IV. METODE PENELITIAN
6.1. Karakteristik Petani Responden
Pada penelitian ini jumlah petani responden adalah 70 orang. Petani responden berasal dari dua kecamatan yaitu Kecamatan V Koto Kampung Dalam dan Kecamatan Sungai Garingging. Petani yang menjadi responden adalah yang melakukan usahatani kakao sebagai usaha pokok. Karakteristik antara petani responden satu dengan yang lainnya tidak banyak berbeda. Para petani kakao di Kabupaten Padang Pariaman hampir seluruhnya menjual biji kakao dalam bentuk asalan.
6.1.1. Usia Petani Kakao
Umur petani kakao responden dalam penelitian ini berkisar antara 27 tahun sampai 77 tahun. Klasifikasi usia petani responden di Kabupaten Padang Pariaman selengkapnya disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Usia Petani Kakao di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2012
No. Kelompok Umur (tahun) Jumlah Petani (orang) Persentase (%)
1. < 30 2 2.86 2. 30 – 40 6 8.57 3. 41- 50 17 24.28 4. 51 – 60 27 38.57 5. 61 – 70 6 8.57 6. 71 – 77 12 17.14
Sumber : Data primer (diolah)
6.1.2. Pendidikan Petani Kakao
Tingkat pendidikan petani kakao umumnya rendah. Tabel 9 akan menyajikan sebaran tingkat pendidikan petani kakao responden.
Tabel 9. Tingkat Pendidikan Petani Kakao di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2012
No. Tingkat Pendidikan Jumlah Petani (orang) Persentase (%)
1. SD (≤ 6 tahun) 40 57.14
2. SMP (> 6 tahun) 30 42.86
6.1.3. Jumlah Tanaman Menghasilkan
Jumlah tanaman menghasilkan yang dimiliki oleh petani kakao di Kabupaten Padang Pariaman tidak sama antara satu petani dengan petani lain. Tanaman kakao ini ditanam tumpang sari dengan tanaman kelapa, sehingga jumlah tanaman yang ada tergantung pada jarak tanam dari kedua jenis tanaman tersebut. Tabel 10 akan menyajikan sebaran tanaman kakao yang dimiliki petani responden.
Tabel 10. Kepemilikan Tanaman Kakao yang Menghasilkan
No. Jumlah Tanaman (pohon) Jumlah Petani Responden (orang)
1. < 200 1 2. 200 - 500 18 3. 501 – 1000 30 4. 1001 – 1500 10 5. 1501 – 2000 9 6. > 2000 2
Sumber : Data primer (diolah)
6.2. Struktur Produksi Kakao
Secara garis besar karakteristik usahatani yang dilakukan petani kakao di Kabupaten Padang Pariaman (Tabel. 11) rata-rata mempunyai luas lahan 1,30 hektar, dengan jenis tanaman klon lokal. Populasi rata-rata tanaman per hektar adalah sebanyak 800 pohon, dengan sistem tumpang sari dengan tanaman kelapa. Kelapa merupakan tanaman pelindung, pada setiap 1 hektar di tanami kelapa sebanyak 100 pohon.
Tanaman kakao kakao yang ditanam pada umumnya berumur 7 - 9 tahun. Pada budidaya tanaman tahunan umur tersebut memasuki umur prodktif. Menurut PPKKI (2006), umur kakao sangat produktif pada kisaran umur 10-15 tahun dan akan mengalami penurunan dengan perkiraan umur 20-25 tahun. Di daerah penelitian beberapa petani telah mengenal cara pengembangan tanaman kakaodengan teknik vegetatif seperti pencangkokan, okulasi, teknik sambung tanaman. Sehingga di masa datang teknologi tersebut dapat dipergunakan untuk melakukan peremajaan tanaman kakao yang sudah tidak produktif. Sehingga petani untuk meningkatkan produksinya tidak memiliki hambatan terhadap proses pemeliharaan tanaman kakao.
