• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Petani Responden

Responden dalam penelitian ini adalah petani yang membudidayakan padi sawah di Desa Alesipitto Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep. Karakteristik petani responden dalam penelitian ini meliputi umur, pendidikan, pengalaman bertani, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan. Karakteristik petani responden adalah sebagai berkut :

5.1.1 Umur

Tingkat umur merupakan salah satu faktor yang menentukan bagi seorang petani dalam upaya pengolahan usahataninya. Umur akan sangat mempengaruhi kemampuan fisik dan cara berfikir sehingga mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Petani yang berusia muda memiliki kemanpuan fisik yang lebih dibandinkan dengan petani yang berusia tua. Namun demikian, petani yang memiliki usia lebih tua relative memiliki pengalaman yang lebih banyak. Sehingga akan mempengaruhi kematangan dalam mengambil keputusan untuk mengelola usaha taninya.

Hasil pengumpulan data yang diperoleh menunjukkan bahwa umur petani resonden bervariasi, mulai dari 35 tahun sampai 65 tahun. Umur petani responden disajikan pada tabel 7.

Tabel 7. Umur petani responden di Desa Alesipitto Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep, 2015 Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 35-41 13 43,33 42-48 5 16,66 49-55 10 33,33 56-60 1 3,33 61-65 1 3,33 Total 30 100,00

Sumber: Data primer setelah diolah, 2015

Tabel 7 Menunjukkan bahwa jumlah petani responden yang berada pada kelompok umur 35-41 tahun adalah 13 orang atau sekitar 43,33 %, merupakan kelompok umur tertinggi disusul kelompok umur 49-55 tahun adalah 10 orang atau 33,33 % merupakan kelompok umur tertinggi kedua, disusul oleh kelompok umur 42-48 tahun atau 16,67 % ini merupakan kelompok umur tertinggi ketiga, sedankan kelompok umur 56-60 tahun dan 61-65 tahun masing- masing adalah 1 orang, ini merupakan kelompok umur terendah. Melihat komposisi umur tersebut di atas menunjukkan bahwa petani responden masih tergolong dalam kategori umur produktif sehingga dapat dikatakan bahwa petani responden masih potensial untuk mengelola usaha taninya.

5.1.2 Tingkat Pendidikan

Hasil pengumpulan data diperoleh bahwa tingkat pendidikan petani responden bervariasi, tingkat pendidikan mulai dari SD sampai D3. Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah tingkat pendidikan formal yang dimiliki oleh

petani responden. Tingkat pendidikan ini merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam pengembangan usahatani, terutama kaitanya penyerapan inovasi dan teknologi dalam menunjang pencapaian tingkat produksi yang optimal.

Pendidikan dapat mempengaruhi carah berfikir dan akan menenukan seorang petani dalam mengadopsi dan menerima inovasi baru serta pemahaman terhadap informasi yang didapat. Pendidikan formal yang relatif lebih tinggi akan lebih memudahkan petani dalam menerapkan teknologi baru dan teknik-teknik baru dalam usahataninya, sehingga dengan demikian kemajuan-kemajuan teknologi dalam usaha pertanian dapat diaplikasikan dengan baik dan cepat. Komposisi tingkat pendidikan petani responden disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Tingkat pendidikan petani responden di Desa Alesipitto Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep, 2015

Tingkat pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%) SD 16 53,33 SMP 10 33,33 SMA 3 10 D3 1 3,33 Total 30 100,00

Sumber: data primer setelah Diolah, 2015

Tabel 8 Menunjukkan bahwa jumlah petani responden yang tingkat pendidikanya tamat SD sebanyak 16 orang responden atau 53,33 % merupakan yang tertinggi, disusul dengan tingkat pendidikan tamat SMP sebanyak 10 orang responden atau 33,33 % disusul tingkat pendidikan tamat SMA sebanyak 3 orang

responden atau 10 % dan yang terendah tingkat pendidikan tamat D3 sebanyak 1 orang atau 3,33 %.

