BAB 3 METODE PENELITIAN
4.2 Karakteristik Responden
Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik wawancara mendalam pada responden yang dijadikan sebagai narasumber penelitian. Responden dalam penelitian ini terdiri atas dua dokter gigi yaitu dokter gigi yang bertugas di BPG dan dokter gigi yang bertugas di sekolah yang melaksanakan UKGS, satu perawat yang bertugas ke posyandu, satu kepala sekolah, dan satu guru olahraga. Wawancara juga dilakukan kepada dua belas orang masyarakat yang berobat ke BPG dan delapan belas orang masyarakat yang datang ke posyandu. Masyarakat yang menjadi responden di BPG terdiri atas ibu rumah tangga, wiraswasta, PNS, pensiunan PNS, dan pelajar. Masyarakat yang menjadi responden di posyandu terdiri atas ibu rumah tangga, dan wiraswasta. Pemeriksaan gigi dilakukan di BPG, posyandu, dan sekolah. Pemeriksaan gigi di sekolah dilakukan terhadap 45 siswa kelas V SD N 060884.
4.3 Pelayanan kesehatan gigi di BPG
BPG Puskesmas Padang Bulan buka setiap hari Senin sampai hari Jumat pukul 09.00-14.00 WIB. Khusus untuk kasus gawat darurat, BPG buka setiap hari Senin sampai hari Jumat pukul 14.00-18.00 WIB. Masyarakat yang berobat gigi ke
BPG, terlebih dahulu mengambil kartu status di BPG, kemudian mendaftar dan menerima pengobatan gigi. Sasaran pengobatan gigi di Puskesmas Padang Bulan yaitu masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan.
Gambar 2. BPG di Puskesmas Padang Bulan
Tenaga kesehatan gigi di Puskesmas Padang Bulan ada enam orang yang terdiri atas tiga dokter gigi dan tiga perawat gigi. Petugas pelayanan kesehatan gigi di Puskesmas Padang Bulan setiap harinya terdiri atas dua dokter gigi dan satu perawat gigi secara bergilir, dokter gigi dan perawat gigi yang lain bertugas pada sore hari, khusus menangani kasus gawat darurat. Rata-rata pasien yang berkujung ke BPG setiap harinya berjumlah lima belas orang. Setelah memperoleh pelayanan kesehatan gigi, pasien diberikan edukasi tentang kesehatan gigi dan mulut oleh dokter gigi maupun perawat gigi. Pelayanan kesehatan gigi yang dilaksanakan di puskesmas terdiri atas tumpatan gigi tetap, tumpatan gigi sulung, pencabutan gigi tetap, pencabutan gigi sulung, perawatan saluran akar, skeling, perawatan periodontal, pengobatan abses, dan rujukan. Jumlah pelayanan medik gigi dasar yang paling tinggi yaitu pencabutan gigi tetap yang mencapai 1.380. Tingginya kasus pencabutan gigi
tetap di Puskesmas Padang Bulan disebabkan karena masyarakat yang berobat gigi ke BPG rata-rata memiliki gigi yang tidak dapat dirawat lagi. Oleh karena itu, pencabutan gigi di Puskesmas Padang Bulan mencapai tingkat yang paling tinggi dibanding dengan pelayanan medik gigi dasar lainnya. Tingginya kasus pencabutan gigi di Puskesmas Padang Bulan menyebabkan, bahan anastesi yang diberikan oleh Dinas Kesehatan tidak mencukupi untuk semua pasien. Oleh karena itu, apabila bahan anastesi sudah habis maka, pasien dirujuk ke tempat pengobatan lainnya seperti ke rumah sakit. Jumlah pelayanan kesehatan yang paling rendah yaitu tumpatan gigi sulung. Selama tahun 2010, pelayanan medik untuk kasus tumpatan gigi sulung tidak ada. Perawatan saluran akar yang dilakukan di Puskesmas Padang Bulan hanya pada gigi berakar satu. Khusus untuk perawatan saluran akar gigi premolar dan molar, Puskesmas Padang Bulan merujuk ke tempat pengobatan gigi lainnya. Di Puskesmas Padang Bulan, skeling dilakukan dengan menggunakan alat manual. Scaler electric tidak tersedia di Puskesmas Padang Bulan.
