• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN RISIKO EKSPOR KOPI SUMATERA UTARA TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANAJEMEN RISIKO EKSPOR KOPI SUMATERA UTARA TESIS"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh:

DITA DEVIANA FADHILAH 177039024/MAG

PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)

Rabu, tanggal 29 Januari tahun 2020

Tim Penguji :

Ketua : Sri Fajar Ayu, SP, MM, DBA Anggota : Dr. Ir Rahmanta M.Si

Ir. Iskandarini, MM, Ph.D

Ir. Yusak Maryunianta, MP

(4)
(5)

Mengelola risiko dapat dilakukan dimulai dari proses mengidentifikasi, mengukur besarnya risiko, dan mengetahui implikasi manajerial. Penelitian manajemen risiko ekspor kopi didasarkan pada pengalaman para ahli dalam bisnis ekspor kopi. Manajemen risiko adalah elemen paling penting untuk melindungi perusahaan dari risiko kerugian yang mungkin timbul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis dan sumber risiko, serta besarnya risiko. Kemudian berikan implikasi manajerial yang diusulkan dalam risiko ekspor kopi. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja. Data penelitian adalah data primer yang diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner. Metode analisis data yang digunakan adalah WFMEA (Weighted Failure mode and effects analysis) dengan mengintegrasikan metode ANP (Analytic Network Process) menggunakan perangkat lunak Superdecison dengan FMEA (Failure mode and effects analysis). Hasil penelitian dari kedua metode menunjukkan risiko terbesar dalam kegiatan ekspor kopi adalah risiko produksi (pengadaan bahan baku sampai siap untuk dikirim). Pada risiko produksi, implikasi manajerial yang sebaiknya diterapkan ialah mitigasi dan berbagi dengan kata lain transfer risiko khususnya pada sumber risiko kekurangan pasokan kopi. Sedangkan risiko lainnya, implikasi manajerial sebaiknya diterapkan ialah mitigasi dengan mempersiapkan visi jangka panjang agar risiko tidak terjadi.

Kata kunci: Manajemen risiko, ekspor, kopi

ABSTRACT

Risk Management can be starting from the process of identifying, measuring the magnitude of the risk, and knowing the managerial implications. Coffee export risk management research is based on the experience of experts in the coffee export business.

Risk management is the most important element to protect companies from the risk of losses that may arise. The purpose of this study is to identify the type and source of risk, as well as the magnitude of the risk. Then give the proposed managerial implications in the risk of coffee exports. The location of the study was determined intentionally. Research data are primary data obtained from interviews using a questionnaire. Data analysis method used is WFMEA (Weighted Failure mode and effects analysis) by integrating the ANP (Analytic Network Process) method using Superdecison software with FMEA (Failure mode and effects analysis). Research results from both methods show the greatest risk in coffee export activities is production risk (procurement of raw materials until they are ready to be shipped). In the case of production risk, managerial implications that should be applied are mitigation and sharing in other words risk transfer, especially at the source of the risk of coffee supply shortages. While other risks, managerial implications should be applied is mitigation by preparing a long-term vision so that risks do not occur.

Key word: Risk Management, export, coffee

(6)

DITA DEVIANA FADHILAH Dilahirkan di Medan pada tanggal 10 Februari 1995, dari Bapak Ir. Suparno dan Ibu Sriwardany, SE., M.Si. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Penulis menempuh pendidikan di TK Arafah Medan, SD Swasta Pertiwi Medan, SMP Islam An-Nizam Medan, SMA Swasta Dharmawangsa Medan pada tahun 2012 dan penulis lulus dari Strata 1 di Universitas Sumatera Utara tahun 2017, pada tahun yang sama masuk ke Universitas Sumatera Utara Fakultas Pertanian Program Studi Magister Agribisnis.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif bekerja sebagai Tata Usaha di Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Penulis menyelesaikan tugas akhirnya untuk memperoleh gelar Master Pertanian pada Program Studi Magister Agribisnis, dengan melakukan penelitian Tesis yang berjudul “Manajemen Risiko Eksportir Kopi Sumatera Utara”. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Juli 2019 sampai bulan November 2019.

(7)

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya dan Rasulullah saw sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul “Manajemen Risiko Eksportir Kopi Sumatera Utara”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada:

1. Ibunda penulis Ibu Sriwardany, SE, M.Si, serta keluarga besar yang selalu memberikan motivasi, semangat, dorongan dan do’a kepada penulis.

2. Ibu Sri Fajar Ayu, SP, MM, DBA, selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si, selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing, memberikan arahan, dan memberi masukan dalam penyusunan hasil penelitian ini.

3. Ibu Ir. Iskandarini, MM, Ph.D dan Bapak Ir. Yusak Maryunianta, MP selaku penguji yang juga memberikan arahan, dan memberi masukan dalam penyusunan hasil penelitian ini.

4. Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Magister Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu dan nasehat kepada penulis.

5. Seluruh staf Program Studi Magister Agribisnis yang telah memberikan bantuan selama penulis menjalani studi.

(8)

DRPM Dikti yang saling menyemangati dan membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian dan Tesis.

7. Teman-teman Magister Agribisnis 2019, kakak dan adik stambuk 2015 hingga 2019, dan segala pihak yang telah membantu penulis dan tidak dapat disebutkan satu per satu.

Medan, Januari 2020

Penulis

(9)

Hal

ABSTRAK ... i

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Identifikasi Masalah Penelitian ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Kegunaan Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kopi ... 8

2.2. Ekspor ... 9

2.3. Risiko-Risiko Kegiatan Ekspor ... 11

2.4. Penelitian Terdahulu ... 14

2.5. Landasan Teori ... 17

2.5.1. Perdagangan Internasional ... 17

2.5.2. Manajemen Risiko ... 17

2.5.3. Mengukur Risiko ... 21

2.5.4. Strategi Penanggulangan Risiko ... 24

2.6. Kerangka Penelitian ... 27

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penentuan Lokasi ... 28

3.2. Penentuan Sampel ... 28

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 28

3.4. Metode Analisis Data ... 29

3.4.1. Analityc Network Process (ANP) ... 29

3.4.2. Weighted Failure Mode Analysis (WFMEA) ... 30

3.5. Definisi dan Batasan Operasional ... 32

3.5.1. Definisi Operasional ... 32

3.5.2. Batasan Operasional ... 33

(10)

4.1. Karakteristik Wilayah... 34

4.2. Karakteristik Sosial Ekonomi ... 35

4.3. Karakteristik Kopi Sumatera Utara ... 35

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Identifikasi Risiko ... 38

5.2. Identifikasi Sumber Risiko ... 39

5.3. Kriteria Risiko ... 40

5.3.1. Risiko Produksi ... 40

5.3.2. Risiko Distribusi ... 41

5.3.3. Risiko Finansial ... 42

5.3.4. Risiko Kebijakan ... 43

5.4. Tingkatan Besaran Risiko Ekspor ... 44

5.5. Implikasi Manajerial ... 48

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 57

6.2. Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 59

Lampiran 1. Kuisioner ... 63

Lampiran 2. Susunan BPD AEKI SUMUT ... 70

Lampiran 3. Data ANP ... 72

Lampiran 4. Data FMEA ... 86

(11)

DAFTAR TABEL

No. Judul Hal

Tabel 1. Tipe Risiko dan Pengukuran Risiko ... . 22

Tabel 2. Kategori Risiko berdasarkan WRPN ... . 32

Tabel 3. Produksi Kopi Perkebunan Rakyat di Indonesia Tahun 2012-2016. 35

Tabel 4. Identifikasi Sumber Risiko... . 40

Tabel 5. Tingkatan Besaran Risiko Ekspor ... . 45

Tabel 6. Peringkat Risiko... . 46

Tabel 7. Data Implikasi Manajerial ... . 48

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Hal

Gambar 1. Volume Ekspor Kopi Tahun 2007-2017 ... 4

Gambar 2. Perkembangan Produktivitas Kopi di Indonesia Menurut Status Pengusahaan, Tahun 2009-2018 ... 5

Gambar 3. Perkembangan Harga Produsen Kopi di Indonesia Tahun 2008-2017 ... 5

Gambar 4. Perkembangan Harga Ekspor ASEAN 2003-2010 ... 12

Gambar 5. Pola Hubungan Probability dengan Impact... 18

Gambar 6. Proses Manajemen Risiko ISO 31000 ... 20

Gambar 7. Kerangka Penelitian ... 27

Gambar 8. Kerangka ANP Menurut Aini, dkk., (2014)... 30

Gambar 9. Hubungan Nilai Tukar dan Harga Kopi Ekspor Sumatera Utara.. 37

Gambar 10. Kurs Rupiah ... 37

Gambar 11. Supply Chain Ekspor Kopi ... 38

Gambar 12. Kerangka Umum ANP ... 39

Gambar 13. Hasil Bobot Risiko Ekspor Kopi ... 44

(13)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara agraris, memiliki lahan yang luas dan berpotensi sebagai lahan pertanian. Besarnya potensi alam menyebabkan sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian dari aspek pertanian. Dengan demikian pendapatan nasional Indonesia lebih banyak diperoleh dari sektor pertanian.

