• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.4 Tabel Hasil U ji Sensitivitas Antibiotik

Hasil uji sensitivitas antibiotik ciprofloksasin dan TMP-SMX ditunjukkan pada tabel 4.1.4 :

Tabel 4.1.4 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik

S, Sensitif; R, Resisten I, Intermediate;

Berdasarkan tabel 4.1.4 hasil uji sensitivitas antibiotik didapatkan bahwa terdapat 8 (57,1%) isolat yang resisten terhadap antibiotik, yaitu 2 (14,2%) isolat resisten terhadap ciprofloksasin dan 6 (42,8%) isolat resisten terhadap TMP-SMX. Terdapat 11 (78,5%) isolat yang sensitif terhadap ciprofloksasin, 8 (57,1%) isolat sensitif terhadap TMP-SMX. Dari tabel diatas juga diketahui bahwa bakteri K. pneumoniae memiliki tingkat resistensi lebih tinggi yaitu 4 (50%) isolat dari 8 isolat yang resisten.

4.1.5 Gambar Pembentukan Biofilm oleh Bakteri Gram Negatif

Nilai OD Pembentukan biofilm oleh bakteri gram negatif berdasarkan pemeriksaan Tissue Culture Plate ditunjukkan pada gambar 4.1:

Gambar 4.1 Gambar nilai Optical dencity dari 14 isolat dengan metode TCP Gambar 4.1 menunjukkan nilai OD pemeriksaan biofilm bakteri gram negatif dengan metode Tissue Culture Plate dari 14 isolat yaitu : E. coli (0,005;

0,017; 0,006; 0,007; 0,015), K. pneumoniae ( 0,012; 0,024; 0,01; 0,031; 0,024), Enterobacter sp (0,009; 0,093; 0,047) dan Citrobacter (0,01). Rentang nilai OD dari 14 isolat adalah 0,005-0,093 (<0,120) sehingga dikategorikan non/weak (100%).

0.005 0.017 0.006 0.007 0.015

0.012 0.024 0.01 0.031 0.024

0.009 0.093 0.047

0.01

0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12

Nilai Optical Density

Jenis Bakteri

E.coli K. pneumoniae Enterobacter sp Citrobacter sp

49

4.1.6 Tabel hubungan pembentukan biofilm dengan sensitivitas antibiotik Ciprofloksasin

Hubungan pembentukan biofilm dengan resistensi antibiotik ciprofloksasin ditunjukkan pada tabel 4.1.5 berikut ini:

Tabel 4.1.5 Hubungan Pembentukan Biofilm dengan Resistensi Antibiotik Ciprofloksasin Intermediate dan 2 (14,3%) resisten terhadap antibiotik ciprofloksasin dan memiliki kemampuan weak (lemah) dalam membentuk biofilm. Berdasarkan analisis bivariat dengan uji Rank Spearman correlation didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar -1,96 (r<0,25) dengan nilai signifikansi/ p-value sebesar 0,501.

Karena nilai koefisien korelasi -1,96 (< 0,25) maka artinya hubungan pembentukan biofilm bakteri gram negatif dengan resistensi antibiotik ciprofloksasin sangat lemah, tidak signifikan dan berlawanan arah (jika semakin kuat pembentukan biofilm maka resistensi antibiotik ciprofloksasin akan rendah atau sebaliknya).

4.1.7 Tabel Hubungan Pembentukan Biofilm dengan Sensitivitas Antibiotik Trimethoprim-Sulfametoksazol

Hubungan pembentukan biofilm dengan resistensi antibiotik

Tabel 4.1.6 Hubungan Pembentukan Biofilm dengan Sensitivitas Antibiotik Trimethoprim-Sulfametoksazol

Biofilm Bakteri Gram Negatif

Diameter Zona Hambat Antibiotik TMP-SMX (mm) Berdasarkan CLSI

P

value r

≥ 16 mm (n)

% 11-15 mm (n)

% ≤ 10 mm (n)

