BAB II KAJIAN TEORITIS
A. Karakteristik Perkembangan Belajar Siswa SMP
Dalam bab ini dibahas kajian teoritis yang berkaitan dengan masalah penelitian. Topik-topik dalam bab ini yaitu karakteristik perkembangan belajar siswa SMP, belajar mandiri, dan layanan bimbingan dan konseling belajar.
A. Karakteristik Perkembangan Belajar Siswa SMP
Usia siswa SMP termasuk dalam usia masa remaja. Masa remaja merupakan proses dimana banyak mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan yang dialami oleh remaja adalah perkembangan fisik dan psikis dalam diri remaja. Menurut Sarwono (2004:84) pada masa remaja hampir semua remaja masih menggantungkan diri kepada orang tua dalam hal belajarnya, karena hampir semua orang tua mengharapkan anaknya pandai di sekolah sehingga orang tua menginginkan anaknya menuruti kemauan orang tua.
Mengharapkan prestasi sekolah yang tinggi dengan cara mendidik anak agar menuruti orang tua ternyata kurang tepat, karena anak-anak yang berprestasi tinggi di sekolah justru mendapat latihan untuk mandiri dan mengurus dirinya sendiri dari pada anak yang berprestasi rendah (Sarlito, 2004:85). Kepandaian sering diartikan dengan angka rapor yang tinggi, tetapi baik buruknya angka rapor tidak selalu disebabkan oleh kepandaian. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah.
Menurut Syah (2008:184) faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar siswa terdiri dari dua macam yaitu :
1. Faktor Intern Siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan psiko-fisik siswa, yaitu :
a. Gangguan yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa.
b. Gangguan yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
c. Gangguan yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengar.
2. Faktor Ekstern Siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa, meliputi :
a. Lingkungan keluarga, contohnya : ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b. Lingkungan masyarakat, contohnya : wilayah perkampungan kumuh dan teman sepermainan yang nakal.
c. Lingkungan sekolah, contohnya : kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru dan alat-alat belajar yang kurang berkualitas.
Selain faktor-faktor yang bersifat umum diatas, menurut Syah (2008:186) ada pula faktor lain yang menimbulkan kesulitan belajar siswa dan faktor lain
itu dipandang sebagai faktor khusus yang disebut dengan sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar) yang terdiri atas :
1. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca 2. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis 3. Diskalkulia (dyscaculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika Namun demikian, siswa yang mengalami sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kesulitan-kesulitan pada diri siswa dapat dikurangi dengan memberikan latihan-latihan agar siswa dapat mandiri sedini mungkin, dengan demikian anak dapat memilih jalannya sendiri dan akan berkembang lebih mantab.
B. Belajar Mandiri
1. Pengertian Belajar Mandiri
Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri. Belajar mandiri mempunyai pengertian tidak harus belajar sendiri, akan tetapi belajar mandiri merupakan upaya sistematis yang dilakukan oleh peserta didik dalam mengatur proses pembelajarannya dalam rangka mencapai penguasaan kompetensi secara utuh (Panen, dalam Zakaria, 2010).
Hal yang terpenting dalam proses belajar mandiri ialah peningkatan kemauan dan keterampilan siswa/peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain, sehingga pada akhirnya siswa/peserta didik tidak tergantung pada guru/instruktur, pembimbing, teman, atau orang lain
dalam belajar. Dalam belajar mandiri, siswa/peserta didik akan berusaha sendiri dahulu untuk memahami isi pelajaran yang dibaca atau dilihatnya. Apabila terdapat kesulitan, barulah bertanya atau mendiskusikannya dengan teman, guru/instruktur atau orang lain. Siswa/peserta didik yang mandiri akan mampu mencari sumber belajar yang dibutuhkannya.
Belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki (Mudjiman, 2007:7). Penetapan kompetensi sebagai tujuan belajar, tempat belajar, dan cara pencapaiannya baik penetapan waktu belajar, tempat belajar, tempo belajar, cara belajar, maupun evaluasi hasil belajar ditetapkan oleh pembelajar sendiri.