Dengan keunggulan komparatif yang dimiliki menjadikan Negara Indonesia pengekspor bahan hasil pertanian di pasar dunia. Berbagai jenis hasil pertanian yang dihasilkan dan hamper seluruh jenis tanaman hasil perkebunan masuk di pasar dunia menjadikan Indonesia mampu bersaing dengan Negara lainnya di pasar dunia. Salah satu produk yang menjadi andalan Negara Indonesia di pasar dunia adalah kopi.

Kopi merupakan salah satu produk pertanian di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Dari hasil penjualan kopi di pasar dunia menjadikan hasil pertanian ini menyumbang devisa yang cukup besar bagi Negara Indonesia bersamaan dengan hasil perkebunan lainnya. Terdapat dua jenis kopi yang umum diketahui yaitu kopi arabika dan kopi robusta. Jenis kopi yang dapat bersaing di pasar dunia ialah kopi arabika. Hal ini menyebabkan harga jual kopi arabika lebih tinggi dari jenis kopi robusta. Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar ketiga di dunia. Hampir di seluruh wilayah Indonesia memproduksi tanaman ini, salah satunya di Sumatera Utara yang terkenal dengan kopi Mandheling, Gayo, Sidikalang, Takengon, Luwak, Lintong, dan lainnya.

(14)

Indonesia banyak meraih penghargaan taraf Internasional karena memproduksi kopi dengan cita rasa yang khas disukai oleh penikmat kopi di seluruh dunia (Setiawan, 2019).

Kegiatan ekspor dapat menjadi penopang dalam perekonomian Negara pelakunya. Perdagangan yang terjadi antar Negara di dunia mengandalkan pertukaran masing-masing produk keunggulan komparatif yang dimiliki dengan kesepakatan harga bersama. Kementerian Pertanian di Indonesia menciptakan kebijakan percepatan peningkatan besaran volume dan nilai ekspor hasil pertanian serta turunannya menjadi 3 kali lipat dari kondisi sebelumnya dan didorong untuk meningkatkan mutu produk, konsistensi mutu, dan keberlanjutan dalam perdagangan. Kebijakan ini diberi nama Gratieks (Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor). Kebijakan ini bertujuan agar produk ekspor Indonesia mampu bersaing memenangkan pasar ekspor dunia (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2020).

Kegiatan ekspor kopi merupakan kesempatan besar Indonesia dalam memasarkan produk-produk kopi yang dihasilkan di Indonesia. Kegiatan ekspor kopi dapat menunjang perekonomian Indonesia mulai dari produksi kopi, dapat meningkatkan pendapatan para petani kopi, kopi dapat digunakan sebagai bahan baku industri, meningkatkan nilai tanbah dan menjadi sumber devisa Negara Indonesia.

Dalam Peraturan Menteri Keuangan RI No. 145/PMK.o4/2007 tertuang mengenai ketentuan pabean dalam ekspor, ekspor merupakan kegiatan mengirimkan barang dari daerah asal. Ada beberapa peraturan mengenai ekspor dalam Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 seperti pemberitahuan kebijakan sarana, impor, alur pemindahan barang, dan pemberitahuan ekspor. Sebagai

(15)

contoh, adanya peraturan karantina dimana barang yang telah sampai ke pelabuhan diambil sampel acak sebelum kontainer dibongkar dan dibawa ke laboratorium balai karantina setempat untuk diperiksa kebersihannya. Jika terdapat hama ataupun telur yang masih aktif maka muatan kontainer tidak diizinkan untuk dibongkar dan ditolak untuk masuk ke negara. Sehingga barang dikembalikan ke negara asal atau mengeluarkan biaya tambahan untuk proses fumigasi kontaner. Hal ini merupakan salah satu risiko yang dihadapo oleh eksportir dimana dalam penelitian kali ini dibahas bagaimana memanajemen risiko dalam proses ekspor kopi (Sasono, 2013).

Proses perdagangan internasional tidak lepas dari ancaman risiko yang ditanggung langsung oleh eksportir, sehingga sangat penting untuk mengelola risiko untuk keberlanjutan usaha (Handayani dan Sarjiyanto, 2019). Proses ekspor kopi merupakan proses yang panjang. Berbagai tahapan harus dilalui dan dilakukan oleh eksportir untuk memperoleh kopi yang sesuai dengan kualitas ekspor, mulai dari pengadaan kopi, pengangkutan ke pelabuhan, pengurusan dokumen, transaksi, dan faktor lain seperti perubahan aturan terkait kegiatan ekspor.

Dalam kondisi pasar dunia yang semakin meningkat pesaing dengan kebijakan yang berbeda antar Negara pengekspor dan pengimpor, maka penting untuk meningkatkan daya saing kopi di dunia, salah satunya dengan mengetahui risiko dan bagaimana manajemen risiko yang dialami mulai dari produksi hingga faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kopi Indonesia di mancanegara.

Indonesia memiliki pesaing ekspor kopi dari berbagai negara, seperti Vietnam, Kolombia, Brasil dan India. Hal ini harus menjadi pengingat bahwa

(16)

Indonesia harus lebih memperhatikan kualitas kopi yang diekspor karena memungkinkan adanya berbagai risiko yang muncul dalam kegiatan ekspor kopi.

Pemerintah saat ini fokus pada meningkatkan produksi kopi dalam negri.

Pengembangan akan terus dilakukan dengan lebih memperhatikan kearifan lokal sehingga dapat menghasilkan kopi dengan kualitas tinggi (Outlook Kopi 2018).

Hal ini menjadi tuntutan bagi eksportir dalam bisnis ekspor kopi. Eksportir harus mampu menyediakan bahan baku dengan kualitas terjaga ke tangan importir.

Volume ekspor kopi berfluktuasi dari tahun ketahun. Terlihat dari grafik dibawah ini, puncak volume ekspor kopi tertinggi pada tahun 2013 dimana pada tahun 2011 volume ekspor kopi mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Namun pada tahun 2014 volume ekspor kopi menurun jauh kemudian meningkat lagi pada tahun 2015.

Gambar 1. Volume Ekspor Kopi Tahun 2007-2017 Sumber: BPS dan Statistik Ditjen Perkebunan

Dari Gambar 1, fluktuasi volume ekspor kopi harus lebih diperhatikan dengan meningkatkan manajemen yang baik dalam usaha pemasaran kopi di pasar dunia. Penurunan volume ekspor tertinggi pada tahun 2014 pada Gambar 1 disebabkan penurunan produksi kopi perkebunan rakyat (PR) pada tahun 2014 pada Gambar 2 (Outlook Kopi, 2018), hal ini mengakibatkan eksportir mangalami

321,404 468,749

433,600 433,595 346,493

448,591 534,023

384,816 502,021

414,651 464,200

0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Volume Ekspor Kopi (Ton)

Volume Ekspor Kopi (Ton)

(17)

kesulitan dalam memenuhi permintaan sehingga kopi yang dikirim sedikit. Selain itu, harga, kurs, kebijakan, serta adanya berbagai aktivitas yang secara langsung dilakukan oleh eksportir kopi harus diperhatikan untuk meminimalisir resiko kerugian. Penerapan manajemen risiko dan tindakan yang tepat dalam menghadapi risiko menjadi hal utama yang harus diterapkan oleh setiap ekportir kopi, agar eksportir dapat mengatur dengan tepat dan baik seluruh proses kegiatan ekspor dan meminimalisisr terjadinya kerugian.

Gambar 2. Perkembangan Produktivitas Kopi di Indonesia Menurut Status Pengusahaan, Tahun 2009-2018

Sumber: Kementrian Pertanian dalam Outlook Kopi 2018

Gambar 3. Perkembangan Harga Produsen Kopi di Indonesia, Tahun 2008-2017

(18)

Sumber: Kementrian Pertanian dalam Outlook Kopi 2018

Dari Gambar 3 dapat disimpulkan bahwa dari tahun ke tahun berikutnya terjadi kenaikan harga, namun pada tahun 2013 terjadi penurunan harga produsen.

