BAB II : KAJIAN PUSTAKA
B. Masyarakat Islami
2. Karakteristik masyarakat Islami
Di dalam Islam terdapat 10 karakteristik masyarakat Islami diantaranya sebagai berikut :
1. Masyarakat Islami adalah masyarakat terbuka, berdasarkan pengakuan pada kesatuan umat dan cita-cita persaudaraan sesama manusia.
2. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang terpadu, integratif, dimana agama menjadi perekat yang menyatuhkan.
31
3. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang dinamis dan progresif, karena manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi.
4. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang demokrasi, baik secara spiritual, sosial, ekonomi, maupun demokrasi politik.
5. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang berkeadilan, yang membentuk semua aspek dari keadilan sosial baik dibidang moral, hukum, ekonomi, dan politik yang telah ditetapkan dalam aturan dan kelembagaan yang telah disepakati.
6. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang berwawasan ilmiah, terpelajar, karena sangat menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
7. Masyakat Islami adalah masyarakat yang disiplin, baik dalam ibadah maupun muamalah.
8. Masyarakat Islami menentukan pada kegiatan keumatan yang memiliki tujuan yang jelas dan perencanaan yang sempurna.
9. Masyarakat Islami membentuk persaudaraan yang tangguh, menekankan kasih sayang antara sesama.
10. Masyarakat Islami adalah yang sederhana, yang berkesinambungan. (Nafi Harahap: 2012)
Di dalam masyarakat Islami tentulah terdapat unsur-unsur pribadi Islami dan keluarga Islami. Pribadi Islami adalah pribadi yang bertaqwa dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, yang membuat pribadi tersebut tidak berani untuk menyimpang dari ajaran-ajaran Allah
32
SWT. Sedangkan keluarga Islami adalah keluarga yang anggota-anggotanya bukan hanya status keagamaannya sebagai muslim, tetapi juga menunjukan keIslaman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah (hubungan kepada Allah) maupun dengan sesama anggota keluarga dan tetangga.
Jadi pendidikan dikeluarga adalah pendidikan awal dan utama bagi seorang manusia. Keluarga adalah pemberi pengaruh pertama pada anak manusia. Pengalaman hidup pada masa-masa awal umur manusia akan membentuk ciri khas, baik dalam tubuh maupun pemikiran yang bisa jadi tidak ada yang dapat mengubahnya sesudah masa itu.
8
. BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka dalam penelitian, baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan mempunyai kedudukan yang sangat penting. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kajian pustaka merupakan variabel yang menentukan dalam suatu penelitian. Di samping itu, berfungsi memberikan landasan teoritis tentang mengapa penelitian perlu di lakukan dalam kaitannya dengan kerangka pengetahuan. Selain itu kajian pustaka juga di artikan sebagai daftar referensi dari semua jenis referensi seperti buku, jurnal papers, artikel, disertasi, tesis, skripsi hand outs, laboratory manuals, dan karya ilmiah lainnya yang dikutip didalam penulisan proposal.
A. Muhammadiyah
1. Pengertian Muhammadiyah
Nama Muhammadiyah sudah dikenal sejak seratus tahun yang lalu oleh masyarakat dan Muhammadiyah juga sudah akrab pada masyarakat. Namun, jika ditelusuri sejarah kelahirannya, ternyata pada saat itu, istilah Muhammadiyah dipilih oleh KH Ahmad Dahlan untuk menanamkan gerakannya masih sangat asing dan aneh, sehingga menimbulkan tanda tanya bagi mereka apa yang di maksud dengan Muhammadiyah.
9
.
Sebagaimana Mustafa Kamal Pasha (2002: 112) dalam bukunya Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam mengemukakan arti dari Muhammadiyah yakni:
a. Secara bahasa (etimologis)
Muhammadiyah berasal dari kata bahasa Arab “Muhammad” yaitu nama Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Kemudian mendapatkan “ya‟nisbiyah” yang artinya menjeniskan. Jadi Muhammadiyah berarti umat “Muhammad Saw” atau “pengikut Muhammad Saw”, yaitu semua orang Islam yang mengakui dan menyakini bahwa Nabi Muhammad Saw adalah hamba dan pesuruh Allah yang terakhir. Dengan demikian, siapa pun juga yang mengaku beragama Islam maka sesungguhnya mereka adalah orang Muhammadiyah tanpa harus dilihat dan dibatasi oleh adanya perbedaan organisasi, golongan, bangsa, geografis, etnis dan sebagainya.
