• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARINA 10 ISUES

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta

Sesi 3: Diskusi Penyepakatan Komponen Pertanian Kota dan Diskusi Kelompok Isu Strategis dan Strateginya untuk Masing-Masing Komponen

9. KARINA 10 ISUES

11.Sudin KPKP Kota Administrasi Jakarta Selatan (Bpk. Yoga)

Pokja Pemasaran Produk kami ini batasi mulai dari pengendalian mutu, keamanan pangan, sampai dengan pemasaran saja.

No. Isu Alasan

1 Sulitnya pemasaran produk dalam jumlah besar

Tidak memenuhi standard mutu yang ditetapkan pasar

2 Jaminan mutu dan keamanan produk pertanian

Meningkatnya daya saing produk menuju pasar

3 Kontinuitas produk Belum stabilnya produk yang dihasilkan petani perorangan / kelompok binaan

Isu yang pertama sudah tertuang di dalam laporan. Yang pertama itu adalah sulitnya pemasaran produk, jaminan mutu dan keamanan produk pertanian dalam jumlah yang besar. Nah, kami mencoba menggali dari teman-teman, kami buat dua isu lagi yaitu Jaminan mutu dan Keamanan Produk Pertanian.

Alasannya kami mengambil itu tersebut adalah karena meningkatnya daya saing produk menuju pasar. Jadi masih kita dapat kelompok-kelompok olahan yang masih

belum memenuhi standar mutunya. Selanjutnya adalah kontinuitas produk. Masih banyak di DKI Jakarta produk-produk olahan yang belum memenuhi kontinuitas produk. Jadi belum stabilnya produk yang dihasilkan petani atau kelompok binaan. Mungkin itu saya yang bisa kami sampaikan, terima kasih.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Terima kasih. Lanjut ke Kelompok Peningkatan Kapasitas.

Presentasi Kelompok 4: Peningkatan Kapasitas Solihin

Selamat sore, kami dari Pokja Peningkatan Kapasitas. Anggota: 1. Dinas Pendidikan (Bpk. Komar – Bid. SMK)

2. DLH (Bpk. Heru Panatas)

3. Sudin KPKP Kep. Seribu (Bpk. Solihin)

4. Penyuluh Pertanian Provinsi Dinas KPKP (Ibu Sri Suhersusiwati) 5. BPTP (Ibu Ana Veronika)

6. MURIA_Bina Swadaya Konsultan (Ibu Pipit) 7. CARE International Indonesia

Isu strategis:

1. Diklat penyuluh swadaya

2. Perlu sosialisi urban farming ke sekolah dan kelurahan 3. Peningkatan kapasitas pelaku utama:

 Pendamping, penyuluh disertai pendampingan, pembuatan demplot, magang

 Petani/ peternak/ nelayan tergantung lingkungan dan potensi 4. Inovasi teknologi:

 Pemanfaatan sampah organik/ kompos

 Teknologi budidaya pertanian perkotaan

 Pengolahan pasca panen

 Modul pelatihan yang adaktif terhadap perubahan iklim

Yang pertama untuk peningkatan kapasitas yaitu diklat penyuluh swadaya. Yang kedua, sebagaimana kita ketahui bahwa biasanya kalau ada petani itu dianggap kampungan. Bahkan lulusan IPB saja, sarjana malah malu bertani, malah beralih. Ini perlu pemahaman, perlu penjelasan sehingga perlu sosialisi urban farming di sekolah dan di kelurahan-kelurahan. Anak-anak supaya tahu di sekolah perlu diberi pemahaman bahwa pertanian itu bukan hanya orang pinggiran yang hanya tanam kangkung. Kemudian yang ketiga adalah peningkatan kapasitas pelaku utama. Ini penting.Yang pertama adalah pelaku utamanya, pendamping, penyuluh, disertai pendampingan. Kemudian pembuatan demplot, magang. Kemudian petani, peternak, nelayan, tergantung potensi yang ada. Ada SMK N 36 di Cilincing punya kapal tetapi biaya perawatan tidak ada. Ini juga bicara lintas sektoral juga karena kalau sudah bicara uang, berarti sudah dinasnya lain-lain. Mau diklat juga perlu uang. Nah ada satu lagi, invasi teknologi. Pemanfaatan sampah organik/kompos, teknologi budidaya pertanian