Hal ini terjadi karena adanya peningkatan volume produksi kopi perkebunan rakyat (PR) dilihat pada Gambar 2 dan mengakibatkan peningkatan volume ekspor yang dapat dilihat pada Gambar 1. Namun, ketika terjadi penurunan produksi pada tahun 2014 menyebabkan penurunan volume ekspor dan mengakibatkan peningkatan harga produsen kopi pada tahun 2014. Dari data yang ditunjukkan pada Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3 Adanya pengaruh dari produksi kopi, volume ekspor dan harga mengakibatkan eksportir harus membuat visi jangka panjang agar tidak terjadi kerugian hingga kehilangan pembeli.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang muncul dan mengetahui besarnya risiko pada aktivitas ekspor kopi Indonesia di pasar dunia, sehingga besaran nilai risiko yang akan dihadapi oleh eskportir dapat di estimasi. Besaran nilai risiko tersebut dapat menjadi informasi bagi eksportir untuk menentukan keputusan yang tepat dalam melindungi usahanya dari kerugian akibat risiko yang terjadi pada aktivitas ekspor kopi.

1.2. Indentifikasi Masalah Penelitian

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apa saja jenis risiko yang terjadi pada aktivitas ekspor kopi Sumatera Utara?

2. Apa saja sumber risiko pada ekspor kopi Sumatera Utara?

3. Berapa besaran risiko pada aktivitas eskpor kopi Sumatera Utara?

4. Bagaimana implikasi manajerial terhadap risiko yang terjadi pada aktivitas ekspor kopi Sumatera Utara?

(19)

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini ialah:

1. Untuk mengidentifikasi jenis risiko yang terjadi pada aktivitas usaha ekspor kopi di Sumatera Utara.

2. Untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko pada ekspor kopi Sumatera Utara.

3. Untuk menganalisis besaran risiko pada aktivitas eskpor kopi Sumatera Utara.

4. Untuk menganalisis implikasi manajerial terhadap risiko yang terjadi pada aktivitas ekspor kopi Sumatera Utara.

1.4. Kegunaan Penelitian

1. Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi berupa penelitian.

2. Menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan studi Strata 2 di Program Studi Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

3. Menghasilkan publikasi ilmiah yang dapat menunjang prestasi universitas dan lulusan magister.

(20)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kopi

Salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia ialah kopi. Tingginya volume ekspor kopi menjadikan komoditi ini sebagai sumber peningkatan devisa Negara. Namun dalam perdagangan sering terjadi fluktuasi harga dimana ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran terjadi. Dari dua jenis kopi yang umum diperjualbelikan di Indonesia (arabika dan robusta), kopi arabika memiliki keunggulan dan daya tarik tersendiri di pasar dunia. Kopi arabika memiliki bentuk, rasa, dan aroma yang berbeda, tumbuh di wilayah tropis dengan ketinggian diatas 1000 m diatas permukaan laut dengan suhu 16oC-20oC. Jika ditanam tidak dengan syarat yang telah ditentukan maka kualitas rasa dan aromanya akan jauh berbeda dan menurunkan harga. Perdagangan kopi yang sederhana dimulai dari petani yang menjual buah kopi ke pedagang pengumpul dalam jumlah kecil, kemudian pedagang pengumpul menjual ke pedagang besar, dari pedagang besar dijual ke pengusaha kopi atau ke eksportir kopi (Rahardjo, 2012).

Untuk meningkatkan daya saing biji kopi Indonesia dapat dilakukan berbagai cara salah satunya memperkuat industri kopi domestic hingga mampu bersaing di kawasan ASEAN dengan meningkatkan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Pentingnya mendukung petani kopi Indonesia untuk memprioritaskan biji kopi lokal.Peningkatan dalam hal promosi dilakukan dengan memperkenalkan lagi jenis-jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Pelatihan bagi petani mengenai informasi peluang pasar yang ada agar dapat meningkatkan motivasi

(21)

petani untuk memproduksi biji kopi yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar ASEAN (Effendi dan Suhartini, 2017).

Kebanyakan produksi kopi dunia terdiri dari beberapa jenis kopi. Namun, ada banyak jenis kopi dengan ketersediaan terbatas memiliki karakteristik rasa yang sangat bervariasi dan menarik untuk memenuhi perbedaan selera konsumen.

Sederhananya produsen atau pengekspor kopi dan sekelompok konsumen berkumpul dan membentuk pasar terbatas. Dua faktor utama menentukan apakah kopi dapat ditemukan pada pasar terbatas dengan kualitas dan ketersediaan.

Ketersediaan yang berarti mudah dipeorleh, tetapi 'kualitas' adalah istilah subjektif yang artinya hal yang berbeda untuk konsumen yang berbeda. Ketersediaan bahan baku berhubungan dengan rantai pasok. Terhambatnya proses keberlanjutan rantai pasokan menjadi masalah penting dalam ekspor. Rantai pasok merupakan serangkai aktivitas untuk mengubah bahan baku menjadi barang siap jual sehingga memiliki nilai tambah dalam periode tertentu (Ballou, 2004).

Beberapa kelompok konsumen memiliki selera yang berbeda-beda, hal ini menentukan kualitas kopi dalam hal selera konsumen. Misalkan terdapat konsumen menjadikan kopi jenis A memiliki kualitas tinggi, sementara kelompok konsumen lainnya menjadikan kopi jenis A memiliki kualitas rendah (ITC, 2011).

2.2 Ekspor

Negara yang terlibat dalam perdagangan internasional memiliki faktor pendorong yang dapat menjadikan Negara tersebut masuk dalam pasar dunia.

Ketika suatu Negara dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam Negeri hingga memiliki keunggulan kompetitif suatu produk dimana dapat diperdagangkan di Negara lain, dimana kebutuhan akan produk tersebut tidak dapat terpenuhi atau

(22)

tidak dapat memproduksi produk tertentu, juga karena perbedaan teknologi dalam meningkatkan nilai dan fungsi, sehingga devisa Negara akan meningkat. Negara - negara akan saling membutuhkan produk dari Negara lainnya. Namun jika terdapat komoditi yang sama antar Negara menjadi sebuat persaingan yang ketat dan harus diantisipasi dengan mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk yang dijual agar produk yang ditawarkan dapat bersaing dengan produk sejenis dari Negara lain. Aplikasi untuk dapat berjalannya perdagangan internasional ialah melakukan ekspor dan impor (Apridar, 2012).

Ekspor merupakan kegiatan menjual barang atau jasa dari suatu Negara dengan produk unggulannya ke berbagai Negara. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan meningkatkan devisa Negara produsen dengan mata uang asing yang digunakan dalam transaksinya. Selain barang dan jasa, ekspor juga menjual pelayanan berupa pengangkutan, distribusi, bahkan permodalan dan hal lain yang dapat membantu berjalannya ekspor tersebut (Tan, 2009).

Dalam peraturan kementrian keuangan RI No. 145/PMK/o4/2007 mengenai ketentuan instansi yang mengurus dalam hal ekspor, maka:

1. Kegiatan ekspor merupakan aktivitas keluarnya sejumlah barang dari daerah instansi (pabean).

2. Sedangkan barang yang dikeluarkan disebut dengan barang ekspor.

3. Eksportir adalah seorang atau organisasi perusahaan yang menjalankan aktivitas ekspor.

4. Adanya pungutan yang dikenakan setiap barang yang keluar berdasarkan peraturan Undang-Undang Kepabean merupakan bea ekspor.

(23)

5. Adanya pemberitahuan pabean ekspor berisi mengenai pernyataan seseorang dalam memenuhi kewajiban kepabeanan ketika melakukan aktivitas ekspor dalam bentuk formulir atau data elektronik (Sasono, 2013).

2.3 Risiko-Risiko Kegiatan Ekspor

Kountur (2008) menyatakan bahwa dilihat dari berbagai sisi, risiko terbagi atas:

1. Penyebab timbulnya

Dari penyebab timbulnya risiko terbagi menjadi 2 jenis. Pertama risiko keuangan, dimana perubahan harga, suku bunga dan kurs menjadi penyebab terjadinya risiko keuangan. Kedua, risiko operasional dimana faktor selain keuangan yang mempengaruhinya seperti alam, teknis, proses, pekerja, dan lainnya.

2. Akibat yang ditimbulkan

Dari sisi akibat yang ditimbulkan risiko terbagi menjadi 2 kategori. Pertama, risiko murni merupakan risiko yang hanya menyebabkan kerugian tanpa adanya keuntungan. Kedua, risiko spekulatif merupakan risiko yang mendatangkan kerugian dan memungkinkan adanya keuntungan.

3. Aktivitas yang dilakukan

Setiap kegiatan yang dilakukan akan menimbulkan risiko yang mungkin terjadi. Misalnya risiko perjalanan, risiko kredit, dan lain sebagainya.

