commit to user dimana
A. Karakteristik Sosial Ekonomi 1. Umur
Umur petani peserta SLPHT meliputi antara 26 – 70 tahun. Makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui. Sehingga mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi. Distribusi responden berdasarkan umur responden ini disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10. Distribusi Responden Berdasarkan Umur
No Umur (tahun) Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 > 60 Tinggi 7 28
2 40 – 60 Sedang 14 56
3 < 40 Rendah 4 16
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa mayoritas umur petani responden berada pada golongan sedang yakni berumur antara 40 – 60 tahun sebanyak 14 responden. Dimana petani pada umur tersebut mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mempunyai kemampuan fisik yang optimal serta mampu merespon dengan baik dalam menerima inovasi untuk mengembangkan usahataninya.
Sebanyak 7 responden berada pada kategori tinggi, berumur antara lebih dari 60 tahun. Petani yang berusia lebih dari 60 tahun tersebut masih dipilih menjadi peserta karena mereka masih memenuhi kriteria peserta SLPHT yakni : bisa baca tulis, aktif melakukan kegiatan pertanian di lahan usahataninya dan dalam kelompok tani, sanggup mengikuti kegiatan SLPHT selama satu musim tanam, responsif terhadap inovasi teknologi, dan berasal dari satu hamparan usahatani (Kementrian Pertanian, 2010). Mereka memiliki respon yang baik, kemauan dan semangat yang tinggi dalam menerima teknologi PHT dalam SLPHT. Petani pada kategori rendah biasanya sudah memiliki
commit to user
pengalaman berusahatani yang cukup banyak, tetapi kemampuan fisiknya sudak tidak optimal lagi.
Pada kategori rendah, yakni responden yang berumur kurang dari 40 tahun sebanyak 14 orang. Responden yang berumur kurang dari 40 tahun jumlahnya paling sedikit dibanding kategori yang lain karena banyaknya penduduk berusia muda yang tidak berminat menjadi petani dan tidak mengutamakan usahatani padi sebagai pekerjaan utama mereka, sehingga hanya sedikit yang mengusahakan budidaya padi.
2. Pendidikan Formal
Pendidikan formal dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan terakhir yang pernah ditempuh oleh responden berdasarkan jenjang pendidikan. Tingkat pendidikan formal dapat mempengaruhi tingkat kecepatan petani dalam menerima suatu teknologi baru. Secara teoritis mereka yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah melakukan proses adopsi. Adapun distribusi pendidikan formal dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 11. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Formal No Tingkat Pendidikan
Formal
Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 > SMU Tinggi 3 12
2 SMP- SMU Sedang 13 52
3 SD Rendah 9 36
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 11 dapat dilihat bahwa responden terbanyak berada pada kategori sedang, yakni pada tingkat pendidikan SMP – SMU sebanyak 13 responden (52%). Sebanyak 9 responden (36%) berada pada kategori rendah, dan sebanyak 3 responden (12%) berada pada kategori berpendidikan tinggi.
Distribusi responden menurut pendidikan formalnya tergolong sedang. Hal ini dikarenakan pendidikan telah mulai diperhatikan oleh masyarakat. Responden berpendidikan rendah terjadi dikarenakan tidak
memiliki biaya yang cukup untuk meneruskan ke pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Tingkat pendidikan rendah pada umumnya adalah mereka yang berusia tua sedangkan responden yang berusia lebih muda cenderung menempuh pendidikan formal yang lebih tinggi.
3. Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal adalah pendidikan yang diperoleh responden diluar pendidikan formal, yakni mengikuti penyuluhan pertanian dan pelatihan selama satu musim tanam terakhir pada saat penelitian dilaksanakan serta frekuensi responden mengikuti kegiatan SLPHT. Semakin tinggi frekuensi petani mengikuti kegiatan penyuluhan dan pelatihan pertanian, maka pengetahuan dan ketrampilan petani akan bertambah. Adapun distribusi frekuensi pendidikan non formal dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 12. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Non Formal No Skor Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 4,8 - 6,1 Tinggi 25 100
2 3,4 - 4,7 Sedang 0 0
3 2 - 3,3 Rendah 0 0
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 12 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan non formal sebanyak 25 orang (100%) berada pada kategori tinggi, atau dapat dikatakan keseluruhan petani responden berada pada kategori tinggi. Salah satu kriteria peserta SLPHT ialah aktif melakukan kegiatan pertanian di lahan usahataninya dan dalam kelompok tani.
