• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Karakteristik Umum Informan

Sebelum membahas bagaimana bentuk subordinasi terhadap anak perempuan dalam keluargadi desa perangian Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang, terlebih dahulu akan digambarkan bagaimana karakteristik umum responden yang mana bisa pula dilihat sebagai pelengkap dari gambaran mengenai lokasi penelitian sebagai dasar dari mana dan bagaimana proses sosial yang diteliti terjadi. Gambaran awal dibutuhkan guna pemahaman dalam membahas tentang subordinasi terhadap anak perempuan dalam keluarga yang terjadi di Desa Perangian Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang dan juga membantu penggambaran masalah selanjutnya yang akan diungkapkan.

Identitas dalam penggambaran tentang karakteristik umum informan akan dilihat dari segi kelompok umur, lamanya bekerja, dan tingkat pendidikannya.

a. Kelompok Umur

Gambaran tentang kemampuan dan kedewasaan pola pikir seseorang dalam mempersiapkan suatu hal sangat dipengaruhi oleh umur, maka dari itu sangat penting untuk diketahui. Umur responden ini sangat dikaitkan dengan

68 pengalaman dan pengetahuan seseorang dalam merespon sesuatu dan membentuk

pola pikir dan pola sikapnya. Oleh karena itu, pada tabel dibawah ini akan disajikan tingkat umur responden berdasarkan kelompok umur.

Tabel 4.6 Responden Menurut Kelompok Umur di Desa Perangian

No. Umur (Tahun) Jumlah Persentase (%)

1. 10-19 3 23,1

Sumber: Temuan di Lapangan Tahun 2015 (diolah)

Tabel di atas memperlihatkan bahwa umur responden 10-19 sebanyak 2 orang dengan presentase 15,4%, umur 20-29 tahun sebanyak 3 orang dengan persentase 23,1%. Selanjutnya umur 30-39 tahun sebanyak 3 orang dengan persentase 23,1%, umur 40-49 tahun sebanyak 2 orang dengan presentase 15,4%, umur 50-59 tahun sebanyak 2 orang dengan presentase 15,4%, dan umur 60 tahun keatas sebanyak 1 orang dengan presentase 7.7%.

b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan biasanya dikaitkan dengan jenis pekerjaan yang digelutinya, pendidikan juga seangat berpengaruh terhadap cara pandang dan tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari. Seseorang yang pernah mengecap tingkat pendidikan tertentu akan sangat berbeda cara berpikirnya dengan orang

68 yang tidak pernah mengenyam pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun

non formal. Tabel dibawah ini akan diuraikan jumlah responden menurut tingkat pendidikan.

Tabel 4.7. Tingkat pendidikan responden di Desa Perangian

No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persen

Sumber : Temuan di Lapangan Tahun 2015 (diolah)

3. Dampak Subordinasi terhadap Anak Perempuan dalam Keluarga Subordinasi merupakan sikap atau tindakan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki.

Nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalm urusan publik atau produksi. Hal itu dapat terjadi karena keyakinan terhadap jenis kelamin yang dianngap lebih penting atau lebih unggul ialah laki-laki, telah dikonsepkan secara turun temurun.

Anggapan bahwa perempuan itu irasisonal atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin,berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Subordinasi terhadap

68 gender tersebut terjadi dengan segala macam bentuk yang berbeda dari tempat ke

tempat dan dari waktu ke waktu. Ketidakadilan tersebut akan menimbulkan berbagai dampak yakni dampak negatif dan positif.

a. Dampak negatif 1) Merasa dibatasi

Subordinasi yang memposisikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki membuat anak perempuan merasa terbatasi dalam keluarga. Seperti yang diungkapkan oleh anak perempuan yang mengalami subordinasi bernama Linda (18 tahun), yang menyatakan:

“saya sebagai anak perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam hal dinomorduakan dari saudara laki-laki merasa dibatasi dalam keluarga. Saya yang ingin melanjutkan pendidikan ketingkat perguruan tinggi di Makassar dilarang dan tidak diberikan izin oleh kedua orang tua, dengan alasan pendidikan bagi anak perempuan tidak terlalu penting.” (Hasil wawancara 23 juli 2015)

Dengan melihat langsung keadaan keluarga responden diatas, responden yang baru tamat sekolah tingkat SMA ini tidak melanjutkan pendidikannya ketingkat perguruan tinggi, sedangkan ada saudara laki-lakinya yang sementara dalam proses kuliah di kota Makassar. Jadi dapat disimpulkan bahwa responden mengalami keterbatasan dalam hal pendidikan karena dalam keluarganya yang lebih diutamakan pendidikannya adalah anak laki-laki.

