• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Karakteristik Skin Lotion

4.2.1. Karakteristik sensori

Uji sensori merupakan penilaian suatu produk yang dapat dirasakan oleh panca indera (penglihatan, penciuman, pengecapan, sentuhan, dan pendengaran). Uji sensori pada penelitian ini menggunakan uji penerimaan atau uji hedonik yang bertujuan untuk mengevaluasi daya terima panelis terhadap produk yang dihasilkan. Parameter yang diamati meliputi warna, penampakan, kekentalan, homogenitas, kesan lembab, dan rasa lengket. Skala hedonik yang digunakan berkisar 1-9 dari amat sangat tidak suka sampai amat sangat suka.

4.2.1.1. Warna

Warna merupakan salah satu parameter yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih skin lotion. Penilaian kesukaan dilakukan dengan mengamati warna skin lotion secara visual. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat memberikan pengaruh terhadap tingkat kesukaan warna skin lotion (α=0,05), sehingga diperlukan uji lanjut Multiple Comparisons (Lampiran 6a). Hal ini disebabkan natrium alginat yang digunakan memiliki warna gading sampai kecoklatan sehingga mempengaruhi warna skin lotion yang dihasilkan.

Hasil uji Multiple Comparisons menunjukkan bahwa tingkat kesukaan terhadap warna skin lotion yang menggunakan natrium alginat 0,5% tidak berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 1%, tetapi berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 1,5%; 2%; dan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat. Skin lotion yang menggunakan natrium alginat 1,5% tidak

berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 2%, tetapi berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%; 1%; dan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat.

Tingkat kesukaan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat berbeda nyata dengan semua skin lotion yang menggunakan natrium alginat. Hal ini disebabkan warna skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat cenderung putih agak transparan, sedangkan warna skin lotion yang menggunakan natrium alginat cenderung lebih coklat. Tingkat kesukaan panelis ditunjukkan pada Gambar 6.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Multiple Comparisons

Gambar 6. Tingkat kesukaan panelis terhadap warna skin lotion

Penilaian yang diberikan panelis terhadap warna skin lotion berkisar antara 2 (sangat tidak suka) sampai 9 (amat sangat suka) dengan tingkat kesukaan antara 5,6-7,02. Pada Gambar 6 terlihat bahwa skin lotion yang menggunakan natrium alginat 0,5% merupakan skin lotion dengan tingkat kesukaan tertinggi, sedangkan

skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat memiliki tingkat kesukaan terendah. Semakin tinggi konsentrasi natrium alginat yang digunakan, maka tingkat kesukaan semakin menurun karena warna skin lotion semakin kecoklatan sehingga semakin tidak menarik.

Skin lotion kontrol (menggunakan setil alkohol dan tanpa natrium alginat) memiliki tingkat kesukaan yang lebih tinggi dibandingkan skin lotion yang menggunakan natrium alginat. Hal ini disebabkan adanya penggunaan setil alkohol sehingga warna skin lotion ini menjadi lebih putih dan terlihat lebih menarik.

4.2.1.2. Penampakan

Uji sensori terhadap penampakan merupakan penilaian produk secara keseluruhan dengan meminta panelis memberikan penilaian secara visual. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat memberikan pengaruh terhadap tingkat kesukaan penampakan skin lotion (α=0,05), sehingga diperlukan uji lanjut Multiple Comparisons (Lampiran 6b). Hal ini disebabkan natrium alginat yang digunakan berpengaruh terhadap warna dan kekentalan sehingga mempengaruhi penampakan skin lotion yang dihasilkan.

Pada uji lanjut Multiple Comparisons, tingkat kesukaan terhadap penampakan skin lotion yang menggunakan natrium alginat 1% tidak berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%, tetapi berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 1,5%; 2%; dan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat. Tingkat kesukaan skin lotion yang menggunakan natrium alginat 1,5% tidak berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 2% dan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat, tetapi berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5% dan 1%.

Kisaran penilaian yang diberikan panelis terhadap penampakan skin lotion, yaitu 3 (tidak suka) sampai 8 (sangat suka) dengan tingkat kesukaan antara 5,88-6,65. Tingkat kesukaan panelis ditunjukkan pada Gambar 7.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Multiple Comparisons

Gambar 7. Tingkat kesukaan panelis terhadap penampakan skin lotion

Gambar 7 menunjukkan bahwa skin lotion yang memiliki tingkat kesukaan tertinggi adalah skin lotion yang menggunakan natrium alginat 1%. Hal ini diduga

karena natrium alginat yang digunakan masih sedikit sehingga penampakan yang dihasilkan paling menarik. Semakin tinggi konsentrasi natrium alginat yang digunakan, maka tingkat kesukaan cenderung menurun karena penampakan ini diduga berhubungan dengan warna skin lotion. Tingkat kesukaan terendah terdapat pada skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat karena skin lotion ini paling encer dengan warna putih agak transparan.