4. Berdasarkan kejadian

Risiko disebut berdasarkan kejadian, misalnya risiko kebakaran, risiko kecelakaan, risiko rendahnya kurs rupiah (Kountur, 2008)

(24)

Dalam kegiatan ekspor, nilai tukar merupakan harga relatif dari komoditi yang dijual oleh dua Negara dengan mata uang asing. Nilai tukar terbagi atas nilai tukar nominal dan nilai tukar rill. Nilai tukar nominal untuk menukar nilai mata uang berbagai Negara, sedangkan nilai tukar rill untuk menukar nilai barang dan jasa. Untuk mendapatkan nilai tukar rill dari kedua Negara dapat menghitung nilai tukar nominal dan tingkat harga di kedua Negara. Barang luar negri yang murah disebabkan nilai rill tukar yang tinggi, sementara barang-barang domestic menjadi mahal. Sebaliknya jika nilai tukar rill rendah menyebabkan harga barang luar

negri mahal dan harga barang domestik menjadi murah (Nopriyadi dan Haryadi, 2017).

Sejak Agustus 1997, Bank Indonesia telah merubah manajemen nilai tukar menjadi system (freely floating system) mengambang dan akibatnya menyebabkan perubahan cukup drastis dimulai sejak Agustus 1997 (Ginting, 2013). Depresiasi atau apresiasi kurs pada sistem mengambang akan mengakibatkan perubahan volume ekspor maupun impor. Depresiasi terjadi ketika nilai rupiah secara relatif menurun terhadap mata uang asing (dolar), dengan kata lain mata uang asing menguat. Hal ini dapat menjadi faktor dalam peningkatan volume ekspor.

(Sukirno, 2004).

Gambar 4. Perkembangan Harga Ekspor ASEAN 2003-2010 Sumber: World Bank 2012

(25)

Dari Gambar 4 menunjukkan bahwa adanya peningkatan harga dari tahun ke tahun namun adanya penurunan harga pada tahun 2008 dan meningkat lagi setelah tahun 2009. Harga dan volume ekspor dipengaruhi oleh volume produksi kopi. Ketika jumlah produksi kopi mengalami kenaikan maka harga kopi akan turun dan eksportir mampu memenuhi hampir seluruh permintaan kopi sehingga volume ekspor meningkat. Sebaliknya jika jumlah produksi kopi menurun, mengakibatkan harga meningkat dan eksportir tidak mampu memenuhi permintaan sehingga volume kopi yang dikirim (volume ekspor) menjadi turun (Outlook, 2018).

Ekspor kopi dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yang utama yaitu produksi dalam negeri dan produksi dunia. Nilai mata uang menjadi hal kedua yang mempengaruhi laju ekspor kopi. Produksi kopi dapat diatasi dengan pengembangan teknologi ke petani kopi perkebunan rakyat. Pengembangan teknologi secara keseluruhan mulai dari proses penanaman, pemanenan, hingga tahapan pasca panen untuk meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan. Kualitas kopi yang meningkat akan semakin diincar dunia, permintaan ekspor kopi indonesia di dunia akan meningkat. Selain itu, perlunya strategi dalam menjalankan bisnis juga perlu diperhatikan, direncanakan sedemikian rupa agar tahapan dalam kegiatan perdagangan dapat berjalan dengan rapi dan lancar (Siagian, dkk., 2009).

Perjanjian merupakan kesepakatan beberapa pihak berdasarkan hukum dan kebijakan yang satu dengan yang lainnya dengan ikatan sehingga subjek hukum wajib untuk memenuhi kesepakatan yang telah disepakati bersama serta adanya akibat hukum. Namun seringnya kita temui salah satu pihak tidak bersedia atau

(26)

menolak memenuhi persyaratan. Hal ini menyebabkan kerugian yang cukup besar pada eksportir (Raharjo, 2009)

Menurut Asmarantaka, R.W. 2008, fluktuasi harga kopi memberikan pengaruh pada pendapatan petani, produksi dan ekspor kopi Indonesia. Penelitian ini didukung dengan analisis keterpaduan pasar dimana harga kopi Indonesia terpadu dengan harga kopi dunia. Flukuasi harga jangka panjang dimanfaatkan petani dengan merubah investasi mereka pada tanaman kopi dan bersifat inelastik.

Fluktuasi harga jangka pendek mempengaruhi jumlah produksi kopi di Indonesia.

Sebagian besar barang dari Indonesia diekspor melalui laut atau pengiriman udara dan selanjutnya diangkut melintasi negara tujuan di darat dengan angkutan kereta api atau truk jalan raya. Sebagian besar produk diekspor dari Indonesia ke berbagai negara diangkut melalui laut. Ini sangat ideal untuk barang besar, komoditas curah, tahan lama dan barang tidak mahal (Trade Facilitation Office Canada and The Conference Board of Canada, 2017).

2.4 Penelitian Terdahulu

Fandopa (2012), dalam penelitiannya mengenai “Pengelolaan Risiko pada Pelaksanaan Proyek Jalan Perkerasan Lentur PT. X dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Mutu Proyek” menggunakan analisis data AHP (Analytical Hierarchy Process), dimana AHP adalah metode sebelum adanya ANP. Hasil penelitian

menunjukkan adanya dampak peristiwa risiko dapat dikelompokkan menurut beberapa aspek seperti aspek material, aspek sumber daya manusia, aspek metode dan peralatan, aspek lingkungan, aspek manajerial, yang terakhir aspek desain dan dokumentasi. Strategi dalam mengatasi risiko-risiko yaitu semua aspek yang telah diidentifikasi harus memiliki perencanaan sebaik mungkin agar mengurangi

(27)

terjadinya kesalahan yang berdampak pada seluruh sistem pelaksanaan. Adanya pengontrolan, monitoring dan evaluasi agar sistem yang direncanakan berjalan dengan lancar dan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan.

Handayani dan Sarjiyanto (2019), melakukan penelitian mengenai

“Mitigasi Risiko dan Klaim Asuransi Pengiriman Barang Ekspor pada Perusahaan Internasional Freight Forwarder” menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif dengan wawancara, data yang telah diperoleh diolah dengan reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitiam ini ialah risiko yang terdapat pada kegiatan pengiriman barang ekspor yaitu risiko pembayaran dan risiko pengiriman, sehingga perusahaan harus lebih fokus pada risiko tersebut.

Pratama (2010), telah melakukan penelitian mengenai “Manajemen Risiko dalam Usaha Perkebunan Kelapa Sawit PT. Sawindo Kencana, Provinsi Bangka Belitung”, menggunakan data primer dan sekunder. Data primer dengan mewawancarai panelis, data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), studi literature berbagai buku, jurnal, internet, Dinas Perkebunan Provinsi Bangka Belitung, data produksi dan tenaga kerja PT. Sawindo Kencana. Metode yang digunakan ialah Expert Opinion (menanyakan kepada ahli) dengan pendekatan Delphy. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi manajemen risiko pasar dilakukan dengan mitigasi yaitu mengorder input skaligus untuk jangka panjang kecuali input yang tidak tahan lama (pupuk urea dan MOP). Dalam strategi manajemen risiko institusional digunakan strategi preventif dengan menyiapkan dokumen penting yang jika nanti diperlukan. Strategi manajemen risiko finansial dengan membuat master plan, sedangkan pada risiko UMR perusahaan harus menerimanya.

(28)

Aini (2013) dalam penelitiannya mengenai “Risiko Rantai Pasok Kakao di Indonesia dengan metode Analytical Network Process dan Failure Mode and Effecy Analysis Terintegrasi” menggunakan metode analisis data ANP dan

FMEA. Hasil penelitian ditemukan rantai pasok kopi terdiri dari petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, serta pabrik dan hasil identifikasi risiko pada rantai pasok kopi yaitu risiko kualitas, produksi, harga, pasokan, lingkungan, transportasi. Berdasarkan hasil ANP, hasil prioritas tertinggi rantai pasok komoditas kakao adalah petani dengan nilai 0.408, dengan risiko dengan prioritas tertinggi yaitu risiko produksi dengan nilai 0.221. Dari hasil perhitungan WFMEA diperoleh risiko di urutan pertama yaitu risiko dengan nilai 226.174. Strategi untuk mengendalikan risiko dengan menfokuskan upaya peningkatan produktivitas dan daya saing kakao di pasar dan memberikan penyuluhan dan modal kepada petani.

Putri (2014), telah meneliti tentang “Manajemen Risiko Ekspor Ikan Hias Neon Tetra pada PT. Harlequin Aquatics, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat”, menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif yaitu metode Z-Score dan VaR. Dengan hasil penelitian dengan analisis probabilitas menggunakan Z-Score diperoleh nilai probabilitas sebesar 2,14% dan Rp. 110.770.504. Hasil yang didapat ialah mengusulkan strategi preventif dan strategi mitigasi.Strategi preventif yaitu membuat SOP dan pelatihan untuk karyawan, dan memilih cargo dengan tepat.Strategi mitigasi berupa meningkatkan kerjasama antar cargo dan pembeli, meningkatkan rasa tanggung jawab dan keterampilan karyawan pada pekerjaan, mengganti system transaksi pembayaran dan pemesanan.

