• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1.1 Karakteristik Responden

Hasil penelitian berdasarkan karakteristik responden yang akan dipaparkan mencakup umur, jenis kelamin, suku, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan penghasilan perbulan. Dari data yang diperoleh (tabel 5.1) menunjukkan mayoritas responden berumur 20-30 tahun (46 %), jenis kelamin perempuan (52%), suku batak (42%), pendidikan terakhir SLTA (35%), dan penghasilan perbulan > Rp. 1600.000 (53%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.1 dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan data demografi faktor-

faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat Asam Jawa tidak memanfaatkan pelayanan Puskesmas (n= 100)

Karakteristik Umur Frekuensi Persentase 20-30 tahun 46 46 31-40 tahun 22 22 41-50 tahun 24 24 51-60 tahun 8 8 Jenis kelamin Laki-laki 48 48 Perempuan 52 52 Suku Jawa 41 41 Batak 42 42 Padang 6 6 Melayu 3 3 Aceh 8 8 Pendidikan terakhir Tidak sekolah 23 23 SD 14 14 SLTP 15 15 SLTA 35 35 Program Diploma 8 8 Universitas 5 5 Pekerjaan

Ibu rumah tangga 12 12

Petani 41 41 PNS 1 1 Pegawai swasta 14 14 Lainnya 32 32 Penghasilan < Rp. 800.000 16 16 Rp. 800.000-1600.000 31 31 > Rp.1600.000 53 53

5.1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat Asam Jawa tidak memanfaatkan pelayanan Puskesmas Aek Torop

Untuk menentukan apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat Asam Jawa tidak memanfaatkan pelayanan Puskesmas Aek Torop seperti faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor kebutuhan bernilai baik dengan menjumlahkan nilai rata-rata dari jawaban ya. Sedangkan bernilai tidak baik dengan menjumlahkan nilai rata-rata dari jawaban tidak dari responden. Untuk faktor pendorong bernilai baik dengan menjumlahkan nilai rata-rata jawaban baik, bernilai kurang baik dengan menjumlahkan nilai rata-rata dari jawaban kurang baik, serta bernilai tidak baik dengan menjumlahkan nilai rata- rata dari jawaban responden tidak baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.2 dan 5.3 dibawah ini.

Tabel 5.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan faktor-faktor faktor

predisposisi (kepercayaan, pengetahuan, sikap), faktor pendukung, serta faktor kebutuhan

No Faktor-faktor Ya Tidak

F (%) F (%)

1 Manfaat-manfaat kesehatan (kepercayaan) 30,9% 69,1%

2 Pengetahuan 56,7% 43,3%

3 Sikap 77,1% 22,9%

4 Faktor pendukung (penghasilan, asuransi

kesehatan, fasilitas kesehatan, dan biaya)

61,7% 38,3%

5 Faktor kebutuhan (tindakan) 49,8% 50,2%

Tabel 5.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan faktor pendorong

No Faktor-faktor Baik Kurang

baik

Tidak baik

F (%) F (%) F (%)

1 Faktor Pendorong (sikap dan

perilaku petugas kesehatan)

28,3% 44,6% 27,1%

5.3. Pembahasan

Dalam bab ini diuraikan pembahasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat Asam Jawa tidak memanfaatkan pelayanan Puskesmas Aek Torop

5.3.2. Faktor predisposisi

a. Manfaat-manfaat kesehatan (kepercayaan)

Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor kepercayaan dapat dilihat pada tabel 5.2, bahwa sebagian besar responden mengatakan faktor kepercayaan tidak baik (69,1%) dan yang mengatakan baik (30,9%). Menurut Green (1980) perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari orang yang bersangkutan. Kepercayaan merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas.

Menurut Azwar (1996) dalam Indriaty (2010) secara umum dapat dirumuskan bahwa batasan pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai kode etik dan standar yang telah ditetapkan. Kualitas pelayanan kesehatan di puskesmas merupakan suatu fenomena unik, sebab dimensi dan indikatornya dapat berbeda diantara orang-orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan. Untuk mengatasi perbedaan dipakai suatu pedoman yaitu hakikat dasar dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan, yaitu memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan.

