• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.2 Karakteristik Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah usaha pengolahan kopi Robusta yaitu Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok. Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok ini berdiri pada tahun 1996. Industri pengolahan ini mulai mengolah kopi biji Peaberry Robusta sejak tahun 2019. Pengolahan kopi biji Peaberry Robusta menjadi kopi bubuk ini dilakukan oleh 3 orang karyawan. Proses produksi dilakukan sebanyak 1 kali dalam sebulan.

Industri ini tergolong ke dalam industri rumah tangga, yaitu industri yang memiliki tenaga kerja kurang dari empat orang dan memiliki modal terbatas.Adapun karakteristik dari industri pengolahan kopi Robusta Pinabar Sipirok Kelurahan Pasar Sipirok ini dapat dilihat pada Tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4.5. Karakteristik Sampel Industri Pengolahan Kopi Robusta Sipirok No. Nama

Sumber: Data Olahan Primer Lampiran 1, 2020

39

Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa industri pengolahan kopi Robusta pada industri pengolahan Kopi Pinabar Sipirok sudah dilakukan selama 24 tahun, dan sudah memproduksi kopi Peaberry Robusta selama 1 tahun. Industri ini mampu memproduksi kopi bubuk Peaberry Robusta sebanyak 16Kg/bulan.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Proses Pengolahan Kopi Peaberry Robusta Pinabar Sipirok

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden di daerah penelitian yaitu pada Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok. Diketahui proses produksi dilakukan sekali dalam satu bulan dan dalam pengolahan kopi Peaberry Robusta menjadi kopi bubuk dilakukan beberapa tahapan. Untuk lebih jelasnya alur tahapan proses pengolahan kopi Peaberry Robusta menjadi kopi bubuk Peaberry Robusta dapat dilihat pada Gambar 5.1 sebagai berikut:

Gambar 5.1 Tahapan Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta Pengeringan Kopi Biji

(Dry Processing)

Penggilingan (Hulling)

Pengemasan (Packaging) Sortasi Biji Peaberry

(Sortation)

Penyangraian (Roasting)

41

1. Pengeringan Kopi Biji (Dry Proccesing)

Proses pertama yang dilakukan dalam pengolahan kopi biji peaberry menjadi kopi bubuk Robusta di daerah penelitian adalah proses pengeringan. Biji kopi kering yang diterima dari petani akan dikeringkan kembali (penjemuran lanjutan).

Penjemuran kembali ini bertujuan untuk menurunkan kadar air biji kopi dari 16-17% hingga 12%. Kadar air tersebut merupakan kadar air kesetimbangan agar biji kopi yang dihasilkan stabil tidak mudah berubah rasa dan tahan serangan jamur.

Pengeringan di daerah penelitian dilakukan dengan cara menjemur biji kopi secara alami dengan memanfaatkan sinar matahari. Biji kopi dijemur diatas jaring kawat (paranet nylon) sekitar 2 hari.

2. Sortasi Biji Peaberry(Sortation)

Sortasi biji dilakukan untuk memisahkan kopi jantan (peaberry) dengan kopi betina (flatberry). Kopi jantan memiliki bentuk yang lebih bulat, sedangkan kopi betina memiliki bentuk yang lebih pipih. Selain itu sortasi juga bertujuan untuk memisahkan kopi dari kotoran - kotoran seperti kerikil, pasir serta benda asing lainnya. Proses sortasi dilakukan selama 5 hari dalam satu kali proses produksi.

3. Penyangraian (Roasting)

Proses penyangraian dilakukan untuk mendapatkan kopi beras yang berwarna cokelat kehitam-hitaman. Proses penyangraian dilakukan dengn tujuan agar biji kopi mampu memproduksi cita rasa dan aroma kopi yang unik dan nikmat pada kopi. Penyangraian dilakukan dengan mesin roaster. Kopi disangrai selama 15-30 menit sampai warna biji kopi sudah coklat kelam (kehitam-hitaman) dan mudah pecah. Setelah disangrai, kemudian kopi didinginkan selama 2 hari untuk menghasilkan cita rasa kopi yang lebih baik dengan aroma yang kuat. Perostingan

dilakukan di Kota Padangsidimpuan di UD. AKS dengan mengeluarkan jasa roasting Rp. 25.000/Kg.

