• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Kopi Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4.3. Karakteristik Kopi Sumatera Utara

Ekspor kopi di Sumatera Utara memiliki peranan dalam menyumbang devisa negara Indonesia khususnya di wilayah Sumatera Utara. Perkembangan volume ekspor kopi selalu berfluktuasi namun tetap memberikan kontribusi

positif terhadap peningkatan perekonomian wilayah Sumatera Utara. Dalam hasil penelitian Wilda,dkk (2013) manyatakan bahwa rata-rata kontribusi yang diberikan dalam kegiatan ekspor kopi terhadap perekonomian Sumatera Utara adalah positif 16,94%. Meskipun produktifitas kopi di wilayah sumatera utara secara umum masih berkisar pada point 0,6-0,8 ton/ha, namun kopi Sumatera Utara tetap memiliki daya saing yang baik di pasar domestik dan internasional, hal ini karena kopi Sumatera Utara memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif (Ayunda, dkk., 2013) dan (Anneke, 2014).

Dari dua jenis kopi yang umum diperjualbelikan di Indonesia (arabika dan robusta), kopi arabika memiliki keunggulan dan daya tarik tersendiri di pasar dunia. Kopi arabika memiliki bentuk, rasa, dan aroma yang berbeda, tumbuh di wilayah tropis dengan ketinggian diatas 1000 m diatas permukaan laut dengan suhu 16oC-20oC. Jika ditanam tidak dengan syarat yang telah ditentukan maka kualitas rasa dan aromanya akan jauh berbeda dan menurunkan harga (Rahardjo, 2012). Budidaya kopi arabika pertama kali muncul di Indonesia tahun 1696. Jeni skopi ini lebih tinggi nilainya dibandingkan jenis kopi robusta karena memiliki kadar kafein yang lebih rendah, cita rasa yang tinggi. Namun keunggulan kopi jenis robusta ialah tanamannya lebih tahan terhadap penyakit (Mpapa, 2019).

Penelitian ini memilih jenis kopi yang di ekspor adalah kopi arabika yang sudah diolah menjadi green bean. Hanya saja terdapat satu orang responden yang juga mengekspor kopi arabika dalam bentuk roast bean.

Kim (2016) menyatakan bahwa adanya hubungan antara nilai tukar dan harga kopi negara lain terhadap kopi Vietnam. Indonesia memiliki potensi sama karena merupakan salah satu negara pengekspor kopi terbesar. Grafik hubungan

nilai tukar dan harga ekspor kopi Sumatera Utara dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 9. Hubungan Nilai Tukar dan Harga Kopi Ekspor Sumatera Utara Sumber: Data diolah dari Data AEKI Sumatera Utara, 2019

Gambar 10. Kurs Rupiah

Dapat dilihat dari Gambar 9 dan Gambar 10 merupakan trend nilai tukar dan harga ekspor kopi Sumatera Utara menunjukkan bahwa adanya fluktuasi harga dan nilai tukar setiap bulannya, karena ekspor dilakukan sebulan sekali dengan harga yang berfluktuasi maka mreka diwajibkan melaporkan realisasi ekspor setiap bulan ke Disperindag. Harga dan nilai tukar yang tidak menentu

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Okt Nop Des

Harga Ekspor Kopi Sumut 2018

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Okt Nop Des Kurs 2018

menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan pengembangan ekspor kopi di Sumatera Utara.

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identifikasi Risiko

Dari hasil identifikasi risiko yang telah dilakukan terhadap manajemen ekspor kopi diperoleh gambaran risiko dari mewawancarai beberapa responden eksportir kopi yang telah ditentukan diwilayah Sumatera Utara. Risiko yang terdapat pada ekspor kopi ditemui pada setiap rantai sistem pasok (supply chain) mulai dari pengumpulan kopi dari petani hingga sampai ke tangan buyer di luar negeri. Seluruh tahapan sistem saling memiliki pengaruh antara satu dan lainnya dan dapat dilihat pada Gambar 8 berikut adalah tahapan ekpor kopi.

