Pendahuluan
Lamun merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae), hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang (rizoma), berakar, serta berkembangbiak dengan biji dan tunas. Pola hidup lamun umumnya berupa hamparan yang disebut padang lamun atau ekosistem lamun (seagrass bed). Padang lamun yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang (Duarte 2002; Short et al. 2006).
Lamun bereproduksi secara seksual ataupun aseksual. Lamun merupakan tumbuhan berumah dua. Reproduksi seksual, lamun menghasilkan bunga dan menyebarkan polen dari bunga jantan ke bunga betina. Lamun menghasilkan biji yang akan tetap dorman untuk beberapa bulan, jika menemukan kondisi habitat yang sesuai biji tadi akan tumbuh menjadi tanaman baru. Lamun juga dapat bereproduksi secara aseksual (vegetatif). Perkembangbiakkan secara vegetatif dilakukan dengan cara pemanjangan dan percabangan dari rhizome yang dengan cara ini lamun dapat pulih setelah terpaan badai ataupun hilang dimakan oleh herbivora (Coles et al. 2004).
Indonesia memiliki 12 jenis lamun, salah satu yang berukuran besar dan tersebar di seluruh perairan Indonesia yaitu E. acoroides dan T. hemprichii. Ciri- ciri E. acoroides berdasarkan Kuo dan den Hartog (2001) adalah lamun yang memiliki rhizome berdiameter cukup besar yang tertutup rapat dengan rambut- rambut yang kaku dan keras. Akar berbentuk seperti tali, berjumlah banyak dan tidak bercabang. Bentuk daun seperti pita tepinya rata dan ujungnya tumpul dengan panjang bisa mencapai lebih dari satu meter (Gambar 17a). E. acoroides tumbuh pada dasar lumpur, pasir berlumpur, pasir dan pasir pecahan karang. E. acoroides cenderung membentuk vegetasi murni, namun sering juga terdapat jenis lain yang berasosiasi seperti lamun jenis H. ovalis, C. serrulata, C. rotundata, T. hemprichii, H. uninervis dan S. isoetifolium.
T. hemprichii merupakan salah satu jenis lamun yang tersebar luas di seluruh perairan Indonesia. T. hemprichii memiliki ciri-ciri berdasarkan Kuo dan den Hartog (2001) adalah lamun yang memliki rizoma berbuku-buku dengan sebatang akar muncul dari setiap buku. Daun muncul dari tunas cabang yang tumbuh dari akar rimpang pada interval antara 5 sampai 33 buku. Daun berbentuk pita dan panjangnya antara 3.6 sampai 25 cm, lebar antara 0.17 sampai 1.70 cm, tepinya rata dan ujungnya tumpul (Gambar 17b). Bunga Thalassia hemprichii dijumpai pada bulan Desember, Januari, Februari dan Mei (Kiswara 1992). Di
rataan terumbu Pulau Pari, T. hemprichii tumbuh pada dasar lumpur, pasir dan pasir berkoral baik yang terbuka saat surut maupun yang selalu digenangi air. Mereka tumbuh dalam kelompok-kelompok murni yang rapat berpencar dengan kerapatan rendah sampai tinggi, atau bersama-sama dengan E. acoroides, C. rotundata dan H. ovalis.
40
Menurut Kuo dan den Hartog (2001) dan den Hartog dan Kuo (2006) E. acoroides dan T. hemprichii dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Helobiae
Famili : Hydrocharitaceae Sub Famili : Vallisneriodeae Genus : Enhalus
Spesies : Enhalus acoroides Genus : Thalassia
Spesies : Thalassia hemprichii
Gambar 17 Enhalus acoroides (a) Thalassia hemprichii (b)
E. acoroides di ekosistem lamun Pulau Pari tumbuh di sedimen pasir berlumpur, pasir dan pasir pecahan karang. Membentuk spot-spot padang lamun monospesies di sebelah selatan Pulau Pari dan berasosiasi dengan lamun jenis lainnya seperti T. hemprichii, H. uninervis dan C. serrulata dan tersebar merata di seluruh perairan ekosistem lamun Pulau Pari. Oleh karena itu pengamatan laju pertumbuhan dan produktivitas daun lamun E. acoroides dan T. hemprchii perlu dilakukan untuk mengetahui peranannya dalam regulasi karbon di ekosistem lamun Pulau Pari.