4. Penggilingan (Hulling)

Penggilingan dilakukan untuk memecah butiran biji kopi yang telah disangrai sehingga halus menjadi kopi bubuk. Penggilingan dilakukan dengan mesin giling kopi atau grinder yang memerlukan waktu 2 hari untuk satu kali proses produksi..

Ukuran partikel kopi diatur di mesin grinder sehingga menghasilkan kopi bubuk dengan ukuran partikel bubuk dengan kehalusan medium (gilingan sedang).

Tekstur dari medium ini mirip dengan pasir pada umumnya 5. Pengemasan

Pengemasan dilakukan agar kopi yang sudah digiling tidak mengalami perubahan aroma dan cita rasa kopi. Dalam tahap pengemasan, bubuk kopi dimasukkan ke dalam kemasan aluminium foilstanding pouch yang telah disiapkan dengan merek

“Pinabar” kemudian di pres menggunakan mesin press plastik untuk mencegah udara masuk ke dalam kemasan.Berikut disajikan dokumentasi dari proses pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta:

1.Pengeringan Biji Kopi 2. Sortasi biji Peaberry

43

3. Penyangraian biji kopi 4. Penggilingan (dengan MesinGrinder)

5. Pengemasan

Gambar 5.2. Alur Proses Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta

Berdasarkan Gambar 5.2 dapat dilihat bahwa proses pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta dilakukan secara semi modern, yaitu prosesnya sebagian dengan cara modern dan tradisional. Cara tradisional seperti pada tahapan pengeringan biji kopi, sortasi biji dan pengemasan manual. Proses pengolahan

kopi bubuk Peaberry Robusta yang menggunakan bantuan mesin seperti pada proses penyangraian, penggilingan, dan pengemasan dengan mesin press plastik.

5.2. Nilai Tambah Industri Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta

Menurut Hayami et al (1987), nilai tambah (value added) adalah pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan dalam suatu produksi. Dalam proses pengolahan, nilai tambah dapat didefenisiskan sebagai selisih antara nilai produk dengan nilai biaya bahan baku dan input lainnya, tidak termasuk tenaga kerja. Sedangkan marjin adalah selisih antara nilai produk dengan harga bahan bakunya saja. Dalam marjin ini tercakup komponen faktor produksi yang digunakan yaitu tenaga kerja, input lainnya dan balas jasa pengusaha.

5.2.1 Penggunaan Input Dalam Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta Input merupakan unsur-unsur pokok yang dibutuhkan dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu output. Adapun penggunaan input dalam proses pengolahan kopi Bubuk Peaberry Robustapada idustri kopipinabar Sipirok meliputi bahan baku, sumbangan input lain seperti; ongkos roasting, kemasan, BBM, dan listrik, alat-alat pembuatan kopi bubuk dan tenaga kerja.

5.2.1.1 Penggunaan Bahan Baku

Kegiatan pengadaan bahan baku merupakan kegiatan paling penting yang dapat mempengaruhi proses produksi suatu usaha. Bahan baku dalam pengolahan kopi bubuk peaberry Robusta di daerah penelitian adalah biji kopi Robusta. Bahan baku diperoleh dari petani kopi Robustadi Pining Nabaris Kelurahan Pasar Sipirok Kecamatan Sipirok. Berikut keterangan lebih lanjut mengenai penggunaan bahan

45

baku dalam usaha pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta.

Tabel 5.1. Penggunaan Bahan Baku dalam Industri Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta Per Proses Produksi

No. Uraian Kebutuhan

Peaberry Robusta Per Satu Kali Proses Produksi

20 100.000 2.000.000

Sumber: Lampiran2 (diolah), 2020

Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa kopi biji yang diperlukan dalam satu kali proses produksi adalah sebanyak 20 Kg, dimana harga per kilogram kopi biji adalah Rp.

100.000. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 1.200.000.