perkotaan, pengolahan pasca panen, dan ada modul pelatihan yang adaktif terhadap perubahan iklim. Terima kasih.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Terima kasih, Bapak. Disini ada inovasinya juga. Selanjutnya, kelompok 5 kelompok Kerja sama Multipihak.

Presentasi Kelompok 5 : Kerja Sama Multipihak

Samsudin (DKPKP)

Untuk kelompok 5 yang hadir: 1. Bidang Tanaman Pangan 2. Sudin KPKP Jakarta Timur 3. MURIA

4. CARE

No. Isu Alasan

1 Belum adanya mekanisme kerja sama multipihak

Mekanisme kerja sama kurang antar lembaga 2 Tidak adanya system yang

terintegrasi atas data dasar pelaku pertanian kota

 Belum adanya sistem data

 Belum adanya sistem yang terintegrasi antar SKPD

Hasil dari isu strategi di bidang kerja sama multipihak. Yang pertama, belum adanya mekanisme kerja sama multipihak. Jadi kalau sekarang itu masih sendiri-sendiri. Misalnya tidak ada semacam peraturan atau semacam Pergub atau yang sejenisnya untuk mengatur bagaimana kerja sama antar pihak baik itu antar SKPD, maupun pemerintah dan non pemerintah. Yang kedua, tidak adanya sistem yang terintegrasi atas data dasar pelaku pertanian kota. Kalau misalnya di SKPD-SKPD misalnya sudah ada sistem, tetapi itu belum terintegrasi. Ini kita angkat agar sistem menjadi satu kesatuan yang utuh agar dari SKPD-SKPD dan non pemerintahan bisa terpadu. Kalau dua isu ini bisa dipecahkan maka akan sangat berkontribusi terhadap Grand Design

Pertanian Kota.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Menarik ya, ada 2 isunya. Yang terakhir, kelompok 6 silahkan. Presentasi Kelompok 6: Monev dan Pengelolaan Pengetahuan Rita (Dinas Lingkungan Hidup)

Kelompok kami anggotanya seharusnya ada dari: 1. DLH

2. DKPKP

3. Biro Tata Pemerintahan 4. BAPPEDA

Tetapi yang hadir hanya ada 2, DKPKP dan dari DLH. Hasil diskusi kelompok, kami menangkap 2 isu:

1) Tidak adanya sistem monitoring evaluasi dan pengelolaan pengetahuan yang terpadu terkait pertanian kota

2) Tidak adanya skema pengelolaan pengetahuan

Yang pertama, tidak adanya sistem monitoring evaluasi dan pengelolaan pengetahuan yang terpadu terkait pertanian kota. Ini terkait dengan indikator atau capaian kita yang kita belum punya, khususnya di pertanian kota. Kemudian isu yang kedua adalah tidak adanya skema pengelola pengetahuan. Maksudnya skema yang mau kita angkat seperti apa. Terkait sharing informasi apakah bisa melalui web, atau browsing, atau media apapun menyangkut juga dengan publikasi dan dokumentasi serta produksinya. Mungkin 2 itu saja hasil dari kelompok 6.

Komentar dan Tanya Jawab

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Terima kasih. Diskusinya menarik ya, ada yang maksimal 3 isu tetapi ada yang hanya 2 dan ada yang bahkan menambah menjadi 4 isu. Baik, silahkan kalau ada komentar atau pertanyaan dari bapak ibu. Jadi kita punya beragam isu strategis tadi yang mungkin nanti kalau disepakati kita akan coba usulkan kira-kira output atau kegiatan untuk masing-masing isu tadi apa. Ada komentar atau tanggapan dari bapak ibu?

