HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Penelitian
Berdasarkan hasil kerja lapangan dan hasil penelitian yang dikemukakan
sebelumnya, bahwa tingkat bahaya longsor ditentukan oleh karakteristik
lahan itu sendiri. Pembahasan hasil penelitian akan dibahas lebih lanjut
dalam 2 bagian yaitu karakteristik lahan dan tingkat bahaya longsor berikut;
1. Karakteristik Lahan a. Iklim
Berdasarkan topografi lembar Solok skala 1 : 50.000 dan pengamatan
lapangan maka Panorama Puncak Pato terletak pada ketinggian 1075 m-1208
m diatas permukaan laut. Daerah penelitian merupakan daerah yang terletak
pada daerah beriklim tropis dan mempunyai curah hujan cukup tinggi dengan
3884.5 mm/tahun, sehingga disaat musim hujan datang potensi terjadinya
longsor semakin tinggi, hal ini didukung dengan keadaan topografi di daerah
Panorama Puncak Pato yang berpotensi terhadap terjadinya longsor. Kowal
dan Kasam, 1979 dalam Banuwa ( 2013 ) menyatakan bahwa kemampuan
hujan di daerah tropis untuk menimbulkan longsor lebih besar daripada di
daerah beriklim sedang, karena daerah tropis umumnya mempunyai curah
hujan yang relative lebih tinggi daripada di daerah beriklim sedang. Selama
kejadian hujan, jumlah hujan merupakan faktor yang paling berpengaruh
terhadap aliran permukaan sedangkan penyebaran hujan berpengaruh
terhadap luasan longsor yang terjadi, Kohnke Bertrand, 1959 dalam Banuwa
b.Geologi
Berdasarkan hasil temuan di lapangan struktur lapisan batuan daerah
penelitian berbentuk horizontal, miring sampai dengan miring berbukit.
Batuan daerah penelitian merupakan batuan yang berasal dari aktifitas dari
gunung api yang berupa erupsi magma yang keluar dari perut bumi kemudian
mengalami pendinginan dan mengeras menjadi batu sehingga tanah endapan
yang berasal dari gunung api merupakan tanah yang sangat rentan dan labil
terhadap longsor. Faktor geologi yang mempengaruhi terjadinya gerakan
tanah adalah struktur geologi, sifat batuan, hilangnya perekat tanah karena
proses alami (pelarutan), dan gempa. Struktur geologi yang mempengaruhi
terjadinya gerakan tanah adalah kontak batuan dasar dengan pelapukan
batuan, retakan/rekahan, perlapisan batuan, dan patahan. Zona patahan
merupakan zona lemah yang mengakibatkan kekuatan batuan berkurang
sehingga menimbulkan banyak retakan yang memudahkan air meresap,
Surono ( 2003 ) dalam Effendi ( 2008 ).
c. Geomorfologi
Berdasarkan hasil dari pengamatan di lapangan dapat dilihat bahwa satuan
bentuklahan lokasi penelitian adalah lereng gunung api dan dataran kaki
gunung api yang merupakan daerah perbukitan dengan kelas kemiringan
lereng daerah penelitian bervariasi yaitu kelas II (14 – 25%), kelas III (26 – 40%) dan kelas IV ( > 40%). Topografi mulai dari landai, curam, dan sangat
dengan panjang lereng bervariasi dari yang pendek, sedang serta sangat
panjang.