5.2.1.2 Sumbangan Input Lain

Selain bahan baku biji kopi, dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta juga dibutuhkan sumabngan input lain yaitu bahan penunjang dan investasi modal asing atau biaya penyusutan.

1. Bahan Penunjang

Beberapa bahan penunjang seperti ongkos Roasting, kemasan plastik alumunium foilstanding pouch, BBM, dan listrik. Secara rinci bahan penunjang yang digunakan dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta dapat dilihat pada Tabel 5.2 berikut:

Tabel 5.2. Bahan Penunjang PerProses Pengolahan Kopi Bubuk Robusta Peaberry diPengolahan Kopi Pinabar Sipirok Tahun 2020

No.

Uraian Volume

Per Produksi Satuan Harga Satuan (Rp)

Bahan Penunjang (Rp/Kg) 32.650

Sumber: Lampiran 3(diolah), 2020

Dari Tabel 5.2 dapat diketahui bahwa bahan penunjang dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta dalam satu kali proses produksi adalah Rp. 653.000 untuk 20 Kg kopi biji. Dimana sumbangan input lain untuk 1 Kg kopi biji adalah sebesarRp. 32.650. Biaya sumbangan input lain yang paling besar adalah ongkos roasting yaitu sebesar Rp. 500.000. Sedangkan biaya input lain yang paling kecil adalah biaya BBM, yaitu sebesar Rp. 15.000.

2. Penggunaan Modal Investasi

Ketersediaan modal yang mencukupi dalam menjalankan suatu usaha sangat diperlukan demi keberlangsungan usaha yang dijalankan. Besar atau kecilnya modal yang digunakan tergantung skala usahanya. Semakin besar usaha yang dijalankan semakin besar modal yang digunakan dan demikian sebaliknya.

Adapun penggunaan modal investasi dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut

47

Tabel 5.3. Biaya Penyusutan Peralatan Per Proses Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta di Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok Tahun 2020

No. Jenis Alat Jumlah Biaya Penyusutan (Rp/Bulan)

1 Jaring Kawat 1 4.166,6

Total Biaya Penyusutan 143.458.1

Bahan Penunjang 653.000

Total Sumbangan Input Lain 796.485,1

Penggunan Bahan Baku 20

Biaya Penyusutan Alat per Kg (Rp) 7.172,9 Total Sumbangan Input Lain per Kg (Rp) 39.822,9 Sumber: Lampiran 4 (diolah), 2020

Tabel 5.3 di atas memperlihatkan bahwa biaya penyusutan peralatan yang harus

dikeluarkan dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta adalah Rp. 143.458.1/bulan. Adapun biaya penyusutan yang paling tinggi adalah biaya

mesin penggiling (grinder) yaitu sebesar Rp. 125.000. Sedangkan biaya penyusutan yang paling rendah adalah biaya timbangan yaitu sebesar Rp. 583,3 Biaya penyusutan alat per Kg nya untuk 20 Kg adalah Rp. 7.172,9. Sumbangan input lain adalah total biaya penyusutan ditambah dengan bahan penunjang. Jadi total sumbangan input lain adalah Rp 796.485.

5.2.1.3 Penggunaan Tenaga Kerja

Dalam proses produksi tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang kegiatan suatu usaha. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, pada usaha pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta tenaga kerja diperlukan untuk mengerjakan hanya pada kegiatan sortasi biji. Dimana jumlah

tenaga kerja yang digunakan sebanyak 2 orang pria yang merupakan tenaga kerja luar keluarga.

Dalam proses penyortiran biji kopi digunakan tenaga kerja sebanyak 2 orang pria.

Upah yang dikeluarkan untuk menyortir 1 Kg biji kopi peaberry sebesar Rp.

40.000. Dalam waktu 1 hari dengan jam kerja selama 7 jam menghasilkan sekitar 4 Kg biji kopi peaberry. Untuk proses sortasi hanya dilakukan 5 kali (hari) dalam sekali proses pengolahan biji kopi peaberry. Maka upah yang dikeluarkanuntuk 1 orang tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 80.000/ hari atau sebesar Rp. 400.000/ 5 hari.