Pada parameter ini, panelis cenderung lebih menyukai skin lotion yang berwarna lebih putih, tidak terlalu kental, dan tidak terlalu encer sehingga penampakan dianggap lebih menarik. Skin lotion kontrol (menggunakan setil alkohol dan tanpa natrium alginat) memiliki tingkat kesukaan yang lebih tinggi dibandingkan skin lotion yang menggunakan natrium alginat karena adanya pengaruh dari warna skin lotion.

4.2.1.3. Kekentalan

Kekentalan merupakan salah satu parameter penting dalam memilih skin lotion. Penilaian dilakukan secara visual dengan menekan permukaan skin lotion

menggunakan ujung jari kemudian mengoleskannya ke tangan. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat memberikan pengaruh terhadap tingkat kesukaan kekentalan skin lotion (α=0,05), sehingga diperlukan uji lanjut Multiple Comparisons (Lampiran 6c). Hal ini disebabkan alginat dapat digunakan sebagai pengental dalam formulasi lotion (McNeely dan Pettitt 1973). Berdasarkan uji Multiple Comparisons, tingkat kesukaan panelis terhadap kekentalan skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2% berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%; 1%; 1,5%; dan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat. Kisaran penilaian yang diberikan panelis, yaitu antara 1 (amat sangat tidak suka) sampai 9 (amat sangat suka) dengan tingkat kesukaan antara 4,15-7,13. Tingkat kesukaan panelis terhadap kekentalan skin lotion ditunjukkan pada Gambar 8.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Multiple Comparisons

Gambar 8. Tingkat kesukaan panelis terhadap kekentalan skin lotion

Skin lotion yang memiliki tingkat kesukaan panelis tertinggi terhadap kekentalan adalah skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2%, sedangkan

skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat menunjukkan tingkat kesukaan panelis terendah. Semakin tinggi konsentrasi natrium alginat yang digunakan, maka tingkat kesukaan semakin meningkat. Dengan demikian, diduga bahwa panelis cenderung lebih menyukai skin lotion yang lebih kental karena peningkatan konsentrasi natrium alginat menyebabkan kekentalan semakin meningkat (Klose dan Glicksman 1972). Tingkat kesukaan panelis terhadap kekentalan skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2% tidak jauh berbeda dengan kontrol (menggunakan setil alkohol dan tanpa natrium alginat) karena kekentalan kedua skin lotion tersebut hampir sama.

4.2.1.4. Homogenitas

Homogenitas merupakan parameter yang cukup penting di dalam suatu sediaan kosmetika karena parameter ini menunjukkan tingkat kehalusan dan keseragaman tekstur skin lotion yang dihasilkan. Semakin halus dan seragam tekstur, maka semakin baik skin lotion yang dihasilkan karena tekstur tersebut merupakan parameter tercampurnya komponen minyak dan air (Suryani et al. 2000). Penilaian dilakukan dengan merasakan tekstur skin lotion

menggunakan ujung jari, kemudian dioleskan ke tangan sehingga panelis dapat menilai kehalusan dan keseragaman tekstur sesuai dengan tingkat kesukaannya. Hasil uji Kruskal Wallis (α=0,05) menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat tidak memberikan pengaruh terhadap tingkat kesukaan homogenitas skin

lotion (Lampiran 6d). Hal ini disebabkan kondisi pembuatan emulsi skin lotion

dalam pencampuran fase terdispersi dan fase pendispersi cukup baik, sehingga tidak ada pemisahan antara kedua komponen penyusun emulsi tersebut. Suatu emulsi dapat dikatakan homogen apabila tidak terlihat adanya pemisahan antara komponen penyusun emulsi. Homogenitas sistem emulsi dipengaruhi oleh teknik atau cara pencampuran yang dilakukan, serta alat yang digunakan pada proses pembuatan emulsi (Rieger 1994). Menurut Silva et al. (2006), semakin kecil dan seragam bentuk droplet, maka emulsi akan semakin stabil.

