HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Lahan pada Lokasi Penelitian
Karakteristik lahan pada suatu lahan dapat ditentukan berdasarkan
beberapa aspek yaitu; 1) iklim; curah hujan, 2) geologi; struktur lapisan
batuan, 3) geomorfologi; bentuklahan, satuan bentuklahan, kemiringan lereng,
panjang lereng, bentuk lereng, 4) tanah; tekstur, struktur, solum, konsistensi,
5) hidrologi; kedalaman muka air tanah dan penggunaan lahan. Aspek tersebut
merupakan faktor yang sangat menentukan terjadinya bahaya longsor pada
lokasi penelitian.
a. Curah Hujan
Curah hujan merupakan salah satu variabel yang sangat berpengaruh pada
keadaan hidrologi daerah penelitian. Daerah penelitian merupakan daerah
yang mempunyai curah hujan cukup tinggi tiap bulan, sehingga disaat musim
hujan datang potensi terjadinya longsor semakin tinggi, hal ini didukung
dengan keadaan topografi di daerah Panorama Puncak Pato yang berpotensi
terhadap terjadinya longsor. Data curah hujan lokasi penelitian dalam kurung
waktu 4 tahun dari tahun 2009-2012 dapat di lihat pada tabel V.1 berikut;
Tabel V.1. Data Curah Hujan Stasiun Buo Periode 2009-2012
Sumber; BPSDA, 2014
Menurut publikasi data Klimatologi stasiun Buo yang merupakan
stasiun penghitung curah hujan terdekat dengan lokasi penelitian menyatakan
bahwa jumlah curah hujan stasiun Buo dalam kurung waktu 4 tahun adalah
dengan total rata – rata jumlah hujan 3884.5 mm/tahun, hujan maximum pada bulan November yaitu 467.5 mm/tahun, dan jumlah hujan minimum pada
bulan Juli 137 mm/tahun. Kondisi curah hujan seperti ini merupakan kondisi
yang sangat memicu terjadinya bahaya longsor pada lokasi penelitian. Curah
hujan lokasi penelitian tergolong sangat tinggi karena >2500 mm/tahun yaitu
3884.5 mm/tahun.
b.Struktur Lapisan Batuan
Struktur lapisan batuan merupakan faktor yang sangat menentukan dan
penting untuk dipertimbangkan, hasil pengamatan lapangan dapat dilihat
pada Tabel V.2 berikut ini:
NO Tahun BULAN
Jumlah Rata
rata Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
1 2009 213 309 435 915 249 419 95 481 133 494 391 520 4.654 387,83 2 2010 390 492 477 294 426 99 214 162 334 428 409 176 3.901 325,08 3 2011 454 391 70 283 391 80 121 41 45 320 490 472 3.158 263,17 4 2012 402 298 167 371 287 229 118 164 237 390 580 582 3.825 318,75 Jumlah Bulanan 1459 1490 1149 1863 1353 827 548 848 749 1632 1870 1750 15.538 1.294,83 Rata-rata 364,75 372,5 287,25 465,75 338,25 206,75 137 212 187,25 408 467,5 437,5 3.884,5 323,71
Tabel V.2 Hasil Pengamatan Struktur Lapisan Batuan No. Sampel Kode satuan lahan Kriteria lapisan
Batuan Harkat
1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Miring 4
2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Miring bergelombang 3
3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Miring 4
4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Miring 4
5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Miring bergelombang 3
6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Miring 4
7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Miring 4
8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Horizontal 1
9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Horizontal 1
Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.
Berdasarkan Tabel V.2 dapat dilihat struktur lapisan batuan di daerah
penelitian bervariasi yaitu terdiri dari horizontal, miring, dan miring
bergelombang. Struktur lapisan batuan lokasi penelitian dapat di lihat pada
gambar V.1 berikut;
Gambar V.1. Pengamatan Terhadap Struktur Lapisan Batuan
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Dari gambar di atas dapat diamati bahwa ini struktur lapisan batuan miring
terdapat pada sampel 4 di lokasi penelitian. Keadaan seperti sangat memicu
terjadinya bahaya longsor karena dengan struktur lapisan batuan yang miring
akan membuat bidang gelincir untuk memudahkan terjadinya gerakan tanah
pada lahan tersebut, apalagi lahan tersebut terletak di pinggir jalan yang
menghubungkan lintau dan batusangkar dan adanya perkebungan masyarakat
di sekitarnya. Kondisi ini jika diabaikan maka akan menimbulkan korban
nyawa, kerugian harta benda dan rusaknya infrastruktur seperti jalan raya.
c. Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan
klasifikasinya. Kemiringan lereng daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel
V.3 berikut ini:
Tabel V.3 Hasil Pengamatan Kemiringan Lereng No. Sampel Kode satuan lahan
Kelas Kemiringan Harkat Persen (%) Derajat (0) 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc 84 40 4 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr 49 26 4 3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht 65 33 4 4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr 58 30 4 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc 31 17 3 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc 25 14 2 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem 15 9 2 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc 7 4 1 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem 5 3 1
Sumber: Pengamatan lapangan (September 2014)
Berdasarkan Tabel V.3 dapat dilihat kemiringan lereng di daerah
penelitian bervariasi yaitu terdiri dari kelas I, II, III, dan IV. Kemiringan
dari curam sampai sangat curam karena kemiringan lerengnya >15%.
Keadaan ini sangat memungkinkan terjadinya longsor pada lokasi penelitian.
Kemiringan lereng sangat curam dapat di lihat pada Gambar V.2 berikut;
Gambar V.2. Pengamatan Terhadap Kemiringan Lereng
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Gambar V.2 di atas merupakan salah satu contoh kemiringan lereng sangat
curam yaitu 49% pada sampel 2. Pengukuran kemiringan lereng dilakukan
dengan menggunakan Abney Level. Semakin tinggi derajat kemiringan
lereng di daerah tersebut semakin tinggi pula potensi bahaya longsor yang
akan terjadi, apalagi penggunaan lahan yang tidak sesuai seperti gambar di
atas lahan yang sangat curam dijadikan kebun oleh masyarakat.
d.Panjang Lereng
Panjang lereng dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan
klasifikasinya. Panjang lereng daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.4
Tabel V.4. Hasil Pengukuran Panjang Lereng No Sampel Kode satuan lahan Kriteria
Panjang lereng Hasil (m) Harkat 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Pendek 11 1 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Sedang 48 2
3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Sangat Panjang 350 4
4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Pendek 13.2 1 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Pendek 13.1 1 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Sedang 32 2 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Sedang 50 2 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Sedang 45 2 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Pendek 13 1
Sumber: Pengamatan lapangan (September 2014)
Berdasarkan Tabel V.4 dapat dilihat panjang lereng di daerah penelitian
bervariasi yaitu terdiri dari pendek, sedang, dan sangat panjang. Lereng
paling panjang berada pada sampel 3 dengan panjang 350 m dan lereng
paling pendek terdapat pada sampel 1 dengan panjang 11 m. Panjang lereng
juga dapat di lihat pada gambar V.3 berikut;
Gambar V.3. Pengamatan Terhadap Panjang Lereng
Gambar V.3 di atas merupakan panjang lereng dengan kriteria pendek
yaitu 11 m pada sampel 1 di lokasi penelitian. Panjang lereng sangat
mempengaruhi banyaknya material yang dibawa oleh longsor itu sendiri.
Semakin panjang suatu lereng maka semakin banyak material yang akan
dibawanya sedangkan semakin pendek suatu lereng maka akan sedikit
membawa material. Kondisi lereng ini memang mempunyai lereng yang
pendek tetapi terletak di pinggir jalan sehingga dapat merusak jalan raya dan
menimbulkan korban nyawa apabila ada pengendera yang melintas pada
jalan tersebut.
e. Bentuk Lereng
Bentuk lereng dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan
klasifikasinya. Bentuk lereng daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.5
berikut ini:
Tabel V.5. Hasil Pengamatan Bentuk Lereng No. Sampel Kode satuan lahan Kriteria Bentuk
Lereng Harkat
1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Cekung 3
2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Cembung Cekung 4
3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Cembung Cekung 4
4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Cekung 3 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Cekung 2 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Lurus 1 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Cembung 2 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Lurus 1 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Lurus 1
Berdasarkan Tabel V.5 dapat dilihat bentuk lereng di daerah penelitian
bervariasi yaitu terdiri dari lurus, cembung, cekung, dan cembung cekung.
Bentuk lereng yang bervariasi akan menjadi gaya pendorong terjadinya
longsor. Tabel di atas menunjukkan bahwa bentuk lereng cembung cekung
terdapat pada sampel 2 dan 3 sedangkan bentuk lereng cekung pada lokasi
penelitian sebanyak tiga sampel dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Kc,
V5.III.Kamb.Qamg.Blkr, V5.III.Kamb.Qamg.Kc. Bentuk lereng lurus
ditemukan pada sampel 7, 8, dan 9, hanya satu dengan bentuk lereng
cembung yaitu pada sampel 6. Bentuk lereng cembung cekung dapat dilihat
pada Gambar V.4 berikut;
Gambar V.4. Pengamatan Terhadap Bentuk Lereng
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Gambar V.4 merupakan salah satu contoh bentuk lereng cembung cekung
maka akan semakin tinggi tingkat terjadinya longsor dengan kapasitas
material yang dibawa longsor tersebut.