(29)

2.5 Landasan Teori

2.5.1 Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional merupakan kegiatan dua atau lebih Negara yang saling bertukar barang mengadakan transaksi jual beli, pihak yang terkait dalam transaksi harus Negara-negara yang memiliki nasionalitas yang berbeda.

Perdagangan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dimasing-masing Negara dimana ketika suatu Negara tidak dapat memenuhi kebutuhan yang mengharuskannya membeli dari Negara lain. Transaksi perdagangan internasional lebih dikenal dengan kegiatan ekspor dan impor yang tidak lebih dari menjual dan membeli barang atau jasa dari pengusaha-pengusaha berbeda tempat tinggal di Negara-negara yang berbeda (Sutedi, 2014).

Indonesia mengandalkan perdagangan internasional sebagai mesin penggerak perekonomian domestik sangat besar. Dalam upaya meningkatkan daya saing, Indonesia menarik inverstor asing untuk menanamkan modal dalam bentuk FDI (Foreign Direct Investment) yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi nasional khususnya ekspor dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan Negara. Perdagangan internasional dan FDI memiliki keterkaitan satu sama lain, karena dua hal tersebut memiliki peran penting dalam membangun perekonomian Indonesia. Ketika kinerja dalam meningkatkan daya saing pada sektor industry, dan infrastruktur meningkat akan menjadi daya tarik investor untuk menanamkan modal ke Indonesia (Safitriani, 2014).

2.5.2 Manajemen Risiko

Manajemen Risiko merupakan kegiatan proses identifikasi, mengukur dan pengendalian risiko dengan mencari cara untuk mengatasi risiko. Berbagai

(30)

metode dan tehnik dilibatkan dalam membantu mengatasi risiko yang terjadi (Lokobal, dkk., 2014). Dalam proses identifikasi risiko dilakukan dengan mengumpulkan berbagai peristiwa dan isyu (termasuk kerugian) yang pernah terjadi di masa lalu serta mengakumulasi datanya untuk menskenariokan dimasa yang akan datang. Tahapan selanjutnya yaitu menilai besaran kemungkinan (probability) risiko dimasa depan serta dampak bagi perusahaan. Umumnya risiko operasional memiliki hubungan antara kemungkinan dengan dampak (impact), hal ini dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 5. Pola Hubungan Probability dengan Impact

Dalam Gambar 3 dapat dilihat bahwa terdapat risiko dengan kemungkinan terjadi besar, namun efek yang diberikan kecil, dan sebaliknya (Tampubolon, 2004).

Setelah risiko diidentifikasi, ada dua pendekatan yang dilakukan.

Pendekatan pertama dengan pengendalian risiko meliputi menghindari kegiatan yang memicu risiko, mengendalikan kerugian dengan memisahkan modal atau barang persediaan, memprediksi risiko yang akan terjadi dan mengetahui bagaimana memindahkan risiko. Pendekatan kedua dengan pembiayaan risiko

(31)

meliputi mentransfer risiko melalui asuransi atau menanggung risiko sendiri (Darmawi, 2011).

Ketetapan ISO 31000 dalam Harry (2015), manajemen risiko merupakan upaya yang tertata dan terorganisir (prinsip, kerangka kerja, dan proses) dalam mengarahkan kegiatan organisasi pada kegiatan mengantisipasi risiko yang kemungkinan muncul secara efektif. Standar manajemen risiko menurut ISO 31000 tahun 2009:

1. ISO 31000 sepenuhnya mematuhi COSO ERM (Enterprise Risk Management) 2. ISO 31000 lebih praktis

3. Mudah diterapkan (kurang dari 30 halaman)

4. Berlaku untuk organisasi di semua industri, besar atau kecil 5. Lebih jelas ditulis dan istilah didefinisikan dengan jelas

6. Penerimaan yang lebih luas sebagai referensi untuk manajemen risiko dalam standar yang ada dan di masa depan

7. Tidak perlu mendesain ulang sistem manajemen yang ada untuk diterapkan 8. Berlaku untuk semua tingkat organisasi untuk semua jenis risiko, baik

konsekuensi positif maupun negatif

Dalam menghadapi risiko, ada beberapa hal dalam menyikapi adanya risiko menurut ISO 31000:

1. Sesuaikan risiko dengan kondisi instansi.

2. Ketahui penyebab risiko

3. Mengeksplorasi semua pilihan dalam menghadapi risiko

4. Mempertimbangkan faktor keuangan, waktu, dan alokasi sumber daya

(32)

Memilih cara terefektif untuk mengelola risiko dengan sumber daya dan modal yang terbatas.

Gambar 6. Proses Manajemen risiko ISO 31000

Dalam mengembangkan perusahaan, manajemen risiko menjadi elemen terpenting untuk melindungi perusahaan dari risiko kerugian yang memungkinkan timbul. Semakin berkembang perusahaan dan meningkat kompleksitas aktivitas perusahaan maka besar risiko semakin meningkat (Wati dan Ahmad, 2012). Dari perspektif kesejahteraan sosial, manajemen risiko memberikan kontribusi besar terhadap kesejahteraan perusahaan. Perusahaan tidak hanya semata-mata untuk keuntungan bagi pemegang saham tetapi juga merancang skema yang lebih besar untuk mencapai serangkaian tujuan politik yang bervariasi, dan umumnya menjadiorganisasi yang melayani lebih dari kebutuhan konsumennya.

Kelangsungan hidup dan kesinambungan perusahaan penting untuk alasan sosial dan manajemen risiko membantu dalam menyelesaikan risiko yang terjadi (Frenkel, dkk., 2005).

(33)

Menurut Fahmi (2016), Terdapat banyak jenis risiko dari sudut pandang teori, namun secara umum tipe risiko terbagi menjadi 2 jenis yaitu risiko murni dan risiko spekulatif;

1. Risiko murni, terbagi menjadi 3 jenis yaitu:

a. Risiko asset fisik; yaitu risiko yang dapat mengakibatkan kerugian pada asset- aset perusahaan, misalnya musibah banjir, gempa, kebakaran, dan lainnya.

b. Risiko karyawan; yaitu risiko yang muncul dari karyawan, misalnya kecelakaan kerja.

c. Risiko legal; yaitu risiko mengenai kontrak yang menyimpang atau kesepakatan yang mengecewakan, misalnya ganti rugi karena perselisihan antar perusahaan. Namun risiko ini jarang terjadi.

2. Risiko spekulatif, terbagi menjdi 4 jenis yaitu:

a. Risiko pasar; yaitu risiko yang muncul akibat dari fluktuasi harga pasar.

b. Risiko kredit; yaitu risiko yang muncul karena bank yang bekerja sama dengan perusahaan ggal memenuhi kewajibannya, misalnya kredit macet, persentase pembayaran hutang meningkat.

c. Risiko likuiditas; yaitu risiko yang muncul akibat dari perusahaan tidak mampu memenuhi kebutuhan kas.

d. Risiko operasional; yaitu risiko disebabkan karena proses operasional perusahaan tidak berjalan degan lancer, contohnya kerusakan sistem atau perangkat keras yang digunakan pada kegiatan operasional perusahaan.

2.5.3 Mengukur Risiko

Menentukan konteks sasaran manajemen risiko memperhatikan seluruh aspek secara jelas dan spesifik. Jika sasaran tidak selaras akan menimbulkan

(34)

risiko baru, pastikan satu sama lain terhubung. Mengidentifikasi risiko dengan memahami defisini risiko, penyebab risiko, mengontrol risiko, pengukuran dan pengendalian risiko, mencari riwayat risiko umum yang paling sering terjadi pada berbagai sistem di perusahaan dari sumber-sumber resmi serta konsultasi dan wawancara kepada pihak yang menguasai operasi perusahaan. Tehnik pencarian informasi dalam proses identifikasi risiko dapat menggunakan teknik kuisioner, brainstorming, teknik Delphi, wawancara dan root cause analysis. Dalam

melakukan identifikasi harus memahami stakeholder (pihak yang terlibat pada proses operasi perusahaan), internal perusahaan dan eksternal perusahaan yang dibutuhkan untuk itu ialah:

1. Register stakeholder: dokumen yang berisi rincian identifikasi risiko dari proses manajemen risiko terkait dengan stakeholder perusahaan.