Penilaian yang diberikan panelis terhadap homogenitas skin lotion yang dihasilkan berkisar antara 2 (sangat tidak suka) sampai 8 (sangat suka) dengan tingkat kesukaan antara 5,98-6,52. Tingkat kesukaan tersebut ditunjukkan pada Gambar 9.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Multiple Comparisons

Gambar 9. Tingkat kesukaan panelis terhadap homogenitas skin lotion 4.2.1.5. Kesan lembab

Kesan lembab merupakan salah satu parameter penting dalam memilih skin lotion. Penilaian dilakukan dengan cara mengoleskan skin lotion ke tangan selama beberapa menit sehingga panelis dapat merasakan rasa lembab selama pemakaian

skin lotion. Berdasarkan uji Kruskal Wallis, penggunaan natrium alginat memberikan pengaruh terhadap tingkat kesukaan kesan lembab skin lotion

(α=0,05), sehingga diperlukan uji lanjut Multiple Comparisons (Lampiran 6e). Hal ini disebabkan alginat mampu mengikat dan mempertahankan air di dalam jaringan kulit sehingga dapat mempertahankan kelembaban (Yunizal 2004).

Hasil uji Multiple Comparisons menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap kesan lembab skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2% berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%; 1%; 1,5%; dan

skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat. Penilaian yang diberikan panelis terhadap kesan lembab skin lotion berkisar antara 2 (sangat tidak suka) sampai 8 (sangat suka) dengan tingkat kesukaan panelis antara 5,32-7,28. Tingkat kesukaan ini ditunjukkan pada Gambar 10.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Multiple Comparisons

Gambar 10. Tingkat kesukaan panelis terhadap kesan lembab skin lotion

Berdasarkan Gambar 10 terlihat bahwa skin lotion yang memiliki tingkat kesukaan tertinggi terhadap kesan lembab adalah skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2%. Hal ini disebabkan skin lotion tersebut menggunakan konsentrasi natrium alginat tertinggi sehingga efek melembabkan yang dirasakan panelis paling baik. Efek melembabkan ini terjadi karena adanya poliol pada alginat yang dapat mempertahankan air di dalam jaringan kulit, sehingga kulit terasa lebih lembab (Yunizal 2004). Tingkat kesukaan panelis semakin meningkat dengan bertambahnya konsentrasi natrium alginat yang digunakan karena efek melembabkan semakin terasa.

Skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat memiliki tingkat kesukaan terendah terhadap kesan lembab. Hal ini diduga dipengaruhi oleh kekentalan karena skin lotion kontrol (menggunakan setil alkohol dan tanpa natrium alginat) lebih disukai panelis dibandingkan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat,

padahal keduanya menggunakan gliserin yang berfungsi sebagai humektan. Skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat lebih encer dibandingkan skin lotion

kontrol yang menggunakan setil alkohol sebagai pengental, sehingga diduga air lebih cepat menguap.

4.2.1.6. Rasa lengket

Rasa lengket merupakan salah satu parameter yang dipertimbangkan dalam pemilihan skin lotion karena rasa lengket berhubungan dengan kenyamanan setelah pemakaian. Penilaian ini dilakukan dengan mengoleskan skin lotion ke tangan selama beberapa menit kemudian menilai rasa lengket selama pemakaian. Hasil uji Kruskal Wallis (α=0,05) menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat memberikan pengaruh terhadap tingkat kesukaan rasa lengket skin lotion, sehingga diperlukan uji lanjut Multiple Comparisons (Lampiran 6f). Hasil uji

Multiple Comparisons menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap rasa lengket skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2% tidak berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%; 1%; dan 1,5%, tetapi berbeda nyata dengan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Multiple Comparisons

Gambar 11. Tingkat kesukaan panelis terhadap rasa lengket skin lotion

Kisaran penilaian yang diberikan panelis terhadap rasa lengket skin lotion

antara 2 (sangat tidak suka) sampai 8 (sangat suka) dengan tingkat kesukaan antara 5,02-6,27. Berdasarkan Gambar 11, skin lotion yang memiliki tingkat kesukaan tertinggi adalah skin lotion dengan penggunaan natrium alginat 2%. Panelis cenderung menyukai rasa lengket skin lotion dengan penggunaan natrium

alginat tertinggi walaupun pada uji Multiple Comparisons, tingkat kesukaan panelis antar skin lotion yang menggunakan natrium alginat tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan rasa lengket ditimbulkan dari fase minyak yang terkandung dalam formulasi suatu emulsi (Suryani et al. 2000).

