• Tidak ada hasil yang ditemukan

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Karakteristik Usaha Warung tenda .1 Modal Usaha

Modal merupakan uang dan harta benda yang dipakai untuk menghasilkan sesuatu dan menambah kekayaan. Modal dapat bersumber dari modal sendiri maupun dari pinjaman orang lain atau pinjaman lembaga keuangan (Effendi dan Oktariza, 2006). Berdasarkan hasil wawancara bahwa semua responden pedagang warung tenda mendirikan usaha dengan modal bersumber dari modal mandiri maupun pinjaman dari keluarga dekat. Modal mandiri berasal dari tabungan hasil pekerjaan sebelumnya. Modal dari keluarga dekat mudah didapatkan karena tingkat kekeluargaan dan kepercayaan yang tinggi. Modal responden pedagang tidak ada yang berasal dari pinjaman lembaga keuangan karena para pedagang tidak berani dengan resiko, birokrasi yang sulit dan responden sebagian besar tidak memilki agunan atas uang yang dipinjam. Hasil pengolahan data sebaran pedagang berdasarkan rata-rata modal ditunjukkan pada tabel 17.

Tabel 17. Modal Usaha Warung Tenda Pecel Lele di kota Palembang Tahun berdiri usaha warung

tenda Jumlah Pedagang (orang) Rata-rata modal (Rupiah)

2006 sampai 2008 12 13.250.000

1994 sampai 2006 16 6.633.333

1989 sampai 1994 4 3.750.000

Jumlah 32 23.633.333

Sumber : Diolah dari data primer (2008)

Modal usaha yang dikeluarkan responden pedagang warung tenda berdasarkan Tabel 17 berbeda-beda menurut tahun berdirinya usaha. Perbedaan modal usaha yang dikeluarkan pedagang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tahun berdirinya usaha. Hal ini dikarenakan biaya awal yang harus dikeluarkan pedagang meningkat antara lain biaya untuk bahan baku, peralatan, dan sewa tempat. Usaha warung tenda berdasarkan Tabel 17 sebagian besar dimulai pada tahun 1994 kemudian semakin berkembang pesat pada tahun 2006 sampai tahun 2008.

5.4.2 Pengalaman Usaha Warung Tenda

Lama berdiri usaha warung tenda pecel lele menandakan usaha tersebut tetap bertahan dan menguntungkan. Lama berdiri usaha 32 responden pedagang warung tenda pecel lele dikelompokkan menjadi tiga yaitu usaha yang didirikan kurang dari 3 tahun, 3 sampai 12 tahun, dan usaha yang didirikan lebih dari 12 tahun. Hasil pengolahan data usaha warung tenda pecel lele berdasarkan lama berdiri usaha ditunjukkan pada Tabel 18.

Tabel 18. Pengalaman Usaha Warung Tenda Pecel Lele di kota Palembang Usaha Warung Tenda (Tahun) Jumlah Pedagang (orang) Persentase (%)

< 3 12 37,5

3 – 12 16 50,0

> 12 4 12,5

Jumlah 32 100,0

Sumber : Diolah dari data primer (2008)

Pengalaman usaha berdasarkan Tabel 18 menunjukkan bahwa 16 responden pedagang warung tenda pecel lele telah mendirikan usahanya dalam kisaran 3 – 12 tahun. Hal ini menunjukkan usaha warung tenda pecel lele di Palembang mulai berkembang dari tahun 1996. Usaha ini terus dikembangkan oleh pedagang warung tenda sehingga tahun 2005 semakin banyak berdiri usaha warung tenda baru.

5.4.3 Waktu Usaha

Usaha warung tenda pecel lele di Palembang rata-rata dibuka dari pukul 17.00 sampai pukul 24.00. Berdasarkan wawancara kepada 32 responden

pedagang bahwa para pedagang belum ada yang berniat menambah jam usahanya. Hal ini menandakan pola berjualan yang sudah tetap dan jika menambah waktu usaha akan menambah tenaga kerja sehingga akan menambah biaya produksi.

5.4.4 Tenaga Kerja

Jumlah tenaga kerja warung tenda pecel lele di Palembang dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kurang dari 3 orang, 3 sampai 5 orang, dan lebih dari 5 orang. Hasil pengolahan data usaha warung tenda pecel lele berdasarkan jumlah tenaga kerja ditunjukkan pada Tabel 19.

