• Tidak ada hasil yang ditemukan

commit to user 3. Pengamatan mingguan

5. Karakteristik Sosial Ekonomi

Petani di dalam menanggapi suatu ide atau informasi yang baru akan berbeda menurut karakteristik kepribadian dan ciri-ciri sosial ekonomi masing-masing individu (Mardikanto, 1989). Menurut Rogers

(1985) parameter dalam pengukuran status sosial ekonomi adalah kasta, umur, pendidikan, status perkawinan, aspirasi pendidikan, partisipasi sosial, hubungan organisasi pembangunan, pemilikan lahan, pemilikan sarana pertanian serta penghasilan sebelumnya.

Karakter sosial ekonomi petani meliputi:

a. Umur

Umur petani akan mempengaruhi kemampuan fisik dan merespon terhadap hal-hal yang baru dalam menjalankan usahataninya. Slamet (1994) menambahkan bahwa faktor umur sangat penting dalam partisipasi, biasanya mereka yang masuk golongan umur (40 – 60) dimana akan semakin aktif keterlibatannya dalam partisipasi tahap pelaksanaan. Mardikanto (1993) menerangkan bahwa biasanya orang tua hanya cenderung melaksanakan kegiatan – kegiatan yang sudah biasa dilakukan oleh warga masyarakat setempat. Mereka cenderung apatis terhadap adanya teknologi baru sehingga mereka hanya melaksanakan kegiatan yang sudah biasa diterapkan oleh pendahulu atau masyarakat sekitar.

b. Pendidikan formal

Menurut Soekartawi (1988) pendidikan formal merupakan sarana belajar dimana selanjutnya diperkirakan akan menanamkan pengertian sikap yang menguntungkan menuju penggunaan praktek pertanian yang lebih modern. Mereka yang berpendidikan tinggi (lebih dari SMA) akan lebih mudah melakukan proses adopsi inovasi dalam seluruh kegiatan yang diadakan.

c. Pendidikan non formal

Pendidikan non formal oleh Mardikanto (1982) diartikan sebagai penyelenggaraan pendidikan yang terorganisir yang berada diluar sistem pendidikan sekolah, isi pendidikan terprogram, proses pendidikan yang berlangsung berada dalam suatu interaksi belajar mengajar yang banyak terkontrol.

commit to user

Penyuluhan merupakan sistem pendidikan non formal bagi (masyarakat petani) untuk membuat mereka tahu, mau dan mampu berswadaya melaksanakan upaya peningkatan produksi, pendapatan/keuntungan dan perbaikan kesejahteraan keluarga (Mardikanto, 1993).

d. Pendapatan petani

Soekartawi (1988) menyebutkan bahwa petani dengan tingkat pendapatan tinggi ada hubungannya dengan penggunaan suatu inovasi. Petani dengan pendapatan tinggi akan lebih mudah menerima suatu inovasi. Penerimaan usahatani atau pendapatan akan mendorong petani untuk dapat mengalokasikannya dalam berbagai kegunaan, seperti untuk kegiatan produktif (biaya produksi periode selanjutnya), kegiatan konsumtif (untuk pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan pajak – pajak), pemeliharaan investasi serta tabungan dan investasi).

e. Tingkat pengalaman

Rahmat (1994) mengemukakan bahwa pengalaman seseorang tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman juga melalui serangkaian aktivitas yang pernah dialami. Menurut Mardikanto (1988) kurangnya pengetahuan, ketrampilan, dan pegalaman untuk melakukan perubahan merupakan faktor penghambat terjadinya perubahan pada individu tersebut.

Soekartawi (1988) mengemukakan bahwa petani yang baru belajar (pemula) dibandingkan dengan petani yang sudah berpengalaman akan berbeda dalam hal kecepatannya untuk melakukan proses adopsi inovasi. Pengalaman petani merupakan sumber informasi yang amat penting dalam keberhasilan adopsi. Hal ini perlu didukung juga oleh sumber – sumber informasi yang tersedia, misalnya melalui media massa dan agen pertanian.

f. Keaktifan keanggotaan petani

Proses adopsi inovasi menyangkut proses pengambilan keputusan.

Adopsi inovasi merupakan hasil kegiatan suatu komunikasi pertanian, oleh karena itu melibatkan interaksi sosial diantara anggota masyarakat. Proses adopsi inovasi tidak terlepas dari pengaruh interaksi antara individu, anggota masyarakat atau kelompok masyarakat (Soekartawi, 1988).

g. Luas penguasaan lahan

Menurut Lionberger (1960), luas usahatani berhubungan positif dengan adopsi inovasi. Kemampuan ekonomi yang dimiliki semakin lebih baik sehingga berusaha untuk meningkatkan kegiatan produksi yang lebih besar.

Petani dengan luas lahan yang sempit, lemah dalam permodalan, lemah dalam pengetahuan dan ketrampilan dan juga kerap kali lemah didalam semangat dan keinginannya untuk maju. Dalam hal ini, petani yang mempunyai luas lahan sempit akan sulit menerapkan setiap teknologi baru yang dianjurkan penyuluh dalam memperbaiki usahataninya sedangkan petani dengan luas lahan yang lebih luas akan cenderung lebih aktif dalam mengusahakan lahannya (Kuswardhani, 1998).