Hal ini senada dengan pendapat Azwar (1998) yang dikutip oleh Siregar (2004) yang berpendapat bahwa kebutuhan dan permintaan seseorang terhadap kesehatan sangat dipengaruhi oleh pendidikan, sosial budaya dan sosial ekonomi orang tersebut. Jika tingkat pendidikan baik, keadaan sosial budaya dan ekonomi baik, maka secara relatif kebutuhan dan tuntutannya terhadap kesehatan akan tinggi. Hal sebaliknya, dimana tuntutan terhadap kesehatan akan menurun apabila tingkat pendidikan, keadaan sosial budaya dan sosial ekonomi belum memuaskan atau tidak memungkinkan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.

Menurut penelitian Hasibuan (2008), dari segi kepercayaan masyarakat terhadap puskesmas, seluruh informan menilai kurang. Dari informasi yang diperoleh baik dari responden maupun informan, mengenai pandangan terhadap pelayanan kesehatan, dapat dipahami mengapa angka pemanfaatan fasilitas kota Rantauprapat masih rendah. Hal ini menurut Hasibuan (2008) dalam Depkes (1999), pemanfaatkan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh (1). Keterjangkauan lokasi pelayanan, (2). Jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia, (3). Keterjangkauan informasi. Dari rendahnya kualitas pelayanan (mutu) dan kurangnya informasi, merupakan penyebab rendahnya penggunaan pelayanan kesehatan yang ada.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti berasumsi kepercayaan responden tidak baik (69,1%). Hal ini dapat dilihat dari responden yang mengatakan mutu puskesmas yang tidak baik (66%), responden merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas Aek Torop (78%). Mutu pelayanan kesehatan adalah menunjukkan pada kesembuhan penyakit serta

keamanan tindakan, yang apabila berhasil diwujudkan pasti akan memuaskan pasien, salah satu kesembuhan/keamanan tindakan berhubungan dengan sikap/tindakan petugas kesehatan (Anwar, 1996). Ini artinya mutu yang baik mempengaruhi masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan Puskesmas Aek torop. Ketanggapan petugas memenuhi kebutuhan pasien, komunikasi petugas dengan pasien, keramahtamahan petugas dalam melayani pasien membuat masyarakat semakin percaya untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop.

b. Pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengetahuan dapat dilihat pada tabel 5.2, bahwa responden mengatakan pengetahuan tidak baik (43,3%) dan yang mengatakan baik (56,7%). Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 2007).

Selain itu Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan menjadi salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku seseorang atau masyarakat terhadap kesehatan. Jika masyarakat tahu apa saja pelayanan puskesmas, maka kemungkinan masyarakat akan menggunakan fasilitas kesehatan juga akan berubah seiring dengan pengetahuan seperti apa yang diketahuinya.

Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang sering ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Melalui

pengetahuan, pendidikan berkontribusi terhadap perubahan prilaku kesehatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus (predisposing) yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat (Profil kesehatan provinsi sumatera utara, 2008).

Menurut penelitian Prihardjo (2005) dalam Tarigan (2010) rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan puskesmas dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan seseorang. Tingkat pengetahuan yang dimaksud dapat bersifat dualis. Di satu sisi rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan puskesmas dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah. Masyarakat tidak banyak mengerti tentang fasilitas dan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh puskesmas. Disisi lain, tingkat pengetahuan yang tinggi dapat juga menyebabkan rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan puskesmas. Masyarakat telah mengerti keberadaan fasilitas kesehatan yang tersedia di puskesmas. Minimnya fasilitas yang dimiliki oleh puskesmas menyebabkan masyarakat tidak mau memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia di puskesmas.