Edi

Setelah saya amati dari kelompok 3, saya juga kurang paham urban farming itu secara luas atau kita batasi hanya on farm saja. Karena kalau kita bicara off farm, pasca panen itu melebar. Atau memang itu terkait di dalamnya urban farming.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Silahkan kelompok 3 menanggapi. Terkait pemasaran, apakah itu termasuk off farm.

Wati Mulia (DKPKP)

Terima kasih Pak Edi. Kalau kita bicara pertanian perkotaan atau urban farming kita bicara mulai dari hulu sampai hilir. Jadi grand design yang dimaksud disini grand design

yang bicara mulai dari pertanian dari hulu sampai hilir. Apa yang disampaikan tim kami masuk di dalam mapping urban farming. Malah saya balik bertanya ini. Ini tadi ada Pokja Kegiatan Pertanian. Nah kemudian tim saya ada Pokja Pemasaran Produk. Kalau menurut hemat saya, kalau kita bicara kegiatan pertanian itu kita bicara dari hulu sampai dengan hilir. Saya meminta batasan dari kelompok 2.

Kalau kita bicara urban farming, itu kita bicara mulai dari on farm sampai dengan off farm. Jadi yang saya sampaikan itu sudah masuk dalam komponen urban farming. Tetapi tadi saya baca kok ada Pokja Kegiatan Pertanian, ada Pokja Pemasaran Produk. Kalau menurut hemat saya, pemasaran produk itu masuk dalam kegiatan pertanian. Nah, kegiatan pertanian itu mungkin ada batasannya, kira-kira batasannya apa. Mungkin menurut saya, budidaya dan pengolahan hasil pertanian sehingga kita bisa memberikan batasan-batasan di dalam kelompok ini.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Jadi ini terkait dengan produksi ya. Nah mungkin ini nanti kita kembalikan. Jadi, yang pertama akan kita kembalikan kepada target yang komoditas. Misalnya, target 2030, target komoditas kalau kita sepakati misalnya 5 komoditas prioritas yang tadi, maka nanti fokusnya akan di 5 komoditas itu. Tetapi kalau kesepakatannya ditambah dengan komoditas lain, nanti akan bicara. Cuman bahwa pengolahan produk itu masuk bagian pemasaran, mungkin iya.

Wati Mulia (DKPKP)

Mungkin kalau di dalam kegiatan pertanian bisa dibatasi produksi budidaya sampai pengolahnya, lalu baru pemasaran produknya saja. Pemasaran produk itu mulai dari jaminan mutu, sarana, sampai dengan pemasaran.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Pengolahan produknya itu ada di Pokja Pelaksanaan Pertanian ya. Jadi pelaksaan pertanian itu budidaya sampai mengolah hasilnya. Kemudian hasilnya mau dikemanakan, itu yang pemasarannya.

Agung Priambodo

Kalau bicara target pemasaran hanya dibatasi on farm, sementara kelompok 3 sudah bicara pascanya. Hasil olahan sudah menjadi barang lain.

Wati Mulia (DKPKP)

Tadi kan ada Pokja 2 di Kegiatan Pertanian. Nah, di kegiatan pertanian ini perlu batasan karena menurut saya kegiatan pertanian termasuk di dalamnya harus sampai pemasaran produk. Tapi ternyata muncul lagi Pokja Pemasaran Produk sendiri. Apa yang disediakan pertanian di situ. Mungkin kegiatan pertanian ini harus dibatasi

produksi di budidayanya dan produksi pengolahannya. Tentunya pasca panen kalau bicara pertaniannya. Misalnya pokja saya khusus pemasaran produk saja.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Kalau misalnya produk komoditas langsung proses pengolahan pasca panennya akan seperti apa. Mungkin dari sisi pengelompokan kegiatan. Jadi itu nanti masuk di kegiatan pelaksana pertanian. Di budidaya maupun pengolahannya, itu masuk satu kelompok kegiatan. Kemudian yang pemasarannya lebih ke setelah itu. Nah kita akan diskusi kegiatan detailnya besok pagi, baru nanti muncul disana sebenarnya kalau budidaya itu yang mau dibudidayakan itu apa saja, kalau ada pengolahannya mau diolah seperti apa. Jadi kita belum kesana, tetapi secara pembagian tupoksinya sudah jelas ya. Jadi yang kelompok produksi itu budidaya sampai pengolahan pasca panen, yang pemasaran hanya menjual saja. Masalah isi detailnya besok kira-kira kegiatannya apa saja. Ada lagi silahkan satu lagi?

