BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden
b. Seperti apa tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan responden wanita lansia tentang penggunaan antibiotika sebelum intervensi CBIA di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta?
c. Seperti apa tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan responden wanita lansia tentang penggunaan antibiotika setelah intervensi CBIA di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta?
d. Apakah terdapat peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan responden tentang penggunaan antibiotika setelah dilakukan intervensi CBIA?
2. Keaslian penelitian
Penelitian ini memiliki kemiripan dengan beberapa penelitian lain, antara lain :
a. Penelitian oleh Hartayu pada tahun 2010 mengenai efektifitas metode cara belajar insan aktif tentang diabetes melitus (CBIA-DM) dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap pola hidup sehat pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di Yogyakarta, Indonesia. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap para penyandang diabetes melitus tipe 2 terhadap pola hidup sehat. Kesimpulan penelitian tersebut adalah CBIA-DM merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap pola hidup sehat pada penyandang diabetes melitus tipe 2. Perbedaan dengan penelitian ini terdapat pada penambahan variabel aspek tindakan, menggunakan subyek wanita dengan rentang usia 46-65 tahun dan tidak menggunakan kelompok kontrol.
b. Penelitian oleh Kumala 2014 mengenai CBIA-Diare untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam tata laksana diare pada balita di bina keluarga balita (BKB) Desa Banguntapan, Kabupaten Bantul. Tujuan penelitian tersebut adalah meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam penanggulangan diare pada balita dengan
menggunakan metode CBIA-Diare. Kesimpulan dalam penelitian tersebut adalah CBIA-Diare dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan ibu dalam tata laksana diare pada balita. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada subyek penelitian yaitu bukan hanya sekadar para ibu melainkan wanita dengan rentang usia 46-65 tahun dan metode yang digunakan adalah metode CBIA-Antibiotika.
c. Penelitian oleh Rossetyowati tahun 2012 tentang peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku penggunaan antibiotika dengan penggunaan cara belajar insan aktif (CBIA) di Kabupaten Jember. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam penggunaan antibiotika secara tepat dan membuka wacana untuk tidak melakukan pengobatan mandiri dengan antibiotika. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah metode CBIA mempengaruhi peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu dalam penggunaan antibiotika yang tepat. Perbedaan denga penelitian ini adalah pada subyek penelitian yaitu subyek penelitian saat ini wanita dengan rentang usia 46-65 tahun.
3. Manfaat
a. Secara teoritis.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan mendukung ilmu pengetahuan di bidang kesehatan dan menunjukkan bahwa metode edukasi CBIA dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan responden secara signifikan tentang penggunaan antibiotika.
b. Secara praktis.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam melakukan evaluasi tentang pelayanan pemberian informasi antibiotika terhadap masyarakat.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita lanjut usia di Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta tentang penggunaan antibiotika dengan metode cara belajar insan aktif (CBIA).
2. Tujuan Khusus
Pada penelitian ini memiliki tujuan khusus untuk mengidentifikasi peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan responden tentang antibiotika, yaitu:
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan wanita lanjut usia dalam penggunaan antibiotika sebelum intervensi CBIA.
b. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan wanita lanjut usia dalam penggunaan antibiotika setelah intervensi CBIA.
c. Membandingkan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan wanita lanjut usia tentang penggunaan antibiotika sebelum dan setelah intervensi CBIA.
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan 1. Pengertian pengetahuan
Pengetahuan merupakan merupakan hasil setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan ini dilakukan dengan panca indera manusia yakni pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari indra pengelihatan dan pendengaran (Notoatmodjo, 2007).
2. Tingkatan pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2009) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif memiliki 6 tingkatan. Enam tingkatan pengetahuan tersebut antara lain :
a. Tahu.
Tahu dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam hal tingkatan pengetahuan, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami.
Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi secara benar. Paham berarti dapat menjelaskan, memberi contoh, menyimpulkan suatu objek yang dipelajari.
c. Aplikasi.
Aplikasi merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari seperti hukum, rumus, metode, prinsip dan lain sebagainya di kehidupan sehari-hari.
d. Analisis.
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam suatu komponen-komponen, tetapi masih terdapat dalam satu organisasi. Kemampuan analisis meliputi menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
e. Sintesis.
Sintesis suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kmampuan untuk menyusun, merencanakan dan menyesuaikan teori dengan situasi yang ada.
f. Evaluasi.
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian yang dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ada.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, antara lain adalah usia, pendidikan, lama bekerja dan informasi yang diberikan oleh orang lain disekitarnya. Dalam faktor usia, semakin muda usia seseorang semakin sedikit pengalaman yang dimiliki begitupun sebaliknya semakin
bertambahnya usia semakin banyak pula pengalaman yang telah dimiliki, sehingga usia merupakan faktor penting jika dikaitkan dengan tingkat pengetahuan seseorang (Notoatnodjo, 2007)
Faktor pendidikan juga berperan penting dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang maka semakin mudah orang tersebut menerima hal-hal baru sehingga akan meningkatkan tingkat pengetahuannya
Informasi yang diterima seseorang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Informasi tersebut akan menjadi dasar bagi orang tersebut untuk melakukan suatu hal untuk tujuan tertentu (Notoatmodjo, 2009). Jika terdapat seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah namun menerima banyak informasi dari media maka hal tersebut juga dapat meningkatkan pengetahuannya (Wilson, 2000).
4. Pengukuran tingkat pengetahuan
Dalam mengukur tingkat pengetahuan seseorang dapat dilakukan dengan cara wawancara ataupun angket yang berisikan pernyataan ataupun pertanyaan tentang materi yang ingin diukur kepada subyek penelitian atau informan.
Kategori dalam mengukur pengetahuan antara lain kategori baik jika memperoleh skor 76%-100%, kategori sedang dengan skor 56-75% sedangkan kategori buruk jika mendapat skor <56% (Arikunto, 2006).
B. Sikap 1. Pengertian sikap
Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya bisa ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Komponen pokok sikap meliputi kepercayaan, kehidupan emosional dan kecenderungan untuk bertindak (Notoatmodjo, 2007).
2. Tingkatan sikap
Ketiga komponen tersebut membentuk sikap yang utuh. Sikap dibagi dalam beberapa tingkatan sikap yaitu :
a. Menerima.
Menerima diartikan seseorang mau memperhatikan stimulus yang diberikan.
b. Merespon.
Merespon merupakan sikap memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
c. Menghargai.
Menghargai adalah mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah tertentu.
d. Bertanggung jawab.
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko yang mungkin akan dihadapi (Notoatmodjo, 2007).
3. Faktor yang mempengaruhi sikap
Lingkungan dan pengaruh orang sekitar. Lingkungan berarti seluruh kondisi di sekitar seseorang dan mempengaruhi perkembangan sikap orang tersebut dan pengaruh orang lain dianggap berpengaruh karena seseorang cenderung bersikap sesuai dengan sikap orang-orang yang olehnya dianggap penting. Kecenderungan tersebut disebabkan oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang lain yang dianggapnya penting (Azwar, 2007).
Lembaga pendidikan dan lembaga agama memiliki peran dalam pembantukan sikap seseorang karena memiliki dasar pemahaman dan konsep moral dalam setiap diri individu (Azwar 2007).
Budaya mempengaruhi pembentukan sikap seseorang tergantung dari tempat individu tersebut dibesarkan (Wawan dan Dewi, 2011).
4. Pengukuran sikap
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dilakukan dengan cara menanyakan pendapat informan terhadap suatu obyek sedangkan secara tidak langsung dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan kepada responden. Pernyataan sikap ditampilkan dalam bentuk positif atau negatif dengan skala Likert (Budiman dan Riyanto, 2013).