Blue carbon atau karbon biru adalah tumbuhan yang memanfaatkan karbon melalui proses fotosintesis untuk pertumbuhan dan menyimpannya dalam biomassa. Lamun merupakan salah satu potensi blue carbon di perairan pesisir selain mangrove, rumput laut dan fitopankton. Nelleman et al (2009) mengatakan bahwa potensi lamun selain menyimpan karbon di biomassa juga berpotensi menyimpan biomassa yang luruh (serasah) dan terdekomposisi di dalam sedimen. Sistem perakaran lamun dengan adanya rhizome dan daun-daun yang membentuk kanopi berpotensi menyimpan karbon organik dari serasah atau yang terdekomposisi dapat tersimpan dan terkubur sampai ribuan tahun dalam ekosistem lamun yang sehat.
Tujuan penelitian ini mendapatkan prosentase tutupan dan kerapatan E. acoroides dan T. hemprichii, menganalisis laju pertumbuhan, laju produktivitas dan produksi daun lamun jenis E. acoroides dan T. hemprichii secara temporal berdasarkan musim. Selain itu juga menganalisis produksi total serta potensi
41 penyerapan CO2 dari atmosfer oleh daun lamun dengan memperhitungkan luasan
lamun yang didapat berdasarkan citra satelit pada ekosistem lamun Gugusan Pulau Pari.
Metode Penelitian
Pulau Pari merupakan pulau yang terbentuk di rataaan terumbu karang bagian dari gugusan Pulau Pari (Gambar 8). Sedimen yang terdapat di Pulau Pari umumnya pasir dan pasir pecahan karang. Pasir berlumpur biasa terdapat di ekosistem mangrove dan ekosistem lamun yang membentuk padang lamun yang cukup rapat. E. acoroides dan T. hemprichii tersebar merata di sekeliling Pulau Pari, ada yang membentuk padang lamun monospesies yang cukup luas umumnya di Pulau Pari bagian selatan dan membentuk spot - spot kecil yang berasosiasi dengan lamun jenis lainnya atau dengan makro alga.
Pengamatan prosentase penutupan dan kerapatan dilakukan pada 3 stasiun pada setiap musimnya, terdapat satu stasiun permanen dan dua stasiun dilakukan secara spasial terkait dengan pengukuran laju pertumbuhan daun lamun. Pengamatan dilakukan sesuai pedoman Seagrasswatch (McKenzie 2000)
Biomassa lamun terbagi atas dua yaitu biomassa bagian atas sedimen (above ground) dan biomassa bagian bawah sedimen (below ground). Pengamatan laju pertumbuhan dan produktivitas lamun dapat dilakukan di bagian above ground ataupun below ground. Penelitian ini dilakukan untuk laju pertumbuhan dan produktivitas lamun E. acoroides dan T. hemprichii pada bagian above ground (daun). Pengamatan yang dilakukan meliputi laju pertumbuhan dan produktivitas daun selama satu tahun pengamatan sebanyak delapan kali yang terbagi atas musim barat (MB), musim peralihan musim barat ke musim timur (MP I), musim timur (MT) dan musim peralihan musim timur ke musim barat (MP II).
Laju pertumbuhan daun dilakukan dengan metode penandaan daun Zieman dengan satuan cm/hari (Short dan Duarte 2001). Pengukuran dilakukan pada waktu yang ditentukan sebanyak 10 tunas dengan 3 kali pengulangan, yang diketahui luasan dan kerapatan lamun dalam plot. Pemilihan tunas lamun didasari dari keutuhan lamun dan kematangan tunas, daun dalam keadaan utuh dan memiliki lebih dari tiga daun. Penandaan daun dilakukan dengan melubangi pangkal daun lamun tepat di atas pelepah daun, kemudian posisi lubang daun ditandai dengan menanamkan patok di samping individu dan ujung patok diposisikan tepat di sebelah lubang daun. Setelah beberapa hari dilakukan pemanenan dengan memberi tanda/lubang pada batas patok dan dipotong. Pengukuran pertambahan panjang dilakukan pada tiap helai daun dari lubang penandaan terakhir dan lubang penandaan awal.