%

<0,120 8 57,1 0 0 6 42,9

0,721 0,105

0,120-0,240 0 0 0 0 0 0

>0,240 0 0 0 0 0 0

Jumlah 8 57,1 0 0 6 42,9

r, koefisien korelasi

Tabel 4.1.6 menunjukkan 8 (78,6%) isolat yang sensitif, dan 6 (14,3%) resisten terhadap antibiotik TMP-SMX dan memiliki kemampuan weak (lemah) dalam membentuk biofilm. Berdasarkan analisis bivariat dengan uji Rank Spearman correlation didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,105 (r<0,25) dengan nilai signifikansi/ p-value sebesar 0,721. Karena nilai koefisien korelasi 0,105 (<0,25) maka artinya hubungan pembentukan biofilm bakteri gram negatif dengan resistensi antibiotik TMP-SMX sangat lemah, tidak signifikan dan searah (jika semakin kuat pembentukan biofilm maka semakin tinggi resistensi antibiotik TMP-SMX).

51

4.2 Pembahasan

4.2.1 Karakteristik Responden berdasarkan Usia, Riwayat/ Lamanya DM, IMT, Aktivitas Seksual, Lingkar Perut, Berhenti Menstruasi KGDP dan KGDS

Pada penelitian ini didapatkan 9 responden (25,7%) dengan ISK asimtomatik memiliki usia diatas 50 tahun. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Reddy et al., (2013) di India serta Sakyi et al., (2013) di Ghana, yang menemukan insiden ISK pada pasien DM adalah rata-rata terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini terkait dengan faktor hormonal pada kondisi postmenopause yang menyebabkan atrofi vagina, sehingga flora normal vagina berkurang dan pH meningkat. Perubahan pH ini menyebabkan mikroorganisme patogen akan mudah berkolonisasi di vagina lalu masuk ke dalam saluran kencing ssehingga meningkatkan resiko terjadinya ISK (Saptiningsih, 2012).

Pada penelitian ini didapatkan 8 responden (34,8%) dengan ISK menderita DM < 5 dari tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian Saptaningsih (2012) di Bandung dan Srinivas et al., (2014) yang melaporkan tidak adanya hubungan lamanya menderita DM dengan ISK. Hasil penelitian berbeda dilaporkan oleh Vivyashree dan Yadav (2015) serta Boyko et al., (2005) yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara lamanya menderita DM dengan kejadian ISK.

Lamanya menderita DM ini tidak dapat menjadi faktor independent sebagai penyebab ISK, namun sangat erat kaitannya dengan pengendalian kadar glukosa darah yang buruk yang menyebabkan terjadinya gangguan kontraksi kandung kemih (neurogenic bladder) yang mengakibatkan tidak tuntasnya pengeluaran urin. Insidensi ISK pada wanita DM lebih tinggi pada wanita yang telah lama didiagnosis DM dibandingkan yang baru didiagnosis (dalam 6 bulan terakhir).

(Divyasharee & Yadhav; 2015; Boyko et al., 2005; Nitzan et al., 2015).

Pada penelitian ini didapatkan 10 responden (35,7%) dengan IMT overweight pada responden dengan ISK. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Ariwijaya dan Suwitra (2007) di Bali serta Al-Rubeaan et al (2013) di Riyadh melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara IMT overweight dengan ISK pada pasien DM. Nilai IMT pada pasien DM dengan ISK memiliki keterkaitan

terjadinya resistensi insulin, ditambah lagi dengan keadaan hiperglikemia sehingga sel beta pankreas tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup.

Kondisi hiperglikemia akan mengakibatkan terjadinya glikosuria yang akan menjadi media pertumbuhan dan perkembangbiakan yang baik bagi mikroorganisme penyebab infeksi (Saptiningsih, 2012; Ariwijaya & Suwitra, 2007; Al-Rubeaan et al., 2013).