Seluruh responden peserta SLPHT sangat aktif dalam mengikuti penyuluhan dan kegiatan SLPHT padi yang dilaksanakan di desa mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden mempunyai respon dan minat yang baik dalam mengikuti berbagai kegiatan penyuluhan dan pertanian, atau dengan kata lain para responden terbuka untuk menerima hal – hal baru yang dapat menambah pengetahuan dan
commit to user
ketrampilan mereka. Mereka menerima adanya kegiatan SLPHT padi dan merespon dengan baik.
Kegiatan penyuluhan rutin dilaksanakan setiap 35 hari sekali atau biasa disebut ‘selapanan’ dengan cara mengundang Petugas Penyuluh Lapangan untuk memberikan materi. SLPHT sendiri dilaksanakan selama satu musim tanam. Pertemuan SLPHT dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan, yang dilaksanakan setiap minggu. Dari 12 kali pertemuan, hampir seluruh peserta mengikuti seluruh pertemuan dan kegiatan dengan baik, hanya sebanyak 3 responden yang tidak mengikuti 1-2 pertemuan dikarenakan sakit dan urusan sosial (acara kematian, acara hajatan keluarga).
4. Pendapatan Petani
Pendapatan petani adalah total pemasukan atau pendapatan responden dari bidang pertanian dan pendapatan dari bidang non pertanian yang tercermin dalam satu musim tanam pada saat penelitian dilaksanakan. Secara teoritis petani dengan pendapatan tinggi akan lebih mudah menerima suatu inovasi. Adapun distribusi frekuensi pendapatan responden dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 13. Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan per musim tanam No Pendapatan
Petani
Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 > Rp 13.000.000 Tinggi 11 44
2 Rp 8.000.000 - Rp 13.000.000
Sedang 12 48
3 < Rp 8.000.000 Rendah 2 8
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa pendapatan responden sebanyak 11 responden (44%) dalam kategori pendapatan tinggi, 12 responden (48%) dalam kategori pendapatan sedang, dan 2 responden (8%) dalam kategori pendapatan rendah. Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa responden terbanyak mempunyai tingkat pendapatan sedang dan yang terbanyak kedua mempunyai
tingkat pendapatan yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat perekonomian yang baik.
Selain sebagai petani padi, responden juga memiliki pekerjaan lain.
Responden merasa pekerjaan sebagai petani penghasilannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Pekerjaan yang diusahakan responden selain berusahatani ialah beternak, berdagang, buruh, dan pensiunan PNS. Adapun ternak yang diusahakan oleh responden adalah ternak sapi, itik, dan bebek.
5. Tingkat Pengalaman Petani
Tingkat pengalaman petani merupakan lamanya petani dalam melakukan tanaman padi hingga penelitian ini dilakukan yang dinyatakan dalam tahun. Soekartawi (1988) mengemukakan bahwa petani yang baru belajar (pemula) dibandingkan dengan petani yang sudah berpengalaman akan berbeda dalam hal kecepatannya untuk melakukan proses adopsi inovasi. Responden dalam penelitian ini mulai membudidayakan tanaman padi dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Adapun distribusi frekuensi tingkat pengalaman petani dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 14. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengalaman Petani
No Skor Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 > 20 tahun Tinggi 17 68
2 10 - 20 tahun Sedang 4 16
3 < 10 tahun Rendah 4 16
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa tingkat pengalaman responden sebanyak 17 responden (68%) dalam kategori tingkat pengalaman tinggi, 4 responden (16%) dalam kategori tingkat pengalaman sedang, dan 4 responden (16%) dalam kategori tingkat pengalaman rendah. Responden terbesar berada pada kategori tingkat pengalaman yang tinggi, yakni mengusahakan budidaya tanaman padi
commit to user
lebih dari 20 tahun. Disamping itu sebanyak 4 responden dengan tingkat pengalaman sedang mengusahakan budidaya tanaman padi selama antara 10 – 20 tahun, dan sebanyak 4 responden dengan tingkat pengalaman rendah mengusahakan budidaya tanaman padi selama kurang dari 10 tahun.
Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar petani responden memiliki tingkat pengalaman tinggi yang telah membudidayakan tanaman padi dalam jangka waktu lebih dari 20 tahun. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh petani dalam jangka waktu yang lama karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang sudah dilakukan secara turun temurun.
6. Keaktifan Keanggotaan Petani
Keaktifan keanggotaan petani adalah keterlibatan petani dalam kelompok tani, seperti frekuensi hadir dalam pertemuan rutin kelompok, keaktifan petani didalam memberi masukan, lamanya pengalaman berkelompok, dan kedudukan petani dalam kelompok.
secara teoritis semakin aktif petani dalam keanggotaan tani maka semakin mudah menerima inovasi. Distribusi keaktifan keanggotaan petani dapat dilihat pada Tabel 15 ini:
Tabel 15. Distribusi Responden Berdasarkan Keaktifan Keanggotaan Petani Dalam Kelompok Tani
No Skor Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 9,4 – 12 Tinggi 8 32
2 6,7 - 9,3 Sedang 17 68
3 4 - 6,6 Rendah 0 0
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa presentase keaktifan keanggotaan petani terbesar berada pada kategori sedang dengan presentase 68% sebanyak 17 responden. Presentase terbesar kedua adalah 32% berada pada kategori tinggi sebanyak 8 responden.
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa petani
responden aktif dalam keterlibatannya dalam kelompok tani. Hal ini terwujud pada keterlibatan anggota yang aktif didalam menghadiri pertemuan rutin kelompok tani maupun pertemuan didalam kegiatan penyuluhan dan juga keaktifan petani didalam mengajukan gagasan dan pertanyaan dalam setiap kegiatan diskusi. Semua anggota memiliki hak yang sama didalam kelompok sehingga anggota diberi kebebasan untuk berpendapat maupun bertanya. Suasana kekeluargaan yang tercipta antar anggota kelompok tani juga mendorong anggotanya untuk aktif dalam kelompok.
7. Luas Penguasaan Lahan
Luas penguasaan lahan adalah luas lahan yang digarap atau diusahakan oleh petani responden pada saat penelitian berlangsung dan dinyatakan dalam satuan hektar (Ha). Menurut Lionberger (1960), luas usahatani berhubungan positif dengan adopsi inovasi. Kemampuan ekonomi yang dimiliki semakin lebih baik sehingga berusaha untuk meningkatkan kegiatan produksi yang lebih besar. Adapun distribusi frekuensi luas penguasaan lahan dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 16. Distribusi Responden Berdasarkan Penguasaan Lahan Usahatani
No Luas Lahan (ha) Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 0,5 Tinggi 0 0
2 0,2 - 0,49 Sedang 23 92
3 < 0,2 Rendah 2 8
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa tingkat penguasaan lahan responden sebanyak 2 responden (8%) dalam kategori tingkat penguasaan lahan rendah, 23 responden (92%) dalam kategori tingkat penguasaan lahan sedang, dan tidak ada responden yang berada dalam kategori tingkat penguasaan lahan tinggi.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh responden berada pada kategori tingkat penguasaan lahan sedang,
commit to user
memiliki luas lahan yang berada pada kisaran 0,2 – 0,49 Ha.
Penguasaan lahan yang dimiliki seluruh petani responden peserta SLPHT berada pada kisaran 0,1 – 0,4 Ha. Sebagian besar luas lahan yang dimiliki oleh patani berasal dari warisan turun temurun. Status kepemilikan lahan responden sebagian besar merupakan pemilik penggarap, namun ada pula yang berstatus penyakap.
