buah Baik

7. Tempat Parkir 4 temapat Baik

36

9. Tempat Tenis meja 1 buah Baik

10. Lapangan voly 1 buah Baik

11. Ruang pertemuan 2 buah Baik

12. Papan Informasi 4 buah Baik

Sarana prasarana yang sifatnya umum. Adapun kamar huniaan berisi ruang tamu, ruang istirahat atau tidur, ruang dapur, kamar mandi dan tempat jemur.

2). Teknis persewaan

Adapun persewaan di rusunawa kota salatiga berbeda-beda.

No Lantai Beban Sewa

1. Lantai I 150.000,-

2. Lantai II 130.000,-

3. Lantai III 110.000,-

4. Lantai IV 90.000,-

Adapun sewa di atas adalah sewa tempat per bulan, belum termasuk bayar tagihan listrik dan air, sesuai dengan kebutuhan masing masing.

37

3). Penghuni Rusunawa

Berdasarkan data penduduk yang diperoleh dari bapak Rizal Muhammad selaku Seksi penghunian di UPT Rusunawa Cabean Salatiga ini tersebar kedalam empat lantai. Jumlah tersebut dapat dilihat dari perincian sebagai berikut:

a) Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan KK TB I dan TB II sebagai berikut :

No. Lantai Jumlah KK Laki-Laki Perempuan

01 48 57 78

02 48 62 70

03 47 58 78

04 48 61 76

Jumlah 191 238 302

b) Data penduduk berdasarkan mata pencaharian

No. Mata Pencaharian Jumlah 1. Pegawai Negeri Sipil 12 2. Karyawan swasta (Buruh Pabrik) 43

3. Buruh lepas 35

4. Wiraswasta 54

5. Lain-lain 47

38

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1. Tidak Sekolah 13 2. Lulusan SD 27 3. Lulusan SMP 94 4. Lulusan SMA 226 .5. Lulusan Kuliah 22 c. Daftar Responden

NO NAMA Status Pekerjaan

1. Bapak SJ Ketua Paguyuban 2. Bapak AN Tokoh Agama

3. Ibu MH Tokoh Agama

4. Bu ER Ibu rumah tangga (karyawan swasta)

5. Mas CD Karyawan Pabrik Kevit

6. Mas DS Karyawan Pabrik Kevit

7. Ibu KH Karyawan PT Damatex

8. Bapak SD Karyawan PT Damatex

9. Mas IW Tokoh masyarakat

39

B. Dimensi Kehidupan Sosial Keagamaan

1. Kegiatan Ritual Keagamaan

Sebagaimana telah menjadi kewajiban bagi umat beragama, ibadah merupakan tuntutan yang harus dilakukan sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah, baik secara individual maupun secara kolektif dan masing masing mempunyai nilai yang berbeda. Demikian pula masyarakat Rusunawa Cabean Salatiga dengan mayoritas penduduk beragama Islam, ibadah individual maupun kolektif mewarnai intensitas keberagamaan masyarakat ini.

Bagi warga yang bekerja sebagai karyawan pabrik, ritual ibadah kolektif seperti sholat berjama’ah, pengajian, yasinan dan tahlilan, dan lainnya, dapat mereka lakukan dengan pertimbangan waktu antara ibadah tersebut dengan waktu bekerja. Karena tuntutan ekonomi yang lebih mendesak untuk dipenuhi, sehingga intensitas keberagamaan mereka dari segi pelaksanaan ritual ibadah dapat dikatakan “pasang surut” artinya, ketika kesibukan kerja benar-benar sedang berada di hadapan mereka, maka ritual-ritual ibadah menjadi terbengkalai dan kadang agama hanya menjadi status saja. Dan mereka melaksanakan perintah-perintah keagamaan jika waktu longgar atau hati sedang dalam keadaan semangat.