Hasil penelitian ini didapatkan 9 responden (36%) dengan ISK melakukan hubungan seksual < 3 kali seminggu rata-rata 2 kali seminggu atau ± 8 kali sebulan). Frekuensi hubungan seksual > 9 kali dalam 1 bulan terakhir memiliki peluang 10 kali mengalami ISK, sedangkan frekuensi hubungan seksual 4-8 kali dalam sebulan memiliki 5-6 kali mengalami ISK. Penelitian Ariwijaya dan Suwitra (2007) di Bali melaporkan ISK pada wanita DM lebih banyak dijumpai pada responden yang aktif berhubungan seksual. Secara teori, hubungan seksual merupakan faktor resiko terjadinya ISK, hal ini dapat terjadi karena selama berhubungan seksual mikroorganisme yang terdapat di uretra atau sekitar perineum akan bermigrasi masuk ke dalam saluran kemih (Ariwijaya & Suwitra, 2007; Saptiningsih, 2012).

Pada penelitian ini didapatkan 13 responden (31%) dengan ISK memiliki lingkar perut > 80 cm. Penelitian oleh Oliveira (2016) yang melaporkan adanya hubungan antara lingkar perut (>80 cm) dengan timbulnya gejala pada saluran kemih bagian bawah seperti inkontinensia, nokturia, dan urgensi berkemih.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Hantoosh et al., (2016) di Baghdad melaporkan adanya hubungan lingkar perut (>88 cm) dengan kejadian infeksi saluran kemih pada wanita, namun penelitian ini tidak dikhususkan terhadap penderita DM (Hantoosh et al., 2016; Oliveira et al., 2016). Lingkar perut > 80 cm mengindikasikan terjadinya penumpukan lemak perivesikal yang dikenal dengan lipomatosis. Lemak viseral mampu menghasilkan sitokin inflamasi yang menyebabkan iritasi dan peradangan didalam epitel kandung kemih yang menyeba bkan munculnya gejala gangguan saluran kemih seperti frekuensi dan urgensi berkemih meningkat, ditambah lagi dengan gejala poliuri pada pasien DM yang memudahkan mikroorganisme patogen untuk masuk kedalam saluran kencing, kemudian berkolonisasi dan menyebabkan ISK (Oliveira et al., 2016).

53

Hasil penelitian menemukan 9 responden ((28,2%) dengan ISK telah berhenti menstruasi (menopause). Raz (2011) melakukan penelitian terhadap wanita DM usia 55-75 tahun yang telah menopause dan memberikan intervensi esterogen oral dengan dosis yang berbeda-beda selama 1 bulan dan melaporkan bahwa 97% terjadi peningkatan ISK pada responden yang diberikan terapi esterogen oral dengan dosis rendah dibandingkan dengan dosis tinggi. Setelah menopause, terjadi perubahan pada saluran kemih karena berkurangnya kadar esterogen yang berkontribusi terhadap kejadian ISK. Setelah menopause, pH area organ reproduksi meningkat menjadi semakin basa.

Jumlah bakteri lacobacilli sebagai flora normal akan berkurang dan tergantikan oleh koloni bakteri dari usus. Koloni bakteri usus ini ini dicurigai sebagai pemicu kerentanan terhadap infeksi saluran kemih, karena bakteri usus ini akan bersifat patogen jika berada diluar habitatnya. Keadaan menopause tidak dapat menjadi faktor resiko independen terjadinya ISK, hal ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya seperti usia dan aktivitas seksual yang akan (Raz, 2011).

Rata-rata kadar glukosa darah puasa dan sewaktu responden dengan ISK asimtomatik dijumpai rata-rata 174,8 mg/dl dan 281,4 mg/dl. Kadar glukosa darah puasa dan sewaktu pada responden tanpa ISK yaitu 167,1 mg/dl dan 271,9 mg/dl.