4.2.2. Karakteristik fisiko-kimia 4.2.2.1. Viskositas

Viskositas merupakan parameter penting dalam suatu emulsi karena kestabilan emulsi dipengaruhi oleh viskositas emulsi tersebut. Semakin tinggi viskositas produk, maka laju pemisahan fase terdispersi dan fase pendispersi semakin kecil. Hal ini menyebabkan produk semakin stabil (Suryani et al. 2000). Analisis viskositas dalam penelitian ini menggunakan viskometer Brookfield

dengan spindel nomor 3 dan 4 berkecepatan putar 30 rpm.

Analisis ragam (α=0,05) menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat mempengaruhi viskositas skin lotion (Lampiran 11). Berdasarkan uji lanjut Duncan, skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2% berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%; 1%; 1,5%; dan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat (Lampiran 12). Hal ini disebabkan viskositas

skin lotion dipengaruhi oleh konsentrasi bahan pengental dalam formulasi. Bahan pengental digunakan dengan tujuan untuk mencegah terpisahnya partikel dari emulsi sehingga dapat mempertahankan kestabilan produk. Penggunaan bahan pengental dalam pembuatan skin lotion biasanya dalam proporsi kecil, yaitu di bawah 2,5% (Schmitt 1996). Penggunaan koloid hidrofilik seperti alginat sangat efektif untuk meningkatkan viskositas suatu emulsi tanpa menaikkan fase minyak dalam emulsi tersebut (Rieger 1994).

Hasil analisis terhadap viskositas skin lotion berkisar antara 1940-4950 cP. Nilai viskositas ini memenuhi SNI 16-4399-1996 sebagai syarat mutu pelembab kulit, yaitu antara 2000-50.000 cP, kecuali untuk skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat. Selain itu, viskositas skin lotion yang dihasilkan berada dalam kisaran skin lotion komersial, yaitu antara 1700-7200 cP (Lampiran 23). Nilai viskositas skin lotion yang dihasilkan ditunjukkan pada Gambar 12.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Duncan

Gambar 12. Viskositas skin lotion

Pada Gambar 12 terlihat bahwa viskositas tertinggi terdapat pada skin lotion

yang menggunakan natrium alginat 2%. Hal ini disebabkan alginat merupakan polimer linear dengan berat molekul tinggi, sehingga sangat mudah menyerap air (Winarno 1996). Kation pada alginat seperti natrium dapat mengikat air sangat kuat karena memiliki kandungan ion karboksilat yang tinggi (Klose dan Glicksman 1972). Oleh karena itu, penggunaan natrium alginat dalam formulasi

skin lotion dapat meningkatkan viskositas.

Nilai viskositas terendah terdapat pada skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat karena tidak adanya bahan pengental yang terdapat dalam formulasi. Kekentalan skin lotion ini diperoleh dari gliseril monostearat yang jika diformulasikan akan membuat lotion menjadi lebih berat (Schmitt 1996). Selain itu, adanya penambahan gliserin dalam formulasi menyebabkan sediaan menjadi lebih pekat (Idson dan Lazarus 1994). Gliseril monostearat dan gliserin juga digunakan dalam formulasi skin lotion yang menggunakan natrium alginat dan

skin lotion kontrol (menggunakan setil alkohol dan tanpa natrium alginat).

Pada skin lotion kontrol, viskositas yang dihasilkan cukup tinggi yaitu sebesar 4850 cP. Hal ini disebabkan adanya penggunaan setil alkohol yang berperan sebagai bahan pengental. Setil alkohol ini digunakan sebesar 1%. Semakin tinggi konsentrasi setil alkohol yang ditambahkan, maka emulsi yang terbentuk akan semakin tebal dan padat, sehingga kemungkinan akan terjadi granulasi (Wilkinson dan Moore 1982).

Berdasarkan hasil analisis, nilai viskositas semakin meningkat dengan bertambahnya konsentrasi natrium alginat yang digunakan pada formulasi skin lotion. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi atau berat molekul alginat, maka viskositas produk yang dihasilkan akan semakin tinggi (Klose dan Glicksman 1972). Penggunaan alginat sebagai pengental dalam lotion atau krim biasanya berkisar pada konsentrasi 0,5-2% (McNeely dan Pettitt 1973).