Gambar 11. Supply Chain Ekspor Kopi

Dimulai dari petani biji kopi kemudian dikumpulkan untuk didistribusikan oleh eksportir dimana para eksportir yang bertanggung jawab atas pengurusan dokumen pengiriman kopi hingga sampai ke tangan pembeli. Maka diketahui ada beberapa risiko yang dapat terjadi pada proses ini yaitu risiko produksi, risiko distribusi (perjalanan), risiko finansial, dan risiko kebijakan (peraturan ekspor)

Petani Pengumpul Eksportir Gudang

Truk Kontainer

Kapal Negara

Tujuan

dari negara pengimpor maupun negara pengekspor. Dengan permasala han yang mungkin terjadi seperti perubahan kualitas, keberlanjutan kontrak (kontinuitas), transaksi (proses pembayaran), dan ketepatan waktu (baik dalam hal waktu panen biji kopi hingga sampai di tangan konsumen).

Setelah dilakukannya observasi dari wawancara responden dan diperoleh beberapa kriteria risiko dan aspek masalah, disimpulkan bahwa struktur ANP dalam mengidentifikasi risiko dalam manajemen eksportir kopi dapat dilihat pada Gambar 9 berikut ini:

Gambar 12. Kerangka Umum ANP

5.2. Identifikasi Sumber Risiko

Dari hasil wawancara dengan beberapa responden dan hasil observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa adanya sumber-sumber risiko yang dapat mempengaruhi jalannya proses ekspor kopi seperti mulai dari hulu ke hilir, dari petani sampai ke tangan pembeli dari luar negeri yang digambarkan pada Gambar 8, dimana sumber risiko dari masing-masing kriteria risiko dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:

Eksportir

Risiko:

- Produksi/Pengadaan - Distribusi

- Financial - Kebijakan Masalah:

- Kualitas - Kontinuitas - Transaksi - Tepat Waktu

Tabel 4. Identifikasi Sumber Risiko

No Kriteria Risiko Sumber Risiko

1. Produksi Keterlambatan pasokan kopi

Pasokan kopi dari petani tidak cukup Ketidaksesuaian mutu kopi

Kerusakan Kopi (cacat)

Ruangan penyimpanan tidak sesuai Terkontaminasi hama

2. Distribusi Kerusakan kemasan

Kecelakaan/pencurian diperjalanan Berkas ekspor kurang lengkap Tidak sesuai standar mutu ekspor 3. Finansial Nilai dolar turun (Rupiah menguat)

Harga kopi meningkat Ingkar janji/gagal bayar

Laporan keuangan kurang baik 4. Kebijakan Adanya perubahan peraturan ekspor

Terhambat ekspor karena politik dalam negeri Kesalahfahaman kontrak/transaksi (tidak teliti melihat kontrak)

Adanya perubahan peraturan negara pengimpor Gagal kirim akibat konflik negara pengimpor

5.3. Kriteria Risiko

Dari proses hasil identifikasi risiko seperti yang terlihat pada Tabel 4. ada beberapa kriteria risiko yang mungkin dan bahkan sering terjadi pada proses ekspor kopi. Terdapat empat kriteria risiko yaitu risiko produksi, risiko distribusi, risiko finansial, dan risiko kebijakan.

5.3.1. Risiko Produksi

Dalam menjalankan bisnis ekspor kopi, yang merupakan bagian produksi umumnya ialah bagaimana para eksportir mendapatkan bahan baku yang akan diekspor. Dengan kata lain, produksi dari perusahaan eksportir ialah pengadaan

