• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Penelitian

Dalam dokumen Tingkat Bahaya Longsor di Lereng Barat P (Halaman 92-100)

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Penelitian

Berdasarkan hasil kerja lapangan dan hasil penelitian yang dikemukakan

sebelumnya, bahwa tingkat bahaya longsor ditentukan oleh karakteristik

lahan itu sendiri. Pembahasan hasil penelitian akan dibahas lebih lanjut

dalam 2 bagian yaitu karakteristik lahan dan tingkat bahaya longsor berikut;

1. Karakteristik Lahan a. Iklim

Berdasarkan topografi lembar Solok skala 1 : 50.000 dan pengamatan

lapangan maka Panorama Puncak Pato terletak pada ketinggian 1075 m-1208

m diatas permukaan laut. Daerah penelitian merupakan daerah yang terletak

pada daerah beriklim tropis dan mempunyai curah hujan cukup tinggi dengan

3884.5 mm/tahun, sehingga disaat musim hujan datang potensi terjadinya

longsor semakin tinggi, hal ini didukung dengan keadaan topografi di daerah

Panorama Puncak Pato yang berpotensi terhadap terjadinya longsor. Kowal

dan Kasam, 1979 dalam Banuwa ( 2013 ) menyatakan bahwa kemampuan

hujan di daerah tropis untuk menimbulkan longsor lebih besar daripada di

daerah beriklim sedang, karena daerah tropis umumnya mempunyai curah

hujan yang relative lebih tinggi daripada di daerah beriklim sedang. Selama

kejadian hujan, jumlah hujan merupakan faktor yang paling berpengaruh

terhadap aliran permukaan sedangkan penyebaran hujan berpengaruh

terhadap luasan longsor yang terjadi, Kohnke Bertrand, 1959 dalam Banuwa

b.Geologi

Berdasarkan hasil temuan di lapangan struktur lapisan batuan daerah

penelitian berbentuk horizontal, miring sampai dengan miring berbukit.

Batuan daerah penelitian merupakan batuan yang berasal dari aktifitas dari

gunung api yang berupa erupsi magma yang keluar dari perut bumi kemudian

mengalami pendinginan dan mengeras menjadi batu sehingga tanah endapan

yang berasal dari gunung api merupakan tanah yang sangat rentan dan labil

terhadap longsor. Faktor geologi yang mempengaruhi terjadinya gerakan

tanah adalah struktur geologi, sifat batuan, hilangnya perekat tanah karena

proses alami (pelarutan), dan gempa. Struktur geologi yang mempengaruhi

terjadinya gerakan tanah adalah kontak batuan dasar dengan pelapukan

batuan, retakan/rekahan, perlapisan batuan, dan patahan. Zona patahan

merupakan zona lemah yang mengakibatkan kekuatan batuan berkurang

sehingga menimbulkan banyak retakan yang memudahkan air meresap,

Surono ( 2003 ) dalam Effendi ( 2008 ).

c. Geomorfologi

Berdasarkan hasil dari pengamatan di lapangan dapat dilihat bahwa satuan

bentuklahan lokasi penelitian adalah lereng gunung api dan dataran kaki

gunung api yang merupakan daerah perbukitan dengan kelas kemiringan

lereng daerah penelitian bervariasi yaitu kelas II (14 – 25%), kelas III (26 – 40%) dan kelas IV ( > 40%). Topografi mulai dari landai, curam, dan sangat

dengan panjang lereng bervariasi dari yang pendek, sedang serta sangat

panjang.

Karnawati dalam Priyono, 2006 dalam Saputra ( 2014 ) menjelaskan 3

tipologi lereng yang rentan terjadi longsor yaitu; a) lereng yang tersusun oleh

tumpukan tanah gembur dialasi oleh batuan atau tanah yang lebih kompak, b)

