• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Program tvOne

Dalam dokumen PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP IKLAN POLITI (Halaman 75-90)

F. Definisi Konsep

3. Karakteristik Program tvOne

Karakteristik program tvOne lebih menekankan pada acara berita dan selebihnya adalah acara olahraga dan hiburan dengan komposisi 70% berita, sisanya gabungan program olahraga dan hiburan. tvOne memiliki program-program yang menjadi unggulan yaitu; Kabar Pagi, Apa Kabar Indonesia Pagi, Apa Kabar Indonesia Malam, Kabar 9, Kabar Siang, Kabar 15, Kabar Petang, Kabar malam, Kabar Pasar, dan Kabar Terkini. Selain memiliki program-program unggulan di atas, tvOne juga memiliki program yang bernuansa religi Islam seperti “Jejak Islam” dan “Damai Indonesiaku”, juga memiliki Program yang bernuansa petualangan seperti “Backpacker” dan “Nuansa 1000 Pulau”. Dan acara-acara lainnya yang bersifat reality, Info, Talkshow, Entertainment dan Sport.

Televisi TV One

Penyampaian pesan dalam iklan politik di TV dapat menggunakan berbagai macam tehnik. Devlin (Brian Mcnair, 1999) menyebutkan ada delapan kategori, meskipun tidak saling meniadakan. Pertama, iklan primitive, biasanya artificial, kaku, dan tampak dibuat-buat. Kedua, talking heads, dirancang untuk menyoroti isu dan menyampaikan citra bahwa kandidat mampu menangani isu tersebut dan melakukan pekerjaannya nanti. Berikutnya adalah iklan negative, yang menyerang kebijakan kandidat atau partai lawan. Iklan politik di tv jenis keempat adalah iklan konsep, yang dirancang untuk menggambarkan ide-ide dasar dan penting mengenai kandidat. Kelima adalah cinema-verite, tehnik yang menggunakan situasi informal dan alami, misalnya dengan menayangkan kandidat yang sedang berbicara akrab dan spontan dengan rakyat kecil atau satu sisi kehidupan pribadi atau keluarganya atau dunia pekerjaannya. Meskipun bertujuan memberikan kesan spontanitas dan informalitas, iklan semacam itu juga sering berdasarkan naskah (scenario) dan latihan.

Dua jenis iklan politik lainnya adalah kesaksian (testimonial), baik dari orang biasa, maupun dari tokoh terkemuka yang dikagumi, baik dari tokoh politik, ilmuwan, olahragawan mau pun artis. Terakhir adalah format reporter netral, rangkaian laporan mengenai kandidat atau lawannya dan memberikan kesempatan kepada pemirsa untuk memberikan penilaian. Tayangan itu tentu saja

dan iklan negatif. Iklan positif adalah iklan yang memuat keunggulan dari sebuah kontestan yang dipasarkan. dan iklan negatif adalah iklan tentang kelemahan pesaing.

Dalam penelitian ini, penulis menganalisis iklan Politik Aburizal Bakrie pada Media Televisi TV One. Berikut merupakan iklan yang penulis analisis. 1. Iklan ARB tentang Motivasi untuk Anak Indonesia

Dalam iklan politik Aburizal Bakrie (ARB) pada Media Televisi TV One yang mengambil tema tentang motivasi untuk anak Indonesia, ARB tampil dengan semangat motivator dihadapan siswa-siswi. ARB mengajak secara langsung kelompok pelajar untuk meningkatkan kreatifitas dan inovasi demi memajukan Bangsa Indonesia. Melalui Iklan, ARB bercerita bahwa

keputusan. Iklan ini sangat asertif dan berhasil menyentuh kaum pelajar, Di mana mereka meerupakan pemilih pemula yang berusia 17-21 tahun dan diperkirakan berjumlah 29,2 juta pada pemilu 2014. Dalam konteks ini, bagi pemilih pemula, iklan ARB memperlihatkan sebuah pesan yang tidak lagi offensif, tetapi lugas, dan bertanggung jawab.

Pemilih pemula cenderung mencari figur yang menjanjikan masa depan dan mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Iklan-iklan ARB mampu memberikan satu spirit dan keyakinan bagi para pemilih pemula untuk menyadari bahwa masa depan bangsa dan negara ditentukan oleh anak anak muda. Senyum dan gaya komunikasi ARB menjadi pecut motivasi bagi para pelajar untuk melakukan hal yang serupa bahkan melakukan lompatan-lompatan melampaui figur yang dicontohkan oleh ARB itu sendiri.