f. Tekstur Tanah
Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif antara berbagai partikel
tanah, sehingga dari rasa kasar atau licinnya dapat di bedakan menjadi
apakah tanah itu pasir, pasir berlempung, pasir berdebu, lempung, lempung
berdebu, lempung berpasir, geluh, geluh berlempung, geluh berdebu, dan
geluh berpasir. Hasil yang didapatkan dari penelitian diperoleh dari uji
lapangan sehingga dapat ditentukan tekstur tanah masing – masing sampel, dapat dilihat pada Tabel V.6 berikut:
Tabel V.6 Hasil Analisis Tekstur Tanah
No. Sampel Kode satuan lahan Kriteria Harkat
1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Liat berpasir 4
2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Lempung berdebu 3
3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Liat berdebu 4
4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Lempung berpasir 3
5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Lempung berpasir 3
6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Lempung berdebu 3
7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Lempung berdebu 3
8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Lempung berdebu 3
9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Pasir berdebu 2
Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.
Berdasarkan Tabel V.6 dapat dilihat kelas tektur tanah daerah penelitian
bervariasi yaitu; pasir berdebu, lempung berdebu, lempung berpasir, liat
berpasir dan liat berdebu. Keadaan tanah yang seperti ini berpotensi
terjadinya longsor karena tanah yang bertekstur lempung berdebu, lempung
lereng yang sangat curam. Tekstur tanah lokasi penelitian dapat diamati pada
Gambar V.5 berikut;
Gambar V.5. Pengamatan Terhadap Tekstur Tanah
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Gambar V.5 merupakan contoh dari tekstur lempung berpasir pada sampel
5 di lokasi penelitian. Kondisi tekstur tanah ini apabila terdapat pada lereng
sangat curam dengan penggunaan lahan kebun campuran maka akan sangat
mudah untuk terjadinya longsor.
g. Struktur Tanah
Struktur tanah dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan
klasifikasinya. Struktur tanah daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.7
Tabel V.7. Hasil Analisis Struktur Tanah
No Sampel Kode satuan lahan Kelas
Struktur Harkat 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Remah 1 3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Gumpal 2 4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Remah 1 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Remah 1 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Remah 1
Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.
Berdasarkan Tabel V.7 dapat dilihat kelas struktur tanah daerah
penelitian didominasi oleh struktur tanah yang remah dan hanya satu sampel yang
memiliki struktur tanah gumpal. Struktur tanah yang seperti ini merupakan salah
faktor pemicu terjadinya longsor seperti pada Gambar V.6 berikut;
Gambar V.6. Pengamatan Terhadap Struktur Tanah
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Gambar V.6 merupakan contoh struktur tanah remah dengan nilai harkat 1
penelitian. Struktur tanah remah pada gambar di atas terdapat pada sampel 1
dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Kc.
h.Solum Tanah
Solum tanah dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan
klasifikasinya. Solum tanah lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel V.8
berikut;
Tabel V.8. Hasil Analisis Solum Tanah
No. Sampel Kode satuan lahan Kelas Solum Hasil
(cm) Harkat
1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Sangat Dangkal 22 1
2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Dangkal 50 2
3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Dalam 110 4
4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Sangat Dangkal 15 1
5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Dangkal 50 2
6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Dangkal 45 2
7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Sangat Dangkal 24 1
8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Sangat Dangkal 20 1
9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Dangkal 30 2
Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.
Tabel V.8 menunjukkan bahwa solum tanah pada lokasi penelitian
bervariasi mulai dari dalam, dangkal, dan sangat dangkal. Solum tanah dalam
yaitu 110 cm terdapat pada sampel 3 dengan satuan lahan
V4.IV.Kamb.Qamg.Ht dan solum dangkal terdapat pada sampel 2, 5, 6, 9,
sedangkan solum sangat dangkal terdapat pada sampel 1, 4, 7, dan 8. Solum
Gambar V.7. Pengamatan Terhadap Solum Tanah
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Gambar V.7 merupakan solum tanah sangat dangkal < 25 cm yaitu 22 cm
dengan harkat 1 pada sampel dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Kc.
Kondisi solum tanah ini yang sangat dangkal sehingga mudah untuk terjadi
longsor karena perakaran tumbuhan yang berada di atasnya tidak dapat
menahan beban materialnya.
i. Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah merupakan sifat tanah yang menunjukkan kekuatan daya
adhesi dan daya kohesi terhadap tanah di sekitarnya, atau benda lain.