bahan baku. Dalam proses pengadaan bahan baku, ada sebagian eksportir yang memiliki kebun kopi milik sendiri dan ada yang tidak. Bagi eksportir yang memiliki kebun kopi milik sendiri juga harus membeli dari petani kopi yang lain untuk memenuhi kebutuhan pesanan pembeli. Dan bagi eksportir yang tidak memiliki kebun kopi, mereka mengandalkan pengumpul yang bertempat tinggal di daerah sekitar kebun kopi untuk mengumpulkan biji kopi yang telah memiliki kriteria kualitas yang diinginkan oleh eksportir. Dari kedua jenis eksportir ini setelah mengumpulkan biji kopi akan melakukan pengkelasan mutu (grade) untuk dijual sesuai grade yang telah diminta oleh pembeli dan mereka memiliki pabrik sendiri dalam proses ini, karena proses pengkelasan mutu ini banyak terdapat sumber risiko. Misalnya dalam hal penentuan harga, harga akan turun jika grade yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan pembeli atau bahkan kopi akan ditolak dan pihak pembeli akan meminta ganti rugi.

5.3.2. Risiko Distribusi

Proses dimulai dari pengemasan hingga sampai ke tangan konsumen harus sangat terjaga kebersihan dan terkawal saat perjalanan agar tidak terjadi kelalaian.

Terjadinya kerusakan kemasan dapat mencemari biji kopi didalamnya. Adanya risiko dalam perjalanan menjadi hal yang lumrah terjadi, seperti pencurian, karantina, ketidak sesuaian pemeriksaan standar mutu yang menyebabkan tertunda bahkan gagal kirim. Semakin lama kopi dalam proses distribusi akan mempengaruhi kualitas biji kopi tersebut. Misalnya risiko kecil yang terjadi yaitu perubahan warna, namun hal ini masih dapat diterima oleh sebagian besar pembeli karena tidak sampai merubah aroma, dan cita rasa yang diinginkan.

Lain halnya dengan berkas ekspor yang kurang. Eksportir harus menunda pengiriman untuk mendapatkan dokumen-dokumen tambahan yang diperlukan dan biasanya memakan waktu yang cukup lama. Setelah proses distirbusi hingga ke tangan pembeli maka kopi yang sampai akan diuji lagi kesesuaian kualitasnya dengan standar yang telah ditetapkan dalam kontrak antar eksportir dan importir.

Jika ada ketidaksesuaian mutu yang tertera dalam kontrak maka pembeli akan mengklaim harga bahkan dapat terjadi penolakan.

5.3.3. Risiko Finansial

Penentuan harga kopi dihitung dari modal eksportir dalam membeli dan memproses kopi siap dikirim hingga biaya yang keluar untuk kopi sampai ke tangan pembeli yang tertera di dalam kontrak. Fluktuasi harga kopi dari petani dipengaruhi oleh adanya risiko gagal panen yang menyebabkan permintaan kopi meningkat. Fluktuasi penurunan atau penguatan dolar juga sangat mempengaruhi pada laba yang dapat diperoleh eksportir. Semakin besar nilai rupiah maka laba yang diperoleh eksportir akan semakin sedikit, hal ini dikarenakan pembelian kopi di mancanegara menggunakan mata uang USD ($).

Risiko keuangan yang besar langsung dapat terdeteksi jika pembeli ingkar janji/gagal bayar. Hal ini disebabkan oleh kelalaian eksportir terhadap dokumen-dokumen dan pengiriman yang dilandasi dengan kepercayaan yang tinggi kepada pembeli baru. Lain halnya dengan ketidaksesuaian laporan keuangan yang tercatat dengan yang terealisir pengeluaran/pemasukan tidak sesuai. Ini memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan eksportir terhadap harga dan laba.

Transaksi bisnis pasar komiditi bersifat fluktuatif, dimana sering terjadi kondisi naik dan turunnya harga dalam waktu yang singkat. Ini dapat

menguntungkan salah satu pihak. Jika eksportir membeli biji kopi disaat harga rendah dan menjualnya saat harga tinggi akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Namun akan menjadi risiko tinggi jika sebaliknya. Risiko perubahan harga kopi saat akan dikirim ke pembeli termasuk dalam risiko perubahan nilai komoiti yang disebabkan karena beberapa faktor. Hal ini dapat meningkatkan status risiko semakin parah, saat telah terikat kontrak perjanjian harga diawal (Fahmi, 2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan eksportir, biasanya rentang waktu perjanjian eksportir dengan pembelian biji kopi hingga siap kirim sekitar 6 bulan.