Cara menghitung HKP adalah:

Untuk lebih jelasnya penggunaan tenaga kerja dan biaya tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 5.4 berikut:

Tabel 5.4 Kebutuhan dan Upah Tenaga Kerja Per Proses Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta di Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok

49

Tabel 5.4 diatas memperlihatkan bahwa penggunaan tenaga kerja dalam satu kali proses produksi pembuatan kopi bubuk Peaberry Robusta membutuhkan tenaga kerja sebanyak 2 orang. Jadi, hari kerja orang yang digunakan dalam satu kali produksi adalah sebanyak 1,75 HKP dengan rata-rata upah/HKP sebesar Rp.

457.142,85 Jadi, total upah yang dikeluarkan dalam satu kali produksi adalah Rp.

800.000.

5.2.2. Perhitungan Nilai Tambah yang Diperoleh dari Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta

Metode analisis data yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta adalah Metode Hayami. Kelebihan Metode Hayami adalah dapat diketahui besarnya nilai tambah, nilai output, dan produktivitas, serta dapat diketahui besarnya balas jasa terhadap pemilik-pemilik faktor produksi. Berikut ini merupakan tabel perhitungan nilai tambah usaha pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta menggunakan Metode Hayami:

Tabel 5.5 Nilai Tambah yang Diperoleh dari Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta di Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok Tahun 2020

Variabel Keterangan Nilai

I Output, Input dan Harga

1. Output/Produk Total (Kg/Proses Produksi) A 16

2. Input Bahan Baku (Kg/Proses Produksi) B 20

3. Input Tenaga Kerja (HOK/Proses Produksi) C 1,75 4. Faktor Konversi (Kg Output/Kg Bahan Baku) D = A/B 0,8 5. Koefisien Tenaga Kerja (HOK/Kg Bahan Baku) E = C/B 0,0875

6. Harga Output (Rp/Kg) F 350.000

7. Upah Rata – Rata Tenaga Kerja (Rp/HOK) G 457.142,85 II Penerimaan Dan Keuntungan

8. Harga Input Bahan Baku (Rp/Kg) H 100.000

9. Sumbangan Input Lain (Rp/Kg) I 39.822,9

10. Nilai Output (Rp/Kg) J = D x F 280.000

11. Nilai Tambah (Rp/Kg) K = J – H – I 126.897,1

III Balas Jasa Untuk Faktor Produksi

14. Marjin (Rp/Kg) Q = J – H 180.000

- Pendapatan Tenaga Kerja (%) R% = M/Q x 100 22,22%

- Sumbangan Input Lain (%) S% = I/Q x 100 22,12%

- Keuntungan Pengusaha (%) T% = O/Q x 100 48,27%

Sumber:Lampiran 7, 2020 1. Output, Input danHarga

Tabel 5.6 menjelaskan bahwa dalam usaha pengolahan kopi biji Peaberry Robusta menjadi kopi bubuk Peaberry Robusta dengan mengunakan bahan baku kopi biji sebanyak 20 kg dapat menghasilkan output 16 kg kopi bubuk. Sehingga menghasilkan faktor konversi sebesar 0,8. Nilai konversi ini menunjukkan bahwa setiap pengolahan 1 kg kopi biji dapat menghasilkan 0,8 kg kopi bubuk Peaberry Robusta. Proses pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta menggunakan tenaga kerja sebanyak 0,0875HOK. Sehingga koefisien tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi 1 kg kopi bubuk Peaberry Robusta digunakan sebanyak 0,0875HOK.

2. Penerimaan dan Keuntungan

Dari tabel dapat diuraikan bahwa harga bahan baku yang digunakan untuk pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta di daerah penelitian adalah Rp.

100.000,00/Kg. Sedangkan sumbangan input lain dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta adalah Rp. 39.822,9/Kg bahan baku. Harga output produk kopi bubuk Peaberry Robusta adalahRp. 350.000,00/Kg dan nilai output adalah Rp.

280.000/Kg.

51

Dapat diketahui bahwa nilai tambah yang diperoleh dari usaha pengolahan kopi biji Peaberry Robusta menjadi kopi bubuk Peaberry Robusta adalah sebesar Rp.

