• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden

Pada penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2012 dengan teknik wawancara kepada 30 petani yang berada di Desa Sumberagung. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan diperoleh data tentang karakteristik responden pada masyarakat petani yang berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan,Yogyakarta.

Analisis karakteristik responden digunakan untuk memberikan gambaran petani, apakah dari luas lahan, biaya produksi dan jumlah pupuk memberikan pengaruh terhadap hasil produksi. Seperti yang tertera dibawah ini :

1. Karakteristik responden berdasarkan Luas Lahan

Karakteristik responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel V.1. :

Tabel V.1. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin n %

1. Laki-laki 26 87

2. Perempuan 4 13

Jumlah 30 100 %

Tabel V.1. menunjukan bahwa petani lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Hal ini dikarenakan dalam setiap harinya pekerjaan petani merupakan pekerjaan yang berat seperti membersihkan area sawah dengan menggunakan alat berat, memberikan pupuk dan penyemprotan pektsida jika terdapat banyak hama, membajak sawah jika saat masa tanam benih padi dan selalu membersihkan area persawahan seperti mencabuti rumput dan tanaman liar lainnya yang tumbuh di area sawah. Dengan melihat pekerjaan petani yang sangat berat sehingga membutuhkan tenaga kerja yang banyak maka pekerjaan petani lebih banyak dilakukan oleh laki-laki. Hal ini yang membuat lebih banyak petani yang berjenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

B. Deskripsi Data 1. Luas Lahan

Tabel V.2. Deskripsi Luas Lahan Responden

No. Luas Lahan (m2) n % keterangan

1. 1220 m2– 1123 m2 5 16 Luas

2. 1122 m2– 1025 m2 14 47 Cukup Luas 3. 1024 m2 - 928 m2 11 37 Kurang Luas

Jumlah 30 100%

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2012

Berdasarkan tabel V.2. menunjukan bahwa dari 30 responden yang memiliki luas lahan paling tinggi adalah responden dengan luas lahan 1122 – 1025 m2, Hal ini dikarenakan luas lahan yang mereka miliki adalah peninggalan dari orang tua atau turun temurun, tetapi ada juga petani yang memang benar-benar ingin memperluas lahannya

agar hasil produksi yang akan diperoleh semakin banyak, dismping itu juga desa sumberagung sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh area persawahan sehingga banyak petani yang mempunyai lahan sawah yang luas karena terdapat banyak lahan area sawah.

2. Biaya Produksi

Tabel V.3. Deskripsi Biaya Produksi Responden

No. Biaya Produksi n % Keterangan

1. Rp 450.000 – Rp 349.000 5 17 Tinggi 2. Rp 348.999 – Rp 247.999 16 53 Sedang 3. Rp 247.998 – Rp 147.000 9 30 Rendah

Jumlah 30 100

Sumber : Hasil Wawancara Responden, 2012

Berdasarkan tabel V.3. dapat dilihat bahwa dari 30 responden yang menggunaka biaya produksi padi paling tinggi adalah responden dengan biaya produksi padi Rp 348.999 – Rp 247.999, Hal ini dikarenakan biaya produksi yang digunakan oleh petani sesuai dengan luas area sawah dan sesuai dengan kebutuhan seperti membeli benih padi, biaya penyemprotan pestisida jika terdapat hama dan biaya tenaga kerja, dan biaya lain seperti solar untuk bahan bakar jika petani menggunakan hand tractor.

3. Penggunaan Pupuk

Tabel V.4 Deskripsi Data Jumlah Pupuk responden

No. Penggunaan pupuk n % Keterangan

1. 87 kg – 78 kg 6 15 Banyak

2. 77 kg – 68 kg 16 50 Cukup Banyak

3. 67 kg – 59 kg 8 35 Sedikit

Jumlah 30 100%

Berdasarkan Tabel V.4 dapat dilihat bahwa yang menggunakan pupuk yang paling tinggi adalah responden dengan penggunaan jumlah pupuk 77kg-68 kg. Hal tersebut dikarena pupuk yang digunakan oleh petani berdasarkan luas lahan yang mereka miliki dan para petani memberikan pupuk kepada tanaman padi dengan secukupnya karena jika terlalu banyak menggunakan pupuk maka akan mempengaruhi tanaman padi menjadi tidak produktif, begitu pula sebaliknya. Petani dalam memberikan pupuk pada tanaman padi sebanyak dua kali dalam proses produksi masa tanam padi.