Hal yang sama juga diungkapkan Sihombing (2008), menyatakan bahwa tingkat pengetahuan hanya (15,6%) yang berpengaruh terhadap kunjungan masyarakat ke Puskesmas Darusalam. Hasil ini dipengaruhi oleh beberapa pernyataan responden yang menyatakan bahwa pengetahuan masyarakat yang berobat ke Puskesmas Darusalam mengenai program/kegiatan yang diadakan di Puskesmas Darusalam masih kurang (11%). Ini artinya kurangnya pembinaan

terhadap masyarakat Puskesmas Darusalam untuk bertanya mengenai Puskesmas dan program/kegiatan Puskesmas Darusalam terhadap petugas kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti berasumsi pengetahuan responden baik (56,7%). Hal ini dapat dilihat dari responden mengatakan pernah mendengar pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop (99%), responden mengetahui jadwal buka dan tutup Puskesmas Aek Torop (54%), responden mengatakan bahwa imunisasi merupakan kegiatan pokok Puskesmas Aek Torop (64%), responden juga mengatakan pernah mendapat pengobatan dari Puskesmas Aek Torop (75%). Walaupun pengetahuan responden baik namun sebahagian besar responden tidak mengetahui program-program kegiatan Puskesmas Aek Torop (88%). Perlu adanya sosialisasi terhadap masyarakat tentang program/kegiatan Puskesmas Aek Torop sehingga masyarakat akan lebih memanfaatkan pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop.

Selain itu bila dilihat dari latar pendidikan responden yang mayoritas tingkat SLTA (35%). Tingkatan ini adalah tingkatan menengah keatas, hal ini sangat mempengaruhi pengetahuan responden dalam penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas dimana semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baiklah pengetahuan responden tentang pelayanan kesehatan Puskesmas. Pendidikan tinggi akan mempengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas yang lebih baik serta dapat menilai baik tidaknya pelayanan yang diberikan petugas kesehatan Puskesmas. Ini berarti pengetahuan yang baik tanpa dibarengi fasilitas, pelayanan yang baik dari petugas akan membuat masyarakat tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop.

c. Sikap

Berdasarkan hasil penelitian tentang sikap dapat dilihat pada tabel 5.2, bahwa sebagian kecil responden mengatakan sikap tidak baik (22,9%), baik (77,1%). Sikap adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Jadi manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, namun hanya dapat ditafsirkan (Notoatmodjo, 2003).

Menurut penelitian Purba (2009), sikap responden dalam kategori baik, masyarakat mengatakan keberadaan Pustu (Puskesmas Pembantu) mempermudah mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Mempermudah bukan berarti Pustu adalah tempat pertama yang masyarakat kunjungi ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, tetapi Pustu dijadikan pilihan kedua jika tempat yang biasa mereka gunakan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tidak buka.

Menurut penelitian Solikhah, dkk (2008), sikap responden terhadap pelayanan rawat inap Puskesmas mergangsan yang sebagian besar pada kategori baik tidak terlalu mempengaruhi responden dan keluarganya untuk memanfaatkannya, hal ini mungkin disebabkan oleh keberadaan Puskesmas yang terletak di pusat kota yang berdekatan dengan sarana pelayanan kesehatan lain seperti rumah sakit, rumah bersalin, serta poliklinik swasta umum membuat sebagian masyarakat lebih memilih untuk tidak memanfaatkan rawat inap Puskesmas karena sikap seseorang seringkali tidak mencerminkan perilakunya terhadap sesuatu objek.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti berasumsi sikap responden berada pada kategori baik (77,1%). Walaupun sikap responden baik belum tentu

memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar responden tidak menganjurkan anggota keluarga yang sakit untuk berobat ke Puskesmas Aek Torop (77%).

5.2.2 Faktor pendukung (penghasilan, asuransi kesehatan, fasilitas kesehatan dan biaya)

Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor pendukung dapat dilihat pada tabel 5.2, bahwa responden mengatakan tidak baik (38,3%) dan baik (61,7%). Menurut penelitian Rifai (2005), menyatakan bahwa hasil penelitian uji statistik dengan menggunakan uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh biaya berobat terhadap pemanfaatan pelayanan pengobatan di Puskesmas Binjai kota dengan taraf signifikansi 0,106 (p > 0,05). Dilihat dari uji korelasi didapat R = 16,3 % yang berarti pengaruh biaya berobat terhadap pemanfaatan pelayanan pengobatan dipengaruhi oleh faktor lain.