Hasil ini memperlihatkan KGDP dan KGDS responden dengan ISK asimtomatik lebih tinggi dari responden tanpa ISK. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yismaw et al., (2012) di Ethiopia melaporkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kadar gula darah puasa dan sewaktu dengan kejadian ISK pada pasien diabetes. Penelitian lain yang oleh Nabaigwa, et al., (2010) juga melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara hiperglikemia dengan ISK, dimana dijumpai lebih dari 80% pasien DM dengan bakteriuria memiliki kadar glukosa darah yang tinggi. Keadaan hiperglikemia menyebabkan terjadinya disfungsi pada kontraksi kandung kemih sehingga mengakibatkan urin masih tersisa didalam kandung kemih yang akan menjadi media yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri (Nabaigwa et al., 2010; Yismaw et al., 2012).

4.2.2 Bakteriuria/ ISK Asimtomatik

Pada penelitian ini, insidensi ISK asimtomatik pada wanita DMT2 dijumpai sebesar 31%. Proporsi ini sedikit lebih tinggi dari beberapa penelitian yang direview oleh Renko et al., (2011) dan Nitzan et al., (2015) yang menyatakan insidensinya masing-masing adalah 15%-30% dan 8%-26%, Hasil penelitian ini mendukung teori bahwa ISK pada wanita DMT2 bersifat asimtomatik (tanpa gejala) (Renko, 2011).

Proporsi ini dijumpai lebih tinggi dari beberapa penelitian di negara lain yaitu di Nepal sebesar 14,7% (Adhikaree et al., 2015) dan di India sebesar 16%

(Divyasharee K & Yadhav K 2015). Namun hasil penelitian ini lebih rendah dari penelitian oleh Adly et al (2015) di Kairo, Longdoh et al., (2015) Zamananzad (2016) di Kamerun serta di Nigeria yang menemukan insidensi ISK asimtomatik pada wanita DMT2 adalah sebesar 44,8%, 50,7% dan 36,2% (Adly et al., 2015;

Longdoh et al., 2013 and Bissong et al., 2013).

Hasil penelitian ini lebih tinggi dari penelitian yang dilakukan oleh Saptiningsih (2012) terhadap wanita DMT2 rawat jalan di RSB bandung, yaitu 15% (Saptiningsih, 2012). Adanya bebagai mekanisme potensial yang berkontribusi terjadinya ISK pada wanita DMT2, seperti uretra yang pendek, tingginya kadar glukosa urin yang memudahkan pertumbuhan bakteri patogen, rendahnya kadar IL-6 dan IL-8 (sebagai mekanisme pertahanan tubuh untuk menghancurkan bakteri patogen), penurunan kadar protein Tamm-Horsfall yang berperan penting untuk mencegah perlekatan bakteri patogen pada uroepitel dan faktor virulensi dari bakteri patogen itu sendiri (Nitzan et al., 2015; Reygaert, 2014).

4.2.3 Profil Bakteri Penyebab ISK

Terdapat empat jenis bakteri gram negatif yang ditemukan pada pemeriksaan kultur urin (bakteriuria signifikan 105 CFU/ml), yaitu Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Enterobacter sp dan Citrobacter sp. Pada penelitian ini didapatkan E. coli (35,7%) dan K. pneumoniae (35,7%) merupakan bakteri yang predominan menyebabkan ISK, diikuti oleh Enterobacter sp (21,5%), dan Citrobacter sp (7,1%). Hasil yang sejalan juga dijumpai pada penelitian yang

55

dilakukan Genghesh et al., (2009) di Libya yang mendapatkan sama besarnya proporsi E.coli dan K. pneumoniae sebagai penyebab ISK predominan pada pasien dibetes (Genghesh, et al., 2009).

Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan beberapa teori yang menyatakan bahwa E.coli merupakan bakteri predominan sebagai penyebab ISK diikuti oleh K. pneumoniae dan bakteri enterobactericeae lainnya. Teori ini sesuai dengan penelitian lainnya, seperti yang dilakukan oleh Sewify et al., (2016) di Kuwait yang menemukan isolat E.coli (57%) diikuti K. pneumoniae (21,8%) dan penelitian lainnya yang sejalan oleh Bonadio, et al., (2006), Srinivas et al., (2014) di India, Adly et al., (2015) di Kairo serta Adhikaree, et al., (2015) di Nepal.

