• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK USAHA RESPONDEN, DAN INTERVENSI PIHAK LUAR

Karakteristik Individu

Kualitas dan kuantitas yang dihasilkan dalam usaha produksi garam salah satunya dipengaruhi oleh karakteristik individu petani garam. Karakteristik individu merupakan ciri-ciri yang melekat pada individu petani garam. Petani garam sebagai pelaku produksi memiliki nilai rata-rata untuk karakteristik individu seperti usia kerja, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, pengalaman kerja dan tingkat pendapatan.

Usia Responden

Hasil penelitian terhadap 40 reponden petani garam di desa Tasikharjo menunjukkan responden yang tergolong dalam usia muda ada sebanyak 18 orang (45 persen) dan golongan usia tua sebanyak 22 orang (55 persen). Distribusi responden berdasarkan usia dijelaskan pada Tabel 13.

Tabel 13 Jumlah dan persentase usia responden di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Usia Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Muda 18 45

Tua 22 55

Total 40 100

Usia muda berada pada usia kurang dari 42 tahun, dan usia tua berada pada usia 42 tahun lebih. BPS (2012) mendeskripsikan penduduk usia kerja adalah penduduk usia 15 tahun hingga 64 tahun yang bekerja atau sementara sedang tidak bekerja, dan yang sedang mencari pekerjaan. Usia responden termuda adalah 25 tahun dan usia tertua responden adalah 58 tahun. Berdasarkan definisi usia kerja dapat dinyatakan bahwa 100 persen responden merupakan penduduk usia kerja.

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan diukur berdasarkan pendidikan formal terakhir yang pernah diperoleh dan diselesaikan oleh responden. Tingkat pendidikan dikategorikan dalam kategori rendah dan tinggi. Responden yang berpendidikan sekolah dasar atau tidak sekolah dikategorikan tingkat pendidikan rendah, dengan jumlah 45 persen. Sebanyak 55 persen responden tergolong dalam kategori pendidikan tinggi, dikarenakan berpendidikan tamat SMP hingga lebih .

Tabel 14 Jumlah dan persentase tingkat pendidikan responden di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 18 45

Tinggi 22 55

Total 40 100

Responden menyampaikan, usaha penggaraman tidak pernah diajarkan dalam pendidikan formal, sehingga rendah tingginya pendidikan formal tidak memberikan pengaruh besar terhadap usaha penggaraman. Pendidikan formal memberi ilmu pengetahuan secara umum tidak spesifik mengenai ilmu penggaraman, sehingga banyak petani garam yang meremehkan pentingnya pendidikan formal.

Kondisi di lapangan penelitian menunjukkan pentingnya pendidikan formal sudah mulai disadari oleh warga desa Tasikharjo. Mayoritas seluruh anak petani garam memiliki pendidikan formal, namun semakin tinggi pendidikan formal yang diperoleh semakin minim keturunan petani garam yang mau untuk meneruskan usaha penggaraman. Sebanyak 40 orang responden penelitian hanya 6 orang rsponden yang memiliki pendidikan tamat SMA atau lebih. Saat ini, petani garam pada umumnya hanya lulusan SD dan SMP.

Pengalaman Kerja

Pengalaman kerja adalah lama responden menjadi petani garam yang dihitung dalam satuan waktu (tahun), sejak pertama kali menjadi petani garam sampai dengan penelitian dilakukan. Pengalaman responden sebagai petani garam dilokasi penelitian cukup bervariasi, ada yang baru memulai selama 5 tahun, namun ada juga yang sudah memiliki pengalaman selama 40 tahun dengan rataan pengalaman 19.3 tahun. Pengalaman kerja responden dibawah angka rataan dikategorikan rendah dan responden yang memiliki pengalaman kerja diatas rataan dikategorikan tinggi. Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengalaman kerja sebagai petani garam dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Jumlah dan persentase pengalaman kerja responden di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Pengalaman kerja Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 21 52.5

Tinggi 19 47.5

Total 40 100

Hasil penelitian menunjukkan 52.5 persen tergolong kategori rendah dan sebanyak 47.5% dikategorikan tinggi. Semakin lama pengalaman kerja petani garam maka semakin tinggi pengatahuan usaha penggaraman yang dimiliki. Semakin tinggi pengalaman kerja petani garam maka semakin sulit menerima adanya inovasi baru. Petani garam yang memiliki pengalaman tinggi memiliki kepuasan individu terhadap hasil produksinya.