Laju produktivitas bersih daun lamun didapat dengan menimbang berat basah di lapangan. Berat kering dan berat karbon dilakukan di laboratorium dengan melakukan pengovenan dalam suhu 60 ºC selama kurang lebih tiga hari sampai berat stabil. Dilakukan penggerusan untuk dianalisis prosentase kandungan karbon dengan alat Truspec Analysis CHNS merk LECO di Laboratorium Bioteknologi Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. Produktivitas bersih daun lamun menggunakan satuan gC m-2 hari-1 (Short dan Duarte 2001).
Pengolahan data satelit dilakukan beberapa tahap sesuai standar umum seperti koreksi atmosferik dan geometrik, klasifikasi dan uji akurasi data
42
berdasarkan data survei lapang. Diagram alir pengolahan data satelit tertera pada Gambar 18. Data satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah data ALOS perekaman tanggal akuasisi 3 Mei 2009 (MP II) dan 18 September 2009 (MT) serta data sekunder citra ALOS 28 November 2008 mewakili MP I (Silfiani 2011) dan citra Aster 28 Desember 2009 mewakili MB (Shofa 2014).
Gambar 18 Diagram alir analisis citra satelit
Pengukuran kondisi lingkungan dilakukan di kolom air dan di sedimen secara in situ dan time series serta di laboratorium (Produktivitas Lingkungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB). Paramater lingkungan di kolom air yaitu pH, temperatur, salinitas, fosfat nitrat, nitrit, amonia, silikat, kisaran pasang surut, TSS dan intensitas cahaya. Pengukuran temperatur dan intensitas cahaya menggunakan alat HOBO pendant linght and temperature logger yang mengukur setiap jam mulai dari 17 Agustus 2011 sampai dengan 13 Juli 2012. Pengukuran parameter di sedimen yaitu total karbon organik, total nitrogen, total fosfat, total bahan organik (total organic matter), pH, karbon, nitrogen, sulfur dan fraksi sedimen (pasir, debu dan liat).
43
Hasil dan Pembahasan
Ekosistem lamun Pulau Pari merupakan ekosistem yang terbentuk di rataan terumbu karang, bagian dari gugusan pulau-pulau kecil yang disebut Gugusan Pulau Pari. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan ada tujuh jenis lamun yang ditemukan di Pulau Pari yaitu E. acoroides, T. hemprichii, C. rotundata, C. serrulata, H. uninervis, H. ovalis dan S. isoetifolium. Berdasarkan hasil pengamatan prosentase penutupan lamun jenis E. acoroides di Pulau Pari merupakan urutan kedua. Prosentase penutupan paling besar adalah T. hemprichii. Prosentase penutupan dan kerapatan berdasarkan musim yang didapat dari rata- rata waktu pengambilan untuk jenis E. acoroides dan T. hemprichii dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Prosentase penutupan dan kerapatan E. acoroides dan T. hemprichii selama penelitian berdasarkan musim
Musim Prosentase penutupan Kerapatan (ind/m2)
E. acoroides T. hemprichii E. acoroides T. hemprichii
Musim Barat 22.5 35.6 76 128
Musim Peralihan I 15.3 39.4 68 160
Musim Timur 17.6 37.5 68 120
Musim Peralihan II 20.1 33.5 72 124
Laju Pertumbuhan E. acoroides
Laju pertumbuhan panjang daun E. acoroides di Pulau Pari selama pengukuran Agustus 2011 sampai dengan Juli 2012, terbagi atas empat musim dapat dilihat pada Gambar 18 dan 19. Kisaran laju pertumbuhan pada Tabel 4 sebesar 3.933 sampai 5.604 cm tunas-1 hari-1, dengan laju pertumbuhan daun lebih cepat pada daun muda. Laju pertumbuhan tertinggi dan terendah terjadi pada musim peralihan. Tertinggi pada MP I dan terendah pada MP II, hal ini dapat disebabkan beberapa hal, misalnya penelitian pada MP I nilai prosentase tutupan dan kerapatan E. acoroides yang didapat lebih rendah dibandingkan musim lainnya (Tabel 4) sehingga diperkirakan daya saing pemanfaatan nutrien untuk pertumbuhan berkurang sehingga laju pertumbuhan meningkat.