Konsistensi tanah sangat berpengaruh terhadap longsor, tidak adanya daya
adhesi pada butiran tanah akan semakin mempercepat laju longsor begitu
juga dengan sebaliknya. Hasil konsistensi tanah yang diperoleh dari data
primer melalui pengamatan lapangan dengan cara kualitatif disajikan pada
Tabel V.9. Hasil Analisis Konsistensi Tanah
No. Sampel Kode satuan lahan Kelas Konsistensi Harkat
1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1
2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Sangat Gembur 1
3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Gembur 2
4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Sangat Gembur 1
5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1
6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1
7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Sangat Gembur 1
8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1
9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Sangat Gembur 1
Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.
Berdasarkan Tabel V.9 dapat dilihat konsistensi tanah daerah penelitian
didominasi oleh kelas konsistensi sangat gembur, sedangkan hanya satu kelas
konsistensi gembur pada sampel 3 dengan satuan lahan
V4.IV.Kamb.Qamg.Ht yang dapat dilihat pada Gambar V.8 berikut;
Gambar V.8. Pengamatan Terhadap Konsistensi Tanah
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Gambar V.8 merupakan contoh kelas konsistensi gembur pada sampel 3
dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Ht. Konsistensi tanah ini sangat
sehingga mudah untuk bergeser dan terjadi longsor apalagi berada di pinggir
jalan akan menyebabkan kerusakan jalan dan korban nyawa.
j. Kedalaman Muka Air Tanah
Kedalaman muka air tanah dapat dilihat langsung di lapangan dan
disesuaikan klasifikasinya. Kedalaman muka air tanah daerah penelitian
dapat dilihat pada Tabel V.10 berikut ini:
Tabel V.10. Hasil Pengukuran Kedalaman Muka Air Tanah No Sampel Kode satuan lahan Kriteria Hasil
(cm) Harkat 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Dalam 670 1 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Dalam 890 1 3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Dalam 750 1 4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Dalam 550 1 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Dalam 630 1 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Dalam 890 1 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Dalam 910 1
8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Agak Dangkal 150 3
9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Agak Dangkal 173 3
Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.
Berdasarkan Tabel V.10 dapat dilihat kedalaman muka air tanah di lokasi
penelitian didominasi oleh muka air tanah yang dalam, yang kedalamannya
agak dangkal yaitu pada sampel 8 dengan satuan lahan V7.I.Kamb.Qamg.Kc
dan sampel 9 dengan kedalamannya 173 cm. Kedalaman muka air tanah
Gambar V.9. Pengamatan Terhadap Kedalaman Muka Air Tanah
Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.
Gambar V.9 merupakan contoh kedalaman muka air tanah dalam pada
sampel 7 di lokasi penelitian. Semakin dalam muka air tanah di daerah
tersebut maka semakin tinggi pula potensi longsor yang akan terjadi karena
keadaan air tanah seperti itu membuat tanah menjadi kering yang
mengakibatkan tidak adanya gaya adhesi antara butir-butir tanah sehingga
adanya rongga yang besar pada tanah itu sendiri.
k. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan
klasifikasinya. Penggunaan lahan daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel
Tabel V.11. Hasil Pengamatan Penggunaan Lahan
No. Sampel Kode satuan lahan P. Lahan Harkat
1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Kebun campuran 3
2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Kebun campuran 3
3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Hutan 1
4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Belukar 2
5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Kebun campuran 3
6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Kebun campuran 3
7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Permukiman 4
8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Permukiman 4
9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Permukiman 4
Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.
Berdasarkan Tabel V.10 dapat dilihat penggunaan lahan di daerah
penelitian bervariasi yaitu hutan, belukar, kebun campuran, dan pemukiman.
Penggunaan lahan kebun campuran terdapat pada empat sampel yaitu sampel
1, 2, 5, dan 7. Hasil dari pengamatan menemukan ada perubahan penggunaan
lahan yaitu pada sampel 2 dan 8.
Gambar V.10. Pengamatan Terhadap Penggunaan Lahan
Gambar V.10 di atas menunjukkan sampel 2 terjadi perubahan
penggunaan lahan dari semak belukar menjadi kebun campuran sedangkan
pada sampel 8 terjadi perubahan dari kebun campuran menjadi permukiman
penduduk. Kondisi seperti itu akan dapat mengakibatkan kestabilan dari
lahan itu sendiri terganggu oleh perubahan penggunaan lahan dan dapat
menimbulkan korban jiwa seperti pada sampel 8 yang menjadikan kebun
untuk permukiman. Hal demikian membuat meningkatnya bahaya longsor
yang terjadi pada lokasi penelitian.