Berdasarkan tema iklan mengenai ARB yang memberikan motivasi kepada para pelajar di Indonesia untuk siap menjadi seorang wirausaha, berdasarkan persepsi mahasiswa Komunikasi Non Reguler Tahun 2011 – 2013, yaitu Dwiko Pandu adalah sebagai berikut:

“Menurut saya iklan ARB yang memberikan motivasi kepada para pelajar Indonesia cukup baik, sebab dalam iklan tersebut ARB, memberikan contoh dan bukti konkrit bahwa kalau kita sebagai pelajar harus mampu dan memiliki kreativitas agar dapat menjadi orang yang sukses”

luar biasa, di mana kita sebagai generasi muda harus berani bermimpi, berani bertindak”.

Persepsi yang disampaikan oleh Topan mengenai iklan politik ARB yang bertema pesan untuk anak Indonesia menyatakan bahwa:

”Iklan ARB untuk versi ini cukup baik, dalam hal ini ARB menjadi motivator atau penyemangat bagi para pelajar di Indonesia untuk maju dan berani bermimpi yang tinggi, hal tersebut dimaksudkan agar anak-anak Indonesia menjadi generasi yang kreatif dan tegas dalam bertindak”

Iklan politik di media televisi memiliki kemampuan menggabungkan pesan verbal dan nonverbal dalam format audio-visual. Melalui televisi, apa rangkaian gambar dan audio. Setiap individu yang melihat iklan akan menginterpretasikan iklan tersebut sesuai dengan pandangan mereka sehingga menimbulkan emosi tertentu. Pandangan tersebut adalah persepsi. Menurut Lazarfeld et al (dalam Brader, 2006), semua jenis propaganda pada dasarnya adalah permainan emosi publik. Baden (dalam Brader, 2006) menambahkan bahwa iklan politik pada intinya lebih ditujukan untuk menggugah aspek emosional dibanding intelektual. Dan dalam masyarakat Asia, seperti dikemukakan oleh Kaid (2006: 451), iklan dengan nuansa emosional yang menggunakan bahasa dan gambar yang membangkitkan perasaan atau emosi tertentu, seperti rasa gembira, patriotisme, kemarahan atau kebanggaan lebih disukai dan efektif.

biasa saja, sebab dalam iklan tersebut berbeda dengan kenyataan yang terjadi saat ini, di mana para pelajar yang sudah lulus sekolah susah untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam hal ini pemerintah kurang menyediakan lapangan pekerjaan bagi para generasi muda”.

Hal yang sama diungkapkan oleh Azam yang menyatakan bahwa: “Menurut saya iklan tersebut cukup bagus, tapi saya tidak yakin bahwa seandainya nanti ARB jadi Presiden mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi para kaum muda, sebab selama ini pemerintahan, siapapun yang memimpinnya kenyataannya ya begini-begini saja”.

Berdasarkan persepsi para mahasiswa UNS tersebut dapat dikemukakan bahwa iklan politik ARB versi pesan untuk anak Indonesia merupakan bagian dari komunikasi politik. Komunikasi politik menurut Susanto sebagaimana dikutip dalam Suraya (2014: 35) dipahami sebagai “komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini, dapat mengikat semua warganya melalui suatu sanksi yang ditentukan bersama”. Komunikasi yang dilakukan oleh calon presiden merupakan bentuk komunikasi politik yang dilakukan untuk mencapai tujuannya. Tujuan spesifik komunikasi politik ini adalah untuk menciptakan pengetahuan, pengertian dan pemahaman atas sosok calon presiden sebagai sosok pemimpin muda yang layak memimpin Indonesia. Sebagai sosok yang mencalonkan diri dalam Pilpres 2014, kredibilitas serta citra positif merupakan dua hal mutlak yang dapat “dijual” kepada publik.

tidak memberikan gambaran langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan oleh para pelajar dalam meraih mimpi-mimpinya, hal tersebut juga bertentangan dengan kondisi Indonesia saat ini, dimana pemerintah kurang menyediakan lapangan pekerjaan bagi para remaja”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa persepsi yang diberikan oleh mahasiswa Komunikasi Non Reguler Tahun 2011 – 2013 mengenai iklan politik ARB tentang motivasi kepada anak Indonesia, mahasiswa menilai bagus dan kreatif, tetapi para responden apatis apakah janji ARB ketika menjadi Presiden mampu menyediakan lapangan pekerjaan atau tidak.

