• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL TEMUAN

PEMAPARAN NOVEL

A. Karakteristik Tokoh Utama

Menurut Doni Kusuma (2007:80) istilah karakter dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.Sama halnya dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1995:445), istilah “karakter” berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain: tabiat, watak.

Sedangkan Boeree (2008:426)Karakteristik adalah ciri khas seseorang dalam meyakini, bertindak ataupun merasakan. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik adalah ciri atau sifat- sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain dalam meyakini, bertindak ataupun merasakan seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.

Sedangkan karakteristik tokoh utama adalah ciri atau sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang tokoh atau pemeran utama dari yang lain dalam meyakini, bertindak ataupun merasakan yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Berikut di bawah ini adalah tabel karakteristik tokoh utama dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman al-Azizy:

Iqbal

Karakter Kutipan Dialog dalam Novel Halaman Patuh terhadap

orang tua

“oh, ibu. Aku demikian keras kepala kepada setiap orang, tetapi hatiku luluh kepadamu. Aku turuti perintahmu untuk melakukan apapun yag kau mau.”

15

“permintaan ibu untuk merawat bunga-bunga aku penuhi.”

15

Cinta kepada ibunya

“kurawat semua anggrek melebihi aku merawat tanaman yang lain. Cintaku kepada anggrek seperti cintaku kepada ibu. Anggrek adalah bukti cintaku kepada ibu.”

17

Integritas kuat “Ya Allah, bagaimana bisa selama ini aku gunakan waktuku untuk hal yang sia-sia? Untuk hal-hal yang justru menjauhkanku dari-Mu?

„Ibu, aku ingin berubah...kata- kata inilah yang aku lontarkan kepada ibu di pagi hari yang cerah itu.”

23

”Aku masih memiliki hati dan pikiranku. Di sini, di pesantren ini aku masih sadar bahwa aku

belajar. Aku nyantri sebab aku ingin mendalami ilmu agama. Lebih dari itu, kedatanganku kesini jauh-jauh dari Jakarta tidak hanya untuk mendalami ilmu agama saja, melainkan juga untuk mempraktikkan ajaran- ajaran agama yang aku anut.” Bertanggung

jawab

“aku tahu, ya Allah, bahwa aku harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah kulakukan.”

99

Peduli terhadap sesama

“ini, terimalah ibu. Ini amanah dari saya. Saya tidak ingin sekolah Irsyad gagal. Saya juga tidak ingin Fatimah tidak mengenyam pendidikan. Dan saya tidak ingin lagi melihat ibu mengemis. Gunakan uang ini untuk membiayai sekolah Fatimah dan Irsyad. Lalu yang sebagian, gunakan untuk modal ibu.”

76 A. Nilai-nilai Spiritual

1. Nilai Pendidikan Aqidah

Nilai pendidikan aqidah dalam novel Syahadat Cinta secara visual dapat dilihat dalam cover buku yang menyebut novel ini sebagai novel spiritual pembangun iman.

Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yang mengikat. Manusia memiliki keyakinan yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Secara terminologi aqidah adalah iman kepada Allah SWT, Malaikat- malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, Hari Akhirat, dan keimanan kepada takdir Allah baik dan buruk. Syari‟at Islam terdiri dari dua pangkal utama, yaitu: pertama, Aqidah yang letaknya di hati. Kedua, muamalah (perbuatan), yaitu cara-cara amal atau ibadah.

Dalam novel Syahadat Cinta, Taufiqurrahman menjelaskan tentang hakekat iman yang sebenarnya, yang dilandasi atas pencarian kebenaran yaitu islam.

a) “sebelum syahadah ini kita lakukan. sebelum ukhtina Priscillia berbaiat terhadap agama Islam, saya ingin bertanya kepada ukhti, apakah ukhti memilih islam karena keterpaksaan karena desakan, karena ketakutan, atau karena kesadaran?”

“perjalanan sayalah yang menyebabkan saya memilih Islam. Saya mengetahui, saya memahami dan saya sadar untuk memilih Islam.” (al-Azizy, 2007:340).

Tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam, manusia memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak Islam. Karena sesungguhnya orang yang mendapat hidayah Allah yang akan dapat menerima kebenaran Islam. Firman Allah SWT dalam surat al- Baqarah ayat 256.