Menurut Mudjiman (2007:7) penjelasan untuk batasan tersebut di atas adalah sebagai berikut,
a. Kegiatan belajar aktif merupakan kegiatan belajar yang memiliki ciri keaktifan pembelajar, persistensi, keterarahan dan kreatifitas untuk mencapai tujuan.
b. Motif atau niat, untuk menguasai sesuatu kompetensi adalah kekuatan pendorong kegiatan belajar secara intensif, persisten, terarah dan kreatif.
c. Kompetensi adalah pengetahuan atau ketrampilan, yang dapat digunakan untuk memcahkan masalah.
d. Dengan pengetahuan yang telah dimiliki pembelajar mengolah informasi yang diperoleh dari sumber belajar, sehingga menjadi pengetahuan ataupun ketrampilan baru yang dibutuhkan.
e. Tujuan belajar hingga evaluasi hasil belajar, ditetapkan sendiri oleh pembelajar, sehingga ia sepenuhnya menjadi pengendali kegiatan belajarnya.
Dari batasan itu dapat diperoleh gambaran bahwa seseorang yang sedang menjalankan belajar mandiri lebih ditandai dan ditentukan oleh motif yang mendorongnya belajar.
2. Aspek-Aspek Belajar Mandiri
Belajar mandiri pada dasarnya meliputi tiga aspek, yaitu penentuan tujuan belajar, cara belajar dan evaluasi (Moore, dalam Rahadi, 2010). Tiga aspek tersebut ditentukan oleh pembelajar sendiri.
a. Tujuan Belajar Mandiri
Pada dasarnya tujuan belajar mandiri adalah mencari kompetensi baru, baik yang berbentuk pengetahuan maupun ketrampilan, untuk mengatasi suatu masalah (Mudjiman, 2007:10). Dalam rangka mendapatkan kompetensi baru, pembelajar mencari informasi dari berbagai sumber secara aktif dan mengolahnya berdasar pengetahuan yang telah dimiliki. Dalam konteks lifelong learning, tujuan belajar mandiri dan cara pencapaiannya memang ditetapkan sendiri oleh pembelajar berdasarkan atas kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang dirasa oleh pembelajar belum terpenuhi dengan kompetensi-kompetensi yang telah dimilki (Mudjiman, 2007:10). Penetapan tujuan disesuaikan dengan kemampuan untuk mencapainya, guna menghindari kemungkinan kecewa karena gagal, sehingga dapat diketahui bahwa kemajuan yang dicapai oleh seorang pembelajar mandiri banyak tergantung bagaimana pembelajar tersebut menetapkan tujuan belajarnya.
b. Cara Belajar
Menurut Mudjiman (2007:18), setiap orang memiliki cara belajar yang tepat untuk dirinya sendiri. Hal ini antara lain terkait dengan tipe pembelajar, apakah termasuk auditif, visual, kinestetik atau tipe campuran. Pembelajar mandiri perlu menemukan tipe dirinya serta cara belajar yang cocok dengan keadaan dan kemampuan sendiri. c. Evaluasi Hasil Belajar (Refleksi Diri)
Evaluasi hasil belajar mandiri dilakukan oleh pembelajar sendiri. Pembelajar melakukan evaluasi belajar dengan membandingkan antara tujuan belajar dan hasil yang dicapainya. Pembelajar akan mengetahui sejauh mana keberhasilannya. Hasil evaluasi diri yang dilakukan berulang-ulang akan turut membentuk kekuatan motivasi belajar yang lebih lanjut (Mudjiman, 2007:18).
Refleksi merupakan penilaian terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani. Kemampuan refleksi merupakan salah satu kemampuan yang sangat diperlukan dalam belajar mandiri, sebab dari hasil refleksi pembelajar dapat menentukan langkah ke depan guna mencapai keberhasilan dan menghindari kegagalan.
3. Pengaturan Diri dalam Proses Belajar Mandiri (Self Regulated Learning)
Pada bagian berikut akan dipaparkan mengenai ketrampilan pengaturan diri dalam rangka mencapai tujuan belajar. Ketrampilan ini sangat penting,
karena menyangkut diri perorangan setiap siswa dalam proses belajar menuju kebiasaan belajar mandiri.