Ini berarti masyarakat sadar bahwa keikutsertaan dalam membiayai jasa pelayanan kesehatan adalah sudah menjadi kewajiban bagi setiap warga, namun sebagian masyarakat dapat memaklumi bahwa biaya pelayanan kesehatan dimasyarakat memang murah, terjangkau dan tidak memberatkan namun adakalanya mereka tidak memilih Puskesmas untuk sarana berobat karena adanya anggapan Puskesmas murah karena Puskesmas hanya untuk berobat penyakit- penyakit pusing, batuk, pilek, sakit perut dan ringan lainnya.

Menurut pendapat Anderson dan Muzaham (1995) dalam Rifai (2005) bahwa faktor pendukung berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan pengobatan yaitu ketersediaan fasilitas, tenaga pelayanan kesehatan, lamanya memperoleh

pelayanan serta lamanya waktu yang digunakan untuk mencapai fasilitas pelayanan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti berasumsi faktor pendukung responden berada pada kategori baik (61,7%). Hal ini dapat dilihat dari semua responden mengatakan biaya yang dikeluarkan untuk berobat ke Puskesmas terjangkau (100%), penghasilan responden mayoritas > Rp.1600.000 / bulan (53%), dari jenis pekerjaan mayoritas petani (41%). Dengan pekerjaan responden yang mapan tentu mempengaruhi penghasilan keluarga. Dengan penghasilan yang tinggi responden dapat memilih pelayanan kesehatan yang bermutu/berkualitas.

Selain itu juga responden mengatakan lokasi Puskesmas mudah dijangkau dari segi transportasi (56%), responden mengatakan bahwa Puskesmas Aek torop tidak membantu untuk mendapatkan pertolongan pertama jika ada anggota keluarga yang sakit (69%). Ini artinya lokasi Puskesmas Aek torop yang mudah dijangkau dari segi transportasi tidak membuat masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan Puskesmas yang dilihat dari jumlah angka kunjungan sebesar (5,4%). Masyarakat lebih memilih praktek dokter ketika sakit, karena masyarakat mampu membayar mahal asalkan terpenuhi kebutuhannya.

Responden juga mengatakan fasilitas/pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop tidak lengkap (76%), responden setuju fasilitas/pelayanan kesehatan, sarana dan prasarana perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan (97%), serta tarif/biaya pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop perlu dinaikkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang sesuai dengan permintaan masyarakat. Pengahasilan keluarga > Rp. 1600.000 / bulan membuat

masyarakat menginginkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa sarana/prasarana yang ada di Puskesmas Aek Torop belum memadai dan tarif/biaya perlu dinaikkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat ke Puskesmas Aek Torop.

5.2.3 Faktor pendorong (sikap dan perilaku petugas kesehatan)

Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor pendorong dapat dilihat pada tabel 5.3, bahwa responden mengatakan tidak baik (27,1%), kurang baik (44,6%), dan baik (28,3%). Perilaku petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan adalah perilaku petugas kesehatan mulai dari tempat pendaftaran pasien, pengambilan karcis, pelayanan pengobatan, pelayanan laboratorium, pelayanan apotek dan pelayanan kasir (Rifai, 2005).

Menurut penelitian Sihombing (2008), yang menyatakan sebagian besar masyarakat di Puskesmas Darusalam merasakan bahwa petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Darusalam cukup baik dalam memberikan pelayanan kepada mereka ketika berobat. Hanya sebagian kecil masyarakat yang tidak puas terhadap pelayanan petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Darusalam

Hal yang sama juga diungkapkan dalam penelitian Abidinsyah (2004) yang menyatakan bahwa tingkat dedikasi, disiplin, keterampilan serta keramahtamahan petugas kesehatan Puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan sangat menentukan jumlah kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan. Keramahtamahan petugas di Puskesmas mendukung faktor kenyamanan pelayanan, yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi masyarakat berobat ke Puskesmas. Semakin baik sikap petugas kesehatan, maka

semakin baiklah persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan sehingga semakin meningkat jumlah kunjungan masyarakat ke Puskemas, sebaliknya semakin tidak baik sikap petugas kesehatan, maka semakin menurun jumlah kunjungan masyarakat ke Puskesmas.