َِاَشْكِإ لا

ِدُٕغبَّطنبِث ْشُفْكَٚ ًٍََْف َِّٙغْنا ٍَِي ُذْشُّشنا ٍَََّٛجَت ْذَق ٍِِّٚذنا ِٙف

ٌىِٛهَع ٌعًَِٛس ُ َّاللََّٔ بََٓن َوبَصِفَْا لا َٗقْثُْٕنا ِحَْٔشُعْنبِث َكَسًَْتْسا ِذَقَف ِ َّللَّبِث ٍِْيْؤَُٚٔ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:256) b) “demikianlah, satu per satu aku baca dan aku hafalkan huruf-

huruf hijaiyah. Dan Allahu akbar, aku tidak mengalami kesulitan untuk menirukan Irsyad mengeja huruf-huruf ini. Bahkan, saat ini juga, aku telah hafal seluruh huruf hijaiyah yang berjumlah 30 buah itu (apabila huruf hamzah dan lam alif dimasukkan). Irsyad mengujiku: dia memintaku membaca huruf-huruf ini dari berbagai arah.

“Alhamdulillah, ini adalah berkah Allah SWT kepadaku. Aku yakin, apabila kita berniat sungguh-sungguh dengan kebaikan yang kita lakukan, Allah akan mempermudah jalan bagi kita.” (al- Azizy, 2007:193).

Dalam kutipan di atas, Taufiqurrahman menjelaskan bahwa tidak ada batasan untuk belajar agama (al-Qur‟an), baik tua ataupun muda diwajibkan untuk mempelajari al-Qur‟an, dan usia bukan faktor penghambat untuk belajar.

Dengan kesungguhan setiap orang bisa mempelajari al-Qur‟an dengan cepat. Niat yang tulus dan ikhlas akan dapat membantu mempelajari proses pembelajaran tersebut. Dengan mengkaji al- Qur‟an manusia akan menemukan kepribadian yang saleh, firman Allah SWT dalam surat al-Isra‟ ayat 9:

ٍَِٚزَّنا ٍَُِِٛيْؤًُْنا ُشِّشَجَُٚٔ ُوَْٕقَأ َِْٙ ِٙتَّهِن ِ٘ذَْٓٚ ٌَآْشُقْنا اَزْ ٌَِّإ

ٌَُٕهًَْعَٚ

اًشِٛجَك اًشْجَأ ْىَُٓن ٌََّأ ِدبَحِنبَّصنا

“Sungguh, Al Quran ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (QS.al-Isra‟: 4).

2. Nilai Pendidikan Syariah

Novel Syahadat Cinta ini mengambil setting Pondok Pesantren yang disebutkan sebagai pondok pesantren salaf. Taufiqurrahman menggambarkan santri yang belum memiliki basic agama bisa belajar terlebih dahulu dari senior-seniornya yang lama mondok.

a) “kalau shalat gimana?”

“shalat dhuhur ada berapa rakaat?”tanya Amin “apa itu rakaat?” tanyaku

Kang Rusli yang menjawab, “Rakaat itu bilangan atau jumlah masing-masing shalat. Shalat itu terdiri dari berdiri, lalu rukuk, berdiri kembali, sujud, duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali. Ini dihitung satu rakaat.”

Penggalan dialog diatas memberikan gambaran tentang pendidikan shalat yang dilakukan secara individual. Pada prinsipnya mempelajari agama harus dimulai dari yang mudah dulu, dan Islam

memberi kemudahan bagi umatnya dalam mempelajari ajaran- ajarannya. Shalat merupakan salah satu sarana untuk mengingat Allah, karena di dalamnya merupakan do‟a-do‟a yang dipanjatkan kepada Allah SWT. Perintah untuk melaksanakan shalat salah satunya tercover dalam QS. Thaha ayat 14:

ْذُجْعبَف بَََأ لاِإ ََّنِإ لا ُ َّاللَّ بَََأ ََُِِّٙإ

ِ٘شْكِزِن َحلاَّصنا ِىِقَأَٔ َِٙ

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat.” (QS.Thaha: 14).

3. Nilai Pendidikan Akhlak

Akhlak adalah keadaan rohaniah yang tercermin dalam tingkah laku, atau dengan kata lain yaitu sikap lahir yang merupakan perwujudan dari sikap batin. Nilai pendidikan akhlak yang tpenulis temukan dalam novel ini diantaranya adalah etika berbicara baik-baik dan ajaran untuk saling memaafkan.

a) Etika berbicara yang baik

Secara eksplisit dapat diketahui bahwa di dalam novel ini terkandung pesan-pesan edukatif yang ingin disampaikan pengarang melalui dialog antar tokoh.