4.2.2.2. pH

Derajat keasaman atau pH merupakan parameter penting pada produk kosmetika karena pH yang sangat tinggi atau rendah dapat mengakibatkan kulit teriritasi. Oleh sebab itu, pH produk kosmetika sebaiknya dibuat sesuai dengan

pH kulit, yaitu antara 4,5-7,5 (Wasitaatmadja 1997). Hasil analisis ragam (α=0,05) menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat mempengaruhi pH

skin lotion yang dihasilkan (Lampiran 13). Pada uji lanjut Duncan, skin lotion

yang menggunakan natrium alginat 2% berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%; 1%; 1,5%; dan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat (Lampiran 14). Hal ini disebabkan adanya perbedaan konsentrasi atau jenis bahan dalam formulasi sehingga mempengaruhi pH skin lotion. Nilai pH

skinlotion yang dihasilkan ditunjukkan pada Gambar 13.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Duncan

Gambar 13. pH skin lotion

Gambar 13 menunjukkan bahwa pH skin lotion yang dihasilkan berkisar antara 7,46-7,79. Nilai tersebut berada dalam kisaran nilai pH yang terdapat pada SNI 16-4399-1996 sebagai syarat mutu pelembab kulit (4,5-8), sehingga skin

lotion yang dihasilkan relatif aman digunakan. Selain itu, nilai pH skin lotion yang dihasilkan berada pada kisaran skin lotion komersial (Lampiran 23).

Nilai pH tertinggi terdapat pada skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat, sedangkan nilai pH terendah terdapat pada skin lotion dengan penggunaan natrium alginat 2%. Natrium alginat yang digunakan memiliki pH 5,48 sehingga semakin tinggi penggunaan natrium alginat maka pH skin lotion semakin menurun. Skin lotion kontrol (menggunakan setil alkohol dan tanpa natrium alginat) memiliki pH yang lebih rendah dibandingkan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat. Hal ini disebabkan adanya penggunaan setil alkohol dengan pH 6-6,5 sehingga dapat menurunkan pH skin lotion kontrol.

Kulit memiliki epidermis yang merupakan pelindung dasar terhadap kehilangan air dan nutrisi. Bagian atas epidermis yaitu stratum corneum dengan lapisan film pelindung yang disebut mantel asam (Siegenthaler 2005). Levin dan Maibach (2007) menyatakan bahwa kerusakan mantel asam akibat perubahan pH menyebabkan kulit menjadi kering, pecah-pecah, sensitif, mudah terinfeksi bakteri dan penyakit kulit. Semakin jauh perubahan pH, maka kulit akan semakin teriritasi. Dengan demikian, diduga produk skin lotion yang dihasilkan relatif aman karena memiliki nilai pH yang tidak terlalu jauh dengan pH fisiologis kulit.

4.2.2.3. Stabilitas emulsi

Stabilitas emulsi menunjukkan kestabilan suatu bahan dimana emulsi yang terdapat dalam bahan tidak mempunyai kecenderungan untuk membentuk lapisan yang terpisah. Emulsi yang tidak stabil dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain komposisi bahan yang tidak tepat, ketidakcocokan bahan, kecepatan dan pencampuran yang tidak tepat, pemanasan dan penguapan yang berlebihan, jumlah dan pemilihan emulsifier yang tidak tepat, pembekuan, serta guncangan mekanik atau getaran (Suryani et al. 2000).

Hasil analisis menunjukkan bahwa kestabilan skin lotion yang dihasilkan menunjukkan hasil yang sama yaitu 100%. Kestabilan ini ditunjukkan dengan tidak adanya lapisan yang terpisah. Dalam pengujian ini, tidak ada perubahan fisika maupun kimia yang terjadi. Perubahan kimia yang dapat terjadi yaitu perubahan warna dan bau, sedangkan perubahan fisika yang dapat terjadi yaitu

pemisahan fase dan peretakan. Perubahan ini menunjukkan emulsi yang tidak stabil (Mitsui 1997).

Kestabilan emulsi pada skin lotion ini dipengaruhi oleh faktor mekanis, temperatur, dan proses pembentukan emulsi. Faktor-faktor ini merupakan faktor kritis yang mempengaruhi kestabilan emulsi. Menurut Silva et al. (2006), emulsi berbentuk droplet dan ukurannya dipengaruhi oleh laju pengadukan selama proses emulsifikasi. Semakin kecil dan seragam bentuk droplet, maka emulsi akan semakin stabil.

Dreher et al. (1997) menyatakan bahwa stabilitas emulsi akan meningkat dengan adanya penambahan polimer yang sesuai dalam fase pendispersi. Hal ini dapat mecegah terjadinya penggabungan partikel-partikel sejenis yang mengakibatkan terjadinya pemisahan fase. Penggunaan hidrokoloid seperti alginat merupakan suatu bahan yang kuat untuk mempertahankan kestabilan emulsi (Rieger 1994). Natrium alginat dapat digunakan sebagai penstabil dalam skin lotion dan krim dengan konsentrasi 0,5-2% (McNeely dan Pettitt 1973).