Sedangkan menurut persepsi Argo iklan politik ARB versi pesan untuk anak Indonesia menyatakan bahwa:

”Dalam iklan tersebut menurut saya, pesan yang ingin disampaikan oleh ARB adalah sosok ARB memiliki kompetensi yang baik, berani mengambil risiko, inovatif dan mampu memberi inspirasi kepada masyarakat secara luas”.

Hal tersebut sesuai dengan persepsi yang disampaikan oleh Yusuf mengenai iklan ARB versi pesan untuk anak Indonesia, yang menyatakan bahwa:

“Menurut saya iklan tersebut cukup kreatif, di mana dalam iklan ARB tersebut mencoba memberikan inspirasi kepada para kaum muda untuk berpikir dan berani dalam menggapai mimpi-mimpinya. Dalam hal ini pesan yang ingin dimunculkan adalah sosok ARB yang merupakan pengusaha sukses dan merupakan figur seorang pemimpin yang kompeten dan inovatif”.

pemimpin yang efektif harus dipercaya oleh pengikutnya dan dilibatkan dalam visinya. Organisasi memerlukan pemimpin yang kuat sekaligus berkarakter baik, yang bisa dipercaya dan yang akan memimpin mereka menuju masa depan.

Karakter pemimpin masa depan yang baik adalah : (1) Jujur, seorang pemimpin yang baik menunjukan ketulusan, integritas dan keterbukaan dalam setiap tindakannya. (2) Kompeten. Tindakan seorang pemimpin haruslah berdasarkan penalaran dan prinsip moral. (3) Berpandangan ke depan dan menetapkan tujuan. Ia mengetahui apa yang diinginklan dan bagaimana cara mendapatkannya, karena itu biasanya ia menetapkan prioritas berdasarkan nilai moral yang dimilikinya. (4) Memberi inspirasi. Seorang pemimpin harus menunjukan rasa percaya diri, ketahanan mental, fisik dan spiritual. (5) Cerdas. Pemimpin memiliki kemauan terus belajar, membaca dan mengerjakan tugas yang menantang kemampuannya. (6) Berpikiran adil. Pemimpin memperlakukan seua orang dengan adil dan menunjukan empatinya. (7) Berpikiran luas. Pemimpin mau menerima segala perbedaan. (8) Berani. Seorang pemimpin berani dalam mengambil keputusan dan menjalankan usahanya untuk mencapai tujuan. (9) Tegas. Mengambil keputusan dengan tegas. (10) Imajinatif. Pemimpin memiliki kreativitas dan

ARB versi pesan untuk anak Indoensia menyatakan:

“Pada dasarnya semua iklan politik ARB dalam versi pesan untuk anak Indonesia sebenarnya ingin menonjolkan bahwa ARB adalah sosok calon presiden yang memiliki sikap peduli, merakyat dan murah hati serta mampu mengayomi masyarakatnya”.

Aburizal Bakrie yang sudah memplokamirkan diri untuk maju sebagai calon presiden dengan dukungan Partai Golkar menggunakan komunikasi politik “njawani” untuk menaikkan elektabilitas dan popularitasnya. Tidak tanggung-tanggung, Aburizal Bakrie yang selama ini dikenal dengan panggilan akrabnya “Ical” terpaksa harus mengganti nama panggilannya dengan singkatan ARB. Alasannya terkesan sepele namun cukup fundamental karena kata “Ical” bila dalam bahasa Jawa berarti hilang atau musnah. Karena itu melalu kampanye di berbagai media massa (cetak,elektronik maupun online) identitas Aburizal Bakrie disebut dengan ARB yang tidak lain merupakan akronim dari namanya sendiri. ARB menjadi identitas baru Aburizal Bakrie untuk memudahkan diingat serta menghindari pemaknaan yang negatif terutama dalam budaya Jawa. ARB juga mencitrakan diri sebagai sosok pemimpin yang “benevolence”, yakni punya sikap peduli, merakyat dan murah hati serta mampu mengayomi masyarakatnya.

pemimpin yang mengunjungi masyarakat bawah. 2. Iklan Politik ARB Menyapa Petani

Dalam iklan politik yang bertema ARB menyapa petani tersebut digambarkan bahwa ARB sedang melakukan dialog dengan para petani di wilayah Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah dan menanyakan kepada petani mengenai harga gabah, “Sekarang itu harga gabah kering giling itu piro?”. ARB juga menjelaskan bahwa para petani merupakan pahlawan bangsa. Karena kalau tidak ada petani, kita mau makan nasi dari mana.