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Hanya mengingatkan diri saya dan bapak ibu di sini, tadi komponen grand design

pertanian sudah dijelaskan Bapak Chasan di awal mengenai sebenarnya untuk pelaksanaan pertanian itu lebih fokus dimana. Kemudian pemasaran produk dimana. Untuk yang terakhir ada masukan dari teman-teman UCLG mengenai pemetaan supply

dan demand. Kami tadi berdiskusi itu masuk pokja 5 atau 6, atau masuk di pemasaran produk untuk ada pemetaan supply dengan demand.

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Menurut saya ini juga salah satu isu penting, tinggal kita sepakati ini akan masuk di mana?

Peserta

Di Pemasaran (Produk).

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Baik sepakat di situ, saya tambahkan di pemasaran. Ada lagi bapak ibu? Hari ini paling tidak kita sudah menyepakati komponen isu strategis masing-masing. Besok akan kita diskusikan masing-masing rinciannya, kira-kira usulan bapak ibu untuk mencapai itu apa, kegiatan apa, output-nya masing-masing apa. Lalu usulan strategi yang nanti kita rangkum bersama yang akan kita masukkan dalam grand design.

Kemudian dari usulan-usulan itu kira-kira mana yang akan dilaksanakan dalam RPJMD 5 tahun ke depan ini, mana yang akan dilaksanakan di RPJMD tahun berikutnya. Begitu kira-kira, detailnya akan mulai kita diskusikan besok pagi walaupun tadi saya lihat ada beberapa yang sudah mencantumkan kegiatan disini. Itu besok pagi tinggal dimasukkan di kolom kegiatan. Itu dari saya, terima kasih. Waktu saya kembalikan ke Ibu Maya.

Mayerni Sidabalok (Pembawa Acara)

Baik bapak ibu kita sepakati beberapa hal dulu. Besok akan dimulai jam berapa karena ini ada 1 sesi yang kita harus mundur ke sesi besok. Besok kita jam 09.00 WIB tepat mulai karena satu sesi ini sudah mundur. Besok kelompoknya masih tetap sama sampai kita berakhir.

Ini adalah grand design yang dinamis. Jadi Pokja itu akan tetap dinamis dan kelompoknya kemungkinan adalah bapak dan ibu dari 1 sampai 6. Tempatnya tetap sama di sini, dan bahan-bahannya silahkan bapak ibu bawa kembali besok. Dan yang paling penting adalah sertifikat. Bapak ibu kalau mau sertifikat silahkan dituliskan nama lengkapnya, huruf kapital dengan jelas di depan, saya akan cetak malam ini dan besok tidak ada permintaan lagi. Terima kasih semuanya teman-teman, bapak ibu untuk proses hari ini, sampai ketemu besok.

#hari pertama selesai

Hari Kedua. Kamis, 10 Agustus 2017 Review Kegiatan Hari Pertama

Mayerni Sidabalok (Pembawa Acara)

Selamat pagi, bapak ibu peserta Lokakarya penyusunan Grand Design Pertanian Kota. Sebelum kita mulai acaranya, saya akan mengingatkan kembali bahwa di hari kedua ini kita akan mulai intense diskusi kelompok di masing-masing kelompok kerja. Kita sudah membagi tempat duduk supaya diskusinya lebih enak dan lebih terkondisikan. Mungkin bapak ibu sudah melihat ada nomor-nomor, bagi bapak ibu yang sudah tahu masuk di pokja mana silahkan duduk di masing-masing pokja. Nah, sekarang kita akan memberikan arahan dulu diskusinya seperti apa baru nanti ke kelompok masing- masing.

