Bab 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Pembahasan
2.1 Karakteristik Orangtua
Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa mayoritas usia ibu dalam rentang 21-35 tahun (81,9% atau sebanyak 36 orang dari 44 responden), dengan pemberian ASI Eksklusif kepada bayinya sebanyak 77,3%, sedangkan MP-ASI 86,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh usia orang tua terhadap pertumbuhan berat badan bayi. Hal ini dapat dilihat dari lampiran 1 yang menunjukkan bahwa seluruh bayi memiliki berat badan yang baik tiap bulannya walaupun 18,1% orangtua berada pada usia yang kurang produktif. Hal ini bertentangan dengan penelitian Sihombing (2005) tentang Pola Pengasuhan dan Status Gizi Balita di Kecamatan Medan Sunggal yang menunjukkan bahwa semakin tua usia ibu menyebabkan semakin banyak pengalaman dan informasi mengenai kesehatan dan gizi keluarga.
Hal ini disebabkan oleh adanya pihak lain yang membantu orang tua dalam usia yang tidak produktif dalam merawat bayinya. Misalnya orangtua yang masih terlalu muda biasanya menyerahkan masalah perawatan bayinya kepada orangtuanya atau dibantu oleh orangtuanya dalam merawat bayinya.
Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator sosial dalam masyarakat karena melalui pendidikan sikap tingkah laku manusia dapat meningkat dan berubah citra sosialnya. Pendidikan ibu merupakan modal utama dalam menunjang ekonomi keluarga, juga berperan dalam penyusunan makanan keluarga serta pengasuhan dan perawatan anak.
Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa hanya 2,3% orangtua yang berpendidikan rendah (kurang dari 9 tahun belajar). Artinya bahwa 97,7% orangtua mendapatkan pendidikan sesuai yang dianjurkan pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun. Setelah peneliti melakukan cross check, orangtua yang berpendidikan tinggi 100% mampu mencari dan mengelola informasi makanan yang terbaik untuk pertumbuhan bayinya baik ASI Eksklusif maupun MP-ASI.
Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan orang tua terhadap pertumbuhan berat badan bayi. Hal ini dapat dilihat dalam lampiran 1 menunjukkan seluruh bayi memiliki pertumbuhan berat badan yang normal setiap bulannya dengan pendidikan orang tua yang cukup (97,7% berpendidikan minimal SMP yaitu 36,35 tamat SMP, 59,1% tamat SMA, dan 2,3% tamat dari perguruan tinggi). Hal ini sesuai dengan pendapat Steven (2005) bahwa ibu yang memiliki pendidikan yang tinggi akan semakin mudah dalam menyerap dan memahami apabila mendapat informasi mengenai masalah pertumbuhan bayi.
Pekerjaan ibu berkaitan dengan berapa banyak waktu yang dihabiskan ibu bersama-sama dengan bayinya. Semakin banyaknya aktivitas atau pekerjaan orang tua diluar rumah tentunya akan mengurangi waktu bersama antara ibu dan anak. Hal ini tentunya akan meningkatkan keterlantaran bayi karena kurang perhatian ibunya akibatnya pertumbuhan bayi khususnya berat badan bayi akan terhambat karena ibu tidak lagi memperhatikan asupan makanan bayinya.
Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa ibu yang memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya 100% sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ibu yang memberikan MP-ASI sebanyak 86,4%. Hal ini menunjukkan bahwa ibu menghabiskan waktu
yang lebih banyak dengan bayinya untuk memperhatikan bayinya sehingga mengakibatkan pertumbuhan bayi yang baik.
Lampiran 1 menunjukkan bahwa seluruh bayi memiliki pertumbuhan yang baik (normal) tiap bulannya. Apabila dibandingkan antara pekerjaan ibu dengan pertumbuhan bayi maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan ibu mempengaruhi pertumbuhan berat badan bayi. Hal ini sesuai dengan penelitian Sinambela (2005) yang meneliti Pola Pengasuhan dan Pertumbuhan Anak Balita di Kecamatan Medan Belawan, memperlihatkan bahwa anak dengan pertumbuhan baik lebih banyak ditemukan pada ibu yang tidak bekerja (43,24%) dibandingkan dengan ibu yang bekerja (40,54%). Karena wanita yang telah memasuki lapangan kerja, dengan sendirinya mengurangi waktunya untuk mengurus rumah, anak bahkan suaminya.
Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa mayoritas orangtua berada pada kelas ekonomi menengah ke bawah, 100% memberikan bayinya ASI Eksklusif dan 100% memberikan MP-ASI. Artinya bahwa seluruh orang tua, walaupun orang tua yang tergolong dalam status ekonomi menengah ke bawah namun pertumbuhan berat badan bayinya seluruhnya normal atau baik tiap bulannya tanpa pernah mengalami berat badan di bawah normal yang ditunjukkan dalam lampiran 1. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh penghasilan orang tua terhadap pertumbuhan berat badan bayi.
Hal ini sejalan dengan penelitian Yusnidaryani (2009) yang mengatakan bahwa status gizi bayi yang tidak miskin tidak lebih baik daripada status gizi bayi yang miskin. Artinya bahwa kondisi ekonomi tidak begitu mempengaruhi
pertumbuhan status gizi bayi. Hal ini dikarenakan walaupun makanan yang diberikan pada bayi adalah makanan seadanya dan terbatas masalah ekonominya, namun besarnya perhatian ibu dilihat dari bagaimana ibu mampu memperhatikan kecukupan gizi bayi dengan memperhatikan kesehatan dan kebersihan serta turut serta dalam kegiatan posyandu sangat membantu pertumbuhan berat badan bayi.
Paritas atau jumlah kelahiran bayi sangat berkaitan dengan jarak kelahiran. Semakin tinggi paritasnya, maka semakin pendek jarak kelahirannya. Hal ini dapat menyebabkan seorang ibu cukup waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan. Seorang ibu memerlukan waktu paling sedikit 2 tahun untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah hamil dan melahirkan (Unicef, 2002).
Paritas dikatakan tinggi bila seorang wanita melahirkan anak ke-4 atau lebih. Anak dengan urutan paritas yang lebih tinggi seperti anak kelima, keenam dan seterusnya ternyata kemungkinan untuk menderita gangguan gizi lebih besar dibandingkan dengan anak 1, 2, 3. Bahaya yang mungkin beresiko terhadap seorang anak timbul apabila terjadi kelahiran lagi, sedangkan anak sebelumnya masih minum ASI, sehingga perhatian ibu beralih pada anak yang baru lahir, terhentinya pemberian ASI merupakan faktor pendorong terjadinya gizi buruk. (Sjahmien, 1992)
Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa 95,45% Ibu memiliki paritas rendah dan sebanyak 4,55% ibu memiliki paritas tinggi. Apabila dibandingkan dengan pertumbuhan berat badan bayi yang ditunjukkan oleh lampiran 1 bahwa seluruh bayi memiliki pertumbuhan berat badan yang baik (normal) tiap bulannya, maka
dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh paritas orang tua terhadap pertumbuhan berat badan bayi.
Hal ini sejalan dengan penelitian Himawan (2006) yang mengatakan bahwa paritas orangtua mempengaruhi status gizi bayi. Semakin tinggi paritas maka akan megakibatkan perhatian orangtua terhadap bayi semakin berkurang dan hal ini dapat menghambat pertumbuhan berat badan bayi.