b. Secara Istilah (terminologis)
Muhammadiyah ialah gerakan Islam, Dakwah Amar Mkruf Nahi Mungkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-quran dan Sunnah, didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 Miladiyah di kota Yogyakarta. Gerakan ini diberi nama Muhammadiyah oleh pendirinya dengan maksud untuk bertafa‟ul (berpenghargaan baik) dapat mencontoh
10
.
dan meneladani jejak perjuangannya dalam rangka menegakkan dan menjungjung tinggi agama Islam semata-mata demi terwujudnya „Izzul Islam wal Muslimin, kejayaan Islam sebagai realita dan kemuliaan hidup umat Islam sebagai realita.
c. Matan Kepribadian Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah persyarikatan yang merupakan gerakan Islam. Maksud geraknya ialah Da‟wah Islam amar ma‟ruf nahi mungkar yang ditujukan pada dua bidang; perseorangan dan masyarakat. Dakwah dan amar ma‟ruf nahi mungkar pada bidang yang pertama terbagi menjadi dua golongan, kepada yang Islam bersifat pembaharuan (tajdid) dan yang kedua kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam. Kesemuanya itu dilaksanakan bersama dengan bermusyawarah atas dasar taqwa dan mengharap keridhaan Allah semata-mata.
Dengan melaksanakan dakwah dan amar ma‟ruf nahi mungkar dengan caranya masing-masing yang sesuai, Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju tujuannya ialah: terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
d. Anggaran Dasar Muhammadiyah
Dalam anggaran dasar Muhammadiyah ( Thoyar dkk., 2008: 106) “Muhammadiyah diartikan sebagai gerakan Islam, da‟wah Amar
11
.
Ma‟ruf Nahi Mugkar dan tajdid. Bersumber pada Al-Quran dan As Sunnah”.
2. Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 bertepatan pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah di Yogyakarta untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Muhammadiyah didirikan atas dua faktor, yaitu: a. Faktor Subjektif
KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai hasil tadabbur Al-quran yang dilakukan oleh beliau terutama pada firman Allah SWT. QS Al-Imran (3): 104 yang berbunyi :
Terjemahnya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu ada segolongan umat orang yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma‟ruf dan memcegah kepada yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Departemen Agama RI 2009 : 63)
Ayat inilah yang menjadi spirit bagi KH Ahmad Dahlan untuk mendirikan sebuah persyarikatan yang diberi nama Muhammadiyah. Pemberian nama Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan dengan maksud bertafa’ul (berpengharapan baik) dapat mencontoh dan
12
.
menjunjung tinggi Agama Islam semata-mata demi terwujudnya „ izzul Islam Wal Muslimin, kejayaan Islam dan kemuliaan hidup Islam sebagai realita.
Yang di lanjutkan dengan inti kalimat Al-Quran dalam surat An-Nisa (04) : 82, Allah SWT berfirman:
Terjemahnya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.
b. Faktor Objektif
Menurut Sholihin Salam (1965: 56-57), sebab-sebab yang mendorong KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah itu ada dua faktor, yaitu yang bersifat intern dan ekstern.
Adapun yang bersifat intern (dalam) itu meliputi:
1. Merajalelahnya bid‟ah, khurafat, syirik tahayyul, sehingga kehidupan beragama tidak sesuai dengan Nash tuntunan Al-qur‟an dan hadits, akibatnya Islam menjadi beku.
2. Merajalelahnya kemiskinan, kebodohan, kekolotan, kemunduran, Bangsa Indonesia umumnya dan ummat Islam khususnya.
3. Tidak adanya kesatuan dan persatuan ukhuwah ummat Islam serta organisasi Islam yang kuat dan kompak.
13
.
4. Lemahnya dan gagalnya sistem pendidikan pondok pesantren Islam yang kurang mencerminkan perkembangan dan kemajuan, zaman dan adanya kehidupan pendidikan yang mengisolir diri.
Adapun yang bersifat ekstern (luar) itu meliputi:
1. Merajalelahnya Imperialis Kolonialis Belanda di Indonesia yang harus dihadapi.
2. Adanya kegiatan dan kemajuan missi Zending Kristen di Indonesia. 3. Sikap yang merendahkan pada Islam oleh para Intelegensia kaum
terpelajar, bahwa Islam Agama yang out of date tak sesuai dengan kemajuan zaman.