lereng yang tersusun oleh perlapisan batuan yang miring searah kemiringan

lereng, c) lereng yang tersusun oleh blok-blok batuan. Tanah gembur yang

menyusun lereng pada tipologi pertama umumnya tebal dan bersifat lengket

apabila basah, namun dalam keadaan kering akan berubah menjadi

retak-retak dan getas. Bagian bawah dari lapisan tanah tersebut umumnya terdapat

perlapisan tanah atau batuan yang bersifat kompak dan kedap air, jika terjadi

hujan air hanya terakumulasi pada lapisan tanah karena sulit menembus

lapisan kedap air tersebut. Lapisan tanah bagian atas akan bergerak menuruni

lereng ( bidang gelincir ) karena melampaui kemampuan tanah untuk tetap

bertahan stabil pada lereng. Semakin tinggi kemiringan lereng suatu daerah

maka semakin tinggi tingkat bahaya longsor yang akan terjadi didaerah

tersebut. Foth, 1978 dalam Banuwa ( 2013 ) menyatakan bahwa panjang

lereng dan bentuk lereng juga sangat berpengaruh terhadap longsor. Panjang

pendeknya suatu lereng akan mempengaruhi luasan daerah yang akan terjadi

longsor dan bentuk lereng akan mempengaruhi kecepatan lonsor banyaknya

material yang dibawa oleh longsor itu sendiri. Berdasarkan keadaan topografi

daerah penelitian yang bervariasi akan menyebabkan lokasi penelitian mudah

d.Tanah

Tanah daerah penelitian terdiri atas 1 jenis yaitu tanah kambisol. Keadaan

tanah daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.6 sampai Tabel V.9.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat keadaan tanah bervariasi. Struktur

tanah terdiri atas remah dan gumpal, konsistensi sangat gembur dan

lepas-lepas sedangkan tekstur tanah kasar, sedang, dan halus.

Tanah sangat berpengaruh terhadap longsor karena komposisi tanah akan

mempengaruhi daya serap air dan kepekaan terhadap longsor. Tanah

berpengaruh terhadap longsor, dimana sifat-sifat tanah tersebut adalah tekstur

tanah, kedalaman/solum tanah, dan konsistensi tanah. Tekstur tanah

merupakan perbandingan persentase pasir, debu, dan lempung. Banyak

sedikitnya ukuran butir ketiga fraksi tersebut akan mempengaruhi respon

terhadap masukan air. Tanah bertekstur pasir karena kekuatan agregatnya

kurang kuat, maka akan mudah lepas apabila kelembaban bertambah. Tanah

yang bertekstur lempung mampu menyimpan air dalam waktu yang lama,

sehingga menyebabkan berat volume massa tanah bertambah. Pada tanah

yang mempunyai solum tebal mampu menerima dan menyimpan air lebih

besar daripada tanah dengan solum tipis, yang berarti akan berpengaruh pada

berat massa agregat tanah ( Suryono, 2000 ). Keadaan tanah di daerah

penelitian ini termasuk berpotensi terhadap bahaya longsor karena melihat

dari semua variabel-variabel tanah yang ada di daerah penelitian, selain itu

tanah daerah tersebut merupakan tanah yang berasal dari tanah endapan

e. Hidrologi

Kedalaman muka air tanah lokasi penelitian berdasarkan tabel V.10

didominasi oleh muka air tanah yang dalam dan tersebar pada 7 sampel yang

berbeda, sedangkan satu sampel lainnya memiliki muka air tanah yang agak

dangkal. Rodrigues et al. dan Mello et al. ( 2003 ) dalam Hermon ( 2012 ) menjelaskan bahwa proses terjadinya longsor diawali dengan air meresap ke

dalam tanah sehingga menambah bobot tanah tersebut, jika air menembus

sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir maka tanah

menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng

atau keluar lereng. Semakin dalam muka air tanah di daerah tersebut maka

semakin tinggi pula potensi longsor yang akan terjadi karena keadaan air

dapat menembus lapisan tanah kedap air yang dapat mengakibatkan

terjadinya longsor. Kondisi hidrologis yang juga berpengaruh tehadap

longsor adalah keterdapatan mata air/jalur rembesan. Air dalam penghantar

umumnya bergerak perlahan-lahan menuju ke permukaan air bebas yang

terdekat seperti danau, sungai, dan laut tetapi jika ada satu lapisan kedap air

yang membatasi sebuah penghantar dan lapisan itu tersingkap di permukaan

maka air tanah dapat muncul di permukaan pada jalur rembesan atau sebagai

mata air, CEGM ( 1979 ) dalam Sugiharyanto ( 2009 ). Jalur rembesan ( seepage ) yang terdapat pada tebing sepanjang jalan di lereng barat Panorama Puncak Pato yang dapat memicu terjadinya longsor secara tiba-tiba seperti