5.1.3 Pengalaman Bertani

Pengalaman bertani yang dimaksud disini adalah lamanya seorang petani responden dalam menekuni usahataninya. Semakin lama peani mengeluti usahataninya, maka akan semakin banyak pengalaman yang mereka miliki. Pada umumnya petani yang memiliki pengalaman usaha tani yang cukup lama cenderung memiliki pula kemanpuan berusaha tani yang baik dibandinkan petani yang belum memiliki pengalaman berusahatani. Petani responden berdasarkan pengalaman bertani dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Pengalaman Bertani Petani Responden di Desa Alesipitto Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep, 2015

Pengalaman bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 7-12 10 33,33 13-18 2 6,66 19-24 2 6,66 25-30 5 16,66 31-36 1 3,33 37-42 8 26,66 43-48 2 6,66 Total 30 100,00

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2015

Tabel 9 menunjukkan bahwa pengalaman bertani petani responden yang tertinggi adalah 7-12 tahun sebanyak 10 orang atau 33,33 %. Melihat komposisi

pengalaman bertani pada tabel tersebut diatas enunjukkan bahwa petani responden dalam berusahatani sudah cukup lama, hal ini menunjukkan bahwa pengalaman akan berpengaruh terhadap tingkat pengalaman petani dalam mengelola usahataninya. Semakin lama petani berusahatani, maka semakin tinggi pula pengetahuan dan wawasannya sehubungan dengan usahatani yang dikelolanya.

5.1.4 Jumlah Tanggungan Keluarga

Tanggungan keluarga yang dimaksud disini adalah keseluruhan anggota keluarga yang memiliki beban hidup bagi petani responden bersangkutan. Anggota keluarga petani ini dapat berfungsi sebagai tenaga kerja dalam keluarga. Anggota keluarga petani terdiri dari petani itu sendiri, istri, anak dan anggota keluarga lainnya yang menjadi tanggungan petani. Jumlah anggota keluarga petani akan berpengaruh bagi petani dalam perencanaan dan pengambilan keputusan petani dalam hal usahataninya, karena anggota keluarga petani merupakan sumber tenaga kerja dalam usahatani terutama anggota keluarga yang produktif. Selain itu jumlah anggota keluarga merupakan salah satu potensi yang sangat meentukan dalam peningkatan prduksi dan pendapatan petani.

Mereka yang memiliki sedikit tanggungan keluarga akan lebih banyak mengeluarkan modalnya untuk menyediakan sarana produksi, akan tetapi bagi petani yang memiliki tanggungan alokasi modal untuk penyediaan sarana produksi akan sangat terbatas sehingga akan peningkatan produksi dan pendapatan kurang terwujud.

Tabel 10. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Responden di Desa Alesipitto Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep, 2015

Jumlah Tanggungan Keluarga (Orang) Jumlah (Orang) Persentase (%) 3-4 10 33,33 5-6 15 50 7-8 4 13,33 9-10 1 3,33 Total 30 100,00

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015

Tabel 10 meunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga terbanyak adalah antara 5-6 orang yaitu sebanyak 15 orang atau 50 %, disusul 3-4 orang yaitu sebanyak 10 orang atau 33,33 % disusul 7-8 orang yaitu sebanyak 4 orang atau 13,33 % dan yang terendah 9-10 orang yaitu 1 orang atau 3,33 %.

5.1.5 Luas Lahan

Lahan bagi seorang petani merupakan hal yang sangat menentukan mati hidupnya. Jika tidak memiliki lahan maka petani akan sangat bergantung pada orang lain (pemilik tanah), luas dan status lahan selalu berhubungan positif dengan adopsi inovasi. Lahan yang dimiliki oleh seorang petani dapat berupa sawah beririgasi, sawah tanah hujan. Luas dan status lahan yang dimiliki akan mempengaruhi skala usaha dan luas skala usahatani ini pada akhirnya akan mempengaruhi penghasilan petani.

Luas lahan yang dimaksud disini adalah luas lahan garapan petani responden, baik lahan milik sendiri maupun lahan sewa. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa luas lahan garapan petani responden bervariasi,

mulai dari 0,50 hektar sampai dengan 4,55 hektar. Luas lahan petani responden dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 11. Luas Lahan Petani Responden di Desa Alesipitto Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep, 2015 Luas Lahan (Hektar) Jumlah (Orang) Persentase (%) 0,50-0,54 5 16,66 0,55-0,69 - -0,70-0,85 1 3,33 1.00-1,50 21 70,00 3,00-4,55 3 10,00 Total 30 100,00

Sumber : Data Primer Setela Diolah, 2015

Tabel 11 menunjukkan bahwa luas lahan petani responden antara 1,00-1,50 hektar merupakan yang tertinggi dengan jumlah petani responden sebanyak 21 orang atau 70,00 %, disusul luas lahan antara 0,50-0,54 hektar sebanyak 5 0rang atau 16,66 %, disusul luas lahan antara 3,00-4,55 hektar sebanyak 3 orang atau 10,00 %, dan terendah adalah 0,70-0,85 hektar atau 3,33 %. Hal ini menunjukkan bahwa lahan yang diusahakan petani responden untuk penanaman padi di daerah penelitian dalam skala besar.

5.2 Partisipasi Petani Dalam Pelaksanaan Pola Penanaman Padi Dengan

Dokumen terkait