8. Karakteristik Sosial Ekonomi Petani (X total)
Karakteristik sosial ekonomi merupakan tanda atau ciri – ciri dari seseorang yang ada didalam dan diluar pribadi seseorang yang diduga dapat mempengaruhi adopsi, termasuk adopsi terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi. Karakteristik sosial ekonomi meliputi umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, pendapatan, tingkat pengalaman petani, keaktifan keanggotaan petani, dan penguasaan lahan usahatani. Adapun distribusi frekuensi karakteristik sosial ekonomi petani dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 17. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani
No Skor Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 31,5 – 39,2 Tinggi 0 0
2 21,8 - 30,5 Sedang 25 100
3 13 - 21,7 Rendah 0 0
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 17 dapat dilihat bahwa tingkat pengalaman responden sebanyak 25 responden, atau keseluruhan responden peserta SLPHT berada pada kategori sedang. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik sosial ekonomi responden berada pada kategori sedang. Artinya bahwa responden cukup aktif mengikuti kegiatan yang mampu meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam membudidayakan tanaman padi. Adanya faktor internal yang muncul dari dalam diri responden dimana responden memiliki keinginan untuk meningkatkan
pengetahuan dan pengalamannya dalam membudidayakan tanaman padi tanpa paksaan dari pihak lain dan adanya faktor eksternal yang mempengaruhi petani responden, membuat petani tertarik untuk melakukan budidaya tanaman padi dengan baik.
B. Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT Tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi adalah penerimaan inovasi teknologi pengendalian hama terpadu melalui kegiatan SLPHT dengan tindakan nyata melalui penerapan teknologi pengendalian hama terpadu setelah pelaksanaan SLPHT usai. Penerapan teknologi PHT padi ini meliputi 3 prinsip utama yakni budidaya tanaman sehat, tingkat pelestarian musuh alami, dan pengamatan mingguan. Sejauh mana petani menerapkan PHT setelah melaksanakan kegiatan SLPHT dikategorikan menjadi tinggi, sedang dan rendah. Distribusi dari Tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT dapat dilihat sebagai berikut:
1. Budidaya Tanaman Sehat
Budidaya tanaman sehat yakni semua usaha budidaya tanaman yang dapat menyebabkan kesehatan dan produktivitas tanaman perlu ditingkatkan mulai dari pemilihan bibit, penanaman sampai ke masa panen. Budidaya tanaman sehat meliputi kegiatan pemberoan lahan, sanitasi, persemaian, perlakuan benih, penggunaan varietas tahan, pengolahan tanah, penanaman serentak, penentuan jarak tanam dan sistem tanam, pergiliran tanaman, pengelolaan air, pemupukan berimbang, dan penyiangan. Distribusi budidaya tanaman sehat dapat dilihat sebagai berikut:
commit to user
Tabel 18. Distribusi Responden Berdasarkan Budidaya Tanaman Sehat No Skor Kategori Jumlah (orang) Presentase (%) penerapan budidaya tanaman sehat berada dalam kategori tinggi.seluruh reponden yakni sebanyak 25 orang (100%) berada pada kategori tinggi.
Tahap budidaya tanaman sehat ini tergolong tinggi karena seluruh responden peserta SLPHT mengikuti dan menerapkan metode dan saran yang dianjurkan penyuluh. Mereka menerapkan budidaya tanaman sehat sesuai metode karena mereka merasakan manfaat dari penerapan budidaya tanaman sehat. Disamping populasi hama yang menurun, produktivitas juga meningkat. Rincian data dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Distribusi Responden Berdasarkan Rincian Tingkat Budidaya Tanaman Sehat
8 Penentuan jarak tanam dan sistem tanam
Sebagian besar responden selalu memberokan lahannya dan hanya sebagian kecil saja yang hanya kadang-kadang saja dalam memberokan lahannya. Petani selalu membersihkan lahannya atau selalu melakukan sanitasi. Petani tidak melakukan persemaian bersama kelompok tani namun membuat persemaiannya sendiri. Petani melakukan persemaian sendiri dengan alasan agar lebih cepat tanam kembali setelah panen atau petuk, setiap sehabis panen petani langsung menyisihkan sebagian lahannya untuk persemaian sehingga begitu selesai panen petani dapat langsung tanam kembali karena bibitnya telah siap. Dengan alasan itu pula sebagian petani tidak memberokan lahannya.
Petani juga melakukan perlakuan benih dalam berusaha tani.
Perendaman benih menggunakan air hangat dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Varietas yang ditanam petani ialah varietas tahan hama penyakit yang direkomendasikan penyuluh yakni varietas mekongga dan inpari 13. Petani juga menerapkan pengolahan tanah, penanaman serentak, penggunaan jarak tanam, pengelolaan air, penyiangan, dan dosis pupuk sesuai rekomendasi penyuluh. Pengolahan tanah berada pada kategori sedang dikarenakan petani merasa telah cukup melakukan pengolahan tanahnya tanpa harus mengolahnya lebih halus lagi. Petani juga menerapkan pergiliran tanaman padi dengan pola tanam padi – padi – palawija (jagung).