Tabel 4. Pelayanan Medik Gigi Dasar Puskesmas Padang Bulan Tahun 2010 .
No Keterangan Total
1. Tumpatan gigi tetap 192 2. Tumpatan gigi sulung 0 3. Pencabutan gigi tetap 1380 4. Pencabutan gigi sulung 391 5. Perawatan saluran akar 348
6. Skeling 78
7. Perawatan periodontal 123
8. Pengobatan abses 393
Berdasarkan hasil wawancara dengan dokter gigi yang bertugas di BPG, faktor penghambat dalam pengobatan gigi di BPG yaitu kurangnya ketersediaan obat dan peralatan kedokteran gigi di Puskesmas Padang Bulan. Pasien dirujuk ke tempat pengobatan gigi lainnya dengan alasan keterbatasan bahan dan peralatan kedokteran gigi khususnya bahan anastesi dan scaler electrik. Bahan dan peralatan kedokteran gigi yang ada di Puskesmas Padang Bulan berasal dari Dinas Kesehatan, puskesmas tidak pernah mengeluarkan biaya untuk melengkapi bahan dan peralatan kedokteran gigi. Semua kebutuhan puskesmas terhadap bahan, dan peralatan dipenuhi oleh Dinas Kesehatan. Oleh karena itu, dokter gigi yang bertugas di BPG mengatakan bahwa puskesmas akan meningkatkan permintaan bahan kedokteran gigi ke Dinas Kesehatan.
Sarana dan prasarana yang tersedia di Puskesmas Padang Bulan yaitu: Fasilitas ruangan, terdiri atas satu ruangan balai pengobatan gigi, listrik untuk penerangan dan pemakaian alat kedokteran gigi yang elektrik, genset, serta adanya air PDAM.
Peralatan, terdiri atas alat dan bahan pengobatan gigi yang dalam keadaan baik (masker, sarung tangan, dua dental unit, kaca mulut, pinset, sonde, excavator,
contra angel dan hand piece, plastic filling, stopper semen, burnisher, stopper amalgam, spatle semen, bahan tambal, diamond bor, celluloid strip, scaler manual, tang ekstraksi dewasa dan anak, bein, cryer, probe, cotton, alkohol 70%, betadin, NaOCl, Chlor ettyl, Lidocain, alat peraga), kursi dan meja untuk dokter gigi, lemari peralatan, dokumen inventaris alat, dan catatan bahan habis pakai.
Gambar 4. Alat pengobatan gigi di BPG
Jumlah masyarakat yang berobat gigi ke Puskesmas Padang Bulan pada hari Senin 17 Januari 2011 adalah dua belas orang. Masyarakat yang datang pertama kali ke Puskesmas untuk berobat gigi ke BPG ada empat orang, dan yang lebih dari satu kali kunjungan ada delapan orang. Pengobatan gigi yang diinginkan responden terdiri atas pencabutan gigi, penambalan, dan pengobatan gusi yang bengkak dan bernanah. Responden menyatakan bahwa pelayanan kesehatan gigi yang diterima memuaskan dan pelayanan petugas kesehatan giginya baik. Hal ini disebabkan karena petugas kesehatan gigi ramah, cara kerjanya baik, dan tidak ada kecerobohan dalam
pemakaian alat. Semua responden mengatakan bahwa pelayanannya dimulai tepat waktu. Ada sepuluh orang responden menyatakan bahwa responden selalu berobat gigi ke puskesmas dengan alasan biayanya yang lebih murah dari pada berobat ke rumah sakit atau praktek dokter. Kualitasnya baik karena pengobatan dilakukan dokter gigi dalam jumlah yang cukup, dan tempatnya strategis. Ada dua orang responden menyatakan bahwa responden tidak selalu berobat gigi ke puskesmas dengan alasan hanya kebetulan lewat dari depan puskesmas, dan biasanya lebih sering berobat ke rumah sakit.