C. Tindakan 1. Pengertian Tindakan
Tindakan merupakan suatu realisasi dari pengetahuan dan sikap menjadi sesuatu yang nyata. Sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan. Untuk mewujudkan suatu sikap menjadi perbuatan nyata atau tindakan diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan dari pihak lain (Notoatmodjo, 2007).
Manusia perlu menjadi cakap dalam bertindak secara bersamaan memikirkan tindakan mereka untuk mempelajarinya. Dengan menggabungkan antara pikiran dan tindakan, maka perlu direncanakan tindakan yang akan dilakukan kemudian mempelajarinya agar dapat diketahui seberapa efektif tindakan tersebut. Ketika mempelajari pola perilaku secara efektif dengan situasi yang ada, terjadi kecenderungan untuk mengulangi terus – menerus sampai dapat berjalan dengan sendirinya. Teori tindakan adalah suatu teori dalam memahami tindakan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam suatu situasi. Ketika tindakan sudah menjadi kebiasaan, maka secara otomatis tindakan itu dijalankan. Ketika tindakan menjadi tidak efektif maka akan muncul kepedulian pada teori tindakan dan usaha untuk memperbaikinya (Johnson, 2012).
2. Tingkatan Tindakan
Menurut Notoatmodjo (2007), tindakan juga memiliki beberapa tingkatan yaitu :
a. Persepsi.
Tindakan pada tingkatan persepsi adalah mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.
b. Respon terpimpin.
Respon terpimpin berarti dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh.
c. Mekanisme.
Tingkatan mekanisme tercapai setelah dapat melakukan sesuatu dengan benar dan sudah menjadi kebiasaan.
d. Adopsi.
Pada tingkatan adopsi tindakan telah terbiasa dilakukan berkembang dengan baik dan dimodifikasi tanpa mengurangi nilai kebenaran dari tindakan tersebut.
Namun menurut Wawan dan Dewi (2011), proses terbentuknya tindakan atau perilaku dapat dijabarkan dalam lima tahapan yakni:
a. Kesadaran, tahapan seorang individu mengetahui atau menyadari adanya suatu stimulus
b. Rasa tertarik, merupakan tahapan seorang individu mulai menaruh perhatian dan tertarik terhadap suatu rangsangan.
c. Evaluasi merupakan tahapan seorang individu mempertimbangkan baik atau buruknya tindakan yang dilakukan terhadap stimulus bagi dirinya.
d. Mencoba merupakan tahap dimana seorang individu mulai menerapkan perilaku yang baru.
e. Adopsi merupakan tahapan seorang individu mulai melakukan dan mengadopsi tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pengukuran tindakan
Tindakan dapat diukur dengan pengamatan atau observasi namun dapat juga dilakukan dengan wawancara dengan pendekatan atau mengingat kembali perilaku yang telah dilakukan oleh responden di waktu lampau (Notoatmodjo, 2010).
D. Upaya Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Tindakan
Edukasi atau pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat luas dengan tujuan untuk melakukan suatu tindakan tertentu yang diharapkan oleh pendidik atau pemberi edukasi. Edukasi tentang kesehatan sangat dibutuhkan untuk mendorong perilaku yang berkaitan dengan promosi kesehatan, diagnosa dini dan pengobatan. Kesadaran masyarakat tentang kesehatan disebut dengan health literacy yang kemudian diharapkan menjadi perilaku kesehatan health behavior. Tujuan akhir dari edukasi kesehatan adalah agar masyarakat dapat mempraktikan perilaku kesehatan dalam kehidupan sehari-hari (Notoatmodjo, 2007). Berikut merupakan beberapa metode yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikan dan tindakan :
1. Metode ceramah
Metode ceramah merupakan pengajaran dengan menyampaikan suatu informasi secara lisan kepada individu atau kelompok individu yang
mengikuti secara pasif. Terdapat kelemahan dalam metode ini antara lain peserta yang mengikuti menjadi pasif, cenderung mengandung unsur paksaan, mengandung sedikit daya kritis peserta, sulit untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi, dan peserta mudah jenuh jika terlalu lama. Kelebihannya adalah dapat diikuti peserta dalam jumlah yang banyak, mudah untuk dilaksanakan, dan pendidik lebih mudah menerangkan bahan pembelajaran dalam jumlah yang besar (Simamora, 2009).