2. Tingkat Pelestarian Musuh Alami
Pelestarian musuh alami dilakukan dengan menemukan, mengenali dan mengamati musuh alami (teman petani) di lahan sawah agar populasi musuh alami dapat berkembang, dengan tidak menggunakan pestisida yang membunuh musuh alami. Distribusi tingkat pelestarian musuh alami dapat dilihat sebagai berikut:
commit to user
Tabel 20. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pelestarian Musuh Alami
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa petani mengadopsi teknologi PHT pelestarian musuh alami dengan baik dan bahkan terus menerapkan pelestarian musuh alami setelah SLPHT usai. Rincian data dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Distribusi Responden Berdasarkan Rincian Tingkat Pelestarian Musuh Alami 1 Kemampuan mengidentifikasi hama
dan musuh alaminya
- 5 20
2 Mengamati perkembangan musuh alami
- - 25
3 Memelihara keseimbangan musuh alami yang merasa masih kurang mengenal hama dan musuh alaminya. Petani selalu mengamati perkembangan musuh alami di lahan mereka, karena mereka menyadari manfaat dari keberadaan musuh alami. Mereka memanfaatkan musuh alami untuk melawan hama penyakit padi di lahan mereka dan meminimalkan penggunaan pestisida. Petani tidak lagi menggunakan pestisida yang berspektrum lebar, bahkan mereka menggunakan pestisida nabati yang dapat dibuat sendiri sesuai ajaran
penyuluh pada saat SLPHT. Penggunaan pestisida kimia berspektrum lebar akan membahayakan kelangsungan hidup dari musuh alami, tidak hanya hama yang mati tetapi organisme lain yang bukan merupakan organisme pengganggu tanaman dan organisme yang merupakan musuh alami dari hama juga bisa ikut mati. Musuh alami yang dominan berkembang di Desa Metuk adalah laba-laba yang merupakan musuh alami dari hama wereng.
Dalam konsep PHT ini lebih menekankan pada pengendalian hayati dengan memanfaatkan keberadaan musuh alami di lapang. Untuk itu maka petani harus mengetahui apa itu musuh alami, dari apa yang ada dalam golongan musuh alami, sebagai usaha memanfaatkan keberadaan musuh alami di lapang. Musuh alami pada umumnya dikenal sebagai predator dari hama, padahal musuh alami bisa berupa parasit, dan pathogen meliputi cendawan, bakteri, virus, dan nematoda.
Hal ini merupakan pengetahuan baru bagi para petani. Dalam melestarikan dan mengembangkan musuh alami, petani direkomendasikan untuk menekankan pada pengendalian hayati yang diatikan sebagai kegiatan musuh alami yaitu kegiatan parasit, pemangsa (predator), dan patgohen dalam menekan kepadatan populasi jenis OPT lain ( Laboratorium PHPT, 2011). Dalam pengendalian hayati para petani diajarkan dalam pembuatan agens hayati seperti PGPR dan Moretan. Pembuatan agens hayati ini merupakan inovasi yang baru bagi para petani.
3. Pengamatan Mingguan
Pengamatan mingguan bertujuan untuk mengetahui situasi hama di lapangan sedini mungkin sehingga tindakan pengendalian hama dapat dilakukan sedini mungkin dan munculnya peletusan hama dapat dicegah. Hal-hal yang perlu diamati ialah keadaan tanaman, populasi hama dan musuh alam, kondisi cuaca, dan intensitas serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan serangga lain. Distribusi tingkat pelestarian musuh alami dapat dilihat sebagai berikut:
commit to user
Tabel 22. Distribusi Responden Berdasarkan Pengamatan Mingguan No Skor Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
Berdasarkan data pada Tabel 22 dapat dilihat bahwa bahwa seluruh responden (100%) sebanyak 25 petani berada pada kategori tinggi.
Artinya bahwa petani responden mampu mengadopsi dan menerapkan teknologi PHT pengamatan mingguan dengan baik sesuai rekomendasi dan anjuran penyuluh pada saat pelatihan SLPHT. Petani harus mengadakan pemantauan ekosistem secara rutin agar petani dapat mengikuti perkembangan populasi hama dan musuh alaminya di lahannya, serta menentukan tindakan pengendalian yang perlu dilaksanakan. Rincian data dapat dilihat pada Tabel 23.