Tabel 11. Karakteristik Usahatani Kakao di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2012
No. Deskripsi Kec. V Koto
Kampung Dalam Kec. Sungai Garingging 1. Rata-rata kepemilikan lahan (hektar) 1.42 1.18
2. Jenis klon yang digunakan Campuran Campuran
3. Umur tanaman (tahun) 8.01 7.77
4. Populasi tanaman (pohon/ha) 793 846
5. Tanaman Pelindung Kelapa Kelapa
6. Frekuensi Pemangkasan (kali) 2 2
7. Frekuensi Pemupukan (kali/tahun)
2 2
8. Penggunaan pupuk kandang (kg) 51.14 68.94
9. Penggunaan pupuk NPK (kg) 46.14 48.28
10. Penggunaan pestisida (liter) 0.5 0.71
11. Penggunaan tenaga kerja (HOK) 192.71 189.68 Sumber : Data primer (diolah)
Dalam melakukan budidaya rata-rata petani melakukan pemupukan sebanyak 2 kali pertahun, demikian pula pemangkasan tanaman penaung juga dilakuka sebanyak 2 kali per tahun. Rata-rata penggunaan pupuk kandang sebanyak 64.54 kg, pupuk NPK sebanyak 47.21 kg, penggunaan peptisida 0.61 liter, sedangkan penggunaan input tenaga kerja sebanyak 191.2 HOK. Dengan demikian secara umum usahatani kakao di Kabupaten Padang Pariaman telah mengenal teknologi yang baik.
Tabel 12. Rata-rata Produksi, Biaya dan Pendapatan Usahatani Kakao per Hektar per Tahun di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2012
No. Uraian Nilai
1. Produksi (kg) 778.28 2. Harga jual (Rp/kg) 16 000 3. Pendapatan kotor (Rp) 12 452 480 4. Biaya Produksi (Rp) 5 926 650 5. Tenaga Kerja (Rp) 5 781 300 6. Pupuk Kandang (Rp) 51 140 7. Pupuk Kimia (Rp) 69 210 8. Pestisida (Rp) 25 000 9. Pendapatan bersih (Rp) 6 525 830
Sumber : Data primer (diolah)
Produksi rata-rata kakao di daerah penelitian adalah 778.28 kg per hektar per tahun. Apabila harga pada saat penelitian adalah rata-rata sebesar Rp 16 000 per kg, maka dapat dilakukan perhitungan pendapatan kotor usahatani yaitu
sebesar Rp. 12 452 480 per tahun. Hasil secara lengkap struktur usahatani disajikan pada Tabel 12. Apabila pendapatan kotor tersebut dikurangi dengan biaya-biaya produksi yang berupa penggunaan tenaga kerja, pupuk kandang, pupuk kimia dan pestisida yang jumlahnya sebesar Rp. 5 926 650 per tahun, maka diperoleh pendapatan bersih dari usahatani kakao sebesar Rp 6 525 830 per tahun
6.3. Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kakao
Model yang digunakan untuk pendugaan secara sederhana menggunakan fungsi Cobb Douglas. Model diterapkan pada tingkat usahatani kakao yang datanya diambil dari data kerat lintang (cross section) yang berasal dari petani kakao di Kabupaten Padang Pariaman tepatnya di Kecamatan V Koto Kampung Dalam dan Kecamatan Sungai garingging.
Proses produksi dalam penelitian ini merupakan kegiatan budidaya kakao sebagai salah satu komoditas tanaman perkebunan tahunan dengan menggunakan faktor-faktor produksi (input). Hubungan input dan produksi pertanian mengikuti kaidah hasil yang berkurang (law of deminising return), dimana tiap tambahan unit masukan akan mengakibatkan proporsi unit tambahan produksi yang semakin kecil dibanding unit tambahan masukan tersebut.
Sebelum dilakukan pendugaan persamaan regresi dari fungsi produksi kakao, persamaan tersebut harus memenuhi spesifikasi. Spesifikasi model dalam ekonometrika menyangkut tiga hal yaitu: (1) pemilihan variabel-variabel independen yang tepat, (2) pemilihan bentuk fungsi yang tepat, dan (3) error term yang bersifat stokastik (Koutsoyiannis, 1977). Berikut ini penjelasan tentang cara mengukur variabel atau input yang digunakan dalam analisis produksi usahatani kakao dan definisi terhadap masing-masing variabel. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi produksi kakao tersebut adalah sebagai berikut.
1. Tenaga Kerja
Secara umum semakin banyak tenaga kerja yang dilibatkan dalam proses produksi usahatani maka akan semakin besar jumlah yang diproduksi atau dihasilkan. Untuk memudahkan penghitungan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi, digolongkan dalam satuan unit kerja hari
orang kerja (HOK), dimana satu HOK adalah setara dengan tujuh jam bekerja per hari. Nilai satu unit HOK dihitung dengan upah setara kerja pria.
2. Pupuk Kandang
Penggunaan pupuk kandang diasumsikan akan meningkatkan produksi kakao. Pupuk kandang ini berasal dari kotoran hewan peliharaan petani seperti: sapi, kerbau, kambing dan ayam. Cara penghitungan pupuk kandang adalah dalam satuan fisik, bukan nilainya.
