• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik Subjek Penelitian

Jumlah populasi tenaga kerja di bagian Weaving PT Safarijunie Textindo Industry Banyudono, Boyolali adalah 164 tenaga kerja dimana terdapat 82 tenaga kerja shift pagi dan 82 tenaga kerja shift malam. Setelah dilakukan teknik purposive sampling maka didapatkan jumlah sampel tersebut menjadi 139 orang yaitu 71 orang shift pagi dan 68 orang shift malam dengan kriteria atau ciri-ciri yang telah ditentukan berdasarkan karakteristik tenaga kerja. Kemudian dilakukan pengukuran kelelahan kerja dengan menggunakan reaction timer L77 Lakassidaya.

Seluruh sampel dalam penelitian ini adalah perempuan. Pria dan perempuan berbeda dalam kemampuan fisiknya, kekuatan kerja ototnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat melalui ukuran tubuh dan kekuatan otot dari wanita relatif kurang jika dibandingkan pria sehingga akan lebih cepat lelah (Suma’mur, 2009).

Masa kerja subjek minimal 2 tahun, semakin lama masa kerja, tenaga kerja semakin berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaannya. Tenaga kerja shift pagi dan shift malam memiliki beban kerja yang sama, tenaga kerja bekerja berpindah-pindah tempat dari mesin yang satu ke mesin yang lain. Antara shift pagi dan shift malam target produksinya sama.

commit to user B. Analisis Univariat

1. Umur

Berdasarkan hasil penelitian pada tenaga kerja shift pagi dan shift malam bagian Weaving di PT Safarijunie Textindo Industry Banyudono, Boyolali diperoleh bahwa rata-rata umur responden berada pada usia produktif dengan umur antara 25-45 tahun.

Menurut Tarwaka, dkk (2004) umur seseorang berbanding langsung dengan kapasitas fisik sampai batas tertentu dan mencapai puncaknya pada umur 25 tahun. Pada umur 50-60 tahun kekuatan otot menurun sebesar 25%, kemampuan sensoris-motoris menurun sebanyak 60%. Selanjutnya kemampuan kerja fisik seseorang yang berumur 60 tahun tinggal mencapai 50% dari umur orang yang berumur 25 tahun. Sehingga tenaga kerja pada umur lebih dari 50 tahun mempengaruhi tingkat kelelahan seseorang. Setyawati (2010) menyatakan bahwa pekerja shift malam dianjurkan yang berusia lebih dari 25 tahun dan kurang dari 50 tahun.

Pada penelitian ini diambil responden masih dalam usia 25-45 tahun, hal ini menunjukkan bahwa variabel pengganggu dari faktor internal yang dapat mempengaruhi kelelahan kerja dapat dikendalikan, sehingga kelelahan yang timbul bukan dikarenakan oleh faktor usia seseorang. 2. Jenis Kelamin

Di PT Safarijunie Textindo Industry 87% tenaga kerja adalah perempuan dan tenaga kerja di bagian Weaving semua adalah perempuan.

commit to user

PT Safarijunie Textindo Industry lebih memilih tenaga kerja perempuan karena dari proses produksinya membutuhkan banyak ketelitian dan ketelatenan. Dan perempuan cenderung memiliki sifat tersebut. Di bagian

Weaving merupakan proses penenunan dari benang menjadi kain, dan

pekerjaan tersebut identik dengan perempuan.

Dalam penelitian ini tenaga kerja yang menjadi sampel penelitian adalah semua berjenis kelamin perempuan karena hampir semua tenaga kerja di bagian weaving berjenis kelamin perempuan.

3. Masa Kerja

Masa kerja tenaga kerja di bagian Weaving rata-rata sudah lebih dari 2 tahun. Masa kerja juga dapat mempengaruhi kelelahan kerja karena semakin lama masa kerja, tenaga kerja semakin berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga telah terbiasa dengan pekerjaannya (Suma’mur, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keterampilan dan kemampuan tenaga kerja yang tinggi. Masa kerja seseorang berkaitan dengan pengalaman kerjanya. Tenaga kerja yang telah lama bekerja pada perusahaan tertentu telah mempunyai berbagai pengalaman yang berkaitan dengan bidangnya. Menurut Notoatmodjo (2010) semakin tinggi keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja, semakin efisien badan (anggota badan), tenaga dan pemikiran (mentalnya) dalam melaksanakan pekerjaan.

Dalam hal ini peneliti mengambil responden yang telah bekerja lebih dari 2 tahun untuk menghindari tenaga kerja yang kurang terampil

commit to user

atau kurang berpengalaman, hal ini menunjukkan bahwa variabel pengganggu dari faktor internal yang mempengaruhi kelelahan kerja dapat dikendalikan, sehingga kelelahan yang timbul bukan dikarenakan oleh faktor masa kerja.

4. Kebisingan

Berdasarkan pengukuran kebisingan yang telah dilakukan oleh peneliti, kebisingan di bagian Weaving PT Safarijunie Textindo Industry adalah 97,6 dB. Menurut Permenaker No.13 Tahun 2011 tentang NAB faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja, yang dimaksud NAB adalah standar faktor bahaya di tempat kerja sebagai kadar atau intensitas rata-rata tertimbang waktu (time weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sesehari-hari atau 40 jam seminggu. NAB untuk kebisingan 85 dB.