4.4Usaha Kesehatan Gigi Sekolah
Puskesmas Padang Bulan melaksanakan UKGS dengan sasaran yaitu siswa SD, SMP, dan SMA. Sekolah yang melaksanakan UKGS yaitu 25 SD, 10 SMP, dan 5 SMA. UKGS yang dilaksanakan di SD terdiri atas UKGS tahap II 10 SD dan tahap III 15 SD. Pada penelitian ini, yang diteliti yaitu sekolah yang melaksanakan UKGS tahap III yaitu SD N 060884.Sasaran UKGS Tahap III yaitu kelas 5-6 dengan jumlah siswa 159 orang.
Petugas pelaksana program UKGS terdiri atas satu dokter gigi atau perawat gigi ke setiap sekolah. Petugas pelaksana UKGS turun ke sekolah setelah memberikan surat pemberitahuan ke sekolah untuk melaksanakan UKGS di sekolah tersebut. Setelah sekolah memberikan izin, maka petugas pelaksana turun ke sekolah untuk melaksanakan kegiatan UKGS. Pihak sekolah pada umumnya memberikan izin untuk melaksanakan UKGS. Namun, apabila sekolah akan mengadakan ujian, maka
sekolah biasanya tidak memberikan izin dan petugas pelaksana tidak akan turun ke sekolah tersebut.
Sarana dan prasarana yang ada di UKGS yaitu kartu status, alat peraga, alat pemeriksaan gigi (sonde, prob, dan kaca mulut), selebaran yang akan dibagikan ke siswa, data perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi setiap tahunnya. Obat dan peralatan kedokteran gigi tidak tersedia di UKGS. Transportasi yang digunakan ambulans tetapi tenaga kesehatan gigi lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dari pada menggunakan ambulans. Hal ini disebabkan, tenaga kesehatan gigi lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi dari pada ambulans.
Faktor pendukung dalam pelaksanaan UKGS yaitu adanya kendaraan pribadi tenaga kesehatan gigi, adanya enam puluh orang dokter kecil dan lima belas guru UKGS di sekolah. Kendaraan pribadi tenaga kesehatan gigi akan membawa alat peraga, kartu status, alat pemeriksaan gigi, dan selebaran ke sekolah. Guru UKGS dan dokter kecil yang dipilih akan membantu tenaga kesehatan gigi dalam pelaksanaan upaya preventif dan promotif seperti, penyuluhan kesehatan gigi, dan pelaksanaan sikat gigi masal. Sedangkan faktor penghambat dalam pelaksanaan UKGS yaitu obat dan peralatan kedokteran gigi di sekolah tidak tersedia.
Frekuensi kunjungan tenaga kesehatan gigi ke setiap sekolah yaitu satu kali per tahun. Kegiatan yang dilaksanakan pada UKGS tahap III yaitu penyuluhan, penjaringan, sikat gigi masal satu kali per tahun ke setiap sekolah, dan rujukan. Penjaringan dilakukan dengan memeriksa status kesehatan gigi dan mulut khususnya siswa kelas satu. Saat penjaringan, siswa yang membutuhkan pelayanan kesehatan gigi akan dirujuk ke puskesmas. Siswa yang dari sekolah dirujuk ke puskesmas oleh
tenaga kesehatan gigi maupun guru olahraga. Kasus yang dirujuk ke puskesmas yaitu gangren, gingivitis, dan abses. Jumlah rujukan bagi yang memerlukan ada 159 siswa.
