• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

4.2.1 Karakteristik Responden

dan KGDS

Pada penelitian ini didapatkan 9 responden (25,7%) dengan ISK asimtomatik memiliki usia diatas 50 tahun. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Reddy et al., (2013) di India serta Sakyi et al., (2013) di Ghana, yang menemukan insiden ISK pada pasien DM adalah rata-rata terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini terkait dengan faktor hormonal pada kondisi postmenopause yang menyebabkan atrofi vagina, sehingga flora normal vagina berkurang dan pH meningkat. Perubahan pH ini menyebabkan mikroorganisme patogen akan mudah berkolonisasi di vagina lalu masuk ke dalam saluran kencing ssehingga meningkatkan resiko terjadinya ISK (Saptiningsih, 2012).

Pada penelitian ini didapatkan 8 responden (34,8%) dengan ISK menderita DM < 5 dari tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian Saptaningsih (2012) di Bandung dan Srinivas et al., (2014) yang melaporkan tidak adanya hubungan lamanya menderita DM dengan ISK. Hasil penelitian berbeda dilaporkan oleh Vivyashree dan Yadav (2015) serta Boyko et al., (2005) yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara lamanya menderita DM dengan kejadian ISK.

Lamanya menderita DM ini tidak dapat menjadi faktor independent sebagai penyebab ISK, namun sangat erat kaitannya dengan pengendalian kadar glukosa darah yang buruk yang menyebabkan terjadinya gangguan kontraksi kandung kemih (neurogenic bladder) yang mengakibatkan tidak tuntasnya pengeluaran urin. Insidensi ISK pada wanita DM lebih tinggi pada wanita yang telah lama didiagnosis DM dibandingkan yang baru didiagnosis (dalam 6 bulan terakhir).

(Divyasharee & Yadhav; 2015; Boyko et al., 2005; Nitzan et al., 2015).

Pada penelitian ini didapatkan 10 responden (35,7%) dengan IMT overweight pada responden dengan ISK. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Ariwijaya dan Suwitra (2007) di Bali serta Al-Rubeaan et al (2013) di Riyadh melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara IMT overweight dengan ISK pada pasien DM. Nilai IMT pada pasien DM dengan ISK memiliki keterkaitan

terjadinya resistensi insulin, ditambah lagi dengan keadaan hiperglikemia sehingga sel beta pankreas tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup.

Kondisi hiperglikemia akan mengakibatkan terjadinya glikosuria yang akan menjadi media pertumbuhan dan perkembangbiakan yang baik bagi mikroorganisme penyebab infeksi (Saptiningsih, 2012; Ariwijaya & Suwitra, 2007; Al-Rubeaan et al., 2013).

Hasil penelitian ini didapatkan 9 responden (36%) dengan ISK melakukan hubungan seksual < 3 kali seminggu rata-rata 2 kali seminggu atau ± 8 kali sebulan). Frekuensi hubungan seksual > 9 kali dalam 1 bulan terakhir memiliki peluang 10 kali mengalami ISK, sedangkan frekuensi hubungan seksual 4-8 kali dalam sebulan memiliki 5-6 kali mengalami ISK. Penelitian Ariwijaya dan Suwitra (2007) di Bali melaporkan ISK pada wanita DM lebih banyak dijumpai pada responden yang aktif berhubungan seksual. Secara teori, hubungan seksual merupakan faktor resiko terjadinya ISK, hal ini dapat terjadi karena selama berhubungan seksual mikroorganisme yang terdapat di uretra atau sekitar perineum akan bermigrasi masuk ke dalam saluran kemih (Ariwijaya & Suwitra, 2007; Saptiningsih, 2012).

Pada penelitian ini didapatkan 13 responden (31%) dengan ISK memiliki lingkar perut > 80 cm. Penelitian oleh Oliveira (2016) yang melaporkan adanya hubungan antara lingkar perut (>80 cm) dengan timbulnya gejala pada saluran kemih bagian bawah seperti inkontinensia, nokturia, dan urgensi berkemih.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Hantoosh et al., (2016) di Baghdad melaporkan adanya hubungan lingkar perut (>88 cm) dengan kejadian infeksi saluran kemih pada wanita, namun penelitian ini tidak dikhususkan terhadap penderita DM (Hantoosh et al., 2016; Oliveira et al., 2016). Lingkar perut > 80 cm mengindikasikan terjadinya penumpukan lemak perivesikal yang dikenal dengan lipomatosis. Lemak viseral mampu menghasilkan sitokin inflamasi yang menyebabkan iritasi dan peradangan didalam epitel kandung kemih yang menyeba bkan munculnya gejala gangguan saluran kemih seperti frekuensi dan urgensi berkemih meningkat, ditambah lagi dengan gejala poliuri pada pasien DM yang memudahkan mikroorganisme patogen untuk masuk kedalam saluran kencing, kemudian berkolonisasi dan menyebabkan ISK (Oliveira et al., 2016).

53

Hasil penelitian menemukan 9 responden ((28,2%) dengan ISK telah berhenti menstruasi (menopause). Raz (2011) melakukan penelitian terhadap wanita DM usia 55-75 tahun yang telah menopause dan memberikan intervensi esterogen oral dengan dosis yang berbeda-beda selama 1 bulan dan melaporkan bahwa 97% terjadi peningkatan ISK pada responden yang diberikan terapi esterogen oral dengan dosis rendah dibandingkan dengan dosis tinggi. Setelah menopause, terjadi perubahan pada saluran kemih karena berkurangnya kadar esterogen yang berkontribusi terhadap kejadian ISK. Setelah menopause, pH area organ reproduksi meningkat menjadi semakin basa.

Jumlah bakteri lacobacilli sebagai flora normal akan berkurang dan tergantikan oleh koloni bakteri dari usus. Koloni bakteri usus ini ini dicurigai sebagai pemicu kerentanan terhadap infeksi saluran kemih, karena bakteri usus ini akan bersifat patogen jika berada diluar habitatnya. Keadaan menopause tidak dapat menjadi faktor resiko independen terjadinya ISK, hal ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya seperti usia dan aktivitas seksual yang akan (Raz, 2011).

Rata-rata kadar glukosa darah puasa dan sewaktu responden dengan ISK asimtomatik dijumpai rata-rata 174,8 mg/dl dan 281,4 mg/dl. Kadar glukosa darah puasa dan sewaktu pada responden tanpa ISK yaitu 167,1 mg/dl dan 271,9 mg/dl.

Hasil ini memperlihatkan KGDP dan KGDS responden dengan ISK asimtomatik lebih tinggi dari responden tanpa ISK. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yismaw et al., (2012) di Ethiopia melaporkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kadar gula darah puasa dan sewaktu dengan kejadian ISK pada pasien diabetes. Penelitian lain yang oleh Nabaigwa, et al., (2010) juga melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara hiperglikemia dengan ISK, dimana dijumpai lebih dari 80% pasien DM dengan bakteriuria memiliki kadar glukosa darah yang tinggi. Keadaan hiperglikemia menyebabkan terjadinya disfungsi pada kontraksi kandung kemih sehingga mengakibatkan urin masih tersisa didalam kandung kemih yang akan menjadi media yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri (Nabaigwa et al., 2010; Yismaw et al., 2012).

Dokumen terkait