Hasil berbeda didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Bissong et al (2013) di Kamerun yang menemukan K.pneumoniae sebagai bakteri gram negatif paling dominan penyebab ISK (15,9%) diikuti E.coli sebagai penyebab kedua terbanyak (10,8%) (Bissong, et al., 2013). Penelitian lainnya oleh Alebiousu, et al., (2003) juga menemukan K.pneumoniae (42,4%) sebagai penyebab predominan terjadinya ISK di Nigeria (Alebiousu, et al., 2003).

Bakteri Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae adalah bakteri gram negatif golongan enterobactericeae yang merupakan salah satu flora normal di usus besar yang dapat berkolonisasi di saluran kemih (Sobeiszczyk, 2009). Kedua bakteri memiliki kemampuan untuk berkoloni di saluran kemih dengan bantuan faktor adherensi yang disebut adhesin. Adhesin merupakan protein permukaan sel (cell-surface protein) yang dapat berupa pili dan fimbriae (Brook et al., 2014).

Adhesin akan meningkatkan kemampuan melekatnya bakteri pada mukosa saluran kemih dan juga meningkatkan virulensinya (Sobeiszczyk, 2009). Ukuran uretra yang pendek, aktivitas seksual dan kurangnya hiegine dapat menjadi faktor predisposisi bakteri yang menyebabkan bakteri ini berkoloni di introitus vagina dan kemudian masuk kedalam saluran kemih melalui uretra kemudian naik ke atas (ascending infection) menuju kandung kemih, ureter, kemudian parenkim ginjal (Sobeiszczyk, 2009). Sehingga kedua bakteri tersebut sangat memungkinkan dijumpai sebagai penyebab terjadinya ISK. Bervariasinya hasil penelitian dari beberapa penelitian sejenis kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan sosial

4.2.4 Sensitivitas Antibiotik

Dari hasil uji sensitivitas antibiotik dengan metode Kirby Bauer, ditemukan 8 (57%) isolat resisten terhadap antibiotik, yaitu 2 (14,2%) isolat terhadap Ciprofloksasin dan 6 (42,8%) isolat terhadap TMP-SMX. Bakteri K.

pneumoniae memiliki tingkat resistensi yang paling banyak yaitu 4 (50%) isolat dari 8 isolat yang resisten, 3 (60%) isolat resisten terhadap TMP-SMX. Pada penelitian ini didapatkan bahwa bakteri E.coli (100%) masih sensitif dengan antibiotik ciprofloksasin dan hanya terdapat 2 (40%) isolat yang resisten terhadap TMP-SMX. Sebagian besar mikroorganisme yang diisolasi pada penelitian ini masih sensitif terhadap ciprofloksasin dan menunjukkan antibiotik ini masih efektif sebagai terapi lini pertama dalam mengobati infeksi saluran kemih.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Nigussie dan Amsalu (2017) di Ethiopia didapatkan tingkat resistensi yang tinggi terhadap TMP-SMX (64,7%), dan resistensi yang rendah terhadap ciprofloksasin (23,5%) oleh bakteri gram negatif yang diisolasi pada penelitian ini (Nigussie & Amsalu, 2017).

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdul Sahib di Iraq yang menemukan tingginya resistensi terhadap ciprofloksasin (70,6%) dan TMP-SMX (88%) dari isolat E.coli pasien diabetes, Bonadio et al., (2006) di Italia yang menemukan tingkat resistensi yang tinggi pada E.coli terhadap ciprofloksasin (11,6%) dan TMP-SMX (19,2%) serta Sewify et al (2016) di Kuwait yang menemukan 45% isolat E.coli dan K.pneumoniae resisten terhadap TMP-SMX dan 25% resisten terhadap ciprofloksasin. Penelitian oleh Divyashree dan Yadav (2015) di India juga menemukan terjadinya peningkatan resistensi terhadap ciprofloksasin dan TMP-SMX oleh bakteri gram negatif yang diisolasi (Divyashree & Yadhav., 2015).