Tabel 19. Jumlah Tenaga Kerja Warung Tenda Pecel Lele di Kota Palembang

Jumlah Tenaga Kerja (orang) Jumlah Pedagang (orang) Persentase (%)

< 3 7 21,9

3 – 5 15 46,9

> 5 10 31,3

Jumlah 32 100,0

Sumber : Diolah dari data primer (2008)

Jumlah tenaga kerja berdasarkan Tabel 19 menunjukkan 15 responden pedagang memiliki 3 – 5 tenaga kerja.Tenaga kerja usaha warung tenda pecel lele berasal dari keluarga dan non keluarga pedagang. 10 responden pedagang

melibatkan keluarga sebagai tenaga kerja dan 22 responden tidak melibatkan keluarga sebagai tenaga kerja. Keluarga yang dilibatkan menjadi tenaga kerja terdiri dari istri, anak, adik, kerabat dekat seperti sepupu dan keponakan .

5.4.5 Upah Tenaga Kerja

Upah tenaga kerja yang berasal dari keluarga inti (istri dan anak) tidak diperhitungkan secara khusus karena sudah dimasukkan dalam pengeluaran pribadi pedagang selaku kepala keluarga. Upah yang diberikan kepada tenaga kerja yang masih kerabat dan non kerabat berkisar antara Rp 600.000/bulan sampai Rp 850.000/bulan. Hasil pengolahan data usaha warung tenda pecel lele berdasarkan upah tenaga kerja ditunjukkan pada Tabel 20.

Tabel 20. Upah Tenaga Kerja Warung Tenda Pecel Lele di kota Palembang Upah Tenaga Kerja (Rp/bulan) Jumlah Pedagang (orang) Persentase (%)

< 638.500 10 31,3

638.500 – 714.700 11 34,4

> 714.700 11 34,4

Jumlah 32 100,0

Sumber : Diolah dari data primer (2008)

Sebaran pedagang berdasarkan pemberian upah tenaga kerja per bulan dibagi menjadi tiga kelompok. Upah tenaga kerja pada Tabel 20 menunjukkan 11 responden pedagang memberikan upah berkisar Rp 638.500,00/bulan – Rp 714.700,00/bulan dan 11 responden pedagang memberikan upah lebih dari Rp 714.700,00/bulan. Standar pemberian upah yang berbeda pada tenaga kerja disebabkan karena masih ada hubungan keluarga antara tenaga kerja dengan

pedagang. Selain itu ada spesifikasi pekerjaan yang dilakukan oleh para tenaga kerja. Spesifikasi tersebut antara lain sebagai juru masak, juru bersih dan penyaji. Spesifikasi ini dilakukan pada usaha warung tenda yang permintaan pecel lele rata-rata diatas 10 kg per hari.

5.4.6 Permintaan Pecel Lele

Total permintaan lele oleh 32 responden pedagang yaitu 8.700 kg per bulan. Rata-rata permintaan lele sebagai bahan baku oleh masing-masing responden pedagang yaitu 272 kg per bulan. Rata-rata 1 kg terdiri dari 7 ekor ikan Harga beli rata-rata lele yaitu Rp 15.000,00 per kg pada periode April 2008. Satu porsi pecel lele yang disajikan yaitu 1 ekor Ikan Lele. Rata-rata penjualan pecel lele oleh pedagang yaitu 1.903 porsi per bulan dengan harga jual rata-rata Rp 9.000,00 per porsi.

Hasil pengolahan data usaha warung tenda pecel lele berdasarkan

permintaan pecel lele ditunjukkan pada Tabel 21. Permintaan pecel lele pada tabel tersebut menunjukkan bahwa 14 responden pedagang memiliki permintaan pecel lele dengan kisaran 1270 – 2536 porsi/bulan.

Tabel 21. Permintaan Pecel Lele Warung Tenda Pecel Lele di kota Palembang

Permintaan pecel lele (porsi/bulan) Jumlah Pedagang (orang) Persentase (%)

< 1.270 13 40,6

1.270-2.536 14 43,8

> 2.536 5 15,6

Jumlah 32 100,0

Sumber : Diolah dari data primer (2008)

Dokumen terkait