Gambar 19 menunjukkan secara keseluruhan laju pertumbuhan daun E. acoroides mulai dari daun baru (daun ke 1) sampai daun terluar (daun ke 7) menurun. Laju pertumbuhan tercepat pada daun muda yaitu daun ke 1 sampai daun ke 3, selanjutnya cenderung menurun. Kecenderungan penurunan laju pertumbuhan daun E. acoroides ke daun yang lebih tua terlihat cukup signifikan pada musim barat dan musim timur dengan nilai R2 0.95 dan 0.80. Musim peralihan I maupun MP II nilai R2 lebih rendah dari MB dan MT yaitu sebesar 0.64 dan 0.52.
44
Gambar 19 Laju pertumbuhan per daun E. acoroides per musim di Pulau Pari tahun 2011 – 2012
Laju pertumbuhan daun E. acoroides pada lokasi yang sama di Pulau Pari MP I (bulan April 2009) berkisar antara 0.1 sampai 1.24 cm hari-1 dengan laju pertumbuhan terbesar pada daun kedua sebesar 1.24±0.19 cm hari-1 terendah pada daun keempat sebesar 0.1±0.02 cm hari-1. Musim timur (Juli 2009) laju pertumbuhan daun E. acoroides berkisar antara 0.46 sampai 1.81 cm hari-1 dengan laju pertumbuhan tertinggi pada daun kedua 1.81±0.11 cm hari-1 dan terendah 0.46±0.27 cm hari-1 (Kiswara 2010).
Pada musim yang sama pada penelitian ini, laju pertumbuhan pada MP I berkisar antara 0.282 dan 1.273 cm hari-1 lebih tinggi dari MP I tahun 2009 sedangkan MT sebesar 0.297–1.168 cm hari-1 lebih rendah dibandingkan tahun 2009. Hasil penelitian ini dan penelitian Kiswara (2010) menunjukkan laju pertumbuhan daun tercepat umumnya terdapat pada daun kedua dan makin rendah pada daun yang lebih tua.
Laju pertumbuhan yang tinggi pada daun muda banyak ditemukan para peneliti lainnya seperti Broun (1985) melaporkan laju pertumbuhan daun lamun T. hemprichii di Papua New Guinea tertinggi pada daun termuda sebesar 8.3 mm hari-1. Estacion dan Fortes (1988) melaporkan E. acoroides di Lag-It, North Bais Bay, Philipina selain mendapatkan laju pertumbuhan tertinggi pada daun muda juga mendapatkan rata-rata laju pertumbuhan secara temporal tinggi pada bulan September sampai Oktober dan Mei. Hal ini sama dengan yang didapatkan pada penelitian ini laju pertumbuhan tinggi pada bulan September sebesar 6.59 cm tunas-1 hari-1 (Gambar 19a). Tingginya laju pertumbuhan pada daun muda dapat juga disebabkan posisi daun muda masih berada di dalam pelepah daun sehingga masih bersih dari pengaruh epifit yang menempel di daun yang menyebabkan berkurangnya kompetisi dalam pemanfaatan intensitas cahaya, CO2 dan nutrien
45 Rattanachot dan Prathep (2011) mendapatkan laju pertumbuhan daun E. acoroides di Haad Chao Mai National Park, Thailand, yang terletak di pantai timur Samudera Hindia rata-rata sebesar 2.07±0.04 cm/hari dalam satu tunas dengan metode plastochrone interval. Pengukuran laju pertumbuhan daun dengan metode Zieman Kiswara (2010) mendapatkan laju pertumbuhan daun E. acoroides berkisar antara 3.1 dan 5.75 cm hari-1 dalam satu tunas, sedangkan penelitian ini sebesar 3.19–6.59 cm hari-1 (Gambar 20a).
Gambar 20 Laju pertumbuhan daun Ea (E. acoroides) per tunas selama penelitian (a) dan berdasarkan musim (b)
Gambar 20 menunjukkan laju pertumbuhan daun dalam satu tunas per hari. Terlihat bahwa dari total laju pertumbuhan daun E. acoroides dalam satu tunas tertinggi pada bulan September 2011 (musim timur) dengan nilai sebesar 6.587 cm hari-1. Laju pertumbuhan daun E. acoroides pertunas berdasarkan musim terlihat tertinggi pada musim peralihan I (MP I) sebesar 5.604 cm/hari. Kiswara (2010) mendapatkan laju pertumbuhan daun E. acoroides tertinggi pada bulan Juli 2009 (musim timur) rata-rata sebesar 5.5 cm hari-1 dalam satu tunas.
