HASIL PENELITIAN
4.2. Analisa Univariat
4.2.1. Karakteristik Responden
Karakteristik individu responden dalam penelitian ini meliputi umur, pendidikan, lama bekerja, penghasilan, pengetahuan dan sikap. Untuk menganalisis umur, pendidikan, lama bekerja, dan penghasilan masing-masing menggunakan satu
lxxxvi pertanyaan sedangkan untuk pengetahuan dan sikap masing-masing menggunakan 20 pertanyaan.
Pada Tabel 4.1 diketahui bahwa umur responden dibagi kedalam lima kelompok, untuk umur pada kelompok umur < 25 tahun terdapat sebanyak 10,4% (5 orang), kelompok umur 26-35 tahun sebanyak 12,5% (6 orang), umur 36-45 tahun terdapat sebanyak 25,0% (12 orang), kelompok umur 46-55 tahun terdapat sebanyak 31,3% (15 orang), dan kelompok umur > 56 tahun terdapat sebanyak 20,8% (10 orang).
Tabel 4.1. Distribusi Umur Bidan Praktik Swasta di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2011
No Kelompok Umur Jumlah (orang) Persentase (%)
1 < 25 Tahun 5 10,4 2 26-35 Tahun 6 12,5 3 36-45 Tahun 12 25,0 4 46-55 Tahun 15 31,3 5 > 56 Tahun 10 20,8 Total 48 100,0
Pada Tabel 4.2 diketahui bahwa pendidikan responden dibagi kedalam empat kelompok, pada kelompok pendidikan S1 terdapat sebanyak 2 orang (4,2%), kelompok pendidikan D4 sebanyak 8 orang (16,7%), kelompok pendidikan D3 terdapat sebanyak 33 orang (68,8%), dan kelompok pendidikan D1 terdapat sebanyak 5 orang (10,4%).
lxxxvii
Tabel 4.2. Distribusi Pendidikan Bidan Praktik Swasta di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2011
No Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1. S1 2 4,2
2. D IV 8 16,7
3. D III 33 68,8
4. D 1 5 10,4
Total 48 100,0
Pada Tabel 4.3 diketahui bahwa lama kerja responden dibagi kedalam dua kelompok, pada kelompok ≥ 5 tahun terdapat sebanyak 31 orang (64,6%), dan kelompok lama kerja < 5 tahun sebanyak 17 orang (35,4%).
Tabel 4.3. Distribusi Lama Kerja Bidan Praktik Swasta di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2011
No Lama Kerja Jumlah (orang) Persentase (%)
1. ≥ 5 Tahun 31 64,6
2. < 5 Tahun 17 35,4
Total 48 100,0
Pada Tabel 4.4 diketahui bahwa penghasilan responden dibagi kedalam empat kelompok, diketahui sebanyak 20 orang (%) memiliki penghasilan 1 juta - 2,5 juta, sebanyak 23 orang (%) memiliki penghasilan 2,5 juta - 5 juta, sebanyak 3 orang (%) memiliki penghasilan 5 juta – 7,5 juta, dan sebanyak 2 orang (%) memiliki penghasilan 7,5 juta - 10 juta.