2. Metode diskusi
Metode diskusi merupakan metode mengajar yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Tujuan dari metode pembelajaran ini adalah untuk mengajak peserta berperan secara aktif, berpikir kritis dan mengajukan pendapat secara bebas sehingga dapat memecahkan suatu masalah. Metode ini memiliki kelebihan yakni terdapat banyak jalan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah, menyadarkan peserta bahwa dengan berdiskusi akan diperoleh keputusan yang lebih baik, membiasakan peserta untuk mendengarkan dan menghormati pendapat orang lain, dan memupuk toleransi antar peserta diskusi. Kelemahan metode diskusi antara lain sulit diterapkan dalam kelompok besar, orang-orang yang suka bicara akan lebih dominan, informasi yang diterima peserta akan menjadi terbatas, dan biasanya seseorang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Simamora, 2009).
3. Metode demonstrasi
Suatu metode pengajaran yang dilakukan dengan memperagakan suatu kejadian, benda, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan baik secara langsung ataupun menggunakan media yang relevan dengan materi yang disampaikan. Kelebihan dari metode demonstrasi adalah membantu peserta dalam memahami suatu proses atau mekanisme suatu benda sehingga lebih jelas, mempermudah pendidik untuk menjelaskan materi. Kelemahan metode ini antara lain adalah terkadang peserta kurang jelas dalam mengamati benda yang diperagakan, tidak semua benda dapat diperagakan, dan jika pendidik tidak memahami hal yang diperagakan maka peserta juga akan sulit untuk memahami materi yang disampaikan (Simamora, 2009). 4. Cara Belajar Insan Aktif (CBIA)
Metode Cara Belajar Insan Aktif merupakan salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dapat digunakan dalam mengedukasi masyarakat untuk memilih dan menggunakan obat yang benar dalam seamedikasi. Melalui metode ini diharapkan masyarakat agar lebih aktif dalam mencari informasi mengenai obat yang digunakan dalam keluarga. Informasi tersebut dapat berupa antara lain penggunaan dan pengelolaan obat di rumah tangga secara benar. Selain itu agar tujuan self medication dapat tercapai secara optimal (Gusnellyanti, 2014).
Kegiatan edukasi masyarakat dengan metode CBIA dilaksanakan dengan melibatkan peserta secara aktif. Salah satu studi yang dilakukan oleh UGM menunjukkan bahwa metode CBIA secara signifikan meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman peserta dibandingkan dengan metode ceramah dan tanya jawab (presentasi / penyuluhan). Kegiatan CBIA melibatkan narasumber dan fasilitator. Fasilitator berperan sebagai pemandu diskusi dan penyampaian informasi lebih lanjut disampaikan oleh narasumber (Gusnellyanti, 2014).
Secara garis besar manfaat dari edukasi dengan metode CBIA adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan pengetahuan tentang cara memilih dan menggunakan obat yang benar.
2. Masyarakat dapat melakukan swamedikasi dengan benar dan rasional. 3. Menurunkan penggunaan antibiotika yang tidak tepat oleh masyarakat. 4. Meningkatkan penggunaan obat generik dengan memahami bahwa obat
bernama dagang dan obat generik dengan kandungan bahan aktif yang sama pasti memiliki khasiat yang sama (Gusnellyanti, 2014).