Tingkat Pendapatan

Tingkat pendapatan adalah jumlah penghasilan secara keseluruhan yang didapatkan petani garam yang diperoleh dari produksi garam selama satu bulan. Rataan tingkat pendapatan responden dari hasil penelitian adalah Rp1 240 000 Hasil penelitian menunjukkan 4 orang responden (10%) tergolong dalam tingkat pendapatan rendah yaitu dibawah dari rataan tingkat pendapatan. Sebanyak 36 orang responden (90%) tergolong dalam tingkat pendapatan tinggi yaitu diatas rataan tingkat pendapatan.

Tabel 16 Jumlah dan persentase pendapatan responden di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Tingkat Pendapatan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 28 70

Tinggi 12 30

Total 40 100

Tingkat pendapatan bergantung pada musim produksi, ketika musim produksi memiliki panas panjang maka tingkat pendapatan tinggi. Selain itu tingkat pendapatan dipengaruhi oleh hasil produksi dan harga pasar. Kualitas dan kuantitas hasil produksi sangat memengaruhi harga pasar setiap musim.

Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan responden dilokasi penelitian mencapai 95 persen responden atau sebanyak 38 orang dikategorikan dalam tingkat pengetahuan rendah, dan hanya 2 orang responden (5%) tergolong dalam kategori tingkat pengetahuan tinggi.

Tabel 17 Jumlah dan persentase tingkat pengetahuan responden di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Tingkat Pengetahuan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 38 95

Tinggi 2 5

Total 40 100

Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan di lokasi masih tergolong sangat rendah. Mayoritas petani garam dan pemangku kepentingan yang terlibat kurang mengetahui tentang syarat mutu garam yang ideal. Mayoritas petani garam baik yang memiliki tingkat pendidikan tinggi maupun rendah tidak mengetahui adanya syarat mutu yang telah ditetapkan oleh BSN. Hal tersebut diperkirakan karena tidak adanya pendidikan khusus tentang penggaraman. Rendahnya pengetahuan yang dimiliki petani garam menyebabkan rendahnya orientasi mutu yang terdapat dalam usaha penggaraman.

Karakteristik Usaha

Usaha produksi garam di Indonesia masih menggunakan sistem produksi yang tradisonal. Petani garam di Desa tasikharjo masih sangat tergantung pada kondisi air laut dan panas matahari. Petani garam memiliki hasil produksi yang beragam tiap produksinya. Hasil produksi usaha garam dipengaruhi oleh karakteristik usaha, yang meliputi teknologi, biaya produksi, luas lahan, dan kuantitas.

Teknologi

Produksi penggaraman di Desa Tasikharjo masih tergolong tradisional, berupa penguapan langsung menggunakan sinar matahari. Teknologi penggaraman yang digunakan juga masih sederhana, seperti kincir angin, selender, eboran, keranjang, pompa air, ember, gayung, dan garuk. Jumlah dan persentase responden berdasarkan teknologi dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18 Jumlah dan persentase responden berdasarkan teknologi di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Teknologi Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 33 82.5

Tinggi 7 17.5

Total 40 100

Hasil penelitian menunjukkan rendahnya kelengkapan teknologi yang digunakan dalam usaha penggaraman di Desa Tasikharjo. Sebesar 82.5 persen respon tidak menggunakan teknologi yang lengkap dalam usaha penggaraman, hanya 17.5 persen responden yang menggunakan teknologi lengkap. Sewa lahan atau teknologi banyak dilakukan petani garam di Desa Tasikharjo sehingga tidak menimbulkan keinginan untuk memperbaiki teknologi yang digunkan. Selain itu, terbatasnya alat yang digunakan juga disebabkan oleh rendahnya pengetahuan petani garam.

Biaya Produksi

Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan produksi untuk sekali panen. Biaya produksi meliputi biaya pengolahan hingga pasca panen memasukkan stok garam ke gudang dengan bantuan kuli. Sekali produksi membutuhkan waktu sekitar satu minggu dan membutuhkan tiga kuli angkut ketika pasca panen.

Tabel 19 Jumlah dan persentase responden berdasarkan biaya produki di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Biaya Produksi Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 22 55

Tinggi 18 45

Total 40 100

Hasil penelitian menunjukkan dari 40 responden memiliki keragaman biaya produksi yang beragam sehingga menghasilkan rataan Rp181 000. Sebanyak 75 persen responden memiliki biaya produksi dibawah rataan yaitu kurang dari Rp181 000, dan sebanyak 25 persen responden memiliki biaya produksi yang tinggi. Besar biaya produksi berkaitan dengan luas lahan yang dikelola. Semakin besar luas lahan yang dikelola maka semakin besar biaya produksi yang dikeluarkan.