Dalam kesempatan itu ARB berjanji kepada para petani bahwa anak-anak petani ke depannya harus sekolah paling tidak sampai lulus kelas III SMA, dan menjanjikan bahwa pendidikan untuk sekolah dasar sampai

“Oo kalau itu sih tampak jelas ya kalau dilihat dari iklannya itu yang saya lihat yang petani itu dia berusaha agar petani itu hidup lebih sejahtera daripada sekarang ini. Mungkin dirasakan bahwa kehidupan petani, buruh, pokoknya warga yang dengan pendapatan yang bisa dikatakan menengah kebawah itu mungkin sekarang itu menderita lah. Ya kalau saya lihat sih disitu nampak bahwa dia itu kelihatan gimana ya...wibawa trus dia bisa ngayomi masyarakkkat kecil, dia berusaha agar rakyat kecil itu mendapatkan secercah harapan gitu mas. Kalau dia itu bisa memimpin mungkin rakyat kecil itu lebih diperhatikan daripada sekarang ini”.

Sedangkan pendapat yang dikemukakan oleh Citra menyatakan bahwa:

“Sebenernya cukup jelas mau memajukan kalangan petani itu kan karena yang kita tahu indonesia itu juga kan negara agraris kan sebelumnya.sebenernya jelas cuman kalo orang yg ngerti mungkin cukup jelas menangkapnya kalo cuma sbenernya target dia ke petani dia iklaninya kayak gitu juga mungkin agak kurang jelas gitu ya buat mereka”

Sedangkan menurut Topan kaitannya dengan iklan ARB tentang menyapa petani menyatakan bahwa:

“Kalo menurut saya isi iklanya kena juga..soalnya dia ini,,ingin menigkatkan produktifitas pertanian indonesia,,diklanya itu kan petani diangkat dalm iklan itucm ya benar jga dia ..,mewakili juga,,soalnya kan diindonesia barang pangan pokok itu kan,,kadang stabil kadang gak cm kan lebih banyak gak stabilnya gt kan.nah akan lebih baiknya mungkin dia akan berpikir misalnya Indonesi lebih meajukan perekonomian dari segi pertanian,, ya menurut sya kena juga,,gmna ya,,indonesia kan negara agraris jd perlu ditingkatkan jg kyk dulu kan juga pernah menjadi swasembada beras.. sampe2 kita melakukan sumbangan keluar..nah mungkin si arb pgn melakukan hal yang sama seperti itu”.

mengangkat eee para petani kita yang seharusnya itu,ya emang harus untuk diperhatikan mas dan para nelayan yang harus eee diperhatikan juga kesejahteraannya”

Sedangkan menurut Argo menyatakan bahwa:

“Eeee klo menurut saya eee komunikasi yang dilakukan arb cukup lumayan baik dalam artian gini mas dia menunjukkan eeee pola komunikasi dengan sajian audio visual dalam artian gambar2 dia mendukung dan dia memilih eeee objeknya tu sebagai petani dia mau kan dari partai golkar ya mas eee dia mau merangkul kaum menengah ke bawah dalam arti eee kaum2 yang kanayk petani,kaum2 menengahlah itu dia angkat itu menurut saya juga eee pasti sangat berpengaruh terlebih untuk ini para petani atau enggak rakyat2 yang masuk dalam objek2 dalam iklannya dia”.

Sedangkan menurut Bahtiar menyatakan bahwa:

“Kalo menurut pandangan saya, terkait dengan in, kebetulan yang saya angkat yg petani, di iklan itu kan beliau bener-bener merangkul kalangan konomi bawah,, seperti kayak dulu ya pas jaman pak harto yang focus terhadapan pangan, petani,, jadi mengisyaratkan bahwasanya dia itu pengen mengembalikan kejayaan para petani,,jadi fokusnya itu lebih rakyat kcil gt lo,,kayak kakeknya,,itu pak harto hee”.

Berdasarkan pendapat para responden terhadap iklan ARB yang mengusung tema tentang pertanian, masing-masing responden memberikan pandangan terhadap persepsi yang baik dengan visi dan misi dari ARB untuk memajukan dan mengangkat kesejahteraan kaum petani.

Dari hasil pengamatan, kecenderungan yang partisipan terutama kalangan mahasiswa masih mencari informasi yang detail mengenai visi dan misi serta latar belakang atau figur Capres. Partisipan dari kalangan mahasiswa memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai pengaruh iklan

informasi lain dari sumber yang berbeda. Para mahasiswa berpendapat bahwa pesan dalam iklan itu tidak sepenuhnya dapat dipercaya.