Berdasarkan hasil penelitian peneliti berasumsi faktor pendorong berada pada kategori kurang baik (44,6%). Hal ini berdasarkan pengalaman responden ketika memanfaatkan fasilitas/pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop. Responden mengatakan petugas kesehatan yang kurang disiplin (58%), kurangnya keramahtamahan petugas kesehatan (41%), serta kurangnya kecekatan dan kesigapan petugas kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan Puskesmas (56%). Hal ini mempengaruhi masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas. Pada umumnya masyarakat membutuhkan pelayanan yang baik dari petugas kesehatan, tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, serta mau mendengarkan keluhan masyarakat dan sigap/cekatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hal ini tidak dijumpai ketika masyarakat akan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan. Padahal petugas kesehatan merupakan orang yang paling dekat dengan masyarakat sehingga petugas kesehatan merupakan hal yang sangat mempengaruhi kepuasaan masyarakat ketika memnfaatkan fasiliatas pelayanan kesehatan Puskesmas Aek Torop.

5.2.4 Faktor kebutuhan (tindakan)

Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor kebutuhan dapat dilihat pada tabel 5.2, bahwa responden mengatakan tidak baik (50,2%) dan baik (49,8%). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. Disamping fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo, 2007).

Sebagaimana diungkapkan oleh Bennet dalam Trimurthy (2008) bahwa pendidikan berkaitan dengan kebutuhan pencarian pelayanan kesehatan yang terkait dengan persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan dan hubungan antara pasien dengan petugas unit pelayanan kesehatan.

Hal ini senada dengan penelitian Trimurthy (2008), tingkat pendidikan responden yang sebagian besar berpendidikan menengah keatas, sangat berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku responden tentang harapan dan kepuasannya terhadap pelayanan rawat jalan di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang. Pekerjaan mempengaruhi responden dalam mempersepsikan harapan dan kepuasan responden akan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang, dimana seorang pasien yang bekerja dengan tingkat pendidikan menengah, berpengaruh terhadap wawasan dan pola pemanfaatan pelayanan kesehatan dan mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku responden terhadap kesehatan dan kebutuhan serta keinginan akan pelayanan kesehatan yang bermutu. Menurut penelitian Purba (2009) mengatakan bahwa tindakan masyarakat dalam memanfaatkan Puskesmas sebesar 13 % dari seluruh responden. Masyarakat lebih memanfaatkan fasilitas kesehatan yang diberikan Bidan karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal serupa juga diungkapkan Hasibuan (2008) dalam Hasil Survei Kesehatan Daerah Kabupaten Labuhanbatu (2006)

menunjukkan bahwa Puskesmas hanya menjadi pilihan ketiga bagi anggota rumah tangga mencari pengobatan dalam mengatasi keluhan penyakit. Pilihan utama masyarakat menurut survei ini adalah praktek dokter dan pilihan kedua adalah praktek tenaga kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian peneliti berasumsi faktor kebutuhan responden berada pada kategori tidak baik (50,2%). Ini artinya masyarakat lebih memilih berobat ke dokter ketika sakit (84%), dan seringnya responden membeli obat di apotik ketika sakit (80%). Hal ini dapat dipicu oleh pendidikan responden mayoritas SLTA, tingkat penghasilan responden > Rp.1600.000/bulan (53%). Pendidikan tinggi akan mempengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas yang lebih baik. Hal ini menunjukkan masyarakat tidak mau berobat ke Puskesmas karena menganggap biaya yang murah akan mempengaruhi mutu pelayanan.

5.2.5 Hasil wawancara tentang apa yang membuat masyarakat tidak

Dokumen terkait