6. Petani

Menurut Mosher (1968), petani berperan sebagai manajer, juru tani dan manusia biasa yang hidup dalam masyarakat. Petani sebagai manajer akan berhadapan dengan berbahai alternatif yang harus diputuskan mana yang harus dipilih untuk diusahakan. Petani harus menentukan jenis tanaman atau ternak yang akan diusahakan, menentukan cara-cara berproduksi, menentukan cara-cara pembelian sarana produksi, menghadapi persoalan tentang biaya, mengusahakan permodalan, dan sebagainya. Untuk itu, diperlukan ketrampilan, pendidikan, dan pengalaman yang akan berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan.

commit to user

Petani sebagai juru tani harus dapat mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan usahataninya, baik secara teknis maupun ekonomis.

Disamping itu, tersedianya sarana produksi dan peralatan akan menunjang keberhasilan petani sebagai juru tani.

Petani sebagai anggota masyarakat yang hidup dalam suatu ikatan keluarga akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.

Disamping itu, petani juga harus berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat atas diri dan keluarganya. Sebaliknya, petani juga membutuhkan bantuan masyarakat sekelilingnya. Besar kecilnya kebutuhan bantuan terhadap masyarakat sekelilingnya tergantung pada teknologi yang digunakan dan sifat masyarakat setempat. Dalam praktiknya, peranan-peranan tersebut saling kait-mengkait, tetapi pasti ada salah satu yang menonjol. Sebagai contoh, pada suatu daerah tidak terdapat jenis komoditas a, b, c padahal sebetulnya sangat cocok dengan iklim dan jenis tanah setempat dan harganya pun tinggi. Setelah diteliti ternyata komoditas a, b, c, tersebut tidak umum diusahakan, bahkan tabu bagi daerah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa peranan petani sebagai manajer sangat lemah, tetapi peranan petani sebagai anggota masyarakatlah yang menonjol (Suratiyah, 2008).

Kesulitan-kesulitan petani dalam mengambil keputusan dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:

1. Kurang pengetahuan mengenai perubahan harga baik harga faktor produksi maupun produksinya.

2. Kurang pengetahuan mengenai teknologi mutakhir, misalnya dosis, cara pemberian, dan kapan harus dilaksanakan.

3. Kurang pengetahuan mengenai pemasaran, misalnya waktu, cara penjualan, dimana harus dijual, grading dan angkutan.

4. Kurang pengetahuan mengenai:

a. Pembiayaan; jangka pendek atau operasional, seperti adanya kredit KUT (Kredit Usaha Tani)

b. Jangka panjang, misalnya bagaimana mencari bantuan untuk peremajaan tanaman keras, kurang pengetahuan mengenai pengelolaan hasil dan pendapatan, serta

5. Kurang pengetahuan mengenai:

a. Factor-product relationship b. Factor-factor relationship c. Product-product relationship d. Time relationship

Petani harus selalu mencari informasi yang bersifat teknis maupun ekonomis supaya petani dapat memanfaatkan segala kesempatan yang ada. Disamping bimbingan yang diarahkan agar alternatif-alternatif yang dipilih secara teknis dapat dilaksanakan dan secara ekonomis paling menguntungkan (Suratiyah, 2008).

Ciri khas dari kehidupan petani adalah perbedaan pola penerimaan pendapatan dan pengeluarannya. Pendapatan petani hanya diterima petani setiap musim panen, sedangkan pengeluaran harus diadakan setiap hari, setiap minggu, atau kadang-kadang dalam waktu yang sangat mendesak sebelum panen tiba. Petani kaya dapat menyimpan hasil panennya yang besar untuk kemudian dijual sedikit demi sedikit pada waktu keperluannya tiba, tetapi berhubung padatnya penduduk petani maka kepemilikan tanah pertanian menjadi sangat kecil sehingga hasil bersih dari tanah pertaniannya biasanya tidak mencukupi keperluan hidup petani sepanjang tahun. Itulah sebabnya kebanyakan keperluan petani yang besar seperti memperbaiki rumah, membeli sepeda atau pakaian, hanya dapat dipenuhi pada masa panen (Mubyarto, 1977).

Seringkali orang menganggap bahwa tugas dan kepentingan petani hanyalah semata-mata menanam, memelihara, dan memetik hasil-hasil pertanian. Boleh dikata hanya merupakan masalah teknis saja. Anggapan demikian adalah keliru, yang benar adalah bahwa para petani berkepntingan untuk meningkatkan penghasilan pertaniannya dan penghasilan keluarganya (farm income). Untuk ini selain besarnya

commit to user

produksi mereka juga berkepentingan agar biaya produksi pertaniannya dapat ditekan serendah-rendahnya dan penerimaan dari penjualan hasilnya dapat dinaikkan setinggi-tingginya (Mubyarto, 1977) .