46
Hasil dari beberapa penelitian yang didapat menunjukkan adanya perbedaan laju pertumbuhan daun E. acoroides pada lokasi yang berbeda. Hal ini dapat disebabkan banyak faktor diantaranya kondisi lingkungan. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi lamun antara lain adalah temperatur, intensitas cahaya, pasang surut dan nutrien. Broun (1985) mendapatkan bahwa pasang surut yang terjadi selama penelitian di Papua New Guinea berpengaruh cukup signifikan terhadap pertumbuhan daun T. hemprichii hal ini terkait dengan intensitas cahaya yang masuk ke kolom air. Sedangkan pada penelitian ini tinggi laju pertumbuhan daun pada MP I dapat disebabkan tingginya nutrien terutama nitrat sebesar 0.106 mg/L, yang berada di atas ambang batas baku mutu KLH No. 51 tahun 2004 sebesar 0.008 mg/L (Tabel 5). Selain itu nilai total nitrogen pada sedimen pada MP I tinggi sebesar 632 mg/kg (Tabel 5).
Berdasarkan waktu, pengukuran tertinggi pada bulan September 2011 (MT) diasumsikan karena faktor intensitas cahaya yang masuk ke dalam perairan lebih berperan selain nutrien dalam proses pertumbuhan. Musim timur dicirikan dengan sedikitnya curah hujan atau musim kemarau sehingga intensitas cahaya yang masuk lebih tinggi. Nilai rata-rata intensitas cahaya berdasarkan alat HOBO pendant light and temperature logger untuk musim timur sebesar 45.35PAR yang diukur setiap jam yang memperhitungkan nilai intensiitas cahaya di malam hari yang bernilai nol. Nilai tertinggi pada MT sebesar 968.58 pada tanggal 26 September 2011 jam 9.41 WIB pagi hari. Nilai tertinggi intensitas cahaya pada penelitian ini terjadi pada tanggal 24 Oktober 2011 jam 11.17 WIB sebesar 1733.27 PAR (Gambar 21).
Gambar 21 Pengukuran temperatur dan intensitas cahaya selama penelitian (17 Agustus 2011 sampai dengan 15 Juli 2012)
47 Tabel 5 Nilai rata-rata parameter fisika kimia pada air laut dan sedimen selama
penelitian
Parameter Barat Peralihan I Musim Timur Peralihan II KLH No. 51 tahun 2004
Air Laut pH 8.15 8.06 8.11 8.22 7 – 8.5 Salinitas (‰) 30.9 31.5 32.5 30.7 33 - 35 Fosfat (mg/L) 0.217 0.17 0.24 0.009 0.015 Nitrat (mg/L) 0.215 0.08 0.088 0.106 0.008 Nitrit (mg/L) 0.002 0.002 0.003 0.003 Ammonia (mg/L) 0.073 0.06 0.097 0.134 0.3 Silikat (mg/L) 0.64 0.359 0.48 0.887
Intensitas cahaya (PAR) 17.12 27.35 45.345 79.92 Kisaran Pasut (m) 0.806 0.841 0.825 0.903
Temperatur (°C) 30.5 29 29.73 31 alami ( 20 - 30)
Total padatan tersuspensi (TSS) (mg/L) 7.75 5 7.667 3 20
Sedimen
Total Karbon Organik (%) 0.26 0.09 0.16 0.12 Total N (mg/kg) 944 441 672 632
Total fosfat (mg/kg) 10.4 17 15.6 19.4 TOM (Total Organic Matter) 63.18 75.6 72.66 79.2 ORP (mv) -97 -69 78.67 -70 ORP (mv) 97 69 79 70 pH H2O 8.5 8.8 8.4 8 pH KCl 8.2 8.6 8.3 8 Karbon (%) 11.77 10.26 11.69 10.2 Nitrogen (%) 0,081 0.059 0.057 0.05 Sulfur (%) 0,019 0.012 0.008 0 Pasir (%) 77.01 85.5 93.267 96.8 Debu (%) 23.93 9.1 3.28 0.64 Liat (%) 4.01 5.41 3.457 2.56
Laju Produksi E. acoroides
Laju produksi daun E. acoroides yang dihasilkan per hari dilihat berdasarkan berat karbon (Gambar 22 dan 23) selama penelitian.
