• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Karakteristik Keluarga

Menurut Notoatmodjo (1997), pengetahuan adalah merupakan hasil dan “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan berasal dan kata tahu yang berarti mengerti sesudah melihat, menyaksikan, mengalami. Pengetahuan itu sendiri berarti berkenan dengan hal (mata pelajaran). Pengetahuan itu dapat diperoleh dan pengalaman langsung maupun pengalaman dan orang lain yang sampai

kepadanya. Selain itu dapat juga melalui media komunikasi seperti radio, televisi, poster, majalah, dan surat kabar.

Suatu hal yang menyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan :

1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.

2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi.

3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi.

Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum di setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi Lain sebab yang penting dan gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi ataupun kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Kebutuhan pangan teristimewa anak-anak dan wanita selama hamil dan menyusui sering tidak dimengerti sop, bubur encer atau kuah daging kadang-kadang dianggap sebagai suatu susunan makanan yang baik untuk anak-anak kecil pada masa disapih. Berhubung mereka kecil dan laju pertumbuhannya cepat, anak-anak kecil perlu makanan yang mudah dicerna dan mutu gizinya sangat baik serta disajikan kepada mereka beberapa kali setiap hari, dan sudah tentu, tidak kurang dari tiga kali sehari (Suhardjo, 1986).

Perilaku seseorang dalam memilih makanan sangatlah subjektif. Hal ini dapat dimengerti karena pemilihan dipengaruhi oleh latar belakang hidup seseorang khususnya seorang ibu. Pada umumnya ada tiga pengaruh seseorang dalam memilih makanan, yaitu 1) lingkungan keluarga, tempat seseorang hidup dan dibesarkan; 2) lingkungan kepada dirinya maupun keluarganya; dan 3) dorongan yang berasal dalam diri atau disebut faktor internal.

Lingkungan keluarga mengajarkan untuk menyukai makanan tertentu sesuai dengan ragam pangan keluarga. Sejak kecil anak dikenalkan berbagai aroma, rasa, rupa, dan bentuk secara terus-menerus sebatas konsep pangan yang dinnliki keluarga. Ibu sebagai pemegang konsep pangan keluarga memiliki peran yang penting dalam mengajarkan arti pangan kepada anaknya.

Kemampuan ini didukung oleh seberapa banyak pengetahuan seorang ibu tentang kualitas, kuantitas, variasi, ataupun ragam pangan yang diselaraskan dengan pangan. Misalnya konsep pangan yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, apakah makan asal kenyang atau makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Selain itu konsep pangan yang berhubungan dengan aspek psikologis, yaitu kesukaan terhadap beberapa jenis makanan tertentu. Bisa juga konsep pangan yang hubungan dengan pengertian tabu.

Seorang ibu yang memiliki pandangan tradisional tentu akan tetap mempertahankan konsep pangan seperti yang diajarkan oleh kedua orang tuanya yang bersifat turun-temurun. Kondisi ini semakin berakar kuat ketika fungsi keluarga sebagai penopang pemenuhan kebutuhan makan masih dominan (Marwanti, 2000)

Tingkat pengetahuan akan berpengaruh terhadap tindakan dan perilaku seseorang karena berhubungan dengan daya nalar, pengalaman, dan kejelasan konsep mengenai objek tertentu. Pengetahuan serta kesukaan ibu terhadap jenis-jenis makanan tertentu sangat berpengaruh terhadap hidangan-hidangan yang disajikan kepada anak balita yang sudah mulai disapih.

Pengetahuan gizi ibu sangat diperlukan dalam upaya pemilihan makanan yang akan dikonsumsi, dengan tujuan agar makanan tersebut memberikan gizi yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh. Kurangnya pengetahuan tentang gizi merupakan faktor yang sangat penting dalam menimbulkan keadaan gizi salah terutama pada golongan yang masih rawan seperti balita.