2) Merasa dikuasai

Anak laki-laki dalam keluarga yang mendapatkan posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan anak perempuan akan menimbulkan dampak negatif terhadap anak perempuan. Laki-laki yang merasa superioritas akan merasa berkuasa dalam keluarga

68 sehingga yang akan menjadi korban adalah anak perempuan. . Seperti

yang diungkapkan oleh salah seorang responden bernama Nur Awanda (17 tahun):

“Saya sebagai anak perempuan merasa dikuasai dengan pelabelan dan berbagai macam anggapan terhadap anak perempuan. Berbeda dengan anak laki-laki yang bisa kapan saja keluar rumah tanpa ada aturan yang mengikat mereka. Anak perempuan yang katanya harus tinggal dirumah untuk memasak, mencuci, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya membuat saya merasa sangat dikuasai. Selain itu saya sebagai anak perempuan tidak pernah di anggap benar dalam mengambil keputusan. (Hasil wawancara 23 Juli 2015)

Dari hasil observasi dan wawancara kepada responden di atas dapat disimpulakan bahwa dalam lingkunagan keluarga di Desa Perangian Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang saya menemukan ketimbangan antara kekuasaan laki-laki dan perempuan. Hal ini tidak mengherankan, karena dalam berbagai masyarakat masih banyak dianut pandangan lama bahwa tempat seorang perempuan adalah di rumah. Kajian terhadap pembagian kekuasaan antara laki-laki dan perempuan telah melahirkan konsep keluarga seimbang dan keluarga tidak seimbang. Selain itu dalam keluarga juga sering kita jumpai , pendapat yang sering terbentuk adalah seorang anak perempuan yang mengemukakan pendapatnya selalu dinggap tidak terlalu penting dan tidak berpengaruh pada sebuah permasalahan. Hasil pemikiran perempuan selalu dianggap memiliki hasil yang subjektif sedangkan pemikiran anak laki-laki selalu dianggap objektif.

3) Merasa iri atau cemburu

Anak perempuan yang mengalami subordinasi dalam keluarga terkadang merasa iri atau cemburu terhadap anak laki-laki yang mendapatkan posisi yang

68 lebih istimewa. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Firdayanti (18

tahun) yang menyatakan :

“saya sebagai anak perempuan yang mengalami penomorduaan dalam keluarga merasa iri melihat saudara laki-laki karena sebagai anak perempuan tidak diberikan hak yang sama untuk berkembang. Perempuan yang selalu dianggap lemah dan tidak bisa jaga dirinya sendiri membuat kedua orang tua untuk tidak menyekolahkan saya ke kota, lain halnya dengan anak laki-laki yang memiliki fisik yang kuat untuk bisa hidup sendiri di kota tanpa penjagaan dari kedua orang tua.(Hasil wawancara 26 Juli 2015)

Senada yang diungkapakan oleh Jumriah (29 tahun), yang menyatakan :

“saya terkadang merasa iri melihat saudara laki-laki saya yang diperlakukan lebih istimewa dibandingkan dengan saya sebagai anak perempuan. Contohnya ketika ada rapat dalam keluarga, saya sebagai anak perempuan tidak bisa mengeluarkan pendapat karena pendapat laki-lakilah yang dianggap benar. .”(Hasil wawancara, 26 Juli 2015)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa perasaan iri yang dialami oleh responden diakibatkan karena dia tidak mendapatkan hak yang sama dengan saudara laki-lakinya. Wanita adalah mahluk yang berporos pada perasaan, bukan logika. Dan yang ada di dalam perasaan kaum wanita adalah bagaimana mereka mendapatkan posisi yang sama seperti kaum laiki-laki.

4) Merasa sedih

Kesedihan juga dialami oleh anak perempuan yang mengalami subordinasi dalam keluarga. Sesuai dengan hasil wawancara dengan salah seorang anak permpuan yang mengalami subordinsi dalam keluarga yang bernama Misna (21 tahun), bahwa:

“saya adalah anak terakhir dari 7 bersaudara, ke-5 kakak saya sudah berkeluarga dan sudah menempati rumah masing-masing. Saya hanya tinggal ber-3 dirumah yaitu ibu dan 1 saudara laki-laki, karena ayah sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Semenjak ayah meninggal kakak laki-laki ku lah yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Sebagai

68 anak perempuan yang dinomorduakan terkadang merasa sedih melihat

saudara laki-laki saya yang lebih diutamakan dalam keluarga. Dia lah yang seolah –olah menjadi kepala keluarga menggantikan almarhum ayah.