“tetapi menurutku nih kang,--kang Iqbal jangan marah, kamu mempunyai beberapa ketidakbenaran.”

“Maksudku ketidakbenaran. Aku lebih suka mengatakan demikian. Pertama, kang Iqbal merasa jengkel dengan kyai. Jengkel itu sendiri merupakan penyakit, kang. Penyakit yang menggerogoti hati kang Iqbal. Kedua, kejengkelan tersebut kamu tujukan kepada kyai kita, padahal kyai kita tidak jengkel kepadamu. Ketiga, kejengkelan itu kamu lampiaskan kepada orang yang salah,

walaupun dia juga bersalah kepadamu. Keempat, dan ini yang paling parah, kang Iqbal mencaci maki neng Aisyah. Demi Allah kang Dia telah berfirman: “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.”

Dari dialog tersebut dapat diketahui ajaran tentang akhlak kepada sesama dan etika berbicara yang baik-baik serta bersikap sabar terhadap segala keburukan yang ditimbulkan oleh orang lain. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa‟ ayat 148:

بًعًَِٛس ُ َّاللَّ ٌَبَكَٔ َىِهُظ ٍَْي لاِإ ِلَْٕقْنا ٍَِي ِءُّٕسنبِث َشَْٓجْنا ُ َّاللَّ ُّتِحُٚ لا

بًًِٛهَع

“Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terang-terangan kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa‟: 148). b) Ajaran untuk saling memaafkan

Tendensi dari pemberian maaf adalah harapan hidayah. Dengan maksud upaya yang berbuat salah memperbaiki kesalahannya dan mendapat hidayah dari Allah. Memang tidak mudah untuk memberikan maaf kepada orang yang pernah berbuat salah kepada diri kita. Dalam novel Syahadat Cinta ini Taufiqurrahman memberikan interpretasi bahwa jadi orang itu harus bisa menerima kesalahan orang lain dan dapat memaafkan kesalaha itu.

“apa dia memberi maaf?”

“Tidak. Dia terlalu angkuh untuk memaafkan aku. Kang, bagaimana hukumnya orang yang tidak memberi maaf?”

“Aduh, bagaimana hukumnya ya? Yang aku tahu, Allah telah berfirman: perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Dia juga berfirman: Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa- dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”

Salah satu ajaran yang mendasari ajaran untuk menerima maaf adalah QS. Al-Baqarah ayat 263 dan QS. Asy-Syuura ayat 37:

ُٔشْعَي ٌلَْٕق

ٌىِٛهَح ٌَُِّٙغ ُ َّاللََّٔ ًٖرَأ بَُٓعَجْتَٚ ٍخَقَذَص ٍِْي ٌشَْٛخ ٌحَشِفْغَئَ ٌف

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al- Baqarah: 263).

ٌَُٔشِفْغَٚ ْىُْ إُجِضَغ بَي اَرِإَٔ َشِحإََفْنأَ ِىْثلإا َشِئبَجَك ٌَُٕجَُِتْجَٚ ٍَِٚزَّنأَ

“Dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf.” (QS. Asy-Syuura: 37).

4. Peduli

Peduli yang artinya memperhatikan, menghiraukan (Purwadarminto, 2006:85).

a) akhi belum shalatkah? (al-Azizy, 2007:55)

Penggalan dialog di atas merupakan wujud kepedulian seorang teman kepada teman lainnya dengan bertanya apakah sudah shalat atau belum.

b) kang Rakhmat kemudian memberikan nasihatnya bahwa aku harus bisa.(al-Azizy, 2007:58).

Bentuk kepedulian seseorang juga dapat berupa memberikan nasihat-nasihat kepada orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seperti yang terdapat dalam penggalan novel Syahadat Cinta di atas yang mengajarkan kepedulian kepada sesama dengan memberikan nasihat dan semangat.

c) Engkau memberikan nasihat kepadaku tanpa merendahkanku. Kata-katamu menyentuh kalbuku. Kamu mendatangiku di saat para sahabat lain tidak melakukannya. Kamu memberi masukan kepadaku di saat aku tidak tahu harus bagaimana.(al-Azizy, 2007:98).

Penggalan dialog di atas merupakan wujud kepedulian dengan bentuk memberikan nasihat kepada teman. Meskipun terlihat sederhana, tetapi wujud kepedulian tersebut sangat mengena ketika tidak ada seorangpun yang memberikan sikap tersebut.

d) Timbul niatku untuk menyebrang jalan, mendekati ibu dan memberikan shadaqah uang yang aku miliki.(al-Azizy, 2007:144).