4. Hasil Produksi

Tabel V.5 Deskripsi Data Hasil Produksi Responden

No. Hasil produksi n % Keterangan

1. 912 kg – 738 kg 5 16 Banyak

2. 737 kg – 563 kg 17 57 Cukup Banyak

3. 562 kg – 389 kg 8 27 Sedikit

Jumlah 30 100%

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2012

Berdasarkan tabel V.5. dapat dilihat bahwa yang responden yang paling tinggi dalam memperoleh hasil produksi adalah responden yang hasil produksinya 737 kg – 563 kg. Hal tersebut dikarenakan dari luas lahan yang digunakan petani dalam menanam padi, tidak terjadi gagal panen,tidak terkena hama dan faktor-faktor produksi berjalan dengan baik sehingga hasil produksi yang diperoleh sesuai dengan luas lahan yang mereka miliki.

C. Analisis Data 1. Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel berdistribusi normal. rumus uji satu sampel dari Kolmogorov-Smirnov dengan taraf signifikan 5%. Jika signifikansi > 0,05 maka regresi yang digunakan memiliki data residual yang berdistribusi normal.

1) Setelah di analisis dengan teknik analisi Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS, data variabel pendapatan diperoleh asymptotic sig (2tailed) = 0,862. Jika dibandingkan dengan taraf signifikansi 0,05 maka probabilitas (ρ) lebih besar 0,05. Berarti dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel Luas lahan (X1) tidak menyimpang dari

distribusi normal.

2) Setelah di analisis dengan teknik analisi Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS, data variabel Hasil Produksi diperoleh asymptotic sig (2tailed) = 0,039. Jika dibandingkan dengan taraf signifikansi 0,05 maka probabilitas (ρ) lebih besar 0,05. Berarti dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel biaya produksi (X2) tidak menyimpang

3) Setelah di analisis dengan teknik analisi Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS, data variabel Jumlah Pupuk diperoleh asymptotic sig (2tailed) =0,165. Jika dibandingkan dengan

taraf signifikansi 0,05 maka probabilitas (ρ) lebih besar 0,05.

Berarti dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel jumlah pupuk (X3) tidak menyimpang

dari distribusi normal.

4) Setelah di analisis dengan teknik analisi Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS, data variabel hasil produksi diperoleh asymptotic sig (2tailed) =0,919. Jika dibandingkan dengan taraf signifikansi 0,05 maka probabilitas (ρ) lebih besar 0,05. Berarti dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel hasil produksi (Y) tidak menyimpang dari distribusi normal.

Tabel V.6. Uji Normalitas

No. variabel Asym sig

(2taileed)

Taraf sig

kesimpulan

1 Luas Lahan 0,862 0,05 normal

2 Biaya Produksi 0,039 0,05 normal

3 Jumlah Pupuk 0,165 0,05 normal

4 Hasil Produksi 0,919 0,05 normal

Sumber: Hasil Olah Data Primer, 2012 b. Uji Linieritas

Uji linieritas dimaksudkan untuk mengetahui linier tidaknya suatu hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Kriteria pengujian linieritas yaitu dengan membandingkan nilai Fhitung

dengan Ftabel. Distribusi Fhitung menggunakan derajat kebebasan

pembilang = (k-2) dan derajat kebebasan penyebut = (n-k). apabila diperoleh Fhitung lebih kecil daripada Ftabel, maka hubungan kedua

variabel tersebut dikatakan linier. Linierity yng diperoleh dan dibandingkan dengan alpha sebesar 5% atau 0,05, jika nilai signifikan pada linierity lebih kecil dari taraf signifikan berarti kedua variabel terdapat hubungan yang lnier.

1) Hubungan antara variabel luas lahan dengan hasil produksi setelah dianalisis menggunakan bantuan SPSS, menunjukan bahwa nilai signifikan pada linearity sebesar 0,010 < 0,05 , dapat disimpulkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan tidak liniear.

2) Hubungan antara variabel biaya produksi dengan hasil produksi setelah dianalisis menggunakan bantuan SPSS, menunjukan bahwa nilai signifikan pada linearity sebesar 0,003 > 0,05 , dapat disimpulkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan yang liniear.

