• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Lahan pada Lokasi Penelitian

Dalam dokumen Tingkat Bahaya Longsor di Lereng Barat P (Halaman 71-88)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Lahan pada Lokasi Penelitian

Karakteristik lahan pada suatu lahan dapat ditentukan berdasarkan

beberapa aspek yaitu; 1) iklim; curah hujan, 2) geologi; struktur lapisan

batuan, 3) geomorfologi; bentuklahan, satuan bentuklahan, kemiringan lereng,

panjang lereng, bentuk lereng, 4) tanah; tekstur, struktur, solum, konsistensi,

5) hidrologi; kedalaman muka air tanah dan penggunaan lahan. Aspek tersebut

merupakan faktor yang sangat menentukan terjadinya bahaya longsor pada

lokasi penelitian.

a. Curah Hujan

Curah hujan merupakan salah satu variabel yang sangat berpengaruh pada

keadaan hidrologi daerah penelitian. Daerah penelitian merupakan daerah

yang mempunyai curah hujan cukup tinggi tiap bulan, sehingga disaat musim

hujan datang potensi terjadinya longsor semakin tinggi, hal ini didukung

dengan keadaan topografi di daerah Panorama Puncak Pato yang berpotensi

terhadap terjadinya longsor. Data curah hujan lokasi penelitian dalam kurung

waktu 4 tahun dari tahun 2009-2012 dapat di lihat pada tabel V.1 berikut;

Tabel V.1. Data Curah Hujan Stasiun Buo Periode 2009-2012

Sumber; BPSDA, 2014

Menurut publikasi data Klimatologi stasiun Buo yang merupakan

stasiun penghitung curah hujan terdekat dengan lokasi penelitian menyatakan

bahwa jumlah curah hujan stasiun Buo dalam kurung waktu 4 tahun adalah

dengan total rata – rata jumlah hujan 3884.5 mm/tahun, hujan maximum pada bulan November yaitu 467.5 mm/tahun, dan jumlah hujan minimum pada

bulan Juli 137 mm/tahun. Kondisi curah hujan seperti ini merupakan kondisi

yang sangat memicu terjadinya bahaya longsor pada lokasi penelitian. Curah

hujan lokasi penelitian tergolong sangat tinggi karena >2500 mm/tahun yaitu

3884.5 mm/tahun.

b.Struktur Lapisan Batuan

Struktur lapisan batuan merupakan faktor yang sangat menentukan dan

penting untuk dipertimbangkan, hasil pengamatan lapangan dapat dilihat

pada Tabel V.2 berikut ini:

NO Tahun BULAN

Jumlah Rata

rata Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des

1 2009 213 309 435 915 249 419 95 481 133 494 391 520 4.654 387,83 2 2010 390 492 477 294 426 99 214 162 334 428 409 176 3.901 325,08 3 2011 454 391 70 283 391 80 121 41 45 320 490 472 3.158 263,17 4 2012 402 298 167 371 287 229 118 164 237 390 580 582 3.825 318,75 Jumlah Bulanan 1459 1490 1149 1863 1353 827 548 848 749 1632 1870 1750 15.538 1.294,83 Rata-rata 364,75 372,5 287,25 465,75 338,25 206,75 137 212 187,25 408 467,5 437,5 3.884,5 323,71

Tabel V.2 Hasil Pengamatan Struktur Lapisan Batuan No. Sampel Kode satuan lahan Kriteria lapisan

Batuan Harkat

1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Miring 4

2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Miring bergelombang 3

3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Miring 4

4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Miring 4

5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Miring bergelombang 3

6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Miring 4

7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Miring 4

8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Horizontal 1

9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Horizontal 1

Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.