Gambar 22 Laju produksi per daun E. acoroides per musim di Pulau Pari tahun 2011 – 2012
48
Gambar 22 menunjukkan laju produksi pertambahan panjang daun E. acoroides di Pulau Pari selama pengukuran satu tahun yaitu Agustus 2011 sampai dengan Juli 2012, yang terbagi atas empat musim. Terlihat pada Gambar 22 di atas secara keseluruhan laju produksi daun E. acoroides mulai dari daun baru (daun ke 1) sampai daun terluar (daun ke 7) produksi pertumbuhan tidak terlihat adanya kecenderungan menurun berdasarkan daun baru sampai daun terluar secara tetap. Namun berdasarkan regresi polinomial orde dua terlihat adanya hubungan yang cukup erat antara laju produksi daun E. acoroides dengan daun muda sampai daun tua dimana terdapat satu puncak produksi yang dihasilkan yaitu pada daun ke dua dan ketiga dan menurun sampai pada daun ke tujuh (terluar) ditunjukkan dengan nilai R2 berkisar antara 0.537 sampai 0.851 terendah pada MP I dan teringgi pada MB.
Gambar 23 Laju produksi daun E. acoroides per tunas (a) selama penelitian dan (b) berdasarkan musim
Kecenderungan menurunnya laju produksi daun E. acoroides dapat disebabkan laju pertumbuhan tertinggi umumnya pada daun ke 2 dan ke tiga yang kemudian menurun pada daun selanjutnya. Namun berat kering pada daun terluar lebih berat dibandingkan dengan daun muda/baru pada panjang yang sama
49 menyebabkan nilai produksi daun berfluktuasi. Selain itu kontur daun muda yang lebih tipis dibandingkan daun lebih tua merupakan salah satu faktor nilai laju produksi berfluktuasi berdasarkan berat kering.
Laju produksi daun E. acoroides berdasarkan satuan luas dan tutupan rata- rata berdasarkan pengamatan (Tabel 4) selama penelitian pada MB sebesar 1081.71 mgC/hari/m2; MP I sebesar 1070.88 mgC/hari/m2; MT sebesar 774.85 mgC/hari/m2 dan MP II sebesar 999.54 mgC/hari/m2. Perbedaan yang terjadi baik pada laju pertumbuhan dan laju produksi daun E. acoroides per tunas per hari yang dihasilkan tertinggi pada MP I dan terendah pada MP II (Gambar 20 dan 23), sedangkan berdasarkan per luasan meter persegi tertinggi pada MB untuk laju produksi. Hal ini disebabkan berdasarkan besaran nilai prosentase tutupan dan kerapatan lamun yang terukur pada MP I maupun MP II lebih rendah dari pada musim barat dan musim timur (Tabel 4), yang menyebabkan nilai laju produksi berdasarkan luasan juga turun. Kiswara (2010) mendapatkan laju produksi E. acoroides lebih tinggi dari penelitian ini yaitu pada April 2009 (MP II) sebesar 1190-1390 mgC/hari/m2 dan Juli 2009 (MT) 1390-1700 mgC/hari/m2.
Laju Pertumbuhan T. hemprichii
Laju pertumbuhan per daun T. hemprichii dapat dilihat pada Gambar 24 dan 25.
Gambar 24 Laju pertumbuhan per daun T. hemprichii per musim di Pulau Pari tahun 2011 – 2012
Laju pertumbuhan daun T. hemprichii sama dengan daun E. acoroides yaitu makin tua daun laju pertumbuhan daun menurun dengan laju pertumbuhan tertinggi pada daun ke dua. Laju pertumbuhan daun T. hemprichii per hari selama penelitian berkisar antara 2.35 sampai 2.62 cm tunas-1 hari-1 (Gambar 25b). Nilai
50
total laju pertumbuhan T. hemprichii setiap musim tidak terlihat adanya perbedaan yang cukup berarti seperti pada daun E. acoroides (Gambar 20b). Baik laju pertumbuhan daun T. hemprichii dan daun E. acoroides laju pertumbuhan daun tertinggi pada musim MP I dan terendah pada MP II.