126.897,1/Kg yang diperoleh dari nilai output dikurang harga input bahan baku dan sumbangan input lain, dengan rasio nilai tambah sebesar 50,06% yang artinya 50,06% dari nilai output merupakan nilai tambah yang diperoleh dari proses pengolahan kopi biji Peaberry Robusta menjadi kopi bubuk Peaberry Robusta.

Pendapatan tenaga kerja yang diperoleh dari hasil kali antara koefisien tenaga kerja dengan upah rata-rata tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 457.142,85/Kg dengan bagian tenaga kerja sebesar 31,52%. Keuntungan yang diperoleh dari usaha pengolahan kopi biji menjadi kopi bubuk Peaberry Robusta adalah sebesar Rp.

86.897,11/Kg, dengan tingkat keuntungan sebesar 31,03%.

3. Balas Jasa Untuk Faktor Produksi

Dari tabel analisis nilai tambah Metode Hayami dapat dilihat bahwa margin yang diperoleh dari nilai output dikurangi dengan harga input bahan baku adalah sebesar Rp. 180.000/Kg, dengan persentase pendapatan tenaga kerja sebesar 22,22%, sumbangan input lain sebesar Rp. 22,12%, dan keuntungan pengusaha sebesar 48,27%..

Dari hasil penelitian diperoleh besarnya nilai tambah pada usaha pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta di Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok adalah Rp.

126.897,1/Kg dengan rasio nilai tambah sebesar 50,06% (>50%). Jika nilai tambah >50 maka nilai tambah dinyatakan tinggi, maka hipotesis 1 dapat diterima.

5.3. Pendapatan yang Diperoleh dari Pengolahan Kopi Bubuk Robusta Peaberry

5.3.1 Penerimaan

Penerimaan adalah besarnya produksi dikalikan dengan harga jual produk Penerimaan dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta merupakan sejumlah uang yang diterima atas penjualan kopi bubuk Peaberry Robusta dalam satu kali proses produksi. Jumlah penerimaan dari pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta dapat dilihat padaTabel 5.6 berikut ini :

Tabel 5.6. Penerimaan yang Diperoleh Per Proses Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta di Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok Tahun 2020

No. Uraian Jumlah Satuan Penerimaan standing pouch 100 gr

b. Kemasan Alumunium foil standing pouch 200 gr

96 32

Bungkus Bungkus 4 Harga Jual

a. 35.000/ Kemasan100 gr

b. 70.000/ Kemasan 200 gr 3.360.000

2.240.000

Total Penerimaan 5.600.000

Sumber: Lampiran 8 (diolah), 2020

Tabel 5.6 di atas memperlihatkan bahwa output yang dihasilkan dalam satu kali proses pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta adalah sebanyak 16 Kg kopi bubuk, yang dikemas dalam kemasan 100 gr sebanyak 96 bungkus dengan harga Rp. 35.000, dan kemasan 200 gr sebanyak 32 bungkus dengan harga sebesar Rp.

53

70.000. Maka penerimaan yang diperoleh Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok untuk kopi bubuk Peaberry Robusta per proses produksi adalah sebesar Rp. 5.600.000.

5.3.2 Biaya Produksi

Biaya produksi adalah semua biaya yang berkaitan dengan proses pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta di pengolahan kopi pinabar Sipirok. Adapun biaya produksi pada proses pengolahan adalah biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya penyusutan peralatan dan biaya variabel (variable cost) yaitu biaya bahan baku, biaya input lain dan biaya upah tenaga kerja. Jumlah biaya produksi dari pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta dapat dilihat padaTabel 5.7 berikut ini :

Tabel 5.7. Biaya Produksi Pengolahan Per Proses Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta di Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok

Tahun 2020

No. Uraian Total (Rp)