Menurut The Liang Gie (1995:189), pengaturan diri dalam proses belajar (self regulated learning) berarti mendorong diri sendiri untuk maju, mengatur semua unsur potensi pribadi, mengendalikan kemauan untuk mencapai hal-hal yang baik dan mengembangkan berbagai segi dari pribadi agar lebih sempurna. Terdapat empat bentuk perbuatan yang mendasari kegiatan pengaturan diri dalam proses belajar (The Liang Gie, 1995:189), yaitu :
a. Pendorongan Diri (self motivation)
Syarat pertama bagi setiap siswa untuk mencapai tujuan belajar adalah pendorongan diri. Pendorongan diri termasuk salah satu dorongan psikologis dari dalam diri seseorang yang merangsang diri dalam mencapai tujuan yang didambakan. Pendorongan dari dalam diri akan melahirkan minat dan motivasi yang besar untuk belajar dengan sepenuh kemampuan. Seseorang dengan minat yang besar akan mendatangkan hasil belajar yang memuaskan, karena dapat melakukan konsentrasi sehingga perhatian tidak terganggu oleh hal lain maka akan mudah memahami bahan pelajaran, mampu belajar dalam jangka panjang dan bahkan memperoleh kesenangan batin dari belajar karena bertambahnya pengetahuan.
b. Penataan Diri (self organization)
Bentuk perbuatan yang kedua dalam pengaturan diri adalah penataan diri, yaitu mengatur dengan sebaik-baiknya pikiran, tenaga, waktu, tempat, benda dan semua sumber daya lainnya dalam kehidupan setiap siswa sehingga tercapai efisiensi pribadi. Efisiensi pribadi yaitu perbandingan terbaik antara setiap kegiatan hidup pribadi dengan hasil yang diinginkan. Dalam proses menuju kegiatan belajar mandiri penataan diri sangat diperlukan agar dapat mencapai tujuan belajar. Pada dasarnya penataan diri dalam proses belajar mandiri yaitu siswa dapat merencanakan, mengatur dan mengurus segala hal dalam diri sendiri agar proses belajar dapat berlangsung secara tertib, lancar dan mudah.
c. Pengendalian Diri (self control)
Pengendalian diri dalam proses belajar mandiri adalah perbuatan dalam membina tekad untuk mendisiplinkan kemauan, memacu semangat, mengikis keseganan dan mengerahkan energi untuk benar-benar melaksanakan apa yang harus dikerjakan dalam proses belajar. Seseorang memiliki tujuan dan rencana belajar yang baik tanpa didukung dengan pengendalian diri dalam proses belajar, maka hasil belajar yang diperoleh tidak akan memuaskan. Oleh sebab itu melatih kontrol diri harus sungguh-sungguh diusahakan dari waktu kewaktu oleh setiap siswa agar mencapai hasil belajar yang memuaskan.
d. Pengembangan Diri (self development)
Pengembangan diri dalam proses belajar mandiri merupakan bentuk pengaturan diri yang terakhir. Pengembangan diri adalah perbuatan yang menyempurnakan atau meningkatkan diri sendiri dalam berbagai hal mencakup segenap sumber daya pribadi dalam diri seorang siswa. Pengembangan diri dalam proses belajar mandiri meliputi pengembangan fisik untuk menjaga kesehatan, pengembangan sosial untuk meningkatkan berbagai ketrampilan hubungan antar perorangan, pengembangan emosional untuk membina kesadaran diri yang lebih besar dan kekokohan emosional, pengembangan intelektual untuk menambah kearifan serta pengetahuan, pengembangan karakter untuk membina perilaku moral dan etis, pengembangan spiritual untuk memupuk suatu kesadaran yang lebih besar terhadap makna kehidupan.
4. Komponen Konsep Belajar Mandiri
Pada bagian berikut akan diuraikan secara singkat masing-masing komponen konsep belajar mandiri menurut Mudjiman (2007:23).
a. Paradigma Konstruktivisme
Paradigma konstruktivisme merupakan komponen pertama konsep belajar mandiri, sebab kelancaran kegiatan belajar mandiri sangat ditentukan oleh sejauh mana pembelajar telah memiliki pengetahuan yang relevan sebagai modal awal untuk menciptakan pengetahuan baru atas rangsangan baru dari informasi baru yang diperolehnya dalam proses pembelajaran. Kegiatan belajar yang berlandaskan paradigma
konstruktivisme dilandasi penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mengolah informasi yang masuk, sehingga terbentuk pengetahuan baru menuju ke pembentukan suatu kompetensi yang dikehendaki pembelajar (Mudjiman, 2007:23). Belajar adalah membangun pengetahuan untuk membentuk pengetahuan baru (Hazel and Papert, dalam Mudjiman, 2007:23).
Pemikiran tentang pengetahuan baru itu menempatkan siswa sebagai komponen penting dalam proses pendidikan. Siswa tidak lagi dianggap sebagai pihak yang begitu saja menerima pengetahuan yang diberikan kepadanya, melainkan mengolahnya sebelum memahaminya. Penempatan siswa sebagai subjek pendidikan merupakan pandangan baru, yang berbeda dengan pandangan paradigma tradisional.