4.2.2.4. Penyusutan berat

Analisis terhadap penyusutan berat bertujuan untuk mengetahui kemampuan humektan yang terkandung pada skin lotion dalam mempertahankan kandungan air sehingga kelembaban kulit saat pemakaian skin lotion tersebut dapat terjaga. Humektan ditambahkan pada produk lotion untuk mengurangi kekeringan ketika disimpan pada suhu ruang (Mitsui 1997). Analisis dilakukan dengan mengamati

skin lotion di tempat terbuka dan diletakkan secara merata di atas plastik yang kedap air. Efektivitas humektan dapat terlihat dari kemampuan skin lotion dalam mempertahankan air. Kehilangan air pada skin lotion akan menyebabkan penyusutan berat. Semakin tinggi penyusutan berat menunjukkan semakin tinggi pula kehilangan air pada skin lotion tersebut. Skin lotion yang mengalami kehilangan air paling banyak mengindikasikan bahwa kemampuan humektannya lebih rendah.

Hasil uji keragaman (α=0,05) menunjukkan bahwa penggunaan natrium alginat mempengaruhi total kehilangan air produk (Lampiran 15). Pada uji lanjut Duncan, skin lotion yang menggunakan natrium alginat 2% berbeda nyata dengan yang menggunakan natrium alginat 0,5%; 1%; 1,5%; dan skin lotion tanpa

penggunaan natrium alginat (Lampiran 16). Hal ini disebabkan kemampuan alginat sebagai humektan. Penyusutan berat skin lotion berkisar antara 2,87- 5,02%. Nilai ini berada dalam kisaran penyusutan berat skin lotion komersial, yaitu antara 2,46-5,99% (Lampiran 23). Penyusutan berat skin lotion yang dihasilkan ditunjukkan pada Gambar 14.

*Huruf superscript menunjukkan hasil uji Duncan

Gambar 14. Penyusutan berat skin lotion

Gambar 14 menunjukkan bahwa penyusutan berat tertinggi terdapat pada

skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat, sedangkan skin lotion dengan penggunaan natrium alginat 2% memiliki penyusutan berat terendah. Semakin tinggi konsentrasi natrium alginat yang digunakan, maka semakin rendah penyusutan berat skin lotion. Hal ini berarti kemampuan humektan yang terkandung dalam skin lotion semakin baik karena alginat memiliki gugus karboksil dan gugus hidroksil yang dapat membantu mempertahankan air dalam

skin lotion. Sifat koloid yang dimiliki alginat merupakan keuntungan dalam pemanfaatannya sebagai moisturizing agent, sehingga dapat mempertahankan kelembaban dan elastisitas kulit (Yunizal 2004).

Penyusutan berat skin lotion kontrol (menggunakan setil alkohol dan tanpa natrium alginat) lebih rendah dibandingkan skin lotion tanpa penggunaan natrium alginat, walaupun keduanya menggunakan gliserin pada formulasi yang berfungsi sebagai humektan. Hal ini diduga dipengaruhi oleh kekentalan karena skin lotion

sehingga air lebih cepat menguap dibandingkan skin lotion kontrol yang menggunakan setil alkohol sebagai bahan pengental.

4.2.3. Total mikroba

Analisis ini didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang muncul pada cawan dan merupakan suatu indeks jumlah mikroba yang dapat hidup dan terkandung dalam sampel. Mikroorganisme dapat menyebabkan deteriorasi produk, pemisahan fase, penyusutan berat produk, dan bau yang tidak sedap (Mitsui 1997).

Uji total mikroba pada semua skin lotion yang dihasilkan menunjukkan hasil kurang dari 30 koloni/gram sehingga tidak dapat digunakan dalam perhitungan total mikroba (Lampiran 17). Hal ini berarti penggunaan natrium alginat tidak mempengaruhi total mikroba skin lotion. Jumlah cemaran mikroba ini sesuai dengan syarat mutu pelembab kulit (SNI 16-4399-1996) yaitu maksimum 102 koloni/gram. Penghambatan pertumbuhan mikroba ini disebabkan adanya metil paraben yang berfungsi sebagai pengawet dalam formulasi produk. Metil paraben digunakan dalam skin lotion karena dapat mencegah pertumbuhan bakteri

Dokumen terkait