Karnawati dalam Priyono, 2006 dalam Saputra ( 2014 ) menjelaskan 3
tipologi lereng yang rentan terjadi longsor yaitu; a) lereng yang tersusun oleh
tumpukan tanah gembur dialasi oleh batuan atau tanah yang lebih kompak, b)
lereng yang tersusun oleh perlapisan batuan yang miring searah kemiringan
lereng, c) lereng yang tersusun oleh blok-blok batuan. Tanah gembur yang
menyusun lereng pada tipologi pertama umumnya tebal dan bersifat lengket
apabila basah, namun dalam keadaan kering akan berubah menjadi
retak-retak dan getas. Bagian bawah dari lapisan tanah tersebut umumnya terdapat
perlapisan tanah atau batuan yang bersifat kompak dan kedap air, jika terjadi
hujan air hanya terakumulasi pada lapisan tanah karena sulit menembus
lapisan kedap air tersebut. Lapisan tanah bagian atas akan bergerak menuruni
lereng ( bidang gelincir ) karena melampaui kemampuan tanah untuk tetap
bertahan stabil pada lereng. Semakin tinggi kemiringan lereng suatu daerah
maka semakin tinggi tingkat bahaya longsor yang akan terjadi didaerah
tersebut. Foth, 1978 dalam Banuwa ( 2013 ) menyatakan bahwa panjang
lereng dan bentuk lereng juga sangat berpengaruh terhadap longsor. Panjang
pendeknya suatu lereng akan mempengaruhi luasan daerah yang akan terjadi
longsor dan bentuk lereng akan mempengaruhi kecepatan lonsor banyaknya
material yang dibawa oleh longsor itu sendiri. Berdasarkan keadaan topografi
daerah penelitian yang bervariasi akan menyebabkan lokasi penelitian mudah
d.Tanah
Tanah daerah penelitian terdiri atas 1 jenis yaitu tanah kambisol. Keadaan
tanah daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel V.6 sampai Tabel V.9.
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat keadaan tanah bervariasi. Struktur
tanah terdiri atas remah dan gumpal, konsistensi sangat gembur dan
lepas-lepas sedangkan tekstur tanah kasar, sedang, dan halus.
Tanah sangat berpengaruh terhadap longsor karena komposisi tanah akan
mempengaruhi daya serap air dan kepekaan terhadap longsor. Tanah
berpengaruh terhadap longsor, dimana sifat-sifat tanah tersebut adalah tekstur
tanah, kedalaman/solum tanah, dan konsistensi tanah. Tekstur tanah
merupakan perbandingan persentase pasir, debu, dan lempung. Banyak
sedikitnya ukuran butir ketiga fraksi tersebut akan mempengaruhi respon
terhadap masukan air. Tanah bertekstur pasir karena kekuatan agregatnya
kurang kuat, maka akan mudah lepas apabila kelembaban bertambah. Tanah
yang bertekstur lempung mampu menyimpan air dalam waktu yang lama,
sehingga menyebabkan berat volume massa tanah bertambah. Pada tanah
yang mempunyai solum tebal mampu menerima dan menyimpan air lebih
besar daripada tanah dengan solum tipis, yang berarti akan berpengaruh pada
berat massa agregat tanah ( Suryono, 2000 ). Keadaan tanah di daerah
penelitian ini termasuk berpotensi terhadap bahaya longsor karena melihat
dari semua variabel-variabel tanah yang ada di daerah penelitian, selain itu
tanah daerah tersebut merupakan tanah yang berasal dari tanah endapan
e. Hidrologi
Kedalaman muka air tanah lokasi penelitian berdasarkan tabel V.10
didominasi oleh muka air tanah yang dalam dan tersebar pada 7 sampel yang
berbeda, sedangkan satu sampel lainnya memiliki muka air tanah yang agak
dangkal. Rodrigues et al. dan Mello et al. ( 2003 ) dalam Hermon ( 2012 ) menjelaskan bahwa proses terjadinya longsor diawali dengan air meresap ke
dalam tanah sehingga menambah bobot tanah tersebut, jika air menembus
sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir maka tanah
menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng
atau keluar lereng. Semakin dalam muka air tanah di daerah tersebut maka
semakin tinggi pula potensi longsor yang akan terjadi karena keadaan air
dapat menembus lapisan tanah kedap air yang dapat mengakibatkan
terjadinya longsor. Kondisi hidrologis yang juga berpengaruh tehadap
longsor adalah keterdapatan mata air/jalur rembesan. Air dalam penghantar
umumnya bergerak perlahan-lahan menuju ke permukaan air bebas yang
terdekat seperti danau, sungai, dan laut tetapi jika ada satu lapisan kedap air
yang membatasi sebuah penghantar dan lapisan itu tersingkap di permukaan
maka air tanah dapat muncul di permukaan pada jalur rembesan atau sebagai
mata air, CEGM ( 1979 ) dalam Sugiharyanto ( 2009 ). Jalur rembesan ( seepage ) yang terdapat pada tebing sepanjang jalan di lereng barat Panorama Puncak Pato yang dapat memicu terjadinya longsor secara tiba-tiba seperti
Gambar V.11 Jalur Rembesan Air Tanah
Sumber; Pengamatan Lapangan, 2014.
