• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Usahatani Serta Dampak Anomali Iklim Terhadap

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Karakteristik Usahatani Serta Dampak Anomali Iklim Terhadap

Karakteristik Usaha Tani

Usaha Tani padi merupakan sistim usahatani yang paling dominan di Kabupaten Indramayu. Lebih dari 50% wilayahnya (118,513 ha dari 200,014 ha) merupakan lawan persawahan. Letak wilayah persawahan menyebar dari utara- selatan. Di bagian Utara luas lahan persawahan sekitar 19%, wilayah tengah 59% dan Selatan 22%. Lahan pertanian di Indramayu mengandalkan dua sumber pengairan utama, yaitu air irigasi dan air hujan. Sekitar 87% dari lahan persawahan merupakan lahan beririgasi yang hampir semuanya terletak di wilayah bagian utara dan tengah. Untuk wilayah selatan sebagian besar merupakan wilayah tadah hujan. Pola tanam antara wilayah utara, tengah dan selatan relatif berbeda. Pada wilayah utara pola tanam adalah (i) padi-padi-bera, (ii) padi- palawija/sayuran-bera dan (iii) sayuran-padi-bera. Pola tanam ke tiga didahului oleh sayuran dimana penanaman dilakukan awal musim hujan yaitu sebelum hujan tinggi. Setelah masuk musim hujan baru dilakukan penanaman padi. Pada wilayah tengah bentuk pola tanam umum (i) padi-padi-padi, (ii) padi-padi- palawija/sayuran, (iii) padi-sayuran-padi dan (iv) padi-padi-bera. Untuk wilayah selatan, pola tanam umum ialah (i) padi gogo-palawija/sayuran-bera, ii) padi-padi- bera, (iii) padi-palawija/sayuran-bera dan (iv) padi gogo/sayuran-padi-bera.

I II III IV V 7 8 9 1 2 3 4 5 6 Penggo- longan air

Musim Hujan Musim Kemarau 1 (MK1) MK2

Bulan Bulan Bulan

10 11 12

Berdasarkan penggolongan air, wilayah bagian utara termasuk wilayah golongan air III, IV dan V, sedangkan untuk wilayah tengah golongan I dan II. Pada wilayah golongan air I dan II penanaman padi memungkinkan sampai 3 kali dalam setahun (Gambar 8).

Catatan: merupakan tanggal penanaman padi pertama (MH) dan kedua (MK) paling terakhir. = Padi I, = Padi II, dan = tanaman III.

Gambar 8. Sistem penggolongan air dan pola tanam di Indramayu (Sumber: Boer et al. 2002c)

Pada tahun ekstrim kering jadwal penggolongan bisa bergeser sehingga mempengaruhi penggolongan lainnya. Petani yang ada di wilayah utara relatif responsif dan umumnya mengikuti jadwal penanaman rekomendasi yang disampaikan oleh penyuluh, sedangkan di wilayah tengah kurang disiplin karena lahannya berada dekat saluran utama dan secara umum jarang mengalami kekurangan air. Rata-rata hasil padi pada wilayah Utara, Tengah dan Selatan masing-masing sekitar 5.3, 6.0 dan 5.6 t/ha (Boer et al. 2011).

Berdasarkan letaknya menurut ketinggian atau posisinya di DAS, Kabupaten Indramayu dapat dikelompokkan menjadi kecamatan yang berada di bagian atas dan di bagian bawah. Permasalahan yang dihadapi oleh petani di kedua wilayah ini terkait dengan permasalahan sarana irigasi relatif sama, yaitu permasalahan infrastruktur irigasi yang banyak terdapat kerusakan, pendangkalan saluran karena erosi dan terdapatnya sejumlah pintu air yang rusak. Perbedaannya adalah letak kedua kawasan dimana kawasan pertama terletak lebih dekat ke hulu DAS dibanding kawasan kedua sehingga air mengalir terlebih dahulu melalui kawasan pertama sebelum mencapai kawasan kedua. Kondisi ini memberikan pengaruh utamanya dalam jumlah debit air, ketika musim penghujan dimana debit air melimpah maka kawasan pertama dapat menampung air menurut kebutuhan mereka dan membiarkan sisa aliran air mengalir mengikuti DAS, sedangkan