Gambar V.11 Jalur Rembesan Air Tanah

Sumber; Pengamatan Lapangan, 2014.

f. Penggunaan lahan

Penggunaan lahan daerah penelitian sangat berpengaruh terhadap tingkat

bahaya longsor di daerah penelitian. Penggunaan lahan yang didominasi oleh

kebun campuran, tingkat bahayanya lebih tinggi dari pada penggunaan lahan

lainnya karena berada didekat permukiman warga dan jalan raya yang dapat

menimbulkan korban serta rusaknya infrastruktur seperti jalan dan

permukiman tersebut apabila terjadi longsor. Penggunaan lahan berpengaruh

terhadap longsor, hampir semua longsor terjadi dipengaruhi oleh aktivitas

manusia yaitu dengan mengubah bentuk lereng yang menyebabkan air mudah

masuk ke dalam tanah atau mengubah tata guna tanah yang mempengaruhi

keseimbangan lereng ( Suryono, 2000 ).

Hairiah et al. ( 2007 ) mengemukakan bahwa tingginya frekuensi longsor disebabkan oleh terjadinya alih fungsi lahan, baik dari kawasan lindung

menyerupai kawasan lindung menjadi kawasan budidaya yang tidak

menunjang fungsi konservasi lingkungan hidup. Penggunaan lahan lokasi

penelitian merupakan kawasan budidaya sesuai dengan peta RTRW kab.

Tanah Datar tahun 2011-2031 namun pengelohannya dilakukan masyarakat

setempat tidak memperhatikan teknik konservasi tanah. Menurut Choirudin

et al. 2007 dalam Hermon ( 2012 ) mengatakan bahwa hampir semua longsor terjadi akibat aktifitas manusia dalam pengelolaan lahan pada daerah yang

berlereng curam, sehingga keseimbangan lahan akan terganggu dan rentan

terhadap longsor.

2. Tingkat Bahaya Longsor

Berdasarkan total pengharkatan seluruh variabel penelitian, maka dapat

dibedakan menjadi 3 tingkatan yaitu tingkat bahaya longsor rendah terjadi

pada satuan lahan dengan kode V6.II.Kamb.Qamg.Kc,

V6.II.Kamb.Qamg.Pem, V7.I.Kamb.Qamg.Kc, V7.I.Kamb.Qamg.Pem dan

tingkat bahaya longsor sedang terjadi pada satuan lahan dengan kode

V4.IV.Kamb.Qamg.Kc, V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr, V5.III.Kamb.Qamg.Kc,

V5.III.Kamb.Qamg.Blkr. Satuan lahan yang memiliki tingkat bahaya longsor

tinggi terjadi pada satuan lahan dengan kode V4.IV.Kamb.Qamg.Ht. Tingkat

bahaya longsor tinggi ini terdapat pada lereng barat Panorama Puncak Pato

dengan penggunaan lahan hutan yang berada di pinggir jalan. Tabel V.12

menunjukkan bahwa semakin besar harkat struktur lapisan batuan,

tanah, tebal solum tanah, konsistensi, kedalaman muka airtanah, penggunaan

lahan dan curah hujan maka akan semakin tinggi pula tingkat bahaya longsor

di daerah penelitian. Mardianto ( 2001 ) serta Hermon dan Triyatno ( 2005 )

dalam Hermon ( 2013 ) melakukan penelitian dengan mengembangkan

metode Zuidam dan Concelado ( 1979 ), memberikan informasi bahwa pada

tingkat bahaya longsor rendah memiliki tanah ynag stabil dan tidak pernah

atau jarang terjadi longsor kecuali pada tebing jalan dan sungai. Tingkat

bahaya longsor sedang peluang terjadinya longsor 1 kali dalam 5 tahun pada

lahan dengan kemiringan > 15% sedangkan tingkat bahaya longsor tinggi

BAB VI

Dalam dokumen Tingkat Bahaya Longsor di Lereng Barat P (Halaman 92-100)

Dokumen terkait