f. Penggunaan lahan
Penggunaan lahan daerah penelitian sangat berpengaruh terhadap tingkat
bahaya longsor di daerah penelitian. Penggunaan lahan yang didominasi oleh
kebun campuran, tingkat bahayanya lebih tinggi dari pada penggunaan lahan
lainnya karena berada didekat permukiman warga dan jalan raya yang dapat
menimbulkan korban serta rusaknya infrastruktur seperti jalan dan
permukiman tersebut apabila terjadi longsor. Penggunaan lahan berpengaruh
terhadap longsor, hampir semua longsor terjadi dipengaruhi oleh aktivitas
manusia yaitu dengan mengubah bentuk lereng yang menyebabkan air mudah
masuk ke dalam tanah atau mengubah tata guna tanah yang mempengaruhi
keseimbangan lereng ( Suryono, 2000 ).
Hairiah et al. ( 2007 ) mengemukakan bahwa tingginya frekuensi longsor disebabkan oleh terjadinya alih fungsi lahan, baik dari kawasan lindung
menyerupai kawasan lindung menjadi kawasan budidaya yang tidak
menunjang fungsi konservasi lingkungan hidup. Penggunaan lahan lokasi
penelitian merupakan kawasan budidaya sesuai dengan peta RTRW kab.
Tanah Datar tahun 2011-2031 namun pengelohannya dilakukan masyarakat
setempat tidak memperhatikan teknik konservasi tanah. Menurut Choirudin
et al. 2007 dalam Hermon ( 2012 ) mengatakan bahwa hampir semua longsor terjadi akibat aktifitas manusia dalam pengelolaan lahan pada daerah yang
berlereng curam, sehingga keseimbangan lahan akan terganggu dan rentan
terhadap longsor.
2. Tingkat Bahaya Longsor
Berdasarkan total pengharkatan seluruh variabel penelitian, maka dapat
dibedakan menjadi 3 tingkatan yaitu tingkat bahaya longsor rendah terjadi
pada satuan lahan dengan kode V6.II.Kamb.Qamg.Kc,
V6.II.Kamb.Qamg.Pem, V7.I.Kamb.Qamg.Kc, V7.I.Kamb.Qamg.Pem dan
tingkat bahaya longsor sedang terjadi pada satuan lahan dengan kode
V4.IV.Kamb.Qamg.Kc, V4.IV.Kamb.Qamg.Blkr, V5.III.Kamb.Qamg.Kc,
V5.III.Kamb.Qamg.Blkr. Satuan lahan yang memiliki tingkat bahaya longsor
tinggi terjadi pada satuan lahan dengan kode V4.IV.Kamb.Qamg.Ht. Tingkat
bahaya longsor tinggi ini terdapat pada lereng barat Panorama Puncak Pato
dengan penggunaan lahan hutan yang berada di pinggir jalan. Tabel V.12
menunjukkan bahwa semakin besar harkat struktur lapisan batuan,
tanah, tebal solum tanah, konsistensi, kedalaman muka airtanah, penggunaan
lahan dan curah hujan maka akan semakin tinggi pula tingkat bahaya longsor
di daerah penelitian. Mardianto ( 2001 ) serta Hermon dan Triyatno ( 2005 )
dalam Hermon ( 2013 ) melakukan penelitian dengan mengembangkan
metode Zuidam dan Concelado ( 1979 ), memberikan informasi bahwa pada
tingkat bahaya longsor rendah memiliki tanah ynag stabil dan tidak pernah
atau jarang terjadi longsor kecuali pada tebing jalan dan sungai. Tingkat
bahaya longsor sedang peluang terjadinya longsor 1 kali dalam 5 tahun pada
lahan dengan kemiringan > 15% sedangkan tingkat bahaya longsor tinggi
BAB VI