Berdasarkan Tabel V.2 dapat dilihat struktur lapisan batuan di daerah

penelitian bervariasi yaitu terdiri dari horizontal, miring, dan miring

bergelombang. Struktur lapisan batuan lokasi penelitian dapat di lihat pada

gambar V.1 berikut;

Gambar V.1. Pengamatan Terhadap Struktur Lapisan Batuan

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Dari gambar di atas dapat diamati bahwa ini struktur lapisan batuan miring

terdapat pada sampel 4 di lokasi penelitian. Keadaan seperti sangat memicu

terjadinya bahaya longsor karena dengan struktur lapisan batuan yang miring

akan membuat bidang gelincir untuk memudahkan terjadinya gerakan tanah

pada lahan tersebut, apalagi lahan tersebut terletak di pinggir jalan yang

menghubungkan lintau dan batusangkar dan adanya perkebungan masyarakat

di sekitarnya. Kondisi ini jika diabaikan maka akan menimbulkan korban

nyawa, kerugian harta benda dan rusaknya infrastruktur seperti jalan raya.

c. Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan

klasifikasinya. Kemiringan lereng daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel

V.3 berikut ini:

Tabel V.3 Hasil Pengamatan Kemiringan Lereng No. Sampel Kode satuan lahan

Kelas Kemiringan Harkat Persen (%) Derajat (0) 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc 84 40 4 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr 49 26 4 3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht 65 33 4 4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr 58 30 4 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc 31 17 3 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc 25 14 2 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem 15 9 2 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc 7 4 1 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem 5 3 1

Sumber: Pengamatan lapangan (September 2014)

Berdasarkan Tabel V.3 dapat dilihat kemiringan lereng di daerah

penelitian bervariasi yaitu terdiri dari kelas I, II, III, dan IV. Kemiringan

dari curam sampai sangat curam karena kemiringan lerengnya >15%.

Keadaan ini sangat memungkinkan terjadinya longsor pada lokasi penelitian.

Kemiringan lereng sangat curam dapat di lihat pada Gambar V.2 berikut;

Gambar V.2. Pengamatan Terhadap Kemiringan Lereng

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Gambar V.2 di atas merupakan salah satu contoh kemiringan lereng sangat

curam yaitu 49% pada sampel 2. Pengukuran kemiringan lereng dilakukan

dengan menggunakan Abney Level. Semakin tinggi derajat kemiringan

lereng di daerah tersebut semakin tinggi pula potensi bahaya longsor yang

akan terjadi, apalagi penggunaan lahan yang tidak sesuai seperti gambar di

atas lahan yang sangat curam dijadikan kebun oleh masyarakat.

d.Panjang Lereng

Panjang lereng dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan

klasifikasinya. Panjang lereng daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.4

Tabel V.4. Hasil Pengukuran Panjang Lereng No Sampel Kode satuan lahan Kriteria

Panjang lereng Hasil (m) Harkat 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Pendek 11 1 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Sedang 48 2

3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Sangat Panjang 350 4

4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Pendek 13.2 1 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Pendek 13.1 1 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Sedang 32 2 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Sedang 50 2 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Sedang 45 2 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Pendek 13 1

Sumber: Pengamatan lapangan (September 2014)

Berdasarkan Tabel V.4 dapat dilihat panjang lereng di daerah penelitian

bervariasi yaitu terdiri dari pendek, sedang, dan sangat panjang. Lereng

paling panjang berada pada sampel 3 dengan panjang 350 m dan lereng

paling pendek terdapat pada sampel 1 dengan panjang 11 m. Panjang lereng

juga dapat di lihat pada gambar V.3 berikut;

Gambar V.3. Pengamatan Terhadap Panjang Lereng

Gambar V.3 di atas merupakan panjang lereng dengan kriteria pendek

yaitu 11 m pada sampel 1 di lokasi penelitian. Panjang lereng sangat

mempengaruhi banyaknya material yang dibawa oleh longsor itu sendiri.