Sesuatu yang dikatakannya selalu dianggap rasional oleh ibu, sedangkan saya hanya bisa mendengar dan patuh kepada apa yang dikatakan oleh kakak laki-laki saya. (Hasil wawancara 21 Juli 2015)

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa ketidakadilan subordinasi yang dialami anak perempuan akan membuat perasaan sedih pada anak perempuan. Seorang anak perempuan yang mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan saudara laki-laki tidak bisa memungkiri bahwa dia merasakan kesedihan atas ketidakadilan yang dia alami dalam keluarga.

5) Terjadinya konflik

Subordinasi yang merupakan ketidadilan antara laki-laki dan perempuan dapat memicu terjadinya konflik. Perasaan menguasai dan dikuasai akan mengakibatkan penindasan terhadap pihak lain. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang ibu dari anak yang mengalami subordinasi yaitu ibu Hama (49 tahun):

“anak laki-laki dan anak perempuan yang tidak mendapatkan hak dan posisi yang sama dapat menyebabkan konflik dalam keluarga, karena perempuan yang yang merasa tidak mendapatkan hak yang sama seperti laki-laki akan menuntut kepada orang tua atau kepada saudaralaki-laki yang bisa berujung pada konflik. .”(Hasil wawancara, 27 Juli 2015)

Berdasarkan pendapat responden mengenai dampak negatif dari subordinasi terhadap anak perempuan dapat memicu terjadinya konflik dalam keluarga, karena anak perempuan yang merasa tidak mendapatkan keadilan dalam keluaraga akan menuntut kepada orang tua. Image anak perempuan lebih lemah, rapuh serta berbagai sifat-sifat feminimnya sedangkan anak laki-laki yang dipandang lebih kuat, tidak cengeng dan dengan segala atribut maskulinitasnya

68 mengakibatkan perbedaan perlakuan dan pola pendidikan yang diberikan orang

tua dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki sifat feminim dan maskulin meskipun pada masing-masing jenis kelamin ada sifat yang lebih dominan. Pembiasaan perlakuan dan pembagian peran gender dalam keluarga yang tidak seimbang, bahkan menempatkan posisi perempuan sebagai subordinat banyak menimbulkan konflik dalam keluarga yang secara tidak sadar konflik tersebut akan berkembang lebih luas ke konflik masyarakat dan bahkan konflik kemanusiaan.

b. Dampak positif

Subordinasi yang merupakan ketidakadilan terhadap anak perempuan tidak hanya berdampak negatif tapi juga bisa menimbulkan dampak positif.

1) Merasa Semangat

Ketidakadilan subordinasi yang terjadi dikalangan kaum perempuan akan memberikan semangat yang luar biasa terhadap kaum perempuan dalam perjuangan untuk mendapatkan posisi yang sama seperti kaum laki-laki.

Perempuan akan memperjuangkan bahwa perempuan juga bisa memimpin dibidang publik. Seperti yang diungkapakan oleh Misna (21 tahun):

“karena perempuan yang merasakan ketidakadilan dari kaum laki-laki, membuat perempuan bangkit dengan semangat untuk memperjuangkan hak yang sama seperti kaum laki. Kaum laki-laki yang di tempatkan lebih unggul di berbagai bidang dalam masyarakat maupun dalam keluarga, membuat kaum perempuan menuai protes untuk mendapatkan kesetaraan yang sama dalam bidang apapun”. (Hasil wawancara 21 Juli 2015).

Senada yang diungkapakn oleh hertati (32 Tahun):

68

“kita sebagai perempuan harus memperjuangkan hak dan posisi yang sama seperti laki-laki. Perempuan juga bisa tampil untuk memimpin di berbagai bidang apapun dengan di tunjang oleh pendidikan yang kita miliki. (wawancara 24 Juli 2015)

Berdasarkan hasil wawancara dari ke dua responden diatas mengenai dampak positif dari ketidakadilan yang dialami oleh anak perempuan dapat disimpulkan bahwa para perempuan yang mengalami subordinasi memiliki semangat untuk memperjuangkan hak yang sama seperti kaum laki-laki. Saat ini, jenis gerakan perempuan semakin berkembang dan semakin terbuka wawasannya dalam melakukan pembelaan terhadap perempuan. Perempuan terus meningkatkan diri terlibat dalam menyusun kebijakan dan meningkatkan kualitas perempuan. Ketertinggalan perempuan sebagai akibat dari relasi hubungan sosial dan politik yang tidak adil, disadari bahwa terdapat fenomena ketidakadilan dan diskriminasi gender. Ketidakadilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi tidak adil yang dialami oleh perempuan akibat dari sistem dan struktur sosial yang telah berakar dalam sejarah, adat maupun norma. Perempuan saat ini juga berupaya, untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan dan keamanan nasional dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

4. Faktor Penyebab Subordinasi terhadap Anak Perempuan