Namun dalam ibadah-ibadah yang bersifat kolektif mereka lebih antusias mengikutinya di masyarakat. Interaksi keagamaan yang tampak dapat ditemui dalam ibadah-ibadah kolektif seperti sholat berjamaah, pengajian, yasinan dan tahlilan, dan lainnya.

40

a. Shalat Berjamaah

Mushola Rusunawa yang ada di kampung Cabean Salatiga jarang dipenuhi jama’ah pada waktu-waktu shalat yang bersamaan dengan waktu mereka bekerja, seperti dhuhur dan ashar. Karena kondisi mereka yang masih berada di lokasi kerja. Termasuk karyawan pabrik yang mana kebanyakan mereka melakukan shalat baik berjama’ah maupun secara munfarid di mushola atau masjid yang ada di pabrik tempat mereka bekerja pada jam-jam istirahat. Karena waktu yang disediakan adalah satu jam untuk makan, shalat dan istirahat. Sehingga pada waktu shalat dhuhur dan ashar mushala ini hanya dihadiri oleh jamaah dari warga yang berada di rumah atau bekerja di luar rumah yang masih sempat pulang pada waktu shalat tiba dan tidak terikat jam kerja pabrik atau instansi tempat mereka bekerja.

Untuk sholat maghrib dan isya’ sebagian mereka yang tinggal dekat dengan mushala yang melakukan shalat berjamaah. Di Rusunawa hanya terdapat satu mushala saja, itupun tidak dapat memuat banyak jamaah walaupun satu paguyuban saja. Di sisi lain sebagian mereka lebih memilih shalat di kontrakan, karena kondisi tubuh yang letih, lelah juga letak mushala yang lumayan berjarak dari tempat mereka tinggal, apalagi jika mereka lembur kerja, maka jamaah yang hadir hanya beberapa orang saja. Dan orang-orang inilah yang dinilai warga memiliki kesadaran beribadah dan keimanan yang lebih dibandingkan yang lain. Menurut mbak Yy, salah seorang informan

41

yang bekerja sebagai karyawan pabrik, “hanya orang-orang yang sadar dan kuat imannya saja yang menjalankan shalat secara rutin apalagi berjamaah”. Menurutnya sebagai orang Islam yang beriman, kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah harus ditaati dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Karena hal inilah yang membedakan antara muslim yang mu’min dengan yang bukan mu’min.

Sedangkan untuk shalat subuh memang butuh perjuangan batin yang benar-benar kuat untuk menjalankannya apalagi secara berjamaah di mushala. Pak An, salah satu tokoh agama menjelaskan bahwa shalat subuh merupakan sholat yang paling berat untuk dijalani dan memerlukan perjuangan batin yang lebih kuat untuk melakukannya. Padahal pahala shalat subuh jauh lebih besar daripada shalat-shalat wajib yang lain, apalagi jika dilakukan secara berjamaah, pahalanya sama dengan melakukan shalat sunnah semalam suntuk, namun banyak yang kurang menghiraukannya. Selain itu dari segi kesehatan dapat kita rasakan dengan bangun pagi mendapatkan oksigen dari udara sejuk dan murni di pagi hari dan gerakan-gerakan shalat merupakan pengaturan pernafasan kita. Selanjutnya, Pak An menjelaskan “manfaat untuk saya pribadi, saya bisa dekat dengan Pak Ms (Imam masjid di kampung masyarakat Cabean), ustadz-ustadz yang ada di sana, jadi saya bisa mengambil ilmu dari mereka. Kemudian bisa kenal dekat dengan jamaah lainnya. Sehingga di samping aktif mengikuti yasinan di sini saya juga punya banyak relasi

42

dari jama’ah sana”. Jadi intinya selain manfaat secara pribadi yang diperoleh juga hikmah sosial dapat dirasakan.