5.3.4. Risiko Kebijakan

Risiko kebijakan dapat terjadi akibat dari adanya perubahan peraturan pada negara pengekspor maupun negara pengimpor. Risiko kebijakan juga meliputi risiko yang terjadi apabila terdapat konflik internal maupun eksternal disekitar negara pengekspor atau pengimpor, namun hal ini jarang terjadi karena para eksportir tidak memilih pembeli dari negara konflik.

Terjadinya transaksi antara eksportir dan pembeli tidak luput dari adanya perjanjian kontrak yang disepakati kedua belah pihak. Kontrak yang dibuat harus dengan ketelitian dan mulai dari hal-hal kecil hingga besar diperhatikan dan dicantumkan dalam kontrak. Hal ini bertujuan agar terciptanya keamanan dan keadilan serta meminimalisir kerugian yang mungkin terjadi antara ekspor dan pembeli.

Untuk mendapatkan besaran risiko pada masing-masing anggota kriteria risiko dilakukan dengan metode ANP (Analitycal Network Process) dengan memberi penilaian besaran pengaruh pada setiap kriteria dan masalah. Setelah dilakukan penilaian terhadap pengaruh dari masing-masing kriteria dan masalah

diperoleh pembobotan risiko melalui kuisioner yang diolah menggunakan metode ANP dengan aplikasi superdecission. Hasil dapat dilihat pada Gambar 10 dibawah ini.

Gambar 13. Hasil Bobot Risiko Ekspor Kopi

Nilai ANP yang diperoleh dari aplikasi superdecission, digunakan untuk membobotkan dan membuat peringkat prioritas risiko untuk mengambil keputusan dan mengetahui risiko yang paling rentan terjadi (Saaty, 2014). Dari Gambar 10 dapat dilihat hasil yang diperoleh bahwa risiko terbesar yang sering terjadi terhadap risiko ekspor kopi ialah dalam hal produksi. Dimana produksi dalam arti perusahaan ekspor kopi ialah pengadaan bahan baku. Mulai dari hasil panen hingga biji kopi siap kirim. Disusul dengan risiko kebijakan, risiko finansial dan yang terakhir risiko distribusi.

5.4. Tingkatan Besaran Risiko Ekspor

Dari hasil identifikasi terhadap sumber-sumber risiko yang diperoleh dari wawancara terhadap beberapa eksportir, kemudian dilakukan penilaian terhadap

0.1808

sumber-sumber risiko menggunakan metode FMEA. Hal ini bertujuan agar mempermudah dalam pengambilan keputusan dengan mengetahui risiko prioritas.

Penjelasan mengenai sumber-sumber risiko beserta hasil penilaian berdasarkan metode FMEA dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Tingkatan Besaran Risiko Ekspor No Faktor 4. Kebijakan Adanya perubahan peraturan

ekspor 6 2 4 56

Terhambat ekspor karena politik

dalam negeri 6 3 4 60

Kesalahfahaman kontrak/transaksi

(tidak teliti melihat kontrak) 9 3 2 69

Dari Gambar 5 dapat diperoleh sumber risiko tertinggi terletak pada kegiatan produksi yaitu pasokan kopi tidak cukup dengan nilai RPN 159.

Berdasarkan hasil wawancara, hal ini disebabkan karena gagal panen sehingga jumlah yang telah disepakati tidak terpenuhi. Gagal panen mengakibatkan kenaikan harga kopi dari Perkebunan Rakyat (PR) sehingga eksportir harus mengalami kerugian dengan mengeluarkan biaya tambahan. Sesuai dengan literatur Outlook (2018), adanya pengaruh penurunan volume produksi mengakibatkan kenaikan harga kopi dan penurunan volume ekspor.