Luas Lahan

Mayoritas petani garam di Desa Tasikharjo memiliki lahan yang kecil, beberapa orang yang memiliki lahan besar merupakan lahan tambak milik keluarga bukan pribadi. Rataan luas lahan dari 40 responden adalah 1.325 Ha yang dipperoleh dari jumlah total luas lahan dari seluruh responden dan dibagi jumlah responden. Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 32 orang memiliki lahan kurang dari 1.325 Ha dan sebanyak 8 orang memiliki lahan lebih dari 1.325 Ha. Tabel 20 Jumlah dan persentase responden berdasarkan luas lahan di Desa

Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Luas Lahan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 32 80

Tinggi 8 20

Total 40 100

Mayoritas petani garam di Desa Tasikharjo memiliki luas lahan sekitar 0.5– 1 Ha. Sebagian petani garam mampu mengelola lahan dengan optimal sehingga menghasilkan kuantitas yang tinggi. Lahan seluas 1 Ha pada umumnya dikelola oleh 5-6 orang petani.

Kuantitas

Kuantitas merupakan hasil produksi dalam sekali produksi dalam satuan ton. Pada umumnya 1 Ha lahan menghasilkan 1 ton garam dalam sekali produksi. Kuantitas dikategorikan dalam tinggi dan rendah. Berdasarkan kuantitas dari 40 responden diperoleh rataan kuantitas sebesar 3.6 ton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuantitas yang dihasilkan di Desa Tasikharjo masih rendah karena mencapai 67.5 persen responden memiliki kuantitas dibawah rataan dan 32.5 persen responden memiliki kuantitas lebih diatas rataan.

Tabel 21 Jumlah dan persentase responden berdasarkan kuantitas di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Kuantitas Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 27 67,5

Tinggi 13 32,5

Total 40 100

Intervensi Pihak Luar Penyuluhan

Penyuluhan bertujuan menambah dan meningkatkan pengetahuan sesuai dengan pengetahuan terbaru. Sumber penyuluhan berasal dari pemerintah ataupun swasta yang memiliki kepentingan terhadap perkembangan hasil produksi. Berdasarkan hasil penelitian terhdapa 40 orang reponden, sebanyak 27 orang responden pernah mendapatkan penyuluhan selama menjadi petani garam, dan sebanyak 13 orang responden tidak pernah mendapatkan penyuluhan.

Tabel 22 Jumlah dan persentase responden berdasarkan penyuluhan di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Penyuluhan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 13 32,5

Tinggi 27 67,5

Total 40 100

Bantuan Modal

Bantuan modal adalah bantuan yang diberikan oleh pihak luar dalam upaya mendukung usaha pengaraman. Bantuan langsung masyarakat (BLM) dalam program PUGAR merupakan salah satu bentuk bantuan modal yang memiliki tujuan mengembangkan usaha penggaraman. Berdasarkan data DKP Kabupaten Rembang tahun 2012 sebanyak 278 orang petani garam dalam 28 kelompok petani garam di Desa Tasikharjo menerima BLM PUGAR.

Tabel 23 Jumlah dan persentase responden berdasarkan bantuan modal di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Bantuan modal Jumlah (jiwa) Persentase (%)

Rendah 25 62.5

Tinggi 15 37.5

Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa sebanyak 62.5 persen responden tidak mendapatkan bantuan. Sebanyak 37.5 persen responden mendapatkan bantuan. Bantuan modal masih tergolong rendah di kalangan petani garam Desa Tasikharjo, hal tersebut disebabkan tidak meratanya bantuan modal yang diberikan. Beberapa petani garam tidak mengetahui adanya program bantuan modal yang diberikan pemerintah.

BLM PUGAR Kabupaten Rembang dibagikan kepada kelompok-kelompok petani garam. Waktu pencairan dana dilakukan dalam tiga tahap, tahap pertama terdapat 121 KUGAR, tahap dua terdapat 111 KUGAR, serta tahap tiga terdapat 126 KUGAR. BLM PUGAR dibagikan pada bulan Juli 2012, Desa Tasikharjo masuk dalam tahap tiga. Dana BLM PUGAR bertujuan untuk dimanfaatkan dalam melengkapi sarana prasarana proses produksi garam. Kendala pelaksanaan PUGAR 2012 diantaranya:

• Masih banyaknya petani garam dari luar desa yang belum bisa membentuk kelompok karena Kepala Desa masih mengutamakan warganya. Sehingga untuk memperoleh bantuan PUGAR juga kesulitan.

• Adanya kelompok aspirasi yang terlambat mengirimkan data kelompok ke Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang sehingga mengganggu pelaksanaan identifikasi, seleksi dan verifikasi kelompok yang akhirnya menyebabkan terlambatnya dalam penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) pada sasaran.

• Masih banyak kelompok yang lahannya tidak dalam satu hamparan tetapi dibentuk berdasarkan tempat tinggal

PERILAKU EKONOMI PETANI GARAM DALAM