4. Adanya rencana Kristenisasi Pemerintah Kolonial Belanda, untuk kepentingan Politik Kolonialnya.
3. Visi dan Misi Muhammadiyah
Kebijakan program Muhammadiyah bukan semata-mata memuat rencana dan pelaksanaan seperangkat usaha dan kegiatan praktis, bahkan merupakan perwujudan misi utama Muhammadiyah yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Adapun visi dan misi Muhammadiyah adalah sebagai berikut: a. Visi Muhammadiyah
“sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Al-quran dan As-sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqomah dan Muhammadiyah aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar
14
.
ma‟ruf nahi mungkar di semua bidang dalam upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil „alamin menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Musthafa Kamal Pasha (2002: 153)”.
b. Misi Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah amar ma‟ruf nahi mungkar mempunyai misi yang mulia dalam kehidupan ini yaitu : 1. Menegakkan keyakinan Tauhid yang Murni sesuai dengan ajaran
Allah SWT yang dibawa oleh para Nabi / Rasul sejak Nabi Adam a.s. hingga Muhammad Saw.
2. Memahami ajaran Islam dengan menggunakan akal pikiran sesuai jiwa ajaran Islam.
3. Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada Al-quran sebagai Kitab Allah terakhir dan Sunnah Rasul untuk pedoman hidup umat manusia.
4. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Musthafa Kamal Pasha (2002: 153-154).
4. Maksud dan Tujuan Muhammadiyah
Sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan maksud dan tujuan Muhammadiyah tidak secara tersurat mencamtumkan tujuan terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, namun tujuan hakiki Muhammadiyah tersebut tidak berbeda jauh dari substansi tujuan Muhammadiyah saat ini.
Perbedaan corak zaman yang di lalui Muhammadiyah cukup mewarnai perubahan redaksional dalam hal formulasi maksud dan tujuan pada Muhammadiyah. Pada awal didirikannya Muhammadiyah tujuan pada pembentukan format masyarakat Islam belum ditunjukkan secara
15
.
jelas, tetapi lebih pada proses penyebarluasan dan memajukan kehidupan yang sejalan dengan ajaran Islam.
Sejak Muhammadiyah mengajukan pengesahan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1912 sampai dengan tahun 1986, terdapat 6 rumusan tujuan muhammadiyah dan telah mengalami perubahan sebanyak 5 kali. Dua kali pada masa penjajahan Jepang dan tiga kali pada masa kemerdekaan.
Rumusan “Maksud dan Tujuan Muhammadiyah” mengalami perubahan dari keadaan kepada keadaan lainnya sesuai dengan perkembangan masa. Semula pada tahun 1914 ketika Muhammadiyah berdiri, tujuan organisasi Muhammadiyah dirumuskan dalam statunennya sebagai berikut :
a. Menyebarluaskan pengajaran Agama kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada penduduk bumi putera didalam residensi Yogyakarta, dan
b. Memajukan hal Agama kepada anggota-anggotanya.
Tujuh tahun kemudian (1921) tujuan itu diubah menjadi :
a. Menajukan dan mengembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland
b. Memajukan dan menggembirakan cara kehidupan sepanjang kemajuan agama Islam kepada Lid-Lidnya ( segala sekutunya)
Setelah cukup lama tujuan ini bertahan selama lebih dari 20 tahun, maka pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 atas desakan Jepang tujuan Muhammadiyah diubah dengan tambahan Mukaddimah menjadi :
16
.
“Sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama seluruh Asia Timur raya di baewah pimpinan dai Nippon, dan memang diperintahkan oleh Tuhan Allah, maka perkumpulan ini :
a. Hendak menyiarkan agama Islam, serta melatihkan hidup yang selaras dengan tuntunan-Nya.
b. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum,
c. Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.
Kesemuanya itu ditujukan untuk berjasa mendidik masyarakat ramai”.
Adapun maksud dan tujuan Muhammadiyah yang tercantum dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 3 adalah :
“Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.”
Pada tahun 1959 dalam Muktamar ke 34, maksud dan tujuan Muhammadiyah diubah kembali untuk keempat kalinya. Perubahan keempat ini sesungguhnya hanya merupakan perubahan dua buah kata rumusan tahun 1950; “ dapat mewujudkan” menjadi sebuah kata “ terwujud”. Walaupun perubahan kata tersebut sebagian kecil saja dari rumusan tujuan sebelumnya, akan tetapi merupakan cerminan dari sebuah pemikiran yang mendalam yang berkaitan dengan eksistensi manusia dalam tata hubungan kemahakuasaan Allah SWT.
Dengan pemikiran dan pertimbangan sebagaimana tersebut, maka maksud dan tujuan Muhammadiyah diubah menjadi sebagai berikut: “ Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.
17
.
Pasal 3 maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah merupakan definisi operasional dari asa pancasila yang di jelaskan dan dipahami sebagai ketuhanan yang Maha Esa yang berinti Tauhid; simpul dari keImanan terhadap Allah Swt.
