• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teoritik

8. Karakteristik Pemasaran Syariah

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS

Al-Baqarah : 148)55

8. Karakteristik Pemasaran Syariah

Menurut Kertajaya dan Sula terdapat empat karakter pemasaran yang menjadi panduan bagi pemasar yaitu:56

a. Teistis (Rabbaniyah/Religius)

54 Ibid. 55

Al-Qur‟an Digital, Al-Qur‟an in Word Indonesia Versi 1.3,QS. Al-Baqoroh: 148

56

Huda, Hudori, Fahlevi, Badrussa’diyah, Mazaya, dan Sugiarti, op. cit., h. 52-55

Merupakan salah satu ciri khas marketing syariah yang tidak dimiliki dalam pemasaran konvensional yang dikenal selama ini adalah sifatnya yang religius (dinniyah). Kondisi ini tercipta dari kesadaran akan nilai-nilai religius yang dipandang penting sehingga senantiasa mewarnai segala aktivitas dalam pemasaran. Ketuhanan (Rabbaniyah/religius), ini adalah yang paling adil, paling sempurna, paling artinya seorang syariah marketer meyakini bahwa Allah SWT selalu dekat dan mengawasinya ketika dia sedang melaksanakan segala macam bentuk bisnis, juga yakin bahwa Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban darinya atas pelaksanaan syariat itu di hari kiamat.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nuur: 37

ِح ََٰٕك َّضنٱ ِءٓبَزِٚئ َٔ ِح ََٰٕهَّصنٱ ِوبَلِئ َٔ ِ َّللَّٱ ِش ۡكِر ٍَػ ٌغَۡٛث َلَ َٔ ٞح َش ََٰجِر ۡىِِٓٛٓۡهُر َّلَ ٞلبَج ِس

ُش ََٰصۡثَ ۡلۡٱ َٔ ُةُٕهُمۡنٱ ِِّٛف ُتَّهَمَزَر ب ٗي َٕۡٚ ٌَُٕفبَخَٚ

.

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan

penglihatan menjadi goncang. (QS. An-Nuur : 37)57

Hal ini dapat membentuk sifat para pemasar menjadi yang paling adil, paling sempurna, paling selaras dengan segala kebaikan, paling mencegah dalam kerusakan, paling mampu mewujudkan kebenaran, memusnahkan kebatilan, dan menyebarluaskan kemaslahatan. Selain itu, pemasaran syariah haruslah memiliki nilai (value) yang lebih tinggi dan lebih baik, karena bisnis syariah adalah bisnis kepercayaan, bisnis berkeadilan dan bisnis yang tidak mengandung tipu muslihat di dalamnya. Maka dalam pemasaran syariah seseorang harus senantiasa menjauhi hal-hal yang dilarang dalam syariah Islam, terutama hal-hal yang termasuk maysir, gharar, dan riba. Untuk itu, suatu pekerjaan atau bisnis pasti didasari oleh niat dan tujuan yang ingin dicapai. Ketika perusahaan melakukan kegiatan pemasarannya, niat yang ada adalah mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Namun, dalam prinsip marketing

57

syariah, kegiatan tersebut harus dilandasi oleh semangat Ibadah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, berusaha semaksimal mungkin dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama, bukan untuk kepentingan golongan apalagi untuk kepentingan diri sendiri.58 b. Etis (Akhlaqiyyah)

Karakteristik selanjutnya dari pemasaran syariah adalah sifatnya yang sangat mengedepankan akhlak (moral dan etika) dalam seluruh aspek kegiatan pemasaran dan menjadi pedoman dalam bisnis. Oleh karena itu dalam pemasaran syariah, tidak dibenarkan untuk menghalalkan segala cara demi mendapat keuntungan finansial sebesar mungkin.

Nilai-nilai moral dan etika adalah nilai yang bersifat universal, yang diajarkan oleh semua agama di dunia. Karena itu, sudah sepatutnya akhlak dapat menjadi panduan bagi seorang syariah marketer untuk selalu memelihara nilai-nilai moral dan etika dalam setiap tutur kata, perilaku, dan keputusan-keputusannya. c. Realistis (al-Waqi‟iyyah)

Syariah marketing bukanlah konsep yang eksklusif, fanatic, anti modernitas dan kaku. Akan tetapi, syariah marketing adalah konsep yang fleksibel, sebagaimana keluasan dan keluwesan syariah Islam yang melandasinya. Fleksibel berarti tidak kaku dan eksklusif dalam bersikap, berpenampilan, dan bergaul. Namun tetap harus bekerja dengan profesional serta mengedepankan nilai-nilai religius, kesalehan, aspek moral, dan kejujuran dalam segala aktivitas. Fleksibel atau kelonggaran (al‟afw) sengaja diberikan oleh Allah SWT agar penerapan syariah senantiasa realistis dan dapat mengikuti perkembangan zaman.

d. Humanistis (Al-Insaniyyah)

Salah satu keistimewaan dari pemasaran syariah adalah sifatnya yang humanistis universal. Pengertian Humanistis adalah bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kemewahannya dapat terkekang dengan panduan syariah. Syariat Islam adalah syariah yang bersifat Humanistis (Insaniyyah), yang diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa

58

membedakan ras, warna kulit, kebangsaan maupun status. Dengan memiliki nilai-nilai Humanistis, manusia dapat terkontrol dan seimbang.