Biaya Produksi 1. Biaya Tetap

- Biaya Penyusutan Peralatan 143.458.1

2. Biaya Variabel

- Biaya Bahan Baku 2.000.000

- Biaya Input Lain 653.000

- Biaya Upah Tenaga Kerja 800.000

Total Biaya (TC) 3.596.458,1

Sumber: Lampiran 2,3,4,6&8 (diolah), 2020

Tabel 5.7 di atas menunjukkan bahwa total biaya produksi dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta sebesar Rp. 2.796.458,1. dengan biaya produksi terbesar adalah biaya upah tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 800.000 dan biaya terendah adalah biaya penyusutan peralatan yaitu sebesar Rp. 143.458.1

5.3.3 Pendapatan

Pendapatan dalam pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta adalah total penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan kopi bubuk Peaberry Robusta dikurangi total biaya produksi yang dikeluarkan dalam proses produksi. Besarnya pendapatan yang diperoleh dari pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta dapat dilihat pada Tabel 5.8 berikut:

Tabel 5.8. PendapatanBersih dari Hasil Pengolahan Per Proses Pengolahan Kopi Bubuk Peaberry Robusta di Pengolahan Kopi Pinabar

- Biaya Penyusutan Peralatan 143.458.1 Biaya Variabel

Tabel 5.8 memperlihatkan bahwa penerimaan yang diperoleh Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok per proses produksi yaitu sebesar Rp. 5.600.000. Biaya yang

dikeluarkan per proses produksi kopi bubuk Peaberry Robusta adalah sebesar Rp. 3.596.458,1yang terdiri dari biaya tetap yaitu biaya penyusutan peralatan

sebesar Rp. 143.458.1, dan biaya variabel yaitu biaya bahan baku sebesar Rp.

2.000.000, biaya input lain sebesar Rp. 653.000, dan biaya upah tenaga kerja sebesar Rp. 800.000. Dengan demikian pendapatan yang diperoleh dari pengolahan kopi biji Peaberry Robusta menjadi kopi bubuk Peaberry Robusta adalah Rp. 2.003.541.9 satu kali proses produksi.

55

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa industri pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta memperoleh keuntungan karena penerimaan yang didapat lebih besar daripada total biaya produksi yang dikeluarkan. Artinya, produsen mendapatkan keuntungan dari pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah

1. Nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan kopi biji Peaberry Robustamenjadi kopi bubuk Peaberry Robustapada Industri Pengolahan tergolong tinggi, yaitu sebesar Rp. 126.897,1/Kg dengan rasio nilai tambah sebesar 50,06%.

2. Pendapatanyang diperoleh dari usaha pengolahan kopi biji Peaberry Robustamenjadi kopi bubuk Peaberry Robusta pada Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok tergolong menguntungkan, yaitu sebesar Rp. 2.003.541,9 per proses produksi.

6.2. Saran

1. Kepada Pengolah Kopi Bubuk Peaberry Robusta

Kepada pengolah khususnya Industri Pengolahan Kopi Pinabar Sipirok diharapkan agar terus mengembangkan usahanya dibidang pengolahan kopi bubuk Robusta dan terus berupaya dalam memperluas jangkauan pemasaran produk serta lebih mengefisienkan biaya produksi untuk meningkatkan nilai tambah. Dan diharapkan menambah frekuensi proses produksi dalam waktu satu bulan agar dapat meningkatkan pendapatan pengusaha melalui pengolahan kopi bubuk Peaberry Robusta.

57

2. Kepada Pemerintah

Kepada pemerintah diharapkan agar lebih memperhatikan industri rumah tangga, kecil dan menengah. Pemerintah diharapkan lebih memperhatikan kebijakan harga dan diharapkan dapat memberikan bantuan seperti memberikan peralatan atau mesin yang akan digunakan dalam usaha, memberikan kredit modal usaha dan pelatihan terkait usaha pengolahan kopi Robusta.

3. Kepada Peneliti Selanjutnya

Kepada peneliti selanjutnya agar meneliti lebih lanjut mengenai strategi pemasaran produk kopi bubuk Peaberry Robusta, agar dapat diketahui strategi yang dapat diterapkan untuk memperluas jangkauan pemasaran produk.

