BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini, responden diperoleh dari Poliklinik Saraf RSUD Dr. Moewardi. Responden adalah penderita epilepsi parsial berusia 18 sampai 65 tahun.
Tabel 4.1. Karakteristik Responden
Karakteristik Responden n (%) Umur -18-20 7 (22.6) -21-30 9 (29.0) -31-40 6 (19.4) -41-50 6 (19.4) -51-60 1 (3.2) -61-65 2 (6.5) Jenis Kelamin -Perempuan 12 (38.7) -Laki-laki 19 (61.3)
Tingkat Pendidikan Terakhir
-Tidak mengikuti pendidikan formal 2 (6.5)
-Sekolah Dasar 6 (19.4)
-Sekolah Menengah Pertama 8 (25.8)
-Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah
Kejuruan
15 (48.4) Pekerjaan
-Tidak bekerja 3 (9.7)
-Ibu Rumah Tangga 7 (22.6)
-Pelajar 4 (12.9)
-Petani 3 (9.7)
-Buruh 5 (16.1)
-Swasta 9 (29.0)
nilai % dihitung berdasarkan jumlah responden Sumber : Data Primer Agustus 2012
commit to user
32
Dari penelitian tersebut didapatkan 31 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya digunakan sebagai subjek penelitian. Responden terdiri dari 10 orang (38.7%) perempuan dan 21 orang (61.35%) laki-laki.
Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir didapatkan data 2 orang (6.5%) tidak mengikuti pendidikan formal, 6 orang (19.4%) lulusan Sekolah Dasar, 8 orang (25.8%) lulusan Sekolah Menengah Pertama, 15 orang (48.4%) lulusan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan.
Berdasarkan pekerjaan didapatkan data 3 orang (9.7%) tidak bekerja, 7 orang (22.6%) ibu rumah tangga, 4 orang (12.9%) pelajar, 3 orang (9.7%) petani, 5 orang (16.1%) buruh, 9 orang (29%) pekerja swasta.
B. Kecemasan
Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Kecemasan
Sumber : Data Primer Agustus 2012
Hasil penelitian menunjukkan 31 responden memiliki skor kecemasan bervariasi dengan skor tertinggi adalah 39 dan skor terendah adalah 3. Skor kecemasan hasil kuesioner TMAS dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu skor < 21 dikategorikan menjadi kelompok tidak cemas dan ≥ 21 Kecemasan Skor Kecemasan n (%) Tidak cemas < 21 21 (67.7) Cemas ≥ 21 10 (32.3) Total 31 (100.0)
commit to user
dikategorikan menjadi kelompok cemas. Berdasarkan pengelompokan tersebut, 21 orang (67.7%) di antaranya termasuk kategori tidak cemas dan 10 orang (32.3%) lainnya termasuk kategori cemas.
Tabel 4.3. Karakteristik Responden menurut Pengelompokan Kecemasan
*uji Kolmogorov-Smirnov
perhitungan % berdasarkan jumlah responden Karakteristik Responden Pengelompokan kecemasan P Tidak cemas n (%) Cemas n (%) Umur -18-20 3 (9.7) 4 (12.9) 0.762* -21-30 7 (22.6) 2 (6.5) -31-40 5 (16.1) 1 (3.2) -41-50 3 (9.7) 3 (9.7) -51-60 1 (3.2) 0 (0.0) -61-65 2 (6.5) 0 (0.0) Jenis Kelamin -Perempuan 8(25.8) 4 (12.9) 1.000* -Laki-laki 13 (41.9) 6 (19.4)
Tingkat Pendidikan Terakhir -Tidak mengikuti pendidikan
formal
1 (3.2) 1 (3.2)
1.000*
-Sekolah Dasar 4 (12.9) 2 (6.5)
-Sekolah Menengah Pertama 6 (19.4) 2 (6.5)
-Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan
10(32.3) 5 (16.1)
Pekerjaan
-Tidak bekerja 1 (3.2) 2 (6.5)
0.998*
-Ibu Rumah Tangga 6 (19.4) 1 (3.2)
-Pelajar 2 (6.5) 2 (6.5)
-Petani 3 (9.7) 0 (0.0)
-Buruh 3 (9.7) 2 (6.5)
commit to user
34
Berdasarkan pengelompokan umur, yang paling banyak mengalami cemas adalah pada kelompok umur 18-20 tahun, yaitu 4 orang (12.9%). Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok umur (p = 0.762).
Berdasarkan jenis kelamin, dapat disimpulkan hanya sepertiga dari jumlah responden perempuan dan laki-laki yang mengalami cemas. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok jenis kelamin (p = 1.000).