Semakin panjang suatu lereng maka semakin banyak material yang akan

dibawanya sedangkan semakin pendek suatu lereng maka akan sedikit

membawa material. Kondisi lereng ini memang mempunyai lereng yang

pendek tetapi terletak di pinggir jalan sehingga dapat merusak jalan raya dan

menimbulkan korban nyawa apabila ada pengendera yang melintas pada

jalan tersebut.

e. Bentuk Lereng

Bentuk lereng dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan

klasifikasinya. Bentuk lereng daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.5

berikut ini:

Tabel V.5. Hasil Pengamatan Bentuk Lereng No. Sampel Kode satuan lahan Kriteria Bentuk

Lereng Harkat

1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Cekung 3

2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Cembung Cekung 4

3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Cembung Cekung 4

4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Cekung 3 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Cekung 2 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Lurus 1 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Cembung 2 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Lurus 1 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Lurus 1

Berdasarkan Tabel V.5 dapat dilihat bentuk lereng di daerah penelitian

bervariasi yaitu terdiri dari lurus, cembung, cekung, dan cembung cekung.

Bentuk lereng yang bervariasi akan menjadi gaya pendorong terjadinya

longsor. Tabel di atas menunjukkan bahwa bentuk lereng cembung cekung

terdapat pada sampel 2 dan 3 sedangkan bentuk lereng cekung pada lokasi

penelitian sebanyak tiga sampel dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Kc,

V5.III.Kamb.Qamg.Blkr, V5.III.Kamb.Qamg.Kc. Bentuk lereng lurus

ditemukan pada sampel 7, 8, dan 9, hanya satu dengan bentuk lereng

cembung yaitu pada sampel 6. Bentuk lereng cembung cekung dapat dilihat

pada Gambar V.4 berikut;

Gambar V.4. Pengamatan Terhadap Bentuk Lereng

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Gambar V.4 merupakan salah satu contoh bentuk lereng cembung cekung

maka akan semakin tinggi tingkat terjadinya longsor dengan kapasitas

material yang dibawa longsor tersebut.

f. Tekstur Tanah

Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif antara berbagai partikel

tanah, sehingga dari rasa kasar atau licinnya dapat di bedakan menjadi

apakah tanah itu pasir, pasir berlempung, pasir berdebu, lempung, lempung

berdebu, lempung berpasir, geluh, geluh berlempung, geluh berdebu, dan

geluh berpasir. Hasil yang didapatkan dari penelitian diperoleh dari uji

lapangan sehingga dapat ditentukan tekstur tanah masing – masing sampel, dapat dilihat pada Tabel V.6 berikut:

Tabel V.6 Hasil Analisis Tekstur Tanah

No. Sampel Kode satuan lahan Kriteria Harkat

1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Liat berpasir 4

2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Lempung berdebu 3

3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Liat berdebu 4

4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Lempung berpasir 3

5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Lempung berpasir 3

6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Lempung berdebu 3

7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Lempung berdebu 3

8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Lempung berdebu 3

9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Pasir berdebu 2

Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.

Berdasarkan Tabel V.6 dapat dilihat kelas tektur tanah daerah penelitian

bervariasi yaitu; pasir berdebu, lempung berdebu, lempung berpasir, liat

berpasir dan liat berdebu. Keadaan tanah yang seperti ini berpotensi

terjadinya longsor karena tanah yang bertekstur lempung berdebu, lempung

lereng yang sangat curam. Tekstur tanah lokasi penelitian dapat diamati pada

Gambar V.5 berikut;

Gambar V.5. Pengamatan Terhadap Tekstur Tanah

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Gambar V.5 merupakan contoh dari tekstur lempung berpasir pada sampel

5 di lokasi penelitian. Kondisi tekstur tanah ini apabila terdapat pada lereng

sangat curam dengan penggunaan lahan kebun campuran maka akan sangat

mudah untuk terjadinya longsor.

g. Struktur Tanah

Struktur tanah dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan

klasifikasinya. Struktur tanah daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.7

Tabel V.7. Hasil Analisis Struktur Tanah

No Sampel Kode satuan lahan Kelas

Struktur Harkat 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Remah 1 3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Gumpal 2 4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Remah 1 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Remah 1 8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Remah 1 9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Remah 1

Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.