Dari kutipan tersebut, secara jelas bahwa Taufiqurrahman al-Azizy ingin mengajak pembacanya utuk peduli terhadap sesamanya dan lingkungan sekitar. Bentuk kepedulian dari kutipan dialog di atas yaitu dengan bersedekah atau bersikap dermawan atas harta yang dimiliki untuk meringankan beban orang lain. e) Dan sesama saudara harus tolong-menolong.(al-Azizy, 2007:179).

Kutipan novel di atas mengajarkan kepada pembaca untuk mempuyai sikap peduli terhadap sesama saudara yaitu dengan tolong menolong.

f) Aku mendengar bagaimana para sahabat menghiburku. Aku mendengar ucap keprihatinan mereka atas apa yang menimpaku.(al-Azizy, 2007:302).

Penggalan dialog di atas secara tidak langsung ingin menyampaikan kepada pembacanya agar mempunyai sikap peduli dalam bentuk menghibur teman, ssaudara, dan sahabat yang sedang merasa sedih maupun mendapatkan musibah.

g) Ini, terimalah ibu. Ini amanah dari saya. Saya tidak ingin sekolah Irsyad gagal. Saya juga tidak ingin Fatimah tidak mengenyam pendidikan. Dan saya tidak ingin lagi melihat ibu mengemis. (al- Azizy, 2007:351).

Kepedulian dalam kutipan dialog tersebut yaitu dengan menolong seseorang agar kehidupannya lebih baik. Seperti yang dilakukan tokoh Iqbal dalam novel Syahadat Cinta ini yang menunjukkan sikap kepeduliannya kepada bu Jamilah dan kedua anaknya agar tetap melanjutkan sekolah serta tidak mengemis lagi dengan memberikan uang.

h) Semua di sini mengkhawatirkan keadaanmu.(al-Azizy, 2007:359). Bentuk kepedulian lainnya adalah mengkhawatirkan keadaan saudaranya seperti yang digambarkan melalui teman- teman Iqbal di pondok ketika Iqbal sedang mendapatkan masalah yang terdapat dalam kutipan dialog di atas.

i) Kiai sepuh dan kiai Subadar memberi petuah-petuah yang utamanya ditujukan kepadaku dan kepada para santri putra.(al- Azizy, 2007:392).

Memberikan nasihat kepada muridnya atau santrinya oleh seorang Kyai maupun guru juga merupakan sikap peduli terhadap sesamanya. Seperti yang terdapat dalam kutipan novel Syahadat Cinta di atas.

j) Para sahabat risau melihatku.(al-Azizy, 2007:472).

Taufiqurrahman al-Azizy melalui kutipan dialog di atas menggambarkan kepedulian terhadap saudaranya dengan merisaukan sikap yang di luar kebiasaannya maupun dengan merisaukan atau mengkhawatirkan suatu keadaan yang terjadi.

k) Insyaallah, akan merawatnya dengan lembut dan sepenuh hati. (al- Azizy, 2007:495).

Kutipan dialog tersebut mengajarkan sikap kepedulian seseorang dengan merawat teman atau sahabatnya. Misalkan merawat shabat yang sedang sakit ketika di pondok pesantren. Hal itulah yang dilakukan santri putri untuk merawat Priscillia yang tengah pingsan.

Dari beberapa kutipan novel Syahadat Cinta di atas, Taufiqurrahman secara tidak langsung mengajak pembacanya untuk mempunyai kepedulian terhadap sesama makhluk ciptaan Allah. Dan sikap peduli ini sebaiknya dimulai dari lingkungan yang terdekat disekitar kita. Kepedulian dapat berupa perhatian, tolong-menolong antar sesama, memberikan petuah atau nasihat, dan dengan merawat makhluk ciptaan Allah. Selain itu, sikap peduli harus ditanamkan

sejak dini karena manusia juga sebagai makhluk sebagai makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain. Seiring dengan kemajuan era modern sekarang ini, sikap peduli sudah semakin luntur. Saat ini sudah banyak orang yang tidak peduli terhadap apa yang dialami oleh sesama manusia dan lingkungan yang ada disekitarnya. Mayoritas orang hanya memikirkan keuntungan untuk pribadinya saja.