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Singh, et al., (2013) di Bilasphur India yang mendapatkan bahwa ciprofloksasin dan TMP-SMX merupakan antibiotik dengan sensitivitas yang sangat tinggi sebagai terapi ISK (Singh et al., 2013)

57

Pada penelitian ini tidak dijumpai adanya isolat bakteri yang resisten terhadap kedua antibiotik (ciprofloksasin dan TMP-SMX), hasil temuan ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan tingginya kejadian resistensi lebih dari satu jenis antibiotik oleh bakteri gram negatif penyebab ISK, diantaranya penelitian di Ethiopia (93,9%), Gondar (91,7%-95%), dan Addis Ababa (92,34%) (Nigussie & Amsalu, 2017).

Trimethoprim-sulfametoksazol atau yang lebih dikenal dengan nama kotrimoksazol ini bekerja dengan menghambat masuknya molekul PABA (p-amino benzoic acid) ke dalam molekul asam folat serta menghambat enzim dihidrofolat reduktase sehingga menghambat pembentukan asam tetrahidrofolat yang dibutuhkan untuk sintesis materi genetik bakteri. Resistensi bakteri gram negatif terhadap antibiotik TMP-SMX pada penelitian ini dapat terjadi karena antibiotik ini merupakan terapi lini pertama yang banyak tersedia dan sering digunakan di layanan kesehatan umum seperti di Puskesmas, baik untuk terapi ISK maupun penyakit infeksi lainnya. Selain itu juga terdapat peran dari mikroorganisme penyebab yang mampu menghasilkan PABA dan enzim reduktase dihidrofolat yang berlebihan sehingga mampu untuk menghambat kerja obat TMP-SMX yang menimbulkan resistensi terhadap aantibiotik tersebut (Nigussie & Amsalu, 2017).

Ciprofloksasin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolon generasi II yang bekerja dengan menghambat produksi enzim DNA gyrase dan DNA topoisomerase IV yang membantu dalam proses replikasi DNA, transkripsi, perbaikan dan rekombinasi bakteri. Resistensi dapat terjadi karena adanya mutasi yang menyebabkan perubahan target pada enzim DNA gyrase dan DNA topoisomerase IV serta resistensi yang diperantarai oleh plasmid yang dapat menularkan gen resisten sehingga bakteri yang awalnya tidak resisten menjadi resisten (Rahmad, 2017). Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rahmad (2017) yang menyimpulkan bahwa terjadinya resistensi terhadap ciprofloksasin berhubungan dengan adanya gen resisten terhadap ciprofloksasin pada isolat E.coli baik yang terletak di kromosom atau pun plasmid (Rahmad, 2017).

Sedangkan pada penelitian ini semua isolat E.coli sensitif terhadap ciprofloksasin,

dan hanya dijumpai 2 isolat bakteri K.pneumoniae dan Citrobacter sp yang resisten terhadap antibiotik ciprofloksasin.

Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat global terutama pada negara-negara berkembang dengan penghasilan rendah, hal ini dapat terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional, ketersediaan antibiotik yang melimpah pada fasilitas kesehatan namun penggunaannya tidak tepat dosis , tidak tepat indikasi, tidak sesuai dengan mikroorganisme penyebab, praktik pencegahan penyakit infeksi yang buruk, serta faktor mikroorganisme patogen yang mampu membentuk biofilm juga berperan sangat penting untuk terjadinya resistensi antibiotik (Nigussie & Amsalu, 2017).