Berdasarkan Tabel V.7 dapat dilihat kelas struktur tanah daerah

penelitian didominasi oleh struktur tanah yang remah dan hanya satu sampel yang

memiliki struktur tanah gumpal. Struktur tanah yang seperti ini merupakan salah

faktor pemicu terjadinya longsor seperti pada Gambar V.6 berikut;

Gambar V.6. Pengamatan Terhadap Struktur Tanah

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Gambar V.6 merupakan contoh struktur tanah remah dengan nilai harkat 1

penelitian. Struktur tanah remah pada gambar di atas terdapat pada sampel 1

dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Kc.

h.Solum Tanah

Solum tanah dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan

klasifikasinya. Solum tanah lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel V.8

berikut;

Tabel V.8. Hasil Analisis Solum Tanah

No. Sampel Kode satuan lahan Kelas Solum Hasil

(cm) Harkat

1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Sangat Dangkal 22 1

2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Dangkal 50 2

3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Dalam 110 4

4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Sangat Dangkal 15 1

5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Dangkal 50 2

6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Dangkal 45 2

7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Sangat Dangkal 24 1

8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Sangat Dangkal 20 1

9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Dangkal 30 2

Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.

Tabel V.8 menunjukkan bahwa solum tanah pada lokasi penelitian

bervariasi mulai dari dalam, dangkal, dan sangat dangkal. Solum tanah dalam

yaitu 110 cm terdapat pada sampel 3 dengan satuan lahan

V4.IV.Kamb.Qamg.Ht dan solum dangkal terdapat pada sampel 2, 5, 6, 9,

sedangkan solum sangat dangkal terdapat pada sampel 1, 4, 7, dan 8. Solum

Gambar V.7. Pengamatan Terhadap Solum Tanah

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Gambar V.7 merupakan solum tanah sangat dangkal < 25 cm yaitu 22 cm

dengan harkat 1 pada sampel dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Kc.

Kondisi solum tanah ini yang sangat dangkal sehingga mudah untuk terjadi

longsor karena perakaran tumbuhan yang berada di atasnya tidak dapat

menahan beban materialnya.

i. Konsistensi Tanah

Konsistensi tanah merupakan sifat tanah yang menunjukkan kekuatan daya

adhesi dan daya kohesi terhadap tanah di sekitarnya, atau benda lain.

Konsistensi tanah sangat berpengaruh terhadap longsor, tidak adanya daya

adhesi pada butiran tanah akan semakin mempercepat laju longsor begitu

juga dengan sebaliknya. Hasil konsistensi tanah yang diperoleh dari data

primer melalui pengamatan lapangan dengan cara kualitatif disajikan pada

Tabel V.9. Hasil Analisis Konsistensi Tanah

No. Sampel Kode satuan lahan Kelas Konsistensi Harkat

1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1

2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Sangat Gembur 1

3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Gembur 2

4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Sangat Gembur 1

5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1

6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1

7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Sangat Gembur 1

8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Sangat Gembur 1

9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Sangat Gembur 1

Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.

Berdasarkan Tabel V.9 dapat dilihat konsistensi tanah daerah penelitian

didominasi oleh kelas konsistensi sangat gembur, sedangkan hanya satu kelas

konsistensi gembur pada sampel 3 dengan satuan lahan

V4.IV.Kamb.Qamg.Ht yang dapat dilihat pada Gambar V.8 berikut;

Gambar V.8. Pengamatan Terhadap Konsistensi Tanah

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Gambar V.8 merupakan contoh kelas konsistensi gembur pada sampel 3

dengan satuan lahan V4.IV.Kamb.Qamg.Ht. Konsistensi tanah ini sangat

sehingga mudah untuk bergeser dan terjadi longsor apalagi berada di pinggir

jalan akan menyebabkan kerusakan jalan dan korban nyawa.