Kiswara (2010) mendapatkan laju pertumbuhan daun T. hemprichii pada lokasi yang sama di Pulau Pari MP I (bulan April 2009) berkisar antara 0.01 sampai 0.63 cm hari-1 dengan laju pertumbuhan terbesar pada daun pertama sebesar 0.63±0.14 cm hari-1 terendah pada daun kelima sebesar 0.01±0.01 cm hari-1. Musim timur (Juli 2009) laju pertumbuhan daun T. hemprichii berkisar antara 0.09 sampai 0.75 cm hari-1 dengan laju pertumbuhan tertinggi pada daun pertama 0.75±0.10 cm hari-1 dan terendah 0.09 cm hari-1.
Gambar 25 Laju pertumbuhan daun T. hemprichii per tunas selama penelitian (a) dan berdasarkan musim (b)
Kisaran laju pertumbuhan pada Gambar 25b dari 2.35 sampai 2.506 cm tunas-1 hari-1, dengan laju pertumbuhan daun lebih cepat pada daun muda yaitu umumnya pada daun kedua kecuali pada MT pada daun pertama (Gambar 24). Laju pertumbuhan setiap tunas tertinggi dan terendah terjadi pada musim
51 peralihan. Tertinggi pada MP I dan terendah pada MP II, terlihat tidak signfikan seperti pada daun E. acoroides. Hal ini dapat disebabkan pada MP I nilai prosentase tutupan dan kerapatan T. hemprichii yang didapat lebih rendah dibandingkan musim lainnya (Tabel 4). Namun nilai ini tidak terlihat berbeda jauh dengan musim lainnya yaitu berkisar antara 33.5 sampai 39.4 %, sehingga diperkirakan daya saing pemanfaatan nutrien untuk pertumbuhan tidak terlihat secara signifikan antara individu lamun T. hemprichii dan produser lainnya.
Laju pertumbuhan T. hemprichii per tunas berdasarkan waktu pengukuran tertinggi pada September 2011 merupakan MT sebesar 3.15 cm tunas-1 hari-1 dan terendah pada November 2011 merupakan MP II sebesar 1.49 cm tunas-1 hari-1 (Gambar 25a). Berdasarkan rata-rata waktu per musim tertinggi dan terendah pada musim peralihan yaitu MP I dan MP II sebesar 2.96 dan 2.25 cm tunas-1 hari-1. Nilai laju pertumbuhan T. hemprichii ini sama dengan daun E. acoroides sehingga dapat disimpulkan karena pada MP I nilai nutrien nitrat tinggi baik di kolom air maupun di sedimen (Tabel 5) menyebabkan laju pertumbuhan daun tinggi.
Laju Produksi T. hemprichii
Laju produksi daun T. hemprichii per hari dapat dilihat pada Gambar 26 dan 27. Gambar 26 terlihat cukup signifikan laju produksi daun T. hemprichii menurun dari daun muda ke daun tua, hal ini berbeda dengan E. acoroides. Nilai R2 penurunan daun terlihat seragam antara setiap musim yaitu 0.715 sampai 0.794 dibandingkan dengan laju produktivitas daun E. acoroides, laju produksi daun T. hemprichii terlihat lebih pasti terjadi penurunan laju pertumbuhan dengan puncak laju pertumbuhan pada daun kedua (Gambar 26).
Gambar 26 Laju produksi per daun T. hemprichii (Th) per musim di Pulau Pari tahun 2011 – 2012
52
Perbedaan laju produksi pertumbuhan antara daun E. acoroides dan T. hemprichii, dapat disebabkan berbeda pola pertumbuhan daun kedua jenis tersebut. Diketahui bahwa daun E. acoroides memiliki pola pertumbuhan daun mono-meristematic sedangkan T. hemprichii pola pertumbuhan daun di- meristematic. Pola pertumbuhan yang berbeda ini menghasilkan berat kering pada dua jenis lamun ini berbeda, pada E. acoroides dengan pola mono meristematic pertumbuhan daun muda sangat cepat sehingga bobot yang dihasilkan menyamai bobot pada daun tua walaupun lambat pertumbuhan sehingga laju produksi terlihat lebih berfluktuasi dibandingkan T. hemprichii. Diketahui T. hemprichii pola pertumbuhan di-meristematic, daun baru tumbuh menggantikan daun yang