4.2.5 Pembentukan Biofilm Bakteri Gram Negatif

Dari hasil pemeriksaan pembentukan biofilm menggunakan metode Tissue Culture Plate dengan pembacaan ELISA didapatkan nilai rata-rata optical density (OD) 14 isolat adalah 0,022 dengan rentang nilai 0,005-0,093 (<0,120) maka 14 isolat tersebut dikategorikan non/weak yaitu memiliki kemampuan lemah dalam membentuk biofilm. Hasil penelitian ini berbeda dari beberapa studi yang mendapatkan hasil pembentukan biofilm yang bervariasi (non/weak, moderate dan strong). Penelitian yang dilakukan Sayal et al., (2016) di India didapatkan 74,07% isolat penyebab ISK mampu membentuk biofilm yang bervariasi yaitu 29,1 % high dan 44,97% moderate sedangkan 25,92% isolat tidak mampu membentuk biofilm (Sayal et al., 2016).

Penelitian lain yang dilakukan Priyadharsini et al., 2014 dan Verma (2016) menemukan 66% bakteri yang diisolasi dari pasien DM mampu membentuk biofilm. Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa isolat bakteri penyebab ISK baik pada pasien diabetes maupun non diabetes mampu membentuk biofilm secara bervariasi (strong, moderate dan non/weak). Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian tersebut, pada penelitian ini didapatkan semua isolat bakteri penyebab ISK membentuk biofilm kategori non/weak.

Biofilm dapat dibentuk oleh hampir semua (99,9%) mikroorganisme pada berbagai permukaan (biologis dan non-biologis), dengan kerapatan optik yang

59

berbeda-beda. Kemampuan bakteri gram negatif dalam membentuk biofilm bergantung terhadap beberapa faktor adhesi dan gen virulensi yang dimilikinya seperti fimbriae, toksin, LPS, sekresi protein, kapsul dll. Penelitian yang dilakukan Fattahi et al., (2015) didapatkan bahwa isolat bakteri gram negatif yang mengekspresikan virulensi papC dan fimH yang dikodekan oleh fimbriae tipe P dan tipe 1 mampu mebentuk biofilm kategori strong dibandingkan dengan yang tidak mengekspresikan gen virulensi tersebut. Sehingga dinyatakan bahwa terdapat keterlibatan antara ekspresi gen virulensi bakteri dalam perlekatan dan pembentukan biofilm, yang mengindikasikan bahwa bakteri yang mampu membentuk strong/ moderate biofilm lebih patogen dari pada yang non/ weak dalam membentuk biofilm (Fattahi et al., 2015).

Penelitian lainnya oleh Wood (2009) menemukan bahwa kelebihan sekresi protein c-GMP oleh bakteri berhubungan dengan pembentukan biofilm, protein ini meningkatkan kemampuan bakteri untuk membentuk biofilm. Kadar c-GMP dipengaruhi proses sintesis dan degradasi oleh enzim diguanilate cyclase dan phosphodiesterase. Kedua enzim ini mempengaruhi berbagai fenotip berbagai spesies bakteri termasuk biosintesis faktor adhesin, pembentukan EPS, sekresi sitotoksik, serta produksi c-GMP yang berperan mengatur/ mengkoordinasikan perubahan bakteri dari bentuk planktonik menjadi sessile (Wood, 2009).

4.2.6 Hubungan Pembentukan Biofilm Bakteri Gram Negatif dengan Resistensi Antibiotik

Berdasarkan analisis bivariat antara pembentukan biofilm bakteri gram negatif dengan resistensi antibiotik ciprofloksasin didapatkan 2 (14,3%) isolat dengan kemampuan weak (lemah) membentuk biofilm resisten terhadap antibiotik ciprfloksasin. Hasil uji analisis bivariat dengan uji Rank Spearman correlation didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar -1,96 (r<0,25) dengan nilai signifikansi/ p-value sebesar 0,501. Karena nilai koefisien korelasi r< 0,25 maka artinya terdapat hubungan yang sangat lemah antara pembentukan biofilm bakteri gram negatif dengan resistensi antibiotik ciprofloksasin pada penelitian ini.