Tabel 23. Distribusi Responden Berdasarkan Rincian Tingkat Pengamatan Mingguan
4 Pengamatan intensitas serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Petani melakukan pengamatan terhadap keadaan tanaman, populasi hama dan musuh alami, kondisi cuaca, dan intensitas serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan serangga lain secara rutin
setiap seminggu sekali. Petani melakukan pengamatan dimulai pada awal sebelum tanam sehingga dapat dilakukan pencegahan dan dapat dideteksi secara dini apabila terdapat hama dan penyakit tanaman di lahan. Sebanyak 3 petani langsung melakukan penyemprotan setelah melakukan pengamatan dan di lahannya terdapat hama. Sebagian besar lainnya melakukan pengamatan terlebih dahulu, apabila di lahannya terdapat hama mereka menggunakan musuh alami terlebih dahulu dan hanya menggunakan pestisida bila diperlukan. Petani melakukan pengendalian hama dengan cara teknik budidaya dengan rotasi tanaman, cara biologis (dengan predator, menyemprotkan cendawan penginfeksi), fisik (dengan perangkap) sesuai rekomendasi penyuluh.
4. Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT (Y total)
Tingkat adopsi petani terhadap teknologi PHT pasca SLPHT padi adalah penerimaan inovasi teknologi pengendalian hama terpadu melalui kegiatan SLPHT dengan tindakan nyata melalui penerapan teknologi pengendalian hama terpadu setelah pelaksanaan SLPHT usai.
Tabel 24. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Adopsi Petani Terhadap Teknologi PHT Pasca SLPHT
No Skor Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)
1 56,2 - 72,2 Tinggi 25 100
2 40,1 - 56,1 Sedang 0 0
3 24- 40 Rendah 0 0
Jumlah 25 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan data pada Tabel 24 dapat dilihat bahwa bahwa seluruh responden (100%) sebanyak 25 petani berada pada kategori tinggi.
Artinya bahwa seluruh responden yang merupakan petani peserta SLPHT padi mampu mengadopsi teknologi PHT dengan baik dan terus menerapkan teknologi PHT pasca SLPHT sesuai teknik dan metode yang diajarkan penyuluh. Mereka menyadari dan merasakan benar manfaat dari penerapan teknologi PHT yang mereka dapatkan selama
commit to user
pelaksanaan SLPHT. Dengan menerapkan teknologi PHT sesuai teknik dan metode yang diajarkan penyuluh, maka petani dapat mendapatkan hasil produksi yang optimal, serta menggunakan taktik pengendalian yang alami sehingga meminimalkan biaya produksi serta tidak menimbulkan dampak yang negatif yang merugikan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka akan meningkatkan pendapatan yang diperoleh petani itu sendiri.
Keberhasilan SLPHT tidak lepas dari kemauan dan keterbukaan petani dalam menerima adanya SLPHT karena mereka ingin mendapatkan hasil yang lebih baik bagi usahatani padi nya. Petani juga terus menerapkan PHT selepas kegiatan SLPHT karena petani merasakan betul manfaat dari teknologi PHT yang mereka dapatkan selama kegiatan SLPHT. Produksi usahatani padi mereka meningkat setelah SLPHT. Oleh karena itu petani terus menerapkan konsep PHT dalam usahatani nya dan bersedia untuk menyebarluaskan konsep PHT kepada petani lain yang tidak mengikuti SLPHT.
Terlepas dari tingkat adopsi responden petani peserta SLPHT yang tinggi terhadap teknologi PHT pasca SLPHT, pelaksanaan SLPHT sendiri terdapat kekurangan dan kendala. Kekurangan utama dalam pelaksanaan SLPHT adalah masalah anggaran dana. Anggaran dana yang terbatas dari pemerintah menyebabkan terbatasnya jumlah peserta.
Minimnya dana juga berakibat pada kelompok tani peserta SLPHT.
Anggaran dana yang terbatas seringkali membuat kelompok tani secara
Anggaran dana yang terbatas seringkali membuat kelompok tani secara