Dari sisi konten, Setiyono (2008: 51-52) berpendapat seharusnya iklan politik baik di televisi maupun media lain lebih berorientasi pada isu atau program yang dijanjikan para politikus. Iklan politik juga seharusnya memuat visi dan misi yang bisa dijadikan dasar pijakan bagi pemilih untuk menentukan pilihan. Iklan politik ARB versi “ARB Menyapa Petani” nampaknya memenuhi kriteria yang diajukan oleh Setiyono. Kemiskinan menjadi isu yang diangkat oleh ARB dengan memberikan janji akan memperbaiki perekonomian Indonesia, khususnya para petani.

Dari kalangan mahasiswa UNS, berpendapat bahwa iklan ARB menarik dan berbobot karena dari isu permasalahan dan janji-janji yang disampaikan dalam iklan, pemilih jadi mengetahui apa yang akan dilakukan oleh ARB jika terpilih sebagai presiden. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Fadil. Fadil mengatakan:

“ee.. iklan itu, kalo yang iklan ini menurut saya menarik sih. Kalo untuk ukuran ee,, masyarakat-masyarakat ee.. yang mungkin dalam iklan ini termuat. Maksudnya kalau di situ tadi ada petani, ARB memberikan janji bahwa akan mengangkat kehidupan petan, karena petani adalah pahlawan bangsai. Oleh karena itu iklan ini cukup mengena. Dalam iklan tersebut ARB memberikan janji untuk sekolah gratis dari SD sampai SMA.

sekolah gratis dan lain-lain, dan itupun gak cuma dia yang menawarakan semua capres menawarkan, jangankan semua capres, presiden yang dulupun juga menaawarkan seperti itu, tapi realisasinya kan juga gak pernah ada”

Yusuf dalam mempersepsikan iklan politik ARB versi ARB Menyapa Petani menyatakan bahwa:

“Menurut saya iklan tersebut adalah merupakan pencitraan ARB sebagai capres, di mana dalam iklan tersebut menunjukkan kedekatan ARB dengan masyarakat bawah, khususnya para petani, dan berusaha menunjukkan kepada public bahwa ARB sangat peduli terhadap nasib para petani”.

Citra merupakan gambaran yang dimiliki masyarakat tentang seorang kandidat. Setiap kandidat memiliki citra tersendiri di masyarakat dan lingkungannya. Citra yang diinginkan merupakan gambaran yang hendak ditanamkan dalam benak masing-masing konstituen melalui serangkaian kegiatan tertentu yang dilakukan di depan umum didasarkan pada tema-tema tertentu yang berkaitan dengan kepentingan public. Kegiatan iklan politik yang dilakukan oleh ARB berupaya mencitrakan diri sebagai pemimpin yang peduli kepada rakyat kecil, seperti konsep iklan politik versi “ARB Menyapa Petani” yang dilakukannya bersama para petani.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nur Kholisoh (2014: 61) menyatakan bahwa hasil survei yang dilakukan oleh Litbang KOMPAS menunjukkan bahwa pencitraan yang dilakukan oleh Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai Golkar selama ini ternyata mampu meningkatkan

dikomunikasikan oleh Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai Golkar melalui program-program partai yang pro-rakyat mampu menumbuhkan citra positif di masyarakat terhadap partai politik yang dipimpinnya, namun tidak demikian halnya dengan pencitraan terhadap pribadinya sebagai seorang pemimpin.

Menurut hasil penelitian Nur Kholisoh (2014: 61) berbagai kampanye politik yang dilakukan oleh kandidat calon presiden dalam upaya mengkomunikasikan program-program yang dicanangkannya, tidak akan berhasil membentuk citra positif di benak masyarakat tanpa diimbangi dengan sikap kepemimpinan yang dibutuhkan dan diharapkan oleh masyarakat. Saat ini masyarakat Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang tidak hanya pandai dan memiliki kemampuan manajerial yang baik, tetapi juga mampu melayani masyarakat dengan hati dan memiliki integritas yang tinggi sebagai seorang pemimpin.

Selain itu, rakyat Indonesia juga membutuhkan seorang pemimpin yang efektif dan responsif. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpinnya. Untuk itu diperlukan adanya kearifan lokal yaitu spirit local genius yang disepadankan maknanya dengan pengetahuan, kecerdikan, kepandaian,

Dalam dokumen PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP IKLAN POLITI (Halaman 75-90)

Dokumen terkait