Intensitas kebisingan di bagian Weaving PT Safarijunie Textindo Industry adalah 97,6 dB, sehingga termasuk melebihi Nilai Ambang Batas. Akan tetapi pada penelitian ini kebisingan dapat dikendalikan dengan memilih tenaga kerja sebagai sampel yang disiplin memakai alat pelindung telinga.

5. Beban Kerja

Beban kerja pada tenaga kerja shift pagi dan shift malam di bagian

commit to user

sedang. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa variabel pengganggu dari faktor eksternal dapat dikendalikan.

6. Analisis Shift Kerja

Proses produksi bagian Weaving di PT Safarijunie Textindo Industry beroperasi selama 24 jam, sehingga perusahaan memberlakukan sistem kerja shift. Tenaga kerja yang bekerja pada shift pagi memiliki kondisi tubuh yang ideal untuk bekerja kerena mempunyai waktu yang cukup untuk tidur. Sedangkan untuk tenaga kerja yang bekerja pada shift malam kondisi tubuh telah menurun karena di pagi hari sudah melakukan aktivitas sebelumnya. Pada umumnya tubuh istirahat pada malam hari, tetapi karena bekerja pada shift malam maka tubuh dipaksakan untuk bekerja, sehingga tenaga kerja yang bekerja pada malam hari merasa lebih lelah dan mengalami gangguan tidur bila dibanding tenaga kerja pada shift pagi. Hal ini telah sesuai dengan Suma’mur (2009) yang mengatakan bahwa bekerja pada kerja bergilir malam paling potensial menyebabkan terjadinya kelelahan, waktu istirahat yang diberikan setelah bekerja dengan rotasi kerja bergilir khususnya untuk kerja malam belum cukup untuk memulihkan tenaga, karena setelah bekerja pada kerja bergilir malam tenaga kerja masuk kerja pada kerja bergilir pagi.

Selama bekerja tenaga kerja diberikan waktu 30 menit untuk istirahat, sedangkan tenaga kerja pada shift malam saat istirahat ada yang memanfaatkan waktu dengan tidur, tetapi ada juga yang mengobrol dengan tenaga kerja yang lain. Pada shift malam tenaga kerja juga diberikan

commit to user

makanan yang disediakan di kantin perusahaan tetapi tidak diberikan extra

fooding. Selain itu di sekitar ruang produksi juga tidak terdapat kursi-kursi

untuk istirahat tenaga kerja. Suma’mur (2009) menyatakan bahwa makanan ekstra sangat membantu dalam memelihara kesehatan tenaga kerja yang melakukan pekerjaannya dengan sistem bergilir.

7. Analisis Kelelahan Kerja

Berdasarkan pengukuran tingkat kelelahan kerja pada tenaga kerja

shift pagi dan shift malam di bagian Weaving PT Safarijunie Textindo

Industry, diperoleh hasil untuk shift pagi terdapat 58 responden atau 81,7% mengalami kelelahan kerja ringan, 11 responden atau 15,5% mengalami kelelahan kerja sedang, dan 2 responden atau 2,8% mengalami kelelahan kerja berat. Sedangkan pada shift malam terdapat 34 responden atau 50% mengalami kelelahan kerja ringan, 26 responden atau 38,2% mengalami kelelahan kerja sedang, dan 8 responden atau 11,8% mengalami kelelahan kerja berat.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tenaga kerja shift malam lebih banyak yang mengalami kelelahan kerja berat bila dibandingkan dengan shift pagi. Tenaga kerja yang bekerja pada shift pagi memiliki kondisi tubuh yang ideal untuk bekerja kerena mempunyai waktu yang cukup untuk tidur. Sedangkan untuk tenaga kerja yang bekerja pada

shift malam kondisi tubuh telah menurun karena di pagi hari sudah

melakukan aktivitas sebelumnya. Pada umumnya tubuh istirahat pada malam hari, tetapi karena bekerja pada shift malam maka tubuh dipaksakan

commit to user

untuk bekerja, sehingga tenaga kerja yang bekerja pada malam hari merasa lebih lelah dan mengalami gangguan tidur bila dibanding tenaga kerja pada

shift pagi. Berdasarkan hasil penelitian oleh Kodrat (2011) juga

menunjukkan adanya perbedaan tingkat kelelahan kerja yaitu diperoleh bahwa rataan waktu reaksi shift pagi 0,97 detik dengan standar deviasi 0,159 detik. Pada shift malam didapat rataan waktu reaksi 1,18 detik dengan standar deviasi 0,176 detik. Nilai rataan perbedaan antara waktu reaksi shift pagi dan shift malam 1,004 detik. Interval selang waktu reaksi

shift pagi 0, 921 < µ < 1.02 dan shift malam 1.126 < µ < 1.234.

Setyawati (2010) menyatakan bahwa kejadian kelelahan kerja berpeluang menimbulkan kelelahan kerja sekitar 80% dan shift kerja sendiri berpeluang menimbulkan gangguan tidur pada pekerja shift malam sekitar 80%.

Dokumen terkait