Maka maksud dan tujuan Muhammadiyah hasil keputusan Muktamar ke 41 adalah sebagai berikut :
“ Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta‟ala”.
Maksud dan tujuan Muhammadiyah sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Anggaran Dasar pada BAB III pasal 6 yang menyatakan bahwa :
“Maksud dan tujuan persyarikatan ini ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. (Anggaran Dasar Muhammadiyah, 2005 : 9).
Rumusan maksud dan tujuan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Menegakkan, berarti membuat dan mengupayakan agar Islam tetap kokoh dan tidak roboh, Islam tidak akan roboh ketika senantiasa ditegakkan di atas pondasi yang kokoh dan di pertahankan, dibela dan diperjuangkan dengan cara menjadikan Al-quran dan Hadits yang shahih sebagai pedoman hidup.
18
.
b. Menjunjung tinggi, berarti membawa dan menjunjung di atas segala-galanya, mengindahkan dan menghormatinya.
c. Agama Islam, yaitu agama yang paling benar dan satu-satunya agama yang di ridhai Allah Swt.
d. Terwujud, berarti satu kenyataan karena ada proses yang dilakukan.
e. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang mempunyai karakteristik: menjunjung tinggi nilai kehormatan manusia, memupuk rasa persatuan dan kekeluargaan manusia, mewujudkan kerjasama menuju terciptanya masyarakat sejahtera lahir dan batin, memupuk jiwa toleransi, menghormati kebebasan orang lain, menegakkan budi baik, menegakkan keadilan, menanamkan kasih sayang dan mencegah kerusakan di muka bumi.
f. Sebenar-benarnya adalah untuk menunjukkan derajat kualitas yang lebih ideal.
Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar yang dapat dipahami bahwa hidup manusia harus berdasarkan tauhid, beribadah serta taat kepada Allah SWT, hidup manusia harus bermasyarakat karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain,
19
.
mematuhi ajaran-ajaran Agama Islam dengan keyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban sebagai ibadah kepada Allah SWT dan ikhlas kepada umat manusia, ittiba (taat) kepada langkah dan perjuangan Nabi Muhammad saw, dan senantiasa melancarkan amal usaha dan perjuangan dengan tetap memperhatikan koridor yang ditetapkan dalam organisasi.
Dari penjelasan tersebut menggambarkan bahwa maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah membangun, memelihara, dan memegang teguh agama Islam dengan ketaatan melebihi ajaran dan paham-paham lainnya untuk mendapatkan suatu kehidupan dalam diri, keluarga, dan masyarakat yang adil, makmur, bahagia dan sejahtera karena mendapat ridho Allah Swt.
5. Amal Usaha Muhammadiyah
Dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah yang luas dan besar itu, maka luas dan besar pula amal usaha Muhammadiyah. Sudah tentu pada mula-mula usahanya belum sebesar yang ada sekarang ini, lebih-lebih pada saat itu banyak pula rintangan dan halangan yang di hadapi.
Sudah menjadi ciri dalam Muhamamdiyah adanya semboyan “sedikit bicara banyak bekerja”, tidak saja sekedar semboyan di di bibir,
20
.
tetapi sungguh-sungguh dibuktikan dengan amaliyah. Oleh karena itu tidak mengherankan, bila Muhammadiyah yang hanya memiliki jumlah anggota yang tidak begitu banyak, tetapi cukup banyak dan luas amal usaha dan hasil-hasilnya. Hal ini dapat dibuktikan, sebagai berikut:
1. Bidang Keagamaan
Pada bidang inilah sesungguhnya pusat seluruh kegiatan Muhammadiyah, dasar dan setiap amal usaha Muhammadiyah. Dan apa yang dilaksanakan dalam bidang –bidang lainnya tak lain dari dorongan keagamaan semata-mata.
a. Terbentuknya Majelis Tarjih (1927)
b. Memberikan tuntunan dan pedoman dalam bidang ubudiyah sesuai dengan contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW.
c. Memberikan pedoman dalam penentuan ibadah puasa dan hari raya dengan jalan perhitungan “Hisab” atau “astronomi” sesuai dengan jalan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Dll 2. Bidang Pendidikan
Salah satu sebab didirikannya Muhammadiyah ialah karena lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia sudah tidak memenuhi lagi kebutuhan dan tuntutan zaman. Tidak saja isi dan metode pengajaran yang tidak sesuai, bahkan system pendidikannya pun harus diadakan prombakan yang mendasar.
21
.