Kumur-kumur fluor tidak dilaksanakan dan sikat gigi masal hanya sekali setahun dilaksanakan karena keterbatasan biaya. Biaya operasional kegiatan UKGS seperti biaya transportasi, biaya pelayanan gigi darurat, biaya pelatihan guru dan dokter kecil, konsumsi petugas, dan biaya insentif petugas, berasal dari Dinas Kesehatan. Biaya yang dari Dinas Kesehatan hanya mencukupi pelayanan UKGS untuk sepuluh sekolah saja, sedangkan jumlah SD yang berada di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan ada 25. Jadi, untuk melaksanakan pelayanan UKGS ke lima belas SD lainnya maka puskesmas menyediakan biaya operasional yang diperoleh dari pengalokasian dana APBD yaitu biaya penyuluhan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SD N 060884, faktor pendukung pelaksanaan UKGS yaitu guru olahraga yang melanjutkan pembinaan kesehatan gigi dan mulut ke siswa dan orang tua siswa yang mendukung dalam hal biaya pembuatan baju seragam dokter kecil. Pihak sekolah juga berharap agar UKGS tetap dilaksanakan karena UKGS dirasakan sangat bermanfaat khususnya bagi siswa SD N 060884. Melalui UKGS, siswa dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan gigi, cara menjaga kebersihan gigi yang tidak pernah diberikan di sekolah.
4.5Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat
Puskesmas Padang Bulan melaksanakan UKGM di posyandu. Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan terdiri atas 23 posyandu yaitu 22
Posyandu Purnama dan satu Posyandu Mandiri. Sasaran pelaksanaan UKGM di posyandu yaitu balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan yang melaksanakan program UKGM ada enam yaitu lima posyandu purnama dan satu posyandu mandiri. Kegiatan UKGM yang dilakukan di posyandu yaitu penyuluhan dan pembinaan kader satu kali setiap tahun. Rujukan tidak dilaksanakan di posyandu. Pihak puskesmas mengatakan bahwa mereka sampai saat ini masih terus berupaya melaksanakan program UKGM yang merupakan program rutin tiap tahunnya.
Petugas pelaksana UKGM terdiri atas satu dokter gigi atau satu perawat gigi, dan kader ke setiap posyandu. Faktor pendukung UKGM yaitu tersedianya kader yang dipilih dari masyarakat di setiap posyandu untuk membantu tenaga kesehatan gigi. Kader yang terpilih akan dilatih sesuai dengan perencanaan program. Jumlah kader di posyandu yang melaksanakan UKGM yaitu 30 orang.
Sarana dan prasarana UKGM yang tersedia yaitu alat peraga, dan transportasi ambulans. Obat dan alat pemeriksaan tidak tersedia di posyandu karena program UKGM di posyandu hanya penyuluhan saja. Faktor pendukung pelaksanaan UKGM yaitu adanya kendaraan pribadi tenaga kesehatan gigi lebih nyaman dipakai dari pada ambulans.
Biaya operasional kegiatan UKGM seperti biaya transportasi, biaya penyuluhan, konsumsi petugas, dan biaya insentif petugas, berasal dari pemerintah namun tidak mencukupi. Oleh karena biaya diperoleh dari pengalokasian dana APBD yaitu biaya penyuluhan Jamkesmas.
Berdasarkan hasil penelitian, jumlah masyarakat yang datang ke Posyandu Cempaka jalan bahagia pada hari Selasa 18 Januari 2011 adalah delapan belas orang. Distribusi responden berdasarkan usia yaitu empat orang responden berusia 25-30 tahun, sembilan orang responden berusia 31-35 tahun, tiga orang responden berusia 35-40 tahun, dan dua orang responden berusia >40 tahun. Distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhir yaitu satu orang tamat SD, satu orang tamat SMP, tiga belas orang tamat SMA, satu orang D3, dan satu orang S1. Responden datang pertama kalinya ke posyandu, ada lima orang dan responden datang lebih dari satu kali ke posyandu ada tiga belas orang. Semua responden yang datang ke posyandu tidak mengetahui adanya UKGM atau pelayanan kesehatan gigi di posyandu. Responden yang datang ke posyandu semuanya ingin membawa anaknya imunisasi bukan untuk memperoleh pelayanan kesehatan gigi.