Jadi shalat berjamaah bagi para karyawan pabrik merupakan perjuangan batin yang sungguh-sungguh dengan membagi waktu dengan jam kerja mereka. Walaupun mereka juga mengetahui keutamaannya namun waktu dan kesempatan yang terbentur aturan pabrik, juga kondisi tubuh yang lelah serta kurangnya kesungguh-sungguhan melaksanakannya kadang menjadi kendala untuk tetap menjalankan shalat baik secara munfarid maupun secara berjamaah.

Bagi mereka yang menjaga ibadah shalatnya di samping kesibukannya mencari nafkah berpendapat bahwa shalat jamaah selain mendapat pahala yang lebih dibanding sholat munfarid juga mempererat persaudaraan dan kerukunan dengan sering bertemu atau berjabat tangan ketika di mushola atau masjid. Pak Hy, imam mushala Rusunawa menceritakan bahwa sering ada orang yang rajin berjamaah yang suatu ketika sempat berselisih dan ketika bertemu dalam shalat jamaah serta mengulurkan tangan untuk berjabat seusai salam, maka setelah selesai shalat mereka kembali rukun seperti sediakala. Selain itu ada yang mengatakan lebih khusyu’ melakukan shalat berjamaah dibandingkan dengan shalat di rumah atau sendirian juga menambah ilmu dan keyakinan dengan mengikuti ceramah singkat yang kadang diadakan seusai shalat. Namun ada pula yang mengatakan shalat berjamaah dilakukan karena sudah terbiasa berjamaah dan

bersama-43

sama sehingga jika shalat sendirian merasa kurang mantab apalagi rumahnya berhimpitan dengan mushala.

Sedangkan bagi remaja khususnya yang bekerja di pabrik kebanyakan mereka memberikan alasan jarang berjamaah karena tidak ada teman seusia mereka yang pergi berjamaah sehingga merasa tanggung jika harus ke mushala melakukan shalat jamaah dengan orang-orang dewasa atau usia lanjut. Kecuali pada bulan Ramadhan yang mana justru banyak jamaah remaja yang hadir walaupun hanya pada waktu shalat isya’ dan mengikuti shalat tarawih berjamaah. Dan kadang-kadang ada yang mengikuti shalat jamaah dari maghrib karena ada acara buka bersama yang diadakan seusai sholat maghrib setiap harinya.

b. Yasinan dan Tahlil

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin warga yang dilaksanakan sekali dalam seminggu dengan pemilihan hari yang berbeda-beda pada tiap-tiap warga serta bergilir dari warga ke warga lain. Kebanyakan dilaksanakan pada hari Kamis malam. Karena seperti yang telah mereka ketahui keutamaan membaca surah yasin dan tahlil ada pada hari tersebut. Namun ada juga yang melaksanakan di luar hari tersebut, misalnya hari Sabtu malam dengan alasan anggota yang ikut dalam kegiatan ini mempunyai waktu lebih santai karena esok hari libur kerja. secara umum sebagian besar warga termasuk para karyawan pabrik mengikuti kegiatan keagamaan tersebut dengan

44

antusias, namun hal tersebut belum dapat tercermin dalam kehidupan sehati-hari, karena mereka kurang menghayati atau memahami makna kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini diadakan untuk mempertebal keimanan”, kata mas Iw, tokoh masyarakat di Rusunawa. Beliau menambahkan bahwa keadaan lingkungan kini telah banyak membawa pengaruh negatif baik bagi anak-anak, remaja maupun dewasa yang belum maupun sudah berkeluarga. Oleh karena itu selain untuk mendoakan arwah di alam kubur, kegiatan semacam ini juga bertujuan sebagai siraman rohani untuk mereka pribadi maupun untuk disampaikan kepada keluarga mereka. Di samping itu juga sebagai peringatan bagi mereka yang percaya bahwa kematian bisa datang kapan saja dan tidak ada yang mengetahui kapan datangnya. Sehingga dengan mengikuti kegiatan ini dapat mengetahui bekal apa saja yang harus dipersiapkan sebelum kematian itu datang.