3. Pupuk kimia
Penggunaan pupuk kimia diasumsikan akan meningkatkan produksi kakao. Jenis pupuk kimia yang umumnya digunakan petani dan diukur untuk penelitian ini adalah jenis NPK. Tetapi sebagian petani di lokasi penelitian hanya menggunakan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan, daun dan kulit kakao yang sudah diambil bijinya. Pupuk kimia hanya dipakai pada kondisi tertentu saja karena keterbatasan dana. Untuk pupuk kimia dalam penelitian ini yang di hitung adalah dalam satuan fisik, bukan nilainya.
4. Pestisida
Pestisida sangat dibutuhkan tanaman untuk menjaga serta membasmi hama dan penyakit yang menyerangnya, sehingga asumsinya adalah petani yang menggunakan pestisida secara tepat maka akan meningkatkan produksi usahataninya. Penghitungan pemakaian yang digunakan responden dalam penelitian ini adalah dalam satuan fisik.
5. Luas Lahan
Luas lahan pertanian yang digunakan untuk budidaya kakao merupakan penentu yang mempengaruhi produksi kakao. Secara umum semakin luas lahan yang digarap/ditanami, semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut. Ukuran lahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hektar (1 ha = 10 000 m2). Lahan yang diperhitungkan adalah lahan yang sudah menghasilkan.
6. Jumlah Tanaman menghasilkan
Jumlah tanaman menghasilkan sangat berpengaruh terhadap produksi, sehingga yang dijadikan responden adalah petani yang tanaman kakaonya telah menghasilkan. Dimana penghitungan yang digunakan adalah dalam satuan
fisik yang akan menentukan berapa produksi kakao dari total keseluruhan tanaman yang telah menghasilkan di kebun petani tersebut.
7. Pendidikan Petani
Pendidikan petani dikategorikan menjadi dua kelompok yang kemudian dijadikan sebagai variabel dummy dalam model. Kelompok pertama adalah petani berpendidikan SD dan tidak tamat SD (lama pendidikan ≤ 6 tahun) dan kelompok kedua adalah petani yang berpendidikan SD ke atas (lama pendidikan > 6 tahun). Asumsi dalam analisis bahwa pendidikan petani berpengaruh positif terhadap hasil produksi usahatani kakao. Artinya tingkat pendidikan petani yang lebih tinggi dari 6 tahun akan memberikan hasil produksi usahatani yang lebih besar dan variabel dummy-nya diberi bobot 1 (satu), sedangkan yang tamat SD ke bawah dibobot 0 (nol) karena diasumsikan memberikan hasil produksi usahatani yang lebih kecil.
6.4. Pengujian Fungsi Produksi Kakao
Model produksi Cobb-Douglas yang terbentuk terdiri dari enam variabel independen dan satu variabel dummy yang diduga mempengaruhi produksi kakao yaitu: tenaga kerja (X1), pupuk kandang (X2), pupuk kimia (X3), pestisida (X4), luas lahan (Z1), jumlah tanaman menghasilkan (Z2), dummy pendidikan petani (D1).
Bentuk fungsi produksi harus dapat menggambarkan dan mendekati keadaan yang sebenarnya, mudah diukur atau dihitung secara statistik serta dapat dengan mudah diartikan, khususnya arti ekonomi dari parameter yang menyusun fungsi produksi tersebut (Soekartawi et al, 1986). Model yang digunakan dalam analisis produksi kakao adalah fungsi produksi Cobb-Douglas. Persamaan fungsi produksi tersebut dalam banyak pengalaman menghasilkan hasil analisis yang lebih baik karena fungsi produksi usahatani umumnya mencakup lebih dari dua input dan masing-masing faktor atau input tersebut saling berhubungan.
Model ditransformasikan dalam bentuk logaritma natural (ln) atau bentuk double-log, untuk menaksir parameter-parameternya, sehingga menjadi bentuk linier berganda seperti pada Persamaan (6) Bab IV. Model kemudian dianalisis dengan analisis regresi berganda menggunakan metode OLS (Ordinary Least
Square). Pengolahan data dilakukan dengan bantuan program SAS 9.1. Pengujian parameter dilakukan pada taraf nyata pengujian 99 persen (α = 1 persen), taraf nyata 95 persen (α = 5 persen) dan taraf nyata 90 persen (α = 10 persen).
Berdasarkan pengujian secara statistik dengan uji-F terlihat bahwa model sudah sesuai, dengan P_value atau significance mendekati nol. Nilai P (0.0001) < α = 1 persen, artinya tolak Ho dimana minimal ada satu variabel independen yang berpengaruh nyata terhadap Y pada taraf nyata pengujian 99 persen. Hal ini menunjukkan bahwa model yang dibentuk sudah baik, terjadi hubungan yang logis dan benar antara variabel yang dijelaskan dengan variabel yang menjelaskan.