Yang pertama, kita akan review hari pertama apa saja yang sudah kita lakukan. Hasilnya seperti apa, dan apa yang akan kita lakukan hari ini. Saya akan serahkan kepada rekan saya. Silahkan, Bu Diyah.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Selamat pagi, bapak ibu. Sebelum kita mulai diskusi di masing-masing kelompok, saya akan mengajak bapak ibu mengingat kembali hasil hari kemarin, karena ini akan berkaitan juga dengan proses diskusi di masing-masing kelompok.

Fakta yangterjadi saat ini:

 Terjadi penurunan luasan lahan pertanian (padi) sebesar 79% sejak tahun 2003 hingga 2016 (Sumber Kementan, BPS dalam angka 2016, DKPKP DKI Jakarta)

 Sejak tahun 2010 – 2016 terjadi penurunan produksi padi sebesar 46% (Sunber Kementan, BPS)

 Sektor pertanian baru berkontribusi sebesar xx% terhadap Produk Domestik Regional Bruto yang jika dinominalkan adalah sebesar Rp. Xxx dan sektor ini menunjang kehidupan dari 12.000 warga Jakarta

 Walaupun luasan lahan pertanian padi berkurang namun terjadi lonjakan luasan lahan dan produksi 3 macam sayur-mayur pada tahun 2015.

- Produksi rata-rata kangkung pada tahun 2009 – 2014 adalah 7.694 kuintal menjadi 102.229 kuintal pada tahun 2015

- Produksi rata-rata bayam pada tahun 2009 – 2014 adalah 2.707,5 menjadi 56.999 kuintal pada tahun 2015

- Produksi rata-rata sawi pada tahun 2009 – 2014 adalah 5.232,75 menjadi 46,886 kuintal pada tahun 2015

 Persoalan keamanan pangan perlu diatasi secara jangka panjang dan terkait dengan banyak sektor dan pelaku.

 Risiko ancaman bencana dan perubahan iklim terhadap keamanan pangan secara jangka panjang

Untuk refresh hari pertama, kemarin sudah disampaikan oleh Bapak Oswar bahwa sudah terjadi penurunan luasan lahan, penurunan produksi, dan angka kontribusi sektor pertanian. Ini yang kemarin dimulai oleh Bapak Oswar. Walaupun dengan 3 hal tersebut, ternyata ada lonjakan pada beberapa komoditas seperti kangkung, bayam, dan sawi. Dari beberapa fakta yang sudah disampaikan, ternyata ada 2 hal yang kemudian mendorong para pemangku kepentingan untuk menyusun rancangan besar pertanian kota.

Tujuan dari Grand Design Pertanian Kota

1) Terciptanya ketahanan pangan masyarakat kota Jakarta

2) Terintegrasinya kebijakan dan program pemerintah dengan pelaku lainnya dalam praktik pertanian kota

3) Pelaksanaan pertanian kota tidak terdampak oleh perubahan iklim, bencana dan kerusakan lingkungan

Pertama, persoalan keamanan pangan perlu diatasi secara jangka panjang, dan ini perlu melibatkan banyak pelaku. Yang kedua, keamanan pangan ini harus tangguh terhadap risiko ancaman bencana dan perubahan iklim. Dari beberapa hal tersebut diatas, kemudian disepakati 3 tujuan Grand Design. Yang pertama, terciptanya ketahanan pangan. Yang kedua, terintegrasinya kebijakan dan program pemerintah dengan pelaku lainnya, dan yang ketiga pelaksanaan pertanian kota tidak terdampak perubahan iklim. Ini sudah sepakat ya bapak ibu tujuannya?