Di samping itu bapak An, seorang tokoh agama menjelaskan bahwa kegiatan ini dapat menambah keakraban dan persaudaraan di antara anggota-anggota yang hadir dengan dilakukannya secara anjangsana dari satu warga ke warga lain. Sehingga jika suatu saat ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia dan keluarganya ingin mengadakan dzikir bersama untuk mendoakan arwah tersebut, maka jamaah ini siap diundang ke rumah untuk melakukan dzikir tersebut sesuai permintaan tuan rumah.

45

Umumnya kegiatan warga ini diadakan dalam dua kelompok, yaitu kelompok ibu-ibu dan kelompok bapak-bapak. Walau demikian segala usia juga dapat mengikutinya. Pada hari kamis malam biasanya kegiatannya dapat diikuti dengan ibu-ibu sekitar 10-20 warga dan bapak-bapak sekitar 15-25 warga, sedangkan pada hari sabtu malam biasanya dapat diikuti dengan ibu-ibu sekitar 20-30 warga dan bapak-bapak sekitar 25-35 warga.

Mereka tampak antusias mengikuti kegiatan ini namun kebanyakan hanya sebagai simbol ritualitas saja, karena belum tercermin dalam perilaku sehari-hari. Sebagaimana yang pernah penulis temui orang yang aktif mengikuti kegiatan semacam ini, namun dalam masyarakat masih menampakkan perilaku yang kurang baik, misalnya, berbicara atau berpakaian kurang sopan, bertengkar antara suami istri, berjudi, kenakalan-kenakalan remaja juga masih nampak di sana.

Adapun motivasi dan alasan mereka mengikuti kegiatan semacam ini bermacam-macam pendapat. Sebagian mereka mengatakan kegiatan semacam ini dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Di usia yang semakin bertambah bukan harta benda yang diperbanyak untuk menghadapi maut yang sewaktu-waktu akan datang, tetapi amal yang mampu menolong kelak di akhirat. Di samping itu sebagian mereka juga mengatakan, rejeki memang harus dicari namun yang berhak memberikan hanya Allah. Dengan demikian

46

tidak perlu mengesampingkan ibadah kepada Allah juga interaksi dengan masyarakat. Apapun alasan pekerjaannya dan waktunya, asal ada kemauan kuat tentu semua dapat diatur tanpa mengabaikan salah satunya karena manusia tidak dapat hidup di dunia sendirian, sehingga hubungan yang baik dengan masyarakat perlu dijalin untuk meningkatkan kerukunan. Sehingga “bisa saling mengingatkan jika di antara kita punya kekurangan atau kesalahan”, kata ibu Kh, karyawan pabrik. Apalagi kehidupan di kota yang mana makin banyak pengaruh-pengaruh negatif perkembangan jaman yang mudah datang dan merusak moral masyarakat. Sehingga perlu membentengi diri dengan iman dan taqwa kepada Sang Pencipta agar tidak hanyut dalam hal-hal yang akan merugikan diri sendiri maupun masyarakat. Ada pula yang berpendapat mengikuti kegiatan sosial mempunyai maksud agar tidak terkesan angkuh dalam masyarakat jika kita dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat semacam ini, sehingga suatu saat membutuhkan orang lain maka tidak dikucilkan oleh orang lain.

Mbak Yy, seorang karyawan pabrik menceritakan pengalamannya tentang pentingnya ibadah dan menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah. Dia menceritakan bahwa dia pernah bermimpi bertemu adiknya yang telah meninggal dunia karena penyakit dan menyampaikan penyesalannya karena semasa hidupnya jarang sekali melaksanakan sholat dan ikut bergabung dengan warga dalam kegiatan-kegiatan sosial warga, termasuk kegiatan yasin dan tahlil ini

47

maupun kegiatan keagamaan lainnya, dikarenakan sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga adiknya tersebut menderita di alam kubur. Kemudian adiknya berpesan agar memperingatkan istrinya supaya melaksanakan sholat dan meningkatkan ibadah serta tidak enggan sering-sering berinteraksi dengan tetangga, agar disegani pula oleh tetangga.