Dalam pendidikan tradisional, pendidikan dianggap sebagai proses transmisi pengetahuan, fakta, atau kenyataan yang ditemukan di masa-masa sebelumnya dari guru kepada murid-muridnya. Model seperti ini disebut teacher centered learningmodel karena proses pengajaran dan pendidikan berpusat pada guru sedangkan siswa bersifat pasif, siswa harus menerima apa yang diajarkan guru.
Lebih jauh Burton (dalam Martini, 2010) mengusulkan bahwa tanggung jawab guru dalam proses belajar adalah untuk menstimulasi dan memotivasi siswa, menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman, mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa, serta mengevaluasi.
Selain model pembelajaran tradisional, berkembang banyak model pembelajaran progresif yang bercirikan keaktifan siswa. Pembelajaran progresif identik dengan Active Learning atau pembelajaran aktif antara lain Active Learning sendiri, Integrated Learning, Problem Based
Learning, Independent Learning atau belajar bebas, Selfmotivated
Learning atau belajar mandiri, Progressive Learning dengan
pendekatan ketrampilan proses, Pembelajaran PAMONG dan Quantum
Learning. Model-model baru ini umumnya bersumber pada paradigma
pembelajaran konstruktivistik (Mudjiman, 2007:25).
Pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran yang berbasis paradigma konstruktivisme. Dalam pembelajaran konstruktivistik penambahan pengetahuan dilakukan oleh siswa sendiri, karena belajar menurut paradigma konstruktivisme adalah proses membentuk kembali atau membentuk baru pengetahuan.
b. Pengembangan Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah komponen konsep belajar mandiri dan merupakan prasyarat bagi berjalannya belajar mandiri. Motivasi belajar adalah kekuatan pendorong dan pengarah perbuatan belajar (Mudjiman, 2007:37). Motivasi belajar dibedakan menjadi dua yaitu, motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi Intrinsik adalah dorongan dari dalam dalam diri untuk menguasai sesuatau kompetensi guna mengatasi masalah. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan dari luar diri untuk menguasai kompetensi guna mengatasi masalah.
Motivasi dari siswa sangat mempengaruhi dirinya dalam proses belajar, baik itu motivasi instrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi instrinsik merupakan kebutuhan psikologis dari dalam diri. Motivasi instrinsik mendorong untuk melakukan kegiatan dengan tujuan menguasai dan mendapat kompetensi baru, menikmati proses belajar serta merasakan kepuasan bila kegiatan belajar behasil. Motivasi instrinsik ada dalam kegiatan tanpa ‘iming-iming’ sebagai pendorong yang bersifat eksternal. Jadi bisa dikatakan bahwa motivasi instrinsik merupakan dorongan yang berasal secara alamiah dari dalam diri untuk mendapat pengetahuan serta kompetensi baru, seperti emosi, rasa senang dan minat.
1) Faktor-Faktor Pembentuk Motivasi Belajar
Menurut Mudjiman (2007:43) dalam proses pembentukan motivasi belajar ada faktor-faktor yang mempengaruhi, antara lain : a) Faktor pengetahuan tentang kegunaan belajar
Faktor pengetahuan ini mengenai pengetahuan pembelajar tentang detailnya perbuatan belajar yang sedang dipertimbangkan, misalnya pembelajar akan mengikuti les tambahan matematika dari hal itu apakah pembelajar memilki pengetahuan yang cukup tentang untung ruginya bila megikuti les tersebut seperti biayanya, kompetensi tutor dan sebagainya. Pengetahuan itu dapat diperoleh dari berbagai sumber di luar dirinya atau dari pengalamannya sendiri.
b) Faktor kebutuhan untuk belajar
Faktor ini mengenai seberapa jauh pembelajar akan memenuhi kebutuhannya dalam proses belajar, misalnya secara umum apakah dengan belajar yang sedang dijalani akan menjanjikan kompetensi yang dibutuhkan atau malah untuk menghindari sesuatu yang tidak dikehendaki. Pertanyaan itu akan terjawab bila pengetahuan yang cukup detail dimiliki.
c) Faktor kemampuan untuk melakukan kegiatan belajar
Faktor ini mengenai seberapa jauh pengetahuan penbelajar tentang kemampuan dirinya dalam melakukan suatu proses belajar.