Setengah dari jumlah responden pada kelompok tidak mengikuti pendidikan formal mengalami cemas, sedangkan pada kelompok responden dengan tingkat pendidikan terakhir Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan, hanya sepertiga dari jumlah respondennya yang mengalami cemas. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok tingkat pendidikan terakhir (p = 1.000).
Pada pengelompokan responden berdasarkan jenis pekerjaan, pada kelompok responden pelajar didapatkan jumlah responden yang tidak mengalami cemas dan jumlah responden yang mengalami cemas adalah sama, sedangkan pada responden dengan pekerjaan petani tidak didapatkan responden yang mengalami cemas. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok jenis pekerjaan (p = 0.998).
commit to user C. Frekuensi Bangkitan
Gambar 4.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Frekuensi Bangkitan 1 Bulan Terakhir n (%)
Berdasarkan hasil wawancara frekuensi bangkitan epilepsi 1 bulan terakhir dapat disimpulkan bahwa dari 31 responden, 17 orang (54.8%) di antaranya tidak mengalami bangkitan dalam 1 bulan terakhir, sedangkan 14 orang lainnya (45.2%) masih mengalami bangkitan dengan frekuensi yang bervariasi dalam 1 bulan terakhir, yaitu 3 orang (9.7%) mengalami 2 kali bangkitan, 4 orang (12.9%) mengalami 3 kali bangkitan, 1 orang (3.2%) mengalami 4 kali bangkitan, 2 orang (6.5%) mengalami 6 kali bangkitan, 1 orang (3.2%) mengalami 8 kali bangkitan, 1 orang (3.2%) mengalami 12 kali bangkitan, 1 orang (3.2%) mengalami 15 kali bangkitan.
17 orang (54.8%) 3 orang (9.7%) 4 orang (12.9%) 1 orang (3.2%) 2 orang (6.5%) 1 orang (3.2%) 1 orang (3.2%) 1 orang (3.2%) 1 orang (3.2%) 0 2 3 4 6 8 12 14 15 frekuensi bangkitan 1 bulan terakhir (n/bulan)
nilai % dihitung berdasarkan jumlah subjek penelitian Sumber : Data Primer Agustus 2012
commit to user
36
Tabel 4.4. Karakteristik Responden menurut Pengelompokan Bangkitan
*uji Kolmogorov-Smirnov
perhitungan % berdasarkan jumlah responden
Berdasarkan pengelompokan umur, diketahui pada kelompok umur 51- 60 dan 61-65 tahun tidak didapatkan responden yang masih mengalami bangkitan dalam 1 bulan terakhir (0.0%). Tidak ditemukan adanya perbedaan yang bermakna pada distribusi kelompok umur (p = 0.971).
Karakteristik Responden Pengelompokan Bangkitan p Tidak mengalami bangkitan n (%) Masih mengalami bangkitan n (%) Umur -18-20 3 (9.7) 4 (12.9) 0.971* -21-30 5 (16.1) 4 (12.9) -31-40 4 (12.9) 2 (6.5) -41-50 2 (6.5) 4 (12.9) -51-60 1 (3.2) 0 (0.0) -61-65 2 (6.5) 0 (0.0) Jenis Kelamin -Perempuan 8(25.8) 4 (12.9) 0.956* -Laki-laki 9 (29.0) 10 (32.3)
Tingkat Pendidikan Terakhir -Tidak mengikuti pendidikan
formal
0 (0.0) 2 (6.5)
0.990*
-Sekolah Dasar 4 (12.9) 2 (6.5)
-Sekolah Menengah Pertama 6 (19.4) 2 (6.5)
-Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan
7 (22.6) 8 (25.8)
Pekerjaan
-Tidak bekerja 2 (6.5) 1 (3.2)
0.926*
-Ibu Rumah Tangga 5 (16.1) 2 (6.5)
-Pelajar 1 (3.2) 3 (9.7)
-Petani 2 (6.5) 1 (3.2)
-Buruh 2 (6.5) 3 (9.7)
commit to user
Berdasarkan jenis kelamin, pada kelompok responden perempuan 8 orang (66.7%) tidak mengalami bangkitan dalam 1 bulan terakhir, sedangkan 4 orang (12.9%) lainnya masih mengalami bangkitan. Pada kelompok responden laki-laki, jumlah responden lebih banyak pada kelompok yang masih mengalami bangkitan dibandingkan dengan kelompok tidak mengalami bangkitan, yaitu 9 orang (29.0%) tidak mengalami bangkitan dalam 1 bulan terakhir, sedangkan 10 orang (32.3%) lainnya masih mengalami bangkitan. Tidak ditemukan adanya perbedaan yang bermakna pada distribusi jenis kelamin (p = 0.956).
Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir didapatkan data bahwa pada responden yang tidak mengikuti pendidikan formal, semuanya mengalami bangkitan dalam 1 bulan terakhir, sedangkan pada kelompok responden lulusan Sekolah Dasar dan kelompok responden lulusan Sekolah Menengah Pertama jumlah yang tidak mengalami bangkitan lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang masih mengalami bangkitan. Pada kelompok responden lulusan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan didapatkan data bahwa responden yang masih mengalami bangkitan lebih banyak daripada yang tidak mengalami bangkitan. Tidak ditemukan adanya perbedaan yang bermakna pada distribusi pendidikan terakhir (p = 0.990).
Bila dihubungkan dengan jenis pekerjaan responden, didapatkan data bahwa pada kelompok responden ibu rumah tangga sebagian besar sudah tidak mengalami bangkitan. Pada kelompok pelajar dari 4 orang responden pelajar didapatkan data hanya 1 orang yang tidak mengalami bangkitan,
commit to user
38
sedangkan 3 orang lainnya masih mengalami bangkitan dalam 1 bulan terakhir. Tidak ditemukan adanya perbedaan yang bermakna pada distribusi jenis pekerjaan (p = 0.926).
commit to user 39 BAB V PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 31 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan semuanya digunakan sebagai subjek penelitian. Dari hasil wawancara didapatkan rincian data 17 orang (54.8%) tidak mengalami bangkitan dalam 1 bulan terakhir, sedangkan 14 orang lainnya (45.2%) masih mengalami bangkitan dengan frekuensi yang bervariasi. Frekuensi terbanyak adalah 15 kali bangkitan. Hasil skor kecemasan yang diukur dengan kuesioner TMAS didapatkan data yang bervariasi dengan skor terendah yaitu 3 poin dan skor tertinggi adalah 39 poin.
Dari hasil uji analisis regresi linier didapatkan koefisien regresi sebesar 0.471 yang menunjukkan tingkat kekuatan hubungan antara skor kecemasan dan frekuensi bangkitan ternasuk kategori sedang. Nilai Adjusted R Square sebesar 0.195 menggambarkan bahwa kecemasan mewakili 19.5 % dari varian yang mempengaruhi frekuensi bangkitan, sedangkan sisanya yaitu 80.5% dipengaruhi faktor-faktor selain kecemasan individu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara kecemasan dan frekuensi bangkitan adalah signifikan (CI 95% = 0.06 s/d 0.37; p = 0,008). Selain itu dari hasil uji analisis regresi linier terhadap data menghasilkan persamaan regresi Y = -1.174 + 0.218X dengan Y adalah frekuensi bangkitan dan X adalah skor kecemasan. Persamaan regresi menunjukkan hubungan yang positif antara kedua variabel. Hubungan yang
commit to user
40
positif menunjukkan semakin tinggi kecemasan seseorang maka semakin tinggi pula kecenderungan orang tersebut untuk mengalami bangkitan yang lebih sering.
Pada uji analisis regresi linier diperlukan uji normalitas data, tetapi uji normalitas data tersebut bukan dilakukan pada data variabel, melainkan pada data residual. Hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov terhadap data residual menunjukkan bahwa data residual terdistribusi normal (p = 0.076).
Bila dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Ulrica (1999) pada penderita epilepsi umum (grand mal), hasil penelitian menunjukkan simpulan yang sama, yaitu tingkat kecemasan dapat mempengaruhi frekuensi bangkitan penderita epilepsi. Pengaruh tingkat kecemasan terhadap frekuensi bangkitan epilepsi memiliki arah yang positif, yang berarti semakin tinggi tingkat kecemasan seorang penderita epilepsi, maka semakin besar pula kecenderungan orang tersebut mengalami bangkitan yang lebih sering.
Dampak epilepsi pada kehidupan penderita di antaranya adalah cedera akibat epilepsi, menurunnya kualitas hidup (Disability Adjusted Life Years), stigma sosial, dan risiko kematian yang lebih tinggi dibanding populasi umum. Oleh karena itu, bangkitan epilepsi pada penderita harus dicegah sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih besar pada kehidupan penderitanya (Shafer, 2002).