3) Hubungan antara variabel jumlah pupuk dengan hasil produksi setelah dianalisis menggunakan bantuan SPSS, menunjukan bahwa nilai signifikan pada linearity sebesar 0,001 < 0,05 , dapat disimpulkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan yang liniear.

Tabel V.7. Uji Linieritas

No. variabel Linearity α Kesimpulan

1 Luas lahan*hasil

produksi 0,010 0,05 Tidak Linier

2 Biaya produksi*hasil produksi 0,000 0,05 Linier 3 Jumlah pupuk*hasil produksi 0,000 0,05 Linier

Sumber: Hasil Olah Data Primer, 2012

D. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Multikolinearitas

Cara untuk mendeteksi adanya multikolinearitas salah satunya dengan Variance Inflation Factor dan Tolerance, Jika nilai VIF semakin membesar maka diduga ada multikolinearitas, sedangkan jika nilai VIF melebihi angka 10 maka dikatakan ada multikolinearitas. Uji Multikolinearitas dilakukan dengan bantuan SPSS, sebagai berikut :

Tabel V.8. Uji Multikolinearitas

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) Luas Lahan (X1) .463 2.162 Biaya Produksi (X2) .527 1.899 Jumlah Pupuk (X3) .639 1.565 Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2012

Berdasarkan output di atas dapat diketahui bahwa nilai toleransi dari ketiga variabel luas lahan (0,463), biaya produksi (0,527), jumlah pupuk (0,639) lebih besar dari 0,1 sedangkan nialai VIF variabel luas lahan (2,162), biaya produksi (1,899), penggunaan pupuk (1,565) ketiga nilai VIF < 10 maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah Multikolinearitas.

2. Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya. Untuk mengetahui adanya adanya gejala ini maka dapat dilakukan dengan menggunakan teknik uji Glejser. Uji heterokedastisitas dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel V.9. Hasil Uji Heterokedesitas

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 2.045 .128 15.952 .000 Luas Lahan .000 .000 .273 1.946 .062 Biaya Produksi .021 .031 .119 .675 .506 Jumlah Pupuk .007 .003 .550 2.747 .011 a. Dependent Variable: AbSut

Sumber : Hasil Olah Data Primer,2012

Dari hasil output di atas diketahui bahwa nilai signifikan variabel Luas Lahan (X1) sebesar 0,062 , Biaya Produksi (X2) sebesar

maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.

3. Uji Autokorelasi

Cara untuk mendeteksi masalah autokorelasi, salah satunya menggunakan uji Durbin-Watson (d2). Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi, maka Durbin-Watson mengembangkan distribusi probabilitas yang berbeda. dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel V.10. Uji Autokorelasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .870a .757 .729 83.213 1.074

a. Predictors: (Constant), Jumlah Pupuk, Biaya Produksi, Luas Lahan b. Dependent Variable: Hasil Produksi

Sumber: hasil olah data primer, 2012

Dari hasil output di atas diketahui bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1.074 dengan melihat tabel DW pada signifikan 0,05 dengan n=30 (jumlah data) dan K = 3 untuk dL=1,1624 dan nilai du = 1,6510,

sedangkan nilai 4-du dan 4-dL masing-masing 1.2138 dan 1,6498.

Karena nilai statistik hitung d terletak antara du dan 4-du maka dapat

dikatakan bahwa 0 < d < dL mengandung arti Menolak hipotesis nol;

ada autokorelasi positif. Jadi dapat disimpulkan tidak memiliki masalah autokorelasi.

E. Analisis Regresi Berganda

Regresi liniear berganda untuk mencari pengaruh antara luas lahan, biaya produksi dan jumlah pupuk terhadap hail produksi. Berdasarkan hasil output dengan menggunakan SPSS versi 17, maka persamaan regresi dapat dirumuskan sebagai berikut:

Tabel V.11. Uji Regresi Linear Berganda

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -892.653 210.768 -4.235 .000 Luas Lahan 1.211 .253 .682 4.796 .000 Biaya Produksi -39.539 29.906 -.176 -1.322 .198 Jumlah Pupuk 4.666 1.376 .410 3.390 .002 a. Dependent Variable: Hasil Produksi

Sumber : Hasil Olah Data Primer,2012

Y= 892.654 +1.211 X1– 39.539 X2+ 4,666 X3

Adjusted R2 = 0,729 Keterangan :

Y = Hasil Produksi Padi X1 = Luas Lahan

X2 = Biaya Produksi

Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda pada tabel Adjusted R square, dapat dilihat pada lampiran 4. diketahui bahwa nilai Adjusted R square sebesar 0,729 (72,9%) hasil produksi dapat dijelaskan oleh luas lahan, biaya produksi dan jumlah pupuk, sedangkan sisanya 28,1% dijelaskan oleh variabel lain.