lxxxviii
Tabel 4.4. Distribusi Penghasilan Bidan Praktik Swasta di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2011
No Penghasilan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 1 - 2,5 Juta 20 41,7
2 2,5 – 5 Juta 23 47,9
3 5 – 7,5 Juta 3 6,3
4 7,5 – 10 Juta 2 4,2
Total 48 100,0
Pengetahuan responden dianalisis dianalisi berdasarkan dari 20 pernyataan dengan pilihan jawaban ya dan tidak. Tabel 4.5 menunjukkan bahwa jawaban yang diberikan oleh bidan sangat bervariasi. Pengetahuan bidan yang baik yakni dilihat dari bidan yang mayoritas menjawab ya, dan pengetahuan bidan kurang dilihat dari bidan yang mayoritas menjawab tidak. Bidan yang mayoritas menjawab ya dapat dilihat pada pertanyaan - pertanyaan berikut; ASI eksklusif berarti pemberian air susu ibu kepada bayi tanpa tambahan apapun, sebanyak 48 orang (100,0%) menjawab ya. Dalam ASI terdapat zat antibodi yang dapat melindungi bayi dari penyakit, sebanyak 29 orang (60,4%). Bayi yang diberi makanan susu formula lebih sering sakit infeksi saluran pernafasan, sebanyak 36 orang (75,0%) menyatakan ya. Tanpa pemberian makanan tambahan bayi tetap akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sebanyak 35 orang (72,9%) menyatakan ya. Bakteria berbahaya sering terdapat pada botol apalagi setiap memberi susu formula selalu harus direbus terlebih dahulu, sebanyak 38 orang (79,2%) menyatakan ya. Susu Formula diberikan hanya jika ibu tidak memungkinkan secara medis untuk menyusui sendiri, sebanyak 29 orang (60,4%) menyatakan ya.
lxxxix Bidan yang mayoritas menjawab tidak dapat dilihat pada pertanyaan - pertanyaan berikut; Bayi yang diberi susu formula terlalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi, sebanyak 35 orang (72,9%) menjawab tidak. Susu formula tidak mengandung vitamin yang cukup untuk bayi, sebanyak 38 orang (79,2%) menjawab tidak. Kandungan zat gizi dalam ASI mencukupi kebutuhan bayi hingga umur 6 bulan, sebanyak 28 orang (58,3%) menjawab tidak. Bayi yang diberi makanan susu formula lebih sering sakit diare, sebanyak 27 orang (56,2%) menyatakan tidak. Susu formula lebih sulit dicerna karena tidak mengandung enzim lipase untuk mencerna lemak, sebanyak 27 orang (56,2%) menyatakan tidak. Lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5. Distribusi Indikator Pengetahuan Bidan Praktik Swasta tentang Pemberian Susu Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2011
No Indikator Pengetahuan Ya Tidak
n % n %
1 ASI eksklusif berarti pemberian hanya Air Susu Ibu (ASI) hingga usia 6 bulan tanpa tambahan apapun.
48 100,0 0 0,0
2 Bayi yang diberi susu formula telalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi.
13 27,1 35 72,9
3 Susu formula tidak mengandung vitamin yang cukup untuk bayi.
10 20,8 38 79,2
4 Kandungan zat gizi dalam ASI mencukupi kebutuhan bayi hingga umur 6 bulan.
20 41,7 28 58,3
5 Dalam ASI terdapat zat antibodi yang dapat melindungi bayi dari penyakit
29 60,4 19 39,6
6 ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi sampai umur 6 bulan.
26 54,2 22 45,8
7 Memberikan susu formula sebagai bagian dari pemborosan keluarga
xc
Tabel 4.5. Lanjutan
8 ASI eksklusif berperan untuk meningkatkan kecerdasan bayi.
23 47,9 25 52,1
9 Pemberian ASI eksklusif berguna untuk menjarangkan kehamilan.
22 45,8 26 54,2
10 Bayi yang diberi makanan susu formula lebih sering sakit diare.
21 43,8 27 56,2
11 Bayi yang diberi makanan susu formula lebih sering sakit infeksi saluran pernafasan.
36 75,0 12 25,0
12 Tanpa pemberian makanan tambahan bayi tetap akan tumbuh dan berkembang dengan baik
35 72,9 13 27,1
13 Bakteria berbahaya sering terdapat pada botol apalagi setiap memberi susu formula selalu harus direbus
38 79,2 10 20,8
14 Bila seorang ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya mempunyai kecenderungan yang lebih besar terkena kanker payudara.
28 58,3 20 41,7
15 Susu Formula diberikan hanya jika ibu tidak memungkinkan secara medis untuk menyusui sendiri
29 60,4 19 39,6
16 Zat besi pada susu formula tidak diserap sempurna seperti zat besi dari ASI
26 54,2 22 45,8
17 Susu formula mengandung garam terlalu banyak yang kadang-kadang menyebabkan hipernatremia (terlalu banyak garam dalam tubuh) dan kejang, terutama bila anak terkena diare.