Manifestasi gangguan kecemasan ditentukan oleh tingkat kecemasan seorang individu. Tetapi pada penderita epilepsi, gangguan kecemasan diperburuk dengan reaksi psikososial penderita, termasuk di antaranya kekhawatiran penderita terhadap bangkitan epilepsi yang dapat timbul kapan saja dan terbatasnya aktivitas normal sehari-hari yang dapat dilakukan penderita. Kondisi
commit to user
tersebut juga masih diperburuk dengan rasa rendah diri, stigmatisasi oleh masyarakat sekitar, dan penolakan sosial yang dialami oleh penderita (Titlic, 2008; de Souza, 2003; Vazquez, 2003). Hal ini mengakibatkan kecemasan dan epilepsi seperti sebuah lingkaran yang saling berhubungan. Pasien epilepsi cenderung mengalami kecemasan kemudian kecemasan tersebut mempengaruhi sistem kerja saraf yang berkaitan erat dengan timbulnya bangkitan epilepsi.
Edeh dan Toone (1987) menyebutkan bahwa dibandingkan dengan epilepsi umum, gangguan kecemasan lebih sering ditemukan pada pasien epilepsi jenis parsial terutama pada fokus lobus temporal. Epilepsi parsial banyak ditemukan pada penderita epilepsi onset dewasa (Garcia, 2012). Pada usia dewasa, seseorang biasanya mengalami masalah kehidupan yang lebih kompleks sehingga dapat mengakibatkan masalah psikologis yang lebih kompleks pula. Hal ini tentunya akan berdampak buruk pada kehidupan penderita.
Penatalaksanaan epilepsi difokuskan pada pengendalian kejang dan pengobatannya, tetapi masalah psikologis yang terjadi pada penderita mungkin belum menjadi perhatian khusus. Hal tersebut mengakibatkan masalah psikologis yang muncul pada penderita epilepsi tidak teratasi dan berdampak buruk pada kualitas hidupnya. Sackellares dan Berent (1996) menyatakan bahwa perawatan komprehensif pada penderita epilepsi adalah selain memperhatikan pengendalian kejang diperlukan pula perhatian terhadap masalah psikologis dan sosial yang mungkin muncul.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kecemasan memiliki pengaruh positif terhadap frekuensi bangkitan pada penderita epilepsi parsial di RSUD Dr.
commit to user
42
Moewardi. Skor kecemasan yang tinggi mengakibatkan penderita memiliki kecenderungan untuk mengalami bangkitan yang lebih banyak. Oleh karena itu, selain melakukan pengendalian kejang terhadap penderita dapat diperhatikan pula faktor psikologis yang akan mempengaruhi timbulnya bangkitan dan juga keadaan penderita secara keseluruhan. Dalam hal ini tentunya peran dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan.
Dalam penelitian ini belum memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh lebih besar terhadap frekuensi bangkitan pada penderita epilepsi parsial. Oleh karena itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang lebih spesifik dan menggunakan jumlah sampel lebih besar sehingga didapatkan hasil yang lebih valid.
commit to user 43 BAB VI PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan yang positif antara kecemasan dengan frekuensi bangkitan penderita epilepsi parsial di RSUD Dr. Moewardi. Penderita dengan skor kecemasan lebih tinggi memiliki risiko mengalami frekuensi bangkitan lebih sering.
B. Saran
Berdasarkan temuan pada penelitian, disarankan sebagai berikut:
1. Untuk penyandang epilepsi
Melakukan edukasi pada penyandang epilepsi untuk selalu optimis dan menghindari kecemasan dalam menghadapi masalah.
2. Untuk keluarga penderita
Melakukan edukasi terhadap keluarga penderita untuk selalu memberikan dukungan terhadap penyandang epilepsi dan sebisa mungkin menghindarkan penyandang epilepsi dari masalah-masalah berat yang menimbulkan kecemasan.
3. Untuk masyarakat
Selain dukungan keluarga, para penyandang epilepsi juga membutuhkan dukungan dari masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal berdampingan dengan para penyandang epilepsi. Dukungan
commit to user
44
dari masyarakat di sini maksudnya adalah merubah cara pandang tentang epilepsi, sehingga stimatisasi maupun penolakan sosial yang sering dialami penyandang epilepsi dapat dihindari.
4. Untuk tenaga medis
Perlunya penanaman pemahaman tentang epilepsi bagi masyarakat oleh para tenaga medis, khususnya bagi masyarakat yang di lingkungannya terdapat penyandang epilepsi, sehingga stigmatisasi sosial dan penolakan sosial terhadap penyandang epilepsi dapat dikurangi.
5. Untuk penelitian lanjutan
Mengadakan penelitian lanjutan dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dengan memperhitungkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi frekuensi bangkitan penderita epilepsi.