E. Antibiotika 1. Pengertian dan sejarah antibiotika
Secara terminologis antibiotika terdiri dari 2 kata yaitu anti yang artinya lawan dan bios yang artinya hidup, sehingga antibiotika merupakan zat-zat kimia yang dihasilkan oleh mikroba (dapat berupa bakteri maupun fungi) yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman, namun memiliki toksisitas yang relatif kecil bagi manusia (Tjay, 2010).
Antibiotika pertama kali ditemukan oleh Paul Ehrlich. Penemuan ini
disebut “magic bullet” sebab dirancang untuk menangani infeksi mikroba.
Pada tahun 1910, Ehrlich menemukan antibiotika pertama yang diberi namaSalvarsan. Antibiotik ini dapat digunakan untuk melawan penyakit sifilis. Pada tahun 1928, Alexander Fleming menyusul kesuksesan Ehrlich dengan secara tidak sengaja menemukan penisilin. Tujuh tahun kemudian Gerhard Domagk menemukan obat sulfa, hal ini menjadi titik terang dalam penemuan isoniazid sebagai anti Tuberkulosis. Pada 1943, Selkman Wakzman dan Albert Schatz menemukan anti TB pertama yaitu streptomycin. Wakzman merupakan orang pertama yang memperkenalkan terminologi antibiotika. Sejak saat itu antibiotika banyak digunakan untuk menangani berbagai penyakit infeksi (Zhang, 2007).
2. Prinsip penggunaan antibiotika
Prinsip penggunaan antibiotika sama seperti obat-obatan lainnya, yaitu dapat memenuhi kriteria sebagai berikut: antibiotika diberikan sesuai dengan indikasi penyakit, tepat dosis, tepat cara pemberian, tepat lama pemberian, mutu terjamin dan aman, serta antibiotika tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau (Utami, 2011).
3. Resistensi antibiotika
Resistensi bakteri terhadap antibiotika adalah kemampuan bakteri untuk mempertahankan diri terhadap efek antibiotika. Antibiotika menjadi kurang efektif dalam menghambat atau menghentikan pertumbuhan bakteri. Jika suatu bakteri resisten terhadap antibiotika maka bakteri tersebut akan
menjadi kebal dan terus tumbuh meskipun telah diberikan antibiotika (WHO, 2015).
4. Klasifikasi antibiotika
Antibiotika juga diklasifikasikan menurut sifatnya yaitu antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan antibiotika bakteriostatik. Menurut Thorp (2008) antibiotika bakterisidal adalah antibiotika yang memiliki sifat membunuh bakteri sedangkan antibiotika yang bersifat bakteriostatik hanya bekerja menghambat pertumbuhan atau perkembangan bakteri.
Menurut mekanisme aksinya, Goodman and Gilman (2008) mengklasifikasikan antibiotika menjadi beberapa jenis yakni
a. Menghambat pembentukan dinding sel pada bakteri, contohnya penicillin dan sefalosforin
b. Menghambat pembentukan protein bakteri dengan mempengaruhi sub unit ribosom 30S atau 50S yang pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel.
c. Menghambat pembentukan dan fungsi dari asam nukleat bakteri contohnya menghambat RNA polimerase yaitu rifampin, dan menghambat enzim topoisomerase yaitu antibiotika golongan kuinolon
d. Menghambat fungsi membran sel bakteri dengan mempengaruhi permeabilitas dan menyebabkan kebocoran pada membran sehingga senyawa intraseluler keluar dari sel bakteri.
F. Landasan Teori
Pengetahuan merupakan aspek dasar yang membentuk sikap dan tindakan seseorang. Semakin tinggi tingkat pengetahuan semakin baik sikap dan tindakan yang ditunjukkan oleh seseorang. Pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang dapat ditingkatkan dengan penyampaian informasi melalui suatu metode edukasi. Terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan yaitu metode ceramah, metode diskusi, metode demonstrasi dan metode CBIA.
