• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karisma Kongregasi CB

Dalam dokumen STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN (Halaman 37-42)

BAB II. KARISMA BUNDA ELISABETH PENDIRI

3. Karisma Kongregasi CB

Pada bagian ini akan dipaparkan karisma dalam lingkup Gereja Katolik dan secara khusus diuraikan karisma Kongregasi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus yang dihidupi oleh Elisabeth Gruyters.

a. Arti karisma

Kharisma berarti anugerah khusus Roh Kudus, lebih daripada yang dibutuhkan untuk keselamatan, untuk kepentingan Gereja atau kelompok-kelompok yang selalu dijiwai oleh kasih (1 Kor 13:1). Dalam rangka ini sering dipakai istilah “Pengetahuan yang dianugerahkan” yaitu pengetahuan yang dianugerahkan secara khusus dan cuma-cuma berkat Roh Kudus dalam Gereja (Jacob, 1988; 21-22).

Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Roh Kudus tidak hanya menguduskan dan memimpin umat Allah melalui sakramen-sakramen dan tindakan para pejabat serta menghiasinya dengan keutamaan-keutamaan saja, tetapi Ia membagikan anugerah-anugerah-Nya kepada tiap-tiap orang menurut kehendak-Nya sendiri (1 Kor 12:11) dan kepada kaum beriman dari segala kedudukan dianugerahkanNya rahmat-rahmat istimewa yang menjadikan mereka cakap dan siap untuk membaharui dan membangun Gereja (LG a.12).

Karisma mengandung arti luas dan arti khusus. Karisma dalam arti luas adalah pemberian yang dianugerahkan Allah dengan cuma-cuma, segala pemberian rohani, Roh Kudus, keselamatan dalam diri Yesus Kristus dan kehidupan kekal. Karisma dalam arti khusus adalah pemberian cuma-cuma yang

diterima orang tertentu, sehingga ia mampu, oleh Roh Kudus, melakukan hal-hal yang sesuai dengan kepentingan jemaat. Orang yang menerima karunia khusus Roh Kudus disebut karismatis khusus, misalnya hidup selibat (Jacob, 1980; 25).

Karisma adalah karunia atau kemampuan khusus yang diberikan Allah kepada seseorang atau kelompok untuk memampukan mereka menjadi saluran kasih Allah demi pembangunan tubuh Kristus, yaitu Gereja. Semua karisma yang diberikan Allah merupakan suatu rahmat besar demi pertumbuhan Gereja. Dalam Katekismus Gereja Katolik no. 2003 dinyatakan bahwa rahmat adalah anugerah Roh Kudus yang membenarkan dan menguduskan umat beriman untuk mengambil bagian dalam karya-karya-Nya serta memampukan orang untuk berkarya demi keselamatan orang lain dan pertumbuhan Gereja. Karisma itu ada untuk pelayanan demi pembangunan Tubuh Kristus (Nota Pastoral Ardas KAS 2011-2015:34).

Karisma adalah daya kekuatan Allah dalam Roh yang memberi kekuatan untuk menjalankan Misi sesuai dengan Visi. Karisma memberikan ciri khas dalam hidup dan dalam menjawab tantangan serta kebutuhan. Karisma merupakan salah satu unsur khas dari kerohanian Kongregasi karena berdasarkan Karisma, Kongregasi memberikan sumbangan khas dalam pelayanan terhadap kemanusiaan dan kehidupan (Karisma, spiritualitas dan perutusan, 2006: 6).

b. Karisma CB

Karisma Kongregasi CB: Cinta tanpa syarat dan berbela rasa dari Yesus Kristus Yang tersalib. Kata Cinta tanpa syarat dan bela rasa mempunyai makna yang hampir sama. Kata cinta tanpa syarat menggambarkan cinta Yesus Kristus yang tanpa batas, cinta yang melulu hanya memberi tanpa memperhitungkan untung dan rugi. Kata bela rasa menggambarkan cinta Yesus Kristus yang sampai memasuki penderitaan manusia. Kedua kata tersebut sama-sama menggambarkan

cinta Yesus Kristus yang merelakan diri-Nya menjadi sama dengan manusia dan wafat di salib demi keselamatan manusia (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 1999. 54).

Perjumpaan dengan Kristus yang menderita dan disalibkan sungguh penting bagi Bunda Elisabeth. Bunda Elisabeth mengalami ketergerakan yang sungguh bersifat mistik mencintai tanpa syarat merupakan suatu gerakan yang berasal dari Tuhan sendiri. Bagi Bunda Elisabeth, perjumpaan dengan Dia yang disalibkan memberi kekuatan, dan menjadikannya mampu untuk berbela rasa dengan mereka yang menderita (EG. 39). Bunda Elisabeth mampu mencintai Tuhan dan sesama tanpa syarat. Pertama-tama ia belajar dari Yesus sendiri sebagai guru dan Tuhan.

“ di rumah yang sama itu, pernah aku memandang salib dengan hati bernyala karena kasihku kepada Tuhan, aku belajar dengan tergagap-gagap mendoakan syair ini:

o…Pencinta hatiku yang manis, berilah aku bagian dalam duka-Mu, semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta, buatlah aku cakap dalam pengabdian-Mu, tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja,

pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin (EG. 39).