Hal yang sangat berpengaruh pada kurangnya pemahaman ibu tentang gizi adalah karena tiadanya informasi yang memadai. Sekalipun kurangnya daya beli merupakan hal yang utama, tetapi masalah kebutuhan gizi akan bisa diatasi kalau si ibu mempunyai pemahaman dan tahu bagaimana seharusnya memanfaatkan segala sumber yang dimiliki.

2.2.2 Peran Ibu dalam Keluarga

Sering dikatakan bahwa ibu adalah jantung dan keluarga. Jantung dalam tubuh merupakan alat yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Apalagi jantung berhenti berdenyut maka orang tua tidak bisa melangsungkan hidupnya. Dan perumpamaan ini bisa disimpulkan bahwa kedudukan seorang ibu sebagai tokoh sentral, sangat penting untuk melaksanakan kehidupan. Pentingnya seorang ibu terutama terlihat sejak kelahiran anaknya, dia harus memberikan susu agar anak itu bisa melangsungkan hidupnya (Gunarsa, 1993).

Tugas pokok wanita sebagai ibu adalah pemelihara rumah tangga, pengatur, berusaha dengan sepenuh hati agar keluarga sebagai sendi masyarakat akan berdiri tegak, megali, aman, tentram, dan sejahtera hidup berdampingan dengan dan di dalam masyarakat ramai. Sebagai ibu, ia juga menciptakan suasana persahabatan, kekeluargaan dengan keluarga-keluarga lain dalam lingkungan dimana ia hidup. Keluar, ia berusaha agar hubungannya dengan keluarga lain dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis. Kedalam ia berusaha agar keluarganya sendiri dapat merupakan kesatuan/unit yang kompak dan keluarga yang terhormat. Dengan berbagai cara dan ikhtiar ia berusaha, bekerja dengan memberikan apa saja yang dipunya, dengan sepenuh hati secara ikhlas dan rela menjaga kehormatan keluarga bersama suami dan anak-anaknya.

Menurut Zeiltlin et al (1990), pola asuh anak (Care) berkaitan dengan :

1. Karakteristik Keluarga (Caregiver) yang terdiri dari pendidikan, status gizi, pendapatan keluarga.

2. Karakteristik Anak yang terdiri dan umur, jenis kelamin, urutan dalam keluarga, berat badan lahir, jumlah saudara.

3. Status Kesehatan dan Gizi Anak.

2.2.3. Tingkat Pendidikan Ibu

Latar belakang pendidik seseorang merupakan salah satu unsur penting yang penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi karena dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan pengetahuan atau informasi tentang gizi yang dimiliki menjadi lebih baik. Masalah gizi sering timbul karena ketidaktahuan atau kurang informasi tentang gizi yang memadai (Achadi, 2007).

Analisis data Susenas 2003, memberikan hasil bahwa pada masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah menunjukkan prevalensi gizi kurang yang cukup tinggi, dan sebaliknya pada masyarakat yang tingkat pendidikannya cukup tinggi prevalensi gizi kurangnya rendah. Ada dua sisi kemungkinan hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan keadaan gizi anak balita. Pertama, tingkat pendidikan kepala keluarga secara langsung. Kedua, pendidikan ibu modal utama dalam menunjang perekonomian rumah tangga, juga berperan dalam pola penyusunan makanan rumah tangga maupun dalam pola pengasuhan anak(Survei Sosial, 2003).

Penelitian Sitepu (2006) dengan menggunakan desain cross sectional menunjukkan bahwa pendidikan ibu berhubungan dengan status gizi anak balita.(p=0,011).(Sitepu, 2006).

2.2.4. Pekerjaan Ibu

Dalam hal mengasuh anak, ibu adalah orang yang paling banyak terlihat sehingga pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan anak. Meningkatnya kesempatan kerja wanita dapat mengurangi waktu untuk tugas-tugas pemeliharaan anak, kurang pemberian ASI (Soekirman, 2000).

Penelitian Sitepu (2006) dengan menggunakan desain cross sectional menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemberian kolostrum terhadap status gizi anak balita.(p=0,000).(Hermansyah, 2002).

Dokumen terkait