Hasil analisis regresi berganda dengan metode OLS terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kabupaten Padang Pariman diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) yang cukup tinggi yaitu 0.8627. Nilai koefisien tersebut berarti 86 persen keragaman dari produksi kakao (Y) dapat dijelaskan oleh faktor- faktor produksi (X dan Z ) dalam model, sedangkan 14 persen sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Nilai R2 – Adjusted sebesar 84.47 persen. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil pengujian model dengan uji-F adalah bahwa model yang dibuat dapat menjelaskan keragaman produksi kakaodi Kabupaten Padang Pariaman.
Pengujian statistik dilanjutkan dengan uji-t satu arah pada masing-masing variabel independen, untuk menguji faktor apa saja yang dapat menjelaskan atau berpengaruh nyata terhadap produksi kakao. Hasil pendugaan model fungsi produksi kakao seperti pada Tabel 13 memperlihatkan bahwa secara statistik ada enam variabel yang mempengaruhi produksi kakao secara signifikan. Variabel bebas tersebut empat diantaranya yaitu: tenaga kerja (X1), luas lahan (Z1), jumlah tanaman menghasilkan (Z2) dan dummy pendidikan petani (D1) berpengaruh sangat signifikan pada keragaman produksi kakao pada taraf nyata pengujian α = 1 persen. Satu variabel berpengaruh nyata pada taraf pengujian α = 5 persen pada keragaman produksi kakao, yaitu: Variabel pupuk kimia (X3). Dan satu variabel berpengaruh nyata pada taraf pengujian α = 10 persen pada keragaman produksi kakao, yaitu: pupuk kandang (X2). Terakhir pestisida (X4) tidak signifikan atau tidak berpengaruh nyata pada keragaman produksi kakao.
6.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kabupaten Padang Pariaman
Setelah dilakukan pengujian fungsi produksi diatas, maka terlihat bahwa fungsi produksi kakao di Kabupaten Padang Pariaman dengan faktor-faktor produksi yang mempengaruhinya dapat dipertanggungjawabkan dan tidak terjadi kesalahan spesifikasi. Model dapat digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi keragaman produksi kakao di Kabupaten Padang Pariman. Berikut ini hasil analisis pendugaan parameter model fungsi produksi kakao di Kabupaten Padang Pariman.
Tabel 13. Hasil Pendugaan Parameter Fungsi Produksi kakao di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2012
Variabel Bebas Parameter
Dugaan P_value (Significance) Konstanta 2.87041 0.00025 Tenaga Kerja(X1) 0.22383 0.00510 Pupuk Kandang (X2) 0.07876 0.08490 Pupuk Kimia (X3) 0.02331 0.03520 Pestisida (X4) -0.04257 0.26610 Luas Lahan (Z1) 0.30687 0.00040
Jumlah Tanaman Menghasilkan (Z2) 0.32128 0.00480
Dummy Pendidikan Petani (D1) 0.14948 0.00530
F – Hitung 55.62 0.00005
Koefisien Determinasi (R2) 0.8626
R2 –Adjusted 0.8471
Jumlah Sampel 70
Sumber: Data primer (diolah)
Nilai parameter dugaan juga merupakan nilai elastisitas produksi yang menunjukkan perubahan produksi akibat adanya perubahan pada input. Hasil pendugaan model fungsi produksi kakao memperlihatkan bahwa variabel tenaga kerja (X1) bertanda positif dan berpengaruh sangat signifikan pada keragaman produksi kakao pada taraf nyata pengujian α = 1 persen dengan nilai parameter dugaan 0.22. Artinya bahwa setiap penambahan tenaga kerja sebesar 1 persen, produksi kakao akan naik sebesar 0.22 persen, cateris paribus. Hal tersebut dimungkinkan, karena penggunaan tenaga kerja di daerah penelitian rata-rata 156 HOK per hektar per tahun. Seluruh responden yang disurvei mempekerjakan 2-3 orang tenaga kerja dari luar keluarga untuk kegiatan usahatani kakao dengan sistem upah harian sebesar Rp. 50.000,- per hari. Tenaga kerja upahan ini
digunakan untuk kegiatan pembersihan kebun dari rumput dan gulma. Penggunaan tenaga kerja terkait erat dengan jumlah produksi, semakin tinggi produksi maka jumlah hari kerja tenaga kerja akan ikut menyesuaikan. Meskipun batas penggunaan tenaga kerja yang optimal belum teridentifikasi.