Setiap metode memiliki perbedaan dalam cara menyampaikan informasi. Metode ceramah mengutamakan penyampaian informasi secara lisan namun kurang melibatkan peran aktif peserta. Metode diskusi mengajak peserta berperan aktif dalam mengajukan pendapat dan berdiskusi namun sulit dilakukan dalam kelompok besar dan hanya beberapa peserta saja yang akan mendominasi kegiatan diskusi. Pada metode demonstrasi, penyampaian informasi dilakukan dengan menggunakan alat peraga untuk mempermudah peserta dalam memahami materi yang diberikan sehingga diperlukan seorang yang ahli dalam menggunakan alat peraga agar tidak terjadi kesalahan penyampaian informasi. Selain tiga metode tersebut, metode edukasi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan adalah metode CBIA. Metode CBIA mengutamakan peran aktif seluruh peserta dalam diskusi kelompok dan mencari informasi secara mandiri didukung dengan fasilitator sebagai pemandu diskusi dan narasumber yang menyampaikan informasi kepada peserta. Dalam beberapa penelitian metode CBIA terbukti meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan responden terutama di bidang
kesehatan tentang swamedikasi dan penggunaan obat-obatan termasuk penggunaan antibiotika.
G. Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian H. Hipotesis
Ho : tidak terdapat perbedaan antara tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan responden sebelum dan setelah intervensi CBIA tentang penggunaan antibiotika. H1 : terdapat perbedaan antara tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan responden setelah intervensi CBIA dibandingkan dengan sebelum intervensi CBIA.
Tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan tentang penggunaan antibiotika
Tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan tentang penggunaan antibiotika
meningkat
Intervensi Metode edukasi CBIA
22 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental semu dengan rancangan penelitian time series. Penelitian eksperimental semu merupakan pengembangan dari true experimental untuk mengatasi kesulitan menentukan kelompok kontrol. Rancangan penelitian yang digunakan adalah time series, yaitu pengambilan data dilakukan secara berulang dalam kurun waktu tertentu. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara non-random, dan sering juga disebut sebagai pre-post intervention. Penelitian eksperimental semu yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat efek edukasi CBIA terhadap pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita pralansia di Kecamatan Umbulharjo. Dalam penelitian ini, pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pretest dan post intervensi pertama dilaksanakan serentak pada 14 Desember 2014, post-test kedua dilakukan pada tanggal 23, 24 dan 25 Januari 2015 dan post-test ketiga pada pada tanggal 27, 28 Februari dan 1 Maret 2015..
B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel
a. Variabel bebas.
Variabel bebas yang terdapat dalam penelitian ini adalah metode edukasi Cara Belajar Insan Aktif (CBIA).
b. Variabel tergantung.
Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan responden tentang antibiotika.
c. Variabel pengacau terkendali.
Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini diantaranya adalah informasi yang didapatkan responden sebelumnya baik secara formal maupun informal, seperti mengikuti kursus, seminar, sekolah, penyuluhan.
d. Variabel pengacau tak terkendali.
Variabel pengacau tak terkendali adalah informasi tentang antibiotika yang didapatkan responden sebelum mengikuti CBIA yang dapat berasal dari penjelasan dokter atau melalui media (televisi, radio, internet, surat kabar).
2. Definisi Operasional a. Wanita pralansia:
Menurut Sumiati (cit. Efendi, 2009), wanita pralansia ialah wanita berumur 40 -65 tahun.
b. Penggolongan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan responden:
Menurut Arikunto (2006) berikut merupakan tingkatan pengetahuan, sikap dan tindakan responden :
1) Tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan tentang antibiotika tergolong baik apabila responden mampu memperoleh skor antara 76% hingga 100%.
2) Tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan tentang antibiotika tergolong sedang apabila responden memperoleh skor 56-75%. 3) Tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan tentang antibiotika
tergolong buruk apabila responden memperoleh skor <56%. c. Cara Belajar Insan Aktif (CBIA):