Untuk itu informan ini menyampaikan bahwa dirinya semakin yakin bahwa kehidupan tidak berhenti sampai mati saja. Akan tetapi masih ada kehidupan setelah kematian. Untuk itu tidak ada yang lain yang harus diperbuat sebagai bekal untuk kehidupan kelak setelah meninggalkan dunia selain meningkatkan ibadah baik secara vertikal maupun horisontal untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Adapun kegiatan ini tidak khusus membaca yasin dan tahlil saja, namun juga ada pembacaan asmaul husna. Di awali dengan pembukaan, sambutan shohibul hajat atau tuan rumah dilanjutkan hadiah surah Al Fatihah, pembacaan asmaul husna, yasin dan tahlil serta doa kemudian istirahat yang disambung dengan laporan keuangan dan diakhiri dengan membaca surah Al Ashr sebagai penutup.

Dari susunan acara tersebut selain acara inti yaitu yasin tahlil, ternyata terdapat pembacaan asmaul husna. Hal ini mengandung makna bahwa dengan 99 nama-nama baik Allah dapat menjadi perantara terkabulnya doa yang dipanjatkan kepada Allah. Jika mempunyai permohonan kepada Allah maka sudah selayaknya

48

mengagungkan dzat yang dijadikan tempat meminta suatu keinginan. Demikian penjelasan yang dapat penulis tangkap dari penceramah saat mengikuti kegiatan di Rusunawa.

2. Perayaan Hari-Hari Besar Keagamaan

Sebagaimana yang sering dilakukan kaum muslimin pada umumnya, perayaan atau peringatan hari-hari besar Islam juga sering diadakan oleh masyarakat Rusunawa Cabean Salatiga. Baik dari perkumpulan remaja maupun perkumpulan bapak-bapak dan ibu-ibu, ketika menjelang tanggal hari besar atau hari bersejarah dalam Islam, maka rencana untuk mengadakan peringatan selalu mereka singgung pada saat pertemuan, meskipun kadang rencana tersebut tidak dapat terlaksana. Namun pengurus atau remaja mushala sering mengadakan acara peringatan tersebut, misalnya peringatan Isra’ Mi’raj, Maulud Nabi, Nuzulul Qur’an, malam Lailatul Qadar dan khotmil Qur’an.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa pengurus mushala dapat penulis ringkas bahwa kegiatan-kegiatan perayaan tersebut diadakan untuk seluruh warga dengan maksud sebagai berikut: a. Sebagai momentum untuk melakukan refleksi atau perenungan tentang pentingnya peran agama dan moralitas dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam menghadapi berbagai bentuk penyimpangan moral yang mudah melanda masyarakat perkotaan.

49

b. Dengan modal religiusitas dan moralitas yang baik masyarakat dapat membendung segala bentuk budaya asing dan modern yang mengancam rusaknya sendi-sendi kehidupan.

c. Masyarakat yang ikut terlibat dalam kegiatan ini diharapkan mampu menunjukkan nilai-nilai moralitas sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki dalam pergaulan sehari-hari.

Ketua Paguyuban, bapak Sj menambahkan, “jane nggih sedoyo kegiatan ngaji-ngaji niku tujuan umume ngaten niku, tapi katah-katahe sami mboten nggatekke, mahami inti maknane, dados mung anut grubyuk pokoke melu”. “sebenarnya semacam itu juga tujuan umum dalam setiap kegiatan sosial keagamaan yang diadakan di masyarakat ini. Namun sedikit dari mereka yang mampu merenungi dan memahami makna penting kegiatan yang diikuti, jadi mereka asal ikut dalam kegiatan yang diadakan”. Untuk itulah kegiatan tersebut terkesan hanya sebatas rutinitas saja yang tidak memberikan refleksi sosial terhadap pelakunya.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Sosial Keagamaan

Dokumen terkait