Hasil analisis bivariat antara pembentukan biofilm bakteri gram negatif

weak (lemah) membentuk biofilm yang resisten terhadap antibiotik TMP-SMX.

Berdasarkan analisis uji Rank Spearman correlation didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,105 (r<0,25) dengan nilai signifikansi/ p-value sebesar 0,721.

Karena nilai koefisien korelasi r<0,25 maka artinya terdapat hubungan yang sangat lemah antara pembentukan biofilm bakteri gram negatif dengan resistensi antibiotik TMP-SMX.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Baqai et al (2008) di Pakistan yang menemukan bahwa bakteri yang diisolasi dari pasien DM memiliki tingkat resistensi yang tinggi tehadap antibiotik TMP-SMX dengan sensitivitas sedang terhadap antibiotik ciprofloksasin. Dari isolat E.coli yang resisten tersebut 40% isolat mampu membentuk biofilm (Baqai et al., 2008).

Penelitian lainnya oleh Priyadharshini et al., (2014) di India menemukan dari 56 bakteri yang diisolasi dari pasien DM, 37 (66%) isolat mampu membentuk biofilm, 15 (40%) isolat resisten terhadap antibiotik. Sedangkan 19 isolat lainnya yang tidak mampu membentuk biofilm masih sensitif terhadap semua antibiotik yang digunakan pada penelitian tersebut (Priyadharshini et al., 2014). Penelitian oleh Alves et al (2014) menemukan dari 58 isolat yang mampu membentuk biofilm, 44,8% isolat resisten terhadap beberapa jenis antibiotik dibandingkan dengan 28,6% isolat yang resistensi dari 98 isolat yang tidak mampu membentuk biofilm. Kejadian ini menunjukkan bahwa pembentukan biofilm meningkatkan kejadian resistensi terhadap antibiotik (Alves et al., 2014).

Pada penelitian ini dijumpai semua bakteri yang diisolasi membentuk biofilm dengan kategori lemah (non/weak). Biofilm merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri bakteri yang juga berhubungan dengan resistensi antibiotik, namun bakteri yang membentuk biofilm dengan kategori strong lebih resisten terhadap antibiotik dibandingkan dengan kategori non/weak. Hal ini berhubungan dengan ekspresi gen virulensi (gen faktor adhesin) masing-masing bakteri yang menentukan kemampuannya dalam membentuk biofilm. Beberapa penelitian menyatakan bahwa bakteri gram negatif penyebab ISK yang mengekspresikan gen FimH dan papC ( fimbriae tipe 1 dan tipe P) mampu membentuk biofilm dengan kategori moderate hingga strong, dibandingkan dengan yang tidak mengekspresikan gen tersebut. Fimbriae tipe 1 dan tipe P ini

61

merupakan struktur filamen yang tersusun atas protein yang berada pada permukaan sel bakteri dan dikodekan olehgen kromosom. Struktur ini dapat menstimulasi inflamasi sel uroepitel, mempermudah invasi bakteri serta membentuk biofilm. Hal ini juga di bantu dengan adanya protein c-GMP yang di produksi bakteri yang mengatur/ mengoordinasi perubahan bakteri dari bentuk planktonik menjadi sessile (Fattahi, et al., 2015; Wood, 2009).

Antibiotik konvensional TMP-SMX dan ciprofloksasin menunjukkan persentase resistensi yang tinggi bahkan pada isolat yang tidak mampu membentuk biofilm. Hal ini dapat terjadi kemungkinan karena penggunaan antibiotik yang berlebihan serta tidak tepat yang mempercepat evolusi bakteri dan

Antibiotik konvensional TMP-SMX dan ciprofloksasin menunjukkan persentase resistensi yang tinggi bahkan pada isolat yang tidak mampu membentuk biofilm. Hal ini dapat terjadi kemungkinan karena penggunaan antibiotik yang berlebihan serta tidak tepat yang mempercepat evolusi bakteri dan

Dokumen terkait