Setelah diperoleh hasil penilaian sumber-sumber risiko dari komponen severity, occurence, dan detection, kemudian dikalikan untuk mendapatkan nilai

RPN untuk selanjutnya diintegrasikan dengan hasil ANP sebelumnya dan mendapatkan peringkat risiko dan nilai yang lebih akurat dengan WRPN (Weighted Risk Priority Number).

Tabel 6. Peringkat Risiko

Faktor Risiko ANP Rank FMEA Rank WFMEA Rank

Produksi 0,388 1 119 1 46,305 1

Distribusi 0,181 4 97,408 3 17,609 3

Finansial 0,209 3 103,750 2 21,710 2

Kebijakan 0,237 2 54,262 4 12,841 4

Dapat dilihat dari Tabel 6, faktor risiko produksi memiliki nilai risiko tertinggi dengan nilai 46,305. Hal ini dikarenakan dalam hal produksi, eksportir banyak mengalami ancaman risiko terhadap kualitas kopi dan ketepatan waktu mendistribusi. Menurut Effendi dan Suhartini (2017), eksportir harus lebih memperhatikan alur biji kopi mulai dari tanam hingga kopi siap kirim agar sesuai dengan permintaan negara pengimpor. Perlunya efisiensi dalam produksi agar kopi Sumatera Utara dapat dijual dengan harga tinggi dan mampu bersaing di pasar dunia (Tebeka, dan Ushadevi, 2015).

Faktor risiko finansial menjadi urutan kedua dengan nilai 21,710 disebabkan oleh peningkatan harga kopi akibat gagal panen, eksportir harus mengeluarkan biaya lebih namun tidak sampai menaikkan harga yang tinggi karena ditakutkan tidak mampu bersaing di pasar dunia karena harga yang terlalu mahal. Terlebih lagi jika produksi kopi dunia meningkat maka harga kopi dunia akan menurun (Tebeka, dan Ushadevi, 2015). Selain itu, nilai tukar juga menjadi perhatian khusus bagi eksportir karena nilai tukar berpengaruh pada fluktuasi jangka pendek, namun pada jangka panjang fluktuasi nilai tukar tidak besar pengaruhnya karena dapat menutupi kerugian akibat nilai tukar pada periode-periode tertentu. Nilai tukar, biaya produksi, kualitas dan teknologi merupakan penyebab dalam kemacetan dalam sistem ekspor. Strategi ekspor yang tepat sangat dibutuhkan dalam kontinuitas ekspor (Nguyen dan Duong, 2019).

Faktor risiko distribusi menjadi urutan ketiga dengan nilai 17,609.

Distribusi merupakan jenis risiko yang paling bermasalah setelah finansial.

Masalah transportasi disebabkan oleh pencurian dan masalah kesulitan pengiriman juga merupakan masalah yang langsung diungkapkan oleh petani ketika kopi siap dikirim (Deresa, 2016).

Diurutan terakhir yaitu faktor risiko kebijakan dengan nilai 12,841, hal ini dapat disebabkan karena adanya hambatan dalam perdagangan internasional yang terbatas seperti tarif dan prosedur dokumentasi yang rumit. Kebijakan juga meliputi kontrak yang tertuang pada proses transaksi, dalam hal ini ketika negara pengimpor menginginkan kualitas tinggi namun eksportir kesulitan dalam memenuhi permintaan karena kurangnya pengetahuan petani dalam menyadari kualitas yang diinginkan dari kopi mereka. Ikatan bisnis dan kepercayaan antara

kedua belah pihak diperlukan dalam proses penentuan kontrak dan proses transaksi (Tebeka, dan Ushadevi, 2015). Faktor risiko kebijakan ini juga dapat disebabkan karena tidak adanya peran pemerintah dalam membantu petani hingga eksportir dalam menghadapi pesaing ketat membuat para pelaku eksptortir terhambat dalam memasuki pasar ekspor dunia (Bigirimana dan Masengu, 2015).