Berdasarkan tabel V.11. diatas dapat diketahui bahwa koefisien korelasi constanta bertanda negatif sebesar 892,653 dengan probabilitas sebesar 0,002. Probabilitas constanta 0,000 tersebut lebih kecil dari tingkat

signifikan α = 5% (0,05) dan koefisien korelasinya bertanda negatif sehingga dapat disimpulkan bahwa constanta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap hasil produksi padi pada tingkat signifikansi 5% (0,05). Koefisien korelasi constanta sebesar 892,653 mengandung arti bahwa apabila constanta bertambah sebesar satu satuan maka hasil produksi padi akan berkurang sebesar 892,653 satuan satuan.

Koefisien korelasi luas lahan bertanda positif 1,211 dengan probabilitas sebesar 0,000. Probabilitas luas lahan 0,000 tersebut lebih

kecil dari tingkat signifikan α = 5% (0,05) dan koefisien korelasinya bertanda positif sehingga dapat disimpulkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil produksi padi pada tingkat signifikansi 5% (0,05). Koefisien korelasi luas lahan sebesar 1,211 mengandung arti bahwa apabila luas lahan bertambah sebesar satu satuan maka hasil produksi padi meningkat sebesar 1,211 satu satuan.

Koefisien korelasi biaya produksi bertanda negatif sebesar 39,539 dengan probabilitas sebesar 0,198. Probabilitas biaya produksi 0,198 tersebut lebih besar dari tingkat signifikan α = 5% (0,05) dan koefisien korelasinya bertanda negatif sehingga dapat disimpulkan bahwa biaya produksi tidak memberikan pengaruh terhadap hasil produksi padi.

Koefisien korelasi jumlah pupuk bertanda positif sebesar 4,666 dengan probabilitas sebesar 0,002. Probabilitas jumlah pupuk 0,002 tersebut lebih kecil dari tingkat signifikan α = 5% (0,05) dan koefisien korelasinya bertanda positif sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah pupuk berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil produksi padi pada tingkat signifikansi 5% (0,05). Koefisien korelasi jumlah pupuk sebesar 4,666 mengandung arti bahwa apabila jumlah pupuk bertambah sebesar satu satuan maka hasil produksi padi akan bertambah sebesar 4,666 satu satuan hitung.

F. Uji Model (Uji F)

Uji F digunakan untuk menguji apakah model variabel Luas Lahan (X1), Biaya Produksi (X2), jumlah pupuk (X3)dapat digunakan

untuk memprediksi variabel Y (hasil produksi). Hasil uji F dengan SPSS versi 17 dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel V.12. Uji F

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 560023.261 3 186674.420 26.959 .000a

Residual 180033.406 26 6924.362 Total 740056.667 29

a. Predictors: (Constant), Jumlah Pupuk, Biaya Produksi, Luas Lahan b. Dependent Variable: Hasil Produksi

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2012

Output SPSS menunjukan p-value 0,000 < 0,05 artinya signifikan, sedangkan Fhitung sebesar 26.959 > Ftabel 2.975 artinya signifikan (df1=k-1,

dan df2= n-k), k adalah jumlah variabel dependen dan independen, n adalah jumlah sampel (Df1= 4-1=3, df2=30-4=26). Signifikan disini berarti Ho ditolak, artinya luas lahan, biaya produksi, jumlah pupuk dapat digunakan untuk mengukur variabel Y (hasil produksi).

G. Uji Signifikansi (t-test)

Uji Signifikansi bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen.

Hasil uji tersebut dapat dilihat pada tabel V.11 nilai interpretasi nilai signifikan masing-masing variabel. pada output SPSS dapat dilihat pada kolom t-hitung yaitu luas lahan (X1) sebesar 4.796, biaya produksi

ditolak dan Ha diterima, berarti ada pengaruh antara variabel luas lahan, biaya produksi dan jumlah pupuk terhadap hasil produksi.

H. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pengaruh luas lahan terhadap hasil produksi padi pada petani di Desa Sumberagung, Moyudan, Yogyakarta.