1) O…Pencinta hatiku yang manis

Bunda Elisabeth belajar dengan tergagap-gagap mendaraskan syair itu. Beliau menyadari bahwa dari dirinya sendiri tak akan pernah mampu untuk mencintai Tuhan dan sesama dengan cinta tanpa syarat. Maka, dalam kerendahan hatinya Bunda Elisabeth belajar dari Tuhannya, Yesus tersalib sebagai pencinta hatinya yang manis.

2) Berilah aku bagian dalam duka-Mu

Pengalaman akan “cinta tanpa syarat dari Yesus yang tersalib” yang sedemikian itu menggerakkan hati Bunda Elisabeth. Gerakan hati Bunda Elisabeth mendorongnya untuk memohon kepada Yesus yang tersalib untuk ambil bagian dalam duka Yesus yang tersalib, hal tersebut merupakan perwujudan cinta Bunda Elisabeth kepada Yesus yang telah lebih dulu mencintainya tanpa syarat. Pengalaman akan kasih Yesus yang tak bersyarat, Yesus yang tidak mengingat lagi kelakuannya yang tidak setia di masa lampau dan pengalaman akan Yesus yang telah melupakan dosa-dosanya dimasa lampau menggerakkan Bunda Elisabeth untuk senantiasa belajar akan kasih Yesus yang tulus. Cinta yang bernyala akan Yesus menjadi motivator Bunda Elisabeth untuk melakukan segala sesuatu seperti Yesus melakukan segala sesuatu hanya demi cinta-Nya kepada Bapa-Nya saja (EG. 95).

3) Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta

Pengalaman akan kasih Yesus yang tak bersyarat mendorong Bunda Elisabeth untuk belajar mewujudkan kasihnya pada Yesus dalam suatu pengabdian yang nyata. Kasihnya yang bernyala-nyala tidak hanya berhenti pada konsolasi yang dinikmati dengan perasaan melankolis dan bahasa rohani yang suci saja tetapi berbuah dalam tindakan konkret (EG. 105, 113).

4) Buatlah aku cakap dalam pengabdian-Mu

Pengalaman kasih tak bersyarat dari Yesus yang tersalib membuahkan suatu tindakan pengabdian yang nyata. Pengabdian yang konkret dialami bukan sebagai suatu tuntutan atau rasa hutang budi sehingga harus membalas kasih Yesus. Tetapi justru sebaliknya, pengalaman kasih tanpa syarat membuahkan kerinduan disertai dengan kebebasan serta kebahagiaan batin untuk bertindak secara kreatif dan nyata juga tanpa hitung-hitung (EG. 39).

5) Tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja, pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin

Pengalaman kasih tak bersyarat dan berbelarasa dari Yesus tersalib, menggerakkan hati Bunda Elisabeth untuk tidak hanya berpikir bagi dirinya sendiri tetapi mementingkan orang lain lebih dari dirinya sendiri. Bunda Elisabeth belajar yang sama dari Yesus yang menomorsatukan misi dan kehendak BapaNya yakni keselamatan manusia: ”Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:17).

Seluruh hidup Bunda Elisabeth, hatinya, pikiran-pikirannya, tindakannya, dan perjuangannya diarahkan hanya untuk keselamatan jiwa. Pengalaman cinta tanpa syarat dan berbelarasa dari Yesus tersalib mengubah Bunda Elisabeth, berbuah lebat, dan menggerakkan hati banyak para perempuan untuk mengikuti jejak dan semangatnya (EG. 39).

c. Memahami karisma Bunda Elisabeth

Untuk memahami karisma Bunda Elisabeth secara konkret, penting mengetahui kerinduan-kerinduan beliau melalui buku refleksi pribadi yang ditulisnya. Buku refleksi Bunda Elisabeth melahirkan keprihatinan dan spiritualitas yang bersifat personal. Oleh sebab itu untuk menterjemahkan suatu karisma atau memahami karisma ada 3 hal yang perlu diperhatikan:

1) Kepribadian pendiri, tabiat pengalaman pribadi. Melalui itu semua biasanya Allah mendidik dan mengarahkan seseorang. Unsur-unsur tersebut menerangi kecenderungan pilihan-pilihan pendiri.

2) Lingkungan, budaya, serta mentalitas zaman yang membentuk dan mengkondisikan hidup dan kerja pendiri dengan pilihan-pilihan sebagai wujud penghayatannya.

3) Menelusuri apa sebenarnya yang diterjemahkan oleh Bunda Elisabeth di dalam spiritualitasnya, demikian juga dengan visinya. Hal-hal inilah yang perlu ditelusuri dengan membaca buku Elisabet Gruyters (EG). Lalu untuk menterjemahkannya sekarang ini, perlu juga memahami mentalitas diri beserta kondisi-kondisi lingkungan hidup karena disinilah yang akan menjadi tempat untuk menghayati karisma (Pendalaman spiritualitas CB. 1994: 17-19).

d. Butir-butir karisma Bunda Elisabeth, pendiri Kongregasi CB

Dalam dokumen STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN (Halaman 37-42)

Dokumen terkait