2.3. Karakteistik Pengemudi, Kendaraan, Lalu lintas, dan Jalan.
2.3.3. Karakteristik Lalu lintas
Dengan dilaksanakannya survei dan pengukuran arus lalu lintas dan pengukuran lalu lintas, kita harus memperhatikan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kondisi bagi pemakai jalan, seperti telah diketahui tugas para perlalulintasan adalah meningkatkan arus lalu lintas dalam keadaan paling nyaman , aman, dan murah, maka untuk itu kita harus mengenal konsep kapasitas.
Kapasitas
Kapasitas lalu lintas adalah jumlah lalu lintas atau kendaraan yang dapat melewati suatu penampang, dalam waktu, kondisi jalan dan lalu lintas tertentu. Faktor utama yang mempengaruhi kapasitas lalu lintas adalah:
1. Faktor Lalu lintas yang meliputi sifat-sifat lalu lintas antara lain:
Persentase kendaraan Bus dan Truk
Pembagian jalur lalu lintas
Variasi dalam arus lalu lintas 2. Faktor fisik jalan, meliputi antara lain
Lebar perkerasan jalan
Lebar bahu jalan
Kebebasan samping
Tikungan dan kelandaian jalan
Kondisi permukaan perkerasan jalan
Analisis data lalulintas biasanya dilakukan untuk menentukan kapasitas jalan, akan tetapi harus dilakukan bersamaan dengan perencanaan geometrik lainnya, karena saling terkait satu sama lainnya. Unsur lalu lintas adalah benda atau pejalan kaki, sedangkan unsur lalu lintas diatas roda disebut dengan kendaraan. Gaya Sentrifugal.
Apabila suatu kendaraan bergerak dengan kecepatan tetap V pada suatu bidang datar atau miring dengan lintasan berbentuk suatu lengkung seperti lingkaran, maka pda kendaraan tersebut akan bekerja gaya kecepatan katakan V dan gaya sentifugal atau F. Gaya sentrifugal akan mendorong kendaraan secara radial keluar dari lajur jalannya, ke arah tegak lurus terhadap gaya kecepatan V. Gaya ini menimbulkan rasa yang tidak nyaman pada pengemudi.
Gaya sentrifugal (F) yang terjadi: F= m.a Dimana: m= massa = W/g
W= berat kendaraan g= gaya gravitasi bumi
a= Percepatan sentifugal (=V2/R)
V= kecepatan kendaraan R= jari-jari lengkung lintasan
Dengan demikian besarnya gaya sentrifugal, dapat ditulis sebagai berikut:
F=WVgR 2
...(2.2)
Untuk dapat mempertahankan kendaraan tersebut tetap pada sumbu lajur jalan, maka perlu diadakan suatu gaya yang dapat mengimbangi gaya tersebut, sehingga akan terjadi keseimbangan.
Gaya yang mengimbangi terhadap gaya sentrifugal, dapat berasal dari: 1) Gaya gesekan melintang antara ban kendaraan dengan permukaan jalan.
2) Komponen berat kendaraan akibat kemiringan melintang permukaan jalan, akan menyebabkan rasa tidak nyaman bagi pengemudi yang mengendarai kendaraannya dengan kecepatan rendah.
Gaya Gesekan melintang (Fs) antara ban kendaraan dengan permukaan jalan.
Gaya melintang (Fs) adalah besarnya gesekan yang timbul antara ban dengan permukaan jalan berfungsi untuk mengimbangi gaya sentrifugal. Perbandingan antara gaya gesekan melintang dan gaya normal yang bekerja disebut koefisien gesekan melintang (f).
Besaran koefisien gesekan melintang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis dan kondisi ban, tekanan ban, kekasaran permukaan perkerasan, kecepatan kendaraan dan keadaan cuaca. Koefisien gesekan akan terjadi pada saat ban akan mengalami selip.
Jarak Pandangan ( Sight Distance)
Untuk suatu kendaraan yang aman, diperlukan suatu jarak pandang yang bebas secukupnya. Pada beberapa situasi, jarak pandang aman minimum dapat
dihitung berdasarkan prinsip-prinsip dinamika, dengan menggunakan faktor perkalian atau koefisien untuk menentukan karakteristik pengemudi, kendaraan, jalan atau kombinasi ketiganya. Jadi jarak pandang adalah suatu jarak yang diperlukan oleh seorang pengemudi pada saat mengemudi, sehingga jika pengemudi melihat suatu halangan yang membahayakan, maka pengemudi dapat melakukan suatu tidakan untuk menghindari bahaya tersebut dengan aman.