kawasan kedua karena letaknya yang berada di hilir sungai menyebabkan daerah mereka menjadi lokasi genangan air yang mengakibatkan banjir. Sementara, pada musim kemarau, aliran air yang melewati kawasan pertama belum banyak melalui daerah dangkalan, penyempitan dan pintu air yang rusak sehingga ketersediaan air masih mencukupi untuk kebutuhan pengairan lahan pertanian. Berbeda dengan kawasan kedua yang karena letaknya lebih dekat ke hilir menyebabkan tidak banyak air tersisa yang mengalir ke daerah mereka sehingga mengakibatkan kondisi kekeringan. Secara garis besar, keseluruhan karakteristik alam lingkungan, infrastruktur irigasi dan interaksi keduanya menyebabkan kawasan pertama menjadi kawasan yang relatif aman dari banjir dan kekeringan. Sebaliknya, kawasan kedua, sangat rentan terhadap banjir dan kekeringan. Kondisi ini menyebabkan banyaknya lahan persawahan yang rusak di kedua wilayah pun berbeda (Boer et al. 2011b).

Khusus untuk lahan tadah hujan, faktor sosial ekonomi yang paling menentukan adalah tekanan jumlah penduduk yang berpengaruh terhadap luas garapan dan tingkat pendapatan petani atau akses ke pasar (Pane et al. 2008). Berdasarkan hubungan kedua faktor tersebut Piggin et al (1998) diacu dalam Pane et al. (2008) membuat klasifikasi tipologi sistim produksi pertanian pada lahan sawah tadah hujan (Gambar 9). Diantara keempat tipe sistem produksi pertanian, Tipe I dan Tipe II perlu kehati-hatian atau analisis yang mendalam dalam menentukan prioritas penelitian dan anjuran teknologi.

TIPE II

Pemilikan lahan sempit orientasi pertanian subsistem, intensif tenaga

kerja

TIPE III

Pemilikan lahan sempit diversifikasi usaha tani, komersial dan mekanisasi

TIPE I

Pemilikan lahan luas, orientasi pertanian subsisten

TIPE IV

Pemilikan lahan luas, spesialisasi tanaman palawija, komersial,

mekanisasi

Rendah Tinggi

Tingkat pendapatan atau akses ke pasar

Gambar 9. Tipologi sistim produksi pertanian pada lahan sawah tadah hujan (modifikasi dari Piggin et al. 1998 diacu dalam Pane et al. 2008).

T in g g i R en d ah T ekanan jum lah pend ud uk

Pola hujan bulanan di Kabupaten Indramayu adalah monsunal yaitu mengalami satu kali musim kemarau (April-September) dan satu kali musim hujan (Oktober-Maret). Berdasarkan pola hujan bulanan tersebut maka waktu tanam padi di Indramayu adalah sama dengan waktu terjadinya musim hujan, sedangkan waktu tanam palawija terjadi pada akhir musim hujan hingga awal musim kemarau (Gambar 10).

Gambar 10. Kombinasi curah hujan bulanan dengan pola tanam padi dan palawija pada lahan irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan di Kabupaten Indramayu (Boer et al. 2011c).

Menurut Hidayati et al. (2010), musim hujan di Kabupaten Indramayu umumnya dimulai pada akhir bulan November dan berakhir pada akhir Maret. Pada tahun El Nino, awal musim hujan dapat mundur sampai awal Januari sedangkan pada tahun La-Nina awal musim hujan umumnya terjadi lebih awal (bisa terjadi pada pertengahan Oktober). Lama musim hujan pada umumnya berkisar antara 4 sampai 5 bulan.

Pengaruh Anomali Iklim Terhadap Usahatani Padi di Kabupaten Indramayu

Berdasarkan data produksi padi seluruh Indonesia (Departemen Pertanian, 2010), Propinsi Jawa Barat menyumbang 17.6% dari seluruh produksi padi nasional. Persentase sebesar 17.6% tersebut, 11.7% nya diantaranya berasal dari Kabupaten Indramayu. Jadi Kabupaten Indramayu berkontribusi paling besar terhadap produksi padi di seluruh Propinsi Jawa Barat. Hal ini juga disampaikan oleh Boer et al. (2011b) bahwa pada tahun 2010 lalu, tercatat produksi padi

Indramayu mencapai 1,321,315.07 ton dengan produktivitasnya mencapai 6.450 ton/ha. Komoditi beras di Kabupaten Indramayu memiliki stok cukup potensial, bahkan selama ini menjadi sentra pangan terbesar di Jawa Barat sekaligus penopang pangan DKI Jakarta. Namun di sisi lain, Kabupaten Indramayu sangat rentan terhadap kejadian iklim ekstrim, terutama kekeringan. Kekeringan menjadi penyebab utama gagal panen (Boer et al. 2011a).