Dalam penelitian ini diketahui bahwa luas lahan memberikan pengaruh terhadap hasil produksi padi pada petani di Desa Sumberagung. Luas lahan disini lebih terhadap luas lahan usahatani yaitu luas tanah yang diusahakan petani dalam usaha penanaman padi sawah, dengan tidak mempertimbangkan status kepemilikannya dalam satuan hektar (Bagio Mudakir, 2007). Tanah sebagai salah satu faktor produksi merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan dari mana hasil produksi keluar. Dalam pertanian, faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor yang lain (Mubyarto, 1989:89).

Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda diketahui bahwa luas lahan memberikan pengaruh yang signifikan. Ha ini dikarenakan luas lahan sawah merupakan salah satu faktor terpenting dalam memproduksi beras. Apabila luas lahan padi semakin luas maka produksi beras akan semakin meningkat. Sebaliknya apabila luas lahan padi semakin sempit maka produksi beras akan semakin sedikit karena tanah atau lahan sebagai tempat dimana produksi berjalan dan

darimana hasil produksi diperoleh. banyaknya atau seberapa hasil produksi yang diterima petani dalam memperoleh hasil produksi sesuai dengan luas lahan yang mereka gunakan sebagai tempat berjalannya proses produksi padi maka dari itu luas lahan sawah merupakan faktor terpenting dalam memperoleh hasil produksi padi pada petani. Luas lahan para petani didesa sumberagung dapat dikatakan cukup luas dilihat dari deskripsi data yang sudah diolah diketahui bahwa luas lahan sawah mereka 1122 m2-1025m2, para petani didesa sumberagung juga merawat lahan mereka agar selalu dapat ditanamkan padi, banyak pula petani yang melakukan tumbungsari atau dapat di artikan menanam tanaman yang berbeda setelah masa tanam padi selesai agar lahan yang mereka gunakan untuk proses produksi tetap terjaga tingkat kesuburan tanah yang dikelola, dan desa sumberagung merupakan desa yang luas wilayahnya dikelilingi oleh area persawahan khususnya tanaman padi sehingga luas lahan yang dikelola petani didesa sumberagung cukup luas.

2. Pengaruh biaya produksi terhadap hasil produksi padi petani di Desa Sumberagung, Kec. Moyudan, Yogyakarta.

Biaya produksi tidak memberikan pengaruh terhadap hasil produksi padi pada petani di Desa Sumberagung. Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda dapat diketahui bahwa koefisien korelasi sebesar – 39,539 dan signifikansinya 0,198 dengan tingkat signifikansi 5% (0,05) dapat disimpulkan bahwa biaya produksi tidak memberikan pengaruh terhadap hasil produksi padi, hali ini dikarenakan dalam usaha tani para petani dalam mengeluarkan biaya produksi di lakukan seefisien mungkin,

seperti dalam menggunakan tenaga kerja biasanya tenaga kerja yang digunakan masih dalam satu keluarga untuk mengelola lahan sawah mereka maupun pada saat panen padi, selain itu petani di Desa Sumberagung meminimalkan penggunaan pupuk karena jenis tanah yang mereka kelola sudah subur sehingga pupuk yang digunakan tidak banyak, maka sisa dari pembelian pupuk masih dapat digunakan untuk masa tanam berikutnya maka biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli faktor-faktor produksi berkurang atau dapat dilakukan seminimal mungkin. Selain itu ada beberapa petani yang memiliki beberapa ekor sapi selain menjadi petani padi karena akan saling menguntungkan, hal ini secara tidak langsung akan mengurangi biaya produksi yang dikeluarkan karena petani memberikan pupuk menggunakan pupuk kandang yang yaitu pupuk yang berasal dari kotoran hewan sehingga kualitas beras yang dihasilkan baik karena tidak terkena zat kimia yang akan mempengaruhi kualitas beras yang dihasilkan petani memiliki kualitas yang kurang baik. Begitu pula pada saat musim panen padi, tanaman sisa atau batang padi dapat digunakan untuk memberi makan sapi para petani. hal lain yaitu dalam usaha tani tidak dapat dipungkiri jika terjadi gagal panen karena faktor cuaca atau iklim, hama seperti wereng, tikus sawah,dll. jika pada masa pergantian musim dan pada saat musim hujan sawah akan digenangi oleh banyak air sehingga kadar tanah menajadi tidak baik untuk ditanami padi sehingga proses pertumbuhan tanaman padi menjadi tidak maksimal, begitu pula sebaliknya karena penggunaan air yang cukup dapat mempengaruhi hasil produksi padi. maka petani harus siap untuk