2. Strategi pengelolaan stakeholder: melakukan pendekatan agar diberikan dukungan dari stakeholder pada seluruh aktivitas di perusahaan untuk mendapatkan informasi sensitif.Adapun tabel berbagai jenis risiko dengan pengukurannya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Tipe Risiko dan Pengukuran Risiko

Tipe Risiko Definisi Teknik Pengukuran

Risiko pasar Harga pasar bergerak kea rah kerugian

VAR, stress testing Risiko kredit Pembeli gagal membayar

kewajiban pada perusahaan

Credit rating, creditmetrics

Risiko perubahan tingkat bunga

Tingkat Bungan berubah mengakibatkan kerugian

VAR operasional, Matriks frekuendi, Signifikasi kerugian Risiko Operasional Kegagalan pada aktifitas

operasional perusahaan

VAR Operasional, Matriks frekuensi Risiko Kesehatan Jika anggota dalam organisasi

terkena penyakit

Probabilitas dengan tabel mordibitas

Risiko Kematian Jika anggota organisasi Probabilitas dengan

(35)

mengalami kematian dini tabel mortalitas Risiko Teknologi Penggunaan Teknologi yang

diterapkan

Analisis skenario Sumber: Mamduh Hanafi (2009)

Terdapat beberapa risiko seperti pada tabel diatas yang menyebabkan perbedaan manajemen risiko yang digunakan pada tiap jenisnya. Misalnya dengan teknik probabilitas, risiko dapat dikelaskan prioritasnya sehingga kita dapat memfokuskan pada risiko terbesar yang mungkin akan terjadi. Sebagai contoh jika perusahaan mendapat musibah jatuhnya meteor dimana musibah itu probabilitasnya sangat kecil maka tidak perlu diperhatikan. Contoh lain jika perusahaan mendapat musibah kebakaran dimana probabilitasnya sangat besar maka perlu diberi perhatian yang lebih. Teknik lain yang dapat digunakan untuk mengukur risiko ialah membuat matriks dengan sumbu datar (probabilitas) dab sumbu vertical (besaran kerugian), dengan pengukurang menggunakan VAR (Value at Risk), dan dapat juga dengan mengevaluasi kerugian yang ditimbulkan terhadap perusahaan (Hanafi, 2009).

Menurut Harry (2015) dalam ketetapan ISO 31000 adapun tahapan evaluasi risiko yaitu:

1. Mengukur risiko menggunakan kriteria risiko yang telah dibuat baik criteria probabilitas ataupun dampak

2. Memberikan penilaian probabilitas dan dampak berdasarkan criteria risiko yang telah ditetapkan

3. Mengevaluasi risiko dengan membandingkan analisis risiko dan criteria risiko untuk mengetahui batasan toleransi risiko.

4. Membuat peringkat risiko dari hasil perkalian probabilitas dan dampak.

Kemudian menentukan prioritas risiko dalam hal penanganannya.

(36)

5. Menentukan jenis tindakan yang diterapkan dari evaluasi risiko yang dilakukan di perusahaan.

2.5.4 Strategi Penanggulangan Risiko

Penanggulangan risiko sangat penting untuk dikelola, jika perusahaan tidak mampu mengelola maka akibat yang ditimbulkan bagi perusahaan akan cukup serius, adapun beberapa tahapan yang dapat dilakukan dalam penanggulangan risiko (Hanafi, 2009), yaitu:

1. Penghindaran

Penghindaran merupakan cara termudah dan aman, namun akan mengakibatkan tidak optimalnya penanggulangan risiko. Karena risiko merupakan masalah perusahaan yang harus dihadapi dan diselesaikan hingga tuntas.

2. Ditahan

Ditahan (Retention) merupakancara dimana perusahaan menahan risiko yang akan terjadi sendiri. Jika risiko terjadi perusahaan memutuskan akan menanggung sendiri.

3. Diversifikasi

Diversifikasi merupakan cara perusahaan ketika terjadi risiko kemudian menyebarkan ke eksposur lain yang dimilikinya. Contohnya sebuah perusahaan memiliki beberapa cabang A, B, dan C, saalah satu cabang yakni B mengalami kerugian, kemudian perusahaan mengkompensasi kerugian itu denganaset cabang A dan C.

(37)

4. Transfer Risiko

Menurut Wati & Ahmad (2012), Risiko dapat ditransfer ke pihak yang lain, dimana pihak tersebut mampu untuk mengendalikan risiko kerugian yang dialami perusahaan. Berikut beberapa cara dalam transfer risiko:

a. Asuransi

Metode yang umum digunakan perusahaan untuk mengantisipasi risiko yang akan terjadi ialah dengan asuransi. Asuransi merupakan perjanjian antara perusahaan yang diasuransikan dengan perusahaaan asuransi dimana perusahaan akan membayarkan sejumlah uang dalam waktu yang telah ditentukan, dan ketika perusahaan mengalami kerugian maka perusahan asuransi akan memberikan kompensasi sebesar kerugian yang dialami perusahaan. Dalam transaksi asuransi memerlukan 4 hal yaitu perjanjian kontrak, pembayaran premi, memberikan tanggungan kerugian yang dialami perusahaan, dan perusahaan asuransi menggabungkan sumberdaya yang diperlukan untuk memberikan tanggungan ke perusahaan.

b. Hedging

Cara kerja hedging dengan mentrasnfer risiko melalui transaksi instrumen keuangan. Mirip dengan asuransi, bedanya menggunakan instrument derivatif dimana kompensasi yang diberikan oleh penjual kontrak derivatif.

c. Incorporated

Dengan tehnik membuat perseroan terbatas menjadi alternatif transfer risiko, karena pemegang saham perseroan terbatas hanya terbatas pada modal yang disetorkan.

(38)

5. Pengendalian Risiko

Untuk menurunkan kemungkinan terjadinya risiko perusahaan, pengendalian risiko perlu dipersiapkan terkhusus pada risiko yang tidak dapat dihindari (tinggi). Menggunakan dua dimensi yaitu probabilitas dan tingkat keseriusan atau keduanya dengan harapan pengendalian risiko dapat mengurangi tingkat risiko.

6. Pendanaan risiko

Kegagalan mengelola risiko mengakibatkan kerugian yang besar, bahkan beberapa perusahaan mengalami kebangkrutan yang signifikan karena perusahaan tersebut gagal dalam mengelola risiko. Kerugian yang terjadi akan didanai dengan membayarkan sejumlah uang untuk menutupi kerugian perusahaan baik sumber dana dari asuransi, pihak lainnya atau menggunakan dana cadangan perusahaan.

Ada beberapa cara dalam menghadapi risiko menurut ISO 31000 (Harry, 2015) yaitu:

1. Menghindar: mengupayakan agar tidak terjadi risiko, jika risiko telah muncul perusahaan memiliki hak untuk menghindar meski seringnya akan menghilangkan kesempatan.

2. Berbagi: memberikan kepada institusi lain yang bertanggungjawab sesuai dengan tahapan prosesnya. Namun diadakan proses analisa untuk menentukan dapat atau tidaknya risiko dibagi.

3. Transfer: menggunakan lembaga keuangan seperti asuransi, reasuransi dan hedging (perlindungan) dengan catatan pihak penerima transfer telah memenuhi kewajibannya.

(39)

4. Mitigasi: membuat perencanaan atas kejadian tidak terduga (contingency plan), menyediakan cadangan modal, dan memperbanyak relasi.

5. Menerima: bagi risiko yang tidak mampu dihindari karena termasuk dalam internal perusahaan.

2.6. Kerangka Penelitian

Gambar 7. Kerangka Penelitian Implikasi manajerial

Melakukan perbandingan tingkat risiko kegiatan ekspor kopi Mengetahui jenis dan sumber risiko yang dominan terjadi pada

kegiatan ekspor kopi Integrasi ANP dan

Weighted FMEA

Analitycal Network Process (ANP) Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Penilaian tingkat

keparahan, tingkat kejadian, dan kemampuan

untuk mendeteksi risiko Pembobotan dan

perbandingan risiko ekspor kopi

Identifikasi risiko dan sumber risiko di setiap kegiatan ekspor kopi

Eksportir

(40)

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Lokasi

Penentuan lokasi pada penelitian ini dilakukan secara purposive/sengaja.

Lokasi penelitian diambil berdasarkan krtiteria yang telah ditentukan. Adapun kriteria lokasinya adalah daerah pengekspor kopi di Sumatera Utara yang merupakan salah satu daerah terbesar pengekspor kopi serta tinggi akan pertumbuhan produksi kopi dan Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia di Sumatera Utara (AEKI SUMUT) sebagai produsen ekspor kopi. Pintu pelabuhan dalam aktivitas ekspor ada di belawan wilayah Sumatera Utara bernama Pelabuhan Belawan, tempat ini menjadi pintu keluar dan masuknya barang ekspor dan impor.

3.2 Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh eksportir kopi arabika yang tergabung dalam Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia Sumatera Utara sebanyak 30 orang (Lampiran 2) sehingga digunakan sampel metode sensus. Agar memudahkan komunikasi langsung dengan sampel penelitian, maka peneliti berkomunikasi dengan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Badan Pengurus Daerah (BPD) Sumatera Utara.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer pada penelitiain ini dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data primer yang dikumpulkan adalah data hasil identifikasi kepada eksportir kopi serta perhitungan nilai yang diperoleh dari kuisioner dan wawancara yang dilakukan.