Peserta

Sudah.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta) Target dari Grand Design Pertanian Kota 2030:

• Peningkatan pemanfaatan Ruang untuk pertanian (Rusun, RPTRA, kantor, sekolah, lahan tidur)

• Peningkatan Produksi pertanian (kangkung, bayam, sawi, cabe, bawang merah)

• Peningkatan kontribusi pertanian dalam PDRB

Kemudian dari tujuan yang sudah disepakati ini, kita kemarin menyepakati targetnya. Kemarin muncul ruang, prioritas komoditas, dan yang ketiga mengenai angka PDRB. Ini benar yang kita sepakati kemarin seperti ini atau mungkin ada tambahan? Ini saya mengajak bapak ibu untuk koreksi kalau ada yang salah.

Agung Priambodo

Target yang ketiga, angka PDRB apakah kita yang menentukan atau siapa?

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Kemarin kesepakatannya bagaimana Mas Chasan?

Chasan Ascholani (Fasilitator)

Kalau tidak salah seperti penjelasan Bapak Oswar kemarin, itu nanti akan diserahkan BPS yang mengukurnya. Hanya kita berharap pertanian kota ini akan meningkatkan kontribusi sektor pertanian dalam PDRB. Kalau pengukurannya tidak akan dibahas disini.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta) Target:

 Ruang

 Prioritas komoditas

Berarti target hanya ada 2 ya. Satu adalah ruang dan yang kedua prioritas komoditas. Kemudian kemarin kita sudah masuk dalam kelompok-kelompok. Proses yang pertama adalah kita diminta untuk menuliskan isu strategis apa di masing-masing komponen pertanian kota.

Isu strategis komponan Kebijakan dan Regulasi:

 Pemanfaatan lahan

 Pelaku pertanian

 Pengelolaan sampah organik dan air (catatan: diganti pengelolaan sampahdomestik dan air)

 Kurikulum pertanian untuk usia dini

Di komponen 1, Kebijakan dan Regulasi, ada 4 isu strategis. Yang pertama pemanfaatan lahan, pelaku pertanian, pengelolaan sampah organik dan air. Kurikulum pertanian untuk usia dini.

Agung Priambodo

Pengelolaan sampah itu mungkin bisa diganti pengelolaan limbah pertanian. Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Kalau pemahaman saya kelompok satu ini berusaha mengelola limbah domestik untuk men-support kegiatan pertanian. Seperti misalnya limbah domestik hasil cucian beras kemudian menjadi pupuk, hasil cucian ikan untuk menyiram.

Taufik (DKPKP)

Untuk yang nomor 3 pengelolaannya lebih spesifik yang terkait dengan pertanian jangan terlalu melebar. Sementara pengelolaan sampah domestik yang terkait pertanian dan air.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Baik. Nomor 3, pengelolaan sampah domestik dan air. Kemudian yang nomor 4 betul ya, kurikulum pertanian untuk usia dini. Baik saya lanjutkan yang komponen 2 tentang pelaksanaan pertanian.

Isu strategis komponen Pelaksanaan Pertanian:

 Jumlah lahan yang sedikit,

 Akses terhadap modal

 Pertanian masih bersifat individu

Ada 3 isu strategis. Jumlah lahan yang sedikit, akses terhadap modal. Kemudian pertanian masih bersifat individu. Apakah ini sudah betul Ibu Mei?

Diah Meidiantie (Kepala Bidang Pertanian, DKPKP) Sudah.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta) Baik, kemudian komponen 3 pemasaran produk. Isu strategis komponen Pemasaran produk:

 Pemetaan supply dan demand (catatan: diganti informasi dan publikasi)  Jaminan mutu produk

 Kontinuitas produk

Ada pemetaan supply dan demand, jaminan mutu produk, kontinuitas produk. Sudah sepakat kelompok 3?

Wati Mulia (DKPKP)

Untuk yang nomor 1, yang pemetaan supply dan demand bisa dirubah tidak? Karena kita inginnya lebih ke arah informasi dan publikasi karena kaitannya dengan pemasarannya. Phoebe (KARINA Yogyakarta)

Ada satu lagi tentang pemasaran produk dalam jumlah yang besar. Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Kemarin ada masukan apakah supply dan demand mau dimasukkan atau tidak. Yoga

Itu kan berupa profil informasi produk. Yang harus kita perjelas publikasi dan informasi pemasarannya.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Baik, berarti yang nomor 1 diganti publikasi dan informasi dimana kemungkinan nanti kelompok 3 akan mempertimbangkan apakah supply dan demand masuk ke dalam isu strategis itu.