menerima kerugian yang disebabkan oleh faktor cuaca yang terjadi diluar kendali petani. Sehinggaa jika terjadi hal seperti itu maka biaya-biaya yang sudah dikeluarkan oleh petani untuk memperoleh faktor-faktor produksi untuk menghasilkan produksi padi tidak dapat berfungsi dengan baik atau terjadi gagal panen sehingga petani pun mengalami kerugian. 3. Pengaruh jumlah pupuk terhadap hasil produksi padi pada petani

di Desa Sumberagung, Kec. Moyudan, Yogyakarta.

Jumlah Pupuk memberikan pengaruh terhadap hasil produksi karena Tingkat produktifitas usaha tani padi pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh tingkat penerapan teknologinya, dan salah satu diantaranya adalah pemupukan. Pedoman tingkat penggunaan jumlah pupuk per satuan luas secara teknis telah dikeluarkan oleh Dinas Pertanian. Dengan penggunaan pupuk yang tidak sesuai dosis tersebut maka produtivitas per satuan lahan dapat menjadi berkurang, sehingga produksi beras akan mengalami penurunan. Oleh karena itu berapa dan dalam kondisi bagaimana faktor-faktor produksi digunakan, semuanya diputuskan dengan menganggap bahwa produsen selalu berusaha untuk mencapai keuntungan yang maksimum. Petani didesa sumberagung selalu menggunakan pupuk secara teknis dan berdasarkan tingkat kesuburan tanah sehingga hasil produksi menjadi maksimal, para petani ada yang menggunakan pupuk organik dan anorganik, ada petani yang menggunakan pupuk organik karena untuk menjaga kualitas dan nutrisi beras yang mereka hasilkan walaupun dengan pupuk organik lebih sulit dibandingkan dengan menggunakan pupuk

anorganik. Dan pada petani yang menggunakan pupuk anorganik dikarenakan lebih mudah cara penggunaannya dan dapat mempercepat proses tanam padi sehingga petani lebih banyak yang menggunakan pupuk anorganik. Petani memberikan pupuk dalam masa tanam padi sebanyak dua kali sesuai dengan teknis yang sudah dianjurkan oleh dinas pertanian.

Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda diketahui bahwa jumlah pupuk berpengaruh signifikan, seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa pupuk sangat penting bagi tanaman sebagai penambah unsur hara dan nutrisi pada tanah, masyarakat petani di Desa Sumberagung dalam menanam padi selalu menggunakan pupuk walaupun jenis tanah yang mereka kelola para petani di Desa Sumberagung sudah subur, penggunaan irigasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan tanah dan perawatan lahan yang baik sehingga tingkat kesuburan tanah yang dikelola terjaga dan tetap membutuhkan nutrisi dan unsur hara agar hasil produksi dapat maksimal sehingga petani tetap memberikan pupuk pada tanaman padi mereka karena jika tidak menggunkan pupuk maka hasil produksi padi para petani kurang maksimal atau tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh para petani dalam memperoleh hasil produksi padi mereka.

4. Kontribusi luas lahan, biaya produksi dan jumlah pupuk terhadap hasil produksi padi pada petani di Desa Sumberagung, Kec. Moyudan, Yogyakarta.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh antara luas lahan, biaya produksi, penggunaan pupuk terhadap hasil produksi sebesar 0,729 (72,9%). Hasil produksi (output), merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor produksi secara bersama-sama. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil yang optimal perlu mengkombinasikan faktor- faktor produksi yang digunakan secara tepat sehingga tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya baik secara fisik maupun secara ekonomi. (Mubyarto, 1977).

Hasil produksi padi pada petani di Desa Sumberagung dipengaruhi oleh luas lahan sawah yang merupakan tempat dimana untuk menerima hasil produksi, karena semakin luas lahan sawah yang dimiliki atau digunakan petani dalam proses produksi padi maka semakin tinggi pula jumlah output atau hasil produksi padi yang diterima, begitu pula sebliknya, jika luas lahan yang dimiliki petani tidak luas maka hasil

Dokumen terkait