d) Faktor kesenangan terhadap ide melakukan kegiatan belajar Faktor ini mengenai seberapa senang pembelajar akan menjalani proses belajar. Rasa senang akan timbul dari pengalamannya sendiri ataupun dari pengalaman orang lain yang pernah dilihat tentang belajar. Rasa senang juga akan timbul bila pembelajar meyakini bahwa pembelajar memilki kemampuan untuk melakukan kegiatan yang sedang dipertimbangkan.
e) Faktor pelaksanaan kegiatan belajar
Faktor ini mengenai kesiapan pembelajar untuk melaksanakan perbuatan belajar seperti sebarapa jauh pembelajar dapat membagi waktu dan seberapa mampu dapat melakukan belajar.
f) Faktor hasil belajar
Faktor ini mengenai seberapa jauh pengaruh hasil-hail belajar selama ini terhadap kemampuannya dalam mengahadapi proses belajar kedepan.
g) Faktor kepuasan terhadap hasil belajar
Faktor ini mengenai kepuasan pembelajar terhadap hasil-hasil belajarnya selama ini dan rasa puas akan memperkokoh motivasinya untuk terus belajar, sebab pembelajar akan semakin tahu apa keuntungan yang didapat dari belajar dan akan meneruskan belajarnya ketahap yang semakin tinggi. Sebaliknya bila hasil belajar tidak memuaskan dapat menyebabkan kekecewaan dan memutuskan untuk berhenti belajar.
h) Faktor karakteristik pribadi dan lingkungan terhadap proses pembuatan keputusan
Faktor ini merupakan pengendali dari semua faktor-faktor yang sebelumnya, karena kemampuan diri pembelajar untuk membuat perhitungan sungguh mempengaruhi hasil yang akan didapat baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.
2) Teknik Belajar untuk Menumbuhkan Motivasi Belajar
Terdapat hubungan antara teknik belajar dengan motivasi belajar, yaitu bahwa teknik belajar yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar, hasil belajar yang baik dapat meningkatkan motivasi
belajar (Mudjiman, 2007:97). Teknik belajar yang akan dibicarakan adalah MASTER Plan (Rose and Nicholl, 1997:410-413) dan SQ3R (Robinson, 1946:28-31).
a) MASTER Plan
MASTER Plan juga disebut pembelajaran yang dipercepat
(Accelerated Learning). MASTER adalah akronim yang
mencerminkan langkah-langkah belajar sebagai berikut :
(1) Motivate your mind (Tumbuhkan Motivasi)
Menumbuhkan motivasi dalam diri agar tetap bersemangat dalam belajar. Menumbuhkan motivasi dalam diri hendaknya memperhatikan beberapa hal yaitu, pemenuhan kebutuhan yang harus terpenuhi, bertambahnya kemampuan dalam melakukan belajar, mengupayakan rasa senang melakukan kegiatan belajar, mengingat adanya manfaat dari belajar.
(2) Acquiring the information (Kumpulkan Informasi)
Pengumpulan informasi diarahkan oleh masalah yang hendak dijawab termasuk di dalamnya adalah kompetensi yang hendak dicapai; jalan pikir atau kerangka pikir untuk menjawab masalah; jenis informasi yang dibutuhkan dengan diarahkan oleh kerangka pikiran; identitas sumber-sumber informasi; pencarian informasi; analisis informasi; penyimpulan hasil analisis; pengkomunikasian kesimpulan
kepada pihak lain guna mengecek kebenaran penyimpulan sekaligus guna mengetes penguasaan bahan hasil belajar oleh pembelajar.
(3) Searching out the meaning (Temukan Makna)
Memahami setiap fakta atau informasi yang didapat bukan hanya sekedar mengerti, kemudian disimpan dalam memori guna dipanggil kembali untuk diperlukan. Upaya memahami fakta berarti mengaitkan fakta-fakta yang telah dimilki menjadi sebuah pengetahuan baru.
(4) Triggering the memory (Kuncilah Fakta dalam Memori)
Setelah fakta atau informasi dipahamai, kemudian dikunci dalam memori dengan berbagi cara misalnya, fakta dirangkai kedalam sebuah konsep kemudian dibuat mental map.
(5) Exhibiting what you know (Tunjukkan Kepada Orang Lain)
Untuk dapat meyakinkan pengetahuan telah menjadi milik pembelajar, hendaknya pembelajar harus mengetes dirinya dengan menunjukkan kepada orang lain pada kelompok belajar, di sana pembelajar bisa saling membantu dengan teman kelompok yang mengalami kesulitan belajar dengan pengetahuannya. Penggunaan pengetahuan seperti ini dapat membuat pengetahuan semakin solid dalam memori dan siap digunakan lagi sewaktu-waktu.