Maka didirikannya sekolah yang tidak lagi memisah-misahkan antara pelajar yang dianggap agama dan pelajaran yang digolongkan ilmu umum, pada hakekatnya merupakan usaha yang sangat penting dan besar. Karena dengan system tersebut bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa yang utuh kepribadiannya, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum atau berilmu agama saja. 3. Bidang kemasyarakatan
Muhammadiyah adalah suatu gerakan Islam yang mempunyai tugas dakwah Islam dan amar makruf nahi mungkardalam bidang kemasyarakatan. Sudah dengan sendirinya banyak usaha-usaha di tempatkan dalam bidang kemasyarakatan, seperti:
a. Mendirikan rumah-rumah sakit modern,
b. Mendirikan panti-panti asuhan anak yatim baik putra maupun putri, untuk menyantuni mereka.
c. Mendirikan perusahaan percetakan, penerbitan dan took buku, yang banyak mempublikasikan majalah-majalah, brosur dan buku-buku yang sangat membantu penyebar-luasan paham-paham keagamaan, ilmu dan kebudayaan Islam. Dll
4. Bidang Politik Kenegaraan
Tak dapat disebutkan satu per satu seluruh perjuangan Muhammadiyah yang dapat digolongkan kedalam bidang politik kenegaraan, hanya beberapa di antaranya:
22
.
a. Pemerintah kolonial Belanda selalu berusaha agar perkembangan agama Islam bisa dikendalikan denga bermacam-macam cara, di antaranya menetapkan agar semua binatang ynang dijadikan “qurban” harus dibayar pajaknya. Hal ini ditentang oleh Muhammadiyah, dan akhirnya berhasil dibebaskan.
b. Pengadilan agama di zaman colonial berada dalam kekuasaan penjajah yang tentu saja beragama Kristen. Agar urusan Agama di Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, juga dipegang oleh orang Islam, Muhammadiyah berjuang kearah cita-cita itu.
c. Ikut mempelopori berdirinya Partai Islam Indonesia. Dll
B. Masyarakat Islami
1. Pengertian Masyarakat Islami
Masyarakat adalah sekolompok manusia yang saling terkait oleh sistem-sistem, adat istiadat, serta hukum-hukum khas, dan yang hidup bersama. Kehidupan bersama ialah kehidupan yang didalamnya kelompok-kelompok manusia hidup bersama-sama berbagi iklim serta makanan yang sama.
Menurut etimologi, Islam berasal dari bahasa Arab, diambil dari asal kata salima yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu di bentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa,
23
.
dan berarti juga dalam menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Kata aslama itulah menjadi pokok kata Islam, mengandung segala arti yang tekandung dalam arti pokoknya, sebab itu orang yang melakukan aslama atau masuk Islam di namakan muslim. Berarti orang itu telah menyatakan dirinya telah taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah Swt. dengan melakukan aslama, selanjutnya orang itu terjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah (2): 112:
Terjemahnya:“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Departemen Agama RI 2009 : 17)
Sesungguhnya Islam itu adalah agama sepanjang sejarah manusia. Agama dari seluruh Nabi dan Rasul yang pernah diutus oleh Allah Swt pada bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok manusia. Islam itulah agama Adam a.s., Nabi Ibrahim, Nabi ya‟kub, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan Nabi Isa a.s. sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Baqarah (2) : 132:
24 . Terjemahnya:
Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Departemen Agama RI 2009 : 20)
Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul sebagai hidayah dan rahmat Allah bagi umat manusia sepanjang masa, yang menjamin kesejahteraan hidup material dari spiritual, duniawi dan ukhrawi. Agama Islam, yakni agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi akhir zaman, ialah ajaran yang diturunkan Allah yang tercantum dalam Al-qur‟an dan Sunnah Nabi yang shahih (maqbul) berupa perintah-perintah, larangan-larangan, dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Ajaran Islam bersifat menyeluruh yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisah-pisahkan yang meliputi bidang-bidang akidah, akhlak, ibadah dan muamalah duniawiyah.
Adapun Islam dalam kurun sebelum risalah Muhammad Saw sifatnya lokal atau nasional. Ia hanya untuk kepentingan bangsa dan daerah tertentu, dan terbatas pula periodenya. Para Rasul yang mengajarkan Islam itu laksana mata-mata rantai yang sambung-bersambung, tapi mereka dalam satu kesatuan tugas yaitu tugas
25
.
Ketuhanan (risalah Ilahiyah) membawa pengajaran dan peringatan kepada manusia.
Di samping itu dilengkap dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan dari Tuhan berdasar atas hajat dan kebutuhan bangsa dan daerah itu. Akhirnya, ketika Islam datang ke pangkuan risalah Muhammad Saw. Ia menjadi agama universal agama untuk seluruh manusia. Sebab itu risalah Muhammad Saw. Mengumandangkan