5.5. Implikasi Manajerial

Dari tabel 7 dibawah ini, diperoleh hasil untuk memanajemen risiko dengan implikasi manajerial yang telah dipilih oleh responden

Tabel 7. Data Implikasi Manajerial

Ya Tidak Dihindari Mitigasi Berbagi Transfer Lainnya

1

hama?

18

Strategi pengendalian dalam menangani risiko produksi harus dilakukan dengan benar agar dapat menghasilkan produk yang diinginkan pembeli, sehingga keberlanjutan kontrak antar eksportir dan importir dapat terus berkesinambungan.

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa eksportir terbanyak mengalami pasokan kopi tidak terpenuhi dan terjadi kerusakan kopi. Rangkaian aktivitas ini merupakan hal baru dalam logistik, menjadi konsep mata rantai penyediaan bahan baku sampai barang jadi (Indrajit dan Djokopranoto).

Dalam menanggulangi risiko memenuhi pasokan kopi, eksportir terbanyak memilih untuk berbagi dengan memberikan kepada perusahaan lain agar pasokan kopi terpenuhi. Sedangkan risiko kerusakan kopi, seluruh eksportir yang mengalami memilih untuk mitigasi dengan mencegah terjadinya kerusakan dengan menjaga kualtas serta memberikan pelatihan bagi petani agar menghasilkan kopi dengan kualitas tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa eksportir harus memperhatikan kualitas serta meningkatkan efisiensi misalnya dalam hal kuantitas, harga, waktu dan tempat yang tepat sesuai dengan yang tertera di dalam kontrak. Tujuannya agar kopi Sumatera Utara tetap dapat bersaing dan diterima dengan harga tinggi di negara-negara pengimpor (Tebeka, dan Ushadevi, 2015). Pentingnya mendukung petani kopi Indonesia untuk

memprioritaskan biji kopi lokal. Peningkatan dalam hal promosi dilakukan dengan memperkenalkan jenis-jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia.

Pelatihan bagi petani mengenai informasi peluang pasar yang ada agar dapat meningkatkan motivasi petani untuk memproduksi biji kopi yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) (Effendi dan Suhartini, 2017). Hal ini juga sesuai dengan menurut Trade Facilitation Office Canada and The Conference Board of Canada (2017) bahwa eksportir perlu melakukan langkah-langkah berikut dalam persiapan untuk barang yang akan diekspor:

A) Persiapan fisik barang

Eksportir perlu menyiapkan barang secara fisik untuk memahami seluk beluk barang yang akan diekspor. dengan mengikuti Panduan Langkah-demi-Langkah bagi UKM Kopi Indonesia untuk Ekspor ke Kanada hal yang harus diperhatikan yaitu bagian teknis produksi , standar kualitas, pengemasan, dan ketentuan internasional persyaratan atau permintaan pasar luar negeri (Kuantitas, Kualitas, Pengepakan, Pelabelan, Menandai, dan Waktu Pengiriman), serta perhitungan biaya dan, terakhir menentukan harga penjualan produk.

B) Profil produk (informasi tentang produk)

Umumnya, importir tertarik untuk membeli suatu produk setelah mendapatkan contoh dan informasi tentang produk yang ditawarkan. Demikianlah eksportir perlu membuat "Profil Produk."

Ada beberapa eksportir yang memilih untuk transfer risiko dengan asuransi namun dengan persyaratan yang rapi dan terpenuhi. ITC, (2011) menyatakan bahwa perlunya eksportir untuk mendokumentasikan setiap keadaan

atau peristiwa menggunakan kertas atau instrumen lain yang kredible akan mempermudah bagi pihak eksportir dan perasuransian untuk memverifikasi risiko.