DAFTAR PUSTAKA

Aditya, I.W., Nocianitri, K.A., danYusasrini, N.L.A. 2016. Kajian Kandungan Kafein Kopi Bubuk, Nilai Ph dan Karakteristik Aroma dan Rasa Seduhan Kopi Jantan (Pea Berry Coffee) dan Betina (Flat Beans Coffee) Jenis Arabika dan Robusta. Jurnal Ilmu danTeknologi Pangan. 5(1).

Afriliana A. 2018. Teknologi Pengolahan Kopi Terkini. Penerbit Deepublish.

Yogyakarta

Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Kopi Indonesia 2016. Badan Pusat Statistik.

Jakarta.

Badan Standardisasi Nasional. 1994. SNI 01-3542-1994 Syarat Mutu Kopi Bubuk. Jakarta.

Budhisatyarini, T. 2008. Seminar Nasional Dinamika Pembangunan Pertanian Dan Pedesaan Tantangan dan Peluang Bagi Peningkatan Kesejahteraan Petani; Nilai Tambah Diversifikasi Hasil Usahatani Bawang Merah Menjadi Bawang Goreng. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian : Bogor.

Dien, P. 2012. Pilih Kopi Jantan atau Kopi Betina. Diunduh dari

http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2012/02/02/pilih-kopi-jantan-ataukopi-betina-435683.html

Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan. 2019. Kabupaten Tapanuli Selatan Dalam Angka 2019. Badan Pusat Statistik: Kabupaten Tapanuli Selatan.

Gusfarina 2014. Mengenal Kopi Liberika Tungkal (Libtukom). Jambi: BPTP Provinsi Jambi.

Haryanto, B. 2012. Prospek Tinggi Bertanam Kopi. Pustaka Baru Press.

Yogyakarta.

Hayami, Y; Kawagoe, T; Morooka, Y; Siregar, M. 1987. Agricultural Marketing and Processing in Upland Java A Perspective from a Sunda Village.

CGPRT Centre. Bogor.

Hulupi R. 2014. Libtukom: Varietas Kopi Liberik aAnjuran untuk Lahan Gambut.

Jember: Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, pp. (26)1, 1-6.

ICO. 2017. “Data Negara Produsen Kopi”.diakses12 Desember 2017.

http://www.ico.org/new_historical.asp

59

Lubis, S. N. 2002. Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Keragaan Industri Kopi Indonesia dan Perdagangan Kopi Dunia. Disertasi Doktor.

Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Lubis, S N. 2017. Model BisnisInklusif Kopi Arabika Mandailing Dan Strategi Pengembangannya Di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Skripsi: Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Najiyati, S dan Danarti. 2001. Kopi Budi Daya dan Penanganan Lepas Panen.

Panggabean, E. 2011. Buku Pintar Kopi. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta Prasetyo, D. 2009. AnalisisPengaruh Produktivitas Sumber Daya Manusia

Terhadap Produksi dan Mutu Kopi Bubuk Pada Industri Kopi Bubuk Skala Kecil di Bandar Lampung.Tesis. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Primenta, T. N, R. G. F. Pereira, J.L.G. Correa, and J. R. Silvia. 2009. Roasting Processing Of Dry Coffee Cherry: Influence Of Grain Shape And Temperature On Physical, Chemical And Sensorial Grain Properties.

B.Ceppa, Curitiba. Brasil.

Rahadjo, P. 2012. Kopi: Panduandan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta.

Jakarta: Penebar Swadaya

Retnandari, N.D dan Tjokrowinoto M. 1991. Kopi Kajian Sosial Ekonomi.

Yogyakarta: Penerbit Aditya Media

Ridwansyah. 2003. USU Digital Library 1 Pengolahan Kopi. JurusanTeknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.

library.usu.ac.id/download/fp/tekper-ridwansyah4.pdf. 25 April 2009 Rusastra, I.W., K.M. Noekman, Supriyati, E. Suryanidan M. Suryadi. 2005.

library.usu.ac.id/download/fp/tekper-ridwansyah4.pdf. 25 April 2009 Rusastra, I.W., K.M. Noekman, Supriyati, E. Suryanidan M. Suryadi. 2005.