(6) Reflecting on how you’ve learned (Refleksi)
Tahap refleksi merupakan tahap terakhir dalam proses pembelajaran, pada tahap ini pembelajar bertanya tentang bagaimana dan apa yang diperoleh selama proses belajar yang sudah dijalani. Hal ini bertujuan untuk memecahkan sesuatu masalah atau menguasai suatu kompetensi.
b) Metode Survey, Question, Read, Recite and Review (SQ3R) Metode Survey, Question, Read, Recite and Review (SQ3R) adalah metode untuk mempelajari buku, artikel pada jurnal atau bentuk-bentuk bahan pelajaran yang lain. Metode ini mengarah pada pemahaman terhadap bacaan secara menyeluruh dan detail. Langkah-langkahnya sebagai berikut :
(1) Langkah Orientasi (Survey/S), yaitu tahap mengamati secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran umum dari bahan pelajaran dengan cara memusatkan perhatian pada tiap bagian dari bahan tersebut yaitu membaca judul, daftar isi, pendahuluan, gambar-gambar dan grafik dengan penjelasannya.
(2) Langkah Bertanya (Question/Q), yaitu tahap mengajukan pertanyaan dari hasil orientasi secara tertulis dari mata pelajaran yang telah dipelajari untuk mencari jawaban sendiri, yaitu dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang
jawabannnya tersurat atau tersirat atau sama sekali tidak ada dalam teks tetapi relevan untuk ditanyakan.
(3) Langkah Membaca (Read/R), yaitu membaca bahan pelajaran secara berurutan untuk mencari jawaban dari pertanyaan mengenai arti istilah, isi kalimat dan isi alinea. Tujuan membaca adalah siswa dapat memahami isi bacaan.
(4) Langkah Merumuskan (Recite/R), yaitu tahap merumuskan kembali dengan bahasa sendiri. Tahap ini siswa dibiasakan bertanggung jawab atas pengetahuan dan pengertian yang telah diperoleh dari bacaan.
(5) Langkah Merangkum (Review/R), yaitu tahap merangkum atau memadukan semua bahan-bahan pelajaran yang sudah dirumuskan menjadi satu keseluruhan dengan kalimat dan bahasa sendiri. Pada tatahap ini siswa memperdalam pengetahuan dan pengertiannya tentang hubungan isi bahan mata pelajaran satu sama lain dan juga yang sudah dimiliki sebelumnya.
C. Layanan Bimbingan dan Konseling Belajar
Menurut Ahmadi (1991:103) masalah belajar merupakan inti dari kegiatan sekolah, sebab semua kegiatan di sekolah diperuntukkan bagi berhasilnya proses belajar bagi setiap siswa yang sedang studi di sekolah tersebut. Oleh karena itu program yang diberikan oleh bimbingan dan konseling di sekolah
untuk membantu siswa dalam menghadapi dan menjalani proses belajar adalah layanan bimbingan belajar. Bimbingan belajar adalah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan (Winkel, 2006:115).
1. Tujuan Bimbingan Belajar
Menurut Ahmadi (1991:105) tujuan dari bimbingan belajar adalah :
a. Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang anak atau kelompok anak.
b. Menunjukan cara-cara mempelajari sesuai dan menggunakan buku pelajaran.
c. Memberikan informasi (saran dan petunjuk) bagi yang memanfaatkan perpustakaan.
d. Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri dalam ulangan dan ujian.
e. Memilih suatu bidang studi sesuai dengan bakat, minat, kecerdasan, cita-cita dan kondisi fisik atau kesehatan.
f. Menunjukan cara-cara menghadapi kesulitan dalam bidang studi tertentu. g. Menentukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal belajarnya. 2. Materi Umum Layanan Pembelajaran dalam Bimbingan Belajar
Materi layanan pembelajaran dalam bimbingan belajar meliputi kegiatan pengembangan motivasi, sikap dan kebiasaan belajar yang baik, keterampilan belajar, program pengajaran perbaikan, dan program pengayaan (Depdikbud, dalam www.wikipedia.com, 2010).
a. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa, antara lain dengan: 1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar
2) Menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan, bakat, dan minat, 3) Menciptakan suasana pembelajaran yang matang, merangsang, dan
4) Pemberian hadiah atau penguat