Yohan Rahmat Santosa (KARINA)

Kemarin terakhir itu ada diskusi mengenai tambahan ketiga, kontinuitas produk itukan yang menjadi fokus sebetulnya kontinuitas dari stabilitasnya supaya jumlahnya tetap. Tidak kemudian besar, kemudian turun. Jadi lebih stabil. Kontinuitas produk itu artinya tidak hanya berkontinyu tetapi stabil jumlahnya.

Peserta

Mungkin perlu juga ditambahkan tentang jaminan pasar. Jadi ketika produk kita sudah banyak, mutu kita sudah terjamin, kita juga harus menjamin produk itu ada yang membeli dan bisa ditambahkan.

Wati Mulia (DKPKP)

Kemarin sudah ada masukan tetapi karena dibatasi isu maka itu belum kita masukkan. Tetapi itu bisa masuk ke nomor 2.

Yohan Rahmat Santosa (KARINA)

Kalau mau dimasukkan di isu 2 biar tidak terlewat dalam diskusi, di situ ada publikasi dan informasi termasuk terkait akses pasar. Dalam diskusi untuk penetapan target, itu tidak terlepas.

Agung Priambodo

Saya pikir penting ada akses pasar karena nanti di kelompok 5 itu ada kerja sama multipihak. Multipihak itu nanti kita paksakan supaya mengakses ini.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta) Baik, sekarang ke komponen 4 peningkatan kapasitas. 4 isu strategis komponen peningkatan kapasitas:

1. Diklat penyuluh swadaya (catatan: diganti kurangnya tenaga penyuluh)

2. Pembuatan demplot sesuai potensi (catatan: diganti promosi tentang urban farming)

3. Terbatasnya pelaku pertanian kota (tambahan)

4. Inovasi dan pemanfaatan teknologi (masuk menjadi kegiatan) 5. Modul pelatihan perubahan iklim (masuk menjadi kegiatan)

Ada masukan, ada yang kurang, atau ada yang berlebihan?

Pipit (MURIA_Bina Swadaya Konsultan)

Sebelumnya, pertama memang diklat penyuluh swadaya. Yang nomor 2 itu, sosialisasi karena kita masih sedikit pelaku urban farming. Nomor 1 itu kita isunya langsung saja

“Kurangnya tenaga penyuluh”. Kemudian yang kedua, promosi tentang pertanian kota karena alasannya masih sedikit pelaku urban farming. Kemudian yang ketiga, masih terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan. Ini ada petaninya, kemudian ada penyuluhnya dan ada pendampingnya. Kemudian inovasi dan segala macam, pembuatan demplot dan segala macam itu nanti masuk menjadi kegiatannya.

Yohan Rahmat Santosa (KARINA)

Masukan saja untuk poin nomor 3, terbatasnya pelaku pertanian kota. Itu nanti untuk memudahkan diskusi selanjutnya apakah tidak lebih baik di situdi jelaskan kapasitas apa yang ingin ditingkatkan. Karena itu kapasitas pelaku pertanian kota bisa sangat Pipit (MURIA_Bina Swadaya Konsultan)

Kemarin yang kita diskusikan ini tentang desain teknologi budidaya pertanian perkotaan, tentang pemanfaatan sampah organic untuk dijadikan kompos, penyesuaian terhadap iklim, dan sebagainya.

Diyah Perwitosari (MURIA_KARINA Yogyakarta)

Saya pikir akan masuk ke dalam capaian dan output. Di situ akan lebih terlihat, di situ ada output dan capaian.

Pipit (MURIA_Bina Swadaya Konsultan)

Dokumen terkait