Padahal Allah selalu memerintahkan umatnya untuk selalu bersikap peduli terhadap sekitarnya. Dan Rasulullah juga sudah memberikan teladan yang terkait dengan kepedulian terhadap sesama dalam kisah-kisahnya. Sedikit kepedulian yang diberikan untuk orang lain akan memberikan manfaat dan dampak yang besar.

5. Tenggang Rasa

a) “islam adalah agama damai; cinta damai. Aku kira seperti halnya saudara-saudara kamu, saudara-saudara kami sesama muslim pun memiliki banyak perbedaan dalam menginterpretasikan ajaran agama.”

“kamu benar dalam hal itu bal. Dalam kristen sendiri terdapat perbedaan.”(al-Azizy, 2007:13).

Dalam petikan dialog tersebut ingin mengajarkan sikap bertenggang rasa. Dan mengajarkan bahwa setiap orang pastinya mempunyai perbedaan, salah satunya adalah agama. Bahkan orang yang memeluk agama yang sama juga mempunyai perbedaan- perbedaan.

b) Priscillia, gadis kristiani ini tampaknya memiliki kebajikan dan kebijakan kristen yang dianutnya. Aduhai, andaikan semua kristiani seperti dia, betapa indahnya silaturrahmi antar agama.(al-Azizy, 2007:136).

Meskipun berbeda agama, tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan penghalang silaturahmi antar sesama manusia. Perbedaan agama tidak boleh menjadikan seseorang berseteru antar pemeluknya, dan harus dapat saling menghargai serta menghormati. Seperti yang ingin disampaikan oleh Taufiqurrahman al-Azizy yang terdapat dalam kutipan novel di atas.

c) Tak kutemukan pada diri Priscillia keinginan untuk melakukan penghinaan, pelecehan, atau perendahan terhadap agamaku.(al- Azizy, 2007:209).

Kutipan novel Syahadat Cinta di atas mengajarkan bahwa tokoh Priscillia mempunyai sikap tenggang rasa, yaitu sikap saling menghormati atau saling menghargai antar sesama manusia yang berbeda agama dengannya.

d) Baginya, miskin dan kaya sama saja, sebab ini hanyalah perbedaan nasib dan peruntungan belaka. Miskin dan kaya tidak bisa menyembunyikan cinta, dan tidak mampu membuat tabir untuk menutupi rasa kemanusiaan.(al-Azizy, 2007:256).

Melalui kutipan novel di atas, Taufiqurrahman mengajarkan bertenggang rasa. Sikap yang tidak membeda- bedakan seseorag karena harta kekayaan manusia. Cinta antar sesama manusia tidak dapat tertutupi hanya karena perbedaan kaya dan miskin.

e) Aku tidak ingin melukai perasaannya. (al-Azizy, 2007:406).

Menjaga perasaan orang lain juga diajarkan dalam novel karya Taufiqurrahman al-Azizy ini. Karena menjaga perasaan

seseorang itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan, maka kutipan dialog tersebut mengajak untuk mencoba menjaga perasaan orang lain.

Dari beberapa kutipan dialog dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman al-Azizy tersebut dapat disimpulkan bahwa tenggang rasa adalah sikap adalah saling menghargai atau saling menghormati antar sesama manusia. Di dunia ini ada banyak perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap individu, salah satunya adalah perbedaan keyakinan atau agama. Perbedaan agama tidak boleh menjadikan seseorang berseteru antar pemeluknya. Karena Islam sendiri mengajarkan pemeluknya untuk dapat bertenggang rasa kepada sesama manusia. Sungguh indah apabila dalam perbedaan-perbedaan tersebut masih ada cinta, kasih, dan sayang antar pemeluk agama. Dengan begitu hubungan atau silaturahmi antar agama akan menjadi lebih baik.

Selain menghargai atau menghormati dalam keyakinan, bertenggang rasa juga dapat berarti menjaga perasaan orang lain baik dengan perkataan maupun perbuatan. Menjaga perasaan orang lain begitu penting untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. 6. Nilai Muamalah (Ajaran berbuat sabar dan ikhlas)

Secara etimologi, sabar (ash-shabr) berarti menahan (al-habs). Dari sini dapat dimaknai sebagai upaya menahan diridalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT.

Sabar menurut Dzunnun al-Mishry adalah menjauhkan diri dari hal- hal yang bertentangan dengan agama dan bersikap tenang manakala terkena musibah, serta berlapang dada dalam kefakiran ditengah- tengah medan kehidupan (Fansury, 2013:67).

a) Melihat ulahku yang seperti itu, yang setiap hari-harinya menghamburkan uang, yang setiap malam menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, yang setiap siang hanya tidur dan tidur lagi, ibu tetap sabar.(al-Azizy, 2007:14).