(41)

3.4 Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Untuk identifikasi masalah pertama dan kedua, menggunakan analisis deskriptif terhadap hasil wawancara kepada para eksportir kopi yang masuk dalam AEKI BPD Sumatera Utara. Sementara identifikasi masalah yang ketiga, yaitu penghitungan besaran risiko menggunakan metode ANP dan WFMEA. Untuk identifikasi masalah keempat menggunakan analisis deksripsi dari data yang diperoleh dari identifikasi masalah ketiga, kemudian menentukan tindakan berdasarkan literatur yang mendukung.

3.4.1. Analytic Network Process (ANP)

Analytic Network Process (ANP) merupakan sebuah metode yang digunakan

untuk mengambil keputusan terhadap masalah yang tidak terstruktur dan adanya keterkaitan antara elemennya. Teori ANP merupakan hasil pengembangan dari teori AHP (Analytic Hierarchy Process). ANP memiliki kelebihan dari AHP yaitu adanya interaksi dan umpan balik antar elemen (Jeprimansyah dan Meryatul, 2017). Oleh karena itu ANP mampu mendeskripsikan masalah yang terjadi di dunia nyata secara objektif dan lebih mampu untuk mendapatkan permasalahan yang terjadi (Suharyo, dkk., 2015).

Dalam penelitian ini, digunakan software Superdecison 2.2.6 sebagai alat bantu dalam menyelesaikan perhitungan ANP. Saaty (2004) menjelaskan bahwa pada metode ini, pengambilan keputusan dalam manajemen risiko melibatkan kriteria dan alternatif untuk dipilih. Kriteria biasanya memiliki kepentingan yang berbeda dan alternatifnya pada gilirannya berbeda dalam preferensi pada setiap kriteria. Untuk menentukan risiko dan pilihan memerlukan cara untuk mengukur.

(42)

Pengukuran membutuhkan pemahaman yang baik tentang metode pengukuran dan skala pengukuran yang berbeda. Dalam hal ini menggunakan penilaian dengan kuisioner yang diberikan pada narasumber. Angka-angka yang diperoleh dari hasil kuesioner responden berupa peringkat prioritas dari pengaruh interaksi saling ketergantungan antar elemen pada masing-masing cluster diturunkan menjadi suatu supermatriks. Dari super matriks tersebut akan didapatkan hasil akhir yang akan menunjukan peringkat elemen mana yang lebih besar kontribusinya berdasarkan bobot yang telah ditentukan sebelumnya (Saaty, 2016). Aini , dkk., (2014) menstrukturkan kerangka ANP seperti Gambar 8 dibawah ini.

Gambar 8. Kerangka ANP Menurut Aini, dkk., (2014).

3.4.2. Weighted Failure Mode and Effect Analysis (WFMEA)

FMEA merupakan metode yang digunakan untuk menemukan risiko dan mencegah risiko itu terjadi. Metode ini dikembangkan menjadi Weighted Failure Mode and Effect Analysis (WFMEA) yang bertujuan untuk mendapatkan hasil

lebih akurat dimana mengintegrasikan bobot risiko yang telah diperoleh dengan nilai prioritas risiko (Risk Priority Number (RPN)) (Aini, dkk., 2014). Metode ini

Faktor Risiko 1. Risiko Kualitas 2. Risiko Produksi 3. Risiko Harga 4. Risiko Pasokan 5. Risiko Lingkungan 6. Risiko Transportasi

Aktor 1. Petani

2. Pedagang Pengumpul 3. Pedagang Besar 4. Industri Pengolahan Kakao

Masalah 1. Peningkatan Kualitas 2. Peningkatan Produktivitas 3.Jaminan Kontinuitas Pasokan yang stabil

4. Peningkatan Pendapatan

(43)

diperkenalkan oleh Xiao, dkk., (2011), mengintegrasikan metode ANP dan FMEA untuk mengidentifikasi, mengevaluasi prioritas dan penyebab kegagalan yang mungkin terjadi pada aktivitas yang dilakukan.

Proses detail melakukan FMEA dapat dibagi menjadi beberapa langkah sebagai berikut

1. Semua item kegagalan dan masalah-masalah yang sering terjadi pada saat kegiatan oprasional ditentukan mode kegagalan dari setiap komponen dan dampaknya. Memberikan nilai tingkat keparahan/severity (S) dari masing- masing mode.

2. Menentukan penyebab kegagalan dan memperkirakan kemungkinan setiap kegagalan terjadi. Tentukan tingkat terjadinya/occurence (O) dari masing- masing mode kegagalan sesuai dengan kemungkinan terjadinya.

3. Identifikasi pendekatan untuk mendeteksi kegagalan dan mengevaluasi kemampuan sistem untuk mendeteksi kegagalan sebelum kegagalan terjadi.

Tentukan tingkat deteksi/detection (D) dari masing-masing mode kegagalan.

4. Menurut Ozilgen (2012), penilaian FMEA secara umum dilakukan dengan menggunakan nomor prioritas risiko/risk priority number (RPN). RPN adalah hasil perkalian dari peringkat keparahan/severity (S), kejadian/occurrance (O), dan deteksi/detection (D) dengan skala 1-10 yang dihitung dengan persamaan berikut ini;

RPN = S x Ox D

5. Menurut Aini, dkk., (2011) Evaluasi Risiko merupakan kegiatan membandingkan tingkat risiko yang telah dihitung pada tahapan analisis risiko dengan kriteria standar yang digunakan. Chen (2007), menyatakan nilai output

(44)

variabel yaitu WRPN yang dihitung dengan menggunakan persamaan RPN, digunakan untuk mewakili prioritas pada tindakan koreksi, dengan skala 1- 250 yang dikelaskan pada interval yang digambarkan dalam Tabel 2.

WRPNn = Si x Oi x Di x f(Wi) = RPNnxf(Wi)

Semakin tinggi nilai RPN maka risiko tersebut dinyatakan lebih penting dan memiliki prioritas dari nilai RPN yang lebih rendah.

Tabel 2. Kategori Risiko berdasarkan WRPN

Sumber :The Chatered Quality I

Untuk menghitung probabilitas dan dampak risiko pada risiko-risiko yang tidak memiliki data historis akan dilakukan dengan menggunakan metode aproksimasi, yaitu dengan menggunakan metode expert opinion. Metode ini dilakukan dengan melakukan wawancara pada beberapa orang yang dianggap expert/ahli pada bidangnya.

3.5. Definisi dan Batasan Operasional 3.5.1. Definisi Operasional

1. Manajemen risiko kegiatan proses identifikasi, mengukur dan pengendalian risiko dengan mencari cara untuk mengatasi risiko.

2. Ekspor merupakan kegiatan menjual barang atau jasa dari suatu Negara dengan produk unggulannya ke berbagai Negara, bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan meningkatkan devisa Negara produsen dengan mata uang asing yang digunakan dalam transaksinya.

Nilai Output Kategori Risiko Pengendalian Risiko

1-50 Sangat Rendah Menerima

50-100 Rendah Menerima

100-150 Menengah Menghindari

150-200 Tinggi Mitigasi

200-250 Sangat Tinggi Mitigasi

(45)

3. Sumber-sumber risiko ekspor kopi dapat berasal dari hulu hingga hilir. Semua tahapan yang mencakup aktivitas ekspor memiliki risiko masing-masing. Mulai dari pengadaan biji kopi hingga pemasaran biji kopi ketangan konsumen.

4. Implikasi Manajerial diperlukan ketika risiko terjadi di perusahaan kemudian untuk mengendalikannya perlu adanya tindak lanjut dalam transfer risiko dengan strategi manajemen risiko yang dapat diterapkan pada perusahaan.

3.5.2. Batasan Operasional

1. Daerah yang menjadi tempat penelitian adalah Provinsi Sumatera Utara.

2. Sektor yang diteliti adalah sektor perkebunan kopi arabika dan Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia di Provinsi Sumatera Utara.

3. Waktu pelaksanaan penelitian adalah bulan Juli-November 2019.

(46)

DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN

4.1 Karakteristik Wilayah

Pemilihan lokasi dalam penelitian ini ialah di Provinsi Sumatera Utara dan dilakukan secara sengaja. Provinsi Sumatera Utara menjadi pilihan karena provinsi ini menjadi salah satu wilayah terbesar produksi dan pengekspor komoditi kopi. Selain itu, pelabuhan yang digunakan dalam aktivitas ekspor terdapat di provinsi Sumatera Utara yaitu Pelabuhan Belawan.