Bukan menjadi manusia yang serakah, yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan sebesar mungkin, bukan pula menjadi manusia yang bahagia di atas penderitaan orang lain.

Hermawan Kartajaya dan M. Syakir Sula pun menjelaskan bahwa syariah marketing mempunyai 3 paradigma yaitu:59

1) Syariah Marketing Strategy untuk memenangkan Mind Share.

Syariah Marketing Strategy ini yang pertama kali harus dilakukan

dalam mengeksplorasi pasar yang kerap berubah adalah melakukan segmentasi sebagai mapping strategy. Dalam menentukan

segmentasi, sudah seharusnya kita mempunyai suatu definisi pasar yang jelas. Ini berarti pengetahuan mengenai pelanggan dan pesaing memegang peranan penting dalam menentukan segmen mana yang akan dipilih. Setelah mengetahui segmen yang akan dimasuki, lalu memilih target market mana yang akan dijadikan prioritas utama untuk produk atau servis kita berdasarkan kompetensi yang kita miliki dan peluang yang dapat diraih. Pemilihan ini disebut sebagai

fitting strategy. Setelah menentukan posisi dipasar, positioning

sangat penting bagi produk dan perusahaan. Dengan adanya

positioning yang kuat, awareness terhadap produk atau servis kita

akan semakin kuat dan melekat.

2) Syariah Marketing Tactic untuk memenangkan Market Share Setelah mempunyai positioning yang jelas di benak masyarakat, perusahaan harus membedakan diri dari perusahaan lain yang sejenis. Untuk itu, diperlukan diferensiasi sebagai core tactic dalam segi content (apa yang ditawarkan), context (bagaimana menawarkannya), dan infrastuktur (yang mencakup karyawan, fasilitas, teknologi). Setelah menentukan diferensiasi yang akan ditawarkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan diferensiasi ini secara kreatif pada marketing mix (product, price, place, promotion). Karena itu, marketing mix disebut sebagai creation tactic. Walaupun begitu, selling yang memegang peranan penting sebagai capture

tactic juga harus diperhatikan karena merupakan elemen penting

59

yang berhubungan dengan kegiatan transaksi dan langsung mampu menghasilkan pendapatan.

3) Syariah Marketing Value untuk memenangkan Heart Share dalam Syariah Marketing Value bahwa semua strategi dan taktik yang dirancang dengan penuh perhitungan tidaklah akan berjalan dengan baik bila tidak disertai dengan value dari produk atau jasa yang ditawarkan. Pelanggan biasanya mementingkan manfaat atau value apa yang didapat jika ia diharuskan mengeluarkan sekian rupiah. Untuk itu, membangun value proposition bagi produk atau jasa sangatlah penting.

Menurut Hermawan Kertajaya ada empat hal yang menjadi key

success factors (KSF) dalam mengelola bisnis yang merupakan

sifat-sifat Rasulullah antara lain, shiddiq, amanah, fathanah dan tabligh.

a. Shiddiq (benar dan jujur), jika seorang pengusaha senantiasa

berperilaku benar dan jujur dalam sepanjang kegiatannya, jika seorang pemasar bersifat shiddiq haruslah menjiwai seluruh perilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’araa: 181-183.

ٍَٚ ِشِس ۡخًُۡنٱ ٍَِي ْإَُُٕكَر َلَ َٔ َمَۡٛكۡنٱ ْإُف َۡٔأ۞

.

َلَ َٔ ِىِٛمَز ۡسًُۡنٱ ِطبَط ۡسِمۡنٱِث ْإَُ ِص َٔ

ٍَِٚذِس ۡفُي ِض ۡسَ ۡلۡٱ ِٙف ْا َٕۡثۡؼَر َلَ َٔ ۡىَُْءٓبَٛ ۡشَأ َطبَُّنٱ ْإُسَخۡجَر

.

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu Termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (QS. Asy Syu’araa :

181-183)60.

Ayat di atas dijelaskan bahwa Allah SWT telah menganjurkan bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi para pelaku bisnis untuk berlaku jujur dalam menjalankan roda bisnisnya dalam bentuk apapun.

60

Al-Qur‟an Digital, Al-Qur‟an in Word Indonesia Versi 1.3, QS.Asy-Syu‟araa: 181-183

b. Amanah (terpercaya, kredibel), artinya dapat dipercaya, bertanggung

jawab, dan kredibel, juga bermakna keinginan untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.

c. Fathanah (cerdas), dapat diartikan sebagai intelektual, kecerdikan

atau kebijaksanaan. Pemimpin yang fathanah adalah pemimpin yang memahami, mengerti, dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya. Dalam bisnis, implikasi ekonomi sifat fathanah adalah bahwa segala aktivitas dalam manajemen suatu perusahaan harus dengan kecerdasan, dengan mengoptimalkan semua potensi akal yang ada untuk mencapai tujuan.

d. Tabliq (komunikatif), artinya komunikatif dan argumentatif dengan

tutur kata yang tepat dan mudah dipahami. Dalam bisnis, haruslah menjadi seorang yang mampu mengomunikasikan visi dan misinya dengan benar kepada karyawan dan stakeholder lainnya. Juga menyampaikan keungulan-keunggulan produknya dengan jujur dan tidak harus berbohong maupun menipu pelanggan.61

Dokumen terkait