Kutipan novel di atas menggambarkan kesabaran seorang ibu terhadap perilaku anaknya yang hanya menghamburkan uang, menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.

b) Nanti, nanti, nanti. Itulah jawaban yang aku terima. Penantian ini sudah berusia dua bulan, dan tetap saja aku tidak diajari apa-apa, oleh siapa-siapa.(al-Azizy, 2007:41).

Kutipan dialog tersebut secara tidak langsung mengajarkan untuk senantiasa bersabar dalam menimba ilmu. Walaupun dengan penantian yang panjang, seseorang yang menimba ilmu haruslah dapat bersabar dalam penantiannya.

c) Ibu akhirnya mengemis sejak pagi. Tapi, Allah SWT memang benar-benar sedang menguji ibu.(al-Azizy, 2007:153).

Taufiqurrahman al-Azizy ingin mengajak pembacanya melalui kutipan dialog di atas adalah sebagai seorang muslim haruslah bersikap sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Karena manusia hidup di dunia tidak terlepas dari masalah dan cobaan, tinggal bagaimana manusia menyikapinya bisa sabar atau tidak.

d) “Yah, hati yang yakin. Pastilah karena memiliki hati yang demikian sehingga membuat ibu itu begitu sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan hidup.”(al-Azizy, 2007:155).

Kutipan dialog tersebut mengajarkan bahwa kita harus bersabar dan tabah dalam menghadapi cobaan hidup yang dialami oleh setiap manusia. Dengan bersabar maka akan membuahkan keyakinan hati yang kuat.

e) “Belilah makanan seadanya. Kalau terpaksa tidak cukup, belilah secukupnya. Tidak kebagian, emak ndak apa-apa.” (al-Azizy, 20707:177).

Tokoh bu Jamilah dalam kutipan dialog di atas mengajarkan tentang kesabaran seorang ibu terhadap kekurangan yang dialaminya. Selain kesabaran, kesederhanaan juga diajarkan dalam novel ini.

f) “Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang ini, kecuali bersabar dan memasrahkan diriku seutuh-utuhnya kepada kehendak Ilahi.” (al-Azizy, 2007:313).

Bersabar juga dapat berupa kepasrahan seorang hamba kepada Allah setelah semua usaha atau ikhtiar yang telah dilakukan oleh seseorang.

g) “Aku tidak boleh berputus asa. Tidak boleh mengeluh.” (al-Azizy, 2007:410).

Berputus asa terhadap apa yang dialami seseorang berarti juga termasuk tidak sabar dalam menjalani kehidupan. Dan mengeluh juga termasuk hal yang sama. Dalam kutipan di atas mengajarkan untuk bersabar dengan tidak mengeluh dan berputus asa.

h) Dulu aku datang kesini untuk belajar agama. Lalu kiai Sepuh mengajarkan kesabaran dan keikhlasan pada diriku melalui perintahnya untuk mengambil air.(al-Azizy, 2007:513).

Melalui suatu perbuatan mengambil air setiap hari untuk kebutuhan seluruh santri yang ada di pondok pesantren dilakukan atas dasar perintah dari seorang Kyai kepada santrinya dapat mengajarkan dan melatih kesabaran orang tersebut. Seperti yang terdapat dalam kutipan dialog tersebut.

Dari beberapa kutipan novel di atas, dalat disimpulkan bahwa dalam novel tersebut mengajak dan mengajarkan kepada pembacanya untuk bersabar dalam menghadapi segala sesuatu. Islam sendiri juga mengajarkan kesabaran. Didalam firman-Nya, Allah senantiasa akan selalu bersama orang-orang yang sabar seperti yang terdapat dalam al- Qur‟an Surat al-Baqarah ayat 153:

َعَي َ َّاللَّ ٌَِّإ ِحلاَّصنأَ ِشْجَّصنبِث إُُِٛعَتْسا إَُُيآ ٍَِٚزَّنا بََُّٓٚأ بَٚ

ٍَِٚشِثبَّصنا

”Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Tanpa kesabaran, seseorang akan sulit merasakan kebahagiaan. Sebab, tidak semua yang direncanakan oleh manusia itu dapat berjalan baik dan lancar. Tidak semua yang diinginkan manusia itu dipenuhi. Disinilah dibutuhkan sebuah kesabaran. Demikian pula dalam

Dokumen terkait