23 47,9 25 52,1
18 Susu formula mengandung lebih banyak asam lemak jenuh dibandingkan ASI.
23 47,9 25 52,1
19 Susu formula mengandung terlalu banyak protein kasein 22 45,8 26 54,2 20 Susu formula lebih sulit dicerna karena tidak mengandung
enzim lipase untuk mencerna lemak.
21 43,8 27 56,2
Sikap responden dianalisis berdasarkan dari 20 pernyataan dengan pilihan jawaban sangat setuju, setuju dan tidak setuju. Dari Tabel 4.6 diketahui bidan yang mayoritas menjawab sangat setuju terhadap pemberian susu formula dapat dilihat
xci pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Sarana pelayanan kesehatan memiliki kebijakan tentang peningkatan pemberian ASI secara tertulis, sebanyak 24 orang (50,0%). Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui sejak masa kehamilan, sebanyak 22 orang (54,8%). Tidak memberikan susu formula apapun selain ASI kepada bayi baru lahir kecuali atas indikasi medis, sebanyak 24 orang (50,0%). Bayi yang berumur 0-6 bulan akan tumbuh dan berkembang dengan sehat tanpa susu formula, sebanyak 24 orang (50,0%). Bayi yang diberi susu formula telalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi, sebanyak 25 orang (52,1%).
Bidan yang mayoritas menjawab setuju terhadap pemberian susu formula dapat dilihat pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Menanyakan kepada keluarga pasien untuk memberikan susu formula kepada bayinya sebanyak 28 orang (58,3%). Mempromosikan susu formula merupakan melanggar aturan, sebanyak 28 orang (58,3%) menyatakan setuju. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui hingga anak berusia 6 bulan, sebanyak 29 orang (60,4%) menyatakan setuju. Membantu ibu menyusui semau bayi, tanpa batasan terhadap lama waktu dan frekuensi, sebanyak 28 orang (58,3%) menyatakan setuju. Susu Formula diberikan hanya jika ibu tidak memungkinkan secara medis untuk menyusui sendiri, sebanyak 28 orang (58,3%) menyatakan setuju.
Bidan yang mayoritas menjawab tidak setuju terhadap pemberian susu formula dapat dilihat pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Menanyakan kepada keluarga pasien untuk memberikan susu formula kepada bayinya, 10 orang (20,8%) menyatakan tidak setuju. Membantu ibu bagaimana cara mempertahankan menyusui
xcii meskipun ibu dipisahkan dari bayi atas indikasi medis, sebanyak 9 orang (18,8%) menyatakan tidak setuju. Susu Formula diberikan hanya jika ibu tidak memungkinkan secara medis untuk menyusui sendiri, sebanyak 9 orang (18,8%) menyatakan tidak setuju. Secara rinci ditunjukkan pada Tabel 4.6. berikut :
Tabel 4.6. Distribusi Berdasarkan Sikap Bidan Praktik Swasta tentang Pemberian Susu Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2011
No SIKAP SS S TS
n % n % n %
1 Menanyakan kepada keluaga pasien untuk memberikan susu formula pada bayinya
10 20,8 28 58,3 10 20,8 2 Mempromosikan susu formula untuk bayi usia 0-6
bulan merupakan hal yang melanggar peraturan
16 33,3 28 58,3 4 8,3 3 Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan
PP-ASI secara tertulis.
24 50,0 18 37,5 6 12,5 4 Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan
PP-ASI yang dikomunikasikan kepada petugas.
20 41,7 21 43,8 7 14,6 5 Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang
manfaat menyusui sejak masa kehamilan.
22 54,8 21 43,8 5 10,4 6 Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang
manfaat menyusui hingga anak berusia 6 bulan.