Jarak pandang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Jarak Pandang Henti (Jh) dan Jarak Pandang Menyiap (Jd)
Jarak Pandang Henti (Jh)
Adalah jarak minimum yang diperlukan oleh setiap pengemudi untuk menghentikan kendaraannya dengan aman, begitu melihat adanya halangan di depan. Setiap titik di sepanjang jalan harus memenuhi Jarak Pandang Henti (Jh). Jarak pandang henti diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah 105cm dan tinggi halangan adalah 15cm diukur dari permukaan jalan. Dalam hal ini diperlukan suatu desain yang memungkinkan agar pengemudi melihat bahaya itu dari jarak yang cukup jauh agar pengemudi dapat menghentikan kendaraannya sebelum menabrak, lebih lanjut tidaklah aman bagi seorang pengemudi untuk pindah ke lajur lain sesudah melihat bahaya di depannya, karena akan mengakibatkan kehilangan kontrol, keluar dari jalan atau kemungkinan terjadi tabrakan dengan kendaraan lain.
1. Jarak tanggap (Jht), adalah jarak yang ditempuh oleh kendaraan sejak pengemudi melihat suatu halangan yang menyebabkan ia harus berhenti sampai saat pengemudi mengijak rem.
2. Jarak pengeremam (Jhr), adalah jarak yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan sejak pengemudi menginjak rem sampai kendaraan berhenti.
Jadi jarak henti (Jh), dalam satuan meter dapat dihitung dengan rumus: Jh= Jht + Jhr Jh= gf V T V R r 2 6 , 3 6 , 3 2 ...(2.3) Dimana: V R = kecepatan rencana T = Waktu tanggap
g = percepatan gravitasi, ditetapkan 9,8 m/ det2
f = koefisien gesek memanjang perkerasan aspal, Bina Marga menetapkan f= 0,35-0,55
Persamaan (2.3) dapat disederhanakan menjadi: i). Untuk jalan datar
Jh = 0,278 V R .T + f VR 254 2 ...(2.4)
ii). Untuk jalan dengan kelandaian tertentu
Jh = = 0,278 V R .T + ) ( 254 2 L f VR ...(2.5)
L= landai jalan (%)
Tabel 2.6. Jarak pandang henti (Jh), minimum
VR (km/jam) 120 100 80 60 50 40 30 20
Jh, minimum(m) 250 175 120 75 55 40 27 16
Sumber: TPGJAK, No.038/T/BM/1997
Jarak pandang mendahului (menyiap)
Pada jalan raya dua-lajur, kesempatan mendahului ( menyiap) kendaraan lain yang berjalan lebih lambat harus terdapat pada interval waktu tertentu, kalau tidak kapasitas jalan tersebut akan berkurang dan pengemudi yang tak sabar dapat mengalami kecelakaan bila menyiap pada keadaan tak aman. Jarak minimum untuk mendahului di depan pengemudi yang memungkinkan dan cukup aman disebut Jarak pandang mendahului (menyiap)
Di dalam memutuskan saat yang tepat untuk menyiap kendaraan lain, pengemudi harus mempertimbangkan jarak bebas yang tersedia terhadap jarak yang diperlukan pada saat mendahului. Beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan ini diantaranya adalah tingkat kewaspadaan pengemudi dan kemampuan percepatan kendaraan. Keputusan untuk menyiap kendaraan lain sangat tergantung pada pertimbangan dan perilaku manusia, dimana sangat berbeda untuk tiap orang.
Jarak pandang mendahului (Jd), dalam satuan meter ditentukan sebagai berikut: Jd = d1 + d2 + d3+ d4 ...(2.6)
Dimana:
d1 = Jarak yang ditempuh selama waktu tanggap (m)
d2 = Jarak yang ditempuh selama mendahului sampai dengan kejalur yang semula (m)
d3 = Jarak antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang datang dari arah berlawanan setelah proses mendahului selesai (m)
d4 = Jarak yang ditempuh oleh kendaraan yang datang dari arah berlawanan, yang besarnya diambil sama dengan 2/3 d2 (m).
Rumus yang dipergunakan adalah:
d1 = 0,278 T1 ( VR - m + 2 T . 1 a )...(2.7a) d2 = 0,278 VR T2...(2.7b) d3 = antara 30 – 100 meter d4 = 2/3 d2
dimana:
T1 = waktu dalam detik, ∞ 2,12 + 0,026 VR
T2 = Waktu kendaraan yang berada di jalur lawan, (detik) ∞ 6,56 + 0,048 VR a = Percepatan rata-rata Km/jam/detik ∞ 2,052 + 0,0036 VR
m = perbedaan kecepatan dari kendaraan yang mendahului dan kendaraan yang didahului ( biasanya diambil 10-15 km)
VR = kecepatan kendaraaan rata-rata dalam keadaan mendahului atau kecepatan rencana (km/jam)
d1 = jarak kebebasan
d4 = jarak yang ditempuh kendaraan yang datang dari arah berlawanan Tabel 2.7. Besaran d3 (m)
Vr (km/jam) 50-65 65-80 80-95 95-110
d3 (m) 30 55 75 90
Tabel 2.8. Panjang jarak pandang mendahului
Vr (km /jam) 120 100 80 60 50 40 30 20
Jd (m) 800 670 550 350 250 200 150 100
Sumber: TPGJAK, No.038/T/BM/1997