j. Kedalaman Muka Air Tanah

Kedalaman muka air tanah dapat dilihat langsung di lapangan dan

disesuaikan klasifikasinya. Kedalaman muka air tanah daerah penelitian

dapat dilihat pada Tabel V.10 berikut ini:

Tabel V.10. Hasil Pengukuran Kedalaman Muka Air Tanah No Sampel Kode satuan lahan Kriteria Hasil

(cm) Harkat 1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Dalam 670 1 2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Dalam 890 1 3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Dalam 750 1 4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Dalam 550 1 5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Dalam 630 1 6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Dalam 890 1 7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Dalam 910 1

8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Agak Dangkal 150 3

9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Agak Dangkal 173 3

Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.

Berdasarkan Tabel V.10 dapat dilihat kedalaman muka air tanah di lokasi

penelitian didominasi oleh muka air tanah yang dalam, yang kedalamannya

agak dangkal yaitu pada sampel 8 dengan satuan lahan V7.I.Kamb.Qamg.Kc

dan sampel 9 dengan kedalamannya 173 cm. Kedalaman muka air tanah

Gambar V.9. Pengamatan Terhadap Kedalaman Muka Air Tanah

Sumber; Pengamatan lapangan, 2014.

Gambar V.9 merupakan contoh kedalaman muka air tanah dalam pada

sampel 7 di lokasi penelitian. Semakin dalam muka air tanah di daerah

tersebut maka semakin tinggi pula potensi longsor yang akan terjadi karena

keadaan air tanah seperti itu membuat tanah menjadi kering yang

mengakibatkan tidak adanya gaya adhesi antara butir-butir tanah sehingga

adanya rongga yang besar pada tanah itu sendiri.

k. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan dapat dilihat langsung di lapangan dan disesuaikan

klasifikasinya. Penggunaan lahan daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel

Tabel V.11. Hasil Pengamatan Penggunaan Lahan

No. Sampel Kode satuan lahan P. Lahan Harkat

1 1 V4.IV.Kamb.Qamg.Kc Kebun campuran 3

2 2 V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr Kebun campuran 3

3 3 V4.IV.Kamb.Qamg.Ht Hutan 1

4 4 V5.III.Kamb.Qamg.Blkr Belukar 2

5 5 V5.III.Kamb.Qamg.Kc Kebun campuran 3

6 6 V6.II.Kamb.Qamg.Kc Kebun campuran 3

7 7 V6.II.Kamb.Qamg.Pem Permukiman 4

8 8 V7.I.Kamb.Qamg.Kc Permukiman 4

9 9 V7.I.Kamb.Qamg.Pem Permukiman 4

Sumber: Pengamatan lapangan, 2014.

Berdasarkan Tabel V.10 dapat dilihat penggunaan lahan di daerah

penelitian bervariasi yaitu hutan, belukar, kebun campuran, dan pemukiman.

Penggunaan lahan kebun campuran terdapat pada empat sampel yaitu sampel

1, 2, 5, dan 7. Hasil dari pengamatan menemukan ada perubahan penggunaan

lahan yaitu pada sampel 2 dan 8.

Gambar V.10. Pengamatan Terhadap Penggunaan Lahan

Gambar V.10 di atas menunjukkan sampel 2 terjadi perubahan

penggunaan lahan dari semak belukar menjadi kebun campuran sedangkan

pada sampel 8 terjadi perubahan dari kebun campuran menjadi permukiman

penduduk. Kondisi seperti itu akan dapat mengakibatkan kestabilan dari

lahan itu sendiri terganggu oleh perubahan penggunaan lahan dan dapat

menimbulkan korban jiwa seperti pada sampel 8 yang menjadikan kebun

untuk permukiman. Hal demikian membuat meningkatnya bahaya longsor

yang terjadi pada lokasi penelitian.

Dalam dokumen Tingkat Bahaya Longsor di Lereng Barat P (Halaman 71-88)

Dokumen terkait