12 25,0 29 60,4 7 14,6 7 Membantu ibu mulai menyusui baginya segera
setelah melahirkan, yang dilakukan diruang bersalin namun jika ibu melahirkan dengan operasi Caesar
17 35,4 27 56,3 4 8,3
8 Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar. 23 47,9 20 41,7 5 10,4 9 Membantu ibu bagaimana cara mempertahankan
menyusi meskipun ibu dipisahkan dari bayi atas indikasi medis.
19 39,6 20 41,7 9 18,8
10 Tidak memberikan susu formula apapun selain ASI kepada bayi baru lahir kecuali atas indikasi medis.
24 50,0 22 45,8 2 4,2 11 Membantu ibu menyusui semau bayi, tanpa batasan
terhadap lama waktu dan frekuensi.
11 22,9 28 58,3 9 18,8 12 Tidak memberikan dot atau kempeng bayi kepada
bayi yang diberi ASI
xciii
Tabel 4.6. Lanjutan
13 Bayi yang berumur 0-6 bulan akan tumbuh dan berkembang dengan sehat tanpa susu formula.
24 50,0 17 35,4 7 14,6 14 Pemberian ASI eksklusif kepada bayi umur 0-6
bulan tidak bertentangan dengan ajaran agama.
21 43,8 21 43,8 6 12,5 15 Kesehatan bayi akan tetap terjamin walaupun
hanya diberikan ASI eksklusif
22 45,8 22 45,8 4 8,3 16 Susu Formula diberikan hanya jika ibu tidak
memungkinkan secara medis untuk menyusui sendiri
11 22,9 28 58,3 9 18,8
17 Kodrat seorang wanita yang mempunyai bayi harus memberikan air susunya secara eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya.
15 31,3 25 52,1 8 16,7
18 Bayi yang diberi susu formula telalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi.
25 52,1 18 37,5 5 10,4 19 Bayi umur 0-6 bulan yang hanya diberi ASI
eksklusif akan memiliki akhlak/moralitas yang lebih baik.
20 41,7 22 45,8 6 12,5
20 Pemberian ASI eksklusif kepada bayi diyakini tidak akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan bayi umur 0-6 bulan.
24 50,0 20 41,7 4 8,3
Pada Tabel 4.7 diketahui bahwa umur responden dibagi kedalam dua kategori, untuk umur pada kelompok < 35 tahun terdapat sebanyak 10,4% (5 orang), dan kelompok umur > 35 tahun sebanyak 12,5% (6 orang). Pendidikan responden paling besar adalah yang berpendidikan ≥ D3 yakni sebanyak 89,6% (43 orang), dan berpendidikan < D3 sebanyak 10,4% (5 orang). Lama bekerja responden terbagi kedalam dua kategori, yaitu < 5 tahun sebanyak 35,4% (17 orang) dan ≥ dari 5 tahun sebanyak 64,6% (31 orang). Penghasilan responden dibagi menjadi dua kategori yakni penghasilan < 5.000.000 sebanyak 89,6% (43 orang). dan ≥ 5.000.000 sebanyak 10,4% (5 orang).
xciv Pengetahuan responden dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu baik jika total skor ≥10 dan kurang jika total skor < 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 responden diperoleh responden yang memiliki pengetahuan tentang pemberian susu formula kategori baik sebanyak 23 orang (47,9%) dan kategori kurang sebanyak 25 orang (52,1%).
Sikap responden dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu baik jika total skor ≥ 38 dan kurang jika total skor < 38. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 responden diperoleh sikap responden tentang pemberian susu formula kategori baik sebanyak 16 orang (33,3%) dan kategori kurang sebanyak 32 orang (66,7%). Untuk lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 4.7. berikut :
Tabel 4.7. Distribusi Karakteristik Bidan Praktik Swasta di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2011
No Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Umur a. < 35 Tahun 9 18,8 b. ≥ 35 Tahun 39 81,2 Total 48 100,0 2 Pendidikan a. ≥ D III 43 89,6 b. < D III 5 10,4 Total 48 100,0