Provinsi Sumatera Utara ibu kotanya Medan, Terletak antara 10 - 40 LU, 980 - 1000 B.T. Batas wilayahnya sebelah utara provinsi Aceh dan Selat Sumatera, sebelah barat berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat dan Riau, disebelah Timur di batasi oleh Selat Sumatera. Selain komoditas perkebunan, Sumatera Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura (sayur dan buah) misalnya jeruk, jambu, markisa, kubis, tomat, kentang, cabai dan Wortel yang dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut mampu bersaing dipasar ekspor ke Malaysia dan Singapura (BPKP, 2019).

Wilayah Sumatera Utara memberikan kontribusi dalam produksi kopi sebanyak 30% dari produksi nasional. Selanjutnya Aceh sebanyak 44.540 ton (27%), disusul oleh Sulawesi Selatan 21.802 ton (12%), dan Sumatera Barat 15.930 ton (9%). Persentase pasokan kopi arabika Sumatera Utara berasal dari berbagai daerah yaitu dari Kabupaten Tapanuli Utara (20,61%), Kabupaten Dairi (19,52%), Kabupaten Simalungun (17,27%), Kabupaten Karo (13,96%),

(47)

Kabupaten Humbang Hasundutan (12,03%), dan kabupaten lainnya (16,62%) dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini (Kementerian Pertanian, 2016).

Tabel 3. Produksi Kopi Perkebunan Rakyat di Indonesia Tahun 2012-2016

No. Provinsi

Tahun

%

2012 2013 2014 2015 2016

Rata- Rata 1.

Sumatera

Utara 48,813 49,052 49,143 50,315 50,405 49,546 29,99 2. Aceh 47,784 42,079 44,423 44,209 44,206 44,54 26,96 3.

Sulawesi

Selatan 20,27 19,333 19,534 20,606 21,802 20,309 12,29 4.

Sumatera

Barat 14,877 15,068 15,111 15,591 15,93 15,315 9,27

5. NTT 6,255 6,422 7,115 7,329 7,496 6,923 4,19

6. Lainnya 18,318 26,971 27,5 34,633 35,483 28,581 17,3 Indonesia 156,317 158,925 162,826 172,683 175,322 165,214 100 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2017

4.2 Karakteristik Sosial Ekonomi

Menurut golongan suku penduduk Sumatera Utara terdiri dari penduduk asli Sumatera Utara, pendatang dan warga asing. Penduduk asli Sumatera utara terdiri dari berbagai suku seperti suku melayu, batak, karo, dimalungun, fak- fak/dairi, toba, mandailing, dan Nias. Sementara suku pendatang yaitu suku yang berasal dari luar wilayah Sumatera Utara, sedangkan warga asing terdiri dari warga berkebangsaan arab, india, cina dan lainnya. Penduduk Sumatera Utara sekitar 80% tinggal di desa-desa dan berproferi sebagai petani dan yang tinggal di kota berprofesi sebagai pedagang, guru, karyawan, dan sebagainya (BPKP, 2019)

4.3 Karakteristik Kopi Sumatera Utara

Ekspor kopi di Sumatera Utara memiliki peranan dalam menyumbang devisa negara Indonesia khususnya di wilayah Sumatera Utara. Perkembangan volume ekspor kopi selalu berfluktuasi namun tetap memberikan kontribusi

(48)

positif terhadap peningkatan perekonomian wilayah Sumatera Utara. Dalam hasil penelitian Wilda,dkk (2013) manyatakan bahwa rata-rata kontribusi yang diberikan dalam kegiatan ekspor kopi terhadap perekonomian Sumatera Utara adalah positif 16,94%. Meskipun produktifitas kopi di wilayah sumatera utara secara umum masih berkisar pada point 0,6-0,8 ton/ha, namun kopi Sumatera Utara tetap memiliki daya saing yang baik di pasar domestik dan internasional, hal ini karena kopi Sumatera Utara memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif (Ayunda, dkk., 2013) dan (Anneke, 2014).

Dari dua jenis kopi yang umum diperjualbelikan di Indonesia (arabika dan robusta), kopi arabika memiliki keunggulan dan daya tarik tersendiri di pasar dunia. Kopi arabika memiliki bentuk, rasa, dan aroma yang berbeda, tumbuh di wilayah tropis dengan ketinggian diatas 1000 m diatas permukaan laut dengan suhu 16oC-20oC. Jika ditanam tidak dengan syarat yang telah ditentukan maka kualitas rasa dan aromanya akan jauh berbeda dan menurunkan harga (Rahardjo, 2012). Budidaya kopi arabika pertama kali muncul di Indonesia tahun 1696. Jeni skopi ini lebih tinggi nilainya dibandingkan jenis kopi robusta karena memiliki kadar kafein yang lebih rendah, cita rasa yang tinggi. Namun keunggulan kopi jenis robusta ialah tanamannya lebih tahan terhadap penyakit (Mpapa, 2019).

Penelitian ini memilih jenis kopi yang di ekspor adalah kopi arabika yang sudah diolah menjadi green bean. Hanya saja terdapat satu orang responden yang juga mengekspor kopi arabika dalam bentuk roast bean.

Kim (2016) menyatakan bahwa adanya hubungan antara nilai tukar dan harga kopi negara lain terhadap kopi Vietnam. Indonesia memiliki potensi sama karena merupakan salah satu negara pengekspor kopi terbesar. Grafik hubungan

(49)

nilai tukar dan harga ekspor kopi Sumatera Utara dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 9. Hubungan Nilai Tukar dan Harga Kopi Ekspor Sumatera Utara Sumber: Data diolah dari Data AEKI Sumatera Utara, 2019

Gambar 10. Kurs Rupiah

Dapat dilihat dari Gambar 9 dan Gambar 10 merupakan trend nilai tukar dan harga ekspor kopi Sumatera Utara menunjukkan bahwa adanya fluktuasi harga dan nilai tukar setiap bulannya, karena ekspor dilakukan sebulan sekali dengan harga yang berfluktuasi maka mreka diwajibkan melaporkan realisasi ekspor setiap bulan ke Disperindag. Harga dan nilai tukar yang tidak menentu

$3.00 $3.50 $4.00 $4.50 $5.00 $5.50 $6.00 $6.50 $7.00

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Okt Nop Des

Harga Ekspor Kopi Sumut 2018

Rp12,000.00 Rp12,500.00 Rp13,000.00 Rp13,500.00 Rp14,000.00 Rp14,500.00 Rp15,000.00 Rp15,500.00

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Okt Nop Des Kurs 2018

(50)

menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan pengembangan ekspor kopi di Sumatera Utara.

(51)

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identifikasi Risiko

Dari hasil identifikasi risiko yang telah dilakukan terhadap manajemen ekspor kopi diperoleh gambaran risiko dari mewawancarai beberapa responden eksportir kopi yang telah ditentukan diwilayah Sumatera Utara. Risiko yang terdapat pada ekspor kopi ditemui pada setiap rantai sistem pasok (supply chain) mulai dari pengumpulan kopi dari petani hingga sampai ke tangan buyer di luar negeri. Seluruh tahapan sistem saling memiliki pengaruh antara satu dan lainnya dan dapat dilihat pada Gambar 8 berikut adalah tahapan ekpor kopi.

Gambar 11. Supply Chain Ekspor Kopi

Dimulai dari petani biji kopi kemudian dikumpulkan untuk didistribusikan oleh eksportir dimana para eksportir yang bertanggung jawab atas pengurusan dokumen pengiriman kopi hingga sampai ke tangan pembeli. Maka diketahui ada beberapa risiko yang dapat terjadi pada proses ini yaitu risiko produksi, risiko distribusi (perjalanan), risiko finansial, dan risiko kebijakan (peraturan ekspor)

Petani Pengumpul Eksportir Gudang

Truk Kontainer

Kapal Negara

Tujuan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Nusalaut yang diajarkan dengan

Untuk penerimaan pembiayaan, terdiri dari sisa lebih perhitungan (SiLPA) tahun anggaran sebelumnya, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang

Saya lahir tahun sembilan belas lima puluh enam, 4 Kalau begitu, Anda berumur lima puluh sembilan tahun, 5 Saya tinggal di Jalan Merdeka nomor empat puluh tujuh. Latihan 9:

[r]

hasil belajar matematika siswa kelas VII MTsN 2 Tulungagung pada materi.

This low pregnancy rate needs to be investigated in the terms of molecular reproduction since oocyte maturation is not only affected by size of oocyte and hormones, but also by

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan yang terdiri atas bukti fisik ( tangibles ), keandalan ( reliability),

RESULTS: In the HD group, total cholesterol was moderately associated with hs-CRP while total cholesterol/ HDL-C ratio, monocyte/HDL-C ratio, monocyte/LDL-C ratio,