Di Kabupaten Indramayu, apabila waktu sudah memasuki bulan-bulan musim hujan dan kemudian terjadi hujan 1-2 hari berturut-turut biasanya petani sudah menganggap musim hujan sudah mulai dan kegiatan penanaman mulai dilakukan. Namun, pada kondisi tertentu, hujan yang terjadi tersebut seakan-akan bersifat tipuan (false rain), karena kemudian ternyata diikuti oleh hari-hari tanpa hujan yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang yaitu lebih dari dua dasarian dan diluar batas toleransi tanaman, atau yang disebut dengan long dry spell. Akibat dari kondisi ini, petani yang sudah terlanjur tanam seringkali akan terkena kekeringan. Bibit disiapkan terlalu cepat akibat adanya hujan tipuan yang sebenarnya belum merupakan indikasi masuknya awal musim hujan. Pada waktu musim hujan sudah masuk, bibit sudah terlalu tua sehingga tidak bisa digunakan lagi.

Kejadian kekeringan umumnya terjadi awal bulan Juni setelah penanaman padi MT2. Kondisi ini biasanya terjadi pada saat fenomena El-Nino dan kekeringan yang terjadi sebagai akibat curah hujan bersifat di bawah normal (BN), sehingga ketersediaan air tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman selanjutnya. Kejadian kekeringan semacam ini tidak hanya terjadi di sawah tadah hujan tetapi juga di sawah beririgasi, khususnya yang berada di wilayah irigasi bagian ujung (Golongan III dan IV). Sebagai contoh MT 1997/1998 dan 2002/2003. Penurunan hujan bulan Juni-September jauh di bawah normal akibat dari berlangsungnya fenomena El-Nino telah menimbulkan luas tanaman padi terkena kekeringan yang sangat tinggi (Gambar 11).

Kajian yang dilakukan di Indramayu (Boer 2003a) menunjukkan bahwa El-Nino berpengaruh besar terhadap produksi padi karena beberapa hal. Pertama, El-Nino berpengaruh terhadap masuknya awal musim hujan sehingga penanaman padi pada musim hujan yang biasanya dilakukan bulan November menjadi

mundur sampai Januari atau Februari. Akibatnya tanaman padi kedua juga mengalami keterlambatan sehingga risiko terkena kekeringan menjadi tinggi karena hujan pada akhir pertumbuhan tanaman sudah mengalami penurunan yang besar (sudah masuk musim kemarau). Kedua, El-Nino menyebabkan hujan pada musim kemarau turun jauh dari normal sehingga air yang tersedia tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Ketiga, El-Nino menyebabkan awal musim kemarau terjadi lebih awal dari biasanya sehingga tanaman padi kedua mengalami cekaman kekeringan.

Gambar 11. Hubungan antara kejadian hujan bawah normal (BN) pada musim tanam gadu dengan kejadian kekeringan Tahun 1997 dan 2003 di Indramayu (Boer et al. 2008a)

Mundurnya awal musim hujan akibat berlangsungnya fenomena El Nino, menyebabkan awal musim penanaman padi pertama mundur dari biasanya. Akibatnya musim penanaman padi kedua juga akan mundur, masuk ke musim kemarau (Gambar 12). Berdasarkan data historis, mundurnya awal musim hujan akibat berlangsungnya fenomena El-Nino menyebabkan kumulatif luas tanam selama musim hujan (MH) menurun. Penurunan ini biasanya dikompensasi dengan meningkatkan luas tanam pada musim kemarau (MK) yang berisiko tinggi untuk terkena kekeringan. Kondisi sebaliknya pada fenomena La-Nina (Boer 2010b). 1996 1997 2002 2003 0 100 200 300 400 500 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 C u ra h H u ja n ( m m ) 0 100 200 300 400 500 C u ra h H u ja n (m m ) 1996/97 Normal 0 100 200 300 400 500 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 C u ra h H u ja n ( m m ) 0 100 200 300 400 500 C u ra h H u ja n (m m ) 2002/03 Normal Terkena Kekeringan: 47,995 ha Terkena Kekeringan: 7,896 ha

Gambar 12. Pola tanam padi petani dan risiko terkena kekeringan (Sumber : Boer 2010b)