Variable pupuk kandang (X2) peubahnya bertanda positif dan berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan nilai parameter dugaan 0.08. Artinya bahwa setiap pemberian pupuk kandang sebesar 1 persen, produksi kakao akan naik sebesar 0.08 persen, cateris paribus. Berdasarkan hasil survei di lokasi penelitian, pemberian pupuk kandang yang dilakukan petani rata-rata 64.54 kg per hektarnya. PPKKI (2006), penggunaan pupuk kandang secara teknis dapat meningkatkan ketersedian pupuk N, P dan K bagi tanaman. Tanaman kakao memerlukan pupuk kandang sebanyak 1000 kg per hektar. Dan pupuk kandang merupakan pupuk alternatif pelengkap atau pengganti pupuk kimia yang dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman yang berdampak kepada produksi. Sehingga sangat besar peluang untuk meningkatkan penggunaan pupuk agar produksi kakao meningkat. Pupuk kandang ini tersedia di lahan petani, karena pada umumnya petani memiliki usaha peternakan seperti sapi, kambing atau ayam. Hanya saja petani tidak mengetahui kebutuhan tanaman kakao terhadap pupuk kandang.
Pupuk kimia (X3) bertanda posotif dan berpengaruh nyata pada α = 5 persen dengan nilai parameter dugaan 0.02. Artinya secara parsial penggunaan pupuk kimia sebanyak 1 persen dalam pemeliharaan akan meningkatkan produksi sebesar 0.02 persen. Berdasarkan hasil survei di lokasi penelitian, hanya 48.57 persen petani yang menggunakan pupuk kimia dan jumlah pupuk yang digunakan pun relatif sedikit. Pemberian pupuk kimia yang dilakukan petani ratarata hanya 47.21 kg per hektarnya. Pupuk kimia yang digunakan oleh petani di daerah penelitian adalah NPK. PPKKI (2006), dosis penggunaan pupuk NPK untuk tanaman kakao yang berumur diatas empat tahun adalah 250 kg per hektar. Pupuk kimia yang di gunakan petani masih jauh di bawah dosis anjuran, hal ini disebabakan petani kekurangan modal untuk membeli pupuk kimia tersebut.
Luas lahan (Z1) bertanda positif dan berpengaruh nyata terhadap produksi kakao pada taraf kepercayaan 99 persen (α = 1 persen) dengan nilai parameter dugaan sebesar 0.31 yang berarti penambahan luas lahan 1 persen akan
meningkatkan produksi kakao sebesar 0.31 persen. Hal ini memungkinkan karena dengan penambahan luas lahan maka populasi kakao akan bertambah dan produksi akan meningkat.
Jumlah tanaman menghasilkan (Z2) bertanda positif dan berpengaruh nyata pada α = 1 persen dengan nilai parameter dugaan 0.32 Artinya setiap penambahan jumlah tanaman menghasilkan sebanyak 1 persen maka produksi kakao akan meningkat 0.32 persen, cateris paribus. Jumlah tanaman menghasilkan secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh cara tanam yang dilakukan petani, apakah dengan cara monokultur atau tumpang sari. Rata-rata populasi pohon per hektar di lokasi penelitian adalah sebesar 671 batang.
Dummy pendidikan petani (D1), berpengaruh nyata pada α = 1 persen dengan nilai parameter dugaan 0.15. Hal ini berarti terdapat perdaan hasil produksi yang nyata antara kelompok petani yang berpendidikan SMP ke atas dengan petani yang berpendidikan hanya sampai SD atau tidak tamat SD. Artinya jumlah produksi petani yang berpendidikan SMP ke atas lebih banyak dari pada petani yang berpendidikan SD.
VII. Analisis Pemasaran Kakao di Kabupaten Padang Pariaman
Pemasaran produk pertanian dimulai saat petani merencanakan produknya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Setelah panen, produk pertanian tidak selamanya langsung dapat dikonsumsi oleh konsumen sehingga dibutuhkan sarana tranportasi untuk membawa ke pasar. Dengan demikian, untuk membawanya dibutuhkan lembaga pemasaran yang akan memindahkan hasil pertanian dari pusat produksi ke tempat pengolahan dan ke pusat konsumen.
Disamping itu, produk pertanian khususnya produk subsektor perkebunan biasanya sebelum dikonsumsi, akan mendapatkan beberapa perlakuan sebelum produk tersebut dapat dikonsumsi. Demikian juga dengan kakao, juga harus mendapatkan perlakuan-perlakuan sebelum di antar ke pasar dan dinikmati konsumen.