Pengemasan yang benar dan kuat sangat diperlukan pada saat pengangkutan kopi, pelapisan kopi dengan benar dan diselimuti dengan karton kraft yang kuat akan memperkecil rusaknya kopi dalam perjalanan. Selain itu, eksportir juga harus rutin dalam melakukan pengecekan random dan melakukan verifikasi secara berkala terhadap kopi yang disimpan dalam gudang. Karena risiko yang berpotensi terjadi digudang adalah risiko banjir, kebakaran, kilat, ledakan, kecelakaan pesawat, pencurian, perampokan dan penyelundupan. Akan tetapi tidak semua risiko ini dapat diasuransikan. Bangunan gudang itu sendiri dapat berisiko buruk karena atapnya tidak rapat, pipa drainase yang tersumbat, ventilasi yang tidak memadai atau dinding dan lantainya yang tidak berkualitas baik. Selain itu, area di mana gudang tersebut berada juga sangat berperan penting terhadap risiko ekspor kopi, apalagi jika bangunan disekitarnya digunakan untuk menyimpan atau memproduksi barang yang berbahaya atau berbau (ITC, 2011).

2. Risiko Finansial

Dari sisi risiko finansial, pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa seluruh eksportir pernah mengalami kerugian akibat penurunan nilai dolar, tindakan yang dipilih seluruhnya yaitu mitigasi. Eksportir perlu mengetahui informasi terbaru mengenai perdagangan internasional khususnya nilai tukar mata uang, kemudian jika dalam satu periode mengalami kerugian maka eksportir membuat perencanaan jangka panjang untuk menutupi kerugian yang diamali. Nguyen dan Duong, (2019) menyatakan bahwa eksportir harus menguasai perdagangan internasional. Adanya visi jangka panjang untuk menganalisis risiko yang akan

terjadi serta dapat memperkirakan risiko. Penggunaan alat lindung seperti asuransi, dan opsi penanganan risiko yang tertera di dalam kontrak. Eksportir tidak boleh hanya mengandalkan keuntungan dari segi mata uang domestik, tetapi harus mampu mendefinisikan perbandingan dan keuntungan serta peningkatan pasar kopi Sumatera Utara di dunia dengan mata uang USD. Peran pemerintah juga dibutuhkan pengaruhnya dalam mengatasi nilai tukar. Pemerintah harus dapat memotivasi para eksportir untuk meningkatkan volume ekspor agar dapat mempertahankan nilai ekspor ditengah penguatan nilai rupiah, tujuannya agar neraca perdagangan tetap surplus (Safitriani, 2014).

3. Risiko Distribusi

Pada risiko distribusi di Tabel 7 hal yang paling penting diperhatikan ialah menjaga kualitas mutu kopi hingga sampai ke tangan eksportir. Dalam pengendalian risiko ini eksportir memilih untuk memitigasi risiko dengan mengawasi jalannya proses pengiriman, diharapkan peran pemerintah dalam meningkatkan perbaikan sarana infrastruktur dan transportasi pada perkebunan kopi. Effendi dan Suhartini, (2017) menyatakan, pemerintah berperan dalam hal pengawasan dan hukuman bagi penyelundupan yang terjadi pada proses distribusi barang-barang ekspor. Ketepatan waktu transaksi juga perlu diperhatikan, dalam hal ini proses distribusi berjalan jika telah dilakukannya transaksi awal oleh negara pengimpor.

Transportasi yang digunakan untuk mengangkut komoditas kopi ini sangat bervariasi. dengan modal kepercayaan saja belum cukup untuk melakukan pengelolaan risiko terhadap ekspor kopi. Oleh karena itu, eksportir harus memperhatikan jalannya distribusi mulai dari keberangkatan hingga sampai ke

tangan pembeli. Penting bagi asuransi untuk memperjelas keadaannya lebih detail dari, mulai dari berat, kualitas, kadar air dan kemasan sehingga meminimalisir

tangan pembeli. Penting bagi asuransi untuk memperjelas keadaannya lebih detail dari, mulai dari berat, kualitas, kadar air dan kemasan sehingga meminimalisir

Dokumen terkait